Thursday, April 16, 2020

Jaring Makanan Ikan Nila (Dasar Akuakultur Atau Aquaculture)



Dalam tugas paper ini akan dijelaskan mengenai hubungan makan da dimakan antar organisme rawa dan ikan nila (Oreochromis niloticus) sebagai subjek utamanya.

Jaring makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan. Jaring makanan merupakan sekumpulan dari rantai makanan yang saling berhubungan, di mana jaring makanan bergerak secara paralel dari produsen ke konsumen teratas. Panjang  jaring makanan ditentukan dari seberapa banyak titik yang menghubungkan antar tingkatan trofik semakin pendek rantai penghubung semakin besar pula energi yang tersedia.

Dalam siklus jaring makanan di perairan rawa tempat alami hidup ikan Nila (Oreochromis niloticus). Fitoplankton sebagai sumber energi utama/produsen yang mengolah makanan melalui proses fotosintesis, Selanjutnya dimakan Zooplankton yang merupakan konsumen kedua, dan dimakan ikan kecil yang merupakan konsumen ketiga,  ikan kecil dimakan ikan besar, dan ikan besar diurai oleh pengurai.

1. Fitoplankton
Fitoplankton merupakan tumbuh-tumbuhan air dengan ukuran yang sangat kecil dan hidup melayang di dalam air. Fitoplankton mempunyai peranan yang sangat penting dalam ekosistem perairan, sama pentingnya dengan peranan tumbuh-tumbuhan hijau yang lebih tingkatannya di ekosistem daratan. Fitoplankton juga merupakan produsen utama (Primary producer) zat-zat organik dalam ekosistem perairan, seperti tumbuh-tumbuhan hijau yang lain. Fitoplankton membuat ikatan-ikatan organik sederhana melalui fotosintesa (Hutabarat dan Evans, 1986).

Fitoplakton dikelompokkan dalam 5 divisi yaitu: Cyanophyta, Crysophyta, Pyrrophyta, Chlorophyta dan Euglenophyta (hanya hidup di air tawar), semua kelompok fitoplankton ini dapat hidup di air laut dan air tawar kecuali Euglenophyta (Sachlan, 1982).

2. Zooplankton
Zooplankton merupakan produsen sekunder sehingga penting dalam jaring-jaring makanan di suatu perairan. Zooplankton memangsa fitoplankton dimana fitoplankton itu sendiri memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis (Kaswadji et al., 1993). Pada proses selanjutnya zooplankton merupakan makanan alami bagi larva ikan dan mampu mengantarkan energi ke jenjang tropik yang lebih tinggi. Dalam hubungan dengan rantai makanan zooplankton berperan sebagai penghubung produsen primer dengan tingkat pakan yang lebih tinggi, sehinnga kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan peraiaran (Arinardi et. al., 1994).

Arinardi et al., (1994) mengatakan bahwa beberapa filum hewan terwakili di dalam kelompok zooplankton. Zooplankton terdiri dari beberapa filum hewan antara lain :filum Protozoa, Cnidaria, Ctenophora, Annelida, Crustacea, Mollusca, Echinodermata, dan Chordata.

Pada proses selanjutnya zooplankton merupakan makanan alami bagi larva ikan dan mampu mengantarkan energi ke jenjang tropik yang lebih tinggi. Dalam hubungan dengan rantai makanan zooplankton berperan sebagai penghubung produsen primer dengan tingkat pakan yang lebih tinggi, sehinnga kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan peraiaran (Arinardi et. al., 1994).

3. Eceng Gondok
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut

4. Ikan Nila
Ikan nila merupakan ikan baru di negeri kita. Ikan ini sesugguhny blm lama masuk ke indonesia yaitu dalam bulan Juni 1969 dan berasal dari taiwan. Nama latinny adlh Oreochromis niloticus dari nama indonesia Ikan Nila. Nama ini diambil dari kata nilotica. Sedangkn kata nilotica sendiri berasal dr kt Nile atau Nil, yaitu nama sungai besar di Afrika, yg bermuara di pantai utara Mesir. (Mudjiman, 2010).

Menurut Amri (2008) bahwa ikn nila (Oreochromis sp) secara sistematis tergolong dalam:
Filum: Chordata
Sub filum: Vertebrata
Kelas: Pisces
Sub kelas:Acanthopterigi
Ordo: Perciformes
Famili: Cichlidae
Genus: Oreochromis
Spesies: Oreochromis sp.

Awalnya ikan nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica atau ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva di mulut induknya. Dalam perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkan ikan nila ke dalam jenis Sarotheredon niloticus atau kelompok ikan tilapia yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induk jantan dan betinanya. Akhirnya diketahui bahwa yang mengerami telur dan larva di dalam mulut ikan nila hanya induk betinanya. Para pakar perikanan kemudian memutuskan bahwa nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah  Oreochromis niloticus atau Oreochromis sp. Nama nilotica menunjukan tempat ikan ini berasal, yakni sungai Nil di Benua Afrika (Amri dan Khairul, 2008).

5. Ikan Gabus
Ikan Gabus termasuk kedalam hewan karnivora yang hidup didasar perairan, cenderung hidup dirawa, sungai dan perairan keruh. Saanin (1976) mengklasifikasikan ikan Gabus sebagai berikut: Kelas Pisces, Ordo Teleostei, Famili Ophiochephalidae, Spesies (Channa striata).

6. Pengurai
Bakteri pengurai merupakan kelompok bakteri yang mampu mendekomposisi organisme lain yang telah mati menjadi unsur-unsur penyusunnya yang akan kembali ke lingkungan. Bakteri pengurai ini termasuk ke dalam organisme saprofit karena kemampuannya untuk menguraikan senyawa organik yang ada di alam. Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang telah mati dan sisa-sisa atau kotoran organisme. Contoh dari bakteri pengurai: Proteus mirabilis

PENULIS
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Uiversitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Amri K., Khairul. 2008. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif. Jakarta: AgroMedia Pustaka
Arinardi, O.H, Trimaningsih, S.H. Riyono, E. Asnaryanti. 1994. Pengantar Tentang Plankton Serta kisaran Kelimpahan dan Plankton Predominan disekitar Pulau Jawa dan Bali. LP3O- LIPI. Jakarta : 113 hlm.
Eceng Gondok, tumbuhan pengganggu yang bermanfaat". e-smartschool.com: [diakses pada 22 April 2016].
Hutabarat, S & Evans, S. M. (1986). KunciIdentifikasi Zooplankton.Jakarta: UI-Press.
Kaswadji,R.F, Widjaja dan Y. Wardianto. 1993. Produktifitas Primer dan Laju
Meadows, P.S., and J.I. Campbell.1993. An Introduction to Marine Science. 2 nd Edition, Halsted Press, USA. pp: 68 – 85; 165 – 175
Mudjiman, Ahmad. 2010. Budidaya Ikan Nila. Jakarta: Yasaguna
Pertumbuhan Fitoplankton di Perairan Pantai Bekasi. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia.
Saanin, H. 1976. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Bagian 1. Bina Cipta. Bandung. 520 hal.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang. 177 hlm.
Todar K. 2008. Online Textbook of Bacteriology. http://www.textbookofbacteriology.net/index.html [diakses pada 22 April 2016].

No comments:

Post a Comment