Friday, May 22, 2020

Ikan Jelawat; Klasifikasi, Morfologi, Habitat, Reproduksi Dll


Gambar Ikan Jelawat. (Sukmono dan Samsuddin. 2019)

Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevenIi) adalah salah satu jenis ikan air tawar lokal yang digemari oleh masyarakat seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, dan bahkan di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei (Puslitbang Perikanan, 1992). Ikan tersebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan menjadi target penangkapan yang potensial. Di Jambi selain sebagai ikan konsumsi benih ikan jelawat ditangkap sebagai komoditas ikan hias ekspor.

Menurut Hardjamulia et al (1991), ikan jelawat dikenal dengan beberapa nama daerah antaranya: Jelawat (Riau, Jambi, Sumatera Sealatan dan Lampung), Manjuhan (Kalimantan Tengah), Sultan (Malaysia) dan Plaba (Thailand). Ikan jelawat berukuran 10-12 cm disebut jelejer di Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung, sedangkan Kalimantan Barat khususnya ditemui jenis ikan mirip bentuknya seperti jelawat yang dikenal dengan sebutan jelawat batu yang berukuran lebih kecil dari ikan jelawat, maksimal 1 kg per ekor. Sunarnao (1989), mengatakan bahwa ikan jelawat tersebar di perairan-perairan sungai dan daerah genangan atau rawa di Kalimantan, Sumatera serta kawasan Asia Tenggara dan lainya seperti Malaysia, Thailand dan Kamboja.

KLASIFIKASI IKAN JELAWAT
Klasifikasi ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2004) adalah:
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Cyprinoidae
Famili : Cyprinidae
Sub family : Cyprinidae
Genus : Leptobarbus
Species : Leptobarbus hoeveni

MORFOLOGI IKAN JELAWAT


Gambar Morfologi Ikan Jelawat. (Santosa, 2019).

Ikan jelawat memiliki bentuk tubuh agak bulat dan memanjang yang menandakan bahwa ikan ini termasuk perenang cepat. Kepala bagian sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, pada sirip dada dan perut terdapat warna merah gurat sisi melengkung agak ke bawah, serta memiliki 2 pasang sungut (Saputra et al., 2016).Ikan jelawat memiliki sisik yang besar - besar, mempunyai bentuk badan yang memanjang.Mulut jelawat lebar dan di ujung moncong agak ke bawah, dan dapat dijulurkan ke depan seperti bibir ikan karper (Rimalia, 2014). Badan ikan jelawat berwarna coklat kehijauan dibagian punggungnya, dan putih keperakan dibagian perut, sedangkan sirip dan ekor berwarna merah. Dibandingkan ikan  karper lainnya,ikan jelawat inilebih menarik, karena bentuk tubuhnya. Pada saat benih, pada sisi badannya ada garis hitam yang memanjang dari kepala ke pangkal sirip ekor, tetapi pada saat dewasa, garis itu akan hilang (Farida et al, 2015). Dalam (Santosa, 2019).

Morfologi ikan jelawat menurut Departemen Kalautan dan Perikanan (2004), Bentuk tubuhnya yang agak bulat dan memanjang, mencerminkan bahwa ikan ini termasuk perenang cepat. Kepala sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, bagian punggung berwarna perak kehijauan dan bagian perut putih keperakan, pada sirip dada dan perut terdapat warna merah, gurat sisi melengkung agak kebawah dan berakhir pada bagian ekor bawah yang berwarna kemerah-merahan, mempunyai 2 pasang sungut. Posisi perut terhadap sirip pada abnormal dan sirip ekor bentuknya bercagak, gurat sisi berada di atas sirip dada memanjang mulai dari belakang overculum sampai pangkal sirip ekor (Hardjamulia et al, 1991)

Ikan jelawat memiliki bentuk tubuh seperti torpedo dan memanjang yang menandakan bahwa ikan ini termasuk perenang cepat. Kepala bagian sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, pada sirip dada dan perut terdapat warna merah gurat sisi melengkung agak ke bawah, serta memiliki 2 pasang sungut (Saputra et al., 2016). Ikan jelawat memiliki sisik yang besar-besar, mulutnya lebarnya terletak di ujung moncongnya agak ke bawah, dan dapat dijulurkan ke depan seperti bibir-bibir ikan karper (Rimalia, 2014). Badannya berwarna coklat kehijauann di bagian punggungnya, dan putih keperak-perakan dibagian perutnya, sedangkan sirip- siripnya dan ekornya berwarna merah. Dibandingkan ikan karper lainnya, ikan jelawat ini memang lebih menarik, karena bentuk tubuhnya. Pada saat benih, pada sisi badannya ada garis hitam yang memanjang dari kepala ke pangkal sirip ekor, tetapi pada saat dewasa, garis itu akan hilang (Farida et al, 2015). Dalam (Aziz, 2018).

HABITAT IKAN JELAWAT
Asyari dan Gaffar (1993) menyatakan bahwa ikan jelawat banyak di temui di sungai-sungai dan daerah genangan kawasan tengah hingga hilir, bahkan di bagian muara sungai, dan pada saat air menyusut benih ikan jelawat beruaya ke arah bagian hulu sungai. Habitat ikan jelawat adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan dibagian pinggirnya (Ondara & Sonarno, 1988). Untuk anakkannya banyak di temukan di daerah genangan dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Pada saat air menyusut, anak-anak ikan jelawat secara bergerombol beruaya ke arah bagian hulu dari sungai. Ikan jelawat dapat hidup pula pada pH 5-7, oksigen terlarut 5-7 ppm dan suhu 25-37◦C serta di perairan suhu perairan sedang (Harjamulia, 1992). Perairan tawar sebagai habitat ikan jelawat memerlukan kondisi fisika dan kimia air yang optimal. Ikan jelawat biasanya hidup di perairan yang bersuhu 25- 37◦ C, oksigen terlarut 4-9 mg/l (Pantulu, 1976) dan pH air 6,3 -7,5. Namum demikian, untuk hidup normal dan tumbuh baik, ikan ini memerlukan suhu 26- 28,5 ◦ C dan oksigen terlarut 5-7ppm, dan pH air 7,0- 7,5. (Dari berbagai sumber by: Triyanto).

Ikan jelawat merupakan salah satu ikan asli Indonesia yang terdapat di beberapa sungai di Kalimantan dan Sumatera. Permintaan pasar terhadap ikan ini cukup tinggi. Hasil tangkapan dari sungai-sungai di Kalimantan dan Sumatera telah dikirim ke Malaysia sebanyak 25 ton/bulan untuk kebutuhan pasar (Sunarno, 2001).

Ikan jelawat banyak ditemui di sungai dan daerah genangan kawasan tengah hingga hilir bahkan di bagian muara sungai. Habitat yang disukainya adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan dibagian pinggirnya. Anak jelawat banyak di jumpai di daerah genangan dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Disaat air menyusut, anakan dari ikan jelawat secara bergerombol beruaya ke arah bagian hulu sungai. Ikan jelawat dapat hidup pada pH 5-7, oksigen terlarut 5-7 ppm, dan suhu 25-37º C serta diperairan yang kurang subur hingga sedang (Departemen Pertanian, 1992).

Penyebaran ikan jelawat yang pesat akhir-akhir ini menyebabkan kualitasnya tidak terkontrol dan cenderung menurun. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan penurunan kualitas ikan ini antara lain rendahnya kualitas induk yang digunakan, terjadinya silang dalam, kesalahan dalam melakukan seleksi dan atau terbatasnya jumlah induk yang digunakan dalam kegiatan budidaya (Sucipto, 2005).

TINGKAH LAKU IKAN JELAWAT
Paling sering ditemukan bebas di aliran sungai-sungai dan dataran banjir musiman. Meskipun dilaporkan tidak bermigrasi,ikan ini berpartisipasi dalam migrasi trofik lokal ke dan dari hutan tergenang. Berenang secara bergerombol di Sungai Mekong terutama selama hulu (Januari-Februari) dan migrasi hilir (Juni-Juli) (Fishbase, 2016).

Jelawat tergolong ikan pemakan segalanya (omnivora). Makananya antara lain adalah umbi singkong, daun pepaya, ampas kelapa dan daging-daging ikan yang telah dicincang. Diperairan umum ikan jelawat mempunyai kebiasaan berenang melawan arus menuju ke hulu (Asmawi, 2007).

Secara alamiah ikan jelawat merupakan ikan herbivora yang rakus. Jelawat muda dan dewasa memakan biji-bijian, buah-buahan, singkong dan daunnya, bungkil kelapa dan tumbuhan air (Said,1999). Dari bentuk mulut diketahui bahwa ikan jelawat lebih menyukai makanan yang melayang, dan termasuk ikan yang memakan dengan cara menyambar, namun demikian ikan ini juga memakan yang berada di dasar perairan.

Menurut Djariyah (1995) pakan ikan adalah campuran dari berbagai bahan pangan (biasanya disebut bahan mentah), baik nabati maupun hewani yang di olah sedemikian rupa sehingga mudah di makan dan sekaligus merupakan sumber nutrisi ikan. Ikan jelawat yang di pelihara di kolam dapat memakan singkong, daun singkong, daun pepaya, ampas dan bungkil kelapa, cincangan daging ikan, ikan rucah, usus ayam dan pakan buatan berbentuk pelet (Sunarno dan Reksalegora 1982). Sunarno juga menyatakan bahwa ikan jelawat yang diberikan

pakan berbentuk pelet cenderung tumbuh lebih cepat dari pada yang di berikan pakan berbentuk gumpalan. Sachlan dan Wiraatmaja dalam Harjamulia (1992), menyebutkan di dalam usus ikan ditemukan biji-bijian, buah-buahan dan tumbuhan air. Sedangkan di dalam usus benih ikan jelawat ditemukan berbagai jenis plankton, algae dan larva serangga air. Dalam lingkungan pemeliharaan terkontrol, ikan jelawat juga menyantap makanan buatan berbentuk pellet bahkan mau makan singkong, daun singkong dan usus ayam (Suarno dan Reksalegora, 1982).

Sebagai ikan di sungai, ikan jelawat hanya terkenal mendiami perairan bebas Kalimantan dan Sumatra, sedangkan di pulau lain tidak ditemukan. Habitat ikan jelawat adalah bagian sungai yang banyak akar yang terbenam dalam air atau bagian-bagian lain yang dinaungi pohon besar, terutama pohon yang buahnya dapat dimakan bila jatuh ke air. Misalnya buah tengkawang, biji karet, atau bunga-bunga di permukaan air. Ikan jelawat tergolong ikan omnivora, pakannya antara lain daun singkong, daun pepaya, ampas kelapa, dan daging ikan yang telah dicincang (Rimalia, 2014). Dari bentuk tubuhnya yang memanjang seperti torpedo dapat diketahui mereka adalah perenang cepat. Ikan jelawat beruaya ke hulu pada setiap permulaan musim kemarau (Juni-Juli) jika permukaan air mulai turun. Ikan jelawat beruaya ke hilir pada setiap permulaan musim hujan (Desember-Januari) jika permukaan mulai naik. Hal ini dilakukan oleh ikan dewasa (Saputra et al., 2016). Ikan jelawat banyak ditemui di sungai-sungai dan daerah genangan kawasan tengah hingga hilir, bahkan di bagian muara sungai, dan pada saat air menyusut benih ikan jelawat beruaya ke arah bagian hulu sungai. Habitat ikan jelawat adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan dibagian sisinya (Farida et al, 2015). Dalam (Aziz, 2018).

REPRODUKSI IKAN JELAWAT
Ikan jelawat di alam melakukan pemijahan selama musim penghujan, yaitu pada saat permukaan air naik dan menggenangi dearah sekitarnya. Pada kondisi tersebut, induk jelawat secara bergerombol beruaya kea rah muara dari anak sungai, dan proses pemijahan terjadi pada muaranya. Waktu pemijahan terjadi pagi hari yang diiringi oleh rintik hujan. Ukuran induk yang memijah lebih dari 2,5 kg/ekor dengan nilai indeks gonad somatic ( perbandingan antara bobot gonad dan bobot tubuh ikan) lebih dari 14,4 cm dan diameter telur 1,55 mm ( Tan, 1980;AARD,1987 dalam Puslitbang ).

Menurut Prasetyo (1993) bahwa ikan biasanya memijah pada musim penghujan dan secara umum hanya berlangsung selama 6 bulan dalam satu tahun dengan kisaran waktu yaitu bulan oktober-april. Sebelum musim pemijahan tiba, induk yang sudah matang gonad akan mencari tempat yang cocok untuk melakukan pemijahan. Daerah yang disukai adalah daerah hulu sungai yang biasanya pada musim kemarau kering, pada musim penghujan tergenang. Daerah seperti ini memberikan rangsangan dalam pemijahan.

Aspek reproduksi diketahui memiliki peranan yang sangat besar terhadap peningkatan populasi ikan. beberapa aspek reproduksi yaitu nisbah kelamin, faktor kondisi, tingkat kematangan gonad, fekunditas, lama pemijahan, frekuensi pemijahan, dan ukuran ikan pertama kali matang goand. Pemahaman tentang perilaku reproduksi tidak hanya penting untuk menjelaskan biologi ikan tetapi dapat membantu dalam pengelolaan dan pelestarian spesies ikan (Jan et al., 2014). Ikan jelawat di alam akan memijah pada musim penghujan yaitu dengan beruaya dari hulu menuju hilir sungai yaitu pada saat permukaan air naik dan menggenangi dearah sekitarnya. Pada kondisi tersebut, induk jelawat secara bergerombol beruaya ke arah muara dari anak sungai, dan proses pemijahan terjadi pada muaranya. Waktu pemijahan terjadi pagi hari yang diiringi oleh rintik hujan. Informasi mengenai reproduksi ikan jelawat matang gonad berukuran bobot tubuhnya antara 1,4 – 2,9 kg untuk ikan betina, dan 1 – 2,6 kg untuk ikan jantan, dengan fekunditas rata-ratanya adalah sebanyak 140.438 butir. Sedangkan pada perairan alami bobot ikan jelawat yang memijah di perairan Muara Tebo, Jambi berkisar antara 3,7 – 5 kg, dengan ukuran panjang 46 – 58 cm (Saputra et al., 2016). Menurut Yanto (2009), fisiologi reproduksi ikan dikendalikan oleh tiga komponen utama, yaitu hipotalamus, hipofisa dan gonad. Komponen tersebut bekerjasama dalam proses perkembangan dan pematangan gonad serta pemijahan. Proses pemijahan sangat dipengaruhi oleh kesesuaian hormonal tubuh dan rangsangan dari lingkungan, seperti cahaya, suhu, dan fotoperiodisitas. Pada budidaya ikan jelawat dilakukan pemijahan buatan dengan cara menyuntikkan hormon untuk mempercepat perkembangan dan pematangan gonad serta proses ovulasi. Hal tersebut dilakukan karena ikan jelawat termasuk kedalam spesies ikan yang mengalami kesulitan untuk berkembang biak dengan sempurna pada lingkungan alami (Farida et al, 2015). Ciri-ciri fisik induk ikan jelawat yang matang gonad dan siap pijah yaitu untuk betina perut membesar ke arah lubang genital, dibagian samping perut (saluran telur) terasa menonjol apabila diraba dari luar, apabila ditekan terasa lunak, lubang genital berwarna kemerahan, sisik dibagian perut lebih renggang. Sedangkan untuk jantan bila diurut bagian perut ke arah belakang akan mengeluarkan cairan sperma, sirip dada dan penutup insang terasa lebih kasar, bagian perut berwarna kemerahan (Rimalia, 2014). Dalam (Aziz, 2018).

Sebuah spesies pelagis terutama yang mendiami sungai dan sungai yang lebih besar. Selama musim hujan diketahui bermigrasi ke dataran banjir yang tergenang sementara dan hutan, di mana pemijahan berlangsung (Seriouslyfish, 2016). Perkembangbiakan ikan jelawat diasumsikan sama seperti perkembangbiakan ikan lain dalam keluarga Cyprinidae lainnya (Fishbase, 2016).

MANFAAT IKAN JELAWAT
Potensi sumber daya perikanan Indonesia sangat menjanjikan, terutama terutama ikan air tawar yang saat inibanyak menghasilkan devisa. Kalimantan Barat khususnya, memiliki perairan tawar yang terdiri dari : rawa, lahan gambut, danau, anak sungai serta sungai besar seperti sungai kapuas yang cukup pontesial untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya khususnya perikanan budidaya air tawar. Salah satu komoditas ikan air tawar yang memiliki prospek untuk dikembangkan adalah ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni). (Ditjen Perikanan Budidaya, 2009), menyebutkan bahwa ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni) adalah ikan asli Indonesia terdapat dibeberapa sungai di Sumatra dan Kalimantan. Ikan jelawat merupakan jenis ikan yang sangat digemari masyarakat Indonesia bahkan beberapa negara tetangga. Adapun untuk jenis ikan ini memiliki harga pasar Rp. 30.000 - Rp. 45.000/kg, bahkan untuk ikan jelawat dengan kualitas paling baik harga berkisar antara Rp. 50.000 – Rp. 80.000/kg, hal ini berdasarkan laporan statistic perikanan budidaya . Ikan jelawat termasuk komoditas ekspor potensial dan mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan budidayanya dimasa yang akan datang.

ikan jelawat sudah banyak diberkembang dan dibudidayakan di Kalimantan Barat terutama di perairan umum, Penyediaan benih yang selama ini menjadi masalah dalam budidaya sudah dapat diatasi dengan keberhasilan teknologi pemijahan buatan dengan metode kawin suntik (induce breeding). Melalui rangsangan hormon, ikan jelawat telah berhasil di kembangkan dengan produksi benih sekitar 15.000 ekor/satu pasang induk dengan bobot 3 kg (Ondara dan Sunarno, 2001.)

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha budidaya ikan jelawat secara berkelanjutan adalah ketersediaan benih yang tepat, jumlah, waktu dan bermutu. Dengan kata lain dalam budidaya ikan tersebut, jaminan penyediaan benih ikan baik itu kualitas, kuantitas dan kontinyu tetap terjaga. Oleh karena itu teknologi pembenihan ikan jelawat perlu dikembangkan dan dipubikasikan kepada masyarakat luas .

PERAN IKAN JELAWAT DI PERAIRAN
Di Perairan Secara umum ikan jelawat bersifat omnivora atau pemakan segala, cenderung herbivora, Sachlan dan Hardjamulia (1992) menyebutkan, di dalam usus ditemukan biji-bijian, buah-buahan dan tumbuhan air. Di dalam usus benih jelawat ditemukan berbagai jenis plankton, alga dan larva serangga air. Ikan jelawat yang berukuran besar bersifat omnivora yang cenderung herbivora (Sunarno 1991). Ikan jelawat yang di pelihara dalam kolam dapat memakan singkong, daun singkong, daun pepaya, ampas dan bungkil kelapa, cincangan daging ikan, ikan rucah, usus ayam dan pakan buatan berbentuk pelet. Berdasarkan bentuk mulutnya, ikan jelawat lebih menyukai makanan yang melayang dengan cara menyambar makanan, tetapi ikan jelawat dapat memakan makanan yang berada di dasar perairan. Hasil penelitian Sunarno (1991) menyatakan bahwa ikan jelawat yang diberi pakan berbentuk pelet cenderung tumbuh lebih cepat dari pada yang diberi pakan berbentuk gumpalan. Ikan jelawat yang berukuran 12-15 cm dapat mencapai berat 0,6-0,9 kg/ekor selama delapan bulan, lama pemeliharaan ikan konsumsi 4-6 bulan dengan ukuran benih  pada saat penebaran antara 12-15 cm. Sedangkan lama pemeliharaan untuk mencapai induk ± 12 bulan (Sunarno 1991). Dalam (Santosa, 2019).

CIRI-CIRI IKAN JELAWAT
Ikan jelawat mempunyai sisik yang besar- besar ini mempunyai bentuk badan yang memanjang indah seperti torpedo dan berenang sangat cepat. Reaksinya terhadap sesuatu rangsangan dari luar cekatan. Mulutnya lebarnya terletak di ujung moncongnya agak ke bawah, dan dapat dijulurkan ke depan seperti bibir- bibir ikan karper. Ikan jelawat mempunyai empat kumis. Dalam (Nasir, 2014).

Menurut Asmawi (2007), Ikan jelawat tergolong ikan pemakan segalanya (omnivore). Badannya berwarna coklat kehitam - hitaman di bagian punggungnya, dan putih keperak - perakan di bagian perutnya, sedangkan sirip- siripnya dan ekornya berwarna merah.Dibandingkan ikan karper, Ikan Jelawat ini memang lebih menarik, karena bentuk tubuhnya yang gagah indah, dan warnanya yang berseri-seri.Di waktu muda, pada sisi badannya ada garis hitam yang memanjang dari kepala ke pangkal sirip ekor, tetapi kalau sudah tua, garis itu hilang. Dalam (Nasir, 2014).

FISIOLOGI IKAN JELAWAT
Menurut Yanto (2009), fisiologi reproduksi ikan dikendalikan oleh tiga komponen utama, yaitu hipotalamus, hipofisa dan gonad. Komponen tersebut bekerjasama dalam proses perkembangan dan pematangan gonad serta pemijahan. Proses pemijahan sangat dipengaruhi oleh kesesuaian hormonal tubuh dan rangsangan dari lingkungan, seperti cahaya, suhu, dan fotoperiodisitas. Pada budidaya ikan jelawat dilakukan pemijahan buatan dengan cara menyuntikkan hormon untuk mempercepat perkembangan dan pematangan gonad serta proses ovulasi. Hal tersebut dilakukan karena ikan jelawat termasuk kedalam spesies ikan yang mengalami kesulitan untuk berkembang biak dengan sempurna pada lingkungan alami (Farida et al, 2015). Dalam (Aziz, 2018).

PENULIS
Sulaiman Yusuf Rizal
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, S. 2007. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. Jakarta: Gramedia. 1-78.
Aziz, M. I. A. 2018. Performa Reproduksi Dan Pemijahan Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoevenii) Yang Disuntik Hormon Hcg. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bandar Lampung. 45 Halaman
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus houveni). Direktorat Jendral Perikanan Budidaya. Direktorat Pembenihan.
Departemen Pertanian. 1992. Teknologi Pembenihan Ikan Jelawat (Leptobarbus hoeveni) Secara Terkontrol. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 1-11.
Fishbase. 2016. Hoven's carp (Leptobarbus hoevenii). (Online), (http://www. fishbase.se/ summary/4797) diakses pada tanggal 2 Januari 2016 pukul 09.47 WIB.
Nasir, M. 2014. Keanekaragaman Jenis Ikan Air Tawar Di Krueng Tujoh Kecamatan Meureubo Aceh Barat. SKRIPSI. Program Studi Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar Meulaboh. 39 Halaman
Santosa, A. 2019. Pertumbuhan Ikan Jelawat (Leptobarbus Hoevenii (Bleeker, 1851) Pada Jenis Kolam Berbeda Skripsi Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. 32 Halaman
Seriouslyfish. 2016b. Mad Barb (Leptobarbus houvenii). (Online), (http://www. seriouslyfish.com/species/leptobarbus-hoevenii/) diakses pada tanggal 2 Januari 2016 pukul 09.43 WIB.
Sukmono, T., Dan A. Samsuddin. 2019. Restocking Ikan Jelawat Di Danau Teluk Kenali, Kota Jambi.Warta Iktiologi Vol 3(2) November 2019: 9-12
Sunarno, M.T.D. 2001. Strategi pemeliharaan ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni) dalam keramba mini di danau teluk Jambi. Jurnal Warta Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (3). 2-9.

No comments:

Post a Comment