Sunday, October 11, 2020

Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp); Klasifikasi, Morfologi, Habitat, Reproduksi, Tingkah Laku, Pemeliharaan Telur, Larva



Klasifikasi Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp)

Adapun klasifikasi dari ikan kerapu cantik (Epinephelus sp.) Subyakto dan Cahyaningsih (2003) sebagai berikut:

Phylum : Chordata

Sub Phylum : Vertebrata

Class : Osteichthyes

Sub class : Actinoperigi

Ordo : Percomorphi

Sub ordo : Percoidea

Family : Serranidae

Genus : Epinephelus

Species : Epinephelus sp.

Morfologi Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp)

Kerapu cantik merupakan kerapu hasil hibridasi atau perkawinan silang antara kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) sebagai induk betina dan kerapu batik (Epinephelus microdon) sebagai induk jantan (Ismi, 2014). Dilihat dari proporsi bentu badan, kerapu cantik memiliki proporsi yang lebih besar seperti kerapu macan dibandingkan dengan kerapu batik.

 

Habitat dan Penyebaran Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus s.)

Penyebaran ikan kerapu di Indonesia banyak ditemukan pada perairan Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, Papua, Ambon, Bueu, Bacan dan Kayoa (Gusrina, 2008). Jumlah spesies di seluruh dunia adalah 159, di kawasan Asia Tenggara adalah 46 dan dapat ditemukan 39 spesies di Indonesia (WWF Indonesia, 2011). Pada umumnya kerapu memiliki habitat di dasar perairan laut tropis dan subtropis. Sebagian besar spesies kerapu berasosiasi dengan terumbu karang di daerah dangkal dan beberapa tinggal di daerah estuaria yang berbatu, berpasir dan berlumpur, meskipun juvenil ikan kerapu ditemukan ditemukan di lamun. Suhu 28–32◦C dan salinitas 30–32 ppt merupakan standar baku mutu air untuk pembenihan ikan kerapu. Kondisi lingkungan yang dijelaskan di atas merupakan kondisi lingkungan terumbu karang (Yulianti 2012).

 

Beberapa spesies kerapu ditemukan pada kedalaman 100 – 200 meter, kadang samapai kedalaman 500 meter. Pada lingkungan yang alami, ikan kerapu pada stadia larva hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m. Saat beranjak dewasas ikan kerapu akan berpindah pada perairan yang lebih dalam, yaitu berkisar antara 7 – 40 m Syarifudin dkk. (2007)

 

Tingkah Laku Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp)

Menurut Risamasu (2008) menerangkan bahwa berdasarkan periode aktif mencari makanannya jenis ikan yang termasuk dalam famili Serranidae adalah ikan nokturnal. Aktivitas ikan nokturnal mencari makan saat hari mulai gelap. Ikan tersebut digolongkan pula pada ikan soliter, di mana aktivitas makannya dilakukan secara individu.

 

Menurut Anonymous (2011) ikan kerapu merupakan ikan predator dimana mangsanya adalah ikan, krustase, cumi dan setong. Biasanya ikan ini bersembunyi di karang untuk menyerang musuhnya. Lebih banyak menggunakan indra penciuman serta perasa dari pada penglihatannya.

 

Reproduksi Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp)

Salah satu sifat biologi ikan kerapu adalah hemaprodit protogini, perubahan kelamin betina menjadi kelamin jantan pada saat ikan kerapu beranjak dewasa. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Proses hibridasi pada kerapu cantik dilakukan dengan fertilisasi buatan. Proses tersebut dilakukan dengan pemberian rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad. Proses ovulasinya dilakukan secara buatan yaitu dengan teknik pengurutan (stripping) (Anonymous, 2011).

 

Kematangan gonad induk jantan ikan kerapu dapat diketahui dengan cara mengurut (stripping) bagian perut ikan sehingga keluar sperma berwarna putih susu dalam jumlah banyak. Kematangan kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi, yaitu memasukkan kanula ke dalam lubang kelamin ikan, kemudian dihisap. Kanula adalah pipa plastik bening yang fleksibel dengan panjang 40 – 50 cm (diameter luar 3 mm, dan diameter dalam 1,2 mm) (Sugama dkk.,2013). Ikan yang akan dikanulasi dibius terlebih dahulu kemudian kain atau handuk basah ditempelkan di atas mata untuk membantu menenangkan ikan. Kanula dimasukkan ke dalam ikan pada kedalaman 6 – 7 cm dan dilakukan penghisapan pada ujung lain dari kanula tersebut sebelum kanula itu ditarik keluar dari ikan. Induk betina dikatakan matang gonad yaitu memiliki ciri perut yang membuncit, lubang genital (kloaka) bengkak dan memerah, pergerakannya miring serta warna tubuh terutama pada insang memucat. Menurut BBL Batam (2011) seleksi induk kerapu macan yang siap memijah mempunyai berat minimal 4 kg, sedangkan induk ikan kerapu kertang memiliki berat lebih dari 3 kg.


Proses pemijahan ikan kerapu cantik biasanya dilakukan saat bulan gelap (dark moon). Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak, kemudian dinaikkan kembali sampai tinggi air 1,5 m. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami (Tarwiyah, 2001). Dapat dilihat pada Gambar Telur Kerapu Cantik. Pembuahan telur. Perkembangan embrio telur ikan kerapu cantik yang tidak terbuahi dan yang terbuahi dapat dilihat pada Gambar Telur Kerapu Cantik dibawah ini.

 


Gambar Telur Kerapu Cantik. Telur kerapu yang telah terbuahi sempurna dan mengandung larva (A); telur yang tidak terbuahi (B).Sumber : Dokumen pribadi, 2018 Telur yang belum atau telah terbuahi dengan sempurna dapat diperiksa di bawah mikroskop. Kenampakan yang harus diperhatikan saat pengamatan adalah ukuran dan bentuk telur yang teratur, warna yang transparan atau tembus pandang, serta kulit telur atau korion yang bebas dari parasit (Sugama dkk., 2013). Setelah dipastikan bahwa telur terbuahi dengan sempurna, maka telur dimasukkan dalam bak inkubasi atau bak penetasan telur yang dilengkapi dengan air mengalir dan aerasi (Yulianti dkk., 2012).

Pemeliharaan Telur Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp)

Telur

Telur dihasilkan pada stadia induk yang sudah memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Dalam stadia tersebut gonad ikan betina sudah dapat memproduksi telur. ikan dengan stadia demikian sudah dapat melakukan aktivitas reproduksi atau pemijahan ( Effendi, 2009).

 

Morfologi Telur

Telur ikan adalah sel gamet betina yang mempunyai program perkembangan individu baru, setelah program perkembangan tersebut diaktifkan oleh spermatozoa. Larva adalah stadium tertentu dari perkembangan individu yang memiliki pola perkembangan tidak langsung. Perkembangan tidak langsung adalah pola perkembangan hewan yang dalam tahapan atau stadium hidupnya memiliki tahapan bentuk larva yang memiliki perkembangan postnatal yang melibatkan satu atau lebih tahapan bentuk larva. Larva berasal dari sel telur yang dibuahi atau  biasanya disebut zigot. Sel tunggal zigot selanjutnya akan berkembang melalui cara cleavage, yaitu pembelahan mitosis biasa dari sel dalam stadium awal perkembangannya (Effendi, 2009).

 

Sifat khusus telur ikan antara lain adalah ukurannya besar, memiliki bungkus telur, memiliki mikrofil, dan memiliki cadangan makanan. Sifat telur ikan secara umum adalah bersifat titipotensi yaitu memiliki kemampuan untuk menjadi sebuah individu. Sifat yang lainnya adalah telur ikan yang tenggelam dan melayang. Serta memiliki polaritas yaitu ada dua kutub berlawanan yang berbeda. Ovulasi adalah proses keluarnya telur dari tubuh induk. Telur yang dikeluarkan pada proses ovulasi tersebut telah mencapai kematangan fisiologis yang siap dibuahi oleh sperma. Telur yang dibuahi, bagian luar lapisan luar dilapisi oleh selaput yang dinamakan selaput kapsul atau chorion. Selaput yang mengelilingi plasma telur dinamakan selaput plasma. Bagian telur yang terdapat sitoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas yang dinamakan kutub anima, bagian bawah yaitu pada kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning telur. Kuning telur pada ikan hampir mengisi seluruh volume sel, kuning telur yang ada di bagian tengah keadaannya lebih padat daripada kuning telur yang ada pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma. Selain itu sitoplasma banyak terdapat pada sekeliling inti telur (Gusrina, 2008).

 

Korion telur yang masih baru akan bersifat lunak dan memiliki sebuah mikrofil yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada waktu terjadi pembuahan. Pada saat telur dilepaskan ke dalam air dan dibuahi, alveoli kortek yang ada di bawah chiron pecah dan melepaskan material koloid  mucoprotein ke dalam ruang perivitelin yang rerletak antara membran telur dan chorion. Air tersedot akibat pembengkakan mucoprotein. Chorion mula-mula menjadi kaku dan licin, kemudian mengeras dan mikrofil tertutup. Sitoplasma menebal pada kutub telur yang ada intinya, ini merupakan titik dimana embrio berkembang. Pengerasan pada chorion akan mencegah terjadinya pembuahan oleh sperma, dengan adanya ruang perivitelin di bawah chorion yang mengeras, maka telur dapat bergerak selama dalam perkembangannya (Supii, 2014).

 

Sifat Telur

Stadia telur yang telah dibuahi adalah output dari aktivitas pemijahan ikan ketika menetas berubah menjadi stadia larva. Telur ikan setelah keluar dari tubuh induk akan bersifat adhesif (melekat) dan non adhesive (tidak melekat). Telur adhesive memiliki pelekat pada dinding cangkang dan menjadi aktif ketika terjadi kontak dengan air. sifat adhesive telur terbagi menjadi dua macam, yaitu pada obyek (substrat) dan antar telur sehingg membentuk rumpun atau masa telur. Telur melekat kuat pada substrat sehingga dapat rusak koyak apabiladicoba untuk dicabut atau diangkat dan ekuatan pelekat tersebut menjadi berkurang sejalan dengan perkembangan telur (embryogenesis) hingga menetas (Effendi, 2009).

 

Membran Telur

Oogenesis pada ikan teleostei salah satu yang paling mencolok adalah pembentukan sebuah zona tebal yang sangat berdiferensiasi (membran telur, membrane vitelin, zona radiate, dan zona pelusida) yang terletak di antara lapisanlapisan granulosa dan oosit. Perubahan morfologis yang dialami membrane mungkin mencerminkan adaptasi terhadap berbagai kondisi ekologis. Dalam  mikrofag cahaya, membran dicirikan oleh pola yang bergaris-garis berkaitandengan penembusan mikrovil tonjolan-tonjolan dari oosit maupun dari sel folikel (Nagahama, 2008).

 

Fertilisasi (Pembuahan)

Perkembangan embrio diawali saat proses impregnasi, dimana sel telur (ovum) dimasuki sel jantan (spermatozoa). Proses pembuahan pada ikan bersifat monospermik, yakni hanya satu spermatozoa yang akan melewati mikropil dan membuahi sel telur. Pada pembuahan ini terjadi pencampuran inti sel telur dengan inti sel jantan. Kedua macam inti sel ini masing-masing mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu sel (haploid). Sel telur dan sel jantan yang berada dalam cairan fisiologis masing-masing dalam tubuh induk betina dan jantan masih bersifat non aktif. Ada beberapa hal yang mendukung berlangsungnya pembuahan dengan baik, pada saat sel telur dan spermatozoa dikeluarkan ke dalam air mereka aktif, permatozoa yang tadinya motil (non aktif bergerak) akan bergerak dengan menggunakan ekornya yang berupa cambuk. Kepala spermatozoa masuk melalui mikropil dan bersatu dengan inti sel telur, sedangkan ekornya tertinggal pada saluran mikropil tersebut, dan berfungsi menyumbat serta mencegah masuknya sel sperma lainnya (Effendi, 2009)

 

Spermatozoa masuk lewat mikropil berlangsung dengan cepat sekali supaya persatuan kedua inti sel kelamin tersebut dapat terjadi, karena inti sel telur akan bergerak dan daya gerak sperma itu sendiri sangat terbatas 1-2 menit saja (Effendi, 2009). Spermatozoa lainnya yang bertumpuk pada saluran mikropil, ada yang mengatakan akan dilebur dijadikan makanan sel telur yang telah dibuahi atau zigot.  Tetapi ada pula yang mengatakan dibuang, didorong keluar oleh reaksi korteks.

 

Demikian juga halnya dengan spermatozoa yang menempel pada permukaan chorion harus dibuang karena mengganggu proses pernapasan (metabolisme) zigot yang sedang berkembang. Cara pembuangan atau pelepasan spermatozoa dengan reaksi korteks (Horvath, 2003). Pencampuran inti sel telur dan spermatozoa terjadi dalam sitoplasma telur. Persatuan kedua inti (pronuklei) dari sel betina dan sel jantan bersatu dalam proses yang disebut amfimiksis (Effendi, 2009).

 

Ada dua fungsi utama fertilisasi yaitu fungsi reproduksi dan fungsi perkembangan. Pada fungsi reproduksi, fertilisasi memungkinkan perpindahan unsur-unsur genetik dari para tetuanya. Jika pada gametogenesis terjadi reduksi unsur genetik dari 2n (diploid) menjadi n (haploid), maka pada fertilisasi memungkinkan pemulihan kembali unsur genetiknya, n dari tetua jantan dan n dari tetua betina sehingga diperoleh individu normal 2n. Tanpa fertilisasi (kecuali pada kasus-kasus tertentu), kesinambungan keturunan suatu spesies tidak akan terjadi. Pada fungsi perkembangan, fertilisasi menyebabkan stimulus atau rangsangan pada sel telur untuk menyelesaikan proses pembelahan meiosisnya dan membentuk pronukleus betina yang akan melebur dengan pronukleus jantan membentuk zigot. Jika tidak terjadi fertilisasi atau 19 pembuahan, maka sel telur tetap bertahan pada tahap metafase II yang selanjutnya akan berdegerasi (atresia) tanpa mengalami proses perkembangan selanjutnya (Nurman, 1998).

 

Seleksi dan Penetasan Telur

Seleksi telur dapat dilakukan dengan mengaduk telur dalam bak dengan cara memutarnya dengan tangan secara halus dan pelan. Pengadukan secara halus dan  pelan dilakukan agar tidak menurunkan kualitas telur yang telah terbuahi (Sugama dkk., 2013). Hal ini dapat pula dilakukan dengan cara mengangkat aerasi yang berada pada bak selama kurang lebih lima menit.

 

Telur yang telah terbuahi ditandai dengan mengapungnya telur tersebut di permukaan bak. Telur yang tidak terbuahi ditandai dengan tenggelamnya telur tersebut di dasar bak. Telur yang telah dibuahi dipindahkan ke bak atau bak penetasan telur. Bak penetasan telur yang digunakan berbentuk persegi panjang dengan ukuran volume 4 x 4 x 1 m3 (Tarwiyah, 2001). Bak penetasan harus berada dalam kondisi yang steril atau tidak terkontaminasi baik oleh bakter serta parasit, hal ini bertujuan agar telur dapat menetas dengan sempurna. Lama penetasan telur tergantung dari faktor internal serta eksternal yang mempengaruhi spesies itu sendiri.

 

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam tubuh ikan itu sendiri, seperti gen dan hormon. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar tubu ikan, seperti parameter lingkungan (suhu, salinitas, pH). Suhu dingin akan mengurangi aktifitas metabolisme dari sel sehingga akan menghambat pertumbuhan (Andriyanto dkk., 2013). Dapat dilihat pada Gambar Proses embryogenesis.

 


Gambar Proses embryogenesis A) Telur yang terbuahi B) Pembelahan 2 sel C) Stadia 4 sel D) Stadia 8 sel E) Stadia 32 sel F) Stadia Morula G) Gastrula H) Pembentukan embrio I) Blastopore mulai mendekat J) Penyatuan dengan Balstopore K) 5 miyomer dan kepala terbentuk L) Penglihatan mulai terbentuk M) N) O) P) Q) R) S) . (Sumber : Luan et al, 2016)

Telur umumnya mengalami proses embriogenesis, yaitu proses perkembangan telur hingga menjadi larva definitif. Embriogenesis akan berlangsung pada saat inkubasi yang dimulai dari proses pembelahan sel telur (cleavage), morulasi, blastulasi, gastrulasi, dan dilanjutkan dengan organogenesis yang selanjutnya menetas.

 

Perkembangan Larva

Larva kerapu menggunakan cadangan makanan berupa kuning telur (yolk egg) serta gelembung minyak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesaat setelah menetas, serta untuk membentuk organ – organ yang belum terbentuk sempurna.  Menurut Sugama dkk. (2013), mulut akan mulai terbentuk dan terbuka pada umur 2 hari (D2) setelah telur menetas. Kuning telur akan terserap secara keseluruhan pada saat berumur empat hari (D4).

Tahap Perkembangan Larva Kerapu

Hari ke

Tahap Perkembangan

Panjang (mm)

D1

Larva baru menetas transparan, melayang, dan tidak aktif

1,89-2,11

D3

Timbul bintik hitam di kepala dan pangakl perut

2,14-2,44

D7-8

Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang

7,98-8,96

D15-17

Duri memuti, bagian ujung agak kehitaman

17,2-18,6

D23-26

Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, pada bagaian ujung tumbuh sirip awal lunak

20,31-22,64

D29-31

Sebagian larva yang pertumbuhannya cepat, membentuk ikan dewasa

22,40-23,42

Sumber : Sari, 2011

 

Pada umur tiga hari (D3) pigmen melanofor akan terbnetuk, selain itu usus juga telah terbentuk. Pigmmen pada mata dan perut mulai tampak pada umur sepuluh sampai tiga puluh hari jari – jari sirip punggung serta sirip pektoral akan berkembang memanjang. Pada umur dua puluh lima sampai dua puluh tujuh hari (D25 – 27) duri pada sirip pectoral akan mereduksi, pada umur dua puluh lima sampai tiga puluh lima hari larva akan berubah menjadi benih.

 

Pemberian Pakan

Pemberian pakan pada larva kerapu mulai dilakukan pada hari ke dua setelah telur menetas. Hal ini mengingat cadangan makanan berupa kuning telur  serta gelembung minyak akan terserap habis, selain itu pada umur dua hari ini pula mulut larva mulai terbuka. Pemilihan pakan yang baik pada larva harus memperhatikan hal – hal berikut, diantaranya ukuran pakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva, mudah dicerna, tidak beracun, mengandung nutrisi tinggi, mudah dikultur secara massal. Pakan yang diberikan pada pemeliharaan larva kerapu diantaranya adalah mikroalga (Nannochloropsis occulata), rotifer (Branchionus plicatilis), serta artemia. Pakan buatan yang berupa mikropelet diberikan pada larva sejak D6 (Ismi, 2011), pemberian mikropelet dimulai pada D9 dengan ukuran 200-400 μm (Sugama dkk., 2013). Pakan ditaburkan ke permukaan air dalam jumlah kecil dengan frekuensi sering (setiap jam) sepanjang hari. Ukuran pakan meningkat menjadi 400–800 μm pada D30–45.

 

Pola Pemberian Pakan pada Larva Kerapu

 

Sumber : Ismi (2011)

 

Keterangan :

x = Masa pemberian jenis pakan

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

http://eprints.umm.ac.id/42344/3/BAB%20II.pdf

No comments:

Post a Comment