Saturday, May 23, 2020

Ikan Botia; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


Gambar Ikan Botia (a) Betina (b)Jantan. (Putra, et al. 2017).

Ikan Botia (Chromobotia macracanthus) merupakan ikan hias asli dari perairan Sumatera dan Kalimantan dan sudah menjadi komoditas ekspor primadona ikan hias air tawar selama puluhan tahun. Spesies ini dikenal juga dalam dunia perdagangan sebagai sebutan clown loach atau tiger botia. Nama lokal ikan ini adalah ikan macan (Sumatera), gecubang (Lampung), biju bana (Jambi), languli (Mahakam) (Suseno dan Subandiah, 2000).

Spesies yang nama daerahnya disebut sebagai ikan macan, bajubang atau langli menurut tata nama dalam Nomenklatur Bleeker tahun 1852 botia dinamai Botia macracanthus, tetapi oleh Kottelat (2006). direvisi menjadi Chromobotia macracanthus. Masih banyak sebenarnya jenis botia lain yang beredar di pasar ikan hias air tawar seperti Botia hymenophysa yaitu botia yang sesuai warnanya disebut botia hijau yang juga menghuni perairan Sumatera bagian Selatan, Botia /okahata yang berwarna perak dengan belang hitam dikenal dengan botia India karena memang bersal dari sana. Botia modesta dari Kamboja juga berwarna kekuningan dengan belang-b.elang hitam. Ada lagi spesies baru yang saat ini termasuk digemari adalah Botia kubotai dari Myanmar. Namun demikian yang paling terkenal dan paling cantik adalah Chromobotia macracanthus ini. Dalam (Satyani dan Subarnia, 2008).

KLASIFIKASI IKAN BOTIA
Menurut Kottelat (2004) dalam Permana et al. (2011), ikan hias botia (Chromobotia macracanthus Bleeker) diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophsyi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cobitidae
Subfamili : Botiinae
Genus : Chromobotia Kottelat 2004
Spesies : Chromobotia macracanthus Bleeker 1852

MORFOLOGI IKAN BOTIA
Menurut Weber and de Beaufort (1916) dalam Permana et al. (2011), ciri morfologi ikan hias botia (Chromobotia macracanthus Bleeker) dideskripsikan sebagai berikut: memiliki duri di belakang mata dengan pinggiran yang bebas dan dapat berdiri tegak saat ikan stress. Mulut mengarah ke bawah dan memiliki sungut berjumlah 8 buah; 4 buah di rostral, 2 buah pada mandibular symphysis, dan 2 buah yang lainnya berukuran kecil masingmasing di sudut mulut. Bukaan mulut berbentuk sepatu kuda, bibir tebal dan berlamela (semacam pelat tipis). Posisi sirip punggung berada lebih depan daripada sirip perut. Semua sirip berwarna merah darah dan memiliki rumus D.11; A.8; P.14-16 dan V.9. Panjang tubuh ikan hias botia (Chromobotia macracanthus) di alam bisa mencapai 30 cm (12 inchi) (Fishbase, 2007 dalam Permana et al. 2011), namun menurut Axelrod and Vordenwinkler (1972) dalam Permana et al. (2011), apabila di akuarium hanya ikan ini hanya mencapai ukuran 15-20 cm.

CIRI-CIRI IKAN BOTIA
Bentuk tubuh ikan botia adalah bulat memanjang dan pipih, kepala agak meruncing pipih ke arah mulut (seperti torpedo). Badan tidak bersisik, mulut agak kebawah dengan empat pasang sungut di atasnya. Patil/duri di bawah mata yang akan keluar apabila merasa ada bahaya. Sirip dada dan sirip perut/anal berpasangan, sirip punggung tunggal dan sirip ekor
Bercagak (Satyani dan Subamia, 2008).

Warna ikan kuning cerah dengan tiga garis Iebar atau pita hitam Iebar. Pita pertama melingkari kepala melewati mata, yang kedua dibagian depan sirip punggung dan yang ketiga memotong sirip punggung bagian belakang sampai ke pangkal ekor. Sirip punggung didominasi warna hitam dan sedikit oranye, sirip dada dan perut oranye dan hitam serta sirip ekornya oranye terang (Satyani dan Subamia, 2008).

HABITAT IKAN BOTIA
Berasal dari gugusan pulau sunda besar Kalimantan dan Sumatera. Pada awalnya hanya terbatas pada sistem sungai Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim) provinsi di bagian Indonesia termasuk Kapuas dan Kayan. Di Sumatera itu ditemukan di saluran air timur dan selatan Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel) dan propinsi Lampung termasuk Batang Hari, Musi dan Tulang Bawang. Jenis serangkaian dikumpulkan dari 'Palembang' dan 'Kwanten' di Sumatera, sebelumnya kemungkinan besar mengacu pada Sungai Musi dan yang terakhir Kuantan Singingi, Provinsi Riau yang berarti lembah Sungai Indragiri adalah kemungkinan tempat berkumpul. Populasi dari dua pulau yang dikenal untuk menunjukkan perbedaan dalam struktur genetik, pola dan ukuran dewasa, dan itu diduga bahwa ini mungkin berubah menjadi spesies yang berbeda jika studi rinci telah dilakukan (Seriouslyfish, 2016).

Ikan botia merupakan ikan hias yang tinggal di dasar perairan (demersal) (Fishbase, 2007 dalam Permana et al. 2011). Habitat yang disukai ikan botia adalah perairan yang agak tenang dengan arus yang relatif kecil, jernih, serta daerah yang tersedia banyak berbatu atau “napal” (Kamal, 1992 dalam Permana et al. 2011) dan berpasir didasarnya, lembut serta memiliki kandungan oksigen yang kaya (Grzimex, 1968 Kamal, 1992 dalam Permana et al. 2011) dengan pH berkisar 5-8 dan suhu 25º-30ºC (Fishbase, 2007 Kamal, 1992 dalam Permana et al. 2011).

REPRODUKSI IKAN BOTIA
Ikan hias botia termasuk golongan ikan yang melakukan migrasi ke hulu sungai untuk memijah (Rohman, 1994 dalam Permana et al. 2011). Pada saat induk ikan hias botia memijah di daerah hulu, telur-telur yang dilepaskan akan terbawa hanyut ke hilir dan kemudian menetas dalam perjalanan menuju ke arah rawa banjiran (flood plain) (komunikasi pribadi dengan Sudarto). Setelah menjadi benih ukuran 2 inchi, anak-anak ikan botia ini akan melakukan migrasi mudik meninggalkan daerah hilir melawan arus menuju daerah pembesaran (komunikasi pribadi dengan Pouyaud & Kamal). Anak-anak ikan hias botia banyak ditangkap saat musim hujan pada bulan Oktober sampai Januari yang mengindikasikan bahwa pada saat tersebut ikan botia memijah di alam (Satyani et al., 2006 dalam Permana et al. 2011). Pemijahan di lingkungan budidaya sampai saat ini masih secara buatan menggunakan stimulasi hormonal (Permana et al. 2011).

Di alam spesies ini bermigrasi saat memijah, bergerak dari saluran sungai utama menuju ke anak sungai kecil yang ada di sekitarnya, yaitu berupa dataran banjir yang sementara terendam selama musim hujan (Seriouslyfish, 2016c). Gerakan-gerakan ini biasanya dimulai pada bulan September dengan pemijahan yang biasanya terjadi pada akhir September atau awal Oktober, meskipun waktu ini mulai bergeser seiring dengan perubahan iklim (Evers, 2009 dalam Seriouslyfish, 2016c).

Jouvenil ikan botia tinggal di daerah banjir sampai air mulai surut pada saat mana mereka biasanya berukuran sekitar 30 mm SL. Mereka kemudian pindah ke anak sungai kecil sampai cukup besar untuk menyelesaikan perjalanan mereka ke dalam saluran utama di mana mereka tetap sampai dewasa secara seksual dan mampu melakukan migrasi pemijahan mereka sendiri (Seriouslyfish, 2016c).

lnduk botia betina yang berukuran 13 em atau 60 gram sudah mengandung telur, sementara induk jantan ukuran 1 0 em atau 40 gram sudah dapat mengeluarkan sperma. Namun demikian sampai sa at ini bel urn diketahui bagaimana ikan botia berkembang biak di alam. Hanya saja anak-anak ikan ini banyak ditangkap pada musim hujan yaitu bulan Oktober sampai dengan Januari, yang mengindikasikan-_saat itu ikan botia memijah, sedangkan pada musim kemarau tidak ada anak botia di alam.

Pengembangbiakan ikan botia di tempat budidaya merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan produksi dan kelestariannya. Walaupun ikan ini sudah diekspor dan ditangkap serta dipelihara sejak tahun 80-an, tetapi para peternak belum ada yang mampu mengembangbiakkan/memijahkannya. Sebenarnya sudah banyak peternak yang mencoba tetapi sangat susah dan banyak gagal. Banyak faktor yang menjadikan usaha para peternak ini mengalami kegagalan yaitu:

Pertama. lkan botia sangat sensitif, untuk memelihara terutama induknya membutuhkan biaya yang cukup besar. Kematian dalam jumlah yang banyak amat sering terjadi. lkan botia ini mudah stress dan sering keluar lendir sangat banyak dari badannya. Lendir ini seperti fern dan bila keluar berlebihan ke air pem~liharaan akan masuk insang dan menutupinya, sehingga ikan mudah mati. Untuk mendapatkan induk yang benar-benar matang gonad juga masih sulit. Lnduk dari alam masih liar dan perlu adaptasi cukup lama paling kurang satu tahun dan kadang susah matang gonad di tempat pemeliharaan (Satyani dan Subarnia, 2008).

Kedua. Pertumbuhan botia sangat lambat sehingga untuk membuat ikan menjadi besar butuh waktu yang lama, sehingga orang menjadi tidak sabar. Untuk menjadi induk dari ukuran kecil membutuhkan waktu paling cepat 4- 5 tahun (Satyani dan Subarnia, 2008).

Ketiga. lnduk botia tidak mau kawin atau memijah dengan sendirinya walaupun jantan dan betina dicampurkan dalam pemeliharaan. Teknologi kawin rangsang dengan bantuan hormon seperti yang dilakukan orang terhadap ikan patin yang diterapkan pada botia belum juga ada yang berhasil, menuntut ketelitian dan kecermatan lebih banyak (Satyani dan Subarnia, 2008).

TINGKAH LAKU IKAN BOTIA
Termasuk ikan omnivora atau makan apa saja walaupun pakan hidup lebih disukai. Sebagai ikan dasar maka pakannya adalah otganisme dasat perairan seperti cacing baik cacing rambut (Tubifex sp:) atau larva insekta dasar seperti cacing darah (Chironomus sp.). Penelitian yang mengamati lambung ikan botia di alam, juga ditemukan udang-udang kecil. Botia aktif mencari makail pada malam hari (nokturnal). Pada siang ciri umumnya hanya sembunyi di balik batu, dalam lubang-lubang atau diantara pohon-pohon atau rantingranting mati dalam air. Dalam (Satyani dan Subarnia, 2008).

MANFAAT IKAN BOTIA
Ikan botia  (Chromobotia macracanthus Bleeker) merupakan ikan hias asli perairan Indonesia yang tepatnya berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Ikan ini menjadi primadona dalam komoditas ikan hias karena keunikannya mulai dari bentuk tubuh, warna sampai bentuk mulutnya. Ikan botia merajai pasar ekspor dunia khususnya negara-negara Eropa. Namun hal tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan ikan endemik ini. Saat ini, ikan botia yang diekspor masih mengandalkan tangkapan di alam. Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat merupakan yang pertama dan satu-satunya balai yang dapat memijahkan ikan hias botia secara buatan dengan bantuan injeksi hormon HCG (Human Chorionic Gonadothropin) dan LHRH-a berupa  ovaprim dan telah diproduksi secara massal. Pemijahan ikan botia dilakukan secara buatan dengan stimulasi hormon sebelum ikan distriping. Hal ini berfungsi untuk mengoptimalkan pemijahan mulai dari kualitas telur, sperma sampai perkembangan embrio sehingga meningkatkan produksi benih. Hasil yang didapat adalah rata-rata fekunditas di atas 5.000 telur, derajat pembuahan di atas 80%, derajat penetasan telur di atas 60% serta derajat kelulushidupan larva yang lebih dari 50% (Putra, et al. 2017).

PERAN IKAN BOTIA DI PERAIRAN
Di habitatnya, ikan botia merupakan ikan omnivora yang memakan cacing, krustasea dan material tanaman (Fishbase, 2007 dalam Permana et al. 2011), sedangkan di lingkungan budidaya, ikan ini menyukai pakan berupa udang-udang kecil, cacing rambut (Tubifex sp), dan cacing darah (Satyani et al., 2006 dalam Permana et al. 2011). Menurut Kamal (1992) dalam Permana et al. (2011), jenis makanan ikan botia terdiri dari krustasea, insekta, nematoda, moluska, alga dan material yang tidak teridentifikasi. Ikan botia aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal) sedangkan pada siang hari hanya bersembunyi saja. Dalam (Satyani dan Subarnia, 2008).

Ikan botia lebih bersifat karnivora. mereka juga akan makan materi vegetatif apabila tersedia, biasanya seperti tanaman air berdaun lembut. Makanan alami terdiri moluska air, serangga, cacing, dan invertebrata lainnya (Seriouslyfish, 2016).

PENULIS
Sulaiman Yusuf Rizal
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Permana. Asep, Ruby. Vidia. Kusumah dan Agus. Priyadi. 2011. Budidaya ikan hias botia (Chromobotia macracanthus Blekker) sebagai model konservasi ex-situ. Jurnal Prosiding Forum Seminar Nasional Pemacuan Sumberdaya Ikan III. 1-11.
Putra, H. F. E., S. S. P. Rahardjo., Dan A. Permana. 2017. Journal Of Aquaculture And Fish Health Vol 6 No.3 101  Diterima/Submitted:3 April 2017  Disetujui/Accepted:11 Juni 2017 Pemijahan Ikan Hias Botia (Chromobotia Macracanthus  Bleeker) Secara Buatan Dengan Injeksi Hormon Hcg (Human Chorionic Gonadothropin) Dan  Lhrh-A (Luteinizing Hormone Releasing Hormone Analog). Journal Of Aquaculture And Fish Health Vol 6 No.3 Hal 101-106
Satyani, D., Dan I. W. Subamia. 2008. Aspek Biologiikan Hias Botia (Chromobotia Macracanthus Bleeker) . Presiding Seminar Nasionallkan V  Hal 101-104
Seriouslyfish. 2016c. Clown Loach (Chromobotia macracanthus). (Online), (http://www. seriouslyfish.com/species/chromobotia-macracanthus/) diakses pada tanggal 2 Januari 2016 pukul 18.24 WIB.
Suseno, D., dan Siti Subandiah. 2000. Ciri Morfologis Jenis Ikan Macan Atau Botia Strain Batanghari, Musi, dan Kapuas. Jurnal Prosiding Seminar Nasional Keanekaragaman Hayati Ikan.

No comments:

Post a Comment