Sunday, August 9, 2020

Morfologi dan Klasifikasi Ikan Lele (Clarias sp.)

(Basahudin, 2009)

 

Morfologi dan Klasifikasi Ikan Lele (Clarias sp.)

Menurut Santoso (1994), sistematika atau klasifikasi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah sebagai berikut        :

Phyllum : Chordata

Klass : Pisces

Sub klass  : Teleostei

Ordo : Ostariophysi

Sub ordo : Siluroidea

Famili : Clariidae

Genus : Clarias

Spesies : Clarias gariepinus

Nama Inggris: King cat fish atau raja ikan lele

Asal : Benua Afrika

 

Menurut Najiyati (1992) dalam Wibowo (2011), bentuk luar lele (Clarias sp.) yaitu memanjang, bentuk kepala pipih dan tidak bersisik. Mulut lele (Clarias sp.) terdapat di bagian ujung moncong dan dihiasi oleh empat pasang sungut, yaitu 1 pasang sungut hidung, 1 pasang sungut maksilan (berfungsi sebagai tentakel), dan dua pasang sungut mandibula. Lele dumbo mempuyai 5 sirip yaitu sirip ekor, sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur. Pada sirip dada jari-jarinya mengeras yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada lele (Clarias sp.) patil lemah dan tidak beracun. Insang berukuran kecil, sehingga kesulitan jika bernafas. Selain bernafas dengan insang juga mempunyai alat pernafasan tambahan (arborencent) yang terletak pada insang bagian atas. Arborencent berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang penuh kapiler-kapiler darah.

 

Menurut Enyidi dan  Nduh-Nduh (2016), ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu ikan utama di Afrika. Dengan klasifikasi sebagai berikut :

Phylum : Chordata

Class : Actinoptergii

Order : Siluformes

Family : Clariidae

Genus : Clarias

Species : C. Gariepinus

 

Berikut akan diuraikan karakteristik ikan lele (Clarias sp.)   : 1) Ciri-ciri; Ikan lele (Clarias sp.) mempunyai bentuk tubuh memanjang, berkulit licin (tidak bersisik). Di dalam rongga perut sebelah atas dijumpai alat perlengkapan keseimbangan yang disebut weber. Bentuk kepalanya gepeng, bersungut 4 pasang pada sirip dada dijumpai patil yang digunakan untuk pertahanan diri. Di bagian atas ruangan rongga insang terdapat alat pernapasan tambahan, bentuknya seperti sebatang pohon yang penuh dengan kapiler-kapiler darah. Warna tubuhnya hijau gelap atau coklat. Pada bagian perut dan bawah kepalanya pada umumnya lebih terang.kadang-kadang terdapat bintik-bintik putih di samping badan dan ekornya (Wahyuni, 2015).  

 

Habitat Ikan Lele (Clarias sp.)

Menurut Heok (2009) dalam Nurudin et al. (2013), habitat ikan lele (catfish) adalah di dasar perairan. Dasar perairan merupakan tempat yang minim akan makanan. Sehingga ikan lele (Clarias sp.) mempunyai mekanisme tersendiri untuk mencari makanannya. Salah satunya ialah ikan lele (Clarias sp.) memiliki semacam sungut atau babel yang berfungsi dalam mendeteksi sumber makanan. Ikan lele (Clarias sp.) juga memiliki tipe mulut inferior yang memungkinkan ikan mendapatkan makanan di dasar sungai.

 

Menurut Muktiani (2011) dalam Widiyanti et al. (2014), ikan lele (Clarias sp.) merupakan jenis ikan yang tidak pernah ditemukan di air asin. Ikan lele banyak ditemukan di perairan tawar. Habitat aslinya banyak ditemukan di sungai, rawa, waduk, sawah dan telaga. Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia, umumnya di Pulau Jawa. Ikan lele (Clarias sp.) merupakan jenis ikan nocturnal, yaitu jenis ikan yang mencari makan di malam hari.

 

Kebiasaan Makan Ikan Lele (Clarias sp.)

Menurut Suhendra (2014) dalam Falahudin et al. (2016), pakan berpengaruh penting dalam kelangsungan pembudidayaan lele. Berdasarkan tingkat kebutuhannya pakan terbagi menjadi dua bagian, yaitu pakan utama dan pakan tambahan.  Pakan utama adalah pakan yang biasa digunakan oleh pembudidaya untuk pakan lele, contoh pakan utama, yaitu cacing tanah. Pakan tambahan adalah pakan yang digunakan oleh pembudidaya lele sebagai pengganti pakan utama lele, contoh pakan tambahan, yaitu tepung tulang, tepung ikan. Ikan lele (Clarias sp.)  termasuk hewan karnivora, lebih menyukai makanan yang berasal dari daging.

 

Menurut Wahyuni (2015), ikan lele (Clarias sp.) merupakan ikan yang sering dibudidayakan dan termasuk ikan konsumsi. Kebutuhan konsumsi ikan jenis ini cukup tinggi, selain rasanya enak juga harganya terjangkau masyarakat menengah kebawah, sehingga usaha di bidang ini cukup menggiurkan untuk ditekuni. Makanan alamiah ikan lele (Clarias sp.) adalah jasad-jasad renik yang berukuran kecil seperti zooplankton, fitoplankton, larva (jentik-jentik), cacing dan lain-lain. Berdasarkan makanan yang dimakan, ikan lele (Clarias sp.) termasuk binatang pemakan daging (karnivora) ada juga yang menggolongkan omnivora (pemakan segala). Oleh karena itu ikan lele (Clarias sp.) yang dibudidayakan diberi makan pellet ikan buatan pabrik.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Basahudin, M.S. 2009. Panen Lele 2,5 Bulan. Penebaran Swadaya. Depok. 19 hlm.

Enyidi, U. D and A. S. Nduh-Nduh. 2016. Application of phytogenics as first feed of larval african catfish Clarias gariepinus. Journal of Advances in Biology & Biotechnology. 15(3): 1-10.

Falahudin, I., Syarifah, M. Rahmalia. 2016. Pengaruh jenis pakan usus ayam dan ampas tahu terhadap pertumbuhan lele dumbo (clarias gariepinus). Jurnal Biota. 2(2) : 132-137.

Nurudin, F. A., N. Kariadadan A. Irsadi. 2013. Keanekaragamanjenisikan di sungai        sekonyer taman nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Unnes J Life Sci. 2(2): 118-125.

Santoso, B. 1994. Lele Dumbo & Lokal. Kanisius : Yogyakarta.81 hlm.

Wahyuni, E. 2015. Usaha peningkatan produktivitas   di rt 08 Desa Krandegan Kecamatan Gandusari kabupaten Trenggalek. Dewantara. 1 (1) : 59-68.

Wibowo, J. 2011. Analisis Usaha Dan Alternatif Strategi Pengembangan Agribisnis Pembenihan Ikan Lele Dumbo Di Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten. SKRIPSI. Universitas Sebelas Maret.

Widiyanti, E., B. W. Utamidan D. R. Afandi. 2014. Pemberdayaan masyarakat melalui        kegiatan iptek bagi masyarakat (IbM) kelompok pembudidaya ikan lele dan        pembuatan diversifikasi produk olahannya di Kabupaten Karanganyar. Inotek.      18(1): 16-27.

No comments:

Post a Comment