Saturday, April 11, 2020

Ikan Lele; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Lele berbentuk seperti belut, memiliki tubuh silinder memanjang dengan sirip punggung dan anal yang sangat panjang dengan kedua siripnya lunak. Bentuk kepala rata, sangat kaku, tulang tengkorak sebagai pelindung. Kulit umumnya mempunyai pigmen gelap pada daerah punggung dan lateral tubuh. Apabila warna kulit terkena paparan cahaya maka warnaya menjadi lebih terang. Ikan lele mempunyai empat pasang sungut bercabang, satu hidung, satu maxillar, dan mandibulla pada cabang. Fungsi utama sungut adalah untuk mendeteksi mangasa (FAO, 2009). Ikan adalah hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang belkang, insang dan sirip, dan terutama ikan sangat bergantung atas air sebagai medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga kesimbangan tubuh sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh angin (Burhnuddin, 2015).

KLASIFIKASI IKAN LELE
Klasifikasi ikan lele menurut Amri (2006), sebagai berikut:
Filum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Ordo
: Ostariophysi
Sub ordo
: Siluroidae
Famili
: Clariidae
Genus
: Clarias
Spesies
: Clarias batrachus

Menurut Mahyuddin (2008), klasifikasi ikan lele adalah
Fillum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Sub kelas
: Teleostei
Ordo
: Ostariophysi
Sub ordo
: Siluroidea
Family
: Clariidae
Genus
: Clarias
Species
: Clarias sp.

MORFOLOGI IKAN LELE
Ikan lele secara umum memiliki tubuh yang lain, berlendir, tidak bersisik, dan lele juga memiliki empat pasang sungut yang terletak disekitar mulut. Sepasang sungut hidung, sepasang sungut diluar, sepasang sungut didalam, dan sepasang sungut maxillar. Ikan ini memiliki alat olfaktori disekat sungut yang berfungsi untuk perabaan dan penciuman serta penglihatan lele yang kurang berfungsi baik (Mahyuddin,2008).

Ikan lele merupakan ikan air tawar yang memiliki bentuk tubuh memanjang yang makin kebelakang makin pipih. Kepalanya besar dan gepeng. Ikan senang hidup dalam air yang alirannya tidak deras. Ikan lele tidak bersisik, tubunya licin, mempunyai 4 pasang sungut disekitar mulutnya. Dan pada kedua sirip dadanya terdapat tagi yang runcing (Murtidjo,2010).

SISTEM PENCERNAAN IKAN LELE
Menurut Mahyuddin (2008), sistem pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut, esofagus, lambung, usus, dan dubur. Usus yang dimiliki ikan lele lebih pendek dari panjang tubuhnya. Hal ini merupakan ciri khas ikan karnivora. Sementara itu, lambungnya relatif besar dan panjang.

Pencernaan bahan makanan secara fisik/mekanik dimulai dari bagian rongga mulut, yaitu dengan berperannya gigi dalam proses pemotongan dan penggerusan makanan. Selanjutnya, bahan makanan dicerna di lambung dan usus dengan adanya gerakan/kontraksi otot. Pencernaan secara fisik/mekanik pada segmen ini terjadi secara efektif karena adanya aktifitas cairan digestif (Mahyuddin,2008).

Kelenjar pencernaan berfungsi untuk menghasilkan enzim pencerna yang berguna untuk proses penghancuran pakan. Enzim pencernaan yang dihasilkan oleh ikan buas (karnivora) berbeda dengan enzim pencernaan yang dihasilkan hewan herbivora. Kelenjar pencernaan hewan herbivora memiliki enzim-enzim pemecah protein. Sebaliknya kelenjar pencernaan hewan herbivora menghasilkan enzim pemecah karbohidrat (Djarijah, 2012).

SISTEM PERNAFASAN IKAN LELE
Proses pernafasan terdiri dari empat tahap, yakni pertukaran udara melalui alat pernafasan, difusi oksigen dan karbondioksida anatar insang dan darah, transport oksigen dan karbondioksida di dalam darah dan cairan tubuh ked an dari sel, dan pengaturan pernafasan (Burhanuddin, 2015).

Ikan lele mempunyai alat pernafasan berupa insang beserta labirin sebagai alat pernafasan tambahan. Alat pernafasan pada ikan lele terletak di belakang kepala. Insang pada ikan merupakan komponen penting dalam pertukaran gas. Alat pernafasan tambahan pada lele berbentuk. Seperti dedaunan, berwarna kemerahan. Fungsi labirin adalah untuk mengambil oksigen darin permukaan air sehingga dapat mengambil oksigen secara lansung dari udara (Mahyuddin, 2008).

Bentuk alat pernafasan (labirin) ikan lele seperti rimbunan dedaunan. Labirin berwarna kemerahan yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan keempat. Fungsi labirin ini mengambil oksigen dari atas permukaan air sehingga dapat mengambil lansung oksigen dari udara. Dengan alat pernafasan ini ikan lele mampu bertahan hidup dalam kondisi oksigen (O_2) yang minimum (Mahyuddin, 2008).

SISTEM SYARAF IKAN LELE
Sistem saraf berperan dalam memperoleh impuls (informasi) dari lingkungan dan memberikan respon balik. Respon diberikan dengan cara melepaskan impuls ke jaringan otot atau kelenjar. Pada ikan respon otot seringkali menhasilkan gerakan seluruh ubuh (Rahardjo, 2011).

Ikan menerima ransang dari lingkungannya melalui perasa. Ransangan tersebut selanjutnya diteruskan dalam bentuk impuls ke otak. Respon yang diberikan oleh otak dimanfestasikan dalam bentuk tingkah laku (Omar, 2011)

Menurut Omar (2011), sisem saraf pada vertebrata dapat dibedakan atas:
1. Sistem saraf pusat (system nervorum centracle) disusun oleh otak (encephalon) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis).
2. Sistem saraf tepi (system nervorum periperichum), disusun oleh saraf otak (nervi celebralis) dan saraf spinal (nervi pinalis).
3. Sistem saraf otonom, disusun oleh system saraf parasymphatic dan system saraf symphatic.
4. Organ perasa khusu (special sense organ) terdiri atas organ gurat sisi (linea laterolis), hidung, telinga, dan mata.

SISTEM PEREDARAN DARAH IKAN LELE
Sistem peredaran darah pada ikan lele bersifat tunggal. Sistem ini hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah, yakni darah dari jantung dipompa ke insang untuk melakukan pertukaran gas kemudian ke berbagai organ tubuh. Setelah itu darah kembali ke jantung (Mahyuddin, 2008).

Sistem peredaran darah organ utamanya adalah jantung yang bertindak sebagai pompa tekan merangkap pompa hisap. Darah ditekan mengalir keluar dari jantung melalui pembuluh arteri seluruh tubuh sampai ke kapiler darah, kemudian dihisap melalui pembuluh vena dan kembali ke jantung. Sistem peredaran darah adalah peredaran tunggal (Burhanuddin, 2008).

SISTEM UROGENITAL IKAN LELE
Sistem urogenitalia dibangun oleh dua sistem yaitu,  sistem urinaria (sistem uropecfica) dan sistem genetalia. Sistem urinaria bisa disebut dengan sistem ekskresi. Fungsiny untuk membuahkan bahan yang tidak diperlukan atau membahayakan kesehatan tubuh jika keluar dari tubuh sebagai larutan dalam air dengan perantara ginjal atau salurannya. Sistem ginial disebut sistem reproduksi berfungsi untuk berkembang biak. Organ utama sistem ini adalah gonad (kelenjar kelamin) sepasang terletak antara usus dan gelembung renang. Kelenjar kelamin betina disebut ovarium , sedangkan kelenjar kelamin jantan disebut testis (Burhanuddin, 2008).

Menurut Omar (2011), organ-organ yang termasuk ke dalam sistem urogenetalia adalah:

GINJAL IKAN LELE
Ginjal berwarna merah kehitaman, sepasang, terletak di luar punggung, memanjang dari dekat anus ke arah depan hingga ujung rongga peru. Bentuknya tidak jelas. Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan amoniak dan senyawa-senyawa nontoksin.

URETER IKAN LELE
Ureter merupakan tempat mengalirnya urine yang berasal dan ginjal terdapat di pinggiran dorsal rongga badan dan menuju ke belakang. Pada ikan jantan, kedua saluran ini terikat merupakan tabung (tubulus) yang pendek, terentang, dan ujung belakang ginjal sampai kantong urine, sedangkan pada ikan betina menuju ke sinus urogenital.

KANTONG URINE (VESICA URINARIA) IKAN LELE
Merupakan lanjutan dan ureter kiri dan kanan serta merupakan tempat penampungan urine sementara sebelum dikeluarkan. Pada beberapa jenis ikan, kantong urine dapat dilihat dengan jelas terletak dekat anus dan bentuknya menyerupai kantong kecil.

URETRA IKAN LELE
Merupakan saluran yang pendek, berasal dari kantong urine dan menuju ke poros urogenetalia dan merupakan jalan keluar urine dari dalam tubuh.

Sistem genetalia meliputi sistem kelamin pada ikan dapat dibedakan atas sistem kelamin betina dan sistem kelamin jantan. Sistem kelamin jantan disusun oleh:

Testis, terletak di bawah gelembung renang dan di atas intestinum. Bentuk testis umumnya berwarna putih  dan agak kompak. Di dalam testis menghasilkan spermatozoa. Bentuk spermatozoa bermacam-macam, tergantung testis disebut mesordhium.

Vas Differensia, merupakan dua buah saluran sperma yang bergabung pada bagan belakangny, membentuk suatu ruang genital yang terbuka ke arah luar, terletak di antara ureter atau papila urinaria dan anus.

Pada ikan bertulang sejati, sistem kelamin betina disusun oleh:
1. Ovarium, pada ikan umumnya ada dua buah, tampak seperti agar-agar yang jernih, terdapat bintik-bintik karena berisi sel telur. Alat penggantung ovarium disebut mesovarium.
2. Saluran Telur (Oviduct), merupakan saluran tempat lewatnya sel telur, sangat pendek dan bersatu pada bagian belakangnya untuk selanjutnya bermuara pada porus urogenetalia.

HABITAT IKAN LELE
Hidup di perairan air tawar dan di dataran rendah hingga air payau. Di alam, lele hidup di air yang arusnya lambat. Lele dapat hidup di kondisi yang minim akan oksigen dan lele termasuk hewan nokturnal yaitu hewan yang pada siang hari berdiam diri tetapi pada malam hari mencari makan atau beraktifitas (Mahyuddin, 2008).

Habitat atau lingkungan hidup ikan lele adalah semua perairan tawar, meliputi sungai dengan aliran yang tidak terlalu deras atau perairan yang tenang seperti waduk, danau, telaga, rawa, dan genangan air seperti kolam. Ikan lele tahan hidup diperairan yang mengandung sedikit oksigen dan relatif tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik (Iqbal, 2011).

RANGKA IKAN LELE
Menurut David (2011), rangka atau tulang adalah tempat melekatnya otot, perlindungan organ-organ dalam dan penegak tubuh. Adapun sistem rangka pada tubuh adalah untuk menegakkan tubuh, menyokong organ-organ tubuh, membantu butir darah merah. Sistem rangka pada ikan terdiri dari tulang rawan, jaringan pengikat, sisik, komponen gigi, jari-jari sirip dan penyokong sel pada sistem saraf.

Sistem rangka merupakan suatu sistem yang dibangun oleh struktur struktur keras dari tubuh yang bersifat menyokong dan melindungi, rangka ikan seperti halnya vertebrata. Pada beberapa ikan modifikasi tulang penyokong sirip menjadi penyakit sperma kedalam saluran reproduksi ikan betina. Secara tidak langsung rangka untuk menentukan bentuk tubuh ikan yang beraneka ragam. Rangka yang menjadi penegak tubuh ikan terdiri dari tulang rawan dan sejati (Burhanuddin, 2011).

CIRI KHUSUS IKAN LELE
Menurut Mahyuddin (2008), ikan lele memiliki ciri-ciri khusus yaitu tubuhnya yang licin, berlendir, tidak bersisik, dan memiliki empat pasang sungut yang terletak disekitar mulut.

Ikan lele tergolong ikan karnivora yang memiliki alat bantu pernafasan atau labirin, sehingga sanggup hidup dalam kondisi oksigen terbatas dan tahan terhadap kondisi limbah (Murtidjo, 2010).

Ikan lele termasuk dalam kelas teleostei. Volume darah ikan secara umum relatif kecil dari total massa. Teleostei memiliki total volume darah hanya 1,5-4% dari total berat tubuh (Guyer dan Lane, 2008)

TIPE MULUT IKAN LELE
Menurut Omar (2011), tipe mulut pada ikan dapat dibedakan atas:
1. Terminal : mulut yang terletak di ujung hidung atau membuka tepat diujung hidung.
2. Subterminal : mulut yang terletak dekat ujung hidung
3. Inferior   : mulut yang terletak di bawah hidung
4. Superior : mulut yang terletak di atas hidung

BENTUK EKOR DAN TIPE EKOR IKAN LELE
Menurut Omar (2011), tipe ekor ikan terbagi menjadi empat macam berdasarkan perkembangan arah ujung belakang vertebrata , yaitu:
- Protocercal, ujung belakang vertebrata berakhir lurus pada ujung ekor
- Heterocercal, ujung belakang vertebrata pada bagian ekor agak membelok ke arah dorsal sehingga caudal terbagi tidak simetris.
- Homocercal, ujung belakang vertebrata pada bagian ekor agak membelok ke arah dorsal sehingga bila dilihat dari dalam tampak tidak simetris tapi bila dilihat dari arah luar tampak simetris
- Diphicercal, ujung notochord luas ke arah caudal sehingga sirip ekor terbagi secara simetris.
Bentuk sirip ekor, yaitu:
- Rounded (membulat)
- Truncate(berpinggiran tegak)
- Wedge shape (bentuk baji)
- Emerginate (berpinggiran berlekuk tunggal)
- Double emerginate (berpinggiran berlekuk ganda)
- Forked (bercagak)
- Lunate (bentuk sabit)
- Ephicercal (bagian daun sirip atas lebih besar)
- Hypocercal (bagian daun sirip bawah lebih besar)

BENTUK SISIK IKAN LELE
Menurut Burhanuddin (2008), bentuk sisik ikan dapat dibedakan atas beberapa tipe:
1. Cosmoid, terdapat pada ikan-ikan purba yang telah punah.
2. Plakoid, merupakan sisik tonjolan kulit, banyak terdapat pada ikan yang termasuk kelas Chondricthyes
3. Ganoid, merupakan sisik yang terdiri atas garam-garam ganoid, banyak terdapat pada ikan dari golongan Actinopterygii
4. Cycloid, berbentuk seperti lingkaran, umumnya terdapat pada ikan yang berjari-jari sirip lemah (Malacopterygii)
5. Stenoid, berbentuk seperti sisir, ditemukan pada ikan yang berjari-jari sirip keras (Acanthopterygii)

FUNGSI LINEA LATERALIS IKAN LELE DAN PENGERTIANNYA
Pada bagian tengah badan ikan sebelah kanan dan kiri mulai dari kepala sampai ke pangkal ekor terdapat suatu bangunan yang kelihatannya seperti garis memanjang yang disebut garis rusuk atau garis sisi (linea lateralis). Garis rusuk dapat ditemukan baik pada ikan yang mempunyai sisik maupun tidak bersisik. Pada ikan yang bersisik, garis rusuk ini dibentuk oleh sisik yang memiliki pori-pori. Garis rusuk berfungsi sebagai indera keenam pada ikan, yaitu untuk mengetahui perubahan tekanan air yang terjadi sehubungan dengan arus air, untuk mengetahui jika ikan mendekati atau menjauhi benda-benda keras dan untuk osmoregulasi (Omar, 2011)

LETAK DAN BENTUK GIGI IKAN LELE
Menurut Burhanuddin (2008) , letak gigi atau tipe gigi sebagai berikut:
1. Incisore: gigi incisore mempunyai pinggiran yang tajam digunakan untuk memotong
2. Canine: menyerupai bentuk taring, panjang dan mengerucut atau melengkung   disesuaikan untuk mencengkram
3. Molar: gigi yang permukaannya rata digunakan untuk menumbuk dan menguras makanan
4. Viliform: berbentuk panjang dan membentuk rumbai-rumbai, lebih pendek, tajam, dan runcing

INSANG IKAN LELE
Meneurut Fujaya (2008), insang berperan dalam pertukaran gas. Insang terbentuk dari lekukan tulang rawan yang mengeras engan beberapa filamen insang di dalamnya. Filamen insang terdiri atas operkulum, peudobranch, hemibranch, lengkung insang, dan holobranch ppertama. Jumlah dan ukuran lamella sangat besar variasinya, tergantung tingkah laku ikan.

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Amri, Y. 2006. Fisiologi Ikan: Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Burhanuddin, Andi Iqbal. 2008. Pengetahuan Konsepsi Sistematika & Pemahaman Sistem Organ Ikan yang Berbasis SCL pada Matakuliah Ikhtiologi. Makassar : UNHAS
Burhanuddin, Andi Iqbal. 2008. Pengetahuan Konsepsi Sistematika & Pemahaman Sistem Organ Ikan yang Berbasis SCL pada Matakuliah Ikhtiologi. Makassar : UNHAS
Burhanuddin, Andi Iqbal. 2011. Kerangka dan struktur ikan bandeng. Makassar. Universitas Hasanudin
Burhanuddin, Andi Iqbal. 2015. Ikhtiologi, Ikan dan Segala Aspek Kehidupannya. Yogyakarta: Deepublish
David. 2011. Sistem rangka pada ikan. http://konservasi.blogspot.com/2011/11/sistem-rangka-pada-ikan. Diakses pada 19 Februari 2016. Pada pukul 14.28 wib
Djarijah, Abbas Siregar. 2012. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta: Kanisius FAO. 2009. Ciri-ciri Ikan Lele (Clarias bathracus)
Fujaya, Y. 2008. Fisiologi Ikan: Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Google Image. 2016. http://www.googleimage.com/. Diakses pada tanggal 25 Februari 2016
Guyer, M.F. dan Lane, C.E. 2008. Animal Geology Fifth Edition. Newyork: Harper and  Row
Iqbal, Muhammad. 2011. Kelansungan Hidup Ikan Lele pada Budidaya Intensif Sistem Heterotopik. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah
Mahyudin, Kholis. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele.Jakarta: Niaga Swadaya
Murtidjo, Bambang Agus. 2010. Metode Pembenihan Ikan Air Tawar.Yogyakarta: Kanisius
Omar, A. 2011. Iktiologi. Makassar: UNHAS
Omar, A. 2011. Iktiologi. Makassar: UNHAS Rahardjo, M.F. 2011. Iktiology. Bandung: Lubuk Agung

No comments:

Post a Comment