Wednesday, April 22, 2020

Ikan Lele Sangkuriang; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) merupakan salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Secara umum produksi ikan lele terus meningkat dengan pasar yang bertambah luas dan terbuka. Permintaan pasar yang terus meningkat mengakibatkan tingginya nilai produksi budidaya ikan lele. Berkembangnya usaha budidaya ikan lele juga berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan area budidaya dan penambahan kebutuhan air, sehingga meningkatkan biaya produksi. Budidaya dengan sistem tanpa ganti air bertujuan menghemat air dan biaya produksi . Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: keturunan, umur, ketahanan terhadap penyakit, dan kemampuan memanfaatkan makanan, sedangkan faktor eksternal meliputi suhu, kualitas dan kuantitas makanan, serta ruang gerak (Gusrina, 2008).

Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan lele sangkuriang adalah kualitas air, selain kebutuhan oksigen, NH3 juga merupakan faktor penghambat dalam pertumbuhan ikan. Pada tingkat konsentrasi 0,18 mg/l dapat menghambat pertumbuhan ikan (Wedemeyer, 1996). Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) mempunyai keunggulan, dibandingkan dengan ikan lele dumbo diantaranya saat pendederan pertumbuhan lebih cepat 40%, sementara itu untuk tingkat pembesaran pertumbuhannya lebih 2 cepat 10%, selain pertumbuhannya, indukan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) juga memiliki jumlah telur 33,33% lebih banyak dibandingkan dengan ikan lele dumbo.

Menurut Surnama (2004) dalam  Widodo (2009), lele Sangkuriang merupakan pemurnian genetik melalui cara silangbalik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6) Lele Dumbo. Kelebihan yang dimiliki Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang var. Sangkuriang) antara lain adalah pertumbuhan rata-ratanya yang lebih cepat dibandingkan dengan Lele Dumbo (Clarias gariepinus var. sangkuriang). Hal ini diduga salah satunya dipengaruhi oleh tingkah laku makannya. Kelebihan lain yang dimiliki oleh Lele Sangkuriang adalah fekunditasnya yang tinggi, mortalitasnya yang rendah dan anaknya yang tidak bersifat kanibal (tidak saling memakan). Dengan kelebihan ini Lele Sangkuriang mampu berkembang biak lebih cepat dibandingkan dengan Lele Dumbo.

KLASIFIKASI IKAN LELE SANGKURIANG
Menurut Suyanto  (2007) dalam Widodo (2009), klasifikasi Lele Sangkuriang adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Pisces Tingkah
Sub Class
: Teleostei
Order
: Ostariophysi
Sub Order
: Siluriidae
Family
: Clariidae
Genus
: Clarias
Species
: Clarias gariepinus var. sangkuriang (Burchell)

HABITAT IKAN LELE SANGKURIANG
Menurut Sudarto (2004), Habitat atau lingkungan hidup lele (Clarias gariepinus var. sangkuriang) ialah air tawar. Meskipun air yang terbaik untuk memelihara lele ialah air sungai, air dari saluran irigasi, air tanah dari mata air, maupun air sumur, tetapi lele juga relative tahan terhadap kindisi air yang menurut ukuran kehidupan ikan dinilai kurang baik. Ikan lele (Clarias gariepinus var. sangkuriang) juga hidup dengan padat penebaran tinggi meupun pada kolam yang kadar oksigennya rendah karena lele (Clarias gariepinus var. sangkuriang) mempunyai alat pernafasan tambahan yang disebut labirin yang memungkinkan lele (Clarias gariepinus var. sangkuriang) mengambil oksigen langsung dari udara untuk pernafasannya.

Lele sangkuriang juga dapat hidup dengan padat penebaran tinggi maupun dalam kolam yang kadar oksigennya rendah, karena ikan lele sangkuriang mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut arborescent yang memungkinkan lele sangkuriang mengambil oksigen langsung dari udara untuk pernapasan, faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan hidup ikan senantiasa harus dijaga dan diperhatikan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah: suhu berkisar antara 24 – 300C, pH 6,5 – 7,5, oksigen terlarut 5 – 6 mg/l. Dengan kondisi perairan tersebut di atas ikan lele dapat hidup dengan baik mengenai kepesatan tubuhnya maupun kemampuan dalam menghasilkan benih ikan.

FISIOLOGI IKAN LELE SANGKURIANG
Menurut Djokosetiyanto (2006), ikan lele sangkuriang mempunyai bentuk badan yang berbeda dengan jenis ikan lainya. Seperti ikan mas, gurami dan tawes. Alat pernafasan lele sangkuriang berupa insang yang berukuran kecil sehingga lele sangkuriang sering mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan oksigen. Ikan lele sangkuriang mengalami kesulitan dan memenuhi kebutuhan oksigen, akibatnya lele sangkuriang sering mengambil oksigen dengan muncul ke permukaan. Alat pernafasan tambahan terletak di rongga insang bagian atas, alat berwarna kemerahan penuh kapiler darah dan mempunyai tujuk pohon rimbun yang biasa disebut “arborescent organ”. 8 Untuk memudahkan berenang, lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) dilengkapi sirip tunggal dan sirip berpasangan. Sirip tunggal adalah sirip punggung dan sirip ekor . Sedangkan sirip berpasangan adalah sirip perut dan sirip dada. Sirip dada yang keras disebut patil.

Lele Sangkuriang, pada kondisi lapar, memiliki kemampuan untuk memakan anak ikan lebih banyak dibandingkan dengan Lele Dumbo. Keberadaan suatu jenis ikan di perairan memiliki hubungan yang erat dengan keberadaan makanannya. Kebiasaan makan ikan secara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup. Pada ikan yang berukuran sama, kapasitas lambung ikan berhubungan erat dengan kategori dan bentuk tubuh ikan. Semakin besar ukuran ikan predator maka semakin banyak pula mangsa yang dimakan. Demikian pula dengan ukuran mangsanya, semakin besar ikan predator maka semakin besar pula ukuran mangsa yang dimakan. Diduga Lele Sangkuriang memakan anak ikan lebih banyak dibandingkan dengan Lele Dumbo disebabkan oleh sifat bawaannya, Lele Sangkuriang diduga memiliki organ pengolahan makanan yang lebih efisien dibandingkan dengan Lele Dumbo, sehingga Lele Sangkuriang makan anak ikan lebih banyak. Lele Sangkuriang memiliki rasio konversi pakan yang lebih baik dibandingkan dengan Lele Dumbo.

MORFOLOGI IKAN LELE SANGKURIANG
Menurut Djokosetiyanto (2006), sebagaimana halnya ikan lele, lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) memiliki ciri-ciri identik dengan lele dumbo sehingga sulit untuk dibedakan. Secara umum, ikan lele sangkuriang dikenal sebagai ikan berkumis atau catfish. Tubuh ikan lele sangkuriang ini berlendir dan tidak bersisik serta memiliki mulut yang relatif lebar yakni ¼ dari panjang total tubuhnya. Ciri khas dari lele sangkuriang adalah adanya empat pasang sungut yang terletak di sekitar mulutnya. Keempat pasang sungut tersebut terdiri dari dua pasang sungut maxiral/ rahang atas dan dua pasang sungut mandibula/rahang bawah. Fungsi sungut bawah adalah sebagai alat peraba ketika berenang dan sebagai sensor ketika mencari makan. Sirip lele sangkuriang terdiri atas lima bagian yaitu sirip dada, sirip perut, sirip dubur, sirip ekor, dan sirip punggung. Sirip dada lele sangkuriang dilengkapi dengan patil (sirip yang keras) yang berfungsi untuk alat pertahanan diri. 

Ikan lele sangkuriang mempunyai bentuk badan yang berbeda dengan jenis ikan lainya. Seperti ikan mas, gurami dan tawes. Alat pernafasan lele sangkuriang berupa insang yang berukuran kecil sehingga lele sangkuriang sering mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan oksigen. Ikan lele sangkuriang mengalami kesulitan dan memenuhi kebutuhan oksigen, akibatnya lele sangkuriang sering mengambil oksigen dengan muncul ke permukaan. Alat pernafasan tambahan terletak di rongga insang bagian atas, alat berwarna kemerahan penuh kapiler darah dan mempunyai tujuk pohon rimbun yang biasa disebut “arborescent organ”. 8 Untuk memudahkan berenang, lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang var) dilengkapi sirip tunggal dan sirip berpasangan. Sirip tunggal adalah sirip punggung dan sirip ekor . Sedangkan sirip berpasangan adalah sirip perut dan sirip dada. Sirip dada yang keras disebut patil.

CIRI-CIRI IKAN LELE SANGKURIANG
Menurut Prihatman (2000) dan Bahtiar (2006), ciri khas dari lele sangkuriang adalah adanya empat pasang sungut yang terletak di sekitar mulutnya. Keempat pasang sungut tersebut terdiri dari dua pasang sungut maxiral/ rahang atas dan dua pasang sungut mandibula/rahang bawah. Fungsi sungut bawah adalah sebagai alat peraba ketika berenang dan sebagai sensor ketika mencari makan. Sirip lele sangkuriang terdiri atas lima bagian yaitu sirip dada, sirip perut, sirip dubur, sirip ekor, dan sirip punggung. Sirip dada lele sangkuriang dilengkapi dengan patil (sirip yang keras) yang berfungsi untuk alat pertahanan diri.

Disebutkan dalam beberapa penelitian bahwa lele merupakan ikan nokturnal atau yang aktif di malam hari. Namun pada keadaan lapar ternyata Lele Sangkuriang juga aktif pada siang hari. Perbedaan aktivitas makan Lele Sangkuriang pada siang dan malam hari hanya berbeda sedikit. Lele dapat aktif pada siang dan hari. Lele membutuhkan lebih banyak makan pada siang hari. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian tersebut bahwa pada ikan persentasi makan lebih besar pada siang hari dibandingkan dengan pada malam hari.

REPRODUKSI IKAN LELE SANGKURIANG
Menurut Arhayu (2013), apabila telah dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan lele jantan membentuk sperma atau mani. Bila telur-telurnya telah berkembang maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara alamiah ikan lele akan memijah atau kawin. Perkembangan telur dan sperma berlangsung di dalam tubuh lele dengan mekanisme pengaturan oleh zat yang disebut hormone kelamin gonadotropin atau gonade stimulating hormone (GSH). Bila lele mencapai tingkat dewasa, hormone gonadotropin secara alami akan terbentuk di dalam kelenjar hipofisa yang terletak di bawah otak kecil. Awalnya hormone gonadotropin yang terbentuk sedikit kemudian dialirkan melalui darah ke dalam indung telur, sehingga terbentuklah telur-telur yang semakin besar dan banyak jumlahnya di dalam indung telur.

Sampai suatu saat telur-telur menjadi matang untuk dibuahi oleh sperma (fertilisasi). Namun kematangan telur yang terjadi dalam indung telur belum tentu segera diikuti oleh kemauan induk untuk memijah sehingga diperlukan rangsangan yaitu dengan mengubah iklim atau sifat-sifat air yang dapat membei rangsangan bagi lele untuk membentuk hormone gonadotropin lebih banyak lagi. Perkembangan muakhir untuk merangsang pemijahan ikan lele saat ini dapat menggunakan hormone buatan atau hormone sintetis yang telah banyak diproduksi. Beberapa jenis hormone tersebut antara lain Ovaprim, HCG, LHRH. Persyaratan penggunaan hormone sintetis adalah induk lele hsrus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (matang gonad).

PERAN IKAN LELE SANGKURIANG DI PERAIRAN
Seperti halnya lele Dumbo terdahulu, lele sangkuriang memiliki sifat omnivore. Di alam maupun budidaya  lele sangkuriang dapat memanfaatkan plankton, ikan kecil, udang, dan berbagai makanan untuk dimakan (Departemen kelautan dan Perikanan, 2006). Habitat lele dialam adalah diperairan tergenang yang relative dangkal, ada pelindung atau tempat yang agak gelap, dan lebih menyukai substrat berlumpur. Ikan lele bersifat nocturnal, yaitu aktif dimalam hari (Hernowo dan Suyanto, 2003).

TINGKAH LAKU IKAN LELE SANGKURIANG
Lele Sangkuriang bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan Lele Dumbo dalam mengenali mangsanya. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa sebelum memakan mangsanya sebagian besar dari Lele Sangkuriang adalah berenang hilir mudik di dalam akuarium. Tingkah laku ikan dapat berubah disebabkan oleh lingkungan yang berubah atau atau dalam keadaan tertekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lele banyak menghabiskan waktunya untuk berenang hilir mudik, kemudian beristirahat di dasar perairan. Lele lebih banyak beraktivitas untuk makan pada siang hari dibandingkan dengan malam hari (Dardiani, 2010). Secara jelas gelombang listrik pasif digunakan oleh beberapa jenis ikan Clarias dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Beberapa jenis ikan juga menggunakannya untuk mendeteksi mangsanya. Jika Lele Sangkuriang bereaksi lebih cepat dalam memangsa makanannya, artinya lele ini lebih responsif dalam mengenali makanannya dibandingkan dengan Lele Dumbo.

MANFAAT IKAN LELE SANGKURIANG
Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) adalah salah satu ikan air tawar yang banyak dibudi-dayakan dan dikonsumsi di Indonesia. Ikan ini banyak dikonsumsi karena mudah diolah, banyak disukai, dan memiliki kandungan protein yang tinggi. Selain itu, ikan ini juga dibudidayakan karena memiliki waktu per-tumbuhan yang relatif cepat. Tingginya permintaan konsumen membuat petani lele melakukan usaha yang intensif. Perkem-bangan usaha budidaya lele membutuhkan penambahan area budidaya dan biaya untuk pakan serta peningkatan kebutuhan air (Sitompul, 2012).

PENULIS
Nindi Safitriani
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alderton D. 2005. Encyclopedia of Aquarium and Pond Fish. New York, USA: DK Publication Inc.
Arhayu, M. I. 2013. Fertilisasi. Jakarta
Bachtiar, Y. 2006. Panduan Lengkap Budidaya Lele Dumbo. PT Agromedia Pustaka. Jakarta. 
Dardiani dan I. R. Sary. 2010. Manajemen Pemeliharaan Induk. Diktat. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Elpawati., D. R. Pratiwi., dan N. Radiastuti. 2015. Aplikasi Effective Microorganism 10 (Em10) Untuk Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias Gariepinus Var. Sangkuriang) Di Kolam Budidaya Lele Jombang, Tangerang. Jurnal Biologi. Vol 8 No 1 Hal 6-14
Fahri H.,2011., Pemulian Ikan Hias Mas Koki.,Universitas Negri Jakarta.,Jakarta
Gusrina. 2008. Budidaya ikan. Departemen pendidikan nasional:Jakarta. 355 hal.
Hernowo dan S.R Suyanto. 2010. Pembenihan dan Pembesaran Lele. Penebar Swadaya, Jakarta.
Lingga Pinus dan Heru Susanto, 1989, Ikan Hias Air Tawar, Penebar Swadaya Jakarta.
Prihatman, K. 2000. Budidaya Ikan Lele. Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jakarta.
Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. 2011. Budidaya Ikan Lele. Departemen Perikanan dan Kelautan, Jakarta.
Saanin. H., 1995., Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan., Bina Cipta., Bandung.
Saxby A, Adams L, Snellgrove D, Wilson RW, Sloman KA. 2010. The effect of group size on the behaviour and welfare of four fish species commonly kept in home aquaria. Applied Animal Behaviour Science 125: 195–205.
Sudarto. 2004. Karakteristik genetik ikan lele. Balai riset perikanan budidaya air tawar, bogor
Wemeyer. 1996. Physiology of fishin intensive Culture system. Chapman and hill

No comments:

Post a Comment