Sunday, April 12, 2020

Dasar-Dasar Akuakultur (Dasar Akuakultur Atau Aquaculture)



Indonesia merupakan negara kepulauan yang 2/3 dari wilayahnya tertutup air. Untuk itu, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam sektor perikanan. Penambahan jumlah penduduk berpengaruh juga diberbagai segi kehidupan manusia. Kenaikan jumlah penduduk tidak hanya menuntut peningkatan penyediaan bahan pangan, tapi juga peningkatan dibidang gizi. Salah satu cara memenuhi kebutuhan gizi adalah melalui pengembangan usaha budidaya ikan.

Akuakultur adalah kegiatan membudidayakan organisme air didalam kondisi yang terkontrol atau semi terkontrol. Budidaya pada umumnya dikelompokkan menjadi budidaya air tawar, air payau dan budidaya air laut. Dari segi tekniknya budidaya dikelompokkan menjadi budidaya intensif, budidaya semi intensif dan budidaya ekstensif. Sedangkan menurut Handajani et al. (2002), budidaya perairan atau akuakultur merupakan usaha pengolahan sumber-sumber perikanan yang paling nasional dilakukan secara buatan atau artificial dan tidak bergantung pada metode tradisional.

Budidaya merupakan salah satu bidang perikanan yang sangat penting dalam penyediaan benih dan bibit ikan. Dalam dunia perikanan memegang peranan yang sangat penting karena bergerak dalam sektor melestarikan hasil-hasil perikanan yang sangat kaya akan kandungan protein dan sangat bermanfaat bagi masyarakat. 

PENGERTIAN AKUAKULTUR
Budidaya air (Aquaculture) adalah  kegiatan mengembang-biakkan organisme air dalam keadaan terkontrol maupun semi-terkontrol. Budidaya organisme air meliputi:
1. Pengadaan penyediaan benih (Breeding)
2. Penebaran (Stocking)
3. Peningkatan produksi makanan alami
4. Pemberian makanan (Artifical Breeding)
5. Mengontrol parasit dan penyakit
6. Pemberantasan hama
7. Pemanenan (Harvesting)
8. Pemasaran (Marketing)
Ada dua macam budidaya dalam dunia perikanan yaitu monokultur dan polikultur. Monokultur adalah budidaya yang dilakukan dengan memelihara (Stocking) satu spesies ikan di dalam sebuah kolam. Sistem ini biasa digunakan dalam budidaya intensif, karena padat penebarannya sangat tinggi serta tergantung pada pakan tambahan. Selain itu perlu adanya aerasi tambahan dan pergantian serta sirkulasi air yang teratur.

Polikultur merupakan salah satu jenis budidaya dengan cara memelihara lebih dari satu jenis ikan dalam satu kolam yang sama, dengan penebaran ikan yang mempunyai kebiasaan makan yang berbeda serta menempati ruang hidup yang berbeda. Polikultur ditujukan untuk meningkatkan produksi dengan cara pemanfaatan makanan alami yang lebih baik. 

PERSIAPAN KOLAM 
Pengolahan tanah dasar terdiri dari pencangkulan dan perataan. Setelah itu dinding kolam diperkeras untuk mencegah kebocoran serta memperbaiki tanggul yang mengalami kerusakan. Pembuatan kamalir sebagai tempat berlindung ikan atau benih sekaligus mempermudah pemanenan.

Persiapan kolam merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memulai kegiatan budidaya. Persiapan kolam dalam budidaya perikanan meliputi berbagai macam kegiatan diantaranya pengeringan kolam, pembalikan tanah, pengapuran, pemupukan, pengisian air, dan perbaikan pematang sebelum dilakukan penebaran benih. Dalam sistem budidaya, pengolahan tanah merupakan suatu hal yang penting. Pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki tekstur tanah agar lebih gembur sehingga memudahkan untuk ditembus oleh akar tanaman dan menambah unsur hara melalui pemupukan. Proses budidaya terus menerus akan mempengaruhi komposisi bahan organik dan bahan mineral.

KEGIATAN BUDIDAYA
Ada 5 langkah yang penting dalam melakukan kegiatan budidaya perikanan, yaitu:
1. Pengeringan, bertujuan untuk menguapkan gas beracun dalam tanah, mengembalikan unsur hara, tanah, memperbaiki struktur tanah, dasar kolam dan membunuh hama dan penyakit.
2. Pemupukan, bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami yang berupa plankton, klekap dan lumut.
3. Pengapuran, bertujuan untuk meningkatkan derajat keasaman (pH).
4. Aerasi, suatu usaha untuk mensuplai oksigen didalam air dengan menggunakan suatu alat aerator.
5. Resirkulasi, suatu usaha untuk menjaga dan memperbaiki kualitas air yaitu dengan sistem mendaur ulang air buangan.
Kegiatan-kegiatan dalam budidaya meliputi :
1. Pembenihan
2. Pendederan
3. Pembesaran
4. Pemasaran.

TANAH YANG BAIK UNTUK BUDIDAYA
Tanah yang baik untuk budidaya adalah tanah liat sebab tanah yang demikian ini dapat menahan air lebih lama dan mudah untuk dibuat pematang yang kokoh. Apabila tanahnya liat dan pematangnya kokoh, itu akan menahan genangan air setidaknya selama 5 hingga 6 bulan. Selama waktu tersebut kita mempunyai kesempatan yang cukup untuk memelihara ikan.

Dalam sistem budidaya, pengolahan tanah merupakan suatu hal yang penting. Pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki tekstur tanah agar lebih gembur sehingga mudah untuk ditembus oleh akar tanaman dan menambah unsur hara melalui pemupukan. Proses budidaya terus menerus akan mempengaruhi komposisi bahan organic dan bahan mineral.

PENGAPURAN
Kolam pemeliharaan ikan idealnya memiliki pH netral, yakni antara 6.5 - 7.5. untuk menentukan besarnya pH dapat digunakan kertas lakmus atau pH meter. Menentukan  pH agar tidak asam dilakukan dengan penambahan kapur (CaCO3). Ketika menambahkan bahan-bahan tersebut harus dilakukan tidak lebih dari 0.3 unit perhari. Setiap kali penambahan bahan dilakukan, pengukuran pH juga harus dilakukan.
Apabila pH suatu perairan di bawah 6,5 perairan dikatakan terlalu asam. Untuk menaikkan pH dapat dilakukan pengapuran dengan CaCO3. Kebutuhan kapur untuk setiap kolam berbeda-beda tergantung dengan letak dan keasaman kolam.
Jenis kapur yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa macam, yaitu:
a. Kapur pertanian yaitu kapur karbonat : CaCO3 atau (CaMg (CO3)2). Kapur karbonat yaitu kapur yang bahannya dari batuan kapur tanpa lewat proses pembakaran tanpa langsung digiling
b. Kapur perikanan (Tohor: CaO), yaitu kapur yang bahannya dari batuan kapur yang melalui proses pembakaran
c. Kapur Mati Ca(OH)2
d. Dolomite CaMg(CO3)2

PEMUPUKAN
Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung suatu lebih unsur hara bagi tanah. Bahan tersebut berupa mineral atau organik, dihasilkan oleh kegiatan alam atau diolah oleh manusia di pabrik. Unsur hara yang diperlukan oleh tanah adalah C.H.O (ketersediaan di alam masih melimpah) N, P, K, Ca, Mg, S (hara makro, kadar dalam tanaman <100 ppm). Pembagian pupuk:

PUPUK KANDANG
- Pupuk panas: pupuk yang penguraiannya berjalan sangat cepat sehingga terbentuk panas. Kelemahan dari pupuk panas ialah mudah menguap karena bahan organiknya tidak terurai secara sempurna sehingga banyak yang berubah menjadi gas. Contoh: kotoran ayam
- Pupuk dingin: pupuk yang penguraiannya berjalan sangat lambat sehingga tidak terbentuk panas. Contoh: kotoran sapi

PUPUK BUATAN
Pemupukan mempunyai dua tujuan utama, yaitu mengisi perbekalan zat makanan tanaman yang cukup dan memperbaiki atau memelihara keutuhan kondisi tanah, dalam hal struktur, kondisi pH, potensi pengikat terhadap zat makanan tanaman dan sebagainya. Guna mencapai tujuan diatas pemupukan harus mengikuti prinsip enam tepat, yaitu: tepat jumlah, jenis, cara, tempat, waktu dan disesuaikan dengan sifat atau jenis tanah.

Setelah dikeringkan, pematang kolam diperbaiki. Tanah dasar dicangkul dan dibiarkan kering 2 hingga 3 hari. Pupuk organik atau pupuk anorganik lalu ditebarkan secara merata dan kolam digenangi air 30 hingga 40 cm. Kolam dibiarkan 5 hari hingga pakan alami tumbuh.

KUALITAS AIR 
Akuakultur tidak akan pernah terlepas dari peranan air sebagai media hidup ikan. Air merupakan media hidup ikan yang memiliki kapasitas besar dalam menjaga tingkat kelulusan hidup ikan. Akan tetapi, pada hakikatnya air bersifat universal solventsehingga, air memiliki peluang untuk tercemar dalam jangka waktu yang cepat. Sehingga, hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas air dalam kegiatan budidaya. 

Parameter kualitas air dibedakan menjadi 3 diantaranya parameter kualitas air fisika, kimia dan biologi. Ketiga parameter kualitas air tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain.

Kualitas air untuk budidaya sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kandungan O2 terlarut, CO2 bebas, pH, NH3, alkalinitas dan NO2. Setiap faktor kualitas air tersebut dapat saling berinteraksi dengan parameter lain, sehingga dapat menyebabkan adanya perubahan terhadap kondisi air. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan monitoring terhadap kualitas air secara berkesinambungan karena tidak hanya sekedar berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan (reproduksi) tetapi juga kelangsungan hidup ikan.

Penurunan kualitas air seperti oksigen terlarut, suhu dan peningkatan ammonia dapat menyebabkan kematian pada ikan. Seperti pH, alkalinitas, kekerasan dan kecerahan mempengaruhi ikan, tetapi biasanya ikan tidak sampai mengalami kematian. Setiap faktor kualitas air berinteraksi dengan dan pengaruh parameter menyebabkan racun pada air dan dapat mematikan. Sehingga sangat penting adanya monitoring kualitas air secara intensif selama masa pemeliharaan dari sistem budidaya perikanan dan metode untuk monitoring kualitas air secara intensif selama masa pemeliharaan dari sistem budidaya perikanan dan metode untuk monitoring kualitas air akan dijelaskan dalam tulisan ini. Kualitas air tidak hanya menentukan seberapa baik ikan akan tumbuh dalam sistem budidaya, tapi apakah mereka mampu bertahan hidup. Kualitas air akan mempengaruhi ikan melalui proses seperti respirasi dan metabolisme nitrogen.

PARAMETER KUALITAS AIR

PENGERTIAN SUHU
Suhu merupakan derajat panas dinginnya suatu perairan. Suhu adalah salah satu faktor penting untuk kelangsungan kehidupan ikan di suatu perairan. Suhu di perairan indonesia untuk sekarang ini semakin tinggi fluktuasinya sehingga kelangsungan kehidupan makhluk hidup diperairan (ikan) akan semakin terancam karena tidak mampu menyesuaikan dengan suhu lingkungan yang terkadang tiba-tiba berubah dengan drastis misal pada musim pancaroba. Setiap ikan memiliki batas optimal dan minimal batas toleransi terhadap suhu di perairan. Ikan sebagian besar merupakan hewan poikiloterm yaitu suhu tubuh yang  selalu  menyesuaikan dengan suhu lingkungan.

Suhu selama proses pengeringan merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan, karena perlakuan dalam suhu tinggi secara tiba-tiba tanpa penaikan suhu yang bertahap dapat mengakibatkan terjadi pengeringan yang terlalu cepat dipermukaan ikan.

PENGERTIAN KECERAHAN
Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan aktifitas fotosintesa. Kecerahan merupakan faktor penting bagi proses fotosintesa dan produksi primer dalam suatu perairan. Dengan diketahuinya intensitas cahaya pada berbagai kedalaman tertentu, kita dapat mengetahui sampai dimanakah masih ada kemungkinan terjadinya proses asimilasi di dalam air. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan dan pengukuran cahaya sinar matahari di dalam air dapat dilakukan dengan menggunakan lempengan atau kepingan Secchi disk.

TURBIDITAS
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organic yang berupa plankton dan mikro organism lain. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas, yang setara dengan 1mg/liter SiO2. 

Kekeruhan pada air yang tergenang (lentik), misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus. Sedangkan kekeruhan pada sungai yang sedang banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi yang berukuran lebih besar, yang berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya, pernafasan dan daya lihat organism akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya kedalaman air. Tingginya nilai kekeruhan juga dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air.

Metode yang biasa digunakan untuk mengukur turbiditas suatu larutan adalah turbidimetri dengan alat turbidimeter. Dasar dari analisis turbidimetri adalah pengukuran intensitas cahaya yang ditranmisikan sebagai fungsi dari konsentrasi fase terdispersi, bilamana cahaya dilewatkan melalui suspensi maka sebagian dari energi radiasi yang jatuh dihamburkan dengan penyerapan, pemantulan, dan sisanya akan ditranmisikan. Prinsip umum dari alat turbidimeter adalah sinar yang datang mengenai suatu partikel ada yang diteruskan dan ada yang dipantulkan, maka sinar yang diteruskan digunakan sebagai dasar pengukuran.

PENGERTIAN DERAJAT KEASAMAN (PH)
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. pH didefinisikan sebagai kologaritmaaktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.

Derajat keasaman lebih dikenal dengan istilah pH. pH yaitu logaritma dari kepekaan ion-ion H yang terlepas dalam suatu cairan. Derajat keasaman atau pH air menunjukkan aktivitas ion Hidrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen dalam mol/liter pada suhu tertentu atau dapat  ditulis pH = -log (H)+.

PENGERTIAN OKSIGEN TERLARUT (DO)
Oksigen terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut di dalam air karena ikan tidak dapat mengambil oksigen dalam perairan dan difusi dengan udara. Satuan pengukuran oksigen terlarut adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l gas oksigen yang terlarut dalam air atau dalam satuan internasional dinyatakan ppm (part per million). Air mengandung oksigen dalam jumlah tertentu tergantung dari kondisi air itu sendiri.

Oksigen terlarut (Dissolved oxygen) digunakan untuk bernafas, proses metabolisme dan pembiakan. Oksigen mengandung peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik.

PENGERTIAN KARBONDIOKSIDA (CO2)
Karbondioksida adalah gas yang tersusun atas satu atom karbon dan dua atom oksigen. Di perairan, sumber karbondioksida utama berasal dari hasil respirasi ikan dan difusi dari atmosfer. Atmosfer bumi mengandung karbondioksida dengan persentase yang relative kecil (0,033%), meskipun persentase karbondioksida di atmosfer kecil, akan tetapi keberadaan karbondioksida di perairan relative banyak, karena karbondioksida memiliki sifat kelarutan yang tinggi.

Kadar CO2 yang bebas didalam air tidak boleh mencapai batas yang mematikan. Pada kadar 20 ppm sudah merupakan racun bagi ikan dan mematikan ikan jika kelarutan oksigen didalam air kurang dari 5 ppm (5 mg/l).

PENGERTIAN AMMONIA
Ammonia merupakan salah satu gas yang umum dijumpai dalam air. Ammonia mudah tertimbun di dalam sistem perairan karena ia merupakan hasil samping alami metabolisme ikan serta hasil penguraian sisa-sisa makanan dan bahan organik lainnya. Ammonia merupakan hasil perombakan asam-asam amino oleh berbagai jenis bakteri aerob dan anaerob, ammonia dalam perairan tidak terlalu berbahaya jika air itu diberi klor. Peningkatan kadar amoniak NH3 dalam perairan dipicu oleh tingginya proses perombakan protein yang dilakukan oleh bakteri dan akan menghasilkan nitrat, kadar ammonia ini juga dipicu oleh tinggi rendahnya suhu dalam perairan tersebut karena dengan adanya fluktuasi suhu dalam perairan akan menyaebabkan perbedaan tingkat respirasi bakteri yang akan mengakibatkan perombakan protein dalam perairan.

Ammonia sangat mudah larut dalam air dan bereaksi menjadi amonium dan ion hidroksil. Oksidasi ammonia juga berjalan dengan cepat sehingga substansi ini menjadi NO2 dan NO3 pada air mengalir dengan bantuan-bantuan bakteri pengikat nitrogen.

PENGERTIAN NITRAT NITROGEN
Nitrat merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat tumbuh dan berkembang, sementara nitrit merupakan senyawa toksik yang dapat mematikan organisma air. Secara alamiah kadar nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali dalam air tanah didaerah yang diberi pupuk nitrat/nitrogen. nitrogen di perairan terdapat dalam bentuk gas N2, NO2-, NO3-, NH3 dan NH4+ serta sejumlah N yang berikatan dalam organik kompleks. Sumber nitrogen terbesar berasal dari udara, sekitar 80% dalam bentuk nitrogen bebas yang masuk melalui sistem fiksasi biologis dalam kondisi aerobik.

Nitrat merupakan produk akhir dari oksidasi ammonia, nitrat ini merupakan substansi yang dapat ditoleransi oleh kebanyakan ikan sehingga keberadaannya dapat diabaikan. Namun, bagi hewan avertebrata seperti udang, nitrat ini tidak tertoleransi. Pengguna nitrat adalah taman dan alga karena berfungsi sebagai pupuk untuk pertumbuhannya.

PENGERTIAN ORTHOFOSFAT
Orthofosfat merupakan kandungan fosfat yang terlarut dalam air. Orthofosfat juga merupakan nutrisi yang paling penting dalam menentukan produktivitas perairan. Keberadaan fosfat di perairan dengan segera dapat diserap oleh bakteri, fitoplankton dan makrofita.

Diperairan unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik terlarut dan senyawa organik yang berupa partikular. Fosfor berbentuk kompleks dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, bersifat tidak terlarut dan mengendap pada sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh alga akuatik.

PENEBARAN BENIH
Padat penebaran merupakan faktor penting karena terkait dengan sistem pengelolaan. Semakin tinggi padat penebaran, semakin banyak pula kegiatan yang dilakukan oleh pengelolaannya. Peningkatan padat penebaran dimaksudkan untuk meningkatkan produksi dan pemanfaatan lahan secara optimal. Padat tebar merupakan jumlah kepadatan ikan setiap meter persegi (m2).

Penebaran benih hendaknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Pada kedua kondisi ini umumnya perbedaan nilai suhu air pada permukaan dan dasar kolam tidak terlalu besar. Jika perbedaan suhu air wadah benih dan air kolam tebar cukup signifikan, maka perlu dilakukan upaya penyamaan suhu air wadah benih secara bertahap terlebih dahulu agar benih tidak stres saat ditebarkan. Kedalaman air kolam tebar pun hendaknya disesuaikan dengan jumlah dan ukuran benih. Sedapat mungkin hindari penebaran benih pada kondisi terik matahari secara langsung. Sebaiknya benih ikan tidak ditebar langsung dari wadah ke kolam. Cara yang sering dilakukan adalah menenggelamkan sekaligus wadah dan benih ikan ke dalam kolam tebar secara hatihati, perlahan dan bertahap. Benih ikan akan mendapat kesempatan beradaptasi (walau sebentar) dengan lingkungan air kolam tebar sedini mungkin meskipun masih berada dalam wadahnya. Kemudian benih ikan dibiarkan keluar sendiri-sendiri dari wadahnya secara bertahap menuju lingkungan air kolam tebar yang sesungguhnya.

KONVERSI PAKAN
Dalam kegiatan budidaya, pakan merupakan salah satu faktor utama yang tidak bisa diabaikan atau dimarjinalkan begitu saja. Karena pakan dalam budidaya ini akan memberikan kontribusi terbesar pada production cost atau biaya produksi yang terus melambung. Menurut Handajani dan Widodo (2010), dalam budidaya ikan secara intensif, pakan buatan disediakan untuk memenuhi kebutuhan ikan, dimana biaya pakan dapat mencapai 60% dari biaya produksi.

Tujuan pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi untuk kesehatan yang baik, pertumbuhan dan hasil panenan yang optimum, produksi limbah yang minimum dengan biaya yang masuk akal demi keuntungan yang maksimum. Pakan yang berkualitas kegizian dan fisik merupakan kunci untuk mencapai tujuantujuan produksi dan ekonomis budidaya ikan.Pengetahuan tentang gizi ikan dan pakan ikan berperan penting dalam mendukung pengembangan budidaya ikan (aquaculture) dalam mencapai tujuan.

PENGERTIAN FOOD CONVERTION RATIO (FCR) 
FCR (Food Convertion Ratio) adalah perbandingan jumlah pakan kumulatif yang telah diberikan dengan biomass yang dihasilkan dalam waktu tertentu. Biasa disebut rasio konversi pakan atau biasa disingkat RKP (Marindro, 2011).

FCR merupakan kepanjangan dari Feed Convertion Ratio, artinya beberapa rasio pakan atau definisi yang sangat mudah dipahami, FCR adalah beberapa banyak pakan (kg) yang dialirkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan (Sunarma, 2008). Adapun rumus dari perhitungan FCR yaitu:
 
FCR=∑Pakan yang ditebar/Berat ikan yang dipanen

PENGERTIAN PERTUMBUHAN
Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur, dan keseimbangan metabolik.

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Perkembangan menyangkut adanya hasil proses pematangan. Sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa, sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya termasuk juga tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. 

PENGERTIAN SURVIVAL RATE (SR)
Istilah ini menunjukkan tingkat kehidupan organisme dalam satu periode tertentu dibandingkan dengan padat penebaran pada saat tebar, variabelnya diperoleh melalui kegiatan populasi secara periodik (Marindro, 2011).

Survival Rate atau biasa dikenal dengan SR dalam perikanan budidaya merupakan indeks kelulushidupan suatu jenis ikan dalam suatu proses budidaya dari mulai awal ikan ditebar hingga dipanen. Jika ikan yang hidup saat panen banyak, dan yang mati hanya sedikit tentu nilai SR akan tinggi, namun sebaliknya jika jumlah ikan yang hidup saat dipanen sedikit, tentu nilai SR akan rendah. Nilai SR ini dihitung dalam bentuk angka presentase, mulai dari 0-100%, dengan  rumus:

SR=(Jumlah ikan yang dipanen/Jumlah ikan yang ditebar)X100%

PENGERTIAN GROWTH RATE (GR)
Growth rate adalah jumlah dari kenaikan maka sebuah spesifik variabel  pertumbuhan diiringi dengan periodenya dan koneksinya. Growth rate berpengaruh dalam bidang ekonomi untuk perindustrian dan pemeliharaan ikan bagaimanapun yang tinggi dari pertumbuhan di masa mendatang.

Growth Rate (GR) adalah pertambahan bobot rata-rata tiap hari. Rumus dari Growth Rate yaitu: 

GR =  (Wt-Wo)/t

Dimana,
GR    = Pertumbuhan mutlak (gram/hari)
Wt     = Berat rata-rata ikan pada hari ke-t  (gram)
Wo    = Berat rata-rata ikan pada hari ke-0  (gram)
t         = waktu (hari)

PENGERTIAN PRODUKSI
Menurut Az-zarnuji dan Mulyo (2009), produksi diartikan sebagai penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya yang mampu mengubah komoditi menjadi komoditi lainnya. Pengertian fungsi produksi adalah suatu hubungan diantara faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya. Dalam proses produksi tentunya membutuhkan faktor-faktor produksi dalam kegiatan budidaya diantaranya : tanah, modal dan keahlian. Atau sitilah faktor produksi lebih sering dikenal dengan istilah input , production factor dan biaya produksi. 
Menurut Jauhari, R. Z. dan Fadholi, M. R. (2010), Rumus perhitungan produksi dalam kegiatan budidaya:

Produksi (gr/Ha/hari) = GR x Density

Dimana,
Produksi  : Jumlah produksi (gr/Ha/hari)
GR           : pertambahan bobot rata-rata tiap hari (gram/hari)
Density    : Kepadatan ikan dalam kolam (ikan/Ha)

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

No comments:

Post a Comment