Sunday, May 24, 2020

Ikan Patin Siam; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Patin Siam (Pangasius hypopthalmus) merupakan salah satu ikan introduksi yang telah lebih dulu dikenal masyarakat indonesia. Budidaya ikan patin siam mulai berkembang pada tahun 1980 sejak keberhasilan tehnik produksi massal benih secara buatan (Hardjamulia et al.,1981). Ikan patin yang sedang dikembangkan di Indonesia yaitu ikan patin siam. Kementrian kelautan perikanan (KKP) telah menetapkan patin sebagai salah satu komoditas perikanan dalam program percepatan industrialisasi dari jenis komoditas perikanan budidaya. Ikan patin siam merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi baik pada tahap pembenihan maupun pada tahap pembesaran.

KLASIFIKASI IKAN PATIN SIAM
Klasifikasi ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) menurut Susanto dan Amri (2002) dalam Brawidyastiti (2013) adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub class : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Siluroidea
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Species : Pangasius hypophthalmus
           
HABITAT IKAN PATIN SIAM
Habitat ikan patin adalah di tepi sungai-sungai besar dan muara-muara sungai serta danau. Di lihat dari bentuk mulut ikan patin yang letaknya sedikit agak ke bawah, maka ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar perairan. Ikan patin sangat terkenal dan digemari masyarakat karena daging ikan patin sangat gurih dan lezat untuk dikonsumsi.

Ikan patin siam merupakan ikan introduksi Thailand pada tahun 1972. Ikn ini proses domestikasinya mudah dan cepat di perairan Indonesia sehingga budidayanya berkembang dengan pesat. Penyebaran kegiatan budidaya Patin Siam meliputi pembesaran di kolam, sungai, danau atau waduk buatan di pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Untuk budidaya di kolam sudah bisa dilakukan di lahan-lahan marginal yang tidak produktif untuk tanaman seperti lahan gambut dan rawa-rawa. Hal ini karena Patin Siam mempunyai kelebihan bisa hidup dan berkembang di perairan-perairan ekstrim, yaitu yang memiliki pH dan kandungan oksigen  yang sangat rendah (Khairuman dan Sudenda, 2009 dalam Brawidyastiti, 2013).

Penyebaran geografis ikan patin di alam cukup luas. Secara alami ikan ini merupakan penghuni sungai, rawa, dan danau di semenanjung Indocina yang meliputi Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja dan Thailand. Di Indonesia ikan patin siam telah diterima masyarakat luas. Khususnya di Sumatera, Kalimantan, DKI dan Jawa Barat menggantikan ikan patin (Pangasius pangasius) asli Sumatera dan Kalimantan. Susanto dan Amri (2002) dalam Brawidyastiti (2013) mengatakan, ikan patin bersifat nocturnal atau melakukan aktivitas di malam hari sebagaimana umunya ikan Catfish lainnya. Ikan patin suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai dan termasuk ikan dasar, hal ini bisa dilihat dari bentuk mulutnya yang agak kebawah (Cholik et al., 2005 dalam Brawidyastiti, 2013).

FISIOLOGI IKAN PATIN SIAM
Selama perkembangan oosit, vitelogenin disintesis di hati di bawah rangsangan hormon estrogen. Peningkatan konsentrasi plasma dari vitelogenin dapat disebabkan karena adanya rangsangan hormon estrogen. Jumlah reseptor estrogen pada sejumlah jaringan menurun seiring bertambahnya umur, produksi telur menurun ketika estrogen menurun (Beck and Hansen 2004). Vitelogenin merupakan komponen utama dari oosit yang sudah tumbuh dan dihasilkan oleh hati. Hati merupakan organ vital yang berfungsi sebagai detoksifikasi dan mensekresikan bahan kimia yang digunakan untuk proses pencernaan (Saraswati et al. 2013). Sebagian zat toksik yang masuk ke dalam tubuh setelah diserap oleh sel akan dibawa ke hati melalui vena porta, sehingga hati berpotensi mengalami kerusakan (Loomis 1978).

Selama perkembangan oosit, vitelogenin disintesis di hati di bawah rangsangan hormon estrogen. Peningkatan konsentrasi plasma dari vitelogenin dapat disebabkan karena adanya rangsangan hormon estrogen. Jumlah reseptor estrogen pada sejumlah jaringan menurun seiring bertambahnya umur, produksi telur menurun ketika estrogen menurun (Beck and Hansen 2004). Vitelogenin merupakan komponen utama dari oosit yang sudah tumbuh dan dihasilkan oleh hati. Hati merupakan organ vital yang berfungsi sebagai detoksifikasi dan mensekresikan bahan kimia yang digunakan untuk proses pencernaan (Saraswati et al. 2013). Sebagian zat toksik yang masuk ke dalam tubuh setelah diserap oleh sel akan dibawa ke hati melalui vena porta, sehingga hati berpotensi mengalami kerusakan (Loomis 1978).

Upaya produksi ikan patin dalam jumlah besar tidak mudah jika hanya bergantung pada proses pemijahan secara alami. Upaya yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan produksi benih adalah dengan mempercepat waktu pematangan gonad induk. Ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu aplikasi nutrisi pada pakannya sehingga akan berpengaruh positif pada kualitas telur dan sperma (Izquierdo et al. 2001) dan dengan dukungan hormonal yang ditujukan untuk merangsang proses reproduksi (Lieberman 1995). Pemijahan buatan dengan metode pemberian pakan induk dengan hormon menjadi salah satu alternatif produksi benih dalam jumlah besar. Salah satu hormon yang bisa digunakan adalah Oodev yang mengandung Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) dan antidopamin, Hormon PMSG ini banyak mengandung unsur daya kerja Folicle Stimulating Hormone (FSH) yang berperan dalam pematangan gonad awal atau vitelogenesis (Bolamba et al. 1992), sedangkan antidopamin akan membuka blok dopamin pada hipothalamus agar dapat mensekresikan hormon-hormon gonadotropin. Antidopamin juga dapat mengaktifkan reseptor antagonis sehingga memperlancar aliran neurotransmitter ke hipothalmus (Rachman 2013).

MORFOLOGI IKAN PATIN SIAM
Ikan Patin Siam memiliki bentuk tubuh memanjang pipih, letak mulut agak kebawah (subterminal) dan kepala relatif kecil. Ujung kepala terdapat mulut yang dilengkapi empat pasang sungut. Warna tubuh kehitaman dengan bagian perut berwarna putih keabu-abuan serta memiliki garis-garis pita hitam lengkung memanjang dari kepala hingga pangkal ekor. Sirip ekor bercagak dengan tepiannya berwarna putih dan sirip dubur mempunyai garis putih di tengah. Ikan patin tidak memiliki sisik, di bagian punggung terdapat sirip dengan sebuah jari-jari keras yang dapat berubah menjadi patil, jari-jari lunak berjumlah 6-7 buah. Bentuk sirip ekor simetris bercagak. Di sirip dada terdapat D. 12-13 dan D. I yang berfungsi sebagai patil. Sirip duburnya panjang, terdiri dari D. 30-33. Sementara itu, di sirip perutnya terdapat D. 6 (Khairuman dan Amri, 2008 dalam Brawidyastiti, 2013).

Tubuh ikan Patin Siam terbagi menjadi 3 bagian, yaitu kepala, badan dan ekor. Kepalanya kecil, dan gepeng dengan batok kepala yang keras. Mata yang kecil, hidung yang kecil, mulut yang bercelah lebar dengan dua pasang sungut  maksila dan mandibular, atau kumis. Inilah yang menjadi ciri khas catfish (ikan berkumis seperti kucing). Pada rongga mulut mempunyai gigi palatin yang terpisah dari tulang vormer. Tutup insang tidak terlalu besar, menutup bagian kepala. Sirip punggung (dorsal fin) mempunyai D. I yang berubah menjadi patil yang besar dan bergerigi di belakangnya, sedangkan jari-jari lunak pada sirip D. 6-7 buah. Pada permukaan punggung terdapat sirip lemak yang ukurannya sangat kecil. Sirip dubur (anal fin) agak panjang dan mempunyai D. 30-33. Sirip perut (ventral fin) terdapat D. 6, sedangkan sirip dada (pectoral fin) terdapat D. I yang berubah menjadi patil dan D. 12-13. Sirip ekor (caudal fin) bercagak dan bentuknya asimetris. Ketika masih kecil, warna berkilauan seperti perak ini sangat cemerlang sehingga banyak orang memeliharanya di aquarium sebagai ikan hias. Ketika ukurannya semakin besar, warnanya mulai memudar sehingga kurang menarik untuk dipajangkan di aquarium (Khairuman dan Sudenda, 2009 dalam Brawidyastiti 2013).

CIRI-CIRI IKAN PATIN SIAM
Menurut Susanto dan Amri (2002) dalam Susi Susanti (2007), ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) mempunyai bentuk tubuh memanjang, agak pipih dan tidak bersisik. Panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm, suatu ukuran ikan yang cukup besar. Warna tubuh patin siam pada bagian punggung keabu-abuan atau kebiru-biruan dan bagian perut yakni berwarna putih keperak-perakan. Kepala patin ini relati kecil dengan mulut terletak  di ujung agak ke bawah. Hal ini merupakan ciri khas dari golongan ikan catfish. Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut (kumis) pendek yang berfungsi sebagai alat peraba.

Ikan patin siam mempunyai bentuk tubuh yang memanjang, berwarna putih perak dengan punggung berwarna agak kebiruan, kepala ikan relative kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak kebawah (Susanto,2002). Ikan patin tidak memiliki sisik, hal ini merupakan ciri khas golongan catfish, panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm, sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba (Subagja, 1999). Pada permukaan punggung terdapat sirip lemak dengan ukuran yang sangat kecil dan sirip ekornya membentuk cagak dengan bentuk simetris (Subagja, 1999).

REPRODUKSI IKAN PATIN SIAM
Sistem reproduksi ikan Patin Siam terdiri atas kelamin, gonad, kelenjar hipofisa dan syaraf yang berhubungan dengan perkembangan alat reproduksi. Secara alami sistem kerja reproduksi ikan yakni disebabkan oleh lingkungan perairan, seperti suhu, cahaya dan cuaca yang merangsang hypothalamus sehingga menghasilkan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone). Selanjutnya, GnRH bekerja merangsang pituitary untuk melepaskan GnH (Gonadotropin Hormone) yang berfungsi dalam perkembangan dan pematangan gonad hingga terjadi pemijahan (Peranginangin, 2003 dalam Brawidyastiti, 2013).

Usaha dan peningkatan produksi benih ikan patin perlu dijaga terus-menerus dikarenakan hambatan yang terjadi saat pemijahan ikan patin secara alami yang terjadi setahun sekali, telur dan semen tidak tersedia sepanjang tahun karena termasuk ikan petelur musiman, gonad jantan dan betina ikan patin tidak matang pada waktu yang sama di kolam budidaya selain itu Motilitas dan Viabilitas spermatozoa akan terus menurun setelah dikeluarkan dari tubuh ikan. Salah satu cara yang bisa menyediakan ikan patin sepanjang tahun yaitu malalui penyimpanan spermatozoa induk jantan (Rahardhianto, 2012 dalam Brawidyastiti, 2013).

PERAN IKAN PATIN SIAM DI PERAIRAN
Patin merupakan ikan pemakan segala (omnivore), tetapi cenderung kearah karnivora. Susanto dan Amri (2002) menjelaskan, di perairan ikan patin memakan udang renik (crustacea), insekta dan moluska. Selain itu ikan patin memangsa rotifera, ikan kecil dan daun-daunan yang ada di perairan.

TINGKAH LAKU IKAN PATIN SIAM
Patin dikenal sebagai hewan yang bersifat (nocturnal), yaitu beraktifitas di malam hari. Ikan ini suka bersembunyi di liang-liang tepi sungai. Benih patin di alam biasanya bergerombol dan sesekali muncul di permukaan air untuk menghirup oksigen langsung dari udara menjelang fajar. Untuk budidaya ikan patin, media atau lingkungan yang dibutuhkan tidaklah rumit, karena patin termasuk golongan ikan yang mampu bertahan pada lingkungan perairan yang buruk. Walaupun patin dikenal dengan ikan yang mampu hidup pada lingkungan yang buruk, namun ikan ini lebih menyukai perairan dengan kondisi baik.

Ikan patin sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air, artinya ikan patin ini dapat bertahan hidup baik pada kisaran pH 5-9, kandungan O2 terlarut yang dibutuhkan berkisar antara 3-6 ppm, CO2 yang bisa ditoleran berkisar antara 9-20 ppm, alkalinitasnya antara 80-250, suhu air media pemeliharaan yang optimal berkisar antara 28-300 C.

MANFAAT IKAN PATIN SIAM
Usaha ikan patin masih berprospek cerah karena segmentasi pasarnya masih terbuka luas baik di dalam negeri maupun di pasar internasional untuk skala ekspor. Menurut kementrian kelautan perikanan perkembangan produksi budidaya ikan patin menujukkan kenaikan sangat signifikan. Sebagai contoh pada tahun 2006 produksi ikan patin mencapai 31.490 ton pertahun dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 651.000 ton pertahun (Kementrian Kelautan Perikanan, 2013).

Ikan patin siam merupakan salah satu spesies ikan introduksi yang memiliki nilai ekonomis untuk dibudidayakan. Hal ini disebabkan karena ikan patin siam memiliki keunggulan antara lain laju pertumbuhannya cepat, fekunditas tinggi, dapat diproduksi secara massal dan memiliki harga jual yang tinggi serta rasa daging yang digemari oleh masyarakat (Susanto & Amri, 2002).

PENULIS
Wafa Uliningrum
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Brawidyastiti.2013.Teknik Pembesaran Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus).pkl.FPIK.UB
Dewi.2014. Kombinasi Tepung Kunyit (Curcuma longa) dan Hormon Tiroksin Untuk Meningkatkan Peforman Reproduksi Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus).Bogor
Fauzan-mustopa-blogspot.co.id/2010/10/ikan-patin-siam-pangasius-hypopthalmus.html
http://repository.ump.ac.id/385/3/BAB%20II.pdf
https://books.google.co.id
https://zaldibiaksambas.files.wordpress.com/2010/06/pembesaran-ikan-patin-dalam-keramba-jaring-apung.pdf
Kreasi-hermanoceaniz.blogspot.co.id/2011/04/teknik-pembenihan-ikan-patin-siam.html
Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/46501/4/Chapter%20II.pdf
Susanto dan Amri.2001.Budidaya Ikan Patin.Jakarta:Penebar Swadaya

No comments:

Post a Comment