Thursday, February 13, 2020

Gurita; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.Octopus vulgaris memiliki 8 lengan dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. O. vulgaris tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar, hanya paruh yang merupakan bagian terkeras dari tubuh O. vulgaris yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Selubung bagian perut tubuh O. vulgaris disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung. O. vulgaris memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk memompa darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh. O. vulgaris bernafas dengan menyedot air ke dalam rongga mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon. O. vulgaris memiliki insang dengan pembagian yang sangat halus, berasal dari pertumbuhan tubuh bagian luar atau bagian dalam yang mengalami vaskulerisasi.

KLASIFIKASI GURITA
Klasifikasi Gurita (Octopus sp.) menurut Saanin (2001).
Kingdom
: Animalia
Filum
: Moluska
Kelas
: Cephalopoda
Subkelas
: Coleoidea
Ordo
: Octopoda
Sub Ordo
: Incirrata
Famili
: Octopodidae
Genus
: Octopus
Spesies
Octopus sp.

MORFOLOGI GURITA


Secara umum tubuh gurita dibedakan menurut bagian kepala, leher dan tubuh. Pada daerah kepala terdapat delapan lengan yang berfungsi untuk menangkap mangsa dan bergerak. Mulut gurita terdapat dalam cincin lengan. Pada bagian dalam mulut terdapat sepasang rahang yang saling tumpang tindih berbentuk seperti paruh kakatua terbalik dan juga gigi parut atau radula. Gurita memiliki dua mata yang besar dan menonjol di sekitar pinggiran kepala. Gurita punya medan penglihatan hampir 3600 sehingga mampu mendeteksi mangsa dan musuh. Mata gurita memiliki kelopak mata, kornea, lensa dan retina yang mirip dengan mata hewan vertebrata. Mata dapat digerakkan, menutup, membuka, dikedipkan serta dapat memfokuskan dengan baik bayangan obyek yang terlihat (Wood, et.al., 1997).

Batang tubuh gurita menyerupai kantong tanpa sirip lateral dan dibungkus oleh mantel yang akan membentuk leher pada batas kepala dan pangkal tubuh. Air dapat masuk lewat bagian tepi leher dengan jalan membesarkan mantel dan selanjutnya air disemprotkan keluar melalui sifon dengan cara mengkontraksi (Brusca dan Brusca 1990).

REPRODUKSI GURITA
Gurita jantan meletakkan sperma  ke dalam mantel gurita betina menggunakan lengan khusus yang disebut hectocotylus. Beberapa bulan setelah masa kawin, gurita jantan akan mati. Setelah dibuahi, 2 bulan kemudian gurita betina akan bertelur (dapat mencapai 200.000 butir) dan menggantung kumpulan telur berbentuk kapsul membentuk untaian di langit-langit sarang. Induk gurita sangat peduli terhadap telurnya. Mereka akan menjaga sarang dari predator dan dengan lembut mengipaskan arus air agar telur-telurnya tidak kekurangan oksigen. Gurita betina tidak makan selama merawat telurnya (hingga 6 bulan). Tidak lama setelah telur-telur menetas, induk gurita akan mati.

Setelah telur menetas, larva gurita akan melayang bersama kawanan plankton sambil memangsa copepod, larva kepiting & larva bintang laut sampai cukup besar dan berat untuk berada di dasar laut. Gurita muda meningkatkan berat badan sebesar 5 persen setiap hari. Gurita remaja tumbuh dengan kecepatan yang cepat, karena rentang hidup gurita yang singkat. Sebagian besar spesies gurita hidup antara 12-18 bulan dan berkembang biak sekali seumur hidup. Gurita raksasa Pasifik Utara (beratnya bisa mencapai 40 kg) mampu hidup hingga 5 tahun dalam kondisi lingkungan ideal. Setelah berumur antara 1-2 tahun, gurita dewasa siap untuk kawin. Siklus pun berulang.

CIRI-CIRI GURITA
Gurita memiliki 8 tentakel, lebih besar dari cumi-cumi, mempunyai tinta, kepalanya besar, letak mulut berada di tengah-tengah kepala bagian bawah, termasuk hewan invertebrata, kebanyakan bisa merubah warnanya, gurita juga tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar.

HABITAT GURITA
Gurita dapat ditemukan di daerah tropis perairan dangkal sampai perairan dalam di region Indo-Pasific, dari Hawaii sampai pantai timur benua Afrika. Terdapat pula di daerah subtropis yaitu di bagian selatan Jepang dan New South Wales, Australia. Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap gurita secara umum adalah alat tangkap bubu gurita, tombak, dan trap (perangkap). dan trap tidak banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia dikarenakan kompleksitas di dalam operasi penangkapan. Alat tangkap tombak banyak digunakan. Namun kendala yang sering ditemukan adalah nelayan harus menyelam dengan cara memasukan tombak/pengait ke lubang-lubang karang sehingga tidak sedikit karang yang rusak (Edwards, 2001).

MANFAAT GURITA
Phylum molusca  menguntungkan karena digunakan sebagai sumber makanan yang mengandung protein hewani yang cukup tinggi, selain itu juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena mempunyai harga yang tinggi contohnya cumi-cumi, gurita, kalandue, dan burungo selain itu cangkang juga dapat dijadikan sebagai bahan industri dan hiasan karena memiliki warna yang indah. Terutama jenis tiram yang menghasilkan mutiara yang merupakan komoditas ekspor utama (Saktiono, 2005).

TINGKAH LAKU GURITA
Gurita mengkamuflasekan dirinya menjadi mirip dengan lingkungannya sehingga mangsanya tidak dapat mengenalinya. Kemudian dengan cepat tentakelnya akan menangkap mangsa tersebut dan umunya hewan yang telah ditangkap oleh gurita sulit untuk melarikan diri karenm tentakel yang menghisap kuat hewan tersebut. Selain itu kemampuan gurita dalam menyamar tersebut juga dapat digunakan untuk menghidarkan dirinya dari sang predator atau musuhnya. Namun, apabila dalam keadaan mendesak, gurita tersebut akan menyemburkan tinta yang berwarna hitam  tebal sehingga gurita dapat melarikan diri. Berdasarkan penelitian, tinta yang dihasilkan oleh gurita tersebut merupakan tinta yang memiliki pigmen hampir sama dengan pigmen hitam rambut. Selain itu kemampuan gurita dalam mengklamufasekan dirinya disebabkan oleh adanya sel- sel Kromatofora.

Gurita bergerak dengan cara merayap atau berenang. Gurita cukup merayap ditambah sedikit berenang jika ingin bergerak secara perlahan dan hanya berenang jika ingin bergerak cepat-cepat. Gurita bisa bergerak cepat sekali sewaktu sedang lapar atau sewaktu dalam bahaya. Kadar oksigen dalam darah diperkirakan hanya sekitar 4% sehingga gurita mempunyai stamina rendah yang akibatnya merugikan kehidupan gurita di alam bebas (Leach 2001).

PERAN GURITA PUTIH DI PERAIRAN
Peran gurita di perairan adalah sebagai predator ikan-ikan kecil atau hewan kecil lainnya. Gurita bertahan hidup di laut dengan memangsa ikan ataupun hewan kecil lainnya. Cara hewan tersebut berburu tergolong unik. Gurita mengkamuflasekan dirinya menjadi mirip dengan lingkungannya sehingga mangsanya tidak dapat mengenalinya. Kemudian dengan cepat tentakelnya akan menangkap mangsa tersebut dan umunya hewan yang telah ditangkap oleh gurita sulit untuk melarikan diri karenm tentakel yang menghisap kuat hewan tersebut.

PENULIS
Ihda Khozainul Busyro
Mahasiswa FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Mahasiswa FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Brusca, R. C. dan Brusca, G. J. 1990. Invertebrates. Sinaver Associates, Inc.. Publisher Sunderland, Massachusetts.
Edwards MM, Haines A (2001) Evaluating smart growth: Implications for small communities. Journal of Planning Education and Research 27:49-64
Leach, Maria. 2001. The new book of knowledge. New York: Glolier, Inc.
Matoa. 2010. “Paul” Si Cerdas dari Jenis Hewan Invertebrata. http://matoa.org/paul-si-cerdas-dari-jenis-hewan-invertebrata/ [23 Oktober 2010]
Nelson, J.S. 1994. Fishes Of The World, 3rd editions. John Wiley & Sons, Inc., New York,  xv+600 pp.
Rovara, O., I.E. Setiawan & M.H. Amarullah. 2007. Mengenal Sumberdaya Belut Laut .BPPT-    HSF, Jakarta.
Saanin, H. 2001. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan 1 dan 2. Bina Tjipta. Bogor.
Saktiono, 2005. Biologi I. PT. Intan Pariwara.Jakarta.
Stewart, Doug. 1997. Is the octopus really the invertebrate intellect of the sea? National Wildlife. Feb/Mar 1997, vol.35 no.2.
Wood, J. B., Kenchington, E. dan O’Dor, R.K. 1997. Reproduction and embryonic development time of Bathipolypus articus, a deep-sea octopod (Cephalopoda : Octpods). Malacologia Printed.

No comments:

Post a Comment