Wednesday, April 8, 2020

Pupuk Organik Kompos (Limnologi Atau Limnology)




BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Saat ini di Indonesia sektor perikanan sangat berkembang. Permintaan dari para konsumen sangatlah tinggi yang mengharuskan pembudidaya terus berinovasi untuk menghasilkan produk yang unggul. Diperlukan peningkatan intensifikasi usaha budidaya yang didukung oleh adanya ketersediaan benih yang memadai. Intensifikasi budidaya dicirikan dengan peningkatan kepadatan ikan dan pakan tambahan. Pada lingkungan yang baik dan pakan yang mencukupi, peningkatan kepadatan akan disertai oleh peningkatan hasil. Selain itu untuk mendapatkan produk yang unggul, para pembudidaya tidak mungkin menggunakan pakan buatan saja. Karena apabila dalam suatu kolam terdapat sisa – sisa pakan buatan tersebut dapat meningkatkan kadar ammonia dan ikan akan mati serta pembudidaya rugi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pembudidaya dapat mengganti kebiasaan menggunakan pupuk anorganik menjadi pupuk organic yaitu pupuk kompos. Kompos dapat memberikan keuntungan yakni menumbuhkan plankton sebagai pakan alami yang dapat memenuhi kebutuhan pakan ikan dan keberadaan planton dapat meningkatkan kadar oksigen dalam perairan.

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian kompos organik?
Apa pengaruh kompos organik untuk budidaya ikan?

MANFAAT
Untuk mengetahui apa itu kompos organic
Untuk mengetahui pengaruh kompos organic dalam budidaya ikan

MANFAAT
Manfaat dari makalah pengaruh kompos organik terhadap budidaya ikan yaitu untuk mengetahui dan memberikan informasi kepada masyarakat dan lembaga terkait mengenai manfaat kompos untuk kolam budidaya yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pupuk organik atau disebut pula kompos adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik seperti daun-daun, batang ranting yang melapuk atau kotoran ternak. Kompos merupakan semua bahan oganik yang telah mengalami degradasi/penguraian/pengomposan sehingga berubah bentuk dan sudah tidak dikenali bentuk aslinya, berwarna kehitam-hitaman dan tidak berbau. Kompos mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap, tetapi dalam jumlah sedikit. Selain harga kompos yang relatif murah, kompos berguna untuk memperbaiki struktur (menggemburkan) tanah dan meningkatkan bahan organik (Indriani, 2007).

Kompos disebut juga sebagai bahan organik matang yang telah mengalami proses perombakan oleh bakteri dan mikroorganisme sehungga mengandung humus. Kompos dapat digunakan untuk menaikan pH air (Prasetyiono, 2013). Air dengan pH yang rendah dapat dinaikkan dikarenakan banyaknya kandungan gugus fungsi negatif yang terdapat pada kompos sehingga ion H+ sebagai penyebab keasaman dapat diikat oleh kompos. Kompos dapat dipertimbangkan karena efektifitas yang cukup tinggi, murah biaya, ketersediaan bahan yang berlimpah, kemudahan teknologi dan penerapan, serta tidak membahayakan organisme budidaya. Selain digunakan untuk menaikan kadar pH air, kompos juga bermanfaat untuk meminimalisasi kandungan logam berat pada air sebagai media budidaya (Prasetyiono, 2015).

BAB III
PEMBAHASAN

Kompos merupakan pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan makhluk hidup (tanaman maupun hewan). Pengelompokan jenis-jenis pupuk kompos bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, dilihat dari proses pembuatannya, yaitu ada kompos aerob dan anaerob. Kedua, dilihat dari dekomposernya, ada kompos yang menggunakan mikroorganisme ada juga yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Ketiga, dilihat dari bentuknya ada yang berbentuk padat dan ada juga yang cair.

Perlakuan kompos terhadap media air pada kolam budidaya menyebabkan perubahan kualitas air. Perubahan kualitas air setelah perlakuan kompos menunjukkan hasil yang lebih baik terutama terhadap nilai pH air dan DO. pH awal saat sebelum dikomposkan sangat rendah (asam). Setelah diberikan perlakuan kompos pH menjadi meningkat. Bahkan terjadi kecenderungan dengan semakin banyaknya dosis kompos, pH air semakin meningkat. Nilai DO dapat meningkat setelah diberikan perlakuan kompos karena pada saat perlakuan diberikan aerasi secara maksimal. Aerasi inilah yang memberikan pasokan oksigen di dalam air.

Ikan yang dipelihara dengan menggunakan media air hasil perlakuan kompos menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb yang intrusi kedalam tubuh ikan nilainya masih berada dibawah ambang batas SNI (Standard Nasional Indonesia). Berdasarkan SNI 7387:2009, batas maksimum kandungan Pb pada ikan adalah 0,4 mg/Kg. Air yang tercemar logam berat pada konsentrasi tertentu (lethal concentration) tidak dapat digunakan untuk kegiatan budidaya ikan. Pada konsentrasi yang masih dapat ditoleransi oleh ikan, air yang mengandung logam berat memiliki potensi berbahaya, karena logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh ikan sehingga berbahaya jika dikonsumsi manusia. Pada air yang memiliki kandungan pH yang sangat rendah (dibawah 5), air tidak dapat digunakan untuk proses budidaya karena ikan akan terhambat pertumbuhannya dan mengalami kematian (Lekang, 2007 dalam Prasetiyono, 2015). Penggunaan kompos untuk meminimalisasi logam berat dan menaikkan pH dalam kegiatan akuakultur memiliki banyak keunggulan. Semua tumbuhan dan bahan organik pada dasarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan kompos. Namun yang harus dijadikan pertimbangan utama dalam memanfaatkan tumbuhan tersebut adalah ketersediaan dan keberlimpahan bahan serta tidak adanya kompetisi penggunaan bahan baku tersebut untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

Kompos dapat digunakan untuk meminimalisasai logam berat timbal (Pb) dikarenakan memiliki kandungan humus yang mampu mengadsorpsi dan mengikat logam berat dengan cara pertukaran kation, pembentukan ikatan elektrostatik, pembentukan ikatan kompleks dan chelate (Kocasoy dan Guvener, 2009 dalam Prasetiyono, 2015). Kandungan humus terdiri  atas substansi non humus dan substansi humus. Substansi humus memiliki karakteristik penting yaitu mampu membentuk kompleks yang larut dan tidak larut dengan ion logam. Selain itu, substansi humus juga mempunyai kontribusi dalam pertukaran anion dan kation, kompleks atau chelate dan berperan sebagai pH buffer. Oleh karena itu, pada proses adsorpsi logam berat dengan bahan kompos, substansi humus paling berperan pada proses adsorpsinya.

Kompos juga dapat digunakan untuk menumbuhkan pakan alami pada kolam budidaya. Pakan alami merupakan pakan terbaik bagi pertumbuhan ikan, baik itu bagi larva ikan maupun ikan dewasa. Pakan alami pada dasarnya sudah terdapat dalam air kolam. Namun agar jumlahnya melimpah perlu dilakukan pemupukan kolam. Pakan alami harus juga sesuai dengan bukaan mulut ikan terutama pada stadium larva, mudah dicerna dan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi untuk mendukung pertumbuhan ikan. Pakan alami dalam kolam budidaya berupa plankton. Menurut Zamroni et al. (2011), plankton merupakan salah satu komponen terpenting dalam suatu komunitas perairan. Peranan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton sangat penting dalam usaha budidaya karena sebagai sumber makanan bagi organisme yang dibudidayakan. Menurut Lubzens et al. (1984) dalam Zamroni et al. (2011) zooplankton merupakan pakan alami utama dalam pemeliharaan larva ikan. Oleh karena itu, ketersediaan plankton merupakan salah satu faktor pembatas dalam usaha budidaya.

Pemupukan kolam dengan menggunakan pupuk organik, dosis yang digunakan adalah 200-500 gram pupuk per meter persegi luas kolam. Pemupukan kolam biasanya dilakukan pada saat persiapan kolam. Setelah kolam dikeringkan, pematang dan caren kolam diperbaiki. Tanah dasar kolam di cangkul dan dibiarkan kering 2-3 hari. Pupuk organik lalu ditebarkan secara merata dan kolam digenangi air 30-40 c. Kolam di biarkan 5-7 hari agar pakan alami tumbuh. Sebelum ikan dimasukkan, air kolam ditambah sampai kedalaman yang di inginkan. Untuk pemupukan pada kolam yang sedang dipergunakan, pemupukan sebaiknya menggunakan pupuk organik. Pupuk organik tersebut tidak langsung disebarkan ke dalam kolam karena di khawatirkan akan menurunkan kualitas air kolam. Pemupukan kolam dilakukan dengan cara memasukkan pupuk organik ke dalam karung, lalu karung tersebut dimasukkan ke dalam kolam. Pakan alami biasanya tumbuh melimpah setelah 5-7 hari.

Teknik budidaya untuk memacu pertumbuhan dan mempersingkat masa panen sebenarnya cukup sederhana, hal yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya pemakaian bahan kimia dan pupuk anorganik. Pengolahan Lahan Pengolahan lahan diawali dengan pengeringan lahan tambak secukupnya (sampai tanah merekah) lalu dilakukan pembajakan/pembalikan tanah, kemudian tebar pupuk organik (kompos/bokashi) disebar secara merata di lahan tambak (takaran pupuk organik yaitu ± 3 – 5 ton per hektar) disesuaikan dengan kondisi kesuburan lahan tambak, setelah itu dilakukan penebaran kapur pertanian/dolomit (takaran dolomit antara 500-1000 kg/hektar) disebar merata. Pemupukan lanjutan yaitu dengan menyiapkan kantong (sak) yang telah diisi dengan pupuk organik / fine kompos lalu tempatkan di sekeliling petakan tambak (ditanam separo dalam tanah) kemudian ditusuk (diberi lubang), hal ini dimaksudkan agar proses penguraian pupuk dalam air dapat berlangsung secara terus menerus(kontinyu) sehingga lebih efektif dan efisien
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Kompos disebut juga sebagai bahan organik matang yang telah mengalami proses perombakan oleh bakteri dan mikroorganisme sehingga mengandung humus.

Kompos selain mampu meminimalisasi logam Pb pada media budidaya ikan, juga mampu meningkatkan nilai pH air sehingga tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan harian ikan menjadi tinggi.

Media budidaya yang dihasilkan dari proses perlakuan kompos memang mempengaruhi kehidupan ikan, mulai dari kualitas air yang semakin meningkat karena kompos dapat menjadi pH buffer. Selain itu kebutuhan akan pakan alami berupa plankton juga terpenuhi karena kompos membantu menumbuhkan pakan alami tersebut

Dosis kompos yang baik untuk kolam budidaya 200-500 gram per meter persegi luas kolam dan biasanya pemupukan dilakukan pada awal persiapan kolam agar pakan alami tumbuh terlebih dahulu.

SARAN
Sebaiknya kompos organic selalu digunakan pada proses budidaya ikan karena kompos organic sangat bermanfaat dan hampir tidak memiliki efek samping seperti pupuk dari bahan kimia. Selain itu pupuk kompos harganya terjangkau, bahkan dapat dibuat sendiri. Kompos sebagai bahan alami dapat menumbuhkan banyak plankton yang nantinya sebagai pakan alami pada ikan.

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Indriani, Y. H. 2007. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta: Penebar Swadaya. 62 Hlm.
Prasetiyono, Eva. 2015. Kemampuan Kompos Dalam Menurunkan Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Media Budidaya Ikan. Jurnal Akuatika. 6(1): 21-29
Prasetyiono, Eva. 2013. Studi Perbandingan Kompos Dari Daun Tumbuhan Dengan C/N Rasio Berbeda Terhadap Adsorpsi Logam Berat Timah Hitam (Pb) Pada Media Budidaya Ikan. Akuatik. 7(2): 6-12.
Romadon, Ahmad Dan E. Subekti. 2011. Teknik Budidaya Ikan Bandeng  Di Kabupaten Demak. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian. 7(2): 19-24.
Zamroni, M., Chumaidi Dan L. A. Wahyuningtyas. 2011. Pengaruh Dosis Pemupukan Dengan Menggunakan Kotoran Ayam Terhadap Kelimpahan Dan Keanekaragaman Plankton Pada Kolam Tanah. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. 845-852.

No comments:

Post a Comment