Monday, October 28, 2019

Alat Tangkap Line Fishing (Metode Penangkapan Ikan (MPI))



1. PENDAHULUAN

1.1 Pengantar

        Pada dasarnya line fishing mempunyai ciri khas yaitu berupa tali temali, mata pancing, dan umpan. Tali berfungsi untuk melekatkan mata pancing sedangkan mata pancing itu sendiri berfungsi untuk mengait ikan. Adapun umpan berfungsi sebagai penarik ikan target agar mau memangsa sehingga ikan target dapat terkait di mata pancing. Beberapa jenis line fishing adalah longline, pole and line, pancing tonda, pancing vertical, fishing sport, dan pancing cumi. Mata pancing merupakan bagian yang paling penting dari satu unit pancing. Tanpa adanya mata pancing mustahil kita dapat melakukan kegiatan memancing (Wudianto, 2003). Menurut Bjordal dan Lokkeborg (1996) mata pancing pada umumnya terdiri dari bagian-bagian yang sederhana, yaitu : shank (tangkai), bend (lengkungan), point, gap, throat, dan eye (mata) yang digunakan untuk mengikat tali cabang (branch line) 

1.2 Tujuan

Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan untuk memahami metode penangkapan ikan, akan dapat

        Menjelaskan pengertian alat tangkap line fishing dalam menunjang metode penangkapan ikan

        Menjelaskan metode pengoperasian alat tangkap line fishing dalam proses penangkapan ikan

1.3 Definisi

        Line fishing merupakan alat tangkap yang memanfaatkan tingkah laku ikan yang meliputi kebiasaan makan dan swimming layer. Fungsi umpan yang dipasang pada mata pancing adalah untuk menarik perhatan ikan melalui visualisasi dan bau sehingga ikan teropsesi untuk memangsa umpan tersebut. Pancing tersebut bisa dibuat statis atau bergerak tergantung sifat ikan tujuan penangkapan apakah jenis pemburu atau tidak. Peletakan mata pancing yang berumpan di dalam kolom air tergantung swimming layer ikan dimana dia beraktivitas.

        Ada banyak variasi desain atau model mata pancing yang dibuat oleh pabrik-pabrik dan diperkirakan sebanyak  50.000 desain, namun jumlah ini sebenarnya masih jauh bila dibandingkan dengan banyaknya jenis (spesies) ikan yang ada di dunia. Untuk olahraga pancing (sport fishing) model mata pancing lebih beragam bila dibandingkan dengan mata pancing yang digunakan untuk tujuan komersil (commersial fishing).Ukuran mata pancing dapat diketahui melalui nomor mata pancing tersebut. Penomoran ini ditentukan oleh lebar celah mata pancing dan juga diameter batang mata pancing. Semakin besar nomor mata pancing, semakin kecil ukurannya (Wudianto, 2003). Penomoran tersebut sering disebut sebagai penomoran dengan sistem Norwegia atau Amerika. Sedangkan menurut sistem Jepang semakin besar nomor mata pancing, semakin besar pula ukurannya. Yami (1989) menerangkan bahwa pancing Jepang yang digunakan untuk menangkap ikan tuna kecil sampai sedang berukuran 3,3 sampai 3,6 cm, sedangkan untuk yang lebih besar berukuran 3,5 sampai 6,4 cm.

        Menurut Bjordal dan Lokkeborg (1996) ukuran mata pancing sangat beragam. Ukuran mata pancing digambarkan dengan nomor. Menurut aturan yang dipakai bahwa bila penomoran dengan menggunakan angka biasa (1, 2, 3,…), ukuran mata pancing akan semakin menurun (kecil) dengan bertambahnya atau semakin besar nomor mata pancing tersebut. Dan bila penomoran dengan ‘/0’ maka semakin besar angka pada nomor mata pancing semakin besar pula ukuran mata pancing tersebut. 

2.PANCING LONG LINE

Salah satu kebijakan pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan pada saat ini diarahkan pada peningkatan produksi komoditas ekspor hasil perikanan yang bernilai tinggi, termasuk diantaranya adalah berbagai jenis ikan tuna. Adapun jenis-jenis ikan ini yang ada di ZEEI meliputi : Madidihang (yellow fin tuna), Tuna Mata Besar (Big eye tuna), Albakora (Albacore tuna), dan Tuna Sirip Biru (Bluefin tuna).

Jenis-jenis ikan tuna (Thunnus spp) merupakan komoditi ekspor kedua setelah udang. Daerah penangkapannya terutama terpusat di perairan Indonesia sebelah timur dan daerah lain yang langsung berhadapan  dengan Samudra Indonesia maupun yang termasuk perairan ZEE. Ikan tuna mempunyai karakteristik : merupakan ikan perenang cepat, hidup di perairan dalam, laut bebas ( “oceanic”), lepas pantai dan sering berpindah-pindah (Subani dan Barus, 1989).

Ciri-ciri perairan Indonesia baik dilihat dari segi oceanografi , keadaan topografi dasar perairan, banyaknya jenis ikan, udang dan biota lainnya. Dengan potensi yang ada pada perairan berdampak pada cara-cara pengusahaanya terutama dalam penggunaan alat penangkapan dan teknologi penangkapan. Untuk perairan laut dalam dapat digunakan alat tangkap seperti : rawai tuna, rawai cucut, rawai tegak lurus (“vertical long line”), jaring insang hanyut, soma antoni, bubu hanyut (pakaja), jala lompo yang umpannya dilengkapi dengan payos atau bila malam hari dengan menggunakan lampu (fishing light) (Subani dan Barus,1989).

Secara umum “long line” terdiri dari 3 bagian : main line, snood, pancing dan umpan. Macam-macam type “long line”, dengan jumlah “branch line”dan kail yang berkisar 100 –500 buah. Panjang dari “long line” dapat mencapai lebih dari 50 km untuk sekala besar pada perairan oceanic (Bjordal, 1996).

Komponen rawai cucut terdiri dari : (1) Tali utama (main line) adalah PE diameter 10 mm, panjang seluruhnya 825 m, jumlah mata pancing 34 buah; (2) Tali pelampung (float line) diikatkan pada ujung tali utama yang pada tiap ujungnya diberi pelampung. Tali pelampung ini berdiameter 10 mm, panjang antara 50-200 m; (3) Pelampung (float) dibuat dari bahan plastik, bentuk bulat diameter 15 mm; (4) Tali branch line” dibuat dari bahan PE diameter 8 mm, panjang 20 m, dan pada ujung bawahnya diberi kili-kili (“swivel”); (5) Kawat baja (“wire leader”) disini perbedaan dengan sistem terdahulu dengan menggunakan rantai ; (6) Mata pancing (”hook”) dibuat dari besi baja tahan karat dipakai mata pancing No.5 (Subani dan Barus, 1989).

Penggunaan alat tangkap “long line” ditujukan untuk pemanfaatan sumberdaya laut secara optimal. Ada berbagai macam konstruksi alat tangkap “long line” sesuai dengan tujuan penangkapan.

2.1    Definisi Alat Tangkap

Longline yaitu suatu pancing yang terdiri dari tali panjang ( tali utama, main line ) kemudian pada tali tersebit secara berderet pada jarak tertentu digantungkan atau dikaitkan tali-tali pendek ( tali cabang, branch line ) yang ujungnya diberi mata pancing ( hook ) tergantung dari banyaknya satuan yang dipergunakan, panjang tali tersebut bila direntangkan secara lurus dapat mencapai panjang ratusan meter bahkan puluhan kilo meter ( km ).

Unit dasar longline meliputi 4 bagian, yaitu :

1.      Bagian terpenting  ( biasa disebut groundline ) yaitu tali panjang

2.      Branch line atau ganglion

3.      kait

4.      umpan

Bottom longline atau longline dasar adalah suatu pancing yang dipergunakan untuk menangkap ikan-ikan oceanis yang dilihat dari nama alat tangkapnya, ikan- ikan yang ditangkap tersebut hidup di dasar perairan.

2.2    Sejarah Alat Tangkap

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan karena sebagian besar  wilayahnya terdiri dari lautan. Luas wilayah perairan Indonesia meliputi 5,8 juta km2 yang merupakan 70 % dari luas seluruh wilayah Indonesia. Diperkirakan sumberdaya perikanan laut yang terkandung mencapai 6,6 juta ton pertahun. Berdasarkan evaluasi besarnya potensi perikanan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ( ZEEI ) yang merupakan daerah perikanan tuna yang potensial adalah sebesar 2,11 juta ton dengan luas wilayah 2,7 juta km2. Masyarakat Indonesia sejak jaman dulu menggantungkan kehidupannya pada perikanan dan seperti kita ketahui bahwa jaman dulu menangkap ikan hanya dengan menggunakan kait, kait yang sering digunakan adalah batu, tulang, tanduk, rumah kerang/siput, bambu dan logam.Kalau kita pikirkan betapa tidak efektifnya menangkap ikan dengan menggunakan bahan-bahan tersebut karena kita akan rugi tenaga dan waktu, hasilnya pun tidak maksimal.

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan tentang tingkah laku ikan maka semakin banyak muncul alat penangkapan. Ikan tuna itu sendiri memiliki sifat yang selalu mengembara, selalu dalam keadaan bergerombol, pelagis dan serakah sehingga sedikit banyak jumlah ikan yang tertangkap dipengaruhi oleh tingkah laku ikan-ikan tuna didaerah  yang bersangkutan, keadaan alat dan keahlian para awak kapalnya.Dan alat tangkap yang paling potensial digunakan untuk menangkap ikan tuna adalah longline pada kedalaman 260-525 ft ( 80-160 m ).

Di Indonesia, sesungguhnya alat menyerupai long line jauh sebelum perang dunia telah ada yaitu alat tangkap tradisional yang disebut “prawe”. Rangkaian tali-tali yang diberi pancing dimana ujung yang satu diberi pemberat (jangkar) sedangkan ujung yang satunya diberi pelampung. Tetapi alat ini sejak zaman dahulu hingga sekarang konstruksinya sama.

Tahun 1954 peralatan tuna ling line resmi diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Pengenalan ini dirintis oleh apa yang dinamakan saat itu Pusat Djawatan Perikanan Laut, dengan menggunakan KM Bima, satu kapal kayu buatan Indonesia ukuran 68 ton. Pancing yang digunakan rata-rata 500 dengan panjang tali kurang lebih 24 kilometer. Daerah yang dikelola sampai tahun 1957 adalah Samudra Indonesia bagian Barat Selat Sunda, Samudra Indonesia Bagian Selatan Pulau Bali, Lombok Sumbawa dan Samudra Indonesia Sumatra Utara. Dengan jarak penangkapan terjauh dari Nusantara mencapai 60 mil.

2.3    Prospektif Alat Tangkap

Perikanan tuna longline di Indonesia telah mengalami perkembangan pesat. Hal ini wajar dikarenakan Indonesia mempunyai daerah penangkapan tuna yang cukup luas, disamping itu ikan tuna juga merupakan salah satu primadona komoditi ekspor produk perikanan laut.

2.4    Konstruksi Umum

Alat tangkap ini terdiri dari :

a.      Main line atau tali utama, berfungsi sebagai tempat tergantungnya tali cabang

b.      Branchline atau tali cabang, diikatkan pada tali utama , panjanngnya tidak boleh lebih dari ½ x panjang tali utama

c.       Pelampung, terbuat dari plastik resin yang dicetak yang ujungnya diberi lubang untuk mengikatkan tali pelampung. Pelampung ini dipasang setiap 1 basket atau tiap 7 mata pancing

d.      Pemberat, untuk membebani tali pelampung dan tali cabang agar tetap berada pad kedalaman yang diinginkann Terbuat dari semen yang dicetak berbentuk lonjong seberat 0,1-3 kg

e.      Swivel atau kili-kili, untuk menghindari agar antar tali cabang dan antara tali cabang dengan tali utama tidak saling terkait. Kili-kili ini terbuat dari stainless steel

f.       Pancing, terbuat dari stainless steel, mata pancing yang digunakan disesuaikan dengan kedalaman

g.      Tiang bendera dan bendera

h.      Lampu pelampung untuk menarik ikan-ikan

2.5    Detail Konstruksi

Dalam satu keranjang longline terdiri dari :

a.      Beberapa main line yang ujungnya diikatkan branch line, kecuali pada kedua ujung yang terluar masing-masing diikatkan tali pelampung.

b.      Beberapa branch line atau tali cabang yang jumlahnya sebanyak main line dikurangi satu dengan bahan biasanya seperti main line dengan diameter kecil. Branch line dihubungkan dengan sekiyama yang merupakan pintalan kawat baja yang dibalut kawat nylon atau cotton, serta pada ujungnya diikatkan sebuah pancing.

c.       Pada ujung terluar dari branch line yang terletak paling dasar, masing-masing diberi pemberat agar tali cabang tetap berada pada kedalaman yang diinginkan

2.6    Konponen kontruksi long line

Tuna “long line “ yang  dibahas ini adalah tuna “long line” tipe Jepang, dikatakan demikian karena pada tipe ini dengan menggunakan tali dari bahan “poly ester” sangat pesat perkembangannya di Jepang. Bahan ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan yang lain karena memiliki sifat sifat fisik yang baik serta mudah didapatkan dipasaran atau pabrik-pabrik pembuatnya. Penanganan dan perawatannya relatif sama dengan “long line” dengan bahan “kuralon” (PVVA), namun perakitannya lebih ringan  karena bahan ini lebih halus dan lunak.

Adapun sifat fisik bahan “polyester” :

-        Memiliki nilai densitas yang cukup tinggi (densitas 1,38), artinya sifat bahan ini tenggelam jika di perairan karena nilai densitasnya lebih besar dari densitas air tawar (densitas 1.00), maupun densitas air laut (densitas 1,026).

-        Memiliki kekuatan yang baik terhadap beban

-        Ketentuannya sangat baik  

-        Kemulurannya kurang karena tidak dapat direnggangkan (Prado.J, 1996)

Tidak semua bahan dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan alat tangkap “long line”. Dalam pemilihan bahan  pembuatan alat tangkap “long line” harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang ada. Bahan yang digunakan dalam pembuatan alat tangkap “long line”  sudah memenuhi persyaratan bahan, diantaranya :

1.      Memiliki berat jenis > 1,05 (lebih besar dari berat jenis air laut, densitas air laut 1,026)

2.      Kuat dan memiliki daya tahan putus yang tinggi > 400 lb ( 80 kg), sehingga mampu untuk menahan bobot ikan hasil tangkapan, mampu menahan hentakan  dan tarikan ikan yang tertangkap

3.      Memiliki kelenturan yang tinggi, tidak kaku

4.      Tidak mudah kusut, apabila kusut mudah untuk diatasi. Apabila kusut bahan akan mudah putus

5.      Mudah didapatkan dipasaran, harga relatif murah dan terjangkau (Fauzi, 1988).

Rawai tuna tersusun dari satu utas “main line” terbuat dari tali “polyester multifilament”, panjangnya  55.000 meter tanpa terputus (“continous line”) dibentangkan hanyut di perairan hingga terjangkau “swimming layer” ikan tuna. Pada setiap interval 50 meter rangkaian “main line” di pasang satu “branch line”. Pada setiap interval 850 meter dari rangkaian “main line” terdapat 16 “branch line”.

Pada setiap interval 850 meter “main line” diikatkan satu “buoy” yang memiliki “extra buoyancy” yang memadai, untuk mempertahankan kedudukan rangkain : main line” agar tidak tenggelam oleh pengaruh bobot komponennya, bobot dan hentakan ikan, serta pengaruh arus dan geombang di perairan. Rangkaian “main line” yang dilengkapi 16 utas “branch line” diantara dua “buoy” dinamakan satu “basket”.

Jumlah “branch line” dalam satu “basket” pada suatu alat sangat ditentukan oleh “swimming layer” ikan tujuan penangkapan dengan asumsi bahwa semakin banyak “branch line” dalam suatu alat tangkap “long line”, maka kedalaman yang dapat dicapai alat tangkap akan semakin dalam pula.

Jika dilihat sekilas satu rangkaian alat tangkap long line akan sangat rumit karena panjangnya mencapai puluhan bahkan ratusan kilometer. Jika uraikan secara garis besar pada dasarnya satu rangkaian rawai hanyut tersusun dari beberapa komponen antara lain:  “main line”, “buoy” dan “buoy line” serta “branch line”.

a.      Main Line

“Main line “ adalah tempat bergantungnya tali cabang. “Main line” (tali utama) terbuat dari bahan “polyester  multifilament” panjangnya 55.000 meter tanpa terputus. Pemilihan bahan “poly ester multifilamen” telah memenuhi persyaratan pemilihan bahan pembuatan alat tangkap “long line” seperti telah dijelaskan diawal. Karena untainanya sangat panjang tidak mungkin ditarik oleh tenaga manual, maka menggunakan “line hauler” dalam penarikannya, serta menggunakan “line thrower” untuk melempar main line (setting).  Penyimpanannya di kapal ditempatkan di dalam “main line tank”. 

Komponen          Bahan        Ukuran

Main line    Polyester Ø 6.5 mm    -        Continuous line 55.000 m

-        Berat 1,7621 kg

-        Panjang setiap interval main line 50 m

-        Daya tahan putus tali 6000 kg.f

-        Mempunyai gaya tenggelam 0,26 x 1,7621 = 503,96 kg.f     

Dalam pemilihan bahan tali sebagai bahan pembuatan alat tangkap “long line” maka sebagai pedoman umum bahwasanya sebuah tali utama yang digunakan daya tahan putusnya pada saat kering, tak bersimpul (kg) adalah daya tahan putusnya harus lebih dari 10 kali tonase kapal, lebih besar kuadrat panjang kapal dan paling sedikit 10 kali berat ikan terbesar yang tertangkap

Tali “polyester” memiliki keunggulan dibandingkan jenis tali sintetis lainnya, antara lain:

-        Densitasnya ( = 1,38) lebih tinggi dari densitas air laut ( = 1,025), sehingga tali “poly ester” tenggelam di dalam media air laut, dan “slinking speed”nya memadai.

-        Awet dan relaitf tahan terhadap pembusukan, serta tidak mudah lapuk oleh aktivitas orgaisme renik, serta tahan terhadap pangaruh zat kimia.

-        Dampak radiasi cahaya matahari tidak telalu mengurangi kekuatan dan keawetan serta sifat fisik lainnya. “Softing point”nya relatif tinggi (20-230°C) sehingga tahan terhadap panas akibat gesekan terhadap mesin penarik tali (“line hauler”).

-        Daya tahan putus tali PES Ø 6,5 mm = 600 kg.f, sedangkan berat ikan sasaran tangkapan 25-70 kg, dengan daya tahan putusnya memadai.

-        Dapat diberi pengawet dan pewarna “coaltar” dan jenis pengawet, pewarna lainnya.

b.      Komponen Buoy

Pada setiap 850 meter “main line” diikatkan pada “buoy line” untuk menghubungkan kapada “buoy” (pelampung basket). “Buoy” tersebut harus memiliki “extra buoyancy” (daya apung cadangan) yang cukup untuk mempertahankan kedudukan rangkaian tali tersebut agar tidak tenggelam oleh pengaruh bobot komponennya, serta bobot dan hentakan ikan, pengaruh arus dan gelombang perairan. Rangkain komponen rawai tuna diantara dua “buoy” dinamakan “satu basket”.  

Pelampung yang digunakan pada tuna “long line”, memiliki persyaratan khusus tidak seperti alat tangkap yang lain. Dalam pemilihan pelampung pada alat tangkap “long line” harus mengikuti persyaratan :

-        Tidak mudah bocor akibat pengaruh tekanan air laut sampai kedalaman 300m

-        Bergaris tengah 20-30 cm, tebal 1cm, daya apung lebih dari 3,3 kgf

-        Terbuat dari bahan  plastik (‘hizex”) PVC, atau bahan lain yang tahan terhadap kebocoran dan pecah juga dapat dipakai. Misalnya dari pelampung gelas yang dirajut

-        Dipilih yang berwarna jingga (orange) agar mudah terlihat dipermukaan air, bahkan pada jarak yang sangat jauh

-        Dibalut dengan rajutan tali untuk menambah daya tahan terhadap benturan dengan benda-benda yang lain atau benturan antar pelampung sendiri

Keunggulan dari ABS “plastic buoy” Ø 300 mm-OT 303 M, antara lain:

-        “Buoyancy” memadai untuk menahan beban kerja rawai hanyut di perairan

-        Kuat, tidak mudah pecah tahan terhadap benturan, dan gesekan, tahan terhadap tekanan air laut, hingga pada kedalaman 300 meter; serta awet tidak lapuk oleh pengaruh panas Matahari, zat kimia, maupun organisme renik

d.      Radio Buoy dan Fuji Light

“Radio buoy” mengunakan elemen kering sebagai sumber tenaga. Apabila diaktifkan maka “top buoy” akan memancarkan gelombang yang nantinya akan diterima oleh “receifer” yang terdapat pada kapal. Fungsi dari alat ini untuk mengetahui arah dari “long line” yang ditebar diperairan, sehingga dapat diketahui kemana arah dari “long line” yang hanyut setelah ditebar (setting) agar tidak hilang saat operasi penangkapan. Besarnya gaya apung dari radio buoy hampir sama dengan “buoy” yaitu sebesar 14,50 kg.f.

Sedangkan “fuji light” merupakan “refraktor” cahaya bila terkena sinar agar kedudukan buoy dapat terdeteksi oleh cahaya “search light” dan dilengkapi bahan “fluoresence”.Pada dasarnya fungsi “fuji light” pada  “long line” sama dengan “top buoy”, namun pada “fuji light” prinsipnya menggunakan cahaya sebagai petunjuk arah “long line” yang hanyut setelah ditebar (setting). Alat ini menggunakan elemen kering sebagai sumber  tenaga, cara kerjanya secara otomatis lampu akan menyala apabila kondisi lingkungan gelap.

e.      Swivel

Penggunaan “Swivel” dalam komponen “buoy line” dimaksudkan agar dapat mengembalikan posisi tali yang melintir atau sebagai penetralisir. Karena tali yang terpelintir daya tahannya semakin berkurang, mudah putus dan sulit dalam penataan tali dalam kapal.  Banyak sekali macam, bahan dan tipe dari “swivel”. Namun dalam konstruksi penggunaanya menyesuaikan dengan kebutuhan dan besarnya biaya yang dianggarkan. Dari sekian tipe “swivel” ada satu yang terbaik yaitu “heavy duty swivel”, karena kontruksinya berbeda dengan tipe yang lain. Perputarannya menggunakan rel atau laker sehingga beban berat pun masih dapat berputar untuk menetralisir tali yang melintir.

“Swivel” (kili-kili) yang digunakan adalah “leaden barrel swivel”, (kili-kili yang diberi pemberat timah) digunakan bahan timah karena disamping tidak mudah berkarat didalam air laut juga karena berat bahannya dibutuhkan untuk menambah daya tenggelam tali pelampung.

Berat sebuah “leaden barrel swivel” lebih kurang 60 gram.Adapun fungsi dari “swivel” ini disamping sebagai penetralisir terpintirnya tali juga sebagai penghubung antara “buoy snap ring” dan “buoy”.

f.       Buoy Snap Ring

“Buoy snap ring” merupakan pengait berbentuk peniti terbuat logam tahan karat. Penggunaan “buoy snap ring” pada komponen “buoy” untuk mengganti penggunaan simpul sebagai penghubung antara “buoy” dengan “buoy line”. Karena dirasa pengguanaan simpul sebagai penghubung kurang efektif dan efisien dalam menghubungkan kompoen yang terlalu lama.

Dengan menggunaan “ Buoy snap ring” akan memudahkan dalam memasang dan melepas komponen konstruksi tuna “long line”. Sebuah “buoy snap ring” pada konstruksi “long line” ini  berukuran 35 x 125 mm, beratnya 32 gram.

g.      Buoy Line (Tali pelampung)

“Buoy line” merupakan tali penghubung “buoy” kepada “main line”. Panjang “buoy line” berpengaruh terhadap kedalaman penempatan “main line” agar dapat menjangkau “swimming” layar ikan sasaran penangkapan. Panjang buoy line disesuaikan dengan “swimming layer” ikan tujuan penangkapan. Semakin panjang ‘buoy line”, maka akan semakin dalam pula swimming layer ikan yang dapat dicapai.

“Buoy line” berfungsi menghubungkan pelampung dengan “main line”. Untuk mempertahankan kedudukan rawai tuna agar tetap pada kedalamam perairan yang dikehendaki. Panjang setiap utas “buoy line” berkisar antara 25-35m, atau disesuaikan dengan kedalaman renang ikan yang menjadi tujuan penangkapan (“swimming layer”) (Fauzi, 1988). 

h.      Buoy Line Snap

                   “Buoy snap ring” merupakan pengait berbentuk peniti terbuat logam tahan karat ukuran 35 x 125 mm. Penggunaan “buoy snap ring” pada komponen “buoy” untuk mengganti penggunaan simpul sebagai penghubung antara “buoy” dengan “buoy line”. Karena dirasa penggunan simpul sebagai penghubung kurang efektif dan efisien dalam menghubungkan kompoen yang terlalu lama. Dengan menggunaan “ Buoy snap ring” akan memudahkan dalam memasang dan melepas “buoy line” yang terkait pada “main line” sehingga dapat efektir dan efesien dalam operasi penangkapan. “buoy line snap” merupakan peniti pengait antara “buoy line” dengan “ main line” pada setiap satu basket rangkaian long line.

i.        Buoy Line Snap Ring

          “Buoy line snap ring” merupakan lingkaran tali “poly ester” diameter 6,5 mm panjang 47 cm, berat 33,27 gram, menghubungkan “buoy line snap kepada “buoy line”.

j.        Buoy Line

          “Buoy line” (tali pelampung) terbuat dari tali “polyester” diameter 6,5 mm, panjang 35 meter. Berdasarkan perhitungan empirik, setiap utas beratnya 1.121,52 gram, menghubungkan antara “buoy line snap ring” terhadap “buoy snap”, yang merupakan bagian dari komponen “buoy”.

k.       Branch Line

          “Branch line” merupakan tali penghubung antara “main line” dan pancing. Bagian ujung atas “branch line” tersebut dikaitkan pada “main line” di setiap interval 50 meter, dengan menggunakan “branch line snap”. ”Satu utas “branch line” tersusun dari rangkaian komponennya seperti dirinci pada 

          Bahan yang digunakan sebagai “branch line” sama jenisnya dengan bahan yang digunakan pada “main line”, dapat dirangkai dengan ukuran yang sama atau sedikit labih kacil. Bahan yang digunakan harus dapat menahan hentakan ikan yang tertangkap setidak-tidaknya mempunyai daya tahan putus 150 kg.f  (Fauzi, 1988). 

l.        Branch Line Branch Line Snap

          “Branch line snap” terbuat dari logam tahan karat berukuran 35 x 125 mm, beratnya 42 gram , merupakan peniti rawai untuk mengaitkan “branch line” ke “ main line”.Ada berbagai macam tipe dan ukuran pada “branch line snap”, namun bahan yang terbaik sebagai bahan “branch line snap” adalah bahan logam tahan karat. Hal ini untuk menghindari kerusakan “branch line snap akibat kerosi air laut, sehingga akan dapat menghambat saat operasi penangkapan dilakukan.

          Penggunaan “branch line snap” untuk menghubungkan antara “branch line” ke “main line” menggantikan simpul yang digunakan pada saat sebelumnya. Dalam perikanan tuna “long line” penggunaan snap dalam oprasi penangkapan sangat efektif dan efisien, karena tidak memerlukan waktu yang banyak dalam menghubungkan branch line” dengan   “main line”. “Snap” biasanya digunakan pada kapal kapal “long line” yang telah maju, dalam artian dalam operasi penangkapannya telah menggunakan alat bantu penangkapan dalam operasi penangkapan dilaut.

m.     Branch line snap ring

          “Branch line snap ring” berupa lingkaran tali “polyester” diameter 4,5 mm, panjang 47 cm, beratnya 15,70 gram, menghubungkan “branch line snap” kepada “branch line”. Walaupun kurang dipentingkan nanun fungsi “branch line snap ring” dalam konstruksi “long line” sangat diperlukan karena dimungkinkan apabila terjadi kerusakan pada “branch line snap” maka akan memudanhkan dalam penggantiannya (memotong “branch line snap ring”) untuk kemudian diganti dengan “branch line snap yang baru”. Kerusakan pada “branch line snap diakibatkan karena karatan maupun dikarenakan masuk dalam “ line hauler”.

Bentuk daripada “branch line snap ring” memang berupa lingkaran. Dimana pada sisi sisi yang berhubungan dengan “snap” digunakan simpul, sedangkan pada bagian yang berhubungan dengan “branch line snood” digunakan simpul “reef knot”. Penggunaan simpul pada konstruksi “ long line” memang dapat mengurangi kekuatan benang (berkurang 55 % pada “reef knot”). Namun hal ini telah diperhitungkan, bahwasannya daya putus talinya masih lebih besar dari berat ikan yang menjadi tujuan penangkapan.   

n.      Branch Line Snood (pangkal tali cabang)

          “Branch line Snood” terbuat dari tali “polyester” diameter 4,5mm, panjangnya 25 m, beratnya 417,5 gram, memiliki daya tahan putus 350 kg.f, menghubungkan “branch line snap ring” kepada “swivel”.Besarnya “branch line snood”. Besarnya tali pada “branch line snood” paling tidak sama dengan tali utama atau sedikit lebih kecil, namun memiliki kekuatan yang hampir sama. 

          Penggunaan “branch line snood” dalam komponen alat tangkap “long line” memungkinkan untuk dapat menjangkau “swimming layer” ikan tujuan panangkapan. Dalan komponen “branch line”, “ branch line snood” merupakan komponen yang terpanjang dibandingkan komponen yang lain yang terdapat pada “branch line”.

o.      Swivel

          “Swivel” (kili-kili) pada “branch line snood” adalah type “leaden barrel swivel”, (kili-kili yang diberi pemberat timah). Berat setiap “swivel” 60 gram. Kili-kili dalam komponen tuna “long line” merupakan komponen yang harus ada. Dikarenakan pada alat tangkap “long line” yang menggunakan tali sebagai komponen utamanya sangat mungkin terjadinya kekusutan pada talli. Apabila hal ini terjadi maka akan dapat mengurangai kekuatan dari bahan benang yang digunakan dan sulit dalam penanganannya sehingga padat menghambat pada saat operasi penangkapan.

Adanya “swivel” dalam “branch line” tidak mutlak tidak akan terjadi kekusutan pada: long line”. Pada prakteknya fungsi “swivel” dapat terganggu diakibatkan oleh pengaratan yang diakibatkan oleh air laut. Dan pada tegangan yang sangat tinggi “swivel” tidak dapat berputar sebagaimana yang diharapkan untuk menetralisir pergerakan meronta-ronta ikan yang tertangkap. Sehingga memungkinkan terjadinya kekusutan pada alat tangkap. Hal ini dapat dihindari apabila “swivel” yang digunakan memiliki kualitas yang baik,namun harganya sangat mahal. Seperti penggunaan “swivel” tipe “hevy duty swivel” yang tetap dapar berputar pada beban yang sangat tinggi dikarenakan menggunakan laker pada komponen didalamnya untuk dapat memutar.

p.      Sakite

          “Sakite” terbuat dari tali “polyester” berdiameter 4.5 mm, panjang 40 cm, beratnya 6,75 gram, memiliki kekuatan putus 350 kg.f. Merupakan penghubung antara “swivel” kepada “sekiyama”. Pada dasarnya fungsinya sama dengan “branch line snap ring” hanya penampatannya saja yang berbeda pada komponen “rawai tuna”. Dengan adanya “sakite” pada kontruksi “long line” dimungkinkan dalam penggantian komponen “swivel” maupun “ sekiyama” yang aus dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.

          Pada bagian yang menghubungkan  dengan “swivel” digunakan simpul “splashing” tunggal sedangkan pada bagian yang menghubungkan dengan “sekiyama” digunakan simpul mata “eye splash”.

q.      Sekiyama

          “Sekiyama” terbuat dari “fuji  braid” diameter 3mm, panjang 10 m, dan beratnya 75 gram. Salah satu ujungnya dibuat simpul mata, dilengkapi “armor spring” dan “silver lock” untuk dihubungkan kepada “sakite”. Pada ujung lainnya dibuat simpul mata dilengkapi “silver lock” dan “armor spring” diikatkan kepada “wire leader”. Tidak ada terjemahan dari “sekiyama” dalam bahasa Indonesia, namun secara harfiah dapat diartikan sebagai “wire” yang dibalut dengan “polyetylene” dengan  arah pintalan dikepang (berjalin) untuk memperkuat. Walaupun memiliki diameter yang lebih kecil dibandingkan dengan tali yang digunakan pada “branch line snood” namun memiliki kekuatan yang hampir sama.

          Pada bagian pada “sekiyama” terdapat bagian yang dinamakan dengan “ammor spting”, yaitu bagian yang melapisi simpul mata pada ujung-ujung “sekiyama”. “Ammor spring” berfungsi untuk memperkuat ujung-ujung “sekiyama” yang dibentuk menjadi simpul mata. Selain itu juga berfungsi untuk mencegah penghubung antara “sekiyama dengan komponen yang lain menjadi menjadi sumpul mati sehingga menyulitkan dalam penggantian “sekiyama” apabila terjadi kerusakan pada “sekiyama”.    

r.       Sekiyama Swivel

          “Sekiyama” merupakan kili-kili pada “sekiyama” terbuat dari “silver type swivel”, beratnya 11 gram. Dikarenakan pada “sekiyama” menggunakan “wire” yang dibalut dengan tali “polyamide” sebagai penguat. Semua tali sangat mungkin terjadinya kekusutan sama halnya  pada “sekiyama”, apabila hal ini terjadi maka akan dapat mengurangi kekuatannya penanganannya sehingga padat menghambat pada saat operasi penangkapan dam menyebabkan ikan lolos dari alat tangkap.

Adanya “swivel” dalam “branch line” tidak mutlak tidak akan terjadi kekusutan pada “long line”. Pada prakteknya fungsi “swivel” dapat terganggu oleh pengaratan yang diakibatkan oleh air laut. Dan pada tegangan yang sangat tinggi “swivel” tidak dapat berputar sebagaimana yang diharapkan untuk menetralisir pergerakan meronta-ronta ikan yang tertangkap. Sehingga memungkinkan terjadinya kekusutan pada alat tangkap. Selain itu dapat pula diakibatkan ausnya “sekiyama” akibat kerosi olah air laut.

s.       Wire Leader

          “Wire leader” menghubungkan “sekiyama swivel” dan “tuna hook”. Pada salah satu ujungnya dibuat simpul mata dilengkapi “armor spring” dan “fuji lock”, dihubungkan ke “sekiyama”. Pada ujung lainnya diikatkan pada “tuna hook“ dilengkapi “luminuous lead”, “fuji  lock”. “kanseki spring” dan “aimata”.

          “Wire leader” terbuat dari tali kawat baja nomor 30 diameter 1,3mm. Panjangnya 1,5 meter dan beratnya 42 gram, memiliki kekuatan putus 140 kg.f. “Wire leader” merupakan komponen “branch line” (tali cabang) yang menerima beban langsung dari bobot ikan sasaran penangkapan (khususunya tuna). Kekuatan putus “wire leader” tersebut memadai untuk menahan beban ikan sasaran penangkapan yang beratnya berkisar antara 35-70 kg.f.

          Bahan yang digunakan terbuat dari kawat baja dan memiliki daya tahan putus yang baik, diharapkan tidak putus akibat gigitan ikan cucut saat operasi penangkapan dilakukan. Pada sisi  pangkal “wire” dirangkai membentuk simpul mata “eye splash” yang dihubungkan dengan “sekiyama dengan dilapisi “ammor spring” sebagai penguat, kemudian pada pertemuan keduanya dihubungkan dengan “silver lock” untuk mengunci simpul. Hal ini dilakukan untuk memperkuat untaian tali terhadap hentakan ikan yang tertangkap. Sedangkan pada bagian ujung “wire” dihubungkan dengan “hook” yang terbuat dari bahan tahan karat. Pada pertemuan antara “wire” dengan “hook”(“aimata”) digunakan “kanseki spring” untuk memperkuatnya. Bahan yang digunakan berbeda dengan yaang digunakan sebagai “ammor spring”, pada “ kenseki spring” bahan yang digunakan terbuat dari rangkaian besi baja tahan karat yang menyerupai slang. 

t.        Tuna Hook

          “Tuna hook” merupakan pancing khusus tuna, bernomor 38, beratnya 12 gram, terbuat dari besi tempa dilapisi bahan galvanis. Pancing tuna dilengkapi cincin pancing (“hook ring”) dan “zinc anoda” yaitu pelindung pancing menghindari pengikisan logam oleh proses elektrolisa (“galvanic action”) di dalam media air laut. 

          Dipilih pancing dengan nomer 38, pancing khusus tuna dikarenakan sangat sesuai dengan bukaan mulut ikan tujuan penangkapan. Jenis pancing yang dipilih merupakan jenis “Fllated and holed with ring” pada bentuk pancing model ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan tipe yang lain. Dengan adanya “ring” memungkinkan umpan ikan yang terpasang pada “hook” dapat bergerak-gerak menyerupai ikan hidup, hal ini merupakan daya tarik sendiri bagi ikan tuna yang menjadi tujuan penangkapan.

2.7 Karakteristik

Kata “long line” sering diterjemahkan menjadi “ rawai tuna” sungguhpun  demikian istilah “long line”  yang akan dipakai. Dan perikanan long line sering diartikan langsung perikanan tuna long line mengingat bahwa tujuan penangkapannya adalah adalah jenis-jenis ikan tuna,  walaupun dengan prinsip yang sama juga dipakai untuk menangkap ikan salmon, makarel, spanish, shark dan lain lainnya. “long line” untuk ikan tuna pada kenyataannya operasinya disamping menangkap jenis-jenis ikan tuna juga menangkap janis-janis ikan lainnya seperti : ikan layaran, ikan hiu dan lain-lain. Jenis-jenis ikan tuna adalah oceanis, yang dapat juga dikatakan perikanaan laut bebas. Akibatnya, perikanan tuna long line tentunya harus mempunyai struktur yang organisasi yang teratur (Ayodhyoa,1981).

Menurut Subandi dan Barus (1988), long line adalah suatu pancing yang terdiri dari tali panjang (tali utama atau”main line”). Kemudian pada tali tersebut seara berderet pada jarak tertentu dikaitkan  tali-tali endek (tali cabang atau “branch line”) yang ujungnya diberi mata pancing (“hook”) yang banyaknya tergantung dari satuan yang dipergunakan. Panjang tali tersebut apabila dibentangkan secara lurus akan dapat mencapai panjang ratusan meter, bahkan puluhan kilometer. Jepang yang dianggap sebagai asal tuna long line tidak mengetahui kapan pastinya perikanan tuna long line dimulai. Namun para ahli perikanan di Jepang sepakat bahwa kurang tahun 1800 nelayan-nelayan Jepang telah menggunakan tali sepanjang 2.250 m dengan 75 pancing, untuk menangkap ikan tuna. Kapal yang dipergunakan pada saat itu hanya beberapa meter, sehingga penangkapan hanya dapat dilakukan di dekat pantai. Dengan adanya perbaikan bentuk dan bertambahnya besar perahu, pada akhir abad XIX daerah penangkapan telah meluas sampai dengan 50 mil dari pantai. Tahun 1906 satu kapal bermesin dicoba untuk pertama kali dan berhasil. Akibatnya, tiga tahun kemudian jumlah kapal penangkap tuna bermesin mencapai angka 150 dengan ukuran rata-rata 20 ton. Penyempurnaan kapal sedikit demi sedikit dilakukan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini hingga ukuran kapal mencapai 200 ton (Simongkir, 1982).

Longline dasar ini mempunyai ciri khas, pada kapal longline memiliki ruang yang besar untuk ikan hasil tangkapan, dan kapasitas minyak bahan bakar yang besar. karena perjalanan penangkapan ikan dengan longline memakan waktu 3 – 4 bulan. Longline merupakan modifikasi dari alat tangkap rawai yang terdiri dari main line, branch line, tali pelampung, pelampung, tali pancing, pancing, bendera dan lain-lain. Dimana antara pelampung dengan pelampung lain dipasang branch line sbanyak 4 – 6 buah, yang berarrti tiap satu basket terdapat 4 – 6 mata pancing, dan pada ujung main line bagian dasar masing-masing diberi pemberat.

2.8    Bahan dan Spesifikasinya

Melihat dari segi materialnya, rawai tuna atau longline ini dapat dibagi dua jenis yaitu yang bahan utamanya monofilament ( biasanya PA ) dan multifilament ( biasanya PVA seperti kuralon ). Perbedaan pemakaian bahan ini akan mempangaruhi jenis line hauler yang digunakan. Adapun perbedaan dari kedua jenis bahan ini dipandang dari segi perikanan adalah :

a.      Bahan monofilament lebih murah dan ringan disbanding dengan multifilament dan juga monofilament lebih mudah dirakit serta sesuai untuk kapal-kapal kecil.

b.      Bahan monofilament lebih mudah ditangani

c.       Bahan monofilament lebih kecil, halus dan transparan dan dinilai akan memberikan hasil tangkapan yang lebih baik disbanding multifilament

2.9    Perhitungan Komponen Long line

a.Rasio Perbandingan Buoy Line Terhadap Main line

Berdasarkan formula di bawah ini rasio antara panjang buoy line terhadap panjang main line pada satu interval jarak antara branch line sama dengan 0,72.

Dimana :

c        = nilai ratio

FL   = panjang buoy line, 35,87 meter

ML    = panjang main line, 50 meter

b.Perbandingan Branch line Terhadap Main line

Berdasarkan formula dibawah ini, rasio perbandingan antara panjang branch line terhadap panjang main line peda suatu interval jarak antara branch line sama dengan 0,75.

 

 

Dimana :

C                = nilai ratio

BL     = panjang branch line, 37,37 meter

ML    = panjang main line, 50 meter

 

c.Perbandingan Panjang Branch Line Terhadap Buoy Line

Berdasarkan formula dibawah ini, rasio nilai perbandingan antara panjang satu utas rangkaian komponen “branch line” terhadap panjang “buoy line” sama dengan 1,04

 

 

Dimana :

C       = nilai rasio

BL     = panjang branch line, 37,37 meter

ML    = panjang buoy line, 35,87 meter

 

d.Berat Komponen Long Line di Udara

Berat komponen Long line perlu duketahui berkaitan dengan kemampuan daya muat kapal, serta untuk mempertimbangkan stabilitas kapal dan keselamataan pelayaran. 

2.10  Perawatan Alat Tangkap Long Line

Setiap alat yang digunakan dalam usaha penangkapan ikan lambat laun akan berkurang kekuatannya dan dalam waktu tertentu akan rusak, sehingga tidak dapat dipergunakan lagi. Alat tangkap “long line” ini dioperasikan dilaut yang tingkat perisakannya sengat cepat apabila tidak dirawat dengan baik. Walaupun bahan yang dipergunakan memiliki kualitas yang baik belum menjamin alat tangkap tersebut memiliki umur yang panjang jika tidak dilakukan perawatan. Disamping kualitas bahan ada faktor lain yang sangat mempengaruhi keawetan alat tangkap “long line” yaitu faktor lingkungan yang dapat merusak tidak dihindarkan, yaitu dengan jalan perawatan “long line” secara berkala dan penempatan “long line” pada tempat yang terlindung.

Menurut Sadhori (1985), penurunan kekuatan ini disebabkan oleh :

-        Pengaruh mekanis

-        Perubahan sifat-sifat bahan

-        Perusakan oleh jasad-jasad renik

-        Pengaruh alam

Kerusakan atau penurunan kekuatan tersebut sangat sulit untuk dicegah, tetapi kita berusaha sedapat mungkin untuk menjaga keawetan alat tangkap. Dalam hal pemeliharaan alat tangkap memerlukan penanganan yang baik, karena pemeliharaan yang kurang baik akan memperpendek umur “long line”  Salah satu cara menghambat kerusakan alat tangkap adalah dengan merawat atau memelihara alat tangkap tersebut dengan baik dan benar.

 Perawatan dan pemeliharaan alat tangkap pada alat tangkap long line antara lain adalah :

-        Keadaan tali dan pancing harus bersih dari sisa umpan atau darah ikan yang melekat

-        Pada saat “hauling” diusahakan kotoran-kotoran yang melekat pada alat tangkap segera dibersihkan

-        Memeriksa keadaan tali, mungkin ada yang aus atau putus, bila ada sebaiknya diganti, diperbaiki atau disambung

-        Tempat penyimpanan tali harus terhindar dari pengaruh sinar matahari langsung dari minyak yang dapat merusak, begitu juga dari gangguan tikus dan hewan perusak lainnya

-        Alat-alat dari bahan baja yang tidak dipakai disimpan dengan cara dicelupkan atau direndam didalam minyak agar tidak cepat berkarat

-        Tali dijaga dari gesekan atau benturan dari benda-benda tajam. Gesekan dengan benda kapal akan menyebabkan tali cepat aus, sehingga laju penyusutan alat sangat besar

-        Alat tangkap dijaga dari tekanan benda berat secara langsung, sehingga tali tidak berubah bentuk

-        Bagian-bagian atau pancing yang berkarat sebaiknya segera diganti

-        Sekiyama yang aus atau melilit secepatnya diperbaiki dengan jalan mengganti dengan senar yang baru

Perawatan alat tangkap biasanya dilakukan sebelum dan sesudah operasi penangkapan dilakukan. Hal ini dilakukan agar alat tangkap dalam kondisi yang baik. Sehingga apabila dioperasikan akan dapat dioparasikan tanpa menemui kandala yang berarti dan akan menunjang keberhasilan operasi penangkapan. Setelah operasi penangkapan dilakukan sebaiknya alat tangkap dibersihkan dari darah maupun sisa umpan yang melekat dikarenakan sisa darah dan umpan yang melekat pada alat tangkap akan memicu terjadinya pembusukan yang akan mengakibatkan tali menjadi aus, dan akan mengakibatkan karatan pada komponen yang terbuat dari logam. Disamping itu yang perlu dilakukan adalah memeriksa apakah pada bagian alat tangkap tersebuat terdapat bagian yang aus atau putus, apabila ada segera diganti dengan bagian yang lain yang kondisinya baik.

Sebelum ditempatkan pada tempat penyimpanan harus diperhatikan agar tali dijaga dari gesekan benda-benda tajam yang dapat mengakibatkan tali menjadi aus atau bahkan putus. Dan yang perlu diperhatikan agar dalam penyimpanannya dihindari dari tekanan benda berat secara langsung yang dpat mengakibatkan tali berubah bentuk sehingga mengurangi efektifitas penangkapan.

Dalam penyimpanan alat tangkap harus dihindarkan dari pengaruh sinar matahari langsung karena dapat mengakibatkan alat tangkap menjadi cepat aus. Sebaiknya ditempatkan pada tempat yang terhindar dari gangguan hewan yang dapat merusak alat tangkap seperti tikus dan hewan lainnya yangn bersifat merusak. Untuk bahan yang terbuat dari logam sebaiknya dalam penyimpanannya  dicelupkan kedalam minyak terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar komponen tersebut tidak cepat berkarat karena pengaruh air laut dan udara.Apabila terdapat komponen yang berkarat sebaiknya segera diganti dengan komponen yang baru.

Semua yang dilakukan diatas untuk mempertahankan kondisi alat tangkap agar dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang panjang. Komponen “long line” merupakan komponen yang sederhana namun harganya relatif tinggi. Oleh karena itu perawatan alat tangkap dilakukan agar dapat menekan biaya perbaikan alat tangkap. Pada akhirnya kondisi alat tangkap yang baik akan meningkatkan keberhasilan operasi penangkapan.

2.11  Hasil Tangkapan

Pada operasi penangkapan longline ini yang tertangkap yaitu ikan-ikan dengan ukuran besar  seperti tuna, salmon, Spanish mackerel, shark, dll. Tetapi pada kenyataannya operasi tertangkap juga ikan layaran, hiu, dll.

Contoh ikan yang tertangkap pada operasi longline di bawah :

NO    SCIIENTIFIC NAME    ENGLISH NAME         INDONESIAN NAME  AREA

1       Thunus thynnus orientalis    Bluefin tuna        ?       North pacific, Atlantic

2       T. Thynnus thynnus    Bluefin tuna        ?       North pacific, Atlantic

3       T. Thynnus macoyi     Southerm bluefin         ?       South pacific, Indian ocean

4       T. alalunga          Albacore    Albacore    All ocean

5       T. oberus   Big eye tuna       Mata besar         All ocean

6       T. Albacares       Yellow fin tuna    Madidihang, beulang kedawung   All ocean

7       T. tonggol  Northerm bluefin          ?       Pacific, Indian ocean. Atlantic

8       T. atlanticus        Blackfin      ?       Atlantic

9       Katsowonus pelamis   Skipjack     Cakalang   All ocean

10     Tetrapturus angustirustris    Shortbill spearfish        ?       Pacific, Indian ocean

11     Istiophorus orientalis   Sailfish       Ikan layaran        Pacific, Indian ocean

12     Tetrapturus audax       Striped marlin     Setuhuk loreng   Pacific, Indian ocean

13     Macaira nigricans        Blue marlin          Setuhuk hitam    Pacific, Indian ocean

14     Macaira indica    Black marlin        Setuhuk putih     Pacific, Indian ocean

15     Xiphias gladias   Sword fish Ikan pedang, ikan todak       Pacific, Indian ocean

16     Xiphias      Shark         Hyu, cucut All ocean

2.12  Daerah Penangkapan

        Penyebaran Ikan Tuna di Perairan Indonesia

Tuna dan cakalang adalah ikan perenang cepat dan hidup bergerombol (schooling) sewaktu mencari makan. Kecepatan renang ikan dapat mencapai 50 km/jam. Kemampuan renang ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyebarannya dapat meliputi skala ruang (wilayah geografis) yang cukup luas, termasuk diantaranya beberapa spesies yang dapat menyebar dan bermigrasi lintas samudera.  Pengetahuan mengenai penyebaran tuna dan cakalang sangat penting artinya bagi usaha penangkapannya (Cascorbi, 2002).

Jenis tuna dan cakalang menyebar luas di seluruh perairan tropis dan subtropis. Penyebaran jenis-jenis tuna dan cakalang tidak dipengaruhi oleh perbedaan garis bujur (longitude) tetapi dipengaruhi oleh perbedaan garis lintang (latitude). Pada Perairan Samudera Hindia dan Samudera Atlantik, ikan tuna dan cakalang menyebar di antara 40ºLU dan 40ºLS. Khususnya di Indonesia, tuna hampir didapatkan menyebar di seluruh perairan di Indonesia. Wilayah Indonesia bagian barat meliputi Samudera Hindia, sepanjang pantai utara dan timur Aceh, pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Perairan Indonesia bagian timur meliputi Laut Banda Flores, Halmahera, Maluku, Sulawesi, perairan Pasifik di sebelah utara Irian Jaya dan Selat Makasar (Collete dan Nauen, 1983 dalam Diniah. et al, 2002). 

Distribusi ikan tuna dan cakalang di laut sangat ditentukan oleh berbagai faktor, baik faktor internal dari ikan itu sendiri maupun faktor eksternal dari lingkungan.  Faktor internal meliputi jenis (genetis), umur dan ukuran, serta tingkah laku (behaviour). Perbedaan genetis ini menyebabkan perbedaan dalam morfologi, respon fisiologis dan daya adaptasi terhadap lingkungan. Faktor eksternal merupakan faktor lingkungan, diantaranya adalah parameter oseanografis, seperti : suhu, salinitas, densitas dan kedalaman lapisan thermoklin, arus dan sirkulasi massa air, oksigen dan kelimpahan makanan Kedalaman renang tuna dan cakalang bervariasi tergantung jenisnya. Umumnya tuna dan cakalang dapat tertangkap di kedalaman 0-400 meter. Salinitas perairan yang disukai berkisar 32-35 ppt atau di perairan oseanik. Suhu perairan berkisar 17-31 oC (Diniah. et al, 2002). 

Mengenai jenis ikan tuna yang sering tertangkap adalah sebagai berikut :Madidihang (Thunnus albacares) tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Panjang madidihang bisa mencapai lebih dari 2 meter. Jenis tuna ini menyebar di perairan dengan suhu yang berkisar antara 17-31oC dengan suhu optimum berkisar antara 19-23oC,  sedangkan suhu yang baik untuk kegiatan penangkapan berkisar antara 20-28oC.

Tuna mata besar  (Thunnus obesus) menyebar dari Samudera Pasifik melalui perairan di antara pulau-pulau di Indonesia sampai ke Samudera Hindia. Ikan ini terutama ditemukan di perairan sebelah selatan Jawa, sebelah barat daya Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda dan Laut Maluku. Tuna mata besar merupakan jenis yang memiliki toleransi suhu yang paling besar, yaitu berkisar antara 11-28oC dengan kisaran suhu penangkapan antara 18-23oC.

Tuna albakora (Thunnus alalunga) daerah penyebaranya sangat dipengaruhi oleh suhu. Jenis ini menyenangi suhu yang relatif lebih rendah. Albakora juga memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dibandingkan dua jenis tuna di atas.

Tuna sirip biru (Thunnus maccoyi) didapatkan menyebar hanya di belahan bumi selatan. Oleh karena itu jenis ini sering disebut sebagai southern bluefin tuna. Ikan ini tidak terlalu banyak tertangkap oleh para nelayan Indonesia (Laevastu dan Hela, 1970).

        Faktor Tingkah Laku Ikan

Migrasi adalah berpindah dari suatu daerah ke daerah lain dan tinggal di daerah baru itu selama waktu yang relatif agak tertentu atau mungkin menetap di daerah baru tersebut. Migrasi pada ikan merupakan perpindahan yang periodis, merupakan gerakan yang dilakukan atas kehendak dan kekuatanya sendiri dengan tujuan dan arah tertentu pula. Ikan pelagik tertentu yang hidup dalam lapisan 200 m teratas, antara lain ikan tuna, selalu melakukan migrasi dalam siklus hidupnya, antara lain karena faktor temperatur yang terjadi pada setiap musim serta ketersediaan makanan (Mulbyantoro. et al, 1999).

Ikan tuna sebagai salah satu jenis ikan pelagis merupakan ikan yang sangat peka terhadap setiap perubahan lingkungan yang ada disekitarnya. Perubahan sekecil apapun dapat membuat ikan melakukan migrasi dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka mencari tempat yang sesuai dengan kondisi dirinya. Alasan kebiasaan ikan tuna yang suka bermigrasi ini adalah pilihan akan suhu yang sesuai dengan kondisi tubuhnya, tempat berkumpulnya makanan dan gradien suhu dimana proses migrasi bisa dilakukan secara soliter (sendiri) maupun berkelompok. Perubahan suhu dapat mempengaruhi ikan melalui beberapa peranannya sebagai modifier dalam proses metabolisme dan aktifitas ikan serta sebagai stimulus syaraf. Reaksi yang muncul pada ikan terhadap suhu bisa jadi merupakan pengaruh yang sangat komplek yang menyangkut beberapa proses diantaranya adalah perubahan area makan melalui migrasi dan pencarian atau beberapa dampak terhadap tingkat pertumbuhan, pemasakan gonad bahkan recruitment ikan disuatu perairan (Gunarso, 1990).

Secara umum, faktor iklim tersebut sangat mempengaruhi kebiasaan hidup ikan tuna baik dalam mencari makan, migrasi, pemijahan dan aktifitas yang lain, sehingga hal tersebut dapat digunakan sebagai faktor pendukung dalam penentuan area fishimg ground dan dilakukan penangkapan.

        Dispersi ikan tuna

Dispersi atau dispersion adalah fenomena dalam populasi yang mempengaruhi jarak perenggangan antar individu ikan atau spesies ikan. Dispersi itu adalah gerakan ikan, terutama ikan tuna muda tanpa tujuan tertentu dan dapat juga sebagai gerakan pasif bersama arus air laut dan keluar dari populasi asal dan menempati daerah baru untuk waktu yang lama, oleh karena adanya dispersi itu maka suatu populasi ikan laut yang telah lama ada disuatu daerah dapat berubah. Disamping itu ada gerakan pindah keluar dari kumpulan populasi asal, ada pula gerakan pindah memasuki populasi yang telah ada yang biasanya dilakukan oleh ikan-ikan muda dan inilah yang disebut dengan recruitment. Beberapa faktor berpengaruh pada dispersi ikan yaitu faktor lingkungan alam (fisik dan kemis), faktor biologis (reproduksi), faktor adanya ketersediaan makanan serta mortalitas alami (Mulbyantoro. et al, 1999).

Pola dispersi dapat bersifat random atau bersifat kelompok (clumped). Ikan-ikan karnivor biasanya menyebar secara random, sedang ikan herbivor secara berkelompok membentuk kumpulan. Gerakan dispersi itu dapat dilakukan secara bebas oleh berbagai jenis ikan berdasarkan naluri, terutama untuk mencari makan. Pola dispersi ikan ini dapat dipengaruhi oleh adanya kepadatan dalam populasi yang disebabkan oleh reproduksi maupun persaingan dalam mencari makan. Pola tersebut merupakan salah satu faktor penyebab berkumpulnya ikan di sekitar rumpon sebagai tempat berlindung maupun mencari makan (Laevastu dan Hela, 1970).

2.13  Tehnik Operasi 

a.      Setting

Seperempat jam sebelum setting dimulai dilakukan persiapan-persiapan agar setting berjalan dengan lancar. Persiapan itu adalah membuka umpan dan disemprot air laut agar tidak kaku karena pembekuan sebelumnya. Basket dibuka dan ditaruh di meja setting hingga penuh. Antar basket yang satu dengan basket yang lain disambung. Bola penampung dikeluarkan dari tempatnya dan kemudian disambung dengan tali bola. Semua ABK sudah berada ditempatnya dimana ia bekerja. ABK ini dibagi menjadi dua grup setting, jika grup A setting, maka grup B istirahat, begitu pula sebaliknya. Yang istirahat menyediakan umpan terlebih dahulu.

Umpan yang dipakai untuk menangkap ikan tuna ada tiga jenis yaitu bandeng, lemuru, dan laying. Untuk ikan bandeng bila keadaannya masih baik bisa dipakai dua kali, sedangkan untuk umpan lemuru hanya sekali pakai karena umpan tersebut mudah rusak.

Teknik pemasangan umpan ada ( 3 ) tiga cara, yaitu :

1.      Mengaitkan mata pancing antara kedua mata umpan

2.      Mengaitkan mata pancing dengan menusukkan bagian atas kepala

3.      Mengaitkan mata pancing di daerah punggung ( dorsal ), tepatnya dibawah sirip dorsal tersebut.

Pemasangan umpan biasanya dilakukan dengan mengaitkan mata pancing diantara kedua mata umpan. Ini dilakukan agar sewaktu umpan berada di air terlihat seperti hidup karena pengaruh arus. Untuk pemasangan biasanya juga sangat bervariasi, kadang dalam beberapa basket berlainan jenis, terkadang juga dipasang umpan yang sejenis. Ini semua tergantung pengalaman dan keinginan kapten kapal.

Setelah persiapan selesai maka setting segera dimulai dan kapal dijalankan  6 knot. Pertama kali lightbuoy dilego, kemudian main line yang pertama dibuang, main line ini tidak tidak dipasang branch line. Main line habis , tali pelampung dibuang yang disusul dengan pembuangan pelampung. Basket yang kedua digeser, basket ini dipasang branch line yang ujungnya terdapat pancing yang telah diberi umpan lalu dibuang.

Jumlah basket yang digunakan sebanyak 160 buah , dengan 1440 mata pancing. Dlam setiap basket yang dipakai terdiri dari dua buah ikatan tali main line yang telah disisipi branch line pada ikatan yang pertama, dibagian atasnya diberi tali pelampung dan pada ikatan yang kedua diberi branch line yang disambungkan ke main line. Petugas setting berada di buritan kapal dengan tugasnya masing-masing, yaitu : 1 orang memasang umpan dan membuang pancing, 1 orang membuang main line, 1 orang membuang tali pelampung, 1 orang membuang basket, 1 orang memegang kemudi setting. Setting biasanya dimulai pukul 06.00 sampai dengan 11.00.

b.      Hauling

Sebelum hauling dimulai, dilakukan persiapan-persiapan terlebih dahulu. Persiapan itu misalnya pisau diasah, roller diberi minyak pelumas, karet line hauler dalam keadaan baik, deck disiram air laut dan line hauler dijalankan serta handle dicoba. Stelah bendera berada didekat kapal, bendera diganco lalu dinaikkan keatas dck. Main line dilepas dari tiang bendera untuk kemudian dihubungkan ke line hauler untuk ditarik. Hauling dimulai sekitar pukul 16.00 dan berakhir biasanya pukul 01.00 dan akan bertambah waktunya kalau ikan yang tertangkap lebih banyak atau ada kekusutan pada tali.

Petugas hauling terdiri dari :

2.13.1        Pemegang handle, tugasnya mengawasi kekenduran dan ketegangan tali utama. Bila tali kendur jangan sering mengerem, karena tali bisa masuk ke propeller kapal dan bila kusut dijalankan perlahan atau direm.

2.13.2        Penjaga main line, bertugas menjaga gulungan tali utama agar rapi dan tidak kusut. Bila sudah satu basket, harus membuka simpul, demikian juga jika ada tanda yang rusak diberi tanda dengan simpul.

2.13.3        Penggulung branch line, tugasnya menggulung branch line dan diusahakan jangan sampai merusak dinding kapal juga pancing harus dibersihkan dari sisa umpan lalu diikatkan ke branch line.

2.13.4        Penerima pancing, bertugas menerima gulungan branch line dan meletakkannya pada gulungan main line. Tiap basket terdiri dari dua yaitu satu ikatan yang terdiri dari gulungan main line dan branch line serta satunya lagi main line yang diatasnya terdapat tali bola ( pelampung ).

2.13.5        Penyusun basket, dalam menyusun basket dibantu oleh penerima pancing agar susunan basket menjadi rapi. Lalu diikatkan dengan tali salang yang sudah tersedia.

2.14.Ikan Umpan

Ikan umpan merupakan pemikat agar ikan sasaran (target species) yang memakannya dapat terkait pada mata pancing. Beberapa jenis ikan umpan yang umum dipakai untuk rawai tuna di Indonesia, antara lain: Kembung (Rastrelliger, sp.), Layang (Decapterus sp.), Lemuru  (Sardinella sp.), dan Bandeng (Chanos chanos). Pada umumnya mata pancing dikaitkan di bawah gurat sisi (lateral line) ikan umpan. Nelayan Taiwan lebih menyukai umpan bandeng hidup, dan penempatan mata pancing dikaitkan diatas gurat sisi.  Contoh pemasangan umpan pada 

2.14  Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan

1.      Semua ABK sudah berada ditempatnya dimana ia bekerja dan melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik.

2.      Pengaitan mata pancing, tergantung dari pengalaman dan keinginan kapten kapal

3.      Roller harus diberi minyak pelumas agar pada saat hauling line hauler tidak kusut dan tali tidak kusut.

4.      Umpan yang diberikan, biasanya disemprot air laut agar tidak kaku karena pembekuan sebelumnya.  

Tatap Muka ke 10

3       POLE AND LINE

3.1 Definisi Alat Tangkap

Pole / Rod and line atau disebut biasa juga dengan “pancing gandar” karena pancing ini menggunakan gandar, walesan, joran atau tangkal ( rod or pole ). Jadi semua pancing yang menggunakan gandar sebenarnya adalah pole and line, walaupun terakhir salah kaprah karena sebutan pole and line hanya untuk penagkapan cakalang. Pada pengoperasiannya ia dilengkapi dengan umpan, baik umpan benar ( true bait ) dalam bentuk mati atau hidup maupun umpan tipuan ( imitasi ).

3.2    Sejarah alat tangkap

Ikan tuna sudah dikenal manusia sejak zaman batu, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya alat penangkap ikan dengan menggunakan pancing dari tanduk dan perahu jukung kuno. Pada  awalnya pole atau gandar terbuat dari bahan tradisional seperti bambu atau kayu namun seiring dengan kemajuan zaman, bahan pole atau gandar berkembang sehingga terbuat dari metal atau fiberglaas.

Di Jepang, pancing pertama dikenalkan pada abad 8 yang terbuat dari metal, dan kemudian ditemukan jaring untuk skipjack atau cakalang pada abad 12. Pada awalnya penangkapan ikan menggunakan pole and line menggunakan perahu jukung kemudian berkembang menjadi perahu dayung, perahu layar dan akhirnya berkembang menjadi kapal layar besar pada abad 19. Dan sekarang kapal pole and line sudah menggunakan mesin/motor yang modern.

3.3    Prospektif Alat Tangkap

Seperti yang telah diketahui Indonesia memiliki lautan yang sangat luas, meliputi kurang lebih duapertiga dari seluruh luas wilayah negara. Disamping itu sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki   13.607 buah pulau. Dan memiliki kuranglebih 90.000 km garis pantai. Lautan Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa, beriklim tropis ternyata membawa konsekuensi kaya akan jenis-jenis maupun potensi sumberdaya perikanan. Untuk ikan saja diperkirakan ada 6000 jenis dimana 3000 jenis diantaranya telah diidentifikasikan

Sehubungan dengan hal diatas, penggunaan pole and line di Indonesia masih memiliki kesempatan yng besar karena wilayah Indonesia masih menyimpan potensi yang besar untuk perikanan tangkap, yaitu sekitar 1,8 juta ton pertahun (Kompas; 3-04-04 ) terutama di wilayah timur Indonesia seperti laut Arafura, laut Seram, laut Banda, dan laut Flores serta perairan lainnya seperti Laut Cina Selatan, Samudera Pasifik dan Lautan Hindia.Namun demikian perlu adanya kewaspadaan akan terjadinya pencurian ikan oleh pihak asing. Menurut harian Kompas ( 3-04 2004 ), pada tahun 2003 sebanyak 144 kapal ikan asing tertangkap di perairan Indonesia dan 28 kapal diantaranya berada di Kalbar. Dan salah satu kelemahan utama penegakan hukum dilaut, menurut Rohmin adalah terlalu lemahnya proses hukum.

3.4 Konstruksi umum

Pole and line terdiri dari gandar  yang bisanya terbuat dari bambu ( bamboes pole), tali pancing dan mata pancing. Bentuk kapal pole and line memiliki beberapa kekhususan antara lain :

        Bagian atas dek kapal bagian depan terdapat plataran ( flat form ) yang digunakan sebagai tempat memancing.

        Dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk penyimpanan ikan umpan yang masih hidup.

        Pada kapal pole and line ini harus dilengkapi sistem semprotan air ( water splinkers system ) yang dihubungkan dengan  suatu pompa.

Sedangkan tenaga pemancing jumlahnya bervariasi misalnya saja untk kapal ukuran 20 GT dengan kekuatan 40-60 HP, tenaga pemancingnya berjumlah 22-26 orang, dengan ketentuan sebagai berikut 1 orang sebagai kapten, 1 motoris, 1-2 orang pelempar umpan, 1 orang sebagai koki dan sisanya sebagai pemancing.

3.5 Detail Konstruksi

Panjang galah biasanya tergantung ukuran perahu yaitu semakin besar ukuran perahu yang digunakan, ukuran gandar / joran juga semakin panjang dan terbuat dari bambu  maupun fiberglass karena ringan dan lentur Tali utama terbuat dari bahan nylon monofilament warna merah atau hijau dan panjangnya  2/3 dari panjang galah/ gandar.

Mata pancing untuk pole and line ini ada 2 macam yaitu yang berkait balik dan tidak berkat balik, namun yang sering digunakan adalah yang tidak berkait balik. Mata pancing ini diselipkan seakan akan disembunyikan pada umpan tiruan / palsu, sehingga tidak secara langsung kelihatan menyolok. Untuk mata pancing yang berkait balik memakai umpan, yaitu umpan hidup atau masih segar. Penggunaan mata pancing ini hanya dilakukan kalau nantinya ikan yang akan ditamgkap tidak suka menyambar umpan tiruan.

3.6 Karakteristik

Pole and line atau pancing gandar ini memiliki beberapa jenis antara lain mackerel pole and line, skipjack pole and line dan squid pole and line atau pole and line untuk cumi-cumi. Dan berikut ini dalah penjelasannya:

a.      Mackerel pole and line

Untuk di Jepang metode pemancingan ikan makarel yang efisien pada malam hari. Berat kapal sekitar 1-50 ton.Lama pelayaran dari satu malam hingga dua minggu. Nelayan lebih suka menggunakan galah bambu, buatan jepang, karena ringan dan lentur. Jarak galah biasanya 1,5 sampai 2 meter panjangnya tergantung ukuran perahu. Tali utama panjangnya hampir sama dengan panjang galah. Pengait atau ikan yng dipasang pada mata pancing dihubungkan dengan tali utama oleh tali mata pancing sepanjang 10-15 cm dan warnanya sama dengan tali utama. Ada dua jenis umpan ( untuk pengait dan untuk ditabur ) umpan untuk pengait yaitu terbuat daridaging makarel bagian luar dengan lebar 10mm, panjang 50-60 mm, dan tebal 2 sampai 3 mm. Untuk pemasangannya , bagian kulit di sisi dalam sedangkan bagian daging di sisi luar.

b.      Skipjack pole and line

Pemancingan skipjack dengan pole and line di perairan jepang menggunakan tangkai bambu dengan panjang 4,5 sampai 6 meter unuk di jepang dan 3,5 sampai 4 meter untuk di kep pasifik dan Tahiti. Pada kapal skipjack ini biasanya memiliki banyak awak kapal namun dengan ditemukannya mesin untuk penangkapan cakalang maka mengurangi sejumlah awak kapal. Mesin yang digunakan untuk tiap-tiap kapal antara 4 sampai 12 unit mesin. Mesin ini dirancang untuk melakukan gerakan sebagai mana yang dilakukan nelayan, contohnya untuk menarik ikan dengan cara gerakan vertikal dari tangkai dan untuk membuka tangkapan ikan.

Sedangkan untuk ukuran kapal bervariasi antara 20 sampai 500 GT. Kapal yang berukuran lebih dari 70 GT terbuat dari baja, sedangkan yang kurang dari 60 GT terbuat dari fiberglass. Umpan hidup dari jenis ikan sardin sangatlah diperlukan, agar sardin tersebut teap hidup untuk masa 50-60 hari sampai kapal sampai di tempat pemancingan, maka sarden disimpan di tangki air laut dn air diganti 4 sampai 6 kali tiap jamnya oleh sistem sirkulasi air mekanik dengan pompa air laut.

c.       Squid  pole and line

Pemancingan ikan cumi- cumi dilakukan malam hari dengan bantuan lampu. Sepanjang operasi spanker digunakan untuk melawan angin. Ukuran kapal cumi-cumi ini bervariasi yaitu 2-3 GT untuk penagkapan di pantai dan 500 GT untuk laut bebas. Untuka kapal 100 GT biasanya memiliki awak kapal sejumlah 16-20 orang dengan waktu perjalanan 2 minggu hingga 2 bulan dan kecepatan 9-10 knots.

Di Indonesia sendiri terdapat bermacam-macam pancing gandar dan beberapa diantaranyayang penting adalah sebagai berikut :

a.      Huhate ( skipjack pole and line )

Alat ini banyak digunakan di wilayah Indonesia bagian timuer. Penangkapan dengan menggunakan pole and line tersebut dapat menggunakan kapal motor ( kapal motor khusus cakalang, yuna clipper ), tetapi untuk nelayan-nelayan kecil biasanya menggunakan perahu dayung ( rowing boat ) yang biasa disebut Funai dan atau Rurche. Alat pemancingnya sendiri bentuknya umum sepeti pancing cakalang pada umumnya. Umpan hidup yang digunakan terdiri dari sejenis ikan teri, sardin, selar, kembung, lolosi (Caesio spp  ). Ikan-ikan umpan hidup ini biasanya diperoleh dari pengusaha penagkapan ikan umpan.

b.      Pole and line dengan perahu dayung

Untuk nelayan skala kecil, penggunaan perahu motor memaang dirasa terlalu mahal biayanya, kecuali untuk perikanan industri. Bagi nelayan kecil penangkapan dengan pole and line dapat menggunakan perahu dayung ( rowing boat ). Di daerah kepulauan maluku bagian utara perahu yang digunakan disebut Bloto dengan panjang 7 m, lebar 1-1,25 m, dalam 0,5 m, menggunakan tenaga 4 orang, sedang untuk ukuran lebih besar menggunakan tenaga 6-8 orang. Sebagian nelayan daerah Ambon, Ceram, Banda juga ada yang menggunakan perrahu dayung yang disebut Arambai, yang berukuran panjang 10 m, lebar 1-1,25m, dalam 0,50 m. tenaga yang diperlukan sejumlah 14 orang yaitu 7 orang pemancing, 5 orang pendayung dan 2 orang pengumpan.

c.       Beberapa tipe pancing gandar

.    Pancing kakap

Suatu pancing yang dikhususkan memancing ikan kakap. Gandar berukuran panjang 4 m. pancing ini menggunakan umpan hidup, biasanya lundu ( Macrones gulio ) yang diperoleh dari hasil menjala. Cara menggunakan umpan ini adalah dengan memasukkan ujung mata pancing tepat dibawah kepala dibawah tulang punggung atau di atas irip dada. Lokasi penagkapan yaitu I pantai, muara sungai, dan dekat pelabuhan. Hasil tangkapan terutama ikan kakap. Daerah distribusi di  Merauke, Kaimana, Agat, muara sungai Mapi dan Digul.

.    Pancing bobara

Pancing bobara mempunyai panjang joran 3-3,5 m, berdiameter 2cm pada bagian pangkalnya dan 0,75 m pada ujungnya. Tali pancing sepanjang    m dibuat dari bahan nilon atau senar  (plastik ). Pada ujung tali pancing diikat dengan kawat tembaga  ( panjang 25 cm )kemudian disambung lagi dengan kawat no 1 yang panjangnya    10 cm dan baru pada ujung kawat ini dikaitkan mata pncing ( no 6 ). Pada waktu penangkapan pancing ini menggunakan umpan hidupdari jenis tembang atau japuh yang diperoleh dari hasil menjala. Lokasi penagkapan dilakukan di pantai-pantai dimana banyak terdapat karang-karang. Hasil tangkapan kecuali bobara (Carank spp ), juga ikan – ikan besar lainnya seperti kerapu ( Ephinephelus, spp ), dan lain=lainnya. Penangkapan dengan menggunakan bobara banyak ditemukan di daerah perikanan sekitar Gorontalo.

.    Pancing Tandipang

Mata pancing yang digunakan untuk mata pancing tandipang, berukuran yang paling kecil dan idak berkait balik, dan dalam pengoperasiannya menggunakan umpan yang terdiri dari udang halus atau udang rebon. Penangkapan dilakukan dengan bedramai-ramai. Biasanya terdiri dari 15-20 perahu yang berukuran panjang 5m, lebar 0,5 m, dalam 0,45 m dan dilengkapai dengan katir / sema bila telah ditemukan kawanan ikan tembang, kemudian sebelum melakukan pemancingan ditaburi dulu dengan udang halus. Sementara pancing yang telah diberi umpan dilemparkan ke dalam airdan umumnya segera disambar. Umpan yang telah disambar ini dengan cepat diangkat ke atas perahu. cara pemancingan ini sama dengan pole and line tapi khusus untuk ikan kecil. Distibusi dari pancing ini adalah di daerah perikanan sekitar Gorontalo.

3.7. Tehnis

a.      Pancing ini digunakan untuk menangkap blue fin tuna di Gulf of Biscay, Prancis

.    Diameter pole 30 mm

.    Panjang pole 1,35 m

.    Yaps,d : 4 , spread : 20

.    Tali mata pancing: PA MONO, d : 0,6 - 0,8

b.      Pancing untuk Mackerel dari Jepang

.    Pole dari bambu 1,5 – 2 m

.    Tali pancing : PA MONO, d / 0,52  ,  panjang : 1.5 – 2 m

.    Umpan : sayatan daging ikan 50 – 60 mm

.    Shank : 41 – 47,  spread : 14 - 18

c.       Pancing untuk tuna digunakan di daerah kep Fiji, Samudera Pasifik

.    Pancing dengan 1 pole untuk ikan < 8 KG

.    Pancing dengan 2 pole untuk ikan > 8 kg

.    Pole dari bambu panjang  3,20 – 3,40 m, d : 45

.    Tali pancing, PA MONO, d : 1,65 ,panjang 2,60 m

3.8.Bahan dan Spesifikasinya

a.      Gandar

Untuk nelayan jepang yang menggunakan pole and line sebagai alat tangkapnya merek biasanya menggunakan gandar dari bambu,karena disamping ringan juga lentur. Selain itu ada juga yang menggunakan fiberglass untuk dipakai joran/ gandar, namun harga fiberglass ini lebih mahal dari bambu.

b.      Tali pancing

Tali pancing bisanya menggunakan PA atau polyamide dan ada juga yang menggunakan benang / nylon monofilament dan senar plastik seperti nelayan di daerah Ambon dan kepulauan Maluku lainnya.

c.       Tali mata pancing

Tali mata pancing yaitu tali yang menghubungkan pancing dengan tali pancing, biasanya terbuat dari kawat ( wire ) baja.

3.9.Umpan

Umpan yang digunakan untuk pole and line ini terdiri dari dua jenis yaitu umpan benar ( true bait ) dan umpan imitasi. Untuk umpan benar biasanya menggunakan ikan yang masih hidup yaitu dari jenis ikan teri, sardin, selar, kembung, dan lolosi yang biasanya didapat dari pengusaha penagkapan ikan umpan. Sedangkan umpan imitasi dapat digunakan bulu ayam atau umpan palsu yang memang sudah dibuat secara komersil dan telah tersedia di pasaran.

Pada perikanan cakalang (Katsuwonus pelamis), karena dalam usaha menangkap jenis ikan tersebut diperlukan umpan, maka baik para nelayan maupun para ahli perikanan berusaha untuk mengetahui jenis umpan yang bagaimana disukai ikan tersebut. Ikan cakalang termasuk jenis ikan yang rakus dan tidak menunjukkan adanya makanan utama, tambahan dan sebagainya (Gunarso, 1985).

Pada perikanan tuna dan cakalang, besarnya hasil tangkapan yang dikehendaki bergantung pada dapat terpenuhi atau tidaknya umpan hidup ataupun umpan mati dalam jumlah dan kualitas tertentu. Beberapa jenis umpan tertentu, terkadang hanya dapat diperoleh di perairan tertentu saja, yang mungkin sekali bahwa tempat untuk memperoleh  umpan tersebut  sangat jauh dari daerah penangkapan, disamping bahwa beberapa spesies tertentu tidak dapat diperoleh atau ditangkap secara terus menerus sepanjang tahun, karena mungkin sekali jenis umpan tersebut dapat diperoleh secara musiman saja (Gunarso, 1985).

 Umpan hidup merupakan faktor pembatas dalam penangkapan ikan cakalang dengan pole and line. Analisa dari hasil-hasil penelitian (Widodo dalam Anonymous, 1986), memberi petunjuk bahwa banyak sedikitnya hasil tangkapan yang diperoleh dari hasil analisa menunjukkan rata-rata ratio hasil penangkapan ikan cakalang dan umpan berkisar antara 4,8-8,6 kg. Artinya dalam 1 kg ikan umpan menghasilkan 4,8-8,6 kg ikan cakalang. Besarnya angka ratio ini dapat di pengaruhi oleh besar kecilnya gerombolan (schooling) cakalang yang dijumpai dan keadaan cakalang waktu dijumpai (lapar atau kenyang), juga selera/ nafsu  makan cakalang terhadap jenis umpan (mutu ikan umpan) yang digunakan.

Salah satu faktor pembatas berhasilnya perikanan cakalang adalah dengan cukup tersedianya umpan hidup, yang dimaksud dengan perikanan cakalang yang berkaitan dengan “umpan hidup” ialah penangkapan cakalang dengan pole and line. Walaupun pada prinsipnya penggunaan ikan  umpan hidup (life bait fishes) ditujukan khusus untuk menangkap ikan cakalang dengan pole and line, namun hasilnya tidak hanya ikan cakalang/ skipjack (Katsuwonus pelamis), tetapi juga jenis-jenis ikan lainnya. Untuk cakalang sendiri meliputi 80-95 %, sedang sisanya terdiri dari : Albakora/ albacore (Thunnus alalunga), Tuna mata besar/ Big eye tuna  (Thunnus obesus), Madidihang/ Yellowfin tuna (Thunnus albacares), Tongkol (Euthynnus affinis).

Umpan yang digunakan adalah umpan hidup, dimaksudkan agar setelah ikan umpan dilempar ke perairan akan berusaha kembali naik ke permukaan air. Hal ini mengundang ikan cakalang untuk mengikuti naik ke dekat permukaan. Selanjutnya diadakan penyemprotan air melalui sprayer. Penyemprotan air dimaksudkan untuk mengaburkan pandangan ikan cakalang, sehingga tidak dapat membedakan antara ikan umpan sebagai makanan atau mata pancing yang sedang dioperasikan. Umpan hidup yang paling sering digunakan adalah jenis teri (Stolephorus spp.)

Umpan yang baik dan sering dipakai terutama adalah jenis teri, sardin, lolosi dan layang. Sedangkan alat  yang digunakan dalam penangkapan umpan tersebut yang berada di perairan Teluk Bone, perairan Kendari dan perairan Bau-bau adalah alat tangkap bagan rambo, bagan apung, sero, dan jala lompo.

3.10.Kapal dan Hasil Tangkapan

Para nelayan tradisional di Indonesia dalam operasinya masih menggunakan kapal kayu, karena disamping bahan lebih mudah didapat tapi juga harganya lebih murah. Sedangkan untuk nelayan dari jepang dapt dibedakan menjadi dua yaitu untuk kapal dengan ukuran  kurang dari 60 GT dibuat dari fiberglass, sedangkan yang lebih dari 70 GT dibuat dari baja. Memancing dilakukan di haluan kapal, sedangkan semprotan air terletak di luar pagar kapal. Untuk ruangan ikan dilapisi dengan kayu, namun karena terjadi kebocoran maka plat kayu diganti dengan lapisan palt baja setebal 4,5 sampai 6 milimeter.

Pada penagkapan ikan dengan menggunakn pole and line ini, hasilnya antara lain :

a.      Skipjack / cakalang ( Katsuwo pelamis )

b.      Albacore ( Thunnus alalunga )

c.       Mackerel ( Auxis tazard )

d.      Bullet Mackerel ( Auxis rochei )

e.      Bonito timur ( Sarda orientalis )

f.       Kakap (Lates calcarifer )

g.      Ikan-ikan pelagis kecil seperti Euthynnus spp dan Euthynnus affinis.

h.      Dll

3.11.Daerah Penangkapan

Di perairan Indonesia, penangkapan dengan menggunakan pole and line banyak terdapat di wilayah Indonesia timur seperti Minahasa, Gorontalo, Air tembaga, Ambon, Bacan, Banda, Teratai dan Sorong. Sedangkan daerah penangkapan ikan dunia dengan menggunakan pole and line sebagai berikut

        Antara lintang 40 LU dan 40 LS yaitu daerah kep Hawiai, Chilli, North Island , dan zona ekuator lainnya.

        Daerah kepulauan Hokkaido dan Filipina.

        Samudera Atlantic dan Laut Mediterania

          Adapun faktor-faktor yang erat hubungannya dengan fishing ground adalah :

1.      Biologis, seperti : jenis ikan, kepadatan populasi, kemungkinan ruaya, behavior, swimming layer dan lain sebagainya.

2.      Keadaan perairan itu sendiri, seperti : kedalaman, tranparansi, arus, suhu, kandungan O2/ CO2, kesuburan perairan dan bentuk dasar perairan.

3.      Jenis alat penangkapan dan cara penangkapannya.

Ikan akan selalu mencari tempat yang sesuai dengan sifat hidupnya. Biasanya suatu jenis ikan mempunyai suhu optimum, faktor musim dan perubahan suhu serta berbagai keadaan lainnya akan mempengaruhi penyebaran serta kelimpahan suatu daerah penangkapan ikan (fishing ground). Sejauh ini telah diketahui bahwa salah satu daerah penangkapan (fishing ground) yang baik terdapat di perbatasan atau pertemuan arus panas dengan arus dingin, pada daerah terjadinya pembalikan lapisan air (up welling), terjadinya arus pengisian (divergensi) dan lain sebagainya (Gunarso, 1985).

          Penentuan daerah penangkapan (fishing ground) tuna dan cakalang secara tepat dapat dilakukan dengan dukungan berbagai informasi. Informasi dapat diperoleh berdasarkan pengalaman nelayan dan bantuan teknologi yang terus berkembang. Fishing ground tuna dan cakalang dapat ditentukan secara visual langsung di perairan, atau secara tidak langsung berdasarkan data yang diperoleh melalui teknologi penginderaan jauh dan hidroakustik (Anonymous, 2001b).

          Saat pencarian fishing ground merupakan suatu hal yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk membaca tanda-tanda alam. Biasanya hal ini merupakan tanggung jawab dari fishing master, tanda-tanda alami di laut yang menunjukkan tentang adanya kawanan ikan tersebut, antara lain :

.    Kawanan burung yang terkonsentrasi di atas permukaan laut dan sesekali menukik

.    Adanya percikan air di permukaan laut

.    Terdapat kayu, benda-benda terapung

.    Adanya mamalia laut, seperti lumba-lumba dan ikan paus

.    Konsentrasi warna yang lebih gelap, berbeda dibandingkan warna air disekitarnya.

          Selain menggunakan tanda-tanda alami, kini para nelayan dipermudah dengan adanya fishing ground buatan yang biasa disebut dengan rumpon. Ide pembuatan rumpon diperoleh dengan memperhatikan tingkah laku ikan yang suka mengikuti benda-benda atau terapung di tengah laut (Subani dan Barus, 1998).

          Berdasarkan pengalaman nelayan, daerah penangkapan (fishing ground) tuna dan cakalang yang catchable diantaranya ditandai oleh :

.    Warna perairan lebih gelap dibandingkan perairan sekitarnya

.    Ada banyak burung beterbangan dan menukik-nukik di permukaan air

.    Banyak buih di permukaan air

.    Umumnya  jenis  ikan  ini  bergerombol  di  sekitar batang-batang kayu yang hanyut diperairan atau bersama  ikan  berukuran besar seperti ikan paus (Anonymous, 2001b).

          Pada suatu daerah penangkapan ikan (fishing ground), kelompok ikan pada umumnya tidak akan berada dekat pada lapisan permukaan dimana mereka lebih memungkinkan untuk dapat ditangkap, bila suhu di tempat atau lapisan tersebut tidak sesuai bagi mereka, walau mungkin saat itu mereka ada di sana (Gunarso, 1985).

          Menurut Subani dan Barus (1998), ada beberapa persyaratan umum daerah penangkapan yang potensial, untuk alat tangkap pole and line adalah :

.    Daerah tersebut ditemukan banyak gerombolan ikan cakalang sepanjang tahun

.    Daerah tersebut mempunyai kadar garam/ salinitas yang tinggi

.    Daerah tersebut merupakan tempat pertemuan arus

.    Daerah tersebut mudah didapatkan umpan hidup

Disamping itu persyaratan lain bagi ikan cakalang adalah kedalaman perairan sekitar 40 m, warna air laut jernih dan merupakan daerah perairan terbuka.

Daerah penyebaran ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) membentang di sekitar 40ºLU-30ºLS. Daerah penangkapannya yang terbesar berada sepanjang katulistiwa yaitu antara 10ºLU-10ºLS. Sebagian dari perairan Indonesia merupakan lintasan ikan cakalang yang bergerak menuju kepulauan Filipina dan Jepang. Itulah sebabnya cakalang dijumpai hampir sepanjang tahun di perairan Indonesia. Kelompok yang padat sering dijumpai pada perairan sekitar Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku dan Irian Jaya (Gunarso, 1985).

          Menurut Gunarso (1985), pola ruaya ikan cakalang dari Utara ke Selatan sepanjang pantai Barat Sumatera (Samudera Hindia bagian Timur) sebagai berikut: bulan Juli sampai September di bagian Utara jauh dari pantai Barat Sumatera dan pada bulan Oktober hingga Desember di bagian Selatan dengan gerakan ke arah Timur. Pada bulan April hingga Juni, ikan cakalang tersebut muncul diselatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Selama kurun waktu bulan April hingga Juni ikan cakalang kembali ke Selatan menuju Samudera Hindia.

          Ikan cakalang dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 25 kg. Ikan ini juga terdapat di tiga samudra dunia tetapi menghendaki kondisi tertentu, faktor pembatasnya yang penting adalah suhu dan salinitas. Cakalang lebih banyak hidup di perairan lapisan permukaan dengan suhu 16-30 oC dan salinitas 32-36 promil dan melakukan pemijahan di daerah pantai (Nontji, 1993).  

3.12.Alat Bantu Penangkapan

Dalam pengoperasian pole and line, diperlukan alat bantu penengkapan yang berguna unuk membantu mengumpulkan kawanan ikan atau untukk membantu dalam kelancaran operasi penangkapan.

Alat bantu tersebut antara lain :

a.      Jaring tangguk / seser

Jaring tangguk berguna untuk memojokkan umpan ke suatu sudut agar mudah di tangguk dengan churchill. Sedangkan seser yang besar berguna untuk memindahkan umpan hidup ke ember dan seser kecil digunakan untuk menyebar umpan

b.      Penyemprot air

Penyemprot air yang erbuat dari pipa dan erletak di bagian tepi kapal yitu dibawah para-para . penyemprot air ini bergna untuik menyemprotkan air ke arah kawanan ikaan agar kawanan ikan tersebut mengira air yang jatuh adalah umpan yang disebar sehingga mudah untuk ditangkap/ dipancing.

c.       Ember

Digunakan untuk menampung umpan hidup sebelum dipindah ke seser keciluntuk disebar

d.      Mesin pemancing

Mesin pemncing ini teretak pada bagian pinggir lambung kapal. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan mesin ini lebih efektif dari tenaga manusia.

e.      Rumpon

Rumpon ini berguna untuk mengumpulkan kawanan ikan dan harus dipasang jauh hari sebelum operasi penangkapan, jadi tidak perlu menggunakan ikan hidup sebagai umpan namun semprotan air masih harus terus digunakan.

3.13.Tehnik Operasi

f.       Persiapan

Tahap persiapan ini dilakukan sebelum kapal berangkat untuk mencari gerombolan ikan / fishing ground.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain :

.    Merangkai alat pancing

.    es / freon yang digunakan untuk menyimpan ikan hasil tangkapan agar lebih awet

.    umpan hidup, biasanya menggunakan ikan teri yang diperoleh dari hasil menjla sendiri atau membeli dari pengusaha ikan umpan

.    ember, kaleng, jaring tangguk, seser yang berguna untuk membantu kelancaran operasi penagkapan yaitu untuk menyebarkan umpan

.    joran / gandar yang telah dirangkai sesuai dengan sejumlah pemancing besreta cadangannya.

.    Bahan bakar untuk berangkat dan kembali dari Fishing Ground

.    Bahan Makanan untuk anak buah kapal

.    Dan alat- alat lain yang dapat membantu kelancaran operasi penangkapan

b.      Mencari Fishing Ground

.    Mencari gerombolan ikan

Setelah semua alat yang diperlukan dalam operasi penangkapan disiapkan, dilakukan pencarian gerombolan ikan. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan mencari secara langsung gerombolan ikan dengan berlayar kesana-kemari ( manouvere ) dan dengan memperhatikan kawanan burung laut atau ke tempat rumpon yang telah disiapkan sebelumnya

.    Mengejar ruaya ikan

b.      Pemancingan

Pemancingan dilakukan dengan melemparkaan ikan umpan hidup sebagai perangsang agar cakalang lebih mendekat ke arah kapal sehingga lebih udah dijangkau oleh pancing. Setelah ikan mendekat, agar umpan hidup tidak banyak terbuang, maka kran penyemprot air laut dibuka dan setelah ikan terlihat meloncat-loncat kemudian dipancing. Kegiatan pemncingan ini dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing ke atas permukaan air dan bila disambar oleh cakalang, dengan cepat diangkat melalui atas kepala dan secara otomatis terlempar ke dalam dek kapal. Hal demikian dilakukan hingga berulang-ulang. Pemancingan dengan cara seperti ini biasa disebut dengan cara banting. Disamping itu ada yang disebut dengan cara gepe yaitu cara pemancingan dengan pole and line dimana setelah ikan terkena pancing dan diangkat dari dalam air kemudian pengambilan dari mata pancing dilakukan dengan cara menjepit ikan diantara tangan dan badan si pemancing

Adapun tahapan dalam pengoperasian alat tangkap pole and line sebagai berikut :

1.      Setelah tiba di daerah penangkapan ikan cakalang, maka kecepatan kapal dikurangi. Angin berasal dari lambung kanan kapal agar juru umpan lebih mudah membuang umpan ke laut dan semburan air mengarah ke depan. Arus sebaiknya berasal dari lambung kiri dengan membentuk sudut 450 dengan arah angin. Apabila terjadi arus kuat maka posisi kapal harus sejajar atau berlawanan arah arus sehingga kapal berada diatas angin. Kemudian buoy-buoy (pelempar umpan) sudah siap untuk melempar umpan hidup.

2.      Nahkoda memberikan aba-aba pada buoy-buoy untuk mulai melempar ikan umpan hidup dengan “sipu-sipu” (sejenis gayung yang terbuat dari jaring) dari lambung kiri kapal. Apabila menggunakan alat bantu rumpon maka jarak kapal dengan rumpon berkisar 500-1000 m.

3.      Apabila ikan cakalang mulai memangsa umpan hidup, kemudian buoy-buoy secara perlahan menebar ikan umpan hidup lagi dari haluan kapal, dan diusahakan gerombolan ikan selalu berada di sebelah kiri lambung kapal dan haluan kapal.

4.      Laju kapal dihentikan dan pemancing mulai melakukan pemancingan dari bagian haluan, lambung kiri dan lambung kanan kapal.

3.15.Hal – Hal Yang Mempengaruhi Operasi Penangkapan

Pada penangkapan ikan dengan menggunakan pole and line ini hasil tangkapan dipengaruhi oleh :

a.      Kelengkapan alat bantu penangkapan : Apabila alat bantu penangkapan yang diperlukan tidak lengkap dapat menghambat operasi penangkapan, sehingga mempengaruhi  hasil tangkapan

b.      Waktu Penangkapan : Penangkapan dengan pole and Line ini juga tergantung dari waktu penangkapan. Waktu yang optimal yaitu pukul 09.00 dan 15.00.

c.       Keahlian memancing  : Keahlian memancing ini mempengaruhi hasil tangkapan yang diperoleh. Keahlian dibagi 3 yaitu :

.    Kelas 1 = 12 -15 ekor / mnt

.    Kelas 2 =  7 -12 ekor / mnt

.    Kelas 3 =  0 -7 ekor / mnt

Tatap Muka ke 11

4.      VERTICAL LINE ( Pancing Ulur)

4.1    Definisi Alat Tangkap

Alat pancing terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali dan mata kail. Selain itu komponen lainnya misalnya tangkai (pole), pemberat, pelampung, dan kili – kili (swivel). Ragam dari pancing ini banyak sekaliyaitu tuna long line, drift long line, set long line, pole and line, troll line dan lainnya. Long line atau pancing rawai adalah suatu alat tangkap pancing yang terdiri dari tali panjang ( tali utama / main line ) yang kemudian tali tersebut secara berderet pada jarak tertentu digantungkan / diikatkan tali – tali pendek ( tali cabang / branch line ) yang ujungnya diberi mata pancing / hook.

Sedangkan pancing rawai tegak lurus atau vertical long line merupakan salah satu dari jenis long line yang cara pengoperasiannya secara vertical atau tegak lurus. Dalam satu unit pancing ini ada yang memakai banyak mata pancing yang diikatkan sepanjang tali utama pada jarak satu sama lain yang telah ditentukan.

4.2    Sejarah

Di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan dan perairan darat lainnya, sebagian penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan ataupun banyak yang menggantungkan hidupnya pada laut, sungai atau perairan lainnya. Pada jaman dahulu orang menangkap ikan dengan peralatan yang seadanya dengan cara yang sederhana. Mereka menggunakan kerang – kerang sebagai alat tangkap. Seiring kemajuan cara berfikir maka mereka mulai mencari dan menciptakan suatu peralatan yang dapat memudahkan mereka dalam menangkap ikan.  Pancing pertama kali dibuat sangat sederhana, hanya dengan tongkat dan satu tali utama. Mereka telah menggunakan umpan untuk menarik ikan. Selanjutnya sedikit demi sedikit sesuai dengan kemajuan teknologi mulai ada pembaharuan desain dan banyak modifikasi sehingga banyak tercipta bentuk – bentuk pancing yang sesuai dengan kegunaannya masing masing dengan konstruksi yang lebih detail dan rumit. Sampai saat ini alat tangkap yang satu ini dianggap masih berguna baik pada nelayan skala kecil sampai perikanan industri.

4.3    Prospektif

Selama ini vertical long line atau rawai tegak lurus ini adalah pancing yang umumnya digunakan oleh nelayan, khususnya nelayan pada skala kecil ( small scale fishery ). Kadang juga digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari – hari ataupun untuk kesenangan semata – mata atau hobi ( game fish ). Namun seiring dengan kemajuan teknologi, maka alat tangkap ini mengalami banyak modifikasi baik bentuk maupun bahan yang disesuaikan dengan tempat dan jenis ikan yang akan di tangkap. Sehingga sekarang ini alat tangkap pancing rawai tegak lurus / vertical long line ini mulai digunakan pada skala besar diperuntukkan pada perikanan industri.

Alat tangkap ini juga sangat fleksibel, tidak mengenal siang maupun malam serta musim apa saja dapat digunakan. Dalam kondisi daerah tangkap yang bervariasi juga dapat digunakan. Misalnya di karang –karang, tempat dangkal maupun dalam, juga di rumpon – rumpon maupun rompong ( payaos).

4.4    Konstruksi Alat Tangkap

4.5    Konstruksi Umum

Secara umum rawai tegak lurus ini terdiri dari komponen – komponen utama yang biasanya terdiri dari tali utama / main line, tali cabang / branch line / tali pancing, berikut bagian – bagiannya yaitu tali pelampung dan pelampung, pemberat, tali jangkar atau tali pemberat serta mata pancing.

b.      Detail Konstruksi

Secara khusus pancing landung memiliki bagian – bagian sebagai berikut : tali utama / main line panjangnya sekitar 50 – 100 m, jerat / kolongan, kawat kuningan dengan panjang 0,25 m, tali kawat kurang lebih 100cm, mata pancing no.5 – no.14, landung / sinkers 0,5 – 0,75 kg ( untuk pancing landung yang beroperasi di daerah kep. Masalima).

Sedangkan konstruksi khusus pada hand line di Jepang penangkapan di siang hari terdiri dari main line dari PA MONO 1,6 , WIRE 1,panjang 5000 – 20000. Swivel 30 – 40. Branch line PA MONO 0,6 – 1 panjang 300 – 400 m atau lebih dari 250 m. Pemberat yang dipakai 0,5 – 1 kg. Pengoperasian pada malam hari menggunakan lampu terdiri dari main line PA MONO 1,6 , WIRE 1, panjang 5000 – 20000 m. Swivel 0,80 m, branch line PA MONO 0,6 – 1 panjang 50 – 70 m atau 300 – 400 m. Pemberat 0,5 – 1 kg.

Pancing ulur (untuk pengkapan Layur ) terdiri dari : tali pancing (line) yang bahannya terbuat dari benang senar (PA. Monofilamen No. 250) dimana panjangnya tergantung dari kedalaman lokasi tempat memancing dan jenis ikan yang akan dipancing; pemberat (sinkers) yang bahannya terbuat dari timah atau kuningan dengan ukuran 500 – 750 gram; tali kawat (tali penghubung antara pemberat dengan pancing) yang bahannya terbuat dari baja dengan panjang  50 – 100 cm; mata pancing (hook) yang terbuat dari baja (galvanis) dengan ukuran No. 5-9 tergantung dari jenis ikan yang akan dipancing. Biasanya pancing ulur hanya terdiri dari satu mata pancing, akan tetapi ada juga yang menggunakan lebih dari satu mata pancing (Anonymous, 1991).

 Menurut Subani dan Barus (1989), pancing ulur (hand line) dikategorikan menjadi 2 macam :

a.      Pancing Ladung (drop line)

Pancing ladung (hand line) ialah suatu bentuk pancing yang umum digunakan oleh nelayan, khususnya nelayan skala kecil (small scale fishery). Pancing ladung sering disebut pancing labuh atau pancing ulur (drop line). Secara garis besar pancing ini terdiri dari beberapa komponen, yaitu (1) tali pancing (line); (2) mata pancing (hook) dan pemberat (sinkers). Dalam satu unit pancing ladung ada yang memakai banyak mata pancing yang diikat sepanjang tali utama pada jarak satu sama lain yang telah ditentukan.

b.      Cigi-Cigi (Jigger)

Cigi-cigi ada yang menamakan pancing tarik cepat adalah vertical line yang terdiri dari banyak mata pancing. Biasanya pancing ini tidak diberi umpan, namun ada juga yang diberi umpan pada pengoperasiannya (cigi cumi-cumi, squid jigger). Cigi biasanya digunakan pada malam hari dengan memakai lampu sebagai alat bantu menghimpun ikan.

4.6    Karakteristik

Ciri khusus dari pancing rawai tegak lurus atau vertical long line ini adalah memakai banyak mata pancing / hook yang diikatkan sepanjang tali utama pada jarak satu sama lain yang telah ditentukan pada satu unit pancing. Hal tersebut bertujuan agar ikan tertarik dan menyambar mata pancing karena gemerlapan waktu di dalam air sehingga dikira makanan.

Selain itu pancing ini menggunakan pemberat pada saat operasi penangkapan berlangsung, di samping cara pengoperasian secara tegak lurus kedalam air.

4.7    Bahan dan Spesifikasi

Biasanya tali pancing dibuat dari bahan benang, katun, nilon, polythylin, plastik atau senar dan lainnya. Sedangkan mata pancingnya / mata kail terbuat dari kawat baja, kawat kuningan, atau bahan lainnya yang tahan karat. Ukuran berbeda – beda tergantung besar kecilnya ikan yang akan ditangkap. Bila dilihat dari segi material / bahannya vertical long line ini dapat dibagi menjdi dua jenis yaitu bahan utamanya monofilament ( biasanya PA ) dan multifilament ( biasanya PVA seperti kuralon ), namun ada beberapa yang memakai wire. Perbedaan penggunaan bahan ini akan mempengaruhi jenis line hauler yang akan digunakan. Adapaun perbedaan dari kedua jenis bahan ini ( PA dan PVA ) yaitu ;

a.      Monofilament lebih murah dan ringan dibanding dengan multifilamen serta lebih mudah dirakit sesuai untuk kapal – kapal kecil.

b.      Monofilamen lebih mudah di tangani di banding multifilamen

c.       Monofilamen lebih kecil,halus, transparan, dan dinilai memberikan hasil tangkapan yang lebih baik dibanding dengan multifilamen.

4.8    Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan pancing rawai tegak lurus atau vertical long line ini bermacam – macam. Secara umum hasil tangkapan dari vertical long line yaitu ; Tuna sirip biru ( Thunnus maccoyii), Cakalang ( Katsuwonus pelarnis), Tuna mata besar ( Thunnus obesus ), Madidihang ( Thunnus albacares ).  Namun ada beberapa wilayah di mancanegara yang mendapat hasil tangkapan yang berbeda misalnya red snapper ( Lutjanus Sanguineus), dan Yellow Tail di perairan Jepang, Makarel di peraiaran Inggris, venezuela, dan Prancis, ikan Cod di Island dan Atlantik, untuk tuna big eye juga didapatkan di perairan China dan Taiwan. Cigi – cigi menghasilkan tangkapan ikan kembung, tandipang, selar, kuwe, malugis, cumi-cumi dan lain – lain.

4.9    Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan iakan dengan menggunakan rawai tegak lurus ini di Nusantara meliputi daerah : Kepulauan Sepeken-Kangean, Bali, Pegagan-Madura, Puger-Jawa Timur, Gorontalo-Sulawesi Utara, Masalima, Pelabuhan Ratu, Sumur-Jawa Barat, Air Tembaga-sulawesi Utara, Luwuk, Tk.Poh-Sulawesi Tengah. Sedangkan Wilayah – wilayah di luar negeri yang operasi penangkapannya menggunakan vertical long line antara lain meliputi daerah ; Inggris, Perancis, Jepang , Iceland, North west Atlantic, Venezuela, Taiwan, China, Spanyol, Luzon, Dan Kepulauan Fiji.

4.10  Alat Bantu Penangkapan

Dalam operasi penangkapan dengan vertical long line ini ada beberapa yang menggunakan alat bantu. Macam alat bantu yang dipergunakan antara lain Lampu. Lampu ini digunakan pada malam hari untuk menghimpun kawanan ikan agar mendekati alat tangkap. Jenis vertical long line yang menggunakan alat bantu lampu misalnya Cigi – cigi dan hand line pada daerah operasi di Jepang.

Pada jenis vertical long line yang lain misalnya pancing landung ( termasuk drop line), alat bantu yang digunakan berupa rumpon ataupun payaos. Jadi operasi penangkapan dengan pancing landung ini diadakan pada daerah yang telah ditanami rumpon / payaos. Perbedaan Rumpon dan Payaos, Rumpon dipasang pada daerah perairan dangkal sedangkan Payaos pada perairan dalam ( payaos disebut juga rumpon laut dalam ). Jenis alat tangkap yang menggunakan alat bantu payaos lebih banyak dan lebih bervariasi.

4.11  Tehnik Operasi ( Setting Dan Hauling )

Penangkapan dengan pancing dapat dilakukan baik pada siang hari maupun pada malam hari, dapat juga di gunakan sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Untuk vertical long line ini ada yang menggunakan umpan dan ada pula yang tidak menggunakan umpan pada saat pengoperasiannya. Umpan yang dipakai untuk menangkap ikan tuna ada tiga jenis yaitu bandeng ( Chanos chanos ), Lemuru ( Sardinella longicep ), dan Layang. Tehnik pemasangan umpan ada tiga macam, yaitu;

a.Mengaitkan mata pancing antara kedua mata umpan.

b.Mengaitkan mata pancing dengan menusukan bagian atas kepala

c.mengaitkan mata pancing di bagian punggung ( dorsal ), tepatnya di bawah sirip dorsal tersebut.

Selain umpan benar ( ikan asli, baik mati maupun hidup ) ada juga umpan tiruan / umpan palsu atau benda – benda lain yang sifatnya menarik.

Untuk alat yang dioperasikan pada malam hari maka akan menggunakan alat bantu lampu untuk menghimpun ikan. Pemancingan dilakukan dengan menurunkan pancing secara tegak lurus kedalam air kemudian menggerak – gerakan ke atas dan ke bawah ( up and down ) dan sekali kali di sentak keatas. Karena hook yang digunakan banyak , maka pada saat disentakkan ke atas banyak ikan yang tersangkut di hook. Prinsip setting pemancingan dilakukan demikian rupa, yaitu setelah pancing diturunkan / dijatuhkan kedalam air sampai menyentuh dasar kemudian diangkat lagi sekitar 1 meter ( untuk tempat yang tidak dalam ) atau 2- 3 meter ( untuk perairan dalam, lebih dari 100 meter).

Setelah beberapa jam ( biasanya antara 5 – 6 jam, penarikan pancing dilakukan dengan alat penarik line hauler. Dalam melakukan penarikan ini dibagi menjadi beberapa kegiatan, misalnya pada waktu pelepasan dan merupakan suatu system yang satu dengan yang lainnya berkaitan erat dan seirama. Secara garis besar kegiatan penarikan pancing secara berurut dimulai dari tiang bendera, pelampung serta pemberat diangkat di atas geladak kapal. Tali utama, tali cabang serta mata pancingnya dan begitu seterusnya sampai keseluruhan pancing terangkat di atas geladak kapal. Kemudian bila pada mata pancing terdapat ikan maka pengambilan ikan setelah ujung tali cabang dilepas dari tali utama.   

Adapun cara operasi pancing ulur layur sebagai mana berikut ini. Cara pengoperasian alat pancing ulur ini cukup sederhana yaitu dengan menurunkan tali pancing yang telah diberi umpan pada mata pancingnya ke dasar perairan lokasi pemancingan kemudian menunggu beberapa saat (sampai umpan pada mata pancing termakan oleh ikan pemangsa) lalu ditarik keatas ke permukaan laut (diatas perahu/kapal) untuk mengambil hasil tangkapan, kemudian kembali menurunkan kedalam laut, dan demikian seterusnya (Anonymous, 1991).

Kayadoe (1983) berpendapat bahwa cara pengoperasian hand line adalah dengan mengulurkan pancing secara vertikal ke bawah. Ujung tali yang satu berada ditangan nelayan dan ujung tali lainnya dimana terdapat mata pancing diulurkan sampai ke dasar atau pada kedalaman tertentu yang diduga tempat berkumpulnya ikan. Bila umpan yang melekat pada mata pancing dimakan oleh ikan, maka tali pancing ditarik dan ikan yang tertangkap diambil.

Lokasi pemancingan dengan menggunakan pancing ulur dapat dilakukan di sembarang tempat (di karang-karang, tempat-tempat dangkal maupun dalam, juga di rumpon-rumpon). Prinsip pemancingan dilakukan sedemikian rupa, yaitu setelah pancing diturunkan kedalam air sampai menyentuh dasar kemudian diangkat lagi barang satu meter (untuk tempat yang tidak begitu dalam) atau 2-3 meter untuk tempat-tempat dalam (seratus meter lebih) atau digantungkan (vertical longline) (Subani dan Barus, 1989).

4.12  Pancing Ulur Layur Prigi

Pancing ulur merupakan salah satu alat tangkap yang sederhana baik dilihat dari segi fisik maupun cara pengoperasiannya. Secara umum alat tangkap pancing ulur yang digunakan oleh nelayan di Perairan Teluk Prigi adalah sama. Perbedaan yang dapat dilihat secara fisik adalah perbedaan pada ukuran (nomor) mata pancing dan jumlah mata pancing yang digunakan pada satu unit alat tangkap pancing ulur. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan daerah penangkapan (fishing ground) dan jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

  Satu unit pancing ulur yang digunakan oleh nelayan di Perairan Teluk Prigi terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line), mata pancing (hook), kili-kili (swivel), pemberat (sinker), kawat (wire leader), dan penggulung (fishing spool). Untuk penelitian ini digunakan 4 unit pancing ulur dengan ukuran (nomor) mata pancing yang berbeda-beda, yaitu nomor 7, 8, 9, dan 10. Adapun spesifikasi pancing ulur yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

4.12.1        Tali Utama (Main Line)

Tali utama terbuat dari bahan PA monofilament dengan warna putih transparan. Tali utama yang dipakai dalam penelitian bernomor 2500 dan panjangnya 40 meter untuk satu unit pancing ulur. Tali utama berfungsi untuk mengikat tali cabang dan pemberat.

4.12.2        Tali Cabang (Branch Line)

Tali cabang adalah tali percabangan yang diikatkan pada tali utama dan mata pancing. Tali cabang yang dipakai dalam penelitian ini terbuat dari bahan PA monofilament dengan nomor 500 dan berwarna putih transparan. Jumlah tali cabang sama dengan jumlah mata pancing yang digunakan yaitu 15 untuk setiap satu unit pancing ulur. Panjang tiap satu tali cabang adalah 1-1,5 meter dengan jarak antar tali cabang sebesar 2 meter.

4.12.3        Mata Pancing (Hook)

Mata pancing yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 4 ukuran (nomor) yaitu nomor 7, 8, 9, dan 10. Setiap ukuran (nomor) mata pancing dipakai untuk 1 unit pancing ulur dengan jumlah masing-masing 15 buah. 

4.12.4        Kili-Kili (Swivel)

Kili-kili (swivel) yang digunakan terbuat dari baja. Ada 2 macam ukuran swivel yang digunakan dalam penelitian ini. Swivel pertama berukuran nomor 3 yang digunakan untuk menyambung 2 tali utama bila sewaktu-waktu pancing ulur digunakan pada perairan yang lebih dalam sehingga membutuhkan lebih banyak mata pancing. Swivel kedua berukuran nomor 8, swivel ini lebih kecil daripada swivel pertama. Swivel ini digunakan untuk mengikat tali utama dengan tali cabang. Tujuan penggunaannya adalah agar tali cabang tidak terbelit sehingga memudahkan pengoperasian pancing ulur.

4.12.5        Pemberat (Sinker)

Pemberat digunakan dengan tujuan agar pancing cepat tenggelam dan tidak hanyut terbawa arus. Dalam satu unit pancing ulur dipakai satu buah pemberat dengan ukuran berat yang berbeda-beda tergantung pada jumlah mata pancing dan keberadaan ikan yang menjadi sasaran. Pemberat yang digunakan dalam penelitian ini terbuat dari besi dengan berat 200 – 400 gram.

4.12.6        Kawat (Wire Leader)

Kawat ini digunakan untuk sambungan antara tali cabang dengan mata pancing. Kawat yang dipakai pada penelitian ini terbuat dari bahan baja dengan nomor 24. Kawat yang digunakan tiap satu ikatan tali cabang dan mata pancing adalah sepanjang 10-15 centimeter. Kawat digunakan dengan tujuan untuk mengurangi tekanan pada mata pancing yang tersangkut pada mulut ikan sehingga tali cabang tidak mudah putus karena berat beban ikan layur yang terpancing.

4.12.7        Penggulung (Fishing Spool)

Penggulung terbuat dari bahan plastik dengan bentuk seperti roda. Penggulung ini digunakan untuk menggulung pancing ulur agar tali-talinya tidak terbelit-belit (ruwet) sehingga memudahkan dalam pengoperasiannya di lain waktu. Ukuran penggulung bukan menjadi masalah asal disesuaikan dengan panjang tali dan banyaknya mata pancing yang digunakan.

a.      Armada Pancing Ulur

Pengoperasian pancing ulur ini menggunakan perahu/kapal bermotor. Pada umumnya kapal yang dipakai untuk operasi alat tangkap pancing ulur di perairan Prigi menggunakan sistem mesin dalam (in board system). Begitu pula dengan kapal yang digunakan untuk penelitian ini. Adapun spesifikasi kapal yang digunakan adalah sebagai berikut :

1.      Awak Kapal : 1 - 2 orang (maksimal 4 orang)

2.      Dimensi Kapal (P x L x D) : (7,75 x 2,30 x 0,7) m

3.      Bahan Kapal : Kayu Jati

4.      Bahan Bakar : Solar

5.      Merk Mesin : Donfeng (20 PK)

6.      Kecepatan maksimum : 3 knot

7.      Kapasitas bahan bakar : 35 liter

8.      Kapasitas palkah : 1,5 ton (untuk penangkapan ubur-ubur)

Kapal ini dilengkapi dengan jangkar yang terbuat dari besi dan pelampung yang digunakan agar kapal tidak terbawa arus pada saat pengoperasian pancing ulur. Selain itu juga terdapat 2 buah lampu petromaks sebagai alat penerangan pada malam hari, 3 buah keranjang untuk mengangkut ikan layur saat penimbangan dan 3 buah cool box yang terbuat dari steroform yang digunakan untuk penyimpanan ikan dengan es agar ikan masih segar bila sampai di Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

b.      Operasi Penangkapan

Operasi penangkapan pada perikanan pancing ulur dimulai dengan persiapan sebelum pemberangkatan Persiapan ini meliputi persiapan alat (pancing ulur), bahan bakar, es dalam cool box, umpan, dan bekal makanan secukupnya. Setelah semua persiapan selesai, kapal diberangkatkan menuju fishing ground. Biasanya pemberangkatan ini dilakukan sekitar pukul 15.30 – 16.30, namun waktu ini dapat berubah setiap saat tergantung pada jarak fishing ground yang akan dituju.

Pada saat penelitian fishing ground yang dituju masih dalam wilayah didalam Teluk Prigi. Waktu yang diperlukan mulai dari fishing base sampai fishing ground pada saat penelitian sekitar kurang lebih 30 menit.  Namun bila fishing ground yang dituju berada diluar Teluk Prigi biasanya waktu yang diperlukan sekitar 1-2 jam. Penentuan fishing ground didasarkan pada pengalaman hari sebelumnya dan informasi dari nelayan lain. Daerah penangkapan antara nelayan satu dengan lainnya jaraknya tidak terlalu jauh sehingga dapat dikatakan bahwa fishing ground untuk penangkapan ikan layur ini bersifat menggerombol.

Sesampainya di fishing ground yang diprediksi banyak ikannya, jangkar diturunkan kedalam air agar kapal tidak hanyut terbawa arus. Setelah itu nelayan menyalakan lampu petromaks dan membuat umpan dengan cara memfillet ikan yang dijadikan umpan dan dipotong kecil-kecil dengan ukuran panjang 10 – 15 cm dengan tebal ± 3 cm. Umpan yang dipakai adalah ikan layur hasil tangkapan hari sebelumnya dan juga ikan hasil tangkapan yang didapatkan jika umpan yang ada sudah habis.

Umpan yang siap pakai dikaitkan pada mata pancing (hook) dan kemudian diturunkan secara perlahan kedalam air agar tali pancing tidak terbelit. Setelah sampai pada kedalaman yang diinginkan, maka pancing ulur dibiarkan dan sekali-kali ditarik sampai terasa umpan yang dipasang termakan ikan. Apabila umpan telah termakan ikan layur, maka dengan cepat tali diangkat keatas. Ikan yang terkait pada mata pancing dilepaskan dan ditaruh pada keranjang. Pada saat ikan dilepaskan dari mata pancing maka umpan yang sudah rusak sekaligus diganti dengan yang baru. Bila pancing semua sudah diangkat keatas dan umpan sudah dipasang kembali maka tali pancing diturunkan kembali kedalam air begitu seterusnya. Ikan yang sudah tertangkap ditata sedemikian rupa dalam cool box yang sudah diberi es.

Operasi pemancingan biasanya dilakukan mulai tiba di fishing ground (senja hari) sampai menjelang matahari terbit sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah operasi penangkapan selesai, maka jangkar diangkat dan kapal diberangkatkan pulang menuju pelabuhan. Setelah sampai di pelabuhan ikan ditata dalam keranjang untuk kemudian dijual di TPI.

4.13  Hal – Hal Yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan

Dalam operasi penangkapan dengan vertical long line hal – hal yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan antara lain adalah ;

4.14  Pemilihan jenis bahan dari line / tali yang sesuai dengan ikan yang akan ditangkap dan sesuai dengan kondisi perairan.

4.15  Bahan dari mata pancing serta ukuran mata pancing yang sesuai dengan ikan yang akan ditangkap.

4.16  Alat bantu penangkapan yang digunakan pada saat operasi penangkapan.

4.17  Lokasi / daerah tempat operasi penangkapan dilaksanakan

4.18  Kemampuan dari nelayan dalam pengoperasian alat  tangkap vertical long line.

 

Penulis

Dr. Ir. Gatut Bintoro, M.Sc

Ir. Sukandar, MP

Agrobisnis Perikanan, FPIK Universitas Brawijaya

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,1976, Fisherman’s Manual, World  Fishing, England.

__________,1975, FAO  Catalogue of Smail Scale Fishing Gier, FAO  of  UN.

Ayodyoa, A.U., 1972, Kapal Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

___________, 1975, Fishing Methods Diktat Kuliah Ilmu Tekhnik Penangkapan Ikan, Bagian  Penangkapan Fakultas Perikanan IPB, Bogor.

___________, 1983, Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.

Damanhuri, 1980, Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penangkapan Ikan, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Dickson, 1959, The Use Of Danish Seine, Modern Fishing Gear Of The World, Japan International Cooperation Agency, Tokyo.

Fridman, !988, Perhitungan Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Martosubroto, 1987, Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia, Direktorat Bina Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Muhammad, S. Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan Agus Cahyono, 1997, Studi Pengembangan Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa Timur, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Nedelec W., 2000, Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Schmidt, Peter G.Jr., 1989, Fish Boats 2, Mc hills, London.

Subani, W., 1978, Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, jilid I, LPPL, Jakarta.

Subani, W dan H.R. Barus, 1989, Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta.

Swandaru, 2000, Pengoperasian Alat Tangkap Purse seine dua Kapal di Perairan Selat Bali. Laporan PKl, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang

The Gourack Ropework, Co., ltd., 1961. Deep Sea Trawling and Wing Trawling.

Ward, george, ed., 1964. Stern trawling

Widodo, S., 2002, Identifikasi, Klasifikasi dan Inventarisasi Alat Penangkapan dan Armada Perikanan di Kabupaten Jember, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang.

PROPAGASI

A.      Latihan dan Diskusi

1.      Mengapa pancing pole and line tidak berkait balik?

2.      Jenis ikan apa tujuan penangkapan pancing long line?  

B.      Pertanyaan (Evaluasi mandiri)

1.      What is the function of water spray?

2.      Where is the best fishing ground for longline?

3.      What are the differences between long line and pole and lien?

4.      Why is life bait needed for pole and line ?

5.      What kind of fish is ussually caught by pole and line?

C.      QUIZ -mutiple choice (Evaluasi)

D.      PROYEK (menghitung kedalaman mata pancing longline)

No comments:

Post a Comment