Thursday, November 19, 2020

Udang vaname (Litopenaeus vannamei); Klasifikasi, Morfologi, Sistem Pertahanan Tubuh



(Dokumentasi Pribadi Gery Purnomo Aji Sutrisno, S.Pi) 


Udang vaname (Litopenaeus vannamei) biasa juga disebut Penaeus vannamei, Pasific white shrimp, West coast white shrimp dan Camaron blanco langostino, sedangkan nama udang ini menurut FAO adalah White leg shrimp, Crevette pettes blanches, Camoron pattiblanco. Keunggulan udang ini adalah pada ukuran PL 6-7 sudah merupakan benur yang siap tebar. Selain itu, udang vaname dapat dibudidayakan dengan padat tebar yang tinggi, tahan terhadap perubahan lingkungan dan juga memiliki sintasan yang tinggi (Fendjalang et al., 2016).

 

Klasifikasi Udang vaname (Litopenaeus vannamei)

Klasifikasi dari udang vaname menurut Ruswahyuni et al. (2010), adalah sebagai berikut:

Phylum : Arthropoda

Subphylum : Crustacea

Class : Malacostraca

Subclass : Eumalacostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Dendrobranchiata

Famili : Penaeidae

Genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei

 

Morfologi Udang vaname (Litopenaeus vannamei)

Warna tubuh udang vaname cenderung bening kecoklatan atau kehitam hitaman dan mempunyai kulit yang lebih tipis daripada udang windu, jika stres warna tubuh berubah menjadi seperti warna putih kapas (Sa’adah, 2010). Udang vaname merupakan salah satu jenis udang penaeid yang tubuhnya terdiri dari sembilan belas segmen. Lima segmen membentuk kepala, delapan segmen terletak pada dada dan enam segmen terletak pada perut. Bagian kepala dan dada yang menyatu disebut dengan cephalothorax. Bagian ruas kepala terdapat mata majemuk yang bertangkai dan memiliki dua buah antena yaitu antena dan antennula dan keduanya memiliki fungsi sensorik. Bagian kepala terdapat mandibula yang berfungsi untuk menghancurkan makanan yang keras dan dua pasang maxilla yang berfungsi membawa makanan ke mandibula (Prayugi, 2014).

 

Sistem Pertahanan Tubuh Udang vaname (Litopenaeus vannamei)

Respon imunitas pada golongan udang dibentuk oleh jaringan limfoid. Pada udang, organ limfoidnya disebut sebagai organ oka. Organ oka atau organ limfoid pada udang terletak di depan hepatopankreas, organ ini terdiri dari dua lobus yang menyatu membentuk bulatan berwarna putih (Nuryati, 2000). Menurut Alifuddin (2002), menjelaskan bahwa organ oka ini terletak di dorso-anterior hepatopankreas dan ventro-lateral lambung anterior dan posterior. Fungsi organ oka adalah sebagai tempat terakumulsinya benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh udang termasuk patogen (Prayugi, 2014).

 

Darah udang tidak mengandung haemoglobin, sehingga darahnya tidak berwarna merah. Peranan haemoglobin digantikan oleh haemosianin yaitu protein yang mengandung senyawa Cu dan berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh (Maynard, 1960). Hemosit merupakan sel darah udang yang memiliki fungsi sama seperti sel darah putih pada hewan vertebrata (Fariedah, 2010). Sel hemosit berperan dalam respon imun non spesifik pada udang (Alifuddin, 2002). Sistem imun udang merupakan sistem imun non spesifik dikarenakan tidak memiliki immunoglobulin dan T-limfosit yang dapat mendeteksi adanya benda asing yang masuk. Udang memiliki respons imunitas non spesifik yang meliputi sistem pertahanan secara seluler dan humoral (Ode, 2013). Sistem pertahanan seluler dengan cara fagosit sel-sel hemosit, nodulasi dan enkapsulasi, sedangkan sistem pertahanan humoral dilakukan oleh phenoloksidase (PO), prophenoloksidase (proPO), letin dan aglutinin. Meningkatnya ketahanan tubuh udang dapat diketahui dari meningkatnya aktivitas fagositosis sel hemosit (Putri et al., 2013). Proses fagositosis dimulai dengan perlekatan (attachment) dan penelanan (ingestion) partikel mikroba ke dalam sel fagosit. Proses enkapsulasi berawal dari sel hemosit mengelilingi tubuh benda asing, bagian sel terluar dari hemosit tetap berbentuk oval atau bulat sedangkan bagian tengah sel menjadi datar dan pada fase berikutnya dilisis membentuk kapsul tebal berwarna coklat dan keras. Kapsul tersebut tidak diserap kembali dan tetap sebagai tanda enkapsulasi meskipun sudah tidak ada hemosit yang dikenal (Manoppo dan Kolopita, 2014). Hemosit juga memiliki enzim yang diperlukan untuk mengatur kaskade proteolitik dalam penghentian rangsangan dan kerusakan jaringan yang dihasilkan oleh patogen (Aguirre-Guzman et al., 2009).

 

Penulis

Rosita Hasna Budiwardhani

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Aguirre-Guzman, G., J. G. Sanchez-Martinezm A. I. Campa-Cordova, A. Luna- Gonzalez and F. Ascencio. 2009. Penaeid Shrimp Immune System. Thailand Journal Veterinary Medicine.39(3): 205-215.

Alifuddin, M. 2002. Imunostimulan pada Hewan Akuatik. Jurnal Akuakultur Indonesia. 1(2): 87-92.

Alifuddin, M. 2002. Imunostimulan pada Hewan Akuatik. Jurnal Akuakultur Indonesia. 1(2): 87-92.

Fariedah, F. 2010. Pengaruh Imunostimulan Outer Membran Protein (OMP) Vibrio alginolyticus dan Infeksi Vibrio harveyi terhadap DNA Mitokondria Udang Windu Penaeus monodon Fab. Thesis. Program Pascasarjana Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya.

Fendjalang, S. N. M., T. Budiardi, E. Supriyono, dan I. Effendi. 2016. Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei pada Karamba Jaring Apung dengan Padat Tebar Berbeda di Selat Kepulauan Seribu. Jurnal Ilmi dan Teknologi Kelautan Tropis. 8(1): 201-214.

Manoppo, H. dan M. E. F. Kolopita. 2014. Respon Imun Krustase. Jurnal Budidaya Perairan. 2(2): 22-26.

Maynard, E. A. and D. M. Maynard. 1960. Cholinesterase In The Crustacean Muscle Receptor Organ. Journal of Histochemistry & Cytochemistry. 8(5): 376-379.

Nuryati, S. 2000. Penyediaan Biakan Sel Organ Limfoid (Oka) Udang Windu Penaeus monodon Secara In Vitro Sebagai Media Tumbuh bagi Virus. Tesis. Ilmu Perairan. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Ode, I. 2013. Kajian Sistem Imunitas untuk Pengendalian Penyakit pada Ikan dan Udang. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. 6(2): 41-43.

Prayugi, I. T. 2014. Respon Pertumbuhan Kultur Sel Limfoid Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Media yang Berbeda. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Airlangga.

Putri, F. M. 2013. Pengaruh Penambahan Spirulina sp. dalam Pakan Buatan Terhadap Jumlah Total Hemosit dan Aktivitas Fagositosis Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Journal of Aquaculture Management and Technology. 2(1): 102-112.

Ruswahyuni, A. Hartoko and S. Rudiyanti. 2010. Aplication of Chitosan for Water Quality and Microbenthic Fauna Rehabilitation in Vannamei Shrimps (Litopenaeus vannamei) Pond, North coast of Semarang, Central Java-Indonesia. Journal of Central Development. 14(1): 1-10.

No comments:

Post a Comment