Monday, May 18, 2020

Ikan Uceng (Nemacheilus Fasciatus); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Uceng (Nemacheilus fasciatus) merupakan komoditas ikan air tawar dengan habitat asli di perairan sungai. Penyebaran ikan uceng meliputi wilayah Asia, khususnya Indonesia di Sumatera, Jawa (Fishbase, 2017), dan Kalimantan (Kottelat et al., 1993). Ikan uceng biasanya dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi oleh masyarakat di Kabupaten Temanggung sebagai sumber protein hewani. Ikan uceng termasuk dalam ordo cypriniformes yang memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh, seperti omega-3 (EPA dan DHA) dan omega-6 yang bermanfaat bagi tubuh manusia untuk mencerdaskan otak, serta membantu masa pertumbuhan (Sitanggang, 2014). Dalam Ath-Thar, et al. (2018).

KLASIFIKASI IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Menurut Fishbase 2004 dalam Wibisono 2014, dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan Uceng adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Osteichtyes
Order : Cypriniformes
Family : Ballitoridae
Subfamily : Nemachellinae
Genus : Nemachellus
Spesies : Nemachellus Fasciatus Valenciennes

MORFOLOGI IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Ikan dari genus Nemachellus ditandai dengan sirip punggung yang agak  pendek (7 atau 8 cabang), garis longitudinal, membentuk sebuah band diseluruh tubuh    ke arah sirip ekor, bola mata berwarna hitam besar. Lubang hidung dekat satu sama lain tubular tapi tidak diperpanjang sebagai sungut. Mulut setengah lingkaran, bibir agak berdaging, sangat berkerut, bibir atas dengan sepasang barbel (Kottelat et al.,1993 dalam Wibisono, 2014). Pada Uceng jantan bentuk tubuhnya lebih langsing dengan pewarnaan tubuh yang lebih cerah daripada betina. Ekor jantan biasanya berwarna merah sedangkan hal yang sama tidak ditemukan pada Uceng betina (Wibisono, 2014).

HABITAT IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Ikan Nemachellus sp. ini sangat susah ditangkap karena hidupnya banyak ditemukan di habitat bebatuan hingga perairan berkerikil dan ukuran tubuh yang kecil (Risyanto et al., 2010 dalam Wibisono,2014). Nemachellus sp. dengan badan memanjang ditemukan pada perairan dengan kandungan oksigen terlarut tinggi, hidup di tepi sungai pada bagian dangkal dan dasar dasar sungai batu, kerikil serta pasir. Spesies ini mampu berenang melawan arus (Brown, 1975; Kottelat et al., 1993 dalam Wibisono,2014). Menurut Mark (2006) dalam Wibisono (2014), spesies ini terbiasa di alam Liar. Bila ingin memelihara ikan ini dalam sebuah akuarium, maka akuarium harus Memiliki tingkat aliran air yang baik dan sirkulasi oksigen yang baik pula untuk mensimulasikan sungai di pegunungan yang cukup mengalir. Substrat harus terdiri dari pasir air yang halus atau kerikil yang halus akan membantu untuk melindungi daerah barbel sensorik yang sensitif. Sisa tangki harus dilengkapi dengan kerikil/ cobbles bulat dan tumpukan batu serta bogwood untuk membuat tempat persembunyian.

TINGKAH LAKU IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Tingkah laku ikan adalah adaptasi tubuh ikan terhadap pengaruh lingkungan internal dan eksternal. Yang termasuk lingkungan eksternal adalah oksigen, cahaya, salinitas, dan factor lingkungan lainnya. Yang termasuk lingkungan internal adalah kematangan gonad, pertumbuhan (WIbisono,2014). Menurut Perkasa (2013) dalam dalam Wibisono(2014), pada jam 3 sore biasanya ikan Uceng mulai keluar dari persembunyiannya menuju perairan dangkal (kurang lebih kedalaman 20-40 cm untuk mencari makan). Hal tersebut berlangsung sampai dengan jam 10 malam, dan Uceng akan menghilang kembali ke persembunyiannya dan akan keluar ke kedangkalan lagi antara jam 4 dini hari sampai dengan jam 6 pagi. Setelah jam itupun ikan Uceng akan kembali ke persembunyiannya, yang tepatnya pada kedalaman berapa centi meter, namun sangat susah ditemukan. Alasan utama kenapa spesies ikan tertentu berkumpul ditempat tertentu :
a. Ikan memilih kehidupan lingkungan yang sesuai untuk spesiesnya.
b. Mereka memburu sumber makanan yang berlimpah.
c. Mereka mencari tempat yang sesuai untuk memijah dan berkembang biak.

REPRODUKSI IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Reproduksi merupakan salah satu mata rantai dalam siklus kehidupan yang saling berhubungan dengan mata rantai lainnya yang akan menjamin kelangsungan hidup spesies. Siklus reproduksi pada ikan tetap berlangsung selama fungsi reproduksi masih normal. Reproduksi ikan erat kaitannya dengan perkembangan gonad. Pertambahan berat gonad akan diikuti oleh pertambahan berat ikan serta bertambahnya diameter telur dan perkembangan tingkat kematangan gonad(Wibisono, 2014). Menurut Tjahjo et al.,(2000) dalam Wibisono (2014), ikan Uceng (2,12-5,55g) mempunyai felkunditas total berkisar 2.257-13.760 butir telur. Pola sebaran diameter telur menunjukkan bahwa pemijahan terjadi sekali dalam satu tahun (musim) dengan lama waktu pemijahan relatif panjang.

CIRI-CIRI IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Bentuk mulut setengah lingkaran, bibir agak berdaging, sangat berkerut, serta memiliki sepasang barbel pada bibir atas, pada jantan ekor berwarna merah sedangkan pada betina tidak ditemukan(Kottelat et al., 1993 dalam Wibisono, 2014).

PERAN IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS) DI PERAIRAN
Menurut Fishbase (2013), ikan Uceng adalah jenis ikan herbivora yaitu pemakan organisme bentik seperti plankton dan detritus. Sehingga dalam hal ini Uceng berperan sebagai predator bagi plankton dan tumbuhan air pada umumnya.

FISIOLOGI IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)

a. Sistem Ekskresi
Ikan mempunyai alat ekskresi berupa sepasang ginjal berwarna kemerahan. Ginjal dengan saluran urine yang muaranya menyatu dengan muara kelamin dinamakan muara saluran urogenitalis (terdapat dibelakang anus). Alat ekskresi ikan terdiri dari: 1) Insang yang mengeluarkan CO2 dan H2O; 2) Kulit (kelenjar kulitnya) mengeluarkan lendir sehingga tubuhnya licin untuk memudahkan gerak di dalam air; 3) Sepasang injal (sebagian besar ikan) untuk mengeluarkan urine.

Ikan air tawar cenderung menyerap air dari lingkungannya dengan cara osmosis. Insang ikan air tawar secara aktif memasukkan garam dari lingkungan ke dalam tubuh. Ginjal akan memompa keluar kelebihan air sebagai air seni. Ginjal mempunyai glomerulli dalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar an sekaligus memompa air seni sebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan malpighi memasuki tubuli ginjal, glukosa akan diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam-garam diserap kembali pada tubuli distal. Dinding tubuli ginjal bersifat impermeable (kedap air, tidak dapat tembus) terhadap air. Urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang tinggi(Fujaya,2004).

b. Sistem Pencernaan
Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melalui cara fisik dan kimia sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah. Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris). Di dalam rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakkan serta banyak menghasilkan lendir tetapi tidak menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut, makanan masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar insang. Dari esophagus masuk ke lambung, pylorus, usus, rectum dan terakhir adalah anus. Kelenjar pencernaan terdiri dari hati dan pankreas yang berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran makanan(Raharjo dkk, 2011).

REPRODUKSI IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Ikan merupakan kelompok hewan ovipar, ikan betina dan ikan jantan tidak memiliki alat kelamin luar. Ikan betina tidak mengeluarkan telur yang bercangkang tetapi mengeluarkan ovum yang tidak akan berkembang lebih lanjut apabila tidak dibuahi oleh sperma. Ovum tersebut dikeluarkan dari ovarium melalui oviduk dan dikeluarkan melalui kloaka. Saat akan bertelur, ikan betina mencari tempat yang rimbun oleh tumbuhan air atau diantara bebatuan di dalam air. Bersamaan dengan itu, ikan jantan juga mengeluarkan sperma dari testis yang disalurkan melalui saluran urogenital (saluran kemih sekaligus saluran sperma) dan keluar melalui kloaka sehingga terjadi fertilisasi di dalam air (fertilisasi eksternal). Peristiwa ini terus berlangsung sampai ratusan ovum yang dibuahi melekat pada tumbuhan air atau pada celah-celah batu.

MANFAAT IKAN UCENG (NEMACHEILUS FASCIATUS)
Saat ini populasi ikan uceng di alam semakin menurun (Subagja et al., 2016) karena penangkapan ikan secara berlebihan. Umumnya masyarakat mendapatkan ikan uceng dengan penangkapan menggunakan jaring, pancing, bahkan dengan setrum. Pengembangan budidaya ikan uceng melalui tahapan domestikasi perlu dilakukan untuk mengurangi kegiatan penangkapan ikan uceng di alam dan melakukan program pemuliaannya. Domestikasi merupakan proses penjinakan suatu organisme yang berasal dari alam (wild type) untuk dipelihara dan dibudidayakan dalam wadah terkontrol (Lorenzen et al., 2012). Proses domestikasi bertujuan untuk mengadaptasikan organisme liar dalam kondisi budidaya sehingga berlangsung seleksi performa terbaik secara alamiah yaitu individu yang dapat merespons kondisi lingkungan budidaya dapat bertahan hidup, menerima pakan buatan, serta dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik (Ath-Thar, et al. 2018).

PENULIS
Sofi Ayu Andini
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Ath-Thar, M. H., A. Ambarwati., D.T.Soelistyowati., Dan A. H. Kristanto. 2018. Keragaan Genotipe Dan Fenotipe Ikan Uceng Nemacheilus Fasciatus (Valenciennes, 1846) Asal Bogor, Temanggung, Dan Blitar. Jurnal Riset Akuakultur, 13 (1), 2018, 1-10
https://pokmaswasfajarbengawan.blogspot.com/2017/08/mengenal-ikan-uceng-nemachilus-fasciatus.html
Fujaya,Y.2004.Fisiologi Ikan. Rineka Cipta:Jakarta.
Raharjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Depatemen Biologi Perairan, Fakultas Perikanan,IPB
Raharjo, M.F.,dkk.2011.Ikhtiologi.Lubuk Agung:Bandung.
Wibisono, S.A. 2014. “Studi Tentang Bio-Ekologi Ikan Uceng (Nemachellus sp.) di Desa Babatan Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar”. Skripsi. Malang : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya.

No comments:

Post a Comment