Saturday, April 11, 2020

Penerapan Nilai Ketuhanan Sebagai Ilmu

Alam Semesta, Orang, Siluet, Bintang, Kegembiraan

DEFINISI ILMU PENGETAHUAN
Ilmu menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.

Menurut Wahid (1996), kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya.

Pengetahuan adalah Informasi yang telah diproses dan diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan ke dalam masalah/proses bisnis tertentu .

Pengetahuan dapat juga diartikan sebagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pada saat seseorang memakai akal budinya untuk mengenali suatu kejadian tertentu yang belum pernah dirasakan sebelumnya itu dapat meunculkan sebuah Pengetahuan.

Pada dasarnya pengetahuan mempunyai kemampuan prediktif/ perkiraan terhadap sesuatu sebagai hasil dari pengenalan suatu bentuk/ pola. Data dan Informasi terkadang dapat membingungkan seseorang, maka pengetahuanlah yang mengarahkan tindakan.

Pengertian ilmu pengetahuan adalah suatu sistem berbagai pengetahuan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode-metode tertentu.

Pengertian ilmu pengetahuan menurut Moh. Hatta bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan atau studi yang teratur tentang pekerjaan hokum umum, sebab akibat dalam suatu kelompok masalah yang sifatnya sama baik dilihat dari kedudukannya maupun hubungannya.

SYARAT-SYARAT ILMU PENGETAHUAN
1. Logis atau Masuk Akal, sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan yang diakui kebenarannya. 
2. Objektif, sesuai berdasarkan objek yang dikaji dan didukung dari fakta impiris.
3. Metodik, diperoleh dari cara tertentu dan teratur yang dirancang, diamati dan terkontrol.
4. Sistematik, disusun dalam satu sistem satu dengan saling berkaitan dan menjelaskan sehingga satu kesatuan. 
5. Berlaku umum atau universal, berlaku untuk siapapun dan dimana pun, dengan tata cara dan variabel eksperimentasi yang lama untuk hasil yang sama. 
6. Kumulatif berkembang dan tentatif, ilmu pengetahuan selalu bertambah yang hadir sebagai ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan yang salah harus diganti dengan yang benar disebut sifat tentatif.

NILAI – NILAI KETUHANAN
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti keyakinan da pengakuan yang diekspresikan dalam bentuk perbuatan terhadap Dzat Yang Maha Tunggal tiada duanya. Yang sempurna sebagai Penyebab Pertama (Kausa Prima). Ekspresi dari nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntut manusia Indonesia untuk bersikap hidup, berpandangan hidup "taat" dan "taklim" kepada Tuhan dengan dibimbing oleh ajaran-ajaran-Nya. Taat mengandung makna setia, menurut apa yang diperintahkan dan hormat/cinta kapada Tuhan. Sedangkan taklim mengandung makna memuliakan Tuhan teragung, memandang Tuhan tertinggi, memandang Tuhan terluhur.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kebebasan kepada pemeluk agama sesuai dengan keyakinannya, tak ada paksaan, dan antar penganut agama yang berbeda harus saling hormat menghormati dan bekerjasama. Bahkan penganut aliran Keperayaan Tuhan Yang Maha Esa, esensinya tidak kontradiktif dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan pasal 29 UUD 1945 ayat (2) yang berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Nilai ketuhanan dalam penerapan ilmu artinya mempelajari, memahami dan menjalankan ilmu tersebut sesuai dengan keyakinan atau agama yang kita jalani. Dimana dalam mengaplikasikan ilmu tersebut tidak diikuti dengan perbuatan atau penyelewengan terhadap norma – norma yang dilarang dalam agama. Penerapan ilmu haruslah sesuai dengan norma agama serta ketentuan – ketentuan yang ada dalam agama.
Salah satu bentuk penerapan nilai ketuhanan pada ilmu pengetahuan adalah penerapan ilmu pengetahuan berdasarkan hasil pemikiran para ahli ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak dan memiliki fungsi atau manfaatnya yang berguna bagi masyarakat luas. Selain itu, penerapan ilmu ini juga harus tidak menyalahi norma – norma agama yang berlaku di masyarakat.

BENTUK PENERAPAN NILAI – NILAI KETUHANAN DALAM ILMU PENGETAHUAN
Ada banyak hal yang dapat menjadi contoh dalam penerapan nilai ketuhanan yang memiliki nilai positif, diantaranya adalah pengembangan dalam ilmu kedokteran. Dalam agama islam Allah berfirman bahwa “segala macam penyakit diturunkan bersama dengan obatnya”, dalam hal ini telah banyak ditemukan obat – obat dari penyakit yang dahulu dianggap tidak memiliki obat, seperti pada penyakit Tuberkulosis yang dulu dianggap tidak ada obatnya namun pada masa sekarang telah banyak antibiotic yang dapat melawan virus ini.

Dahulu sebelum ditemukannya mesin uap, kendaraan hanya berupa hewan ternak seperti  sapi, kuda, atau unta. Sedangkan bentuk lainya berupa perahu ataupun sepeda kayuh. Setelah ditemukannya mesin uap, bentuk kendaraan semakin canggih, dan dapat menempuh jarak yang jauh hanya dalam waktu yang singkat, seperti pesawat ataupun kereta cepat.

Perkembangan alat komunikasi juga sangat pesat, dahulu orang berkomunikasi secara langsung, kemudian menggunakan surat, hingga saat ini yang menggunakan telepon seluler atau telepon pintar yang bahkan memiliki fitur panggilan video. Hal ini dapat menggambarkan nilai – nilai ketuhanan yang diterapkan dalam ilmu pengetahuan, yakni memberikan manfaat kepada orang banyak.

Ilmu dalam bidang biologi juga sangat membantu, mulai dari rekayasa genetika untuk menghasilkan hewan ternak yang menjadi spesies unggulan, hingga penemuan bahan – bahan bioaktif ataupun obat – obatan yang dapat menolok banyak manusia untuk sembuh dari berbagai macam penyakit.

Dalam agama islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting, bahkan pada ayat pertama yang turun, Allah telah menyeru untuk membaca, hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Bahkan dalam Alquran banyak ditemui ayat – ayat yang berkaitan dengan masalah ilmu pengetahua, seperti proses terbentuknya bumi, cuaca, hujan, dan pembentukan manusia.

BENTUK NEGATIF PENERAPAN PENGETAHUAN DENGAN NILAI – NILAI KETUHANAN
Selain manfaat, ada banyak juga pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan nilai – nilai ketuhanan. Seperti penggunaan bahan – bahan beracun seperti sianida untuk membunuh orang, bisa ular, ataupun penggunaan senjata.

Selain itu penemuan bom juga dianggap sebagai penyelewangan pengetahuan terhadap nilai – nilai ketuhanan, hal ini disebabkan karena penemuan dan penggunaan bom memiliki sisi kerugian yang banyak. Penggunaan bom dapat membunuh orang – orang yang tidak bersalah. Penggunaan senjata api juga sering kali disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mencabut nyawa orang lain.

Kloning, Kloning adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik. Kloning merupakan proses reproduksi aseksual yang biasa terjadi di alam dan dialami oleh banyak bakteria, serangga, atau tumbuhan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Arti lain kloning digunakan pula di luar ilmu-ilmu hayati. Program kloning banyak ditentang oleh pemuka agama karena dianggap telah menyalahi kodrat manusia yang bukan makhluk pencipta, dan dianggap dapat menciptakan makhluk hidup.

Dalam beberapa kasus yang ekstrim, seperti di amerika, ilmu pengetahuan telah dijadikan sebagai agama, seperti scientology yang ada di Amerika.

Selain, penerapan ilmu yang tidak sesuai dengan nilai – nilai ketuhanan, cara mendapatkan ilmu juga banyak yang tidak sesuai dengan nilai – nilai ketuhanan. Seperti menyontek ketika ujian, membeli kunci jawaban saat ujian nasional, dan lain – lain. Hal ini menjelaskan bahwa masih banyak murid di negara ini yang kurang memahami nilai ketuhanan dalam penerapan ilmu.

Penerapan lain yang dianggap tidak mencerminkan nilai – nilai ketuhanan adalah banyaknya ditemui kasus pelajar di Indonesia yang tidak memiliki etika yang baik terhadap sesama, terhadap orang yang lebih tua, ataupun tidak memiliki perilaku yang mencerminkan nilai – nilai atau norma yang ada di Indonesia, padahal nilai ketuhanan merupakan akar dari segala bentuk norma dan etika yang ada di Indonesia.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang wajib dimiliki dan dicari oleh manusia, penggunaan ilmu pengetahuan haruslah sesuai dengan nilai – nilai ketuhanan yang mana merupakan akar dari seluruh norma yang ada. Meskipun beberapa oknum masih ada yang tidak menerapkan nilai – nilai ketuhanan dalam menerapkan ilmu yang dimiliki. Kita harus memiliki sikap yang bijaksana terhadap ilmu yang kita miliki agar memiliki manfaat bagi masyarakat banyak.

SARAN
Mencari ilmu haruslah dengan cara yang baik dan memperhatikan norma – norma yang berlaku di masyarakat serta menerapkan ilmu pengetahuan sesuai dengan kaidah serta nilai – nilai ketuhanan.

PENULIS
Ryan Dharmawan                           
Gery Purnomo Aji Sutrisno                      
M. Noorhadiansyah A.          
Kiki Nur Azzam K.                           
Dyah Amalia Dinni                          
FPIK Universitas Brawijaya 

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, S. 2016. [online].  Dalam http://sahrul-media.blogspot.co.id/2014/04/makalahnilainilaiketuhanan.html.Irmayanti, M. 2007, MPKT. UI Press
Russel, P. J. 2005. iGenetics: A Molecular Approach. California : Pearson Education.
Sidharta, B. A. 2008. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?. Bandung : Pustaka Sutra
Syafiie, I. K. 2005. Pengantar Ilmu Pemerintahan. Bandung : PT Refika Aditama
Wahid, R. A. 1996. Ulumul Qur’an. Jakarta : Grafindo

No comments:

Post a Comment