Sunday, April 19, 2020

Ikan Kapar Atau Selincah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Kapar atau Selincah (Belontia hasselti) adalah sejenis ikan dari suku gurami-guramian (Osphronemidae). Ikan ini juga dikenal dengan nama lain seperti Kakapar, Klopar dan Selincah (Bahasa Melayu Sumatera dan Kalimantan, Kumbang (Kalbar). Ikan ini terutama banyak hidup di peraairan gambut. Ikan ini bernilai ekonomis, Ikan ini diperdagangkan sebagai ikan hias di beberapa daerah sehingga sangat potensial untuk dikembangkan.

KLASIFIKASI IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class        
: Actinopterygii
Ordo
: perciformes
Family
: Osphronemidae
Genus
: Belontia
Spesies
: Belontia Hasselti (Cuvier GL, Valenciennes A, 1831)

HABITAT IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Kondisi lingkungan yang cocok untuk belontia hasselti adalah air dengan temperature 22-28C dan pH 6,5-8,0. Terutama ditemukan dari perairan gambut. Serta memiliki alat pernapasan tambahan untuk berenang di tanah gambut tersebut atau pada perairan yang buruk biasa disebut “labyrinth”. Ikan yang memiliki labyrinth biasanya hidup diperairan banjiran maupun rawa rawa serta lingkungan yang buruk. (Axelrod et al, 1987)

REPRODUKSI IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Aspek biologis reproduksi ikan Belontia Hasselti, dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan jantan dan betina. Indeks kematangan gonad dihitung dengan rumus dengan BG adalah berat gonad(gram), BT adalah berat tubuh(gram). Ditinjau dari karakteristik gonadnya sendiri untuk ukuran gonad betina lebih panjang, lebih lebar, dan lebih besar dari testes sedangkan yang jantan ukuran gonadnya panjang, tidak lebar, dan lebih kecil dari ovari. Nisabah kelamin ikan selinca jantan dan betina diperairan lebih banyak ditemukan ikan selinca jantan. Penyebaran ikan selinca tidak merata. Jumlah makanan yang melimpah akan menyebabkan sebagian besar ikan betina berada di suatu perairan tersebut. Pada saat pemijahan dimana telur yang matang dikeluarkan dan telur yang belum matang dibiarkan berkembang dalam ovary biasa disebut “Partial Spawner”. (Nikolsky dalam Ernawati et al., 2009)

Aspek biologis reproduksi ikan Belontia Hasselti, dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan jantan dan betina. Indeks kematangan gonad dihitung dengan rumus dengan BG adalah berat gonad(gram), BT adalah berat tubuh(gram). Ditinjau dari karakteristik gonadnya sendiri untuk ukuran gonad betina lebih panjang, lebih lebar, dan lebih besar dari testes sedangkan yang jantan ukuran gonadnya panjang, tidak lebar, dan lebih kecil dari ovari. Nisabah kelamin ikan selinca jantan dan betina diperairan lebih banyak ditemukan ikan selinca jantan. Penyebaran ikan selinca tidak merata. Jumlah makanan yang melimpah akan menyebabkan sebagian besar ikan betina berada di suatu perairan tersebut. Pada saat pemijahan dimana telur yang matang dikeluarkan dan telur yang belum matang dibiarkan berkembang dalam ovary biasa disebut “Partial Spawner” (Nikolsky dalam Ernawati et al., 2009)

FISIOLOGI IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Sistem pernapasan ikan Belontia Hasselti yakni letak insang tepat belakang rongga mulut, insang tesebut berjumlah 4 pasang lengkung insang atau terdiri atas 8 lembar filament insang, struktur insang terdiri dari tapis insang, tulang lengkung insang, dan filamen insang dan berhubungan langsung dengan labyrinth. Tapis insang pada ikan Kapar ini berfungsi dalam mengambil makanan dan lebih berperan dalam sistem pernapasannya. Ikan yang memiliki labyrinth biasanya hidup diperairan banjiran maupun rawa rawa serta lingkungan yang buruk. (Axelrod et al, 1987)

Organ saluran pencernaan ikan Belontia Hasselti terdiri atas mulut, rongga mulut, esophagus, lambung, usus dan anus. Organ yang berhubungan langsung dengan makanan adalah mulut. Bentuk mulut berkaitan erat dengan kebiasaan makan. Ukuran bukaan mulut pada ikan ini berkisar 4-13 mm, dimana dilengkapi dengan gigi kecil disebut viliform. Struktur anatomis saluran pencernaannya ikan omnivore dapat dilihat dari rongga mulut, mulut lebih cenderung mempunyai gigi kecil dan juga dihubungkan dengan bentuk insang. (Huet, 1971).

MORFOLOGI IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Belontia hasselti/ikan kapar memiliki tubuh relative pipih sedikit melebar, moncongnya meruncing seperti sepat, namun juntai ‘cambuk’ sirip perutnya tidak seberapa panjang. Sirip dorsal terdiri dari 16-20 jari jari duri keras dan 10-13 jari jari lunak, sirip analnya 15-17 sirip keras dan 11-13 sirip lunak. Badan berwarna kecoklatan, dengan pinggiran hitam pada tiap tiap sisiknya, ekor dengan pola jala berwarna hitam. Ikan remaja dengan bercak hitam pada pangkal sirip punggung bagian belakang.

Ikan ini memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut labyrinth. Bentuk mulut ikan ini protractile(dapat disembulkan). Posisi mulut berada tepat diujung hidung(terminal) dengan lebar bukaan mulut 4-12 mm, memiliki 2 pasang lubang hidung, dan tidak memiliki sungut. Ikan ini termasuk ikan air tawar berukuran kecil, dimana ukurannya berkisar dari 52-146 mm.(Kottelat, 1993)

CIRI-CIRI IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Jenis ikan ini memiliki kebiasaan tidur yang aneh yaitu diam tak bergerak pada dasar air tempat ia berbeda, bahkan kadang dalam posisi berbaring sehingga terlihat seperti mati. Dan ikan ini merupakan ikan anabantidae ikan air tawar yang berukuran kecil. (Axelrod et al. 1987)

PERAN IKAN KAPAR ATAU SELINCAH DI PERAIRAN
Belontia hasselti adalah  ikan omnivora,ditinjau dari kebiasaan makan dan bentuk organnya pada sistem pencernaan agar tepat dengan organ-organ pencernaan yang dimilikinya dimana ikan omnivora pada umumnya memiliki panjang saluran pencernaan yang sedang dan hampir sama dengan panjang tubuhnya, ikan ini memakan segala bentuk jenis makanan berupa fitoplankton dan zooplankton. (Weatherley, 1976)

TINGKAH LAKU IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Ikan Belontia hasselti akan muncul dipermukaan perairan mulai pukul 07.00-12.00 dan 12.00-14.00 tidak muncul dipermukaan perairan. Pada pukul 14.00-17.00 ikan ini kembali muncul ke permukaan untuk makan. Dapat dikatakan ikan ini aktif disiang hari(diurnal), hal ini dikaitkan pada organ penglihatan ikan tersebut, ikan Belontia hasselti tidak memiliki sungut sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan pada malam hari, ikan ini menggunakan mata untuk mencari makan.(Pulungan, C.P. 1987)

MANFAAT IKAN KAPAR ATAU SELINCAH
Ikan kapar atau selincah memiliki nilai ekonomis, di kalimantan ikan ini banyak terdapat di danau, rawa, maupun sungai. Ikan ini masih banyak mendiami perairan twar di kalimantan, masyarakat kalimantan menjadikan ikan ini makanan pokok, selain mudah didapatkan harganya juga terjangkau. Kandungan protein pada ikan kapar atau ikan selincah tentulah tinggi dan tidak diragukan lagi dan sangat bagus untuk anak dimasa pertumbuhan yang memerlukan tambahan gizi agar tubuh tambah tinggi.

PENULIS
M. Bhre Rakai M. F.
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah.2009. Biologi 2 SMA Jakarta : ESIS Erlangga,2009.
Aslamsyah, 2008. http://digilib.unila.ac.id/3125/15/Bab%202.pdf. Diakses pada tanggal 22 desember 2015 pukul 10.13 wib.
Axelrod, Herbert. R, Warren, E.Burgess, Clief, W. Emmens dan Neal Pronek Jerry, G. Walls.1987.ATLAS Of Freshwater Aquarium Fishes Mini-Edition. T.F.H Publications, Inc. 961 page.
Cuvier GL, Valenciennes A, 1831. Histoire naturelle des poisons, vol 7. Levrault, paris.
D arti S.L dan Iwan D. 2006. Penyakit ikan hias. Penebar Swadaya. Jakarta.
Garcia-Berthou E. 2007. The Charateristics of invasive fishes: what has been learned so far. Journal of fish biology 71:33-35.
Huet, M. 1971. Text Book of Fish Culture, Breeding and Cultivation of Fish. Fishing News (Books). 436 hal.
Kottelat, M,. Kartikasari, S.N., Whitten, A.J., and Wirjoatmadja, S.1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi, Periplus Edition Liumited. Jakarta.
Kottelat, M. A. 1993. Ikan Air Tawar di Perairan Indonesia bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Limited Bekerja Sama Proyek EMDi. Kantor Kementrian Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Jakarta. 594 hal.
Mikrajuddi. 2010. Biologi 2A SMP/MTs.Jakarta : ESIS Erlangga,2010.
Myers, P., R. Espinosa, C. S. Parr, T. Jones, G. S. Hammond, and T. A. Dewey. 2015. The Animal Diversity Web (online). Accessed at http://animaldiversity.org.

No comments:

Post a Comment