Thursday, January 16, 2020

Ikan Biji Nangka; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Biji Nangka (Upeneus mullocensin) tergolong kedalam keluarga mugilidae, bentuk tubuhnya hampir sama dengan ikan merah. Kedua macam keluarga ini mempunyai banyak sifat-sifat yang sama, hanya ada sedikit perbedaan, yaitu pembagian sirip punggung bagian depan dengan bagian belakang tidak jelas. Gigi-gigi pada rahang runcing-runcing dan tersebar merata. Sirip punggung dan sirip anus bersisik sedikit, mulutnya besar, dapat disembulkan ke muka, ujung belakang dari rahang atas terletak dibawah sudut depan dari mata. Keping tulang lengkung insang depan berlekuk. Sirip ekor berlekuk, sirip dada tidak lebih panjang dari kepala. Sirip dubur memiliki tiga jari-jari keras, dan jumlah jari-jari keras ada antara 7-9. Sirip punggung mempunyai 10 jari-jari keras dan 13 jari-jari lunak. Linnea lateralisnya berlekuk keatas dan pada bagian bawah kepala didekat tenggorokan terdapat sepasang sungut (Djuhanda, 1981).

KLASIFIKASI IKAN BIJI NANGKA

Kingdom : Animalia

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Pisces

Subkelas : Teleostei

Ordo : Percomorphi

Subordo : Pecoidea

Divisi : Perciformes

Sub divisi : Carangi

Famili : Mullidae

Genus : Upeneus

Spesies : Upeneus moluccensis
Nama Lokal : Ikan Biji Nangka (Labuan)

MORFOLOGI IKAN BIJI NANGKA
Genus Upeneus mempunyai badan memanjang, langsing, agak tebal. Pada dagunya terdapat sepasang sungut yang tipis. Tidak terdapat duri operculum. Gigi vomer dan terdapat pada kedua rahangnya. Sirip punggung bagian depan berjari-jari lemah dengan rumus D1. VI-IX, D2. 20-37. Sirip dubur panjang, terdiri dari 2-3 jari-jari keras. Sirip perut terdiri dari satu jari-jari keras dan 5 jari-jari lemah (Saanin, 1984). Pada spesies Upeneus moluccensis terdapat 5 baris sisik antara sirip punggung, dan 12 baris sisik sepanjang bagian atas dari pangkal ekor. Sirip perut agak pendek, lebih kurang 2/3 sirip dada. Kedua sirip punggung kuning, dengan garis horizontal 3 buah berwarna merah secara merata. Kepala berwarna merah terang, sedangkan sisi badan dan perut putih. Satu garis warna kuning terang terlihat dengan jelas dari anterior raut muka dari atas mata sampai sirip ekor. Serta bagian atas sirip ekor keputih-putihan, dengan 5 sampai 6 bergantian dengan hitam. Sungut berwarna merah (Susilawati, 2000).

Ikan biji nangka (Upeneus mullocensin) memiliki bentuk tubuh pipih agak panjang. Termasuk kedalam ikan yang memiliki tulang sejati. Warna tubuh keseluruhan berwarna merah, memiliki jari-jari sirip keras, lemah mengeras dan lemah. Tipe sisik ctenoid, lengkung insang berjumlah empat pasang, tidak memiliki alat pernafasan tambahan, termasuk kedalam golongan physostome, bentuk gigi pada mulut canine, molar dan viliform. Rangka terdiri dari tulang sejati. Ikan biji nangka (Upeneus mullocensin) merupakan ikan yang tergolong sebagai ikan yang berasal dari perairan laut. ikan ini bersisik dari operculum sampai pada batang ekor, mempunyai sisik yang berbentuk ctenoid, ukuran mulut sedang, yaitu pada mulut dapat dimasuki oleh jari kelingking tangan. Bentuk tubuh simetris bilateral yang apabila dibelah secara membujur maka akan didapat kedua belah bagian tubuh sama dengan bagian yang lain. Mempunyai linnea lateralis yang sempurna dari pangkal operculum sampai pada pangkal ekor. Ikan ini mempunyai sirip yang sempurna yang terdiri dari siri punggung, sirip dada, sirip perut,sirip anus, dan sirip ekor, pada sirip punggung panjangnya mulai dari pangkal sirip dada sampai pada pertengahan sirip anus, sirip ekornya bercagak.


REPRODUKSI IKAN BIJI NANGKA
Ikan biji nangka mempunyai sifat pemijahan total, butir-butir telurnya yang sudah matang akan dikeluarkan sekaligus dalam jangka waktu singkat pada saat pemijahan berlangsung (total spawner) (Sjafei dan Susilawati, 2001). Pada ikan biji nangka (Upeneus mollucensis) telah mencapai matang gonad pertama kali pada kisaran ukuran panjang 80–90 mm pada ikan betina, sedangkan pada ikan jantan telah mencapai matang gonad pada kisaran panjang 100–110 cm. Berdasarkan analisis metode Spearman-Karber diperoleh rata-rata pertama kali matang gonad ikan biji nangka (Upeneus mollucensis) pada panjang tubuh 108.6353 mm untuk betina dengan kisaran 108.595 - 108.675, sedangkan ikan jantan 120.7450 mm dengan kisaran 120.536 – 120.7969 mm (Pertiwi, 2011).

Menurut Susilawati (2000), jumlah telur yang akan dikeluarkan pada saat memijah merupakan fekunditas mutlak atau fekunditas individu. Spesies ikan yang mempunyai fekunditas besar pada umumnya memijah di daerah permukaan, sebaliknya spesies yang fekunditasnya kecil biasanya melindungi telurnya dari pemangsa dengan cara dierami di mulutnya atau menempelkan telurnya pada tanaman atau substrat lainnya. Fekunditas ikan berhubungan erat dengan lingkungannya, dimana spesies ikan akan bertambah fekunditasnya bila keadaan lingkungannya baik. Pada umumnya individu yang cepat pertumbuhannya, fekunditasnya lebih tinggi dibanding yang lebih lambat pertumbuhannya pada ukuran yang sama dan hal ini berkaitan dengan ketersediaan makanan. Ikan biji nangka (Upeneus mollucensis) memiliki fekunditas, yaitu 19.116-89.344 butir, rata-rata 48.901. Sebagai bahan pembanding dipergunakan hasil penelitian dari lokasi yang berbeda. Fekunditas Upeneus mollucensis lebih kecil daripada Upeneus tragula disebabkan perbedaan lingkungan dan ketersediaan makanan, serta speciesnya yang berbeda.


CIRI – CIRI IKAN BIJI NANGKA
Ikan biji nangka (Upeneus mollucensis) memiliki badan memanjang dan tertutup sisik sampai kepala, kecuali moncong sebelah depan. Mulut kecil dengan gigi yang lemah. Ciri khusus ikan ini adalah terdapat sepasang sungut pada rahang bawah dan garis membujur berwarna kuning pada sisi badan. Ciri ini dikombinasi dengan bentuk tubuh menjadi nama ikan ini terkenal dengan sebutan biji Nangka. Secara keseluruhan ikan berwarna cerah. Genus yang sering ditemukan di Indonesia termasuk Mulloidichthy spp., Parupeneus spp.dan Upeneus spp. (Wiadnya dan Setyohadi, 2012).

Ikan ini sering disebut belanak merah. Ikan Biji nangka bertubuh panjang dan bersisik besar, bermulut kecil. Matanya terletak di sisi atas kepala. Dibawah dagunya terdapat dua sungut peraba panjang untuk mencari makanan didasar laut. Sungut ini dapat dimasukkan ke dalam alur tenggorokannya bila tidak digunakan. Ikan biji nangka biasanya berwarna merah dan kuning, ada yang dapat berubah warna. Ikan biji nangka (Upeneus mullocensin) mempunyai ciri-ciri memiliki sirip punggung, bentuk sirip punggung sempurna, jumlah sirip punggung dua, letak sirip punggung dibelakang kepala bagian anterior badan, permulaan dasar sirip punggung didepan sirip perut, sirip dada oblique, posisi sirip dada dibawah linea lateralis persis dibelakang tutup insang, posisi sirip perut sub abdominal, sirip anus terpisah dengan sirip ekor, sirip anus tidak diliputi sisik, sirip ekor berbentuk bercagak.


HABITAT IKAN BIJI NANGKA
Ikan biji nangka di laut Cina Selatan hidup pada kedalaman 50 - 110 m. Kedalaman optimal habitat ikan biji nangka (famili Mullidae) berkisar 40-60 m. Hasil survei dengan trawl oleh Direktorat Jenderal Perikanan di perairan sekitar Bengkulu, Selat Sunda dan Laut Jawa menunjukkan bahwa genus Upeneus umumnya tertangkap di perairan yang dangkal (10-39 m), meskipun tertangkap juga pada kedalaman antara 100- 159 m dan 190-300 m. Akan tetapi di perairan dalam hasil tangkapannya sedikit. Kebanyakan ikan biji nangka hidup di dasar perairan dengan jenis substrat berlumpur atau lumpur bercampur dengan pasir, namun ditemukan pula adanya ikan biji nangka yang mencari makan sampai di daerah karang (Sjafei dan Susilawati, 2001).

Habitat ikan biji nangka termasuk jenis ikan demersal (hidup dekat dasar), sungutnya berfungsi sebagai alat peraba. Habitatnya adalah perairan pantai dengan tipe dasar lunak seperti lumpur. Beberapa jenis dari ikan ini juga ditemukan di bagian luar terumbu karang (Reef associated). Makanan utamanya adalah ikan kecil dan makrofauna lainnya (termasuk jenis predator) (Wiadnya dan Setyohadi, 2012).


MANFAAT IKAN BIJI NANGKA
Ikan biji nangka (Upeneus moluccensis Blkr.) termasuk ke dalam jenis ikan demersal. Sebagai ikan konsumsi, ikan ini bernilai kurang ekonomis dibandingkan beberapa jenis ikan demersal lainnya. Ikan ini banyak digunakan sebagai bahan baku pakan dalam budidaya udang dan ikan. Ikan biji nangka ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang. Ikan biji nangka tertangkap di perairan Selat Sunda tiap bulan, dengan potensi 22% dari produksi perikanan sebesar 1 ,191 .660 kg (Sjafei dan Susilawati, 2001).


TINGKAH LAKU IKAN BIJI NANGKA
Menurut Susilawati (2000), ikan biji nangka (Upeneus moluccensis) termasuk ke dalam jenis ikan demersal. Cirinya adalah bentuk mulut yang letaknya agak ke bawah dengan dua sungut (barbel) yang terletak di dagunya yang digunakan untuk mendeteksi makanan pada substratnya. Ikan yang mempunyai letak mulut di bawah adalah jenis ikan pemakan biota dasar.

Ciri utama sumberdaya ikan demersal adalah sebagai berikut:

a. Kemampuan beradaptasi terhadap faktor kedalaman perairan pada umumnya tinggi, menyebar pada berbagai kedalaman air.

b. Mempunyai aktifitas rendah dan daerah ruaya yang terbatas.

c. Bergerombol relatif kecil dibandingkan dengan jenis ikan pelagis.

d. Habitat utamanya di lapisan dekat dasar laut, meskipun beberapa diantaranya terdapat di lapisan yang lebih atas.

e. Laju pertumbuhan rendah, umur mencapai dewasa lambat.

f. Mempunyai komunitas yang beragam.


PERAN IKAN BIJI NANGKA DI PERAIRAN
Ikan biji nangka dapat menjadi bottom feeder yang baik dengan jenis substrat berpasir (white sand) atau bahkan sampai di sekitar gugusan karang. Ikan biji nangka juga mencari makan sampai di daerah karang (Sjafei dan Susilawati, 2001).


PENULIS
Nurul Masfufah
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan Tahun 2012


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan Tahun 2015

DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armico Bandung           

Pertiwi, Wiwi. 2011. Komposisi Jenis dan Ukuran Ikan yang Tertangkap dengan Sero dan Pukat Pantai di Perairan Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan. FPIK Universitas Hasanuddin: Makassar.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Penerbit Bina Cipta: Bogor

Sjafei, D.S dan R. Susilawati. 2001. Beberapa Aspek Biologi Ikan Biji Nangka (Upeneus moluccensr's Blkr) di Perairan Teluk Labuan, Banten. Jurnal Iktiologi Indonesia. 1(1): 35-39.

Susilawati, Ratna. 2000. Aspek Biologi Reproduksi, Makanan, dan Pola Pertumbuhan Ikan Biji Nangka (Upeneus moluccensis Blkr.) Di Perairan Teluk Labuan, Jawa Barat. FPIK IPB: Bogor

Wiadnya, DGR dan D. Setyohadi. 2012. SubSistem Alamiah: Sumberdaya Ikan. FPIK Universitas Brawijaya: Malang.

No comments:

Post a Comment