Sunday, June 21, 2020

Pediastrum Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Pediastrum sp. merupakan salah satu spesies fitoplankton. Suatu perairan dikatakan subur apabila mengandung banyak unsur hara atau nutrien yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam air terutama fitoplankton dan dapat mempercepat pertumbuhannya. Fitoplankton merupakan organisme pertama yang terganggu karena adanya beban masukan yang diterima oleh perairan. Ini disebabkan karena fitoplankton adalah organisme pertama yang memanfaatkan langsung beban masukan tersebut. Oleh karena itu perubahan yang terjadi dalam perairan sebagai akibat dari adanya beban masukan yang ada akan menyebabkan perubahan pada komposisi, kelimpahan dan distribusi darikomunitas fitoplankton. Maka dari itu keberadaan fitoplankton dapat dijadikan sebagai indikator kondisi kualitas perairan. Selain itu fitoplankton dapat digunakan sebagai indikator perairan karena sifat hidupnya yang relatif menetap, jangka hidup yang relatif panjang dan mempunyai toleransi spesifik pada lingkungan.

KLASIFIKASI PEDIASTRUM SP
Kingdom :Plantae 
Phylum : Chlorophyta
Class : Chlorophyceae 
Order : Sphaeropleales 
Family : Hydrodictyaceae
Genus : Pediastrum
Spesies : Pediastrum sp

MORFOLOGI ATAU CIRI-CIRI PEDIASTRUM SP
• Flagela-flagelanya selalu sama panjang, disebut dengan isokontae
• Terdiri dari pigmen chlorophyta A
• Makanan cadangannya karbohidrat dalam bentuk tepung dan protein berbetuk pirenoid
• Dinding sel tersusun atas sellulosa

Dalam adaptasi terhadap lingkungan, Pediastrum sp. memiliki ciri-ciri fisik yaitu:

• Tubuh pipih dan tahan terhadap kekeringan
• Spora membetuk hypnospora
• Sel berwarna hijau, merah dan cokelat
• Berukuran kecil, bersifat uniseluler dan memiliki flagel
• Merupakan ordo dari chlorococcales yang berkoloni

HABITAT PEDIASTRUM SP
Sebagai Plankton Hidupnya Melayang Di Perairan Laut, Payau Atau Tawar. Bersifat pasif atau cenderung mengikuti arus perairan. Sebagai anggota dari filum Chlorophyta, Pediastrum sp. mengandung koroplas (plastid berwarna hijau) dengan butir-butir pirenoid di tengahnya yang berfungsi dalam fotointesis untuk menghasilkan amilum atau pati. Hal ini menyebabkan Pediastrum sp. bersifat fototaksis positif, yaitu mendekati datangnya sinar matahari, sehingga sering ditemukan di kolom permukaan suatu perairan. Fitoplankton biasanya berkumpul di zona eufotik yaitu zona dengan intesitas cahaya masih memungkinkan terjadinya proses fotosintesis. Pada suatu perairan sering dijumpai kandungan fitoplankton yang sangat melimpah, akan tetapi pada tempat yang lain sangat sedikit. Keadaan ini disebabkan oleh bermacam-macam faktor antara lain angin, arus, nutrien, variasi kadar garam, kedalaman perairan, aktivitas pemangsaan serta adanya percampuran massa air.

TINGKAH LAKU PEDIASTRUM SP
Pediastrum sp. banyak ditemukan pada kolam-kolam yang permanen atau semi permanent. Distribusi fitoplankton secara horizontal lebih banyak dipengaruhi faktor fisik berupa pergerakan masa air. Oleh karena itu pengelompokan (pathciness) plankton lebih banyak terjadi pada daerah neritik terutama yang dipengaruhi estuaria dibandingkan dengan oseanik. Faktor-faktor fisik yang menyebabkan distribusi fitoplankton yang tidak merata antara lain arus pasang surut, morfogeografi setempat, dan proses fisik dari lepas pantai berupa arus yang membawa masa air kepantai akibat adanya hembusan angin. Selain itu ketersediaan nutrien pada setiap perairan yang berbeda menyebabkan perbedaan kelimpahan fitoplankton pada daerah-daerah tersebut. Pada daerah dimana terjadi up welling atau turbulensi, kelimpahan plankton juga lebih besar dibanding daerah lain yang tidak ada.

PERAN PEDIASTRUM SP DI PERAIRAN
Fitoplankton menduduki tropik level pertama dalam rantai makanan, sehingga keberadaannya akan mendukung organisme tropik level selanjutnya. Sebagai produsen primer, fitoplankton dapat melakukan proses fotosintesis untuk mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik dengan bantuan sinar matahari. Hasil fotosintesis dari produsen akan digunakan bagi dirinya sendiri dan oleh organisme lain. Produktivitas primer fitoplankton ini merupakan salah satu dari sebagian besar sumber penting dalam pembentukan energi di perairan. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi primer (laju fotosintesis) antara lain: cahaya matahari, suhu, nutrien, serta struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton yang mampu beradaptasi di ekosistem perairan (habitatnya).

REPRODUKSI PEDIASTRUM SP
Terdapat dua cara dalam proses reproduksi atau perkembangbiakan spesies Pediastrum sp., yaitu:
• secara aseksual dengan membentuk spora berupa hypnospora. Dalam perkembangbiakan ini, organisme dapat membentuk sel yang dindingnya lebih tebal dari aplanospora dan tidak memunyai flagel.
• Secara seksual, Pediastrum sp. melalui proses anisogami, yaitu peleburan dua gamet yang ukurannya tidak sama.

FISIOLOGI PEDIASTRUM SP
Ditinjau secara biologi, Pediastrum sp. merupakan salah satu spsies fitoplankton yang berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni. Kloroplas seperti pelat atau reticulated, dengan satu atau banyak pyrenoids. Di dalam fitoplankton terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida, hormon, vitamin, mineral, dan juga senyawa bioaktif. Koloni tetap jumlah sel, datar, melingkar dalam bentuk; sel tubuh berbentuk poligonal, dengan proyeksi tanduk seperti; dinding sel garanulated, berkerut atau berlekuk.

Pediastrum koloninya mengapung, berisi 2 –128 (biasanya 4-64) sel poligonal (bersudut banyak) yang tersusun dari satu bidang pipih setebal selnya. Senobium mungkin padat atau berlubang. Jika jumlah sel senobium ada 16 atau lebih, cenderung membentuk lingkaran-lingkaran yang ke arah dalam makin kecil. Pada setiap lingkaran berisi sel dengan jumlah yang tertentu. Terjadi atau tidak terjadinya keteraturan ini ditentukan oleh faktor-faktor yang menmpengaruhi zoospora pada saat mulai membentuk koloni. Sel-sel lingkaran tepi (perifer) sering berbeda bentuknya dengan sel-sel bagian dalam dan sel perifer mungkin punya satu, dua, atau tiga taju atau penonjolan (prosesus) yang tidak dimiliki sel-sel bagian dalam. Dinding sel mungkin mulus, berongga atau retikularis. Sel muda memiliki kloroplas parietal bentuk cakram dengan satu pirenoid. Sel tua memiliki satu kloroplas yang difuse (meluas) dan mungkin memiliki lebih dari satu pirenoid. Sel dewasa mungkin memiliki satu, dua, empat, atau delapan nukleus (14 spiro).

PENULIS
Neni Dyah K. A
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Barus, T.A. 2002. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi FMIPA. Universitas Sumatera Utara: Medan.
Siregar, Sofyan. A. Mulyadi, O.J. Hasibuan. 2008. Struktur Komunitas Diatom Epilitik (Bacillariophyceae) Pada Lambung Kapal Di Perairan Dumai Provinsi Riau. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau: Pekanbaru.
Sunarto. 2008. Karakteristik Biologi Dan Peranan Plankton Bagi Ekosistem Laut. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjajaran: Bandung.
Suwartimah, Ken. Widianingsih. 2011. Komposisi Jenis dan Kelimpahan Diatom Bentik di Muara Sungai Comal Baru Pemalang. Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro: Semarang.

No comments:

Post a Comment