Friday, November 20, 2020

White Spot Syndrome Virus (WSSV) Adalah, Merupakan; Gejala Klinis Udang Terserang WSSV, Morfologi dan Karakteristik




(Dokumentasi Pribadi Gery Purnomo Aji Sutrisno, S.Pi)


Menurut Arafani et al. (2016), WSSV merupakan patogen yang paling serius menyerang udang dan telah menghancurkan industri perudangan di berbagai negara. Selain itu, WSSV juga dapat menginfeksi benur, udang tokolan, dan bahkan organisme liar yang hidup di tambak seperti udang api-api, jembret, ikan liar, kepiting, dan beberapa jenis moluska (sebagai karier) (Muliani et al., 2007). Mekanisme penyerangan WSSV ke tubuh udang awalnya bersifat intrasitoplasmik yaitu dengan masuk ke dalam sel inang, kemudian pada tingkat serangan yang lebih tinggi DNA virus masuk ke dalam DNA inang dan mengambil alih proses transkripsi dan translasi sesuai proses dalam DNA virus (Kilawati dan Darmanto, 2009). Penyebaran penyakit WSSV dapat disebabkan oleh adanya organisme carrier, yaitu organisme pembawa penyakit yang dapat menularkan penyakit pada organisme lainnya, tetapi organisme carrier tersebut tidak menunjukkan gejala klinis penyakitnya tapi tiba-tiba sampel uji mati (Fajri et al., 2015).

 

Morfologi dan Karakteristik WSSV

Penyakit ini disebabkan oleh suatu jenis virus yang memiliki envelope, berbentuk batang (rod) yang mengandung double-stranded DNA genom. Virus ini menginfeksi berbagai jenis crustacean, khususnya udang (Kurniawan, 2012). Virus ini mempunyai golongan DNA yang berbentuk silindris besar berukuran 275 x 83 nm. Virus ini termasuk dalam famili Nimaviridae dan merupakan virus dsDNA dengan genom 293kb (Prajitno, 2008). Virus WSSV yang utuh menyelubungi elemen herediter yang berbentuk elips dengan ukuran 266-112 nm atau dengan bentuk nukleokapsid silinder dengan ukuran 420-68 nm dengan bagian belakang yang berbentuk datar (Muliani et al., 2007).

 

Gejala Klinis Udang Terserang WSSV

Udang yang terserang penyakit ini dalam waktu singkat udang dapat mengalami kematian, bila udang yang terserang WSSV tetapi belum terdapat tanda bintik putih, dikategorikan pada tipe III (kronis) dimana infeksi yang dialami oleh jaringan rendah sehingga bintik putih dan kemerahan pada udang tidak tampak, sedangkan tipe II infeksi WSSV pada tubuh udang belum tampak bintik putih tetapi tubuh udang mulai tampak kemerahan dan dapat diketahui dengan dimulainya kematian massal pada hari kedua hingga ketiga, pada tipe I (akut) terdapatnya bintik putih pada karapas udang dan kematian yang dialami sangat tinggi dibandingkan dengan tipe II dan tipe III. Kemudian disebutkan pula bahwa kematian akan tejadi lebih lama yaitu 15-28 hari (Sudha et al., 1998). Organ-organ target yang diserang yang dapat dijadikan sebagai indikator serangan yaitu sel-sel insang, hepatopankreas dan usus. Sel-sel hepatopankreas, usus dan insang yang terserang penyakit WSSV mengalami kerusakan yang ditandai dengan hipertopi inti (eosinofilik hipertropi) dan inclusion bodies sel (Hidayani et al., 2015).

 

Udang yang terkena penyakit ini memiliki gejala klinis, yaitu munculnya bintik-bintik putih berdiameter 0.5-2.0 mm, perubahan warna menjadi kemerahan, dan pelepasan kutikula udang. Luka sering dijadikan indikasi kerusakan sistemik jaringan ektodermal dan mesodermal, termasuk jaringan haemopoietic, insang, epitelium subkutikula, epidermis kutikula perut, dan organ lymphoid. Indikasi terinfeksinya jaringan ditunjukkan oleh adanya titik nekrosis yang tersebar dan sel- sel yang terdegenerasi diitandai dengan adanya inti-inti yang mengalami hiperthrophy (membesar) dengan kromatin yang terpinggirkan, inklusi intranuklear eosinofil sampai basofil, dan enkapsulasi hemosit dari sel nekrosis terlihat sebagai massa berwarna coklat di dalam perut (Kurniawan, 2012).

 

Penulis

Rosita Hasna Budiwardhani

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Daftar Pustaka

Arafani, L., M. Ghazali dan M. Ali. 2016 Pelacakan Virus Bercak Putih Pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Lombok dengan Real-Time Polymerase Chain Reaction. Jurnal Veteriner. 17(1): 88-95.

Fajri, N. A., M. Ali dan S. N. Depamede. 2015. Deteksi WSSV (White Spot Syndrome Virus) pada Lobster Air Tawar (Procambarus clarkii) Menggunakan Metode Real Time-PCR. Jurnal Sains Teknologi dan Lingkungan. 1(1): 30-36.

Hidayani, A. A., A. C. Malina, dan B. R. Tampangallo. 2015. Deteksi Distribusi White Spot Syndrome Virus pada Berbagai Organ Udang Vaname (Litopenaeus vannameii). Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. 25(1): 1-6.

Kilawati, Y. dan W. Darmanto. 2009. Karakter Potensi ICP11 pada DNA Udang Vannamei (Penaeus vannamei) yang Terinfeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV). Berk. Penel. Hayati. 15: 21-24.

Kurniawan, A. 2012. Buku Penyakit. UBB Press. Pangal Pinang. 225 hlm.

Muliani, B. R. Tampangallo, dan M. Atmomarsono. 2007. Penyebaran dan Prevalensi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon). Jurna Riset Akuakultur. 2(2): 231-241.

Muliani, B. R. Tampangallo, dan M. Atmomarsono. 2007. Penyebaran dan Prevalensi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon). Jurna Riset Akuakultur. 2(2): 231-241.

Sudha, P. M., C. V. Mohan, K. M. Shankar and A. Hegde. 1998. Relationship Between White Spot Syndrome Virus Infection and Clinical Manifestation in Indian Cultured Penaeid Shrimp. Journal of Aquacultre. 167: 95-101.

No comments:

Post a Comment