Tuesday, April 7, 2020

Peranan Rumput Laut Eucheuma Cottonii (Limnologi Atau Limnology)


Eucheuma Cottonii/sargassum-harga Terbaik,2019 Ms: Liburan ...

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pada umumnya budidaya ikan di suatu kolam dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya factor kimia, factor fisika, dan factor biologi. Dalam makalah ini akan dijelaskan salah satu factor yaitu factor biologi yang mana akan membahas tentang pengaruh rumput laut Eucheuma cottonii dalam budidaya ikan. Eucheuma cottonii bias mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ikan yang dibudidayakan.

TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
Menginformasikan bahwa Eucheuma cottonii memiliki pengaruh bagi budidaya ikan.
Agar pembaca tahu mengapa Eucheuma cottonii bisa mempengaruhi budidaya ikan.

Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah:
Memberikan informasi bahwa Eucheuma cottonii memiliki pengaruh bagi budidaya ikan.
Memberitahu mengapa Eucheuma cottonii bisa mempengaruhi budidaya ikan.

BAB II
PEMBAHASAN

RUMPUT LAUT
Rumput laut adalah salah satu bagian dari kingdom Protista, yang mana rumput laut termasuk dalam algae yang memiliki zat warna hijau atau klorofil. Rumput laut merupakan bagian terbesar dari tumbuhan laut. Rumput laut dalam bahasa ilmiah dikenal dengan istilah alga. Berdasarkan pigmen yang dikandungnya rumput laut terdiri atas tiga kelas yaitu Chlorophyceae (ganggang hijau), Phaeophyceae (ganggang coklat), dan Rhodophyceae (ganggang merah). Ketiga kelas ganggang tersebut merupakan sumber produk  bahan alam hayati lautan yang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan sebagai  bahan mentah maupun bahan hasil olahan.

Rumput laut Eucheuma cottonii adalah salah satu komoditas perikanan yang dapat meningkatkan usaha perikanan Indonesia. Eucheuma cottonii juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi (Susilowati et.al.,2012).

KLASIFIKASI RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONII
Menurut Jana (2006) dalam Armita (2011), rumput laut jenis Eucheuma cottonii memiliki klasifikasi taksonomi sebagai berikut:
Division : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Bangsa : Gigartinales
Suku : Solierisceae
Marga : Eucheuma
Jenis : Eucheuma cottonii (Eucheuma alvarezii, Kappaphycus alvarezii)
Menurut Atmadja, et al (1996) dalam Armita (2011), menyatakan bahwa rumput laut jenis Eucheuma cotonii memiliki cirri-ciri yaitu : thallus silidris, permukaan licin, mempunyai tulang rawan (cartilageneus), serta berwarna hijau terang, hijau olive dan coklat kemerahan. Percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, ditumbuhi nodulus (tonjolan-tonjolan) dan duri lunak/tumpul, percabangan bersifat alternates (berseling), tidak teratur, serta dapat bersifat dichotomus (percabangan dua-dua) atau trichotomus (atau system percabangan tiga-tiga).

PENGARUH EUCHEUMA COTTONII DALAM BUDIDAYA IKAN
Perkembangan budidaya laut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan yang meliputi faktor fisik, kimia, dan biologi (kesuburan perairan). Perairan yang subur tentunya dapat mendukung keanekaragaman sumberdaya biota yang tersedia. Kesuburan perairan dapat diindikasikan dengan kelimpahan fitoplankton yang tersedia. Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton. Keberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan tersebut. Bahkan beberapa penelitian menggunakan indek ekologi fitoplankton sebagai indicator pencemaran atau tingkat tropic (Radiarta, 2013)
Menurut Nybakken (1992) dalam Agustini (2014), bahwa sifat fisik-kimia suatu perairan sangat penting dalam ekologi. Sehingga selain melakukan pengamatan terhadap faktor biotik, perlu juga dilakukan pengamatan faktor abiotik perairan, aspek saling ketergantungan antara organisme dengan faktor abiotik akan dapat diperoleh gambaran tentang kualitas suatu perairan.

Selain itu bentos juga efektif sebagai bioindikator dikarenakan memiliki respon yang berbeda respon yang berbeda terhadap suatu bahan pencemar yang masuk dalam perairan sungai dan bersifat immo-bile (Suwondo et al, 2005 dalam  Indrowati et al 2012).

Keanekaragaman dan kelimpahan plankton di suatu perairan dapat dipakai sebagai indikator kondisi suatu perairan. Indakator fisika dan juga indicator kimia. Indikator kimia diantaranya adalah keberadaan logam logam berat yang bersifat toksik (Muslich,2013)

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan bahwa rumput laut Eucheuma cottonni memiliki pengaruh yang besar bagi budidaya ikan. Salah satunya memiliki nilai ekonomis yang berlebih serta bisa mengakumulasi logam berat beracun dalam perairan untuk pertumbuhan ikan budidaya yang bisa juga digunakan sebagai polikultur.

SARAN
Sebaiknya rumput laut lebih banyak digunakan sebagai media hidup ikan budidaya karena rumput laut memiliki pengaruh yang besar bagi perairan. Salah satunya bisa mengakumulasi logam berat yang bersifat toksik bagi perairan sehingga mengganggu pertumbuhan ikan dalam kegiatan budidaya.

PENULIS
Bramantiyo Satriyo W
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Agustini,. M, Sri Oetami .M.2014. Identifikasi Dan Kelimpahan Plankton Pada Budidaya Ikan Air Tawar Ramah Lingkungan.Surabaya.Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Jurnal Agroknow Vol. 2 No. 1 Februari 2014.
Armita, dewi.2011. Analisis Perbandingan Kualitas Air Di Daerah Budidaya Rumput Laut Dengan Daerah Tidak Ada Budidaya Rumput Laut, Di Dusun Malelaya, Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar.Makassar.FPIK UNHAS.
Hidayat, Muslich.2013. Keanekaragaman Plankton Di Waduk Keuliling Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar.Aceh.Jurnal Biotik, ISSN: 2337-9812, Vol. 1, No. 2, Ed. September 2013, Hal. 67-136.
Indrowati, Meti. Tjahjadi Purwoko, Estu Retnaningtyas, Raras Ika Yulianti, Siti Nurjanah, Dwito Purnomo, Pandu Haryo Wibowo.2012. Identifikasi Jenis, Kerapatan Dan Diversitas Plankton Bentos Sebagai Bioindikator Perairan Sungai Pepe Surakarta.Semarang. FKIP UNS. BIOEDUKASI Volume 5, Nomor 2 Halaman 81-91.
Radiarta, I Nyoman.2013. Hubungan Antara Distribusi Fitoplankton Dengan Kualitas Perairan di Selat Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.Jakarta. Jurnal Bumi Lestari, Volume 13 No. 2, Agustus 2013, hlm. 234-243.

No comments:

Post a Comment