Ikan belida merupakan salah satu ikan air tawar asli Indonesia yang memiliki bentuk tubuh sangat khas. Tubuhnya pipih memanjang, gerakan berenangnya unik, dan sirip duburnya memanjang hingga menyatu dengan sirip ekor. Ikan ini dahulu cukup dikenal oleh masyarakat di berbagai daerah Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Jawa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan tradisional seperti pempek dan kerupuk.
Namun, keberadaan belida di alam semakin sulit ditemukan dibandingkan masa lalu. Penangkapan berlebihan, perubahan habitat, dan degradasi lingkungan perairan menjadi beberapa faktor yang menyebabkan populasinya mengalami penurunan. Penelitian KKP juga telah lama menunjukkan bahwa populasi Chitala lopis di berbagai habitat alaminya mengalami tekanan. (E-Journal Balitbang KKP)
Klasifikasi Ikan Belida
Belida lopis memiliki nama ilmiah Chitala lopis (Bleeker, 1851). Dalam literatur lama, ikan ini juga pernah menggunakan beberapa nama sinonim seperti Notopterus lopis. (E-Mancing)
| Tingkatan | Klasifikasi |
|---|---|
| Kingdom | Animalia |
| Filum | Chordata |
| Kelas | Actinopterygii |
| Ordo | Osteoglossiformes |
| Famili | Notopteridae |
| Genus | Chitala |
| Spesies | Chitala lopis |
Di Indonesia terdapat beberapa jenis belida yang memiliki kemiripan bentuk. KKP mencatat empat jenis yang mendapat perlindungan, yaitu belida Borneo (Chitala borneensis), belida Sumatera (Chitala hypselonotus), belida lopis (Chitala lopis), dan belida Jawa (Notopterus notopterus). (KKP)
Karena beberapa jenis tersebut mempunyai kemiripan morfologi, identifikasi sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan tidak hanya berdasarkan nama lokal.
Morfologi Ikan Belida
Salah satu hal yang membuat ikan belida menarik adalah bentuk tubuhnya yang berbeda dari kebanyakan ikan air tawar.
Tubuh belida berbentuk pipih dan memanjang, dengan bagian punggung relatif tinggi dan bagian kepala yang khas. Sisiknya berukuran kecil dan pada bagian samping tubuh terdapat gurat sisi. Mulutnya relatif lebar. Sirip punggungnya berukuran kecil, sedangkan sirip duburnya memanjang dan menyatu dengan sirip ekor. (E-Mancing)
Beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mengenali belida antara lain:
tubuh pipih dan memanjang;
bagian punggung terlihat membesar;
kepala dan tengkuk memiliki bentuk khas;
sisik berukuran kecil;
mulut relatif lebar;
sirip dubur sangat panjang;
sirip dubur menyatu dengan sirip ekor;
tubuh berwarna keabu-abuan hingga keperakan;
pada sisi tubuh dapat ditemukan pola atau bercak tertentu.
Belida juga memiliki kemampuan berenang yang sangat unik. Sirip duburnya yang panjang dapat digerakkan seperti gelombang sehingga ikan mampu bergerak maju, mundur, maupun melakukan manuver dengan sangat baik.
Ukuran tubuhnya juga dapat cukup besar. Literatur penelitian KKP mencatat panjang total Chitala lopis dapat mencapai sekitar 87,5 cm, sementara bobot umumnya sekitar 0,5–1 kg dan beberapa individu dapat mencapai sekitar 5 kg. (E-Journal Balitbang KKP)
Habitat Ikan Belida
Belida merupakan ikan air tawar yang berhubungan erat dengan ekosistem sungai, rawa, dan perairan umum daratan.
Di Indonesia, keberadaan Chitala lopis pernah dicatat antara lain di berbagai sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, termasuk Sungai Kampar, Sungai Musi, Sungai Tulang Bawang, Sungai Kapuas, Sungai Citarum dan beberapa perairan lainnya. (E-Journal Balitbang KKP)
Habitat yang baik bagi belida tidak hanya ditentukan oleh keberadaan air. Kondisi lingkungan seperti:
kedalaman perairan,
kecepatan arus,
suhu,
pH,
oksigen terlarut,
kekeruhan,
kondisi vegetasi tepian,
serta ketersediaan makanan
juga berpengaruh terhadap keberadaan ikan tersebut. Penelitian mengenai habitat Chitala lopis di Sungai Kampar, misalnya, menggunakan berbagai parameter kualitas perairan dan kondisi vegetasi tepian untuk menilai kesesuaian habitatnya. (Perpustakaan KKP)
Dengan demikian, menjaga ikan belida sebenarnya tidak cukup hanya dengan melarang penangkapannya. Habitatnya juga harus dijaga. Jika sungai tercemar, daerah rawa dikeringkan, vegetasi tepian hilang, atau tempat pemijahan terganggu, maka populasi ikan tetap dapat mengalami penurunan.
Mengapa Ikan Belida Semakin Langka?
Ikan belida sekarang jauh lebih sulit ditemukan di alam dibandingkan dahulu di sejumlah wilayah. Penelitian KKP telah menunjukkan adanya tekanan terhadap populasi akibat penangkapan berlebihan, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, serta perubahan kondisi habitat perairan. (E-Journal Balitbang KKP)
Kelangkaannya menjadi semakin penting karena belida mempunyai nilai ekonomi dan budaya. Ikan ini secara tradisional digunakan sebagai bahan baku makanan khas, tetapi pemanfaatan tersebut harus berjalan seimbang dengan kemampuan populasi untuk berkembang biak.
Seberapa langka sebenarnya?
Ada hal menarik mengenai status Chitala lopis.
Pada tahun 2020, Chitala lopis sempat dinyatakan Extinct (EX/punah) dalam daftar IUCN. Namun kemudian terjadi penemuan kembali atau rediscovery di alam pada 2023. KKP menyebut penemuan kembali tersebut sebagai salah satu contoh penting bahwa status suatu spesies dapat berubah ketika ditemukan bukti baru dari lapangan. (KKP)
Jadi, kurang tepat apabila dikatakan bahwa seluruh ikan belida sudah punah. Yang lebih tepat adalah bahwa Chitala lopis pernah dinyatakan punah secara global oleh IUCN, kemudian ditemukan kembali, sementara populasinya tetap membutuhkan perhatian konservasi.
Di Indonesia sendiri, belida termasuk ikan yang dilindungi penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021. Perlindungan tersebut mencakup empat jenis belida yang disebutkan sebelumnya. (KKP)
Artinya, ikan belida bukan sekadar ikan yang "jarang terlihat". Keberadaannya mempunyai nilai konservasi yang tinggi, sehingga masyarakat perlu berhati-hati dalam menangkap, memperdagangkan, atau memanfaatkan ikan belida dari alam.
Ikan Belida dan Kebesaran Allah
Keberadaan ikan belida dapat menjadi salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dapat kita renungkan.
Allah menciptakan makhluk hidup dengan bentuk dan kemampuan yang sangat beragam. Ikan belida memiliki tubuh yang pipih, sirip dubur yang sangat panjang, serta mekanisme gerakan yang memungkinkan tubuhnya bergerak dengan cara yang berbeda dari banyak ikan lainnya.
Tidak ada satu bagian pun dari tubuh makhluk hidup yang tercipta tanpa fungsi.
Sirip yang panjang membantu pergerakan. Bentuk tubuh membantu ikan beradaptasi dengan lingkungannya. Gurat sisi membantu ikan merasakan perubahan lingkungan perairan. Semuanya bekerja dalam suatu sistem kehidupan yang sangat kompleks.
Allah berfirman:
"Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang Dia sebarkan (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang meyakini."
(QS. Al-Jatsiyah: 4)
Ikan yang mungkin terlihat sederhana bagi manusia ternyata memiliki sistem kehidupan yang sangat menakjubkan. Ia membutuhkan air dengan kondisi tertentu, mencari makanan, tumbuh, berkembang biak, dan beradaptasi dengan lingkungan.
Ketika manusia melihat semakin sedikitnya ikan belida di sungai, hal tersebut juga seharusnya menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk tidak merusak keseimbangan ciptaan Allah.
Allah berfirman:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..."
(QS. Ar-Rum: 41)
Karena itu, menjaga sungai, rawa, dan ekosistem perairan bukan hanya persoalan ekonomi dan konservasi. Menjaga lingkungan juga merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Jangan Sampai Anak Cucu Hanya Mengenal Belida dari Gambar
Kelangkaan ikan belida seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita.
Ikan yang dahulu dapat ditemukan di berbagai perairan kini semakin sulit dijumpai di sejumlah tempat. Apabila eksploitasi terus dilakukan tanpa memperhatikan kemampuan alam untuk memulihkan populasi, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal ikan belida melalui foto, museum, atau buku.
Padahal, sungai Indonesia memiliki keanekaragaman ikan air tawar yang luar biasa.
Menjaga belida berarti menjaga:
ikan → habitat → sungai → keanekaragaman hayati → kehidupan manusia.
Konservasi tidak selalu berarti manusia tidak boleh memanfaatkan alam. Yang diperlukan adalah pemanfaatan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, sehingga kebutuhan manusia saat ini tidak menghilangkan kesempatan generasi berikutnya untuk menikmati kekayaan alam yang sama.
Penutup
Ikan belida (Chitala lopis) adalah salah satu kekayaan ikan air tawar Indonesia yang memiliki bentuk tubuh unik, nilai ekonomi dan budaya, serta nilai konservasi yang sangat tinggi.
Sejarah statusnya bahkan sangat menarik: Chitala lopis pernah dinyatakan punah oleh IUCN pada 2020, kemudian ditemukan kembali pada 2023. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penelitian lapangan dan perlindungan habitat dalam menentukan keberadaan suatu spesies. (KKP)
Bagi kita, ikan belida bukan hanya sebuah komoditas perikanan. Keberadaannya dapat menjadi sarana untuk mempelajari ilmu pengetahuan sekaligus merenungkan kebesaran Allah dalam menciptakan makhluk dengan bentuk, fungsi, dan kemampuan yang begitu beragam.
Semakin kita mengenal makhluk ciptaan-Nya, semestinya semakin kita menyadari bahwa alam bukan sesuatu yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Ia adalah amanah yang harus dijaga.
Menjaga ikan belida berarti menjaga salah satu bagian dari kekayaan ciptaan Allah di bumi Indonesia.
(KKP)
Post a Comment for "Ikan Belida (Chitala lopis): Klasifikasi, Morfologi, Habitat, Kelangkaan dan Kebesaran Allah"