Monday, October 28, 2019

Alat Tangkap Jaring Berkantong (Metode Penangkapan Ikan (MPI))



1. PENDAHULUAN

1.1 Pengantar

        Salah satu alat tangkap yang dapat digunakan untuk menangkap ikan dengan jumlah tangkapan ikan cukup banyak adalah yang terbuat dari jaring yang membentuk kantong agar gerombolan ikan dapat terkurung.

 

        Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk kantong (cawan) pada saat selesai penarikan tali kerut tersebut.

 

        Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong.

 

        Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai penjerat ikan.

 

        Penanamaan purse seine di Jepang didasarkan pada jenis ikan dan jumlah kapal yang digunakan dalam operasi penangkapan misalnya : (1) One Boat Horse Sardine Purse Seine, (2)Two Boat Sardine Purse Seine, (3)One Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine, (4)Two Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine, (5) One Boat Skipjack and Tuna Purse Seine, dan (6)Two Boat skipjack and Tuna Purse Seine.

 

        Purse seine, pertama kali diperkenalkan di pantai utara Jawa oleh BPPL (LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973/1974) dan berkembang pesat sampai sekarang. Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang menggunakan purse seine. Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk (kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu / kapal yang digunakan untuk usaha perikanannya.

        Sasaran akhir yang dituju dalam studi purse seine adalah pengungkapan dan pemahaman pengoperasian salah satu alat tangkap yang terbuat dari jaring.  Ini adalah landasan dasar dari upaya optimalisasi penguasaan materi tentang metode penangkapan ikan

 

1.2 Tujuan

Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan untuk memahami metode penangkapan ikan, akan dapat

        Menjelaskan pengertian alat tangkap jaring berkantong dalam menunjang metode penangkapan ikan

        Menjelaskan metode pengoperasian alat tangkap jaring berkantong dalam proses penangkapan ikan

 

1.3 Definisi

        Alat tangkap jaring berkantong adalah alat tangkap yang terbuat dari rangkaian helai jaring yang digabung menjadi satu. Alat tangkap ini mempunyai ciri khas yaitu membentuk kantong baik sejak sebelum dioperasikan atau ketika operasi penangkapan selesai. Terdiri dari sayap (wing), badan (body), dan kantong (bag). Bagian sayap dan badan mempunyai ukuran mata jaring (mesh size) yang sama (sekitar 1 inchi) tetapi bagian kantong mesh sizenya lebih kecil (3/4 inchi). Purse seine, pertama kali diperkenalkan di pantai utara Jawa oleh BPPL (LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973/1974) dan berkembang pesat sampai sekarang. Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang menggunakan purse seine. Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk (kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu / kapal yang digunakan untuk usaha perikanannya

 

        Pentingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain)

 

2. Purse seine One Boat

Karakteristik

Dengan menggunakan one boat sistem cara operasi menjadi lebih mudah. Pada operasi malam hari lebih mungkin menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan pada one boat sistem. Dengan one boat sistem memungkinkan pemakaian kapal lebih besar, dengan demikian area operasi menjadi lebih luas dan HP akan lebih besar, yang menyebabkan kecepatan melingkari gerombolan ikan juga akan lebih besar. Oleh sebab itu dapat dikatakan tipe one boat akan lebih ekonomis dan efisien jika kapal mekaniser, karena dengan menggunakan sistem mekaniser pekerjaan menarik jaring, mengangkat jaring, mengangkat ikan dll pekerjaan di dek menjadi lebih mudah.

Bahan dan Spesifikasinya

 

       Bagian jaring

Nama bagian jaring ini belum mantap tapi ada yang membagi 2 yaitu “bagian tengah” dan “jampang”. Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian yaitu:

1.      jaring utama, bahan nilon 210 D/9 #1”

2.      jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6 #1”

3.      jaring kantong, #3/4”

 

srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Srampatan (selvedge) dipasang pada bagian atas, bawah, dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, #1”). Sebanyak 20,25 dan 20 mata.

 

       Tali temali

1.      tali pelampung.

Bahan PE Ø 10mm, panjang 420m.

2.      tali ris atas.

Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 420m.

3.      tali ris bawah.

Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 450m.

4.      tali pemberat.

Bahan PE Ø 10mm, panjang 450m.

5.      tali kolor bahan.

Bahan kuralon Ø 26mm, panjang 500m.

6.      tali slambar

bahan PE Ø 27mm, panjang bagian kanan 38m dan kiri 15m

       Pelampung

Ada 2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni synthetic rubber. Pelampung Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.

 

       Pemberat

Terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat.

 

       Cincin

Terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1m dengan jarak 3m setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line).

 

Hasil Tangkapan

 Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin. Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk oleh jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan.

 

Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus spp), bentang, kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.

 

Daerah Penangkapan

Purse seine dapat dioperasikan pada fishing ground dengan kondisi sebagai berikut

1)      A spring layer of water temperature adalah areal permukaan dari laut

2)      Jumlah ikan berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air

3)      Kondisi laut bagus

Purse seine banyak digunakan di pantai utara Jawa / Jakarta, cirebon, Juwana dan pantai Selatan (Cilacap, Prigi, dll).

 

Alat Bantu Penangkapan

        Lampu

Fungsi lampu untuk penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti purse seine.Jenis lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti oncor (obor), petromaks, lampu listrik (penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan industri).

 

Ikan-ikan itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.

 

        Rumpon

Rumpon merupakan suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang (ditanam) di suatu tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri dari empat komponen utama, yaitu : pelampung (float), tali panjang (rope) dan atraktor (pemikat) dan pemberat (sinkers / anchor).

 

Rumpon umumnya dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung pemberat yang digunakan.

 

Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat-angkat itu diatur sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan, maka pada waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat dari permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci, jukung, canoes)

 

Untuk rumpon tetap atau rumpon dengan ukuran besar, tidak perlu diangkat sehingga untuk memudahkan penangkapan dibuat rumpon mini yang disebut “pranggoan” (jatim) atau “leret” (Sumut, Sumtim). Pada waktu penangkapan mulai diatur begitu rupa, diusahakan agar ikan-ikan berkumpul disekitar rumpon dipindahkan atau distimulasikan ke rumpon mini. Caranya ada beberapa macam misalnya dengan menggiring dengan menggerak-gerakkan rumpon induk dari atas perahu melalui pelampung-pelampungnya. Cara lain yang ditempuh yaitu seakan-akan meniadakan rumpon induk untuk sementara waktu dengan cara menenggelamkan rumpon induk atau mengangkat separo dari rumpo yang diberi daun nyiur ke atas permukaan air. Terjadilah sekarang ikan-ikan yang semula berkumpul di sekitar rumpon pindah beralih ke rumpon mini dan disini dilakukan penangkapan.

 

Sementara itu bisa juga digunakan tanpa sama sekali mengubah kedudukan rumpon yaitu dengan cara mengikatkan tali slambar yang terdapat di salah satu kaki jaring pada pelampung rumpon, sedang ujung tali slambar lainnya ditarik melingkar di depan rumpon. Menjelang akhir penangkapan satu dua orang nelayan terjun kedalam air untuk mengusir ikan-ikan di sekitar rumpon masuk ke kantong jaring. Cara yang hampir serupa juga dapat dilakukan yaitu setelah jaring dilingkarkan di depan rumpon maka menjelang akhir penangkapan ikan-ikan di dekat rumpon di halau dengan menggunakan galah dari satu sisi perahu.

 

Teknik Penangkapan (Setting dan hauling)

Pada umumnya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) sungguhpun ada juga yang menggunakan samping kapal. Urutan operasi dapat digambarkan sebagai berikut :

 

a)      Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu. Ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman, seperti adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat dengan permukaan air, ikan-ikan yang melompat di permukaan terlihat riak-riak kecil karena gerombolan ikan berenang dekat permukaan. Buih-buih di permukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan, burung-burung yang menukik dan menyambar-nyambar permukaan laut dan sebagainya. Hal-hal tersebut diatas biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari keluar atau senja hari setelah matahari terbenam disaat-saat mana gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke permukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu (fish finder, dll) waktu operasinyapun tidak lagi terbatas pada dini hari atau senja hari, siang haripun jika gerombolan ikan diketemukan segera jaring dipasang.

 

b)      Pada operasi malam hari, mengumpulkan / menaikkan ikan ke permukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth intesity) yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya. Juga pada sifat phototxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

 

c)      Setelah fishing shoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density; hal-hal ini perlu dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan arus, sesudah hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi tujuan terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri maupun akibat dari bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain sebagainya. Tidak boleh luput pula dari perhitungan ialah keadaan dasar perairan, dengan dugaan bahwa ikan-ikan yang terkepung berusaha melarikan diri mencari tempat aman (pada umumnya tempat dengan depth yang lebih besar) yang dengan demikian arah perentangan jaring harus pula menghadang ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan kemungkinan ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam. Dalam waktu melingkari gerombolan ikan kapal dijalankan cepat dengan tujuan supaya gerombolan ikan segera terkepung. Setelah selesai mulailah purse seine ditarik yang dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup. Melingkari gerombolan ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri dalam arah horisontal. Sedang dengan menarik purse line adalah untuk  mencegah ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat  melarikan diri ke bawah. Antara dua tepi jaring sering tidak dapat tertutup rapat, sehingga memungkinkan menjadi tempat ikan untuk melarikan diri. Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah, memukul-mukul permukaan air dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang terkumpul diserok / disedot ke atas kapal.

 

Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan

Kecerahan Perairan

Transparasi air penting diketahui untuk menentukan kekuatan atau banyak sedikit lampu. Jika kecerahan kecil berarti banyak zat-zat atau partikel-partikel yang menyebar di dalam air, maka sebagian besar pembiasan cahaya akan habis tertahan (diserap) oleh zat-zat tersebut, dan akhirnya tidak akan menarik perhatian atau memberi efek pada ikan yang ada yang letaknya agak berjauhan.

 

Adanya gelombang

Angin dan arus angin. Arus kuat dan gelombang besar jelas akan mempengaruhi kedudukan lampu. Justru adanya faktor-faktor tersebut yang akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi berubah-ubah dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Makin besar gelombang makin besar pula flickering lightnyadan makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikanmaupun biota lainnya menjadi lebih besar karena ketakutan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan penggunaan lampu yang kontruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik atau dengan menempatkan under water lamp.

 

Sinar Bulan

Pada waktu purnama sukar sekali untuk diadakan penangkapan dengan menggunakan lampu (ligth fishing) karena cahaya terbagi rata, sedang untuk penangkapan dengan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya ;ampu terbias sempurna ke dalam air.

 

Musim

Untuk daerah tertentu bentuk teluk dapatmemberikan dampak positif untuk penangkapan yang menggunakan lampu, misalnya terhadap pengaruh gelombang besar, angin dan arus kuat. Penangkapan dengan lampu dapat dilakukan di daerah mana saja maupun setiap musim asalkan angin dan gelombang tidak begitu kuat.

 

Ikan dan Binatang Buas

Walaupun semua ikan pada prinsipnya tertarik oleh cahay lampu, namun umumnya lebih didominasi oleh ikan-ikan kecil. Jenis-jenis ikan besar (pemangsa) umumnya berada di lapisan yang lebih dalam sedang binatang-binatang lain seperti ular laut, lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap mengelilingi kawanan-kawanan ikan-ikan kecil tersebut. Binatang-binatang tersebut sebentar-sebentar menyerbu (menyerang) ikan-ikan yang bekerumun di bawah lampu dan akhirnya mencerai beraikan kawanan ikan yang akan ditangkap.

 

Panjang dan Kedalaman Jaring

Untuk purse seine yang beroperasi dengan satu kapal digunakan jaring yang tidak terlalu panjang tetapi agak dalam karena gerombolan ikan di bawah lampu tidak bergerak terlalu menyebar . jaring harus cukup dalam untuk menangkap gerombolan ikan mulai permukaan sampai area yang cukup dalam di bawah lampu.

 

Kecepatan kapal pada waktu melingkari gerombolan ikan

Jika kapal dijalankan cepat maka gerombolan ikan dapat segera terkepung.

 

Kecepatan Menarik Purse Line

Purse line harus ditarik cepat untuk mencegah agar ikan jangan sampai melarikan diri ke bawah.

 

2. Purse seine Two Boats

Definisi Purse seine Two Boats

Prinsip umum menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari sesuatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikan ikan-ikan akan terkumpul di bagian kantong. Dengan perkataan lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan, ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan ahirnya tertangkap (Subani dan Barus,1986)

 

Purse seine merupakan alat tangkap ikan yang terbuat dari gabungan beberapa helai (piece) jaring yang dirangkai menjadi satu. tepi bagian atas diapungkan dipermukaan perairan dengan sejumlah pelampung, sedangkan tepi bagian bawah diberi pemberat serta terdapat sejmlah tali yang dipasang melalui lubang-lubang cincin dimana dimana cincin ini telah terikat dengan tetap pada jaring bagian bawah.

 

Purse seine disebut juga sebagai pukat cincin karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin atau tali kerut yang dilakukan didalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut atau tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tesebut jaring tersebut jaring yang semula tidak berkantong akan terbentuk kantong pada akhir penangkapan.

 

Jadi purse seine Two Boats merupakan alat tangkap purse seine yang pada waktu melakukan operasi penangkapan dilakukan dengan bantuan dua kapal, yang prinsip kerjanya yaitu dengan cara melingkari suatu gerombolan ikan oleh salah satu kapal dan kapal yang lain sebagai penarik. Kapal-kapal ini sering disebut dengan kapal jaring dan kapal selerek.

 

Sejarah Perse seine two boats

Menurut Maryuto (1982), sebagian para ahli perikanan menganggap bahawa alat tangkap Purse seine berasal dari Amerika dan pertama kali digunakan pada tahun 1826, kemudian menyusul Swedia pada tahun 1880, yang selanjutnya barulah Jepang memperkenalkan purse seine yang digunakan untuk menangkap ikan sardine

 

Purse seine yang sering disebut dengan Pukat cincin sejak lama telah dikenal oleh masarakat nelayan di indonesia  walaupun dengan nama dan konstruksi yang berbeda di tiap daerah, seperti pukat lnggar, pukat sengin, gae dan giop. Pukat cincin/ purse seine pertama kali dikenal di Indonesia yang diperkenalkan pertama kali di daerah pantai utara jawa oleh BPPL pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan para pengusaha perikanan di Batang  (pak jadjuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar  (1973/1974) dan selanjutnya mengalami perkembangan pesat.

 

Purse seine dua kapal merupakan hasil perkembangan dari pengoperasian dengan satu kapal, nelayan mengembangkan purse seine dua kapal banyak terdapat daerah Pantai Utara Jawa/Jakarta, Cirebon, Batang, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Muncar. Nelayan mengembangkan purse seine yang semula dengan satu kapal menjadi dua kapal dalam pengoperasian dengan tujuan akan mendapatkan hasil tangkap yang lebih banyak dan pengoperasiannya lebih efisien dan melakukan Modifikasi terhadap alat tangkapnya tetapi prinsip kerjanya sama

 

Prospektif Purse seine Two boats

Prinsip utama pengoperasian perse seine dua kapal adalah dengan cara melingkari gerombolan ikan, gerombolan ikan biasanya memiliki kepadatan antar 0,5 – 5 Kg /m3. suatu jumlah yang jutaan kali lebih padat dari pada kepadatan ikan yang terdapat diseluruh lautan dunia. (Fridman, 1988) pengoperasian purse seine menjadi lebih tidak menguntungkan apabila kepadatan gerombolan ikan didalam air dibawah 1 kg/m3, namun tergantung juga dari harga ikan dan kondisi techno economic yang lain.

 

Banyaknya hasil tangkapan sekali setting (tebar) dari purse seine tergantung dari pada ukuran alat dan kapal. Hasil tangkapan berkisar mulai dari 0,25 sampai 0,5 ton persetting (tebar) untuk alat ukuran kecil sampai mencapai ratusan ton ikan Hering Untuk purse seine ukuran besar dinegara Eropa Utara, Amerika dan Jepang hal ini telah menunjukkan bahwa begitu efektifnya hasil tangkapan ikan dengan menggunakan purse seine dengan dua kapal. Untuk daerah-daerah di Indonesia alat tangkap Purse seine juga sama efektifnya dan tidak terlalu jauh dengan daerah-daerah di Eropa atau Jepang yang membedakan hanyalah penambahan teknologi atau alat bantu dalam pengoperasian sehingga menjadikan proses penangkapan lebih efisien.

 

Konstruksi Purse seine

Konstruksi umum

Purse seine merupakan alat tangkap yang ikan yang terbuat dari gabungan beberapa helai jaring yang dijahit menjadi satu. tapi bagian atas diapungkan dipermukaan perairan dengan sejumlah pelampung, sedangkan tepi bagian bawah diberi pemberat serta terdapat sejumlah tali yang dipasang melalui lubang-lubang cincin dimana dimana cincin ini telah terikat dengan tetap pada jaring bagian bawah.

 

Purse seine mempunyai bentuk kontruksi yang berbeda ditiap-tiap daerah, konstruksi umum berdasarkan fridman (1988)  bahwa Purse seine secara umum terdiri atas beberapa komponen penting antara lain: bagian jaring, srampatan (selvedge), tali temali, pelampung, pemberat dan cicin.

 

Banyak hal yang membedakan suatu bentuk dari tiap-tiap masing-masing komponen terutama ada jaring, pada bagian jaring bisa terdapat kantong (pocket), lama kelamaan berubah dan tenyata bahwa jaring tanpa kantong lebih praktis. Pada garis besarnya jaring terdiri dari bag, cork line (floating line), win led line (sinker line), purse line, purse ring, bridle. Dengan menarik purse line, jaring pada bagian bawah akan menutup.

 

Bentuk purse seine pada umumnya adalah segi empat Kadangkala bentuk jaringnya lebih dalam pada bagian tengah kemudian mengecil setelah dekat pada bagian sayap dan kantong. Tali pemberat yang lebih panjang dari pada tali pelampung, lebih cepat tenggelam, tetapi tali pemberat yang lebih pendek dari tali pelampung akan dapat lebih cepat lebih dikerutkan dan dapat meningkatkan pengaruh menyerok dari purse seine. Jaring yang diangkat dengan menggunakan power block memerlukan panjang yang harus relatif sama antara tali pemberat dan tali pelampung.

 

Pada tiap-tiap konstuksi dari purse seine banyak mengalami perubahan tehadap bentuk konstruksi awal, hal ini disebabkan karena terjadi modifikasi terhadap konstruksi secara umum terhadap purse seine. Bentuk-bentuk tersebut disesuaikan dengan kondisi dan lokasi penangkapan ikan, jika penangkapan dilakukan pada daerah dengan kedalaman yang semakin dalam maka kostruksinya akan mengalami modifikasi yang lebih baik terutama masalah kekutan jaring, kecepatan tenggelam, daya apung dan kekuatan tali penarik. Sehingga dibutuhkan kekuatan pada masing-masing komponen utamanya.

 

Detail Konstuksi

Pada komponen utama pada purse seine adalah jaring, srampatan (selvedge), tali temali, pelampung, pemberat dan cincin. Sehingga dapat dijelaskan secara detail pada tiap komponen konstuksi utama, antara lain adalah:

 

Bagian jaring 

Pada bagian jaring, dalam pembentukan nama-nama dari komponenya belum jelas karena pada setiap daerah memiliki nama yang berbeda, pada jaring komponennya dibagi menjadi tiga bagian antara lain adalah: jaring utama (nillon 210 D/9,# 1inci  1”), Jaring sayap (Nillon 210 D/6,# 1 inci  1” ),  jaring kantong (# ¾ inci ¾).

 

Serampatan    

Serampatan /selvedge dipasang pada bagian pingggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Serampatan dipasang pada bagian atas, bawah dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama yakni PE 380 (12,#1 Inci , 1”) sebanyak 20,25 dan 20 mata.

 

Tali temali

Komponen pembentuknya adalah: Tali pelampung (PE,Ǿ10 mm,) dengan panjang 420 m, Tali ris atas (PE,Ǿ 6 mm dan 8 mm) dengan panjang 420 m, Tali ris bawah (PE,Ǿ  6mm dan 8 mm), Tali pemberat (PE,ø 10 mm) dengan panjang 450 m, Tali kolor (kuralon PE,ø 26 mm) dengan panjang 500 m, tali slmbar (PE,ø27mm ) Dengan panjang bagian kanan 38 m  dan kiri 15 m.

 

Pelampung

Ada dua pelampung dengan bahan yang sama yakni sintetic rubber (SR) pelampung Y-50 di pasng di pinggir kiri dan kanan  600 buah dan pelampung Y- 80 dipasang ditengah 400 buah. Pelampung yang di pasang dibagian tengah lebih rapat dibandingkan dengan bagian yang pinggirnya.

 

Pemberat

Pemberat pada purse seine terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5 cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang yang panjangnya satu meter dengan dengan jarak tiga meter setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line).

 

Karakteristik

Jaring Purse seine mempunyai karakteristik tersendiri karena setiap daerah bentuk purse seine mempunyai perbedaan dengan daerah lainnya. Pada umumnya di indonesia menggunakan tipe muncar karena awalnya purseine berkembang didaerah muncar dengan pesat.

 

Sedangkan untuk secara umumnya bentuk yang dan dimuncar mengikuti bentuk konstruksi purse seine tipe Amerika, Tetapi dalam tiap waktu bentuk purse tidak akan tetap tetapi selalu mengalami perubahan akibat hasil dari modifikasi yang dilakukan oleh nelayan setempat. Perbedaan antar bentuk dari tipe jepang dengan tipe Amerika adalah dilihat dari tali kolor bawahnya kalu tipe Amerika mempunyai bentuk tali kolor yang lurus sedangkan pada tipe Jepang membentuk gelombang. 

 

Adapun  teknis dari konstruksi purse seine adalah :

Keterangan :

a.      Bodi                                                 j.   Tali kang

b.      Sayap                                              k.  Tali Pelampung

c.       Kantong bagian atas                      l.   Tali penguat ris atas

d.      Kantong bagian bawah                  m. Tali ris atas

e.      Selvegde bagian bawah               n.  Tali ris bawah

f.       Selvegde bagian atas                              o.  Tali Penguat ris bawah

g.      Pelampung                                      p.  Tali Pemberat.

h.      Pemberat                                         q.  Tali kolor

i.        Cincin                                                             

 

Bahan dan Spesifikasi

Bahan yang digunakan dalam pembuatan purse seine dua kapal adalah:

 

a) Tali temali

-        Tali Pelampung

Tali pelampung ini terbuat dari Polyetheline, berdiameter 8mm, dengan bentuk pintalan S dan panjangnya 350 m. Tali pelampung ini dipasang terpisah dari tli ris atas dan berfungsi untuk menempatkan pelampung sehingga tersususun teratur sesuai dengan jarak yang kita inginkan.

 

-        Tali ris atas

          Tali ris atas terbuat dari bahan polyetelene, berdiameter 8 mm, warna biru dengan panjang 350 m, serta mempunyai arah pintalan ke kiri (Z). Yang berfungsi untuk untuk menempatkan tali penggantung jaring agar jaring berada pada posisi yang tepat.

 

-        Tali Ris bawah

Tali ris bawah ini terbuat dari bahan nilon, berdiameter 8 mm, berwarna biru, dengan arah pintalan kekiri (Z). Tali ris bawah termasuk tali samping pada purse seine bersama-sama dengan tali pemberat menempatkan pemberat pada kedudukan yang tetap.

 

-        Tali penguat ris atas

Tali ris atas ini berbahan dari nilon yang ber diameter 6 mm. Dengan rah pintalan kekanan (S). yang berfungsi untuk memperkuat tali ris atas.

 

-        Tali Pemberat

Tali ini berbahan dari poly eteline, yang berdiameter 10 mm, berwarna biru yang masing masing panjangnya 80 cm, mempunyai bentuk kaki tunggal dan berfungsi untuk menggantung cincin pada tali ris bawah dan pemberat.

 

-        Tali Kolor

Yaitu tali yang masuk kedalam lubang tiap cincin. Tali ini berfungsi untuk mengumpulkan ring atau jaring bagian bawah pada waktu operasi setelah jaring selesai dilingkarkan. Bahan dari tali ini adalah polyetelene dengan panjang 370 m.

 

-        Tali selambar

Terbuat dari bahan polyetelene berdiameter 10 mm, berwarna biru dengan arah pintalan kekanan dan mempunyai panjang 370 m.

 

b) kaki Penguat

Kaki penguat ini mengelilingi jaring utama yang bertujuan agar jaring utama tiada cepat rusak atau cepat robek pada saat dioperasikan. Bahan selvedge lebih kaku dari bahan jaring utama seperti Polyetelene (PE).

 

d) Pemberat      

Bahan Pemberat yang digunakan terbuat dari timah hitam, dengan panjang 5,5 cm.berdiameter 3 cm, dan memiliki berat 250 gram. Jarak antara pemberat tali ris adalah 25 cm.

 

e) Pelampung

Bahan yang digunakan adalah KS 100. Bentuk umumnya adalah oval , panjangnya 12 cm,diameter 9 cm dengan berat sekitar 150 gram.

 

f) Cincin

Cincin yang digunakan adalah dari bahan besi yang dilapisi denagan kuningan, berbentuk lingkaran dengan diameter 9,8 cm, dipasang dengan tali cincin sepanjang tali ris bawah.

      

HASIL TANGKAPAN

Dalam melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan Purse seine dua kapal hal yang penting untuk diperhitungkan adalah bagaimana menentukan tempat gerombolan ikan, yang selanjutnya dilakukan pelingkaran jaring dan siap untuk melakukan penangkapan.

 

Hasil Tangkapan ikan yang utama didapat dengan menggunakan purse seine berdasarkan Subani dan Barus (1986) bahwa untuk didaerah Pulau Jawa dan sekitarnya purse seine digunakan untuk menangkap jenis ikan: Layang (Decapterus spp), Bentong (Caranx sp), kembung (Lasteriger sp), Lemuru (Sardinella lemuru), tembang ((Sardinella fimbriata) dan ikan pelagis lainnya.

 

DAERAH PENANGKAPAN

Tujuan utama dalam melakukan penangkapan adalah mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, penagkapan dengan menggunakan alat purse seine dengan dua kapal dilakukan dengan cara mengintari/ mengelilingi gerombolan ikan, Infomasi tentang gerombolan ikan sebelumnya harus mengetahui sifat /karakteristik dari ikan tersebut. Data yang berhubungan erat antara lain adalah bentuk gerombolan ikan, kecepatan migrasi ikan, serta mengetahui waktu pemijahannya.

 

Informasi tentang daerah tangkapan digunakan untuk menentukan bentuk dan ukuran jaring serta kekuatanya. Data kedalaman, keadaan dasar perairan, Temokilin, perubahan salinitas, arus dan kondisi cuaca perlu dipakai. Kedalaman dan keadaan dasar merupakan faktor yang penting dalam menentukan kedalaman dan rancangan jaring untuk setiap areal penangkapan, bila tali pemberat jaring bisa meyentuh dasar perairan. Termoklin dan perubahan salinitas dapat merupakan faktor kendala bagi beberapa species ikan dan kedalaman juga merupakan faktor dalam menentukan kedalaman dan kecepatan tenggelam (sinking speed) jaring. Dan yang penting bahwa ikan muncul dalam jumlah yang banyak ketika musim yang cocok pada ikan tiba, misalkan pada suatu daerah ikan lemuru akan muncul lebih dalam jumlah yang banyak pada waktu musim penghujan akan dimulai sehingga dalam melakukan penangkapan perlu memperhitungkan waktu/musim ikan bermigrasi ataupun memijah dan dapat memperhitungkan tempat yang cocok atau dalam melakukan oprasi penangkapan.

ALAT BANTU PENANGKAPAN

Dalam penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine agar lebih efisien dalam melakukan penangkapan maka diperlukan alat bantu dalam melakukan pengoperasian. Purse seine dua kapal membutuhkan jenis kapal yang cukup besar karena operasi yang dilakukan purse seine dengan dua kapal berada pada daerah yang relatif lebih dalam.

 

Adapun spesifikasi kapal yang digunakan dalam purse seine dua kapal adalah untuk tipe Madura (golekan): Kapal Jaring berukuran P x L x D = 11 x 2,7 x 1,5 m yang dilengkapi dengan motor luar (out board motor). Perahu ini digunakan untuk menjaring dan memuat hasil tangkapan, Kapal Slerek ukuran P x L x D = 13 x 2,8 x 1,5 m yang dilengkapi dengan dua buah motor luar (out board two motor), perahu pelak atau tempat lampu yang berukuran P x L x D = 4 x 0,5 x 0,6 m yang biasanya dipergunakan untuk lampu petromaks atau lampu lainya yang mempunyai daya terang lebih baik  agar ikan terkumpul disekitar lampu tersebut yang selanjutnya siap untuk melakukan penangkapan. Jumlah anak buah kapal yang dibutuhkan untuk kapal slerek dibutuhkan 13 -15 orang  sedangkan untuk perahui jaring dibutuhkan sekitar 8 – 11 orang.

 

Alat bantu yang digunakan dalam penangkapan dengan Purse seine adalah:

a) Roller : yaitu alat tempat lewatnya tali kolor/ purse line saat ditarik oleh kapal, bertujuan agar tali kolor tersebut tidak seberapa besar menerima gesekan dengan perahu.

b) Sampan/Perahu kecil : berfungsi untuk tempat lampu dalam pengumpulan ikan

c) Serok : berfungsi untuk mengambil atau menyerok ikan-ikan hasil tangkapan dari bagian jaring keatas perahu

 

TEKNIK OPERASI

Purse seine yang pada umumnya merupkan jaring lingkar atau yang sering disebut dengan jaring cincin sehingga pada proses penangkapannya pun dilakukan dengan melingkari gerombolan ikan.

 

Pada mulanya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) dan ada juga jaring diletakkan pada samping kapal. Adapun urutan dalam teknik operasi penangkapan ikan dengan menggunakan jaring cincin atau purse seine dua kapal adalah :

 

1. Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu, hal ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman seperti adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat pada permukaan air, ikan-ikan yang melompat-lompat dipermukaan, terlihat riak-riak kecil karena gerombolan ikan berenang dekat dengan permukaan, buih-buih dipermukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan. Hal–hal tersebut dilakukan biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari  terbenam, disaat–saat geromolan ikan-ikan teraktif untuk naik kepermukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya alat bantu seper GPS yang dapat mengetahui posisi ikan atau tempat gerombolan ikan sehingga lokasi penangkapannyapun mudah ditentukan. Sehingga waktu pemberangkatan kapal dapat dilakukan sewaktu waktu tidak terbatas pada siang hari atau malam hari tetapi sewaktu waktu.

 

2.      Hal biasa yang dilakukan oleh nelayan daerah adalah pengoperasian pada waktu malam hari,  mengumpulkan ikan  atau menaikkan ikan kepermukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan Fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan. Kuat cahaya (light intensity) yang digunakan berbeda–beda, tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya, juga pada sifat phototaxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

 

3.      Setelah schooling fish ditemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density, hal ini dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula pola arah, kekuatan, kecepatan angin dan arus sesudah hal-hal tersebut diperhitungkan barulah jaring dipasang jaring dipasang harus lebih cepat agar ikan tidak cepat lari atau lepas. Dalam waktu melingkari gerombolan ikan, kapal dijalankan dengan cepat dengan tujuan agar gerombolan ikan segera dapat terkepung, setelah selesai mulailah purse line ditarik dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup untuk mencegah agar ikan tidak melarikan diri ke bawah, dapat dilakukan dengan pemberat ataupun dengan menggerak-gerakkan galah, memukul-mukul permukaan air, setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dirapatkan ke kapal, dan ikan ikan diserok kekapal.

 

HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI TANGKAPAN

          Pengoperasian penangkapan ikan pasti akan mengalami suatu kendala baik yang bersifat teknis ataupun non teknis yang dapat mengurangi hasil tangkapan ikan. Hal- hal yang bersifat teknis antara lain adalah kurang baiknya nelayan dalam melakukan operasi sedangkan untuk hal non teknis antara lain adalah lepas ikan dan kecepatan kapal untuk melingkari  gerombolan ikan.

 

          Fridman mengatakan bahwa ikan dapat lolos dari jaring disebabkan karena:

a.      keluar melalui celah-celah diantara dua ujung jaring

b.      Kebawah melalui tali pemberat ketika jaring sedang di tebar

c.       kebawah melalui tali pemberat ketika tali kerut sedang ditarik.

 

          Jaring yang lebih panjang akan memerlukan waktu lebih banyak waktu, yaitu mulai dari menurunkan jaring sampai dengan menarik tali kerut sehingga memberi kesempatan lebih besar pada ikan untuk meloloskan diri melalui celah, tetapi bisa juga karena ikan merasa berdesak-desakan, mereka diam secara secara pasif didalamnya sampai jaring selesai dikerutkan. Meloloskan diri melalui tali pemberat tidak banyak dipengaruhi panjang tetapi dapat menunjukkan bahwa kedalaman jaring tadi terlalu rendah atau kecepatan tenggelam dari jaring kurang baik. Penangkapan dikatakan  berhasil dapat diketahui dicari hasil ikan yang didapat setelah menangkap gerombolan ikan.

 

Tatap Muka 13

4.      PAYANG

Payang adalah “Pukat Kantong Lingkar” yang secara garis besar terdiri atas bagian kantong (bag/belly), badan/perut (body), dan kaki/sayap (leg/wing). Pada bagian bawah kaki/sayap dan mulut jaring diberi pemberat, sedang pada bagian atas pada jarak tertentu diberi pelampung. Besar mata mulai bagian ujung kantong sampai ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm sampai ± 40 cm. Berbeda dengan jaring trawl dimana bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke belakang, maka payang justru bagian atas mulut jaring yang menonjol ke belakang. Hal ini disebabkan karena payang tersebut umumnya digunakan untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagis yang biasanya hidup di bagian lapisan atas air atau di kolom air dan mempunyai sifat cenderung lari ke lapisan bawah bila telah terkurung jaring.

 

Prinsip operasi penangkapan ikan dengan payang adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring. Mempunyai sayap yang panjang yang fungsinya untuk menakut-nakuti (frightening) gerombolan ikan agar lari ke bagian tengah jaring. Bagian badan jaring hanya berfungsi sebagai penghalang pergerakan ikan. Payang merupakan alat tangkap jaring tradisional di Indonesia. penggunaan alat tangkap ini oleh nelayan skala kecil sudah dilakukan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tak heran bahwa alat tangkap ini ada di hampir seluruh daerah pantai yang dihuni oleh nelayan tradisional. Sasaran akhir yang dituju dalam studi payang adalah pengungkapan dan pemahaman pengoperasian salah satu alat tangkap yang terbuat dari jaring.  Ini adalah landasan dasar dari upaya optimalisasi penguasaan materi tentang metode penangkapan ikan.

 

Payang adalah alat tangkap yang terbuat dari beberapa helai jaring yang digabung menjadi satu. Terdiri dari sayap (wing), badan (body), dan kantong (bag). Mempunyai lebar mata jaring yang sangat bervariasi. Bagian sayap yang berfungsi untuk menakut-nakuti ikan mempunyai mesh size yang paling besar, yaitu sekitar 20 cm.  Sedangkan bagian badan mempunyai mesh size yang bervariasi mulai dari mesh size besar di ujung dekat bagian sayap sampai mesh size kecil di dekat bagian kantong. Adapun bagian kantong mempunyai mesh size yang paling kecil yaitu 2 cm dan 1 cm. Payang adalah termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal nelayan Indonesia. Munculnya Payang mungkin bersamaan atau jauh sebelumnya dengan berdirinya organisasi-organisasi “Perkumpulan Penangkapan Ikan Laut“ di pantai utara Jawa, seperti: Misoyo Mino (1912) di Tegal, Soyo Sari (1916) di Brebes, Upoyo Mino (1916) di Batang, Mino Soyo (1918) di Pekalongan, Soyo Sumitro (1918) di Indramayu, dan masih banyak lagi perkumpulan-perkumpulan perikanan lain yang tumbuh sekitar tahun 1920-1930an. Selama kurun waktu tahun 1920 hingga sekarang, alat tangkap Payang telah mengalami perkembangan hingga menjadi Payang yang kita kenal sekarang ini. Di Sendang Biru, Payang mulai dikenal sekitar tahun 1974. Alat tangkap ini diperkenalkan oleh nelayan-nelayan andon dari Puger. Mereka beroperasi disekitar perairan Sendang Biru, dan kemudian menjual ikan hasil tangkapannya di daerah tersebut. Karena hasil tangkap Payang ini rata-rata lebih banyak, nelayan Sendang Biru tertarik untuk menggunakannya.

 

Payang adalah termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal nelayan Indonesia. Munculnya Payang mungkin bersamaan atau jauh sebelumnya dengan berdirinya organisasi-organisasi “Perkumpulan Penangkapan Ikan Laut“ di pantai utara Jawa, seperti: Misoyo Mino (1912) di Tegal, Soyo Sari (1916) di Brebes, Upoyo Mino (1916) di Batang, Mino Soyo (1918) di Pekalongan, Soyo Sumitro (1918) di Indramayu, dan masih banyak lagi perkumpulan-perkumpulan perikanan lain yang tumbuh sekitar tahun 1920-1930an. Selama kurun waktu tahun 1920 hingga sekarang, alat tangkap Payang telah mengalami perkembangan hingga menjadi Payang yang kita kenal sekarang ini. Di Sendang Biru, Payang mulai dikenal sekitar tahun 1974. Alat tangkap ini diperkenalkan oleh nelayan-nelayan andon dari Puger. Mereka beroperasi disekitar perairan Sendang Biru, dan kemudian menjual ikan hasil tangkapannya di daerah tersebut. Karena hasil tangkap Payang ini rata-rata lebih banyak, nelayan Sendang Biru tertarik untuk menggunakannya. entingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).

 

Prospektif Alat Tangkap

Payang termasuk alat tangkap yang produktifitasnya tinggi dan dikenal hampir di seluruh daerah perikanan laut di Indonesia. Meskipun termasuk alat tangkap tradisional, keberadaannya untuk perikanan laut di Indonesia sampai saat ini tetap dianggap penting baik dilihat dari produktifitasnya maupun penyerapan tenaga kerja. Hal ini terlihat dalam statistik perikanan (1986) dimana payang tercatat 14.617 unit, sedangkan Pukat Cincin yang dianggap produktif jumlahnya hanya 5.762 unit. Jumlah seluruh alat penangkap ikan laut Indonesia tercatat 425.845 unit (1986).

 

Konstruksi Alat Tangkap

1.      Konstruksi Umum

 

Konstruksi Alat Tangkap Payang

Keterangan:

-        1                           : Kantong

-        2                           : Kantong

-        3                           : Badan

-        4                           : Badan

-        5                           : Badan

-        6                           : Badan

-        7                           : Badan

-        8                           : Sayap ada 3 bagian dari ujung badan               

-        9,10                               : Selambar

-        11,12,13,14,15            : Pelampung bola

-        16                       : Tali ris atas

-        17                        : Tali ris bawah

-        18                        : Pemberat

 

2.      Detail Konstruksi

 

Keterangan :

A.   Kantong

B.   Perut

C.   Kaki / Sayap

 

i.        Kantong, bahan dari karuna

ii.       Ranggamanis, # 1 cm, 700 mata

iii.      Rang tetik, # 1,5 cm, 700 mata

iv.      Rang petak, # 2 cm,  700 mata

v.       Rang bagat, # 7,5 cm, 700 mata

vi.      Rang halam, # 4,5 cm, 700 mata

vii.     Rang alet, # 6,5 cm, 600 mata

viii.    Empat nyare, # 7,5 cm, 500 mata

ix.      Klobang, # 8,5 cm, 500 mata

x.       Sulam, # 10 cm, 400 mata

xi.      Dasar:

-   dasar, # 13 cm, 300 mata

-   dasar, # 18 cm, 300 mata

 

3.      Karakteristik

Alat tangkap payang berupa “Pukat kantong lingkar” yang secara garis besar terdiri dari bagian kantong ( bag ), badan / perut ( body or belly ) dan kaki / sayap  (leg/wing). Namun ada juga pendapat yang hanya membagi bagian Payang menjadi dua bagian, yaitu bagian kantong dan kaki. Bagian kantong umumnya terdiri dari bagian-bagian kecil yang tiap bagian mempunyai nama sendiri-sendiri, sesuai dengan kebiasaan di daerahnya masing-masing. Besar mata jaring dari ujung kantong sampai ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm sampai kurang lebih 40 cm.

 

Sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk menangkap ikan pelagis yang bergerombol yang nampak diatas perairan, baik yang tidak menggunakan alat Bantu pengumpul ikan maupun yang menggunakan alat Bantu pengumpul ikan berupa lampu ataupun rumpon, maka bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke depan, sehingga dapat menghadang ikan yang melarikan diri ke bawah. Agar gerombolan ikan dapat masuk ke dalam kantong, maka mulut jaring harus dapat membuka dengan baik mulai dari permukaan perairan sampai kedalaman tertentu, sehingga ikan-ikan yang berada dalam area lingkaran tidak dapat meloloskan diri melebihi kedalaman mulut jaring bagian bawah. Membukanya mulut jaring disebabkan oleh adanya dua buah gaya yang berlawanan, yaitu gaya apung dari pelampung yang terdapat pada tali ris dan gaya berat ( tenggelam ) dari pemberat yang terdapat pada tali ris bawah. Untuk menghadang gerombolan ikan yang terdapat pada area lingkaran agar masuk ke dalam kantong maka digunakan dua buah sayap.

 

4.      Gambar Teknis

 

 

5.      Bahan dan Spesifikasinya

Alat tangkap Payang terbuat dari berbagai bahan, jaring berbahan PVC ( Polyvinileclorine ), pelampungnya adalah plastik berbentuk bola dan pemberatnya adalah batu.

 

A.      Bagian Kantong

-        Panjang : 5-6 meter

-        Mesh size : 0,3-0,6 cm

-        Bahan : PVC ( Polyvinileclorine )

-        Warna : Hijau

B.      Bagian Badan

-        Panjang : 25 meter

-        Mesh size : 1,6-8 cm

-        Bahan : PE (Polyethilene)

-        Warna : Coklat

C.      Bagian Sayap

-        Panjang : 90 meter

-        Mesh size : 10-30 cm

-        Bahan : PE (Polyethilene)

-        Nomor benang : 400 D/15

D.      Pelampung

-        Berat : 2 ons

-        Diameter : 15 cm

-        Bahan : Plastik berbentuk bola

-        Jumlah : 12 buah per sayap

-        Jarak antar pelampung : 1,5 meter

E.      Pemberat

-        Bahan : Batu

-        Berat : 2 kg

-        Jumlah : 10 buah per sayap

-        Jarak antar pemberat : 8 meter

 

Hasil Tangkap

Hasil tangkap dari jaring Payang adalah ikan-ikan permukaan. Terutama ikan-ikan pelagis kecil, yaitu ikan Layang, Selar, Kembung, Lemuru, Tembang, Japuh, dan lain-lain. Hasil tangkapan Payang untuk tahun 1986 berjumlah 152.782 ton, sedang produksi perikanan laut secara nasional sebanyak 1.922.781 ton (1986).

 

Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan ikan di Indonesia hampir seluruhnya merupakan daerah operasi jaring Payang. Namun yang paling banyak dipakai di pantai utara Jawa, termasuk Madura, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

 

Payang dikenal di seluruh daerah perikanan laut Indonesia dengan nama yang berbeda-beda, antara lain : Payang (Jakarta, Tegal, Pekalongan, Batang, dan daerah lain di pantai utara Jawa), Payang Uras (Selat Bali dan sekitarnya), Payang Ronggeng (Bali utara), Payang Gerut (Bawean), Payang Puger (Puger), Payang Jabur (Padelengan/Madura, Lampung), Pukat Nike (Gorontalo), Pukat Banting Aceh (Sumatera Utara, Aceh), Pukat Tengah (Sumatera Barat), Jala Lompo (Kalimantan Tomur, Sulawesi Selatan), Panja/Pajala Muna, Buton, Luwuk, Banggan),dan lain-lain.

 

Alat Bantu Penangkapan

Pengoperasian alat tangkap Payang dapat menggunakan alat Bantu berupa lampu petromaks yang digunakan pada malam hari dan alat Bantu rumpon untuk pengumpul ikan. Pada malam hari penggunaan lampu petromaks dapat menarik ikan supaya menggerombol disekitar lampu sehingga alat tangkap payang dapat digunakan secara efisien. Begitu juga dengan rumpon yang banyak digunakan oleh nelaya-nelayan Indonesia. Penggunaan rumpon sebagai alat Bantu penangkapan dengan payang meliputi 95 persen lebih.

 

Teknik Operasi

Penangkapan dengan Payang dapat dilakukan demgan kapal layar maupun dengan kapal motor, tapi pada masa sekarang pada umumnya menggunakan kapal bermotor. Penggunaan tenaga berkisar antara 6 orang untuk Payang berukuran kecil, dan 16 orang untuk Payang berukuran besar.

 

Prinsip pengoperasian alat tangkap Payang adalah melingkari gerombolan ikan. Pada saat terdapat gerombolan ikan yang terlihat, kapal mendekati gerombolan ikan tersebut lalu menurunkan jaring pada jarak dan waktu yang tepat sehingga pada waktu jaring melewati gerombolan ikan, jaring dapat membuka dengan maksimal sehingga kemungkinan ikan untuk lolos kecil. Pada saat setelah jaring diturunkan, tali selambar / tali hela ditarik sehingga jaring tertarik kearah gerombolan ikan.

 

Hal-hal yang Mempengaruhi Hasil Penangkapan

Hasil penangkapan dengan Payang dapat dipengaruhi oleh kecepatan membukanya jaring, timing pelepasan jaring, dan kondisi / keadaan laut pada saat pelepasan jaring.

 

Jaring Payang harus dapat membuka dengan cepat agar ikan tidak mempunyai kesempatan untuk lolos. Waktu membukanya jaring secara maksimal juga harus tepat pada saat jaring dekat dengan gerombolan ikan, jika terlalu lambat jaring belum membuka maksimal pada saat melewati gerombolan ikan dan jika terlalu cepat, jaring akan butuh waktu lebih lama untuk sampai pada gerombolan ikan, hal ini akan menyebabkan ikan dapat lebih mudah untuk lolos.

 

Kondisi alam seringkali berubah-ubah, terutama di lautan yang sering berubah dalam waktu yang relatif singkat. Pada waktu pengoperasian Payang, keadaan ombak, arah dan kecepatan arus air laut, angin, hujan dan bulan sangat berpengaruh terhadap keberadaan ikan, jauh-dekatnya ikan dari permukaan dan teknis pengoperasian jaring.

Hal lain yang mempengaruhi hasil penangkapan adalah keberuntungan/ nasib nelayan. Pada suatu saat hasil penangkapan nelayan bisa melimpah dan mendapatkan banyak ikan, namun pada saat yang lain para nelayan tidak mendapat hasil tangkapan.

 

Tatap Muka 14

5.TRAWL

“trawl“ berasal dari bahasa prancis “troler“ dari kata “trailing“ adalah dalam bahasa inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata  “tarik“ ataupun “mengelilingi seraya menarik“. Ada yang menterjemahkan  “trawl” dengan “jaring tarik”, tapi karena hampir semua jaring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik, maka selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwenang maka digunakan kata ”trawl” saja.

 

Dari  kata “trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud dengan jaring trawl (trawl net) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal (baca : kapal dalam keadaan berjalan) menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya. Jaring ini juga ada yang menyangkut sebagai “jaring tarik dasar”.Stern trawl adalah otter trawl yang cara operasionalnya (penurunan dan pengangkatan) jaring dilakukan dari bagian belakang (buritan) kapal atau kurang lebih demikian. Penangkapan dengan system stern trawl dapat menggunakan baik satu jaring atau lebih.

 

Sejarah Alat Tangkap

Jaring trawl yang selanjutnya disingkat dengan “trawl” telah mengalami perkembangan pesat di Indonesia sejak awal pelita I. Trawl sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II walaupun masih dalam bentuk (tingkat) percobaan. Percobaan-percobaan tersebut sempat terhenti akibat pecah Perang Dunia II dan baru dilanjutkan sesudah tahun 50-an (periode setelah proklamasi kemerdekaan). Penggunaan jaring trawl dalam tingkat percobaan ini semula dipelopori oleh Yayasan Perikanan Laut, suatu unit pelaksana kerja dibawah naungan Jawatan Perikanan Pusat waktu itu. Percobaan ini semula dilakukan oleh YPL Makassar (1952), kemudian dilanjutkan oleh YPL Surabaya.

 

Menurut sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad ke 16 dimasukkan ke Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Bentuk trawl waktu itu bukanlah seperti bentuk trawl yang dipakai sekarang yang mana sesuai dengan perkembangannya telah banyak mengalami perubahan-perubahan, tapi semacam trawl yang dalam bahasa Belanda disebut schrol net.

 

Prospektif Alat Tangkap

Perkembangan teknologi menyebabkan kemajuan-kemajuan pada main gear, auxillary gear dan equipment lainnya. Pendeteksian letak jaring dalam air sehubungan depth swimming layer pada ikan, horizontal opening dan vertical opening dari mulut jaring, estimate catch yang berada pada cod end sehubungan dengan pertambahan beban tarik pada winch, sudut tali kekang pada otter board sehubungan dengan attack angel, perbandingan panjang dan lebar dari otter board, dan lain-lain perlengkapan. Demikian pula fishing ability dari beberapa trawler yang beroperasi di perbagai perairan di tanah air, double ring shrimp trawler yang beroperasi di perairan kalimantan, irian jaya dan lain-lain sebagainya. Perhitungan recources sehubungan dengan fishing intensity yang akan menyangkut perhitungan-perhitungan yang rumit, konon kabarnya sudah mulai dipikirkan. Semakin banyak segi pandangan, diharapkan perikanan trawl akan sampai pada sesuatu bentuk yang diharapkan.

 

Karakteristik

Berdasarkan letak penarikan jaring yang dilakukan di kapal kita mengenal adanya stern trawl, dimana jaring ditarik dari buritan (dalam segi operasionalnya). Dimana banyak kapal trawl yang menggunakan cara ini, adapun karakteristik dari stern trawl ini antara lain:

       Stern trawl tidak seberapa dipengaruhi oleh angin dan gelombang dalam pelepasan jaring, tidak memerlukan memutar letak kapal

       Warp berada lurus pada garis haluan buritan sehingga tenaga trawl winch dapat menghasilkan daya guna maksimal sehingga pekerjaan melepas/ menarik dari jaring memerlukan waktu yang lebih sedikit, yang berarti waktu untuk jaring berada dalam air (operasi) lebih banyak

       Trawl winch pada stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang, dengan demikian dalam cuaca buruk sekalipun operasi masih dapat dilakukan dengan mudah

       Pada stern trawl akibat dari screw current jaring akan segera hanyut, demikian pula otter boat segera setelah dilepas akan terus membuka

       Karena letak akan searah dengan garis haluan-buritan, maka di daerah fishing ground yang sempit sekalipun operasi masih mungkin dilakukan, dengan perkataan lain posisi jaring sehubungan dengan gerakan kapal lebih mudah diduga

       Pada stern trawl, pada waktu hauling ikan-ikan yang berada pada cod end tidak menjadikan beban bagi seluruh jaring, karena cod end tersendiri ditarik melalui slip way, dengan demikian jaring dapat terpelihara.

 

Hasil Tangkapan

Yang  menjadi tujuan penangkapan pada bottom trawl adalah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang (shrimp trawl, double ring shrimp trawl) dan juga jenis-jenis kerang. Dikatakan untuk periran laut jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari jenis ikan patek, kuniran, pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi,kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.

Catch yang dominan untuk sesuatu fish ground akan mempengaruhi skala usaha, yang kelanjutannya akan juga menentukan besar kapal dan gear yang akan dioperasikan.

 

Daerah Penangkapan

Didalam alat tangkap trawl yang memiliki syarat-syarat fishing ground, antara lain sebagai berikut:

        Dasar fishing ground terdiri dari pasir, lumpur ataupun campuran pasir dan Lumpur.

        Kecepatan arus pada mid water tidak besar (dibawah 3 knot) juga kecepatan arus pasang tidak seberapa besar

        Kondisi cuaca, laut, (arus, topan, gelombang, dan lain-lain) memungkinkan keamanan operasi

        Perubahan kondisi oceanografi terhadap mahluk dasar laut relatif kecil dengan perkataan lain kontinyuitas recources dijamin untuk diusahakan terus-menerus

        Perairan mempunyai daya produktifitas yang besar serta recources yang melimpah.

 

Alat Bantu Penangkapan

Pada umumnya kapal-kapal trawl ini digerakkan oleh diesel ataupun steam. Kapal dilengkapi dengan trawl winch, sebagai tenaga penggerak ada yang menggunakan steam engine ( 45-75 HP ) bagi stream trawl dan ada pula yang memakai motor dari 60-90 HP bagi diesel trawl. Winch ini dihubungkan dengan warp, dan untuk mengontrol panjang warp dipasang brake.

Besar jaring yang dipakai berbeda-beda, dan untuk menyatakan besar jaring dipakai penunjuk “panjang dari head rope“ yang biasanya dengan satuan feet atau meter.

  

Teknik Operasional ( Shooting & Hauling )

(1) kecepatan/lama waktu menarik jaring

Adalah ideal jika jaring dapat ditarik dengan kecepatan yang besar, tapi hal ini sukar untuk mencapainya, karena kita dihadapkan pada beberapa hal, antara lain keadaan terbukanya mulut jaring, apakah jaring berada di air sesuai dengan yang dimaksudkan (bentuk terbukanya), kekuatan kapal untuk menarik (HP), ketahanan air terhadap tahanan air, resistance yang makin membesar sehubungan dengan catch yang makin bertambah, dan lain sebagainya. Faktor-faktor ini berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan masing-masing menghendaki syarat tersendiri.

 

Pada umumnya jaring ditarik dengan kecepatan 3-4 knot. Kecepatan inipun berhubungan pula dengan swimming speed dari ikan, keadaan dasar laut, arus, angin, gelombang dan lain sebagainya, yang setelah mempertimbangkan faktor-faktor ini, kecepatan tarik ditentukan.

Lama waktu penarikan didasarkan kepada pengalaman-pengalaman dan factor yang perlu diperhatikan adalah banyak sedikitnya ikan yang diduga akan tertangkap., pekerjaan di dek, jam kerja crew, dan lain sebagainya. Pada umumnya berkisar sekitar 3-4 jam, dan kadangkala hanya memerlukan waktu 1-2 jam.

 

(2) panjang warp

Factor yang perlu diperhatikan adalah depth, sifat dasar perairan (pasir, Lumpur), kecepatan tarik. Biasanya panjang warp sekitar 3-4 kali depth. Pada fishing ground yang depthnya sekitar 9M (depth minimum). Panjang warp sekitar 6-7 kali depth. Jika dasar laut adalah Lumpur, dikuatirkan jaring akan mengeruk lumpu, maka ada baiknya jika warp diperpendek, sebaliknya bagi dasar laut yang terdiri dari pasir keras (kerikil), adalah baik jika warp diperpanjang.

 

Pengalaman menunjukkan bahwa pada depth yang sama dari sesuatu Fishing ground adalah lebih baik jika kita menggunakan warp yang agak panjang, daripada menggunakan warp yang terlalu pendek. Hal ini dapat dipikirkan sebagai berikut; bentuk warp pada saat penarikan tidaklah akan lurus, tetapi merupakan suatu garis caternian. Pada setiap titik –titik pada warp akan bekerja gaya- gaya berat pada warp itu sendiri, gaya resistance dari air, gaya tarik dari kapal/ winch, gaya ke samping dari otter boat dan gaya-gaya lainnya. Resultan dari seluruh gaya yang complicated ini ditularkan ke jaring (head rope and ground rope), dan dari sini gaya-gaya ini mengenai seluruh tubuh jaring. Pada head rope bekerja gaya resistance dari bottom yang berubah-ubah, gaya berat dari catch yang berubah-ubah semakin membesar, dan gaya lain sebagainya.

 

Gaya tarik kapal bergerak pada warp, beban kerja yang diterima kapal kadangkala menyebabkan gerak kapal yang tidak stabil, demikian pula kapal sendiri terkena oleh gaya-gaya luar (arus, angin, gelombang).

 

Kita mengharapkan agar mulut jaring terbuka maksimal, bergerak horizontal pada dasar ataupun pada suatu depth tertentu. Gaya tarik yang berubah-ubah, resistance yang berubah-ubah dan lain sebagainya, menyebabkan jaring naik turun ataupun bergerak ke kanan dan kekiri. Rentan yang diakibatkannya haruslah selalu berimbang. Warp terlalu pendek, pada kecepatan lebih besar dari batas tertentu akan menyebabkan jaring bergerak naik ke atas (tidak mencapai dasar), warp terlalu panjang dengan kecepatan dibawah batas tertentu akan menyebabkan jaring mengeruk lumpur. Daya tarik kapal (HP dari winch) diketahui terbatas, oleh sebab itulah diperoleh suatu range dari nilai beban yang optimal. Apa yang terjadi pada saat operasi penarikan, pada hakikatnya adalah merupakan sesuatu keseimbangan dari gaya-gaya yang complicated jika dihitung satu demi satu. 

 

Hal Yang  Mempengaruhi Kegagalan Tangkapan

Pada saat operasi, dapat terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan operasi antara lain:

       Warp terlalu panjang atau speed terlalu lambat atau juga hal lain maka jaring akan mengeruk lumpur

       Jaring tersangkut pada karang / bangkai kapal

       Jaring atau tali temali tergulung pada screw

       Warp putus

       Otterboat tidak bekerja dengan baik, misalnya terbenam pada lumpur pada waktu permulaan penarikan dilakukan

       Hilang keseimbangan, misalnya otterboat yang sepihak bergerak ke arah pihak yang lainnya lalu tergulung ke jaring

       Ubur-ubur, kerang-kerangan dan lain-lain penuh masuk ke dalam jaring, hingga cod end tak mungkin diisi ikan lagi.

       Dan lain sebagainnya.

 

Tatap Muka 15

CANTRANG

Definisi Alat Tangkap Cantrang

George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Alat tangkap cantrang dalam pengertian umum digolongkan pada kelompok Danish Seine yang terdapat di Eropa dan beberapa di Amerika. Dilihat dari bentuknya alat tangkap tersebut menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil.

 

Cantrang merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan demersal yang dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang yang dikaitkan pada ujung sayap jaring. Bagian utama dari alat tangkap ini terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring, tali penarik (warp), pelampung dam pemberat.

 

Sejarah Alat tangkap Cantrang

Danish seine merupakan salah satu jenis alat tangkap dengan metode penangkapannya tanpa menggunakan otterboards, jaring dapat ditarik menyusuri dasar laut dengan menggunakan satu kapal. Pada saat penarikan kapal dapat ditambat (Anchor Seining) atau tanpa ditambat (Fly Dragging). Pada anchor seining, para awak kapal akan merasa lebih nyaman pada waktu bekerja di dek dibandingkan Fly dragging. Kelebihan fly dragging adalah alat ini akan memerlukan sedikit waktu untuk pindah ke fishing ground lain dibandingkan Anchor seining (Dickson, 1959).

 

Setelah perang dunia pertama, anchor seining dipakai nelayan Inggris yang sebelumnya menggunakan alat tangkap Trawl. Dari tahun 1930 para nelayan Skotlandia dengan kapal yang berkekuatan lebih besar dan lebih berpengalaman menyingkat waktu dan masalah pada anchor seining pada setiap penarikan alat dengan mengembangkan modifikasi operasi dengan istilah Fly Dragging atau Scotish Seining. Pada Fly Dragging kapal tetap berjalan selagi penarikan jaring dilakukan.

Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menterupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang menyerupai trawl, yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang. Dibanding trawl, cantrang mempunyai bentuk yang lebih sederhana dan pada waktu penankapannya hanya menggunakan perahu motor ukuran kecil. Ditinjau dari keaktifan alat yang hampir sama dengan trawl maka cantrang adalah alat tangkap yang lebih memungkinkan untuk menggantikan trawl sebagai sarana untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan demersal. Di Indonesia cantrang banyak digunakan oleh nelayan pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama bagian utara (Subani dan Barus, 1989)

 

Prospektif Alat Tangkap Cantrang

Setelah dikeluarkannya KEPRES tentang pelarangan penggunaan alat tangkap Trawl di Indonesia tahun 1980, maka cantrang banyak dipilih nelayan untuk menangkap ikan demersal, karena dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang ini hampir memiliki kesamaan dengan jaring trawl.

 

Konstruksi Alat Tangkap Cantrang

2.      Konstruksi Umum

Dari segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian-bagian :

a)      Kantong (Cod End)

Kantong merupakan bagaian dari jaring yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan. Pada ujung kantong diikat dengan tali untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak mudah lolos (terlepas).

b)      Badan (Body)

Merupakan bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong. Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk ke dalam kantong. Badan tediri atas bagian-bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda.

c)      Sayap (Wing)

Sayap atau kaki adalah bagian jaring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan sampai tali salambar. Fungsi sayap adalah untuk menghadang dan mengarahkan ikan supaya masuk ke dalam kantong.

d)      Mulut (Mouth)

Alat cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut jaring terdapat:

1)      Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.

2)      Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus.

3)      Tali Ris Atas (Head Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.

4)      Tali Ris Bawah (Ground  Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.

e)      Tali Penarik (Warp)

Berfungsi untuk menarik jaring selama di operasikan.

 

3.      Detail Konstruksi

1. Umbal dari bambu (panjang 1,2 m, Ø 14 cm); 2. Antang dari bambu (panjang 0,8, Ø 10 cm); 4. Kolo dari bambu (panjang 0,6, Ø 8 cm); 5. Pemberat dari batu/timah (berat 0,4 kg).

Tali-temali dan lain-lain :

a.      Penganjuran dari ijuk, panjang 150 m, Ø 1,4 cm

b.      Kelatan dari ijuk, panjang 300 m (lebih kecil dari kelatan)

c.       Ris atas (headrope)

d.      Ris bawah (footrope)

e.      Cakak bawah

f.       Cakak atas

 

Karakteristik

Menurut George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapan cantrang menyerupai trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapannya hanya menggunakan perahu layar atau kapal motor kecil sampai sedang. Kemudian bagian bibir atas dan bibir bawah pada Cantrang berukuran sama panjang atau kurang lebih demikian. Panjang jaring mulai dari ujung belakang kantong sampai ujung kaki sekitar 8-12 m.

 

4.      Gambar Teknis

                                             D                          F

  

      1   2   3 4   5   6     E

                                     7

                                          8

                                                   9                                

  A               B                        C                                               

Keterangan:

Bagian       Bahan        Mesh size

A. Kantong          Polyethylene      2 cm

B. Badan

1.      Pejasan

2.      Sontek

3.      Setonjuk

4.      Sampok

5.      Kelobung

6.      Cangkeman       

Polyethylene Polyethylene Polyethylene Polyethylene Polyethylene Polyethylene    

2,5 cm

3 cm

3 cm

4 cm

5 cm

6 cm

C. Sayap

7

      8

      9

Polyethylene Polyethylene Polyethylene       

7 cm

8 cm

8 cm

D. Bibir Bawah            

E. Bibir Atas                

F. Tali Selambar Kuralon      Ø tali 1 inchi

G. Pelampung Tanda Bola 

 

5.      Bahan Dan Spesifikasinya

a.      Kantong

Bahan terbuat dari polyethylene. Ukuran mata jaring pada bagian kantong 1 inchi.

b.      Badan

Terbuat dari polyethylene dan ukuran mata jaring minimum 1,5 inchi.

c.       Sayap

Sayap terbuat dari polyethylene dengan ukuran mata jaring sebesar 5 inchi.

d.      Pemberat

Bahan pemberat terbuat dari timah atau bahan lain.

e.      Tali ris atas

Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.

f.       Tali ris bawah

Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene.

g.      Tali penarik

Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene  dengan  diameter 1 inchi.

 

Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan dengan jaring Cantrang pada dasarnya yang tertangkap adalah jenis ikan dasar (demersal) dan udand seperti ikan petek, biji nangka, gulamah, kerapu, sebelah, pari, cucut, gurita, bloso dan macam-macam udang (Subani dan Barus, 1989).

 

Daerah Penangkapan

Langkah awal dalam pengoperasian alat tangkap ini adalah mencari daerah penangkapan (Fishing Ground). Menurut Damanhuri (1980), suatau perairan dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan dibawah ini:

1.      Di daerah tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun.

2.      Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah dan sempurna.

3.      Lokasi tidak jauh dari pelabuhan sehingga mudah dijangkau oleh perahu.

4.      Keadaan daerahnya aman, tidak biasa dilalui angin kencang dan bukan daerah badai yang membahayakan.

Penentuan daerah penangkapan dengan alat tangkap Cantrang hampir sama dengan Bottom Trawl. Menurut Ayodhyoa (1975), syarat-syarat Fishing Ground bagi bottom trawl antara lain adalah sebagai berikut:

       Karena jaring ditarik pada dasar laut, maka perlu jika dasar laut tersebut terdiri dari pasir ataupun Lumpur, tidak berbatu karang, tidak terdapat benda-benda yang mungkin akan menyangkut ketika jaring ditarik, misalnya kapal yang tenggelam, bekas-bekas tiang dan sebagainya.

       Dasar perairan mendatar, tidak terdapat perbedaan depth yang sangat menyolok.

       Perairan mempunyai daya produktivitas yang besar serta resources yang melimpah.

 

Alat Bantu Penangkapan

Alat bantu penangkapan cantrang adalah GARDEN. (Mohammad et al. 1997) dengan alat bantu garden untuk menarik warp memungkinkan penarikan jaring lebih cepat. Penggunaan garden tersebut dimaksudkan agar pekerjaan anak buah kapal (ABK) lebih ringan, disamping lebih banyak ikan yang terjaring sebagai hasil tangkapan dapat lebih ditingkatkan.

 

Gardanisasi alat tangkap cantrang telah membuka peluang baru bagi perkembangan penangkapan ikan, yaitu dengan pemakaian mesin kapal dan ukuran jaring yang lebih besar untuk di operasikan di perairan yang lebih luas dan lebih dalam.

 

Teknik Operasi (Setting Dan Hauling)

1.      Persiapan

Operasi penangkapan dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring.

2.      Setting

Sebelum dilakukan penebaran jaring terlebih dahulu diperhatikan terlebih dahulu arah mata angin dan arus. Kedua faktor ini perlu diperhatikan karena arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal, sedang arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.

Untuk mendapatkan luas area sebesar mungkin maka dalam melakukan penebaran jaring dengan membentuk lingkaran dan jaring ditebar dari lambung kapal, dimulai dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada saat akan dilakukan hauling. Setelah pelampung tanda diturunkan kemudian tali salambar kanan diturunkan → sayap sebelah kanan → badan sebelah kanan → kantong → badan sebelah kiri → sayap sebelah kiri → salah satu ujung tali salambar kiri yang tidak terikat dengan sayap dililitkan pada gardan sebelah kiri. Pada saat melakukan setting kapal bergerak melingkar menuju pelampung tanda.

3.      Hauling

Setelah proses setting selesai, terlebih dahulu jaring dibiarkan selam ± 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan. Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat gardan sehingga akan lebih menghemat tenaga, selain itu keseimbangan antara badan kapal sebelah kanan dan kiri kapal lebih terjamin karena kecepatan penarikan tali salambar sama dan pada waktu yang bersamaan. Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring.

 

Setelah diperkirakan tali salambar telah mencapai dasar perairan maka secepat mungkin dilakukan hauling. Pertama-tama pelampung tanda dinaikkan ke atas kapal → tali salambar sebelah kanan yang telah ditarik ujungnya dililitkan pada gardan sebelah kanan → mesin gardan mulai dinyalakan bersamaan dengan mesin pendorong utama hingga kapal bergerak berlahan-lahan → jaring mulai ditarik → tali salambar digulung dengan baik saat setelah naik keatas kapal → sayap jaring naik keatas kapal → mesin gardan dimatikan → bagian jaring sebelah kiri dipindahkan kesebelah kanan kapal → jaring ditarik keatas kapal → badan jaring → kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan keatas kapal. Dengan dinaikkannya hasil tangkapan maka proses hauling selesai dilakukan dan jaring kembali ditata seperti keadaan semula, sehingga pada saat melakukan setting selanjutnya tidak mengalami kesulitan. 

 

Hal-Hal Yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan

1.      Kecepatan dalam menarik jaring pada waktu operasi penangkapan.

2.      Arus

Arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.

3.      Arah angin

Arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan dilakukan.

 

PUKAT PANTAI (BEACH SEINE)

Definisi  Alat  Tangkap  Pukat  Pantai

Pukat pantai atau beach seine adalah salah satu jenis alat tangkap yang masih tergolong kedalam jenis alat tangkap pukat tepi. Dalam arti sempit pukat pantai yang dimaksudkan tidak lain adalah suatu alat tangkap yang bentuknya seperti payang, yaitu berkantong dan bersayap atau kaki yang dalam operasi penangkapanya yaitu setelah jaring dilingkarkan pada sasaran kemudian dengan tali panjang (tali hela) ditarik menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai. Pukat pantai juga sering disebut dengan krakat. Di beberapa daerah di jawa juga dikenal dengan nama “puket”, “krikit”, dan atau “kikis”.

 

Sejarah  Alat  Tangkap  Pukat  Pantai

Daerah penyebaran alat tangkap pukat pantai terdapat hampir di seluruh daerah perikanan laut Indonesia, walaupun di tiap daerah punya nama dan ciri tersendiri, namun hal ini pada dasarnya hanya bertujuan untuk memudahkan pengenalan alat tangkap ini di masing-masing daerah. Misalnya alat tangkap pukat pantai yang beroperasi di teluk Segara Wedi yang labih dikenal dengan krakat prigi karena terdapat di perairan prigi kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Krakat ini sudah digunakan untuk menangkap ikan sejak jaman belanda atau sekitar tahun 30-an. Pada masa itu harga bahannya masih relative mahal, oleh karena itu baru para pegawai pemerintah Hindia Belanda saja yang memiliki. Sedangkan bahan untuk membuatnyapun masih sederhana, alat ini pada masa itu terbuat dari benang kapas dicampur dengan getah bakau pada bagian jaringnya, dan tali penarik terbuat dari penjalin dengan daya awet alat yang hanya dapat mencapai kurang labih selama 2 tahun.

Daerah penangkapan yang bertambah luas dan jauh jaraknya disebabkan dengan adanya persaingan dengan alat tangkap pukat cincin dan payang yang beroperasi di perairan yang sama sehingga jumlah ikan menjadi terbatas. Selain itu derasnya erosi di wilayah pesisir karena kurangnya pelindung menyebabkan perairan pantai terdekat menjadi dangkal.

Bagian pelampung pada pukat pantai pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu masih terbuat dari kayu dan pemberatnya dari batu dan tanah liat yang dibakar, tatapi sekarang sudah berkembang menjadi bahan sintetis karena lebih awet dan mudah perawatanya. Jumlah pemilik pukat pantai dan nelayan buruh yang mengoperasikan juga bertambah banyak dan terus berkembang.

 

Prospektif  Alat  Tangkap  Pukat  Pantai

Dalam perkembanganya pukat pantai terus mengalami kemajuan baik dalam hal distribusinya maupun bentuknya. Walaupun di masing-masing daerah mungkin akan mempunyai nama yang berbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai dengan keinginan penduduk setempat. Penggunaan tenaga kerja yang cukup banyak sekitar 36 orang merupakan ciri positif dari pukat pantai bila dikaitkan dengan lapangan kerja dan perluasan kesempatan kerja. Mereka biasanya tidak dituntut untuk memiliki ketrampilan tertentu kecuali tenaga yang cukup untuk menarik jaring. Meskipun tergolong dalam alat tangkap tradisional namun pukat pantai termasuk dalam alat tangkap tradisional penting yang dapat memberikan hasil tangkap yang cukup baik. Menurut data statistik perikanan tahun 1986 jumlah pukat tapi mencapai 9.740 unit dengan jumlah seluruh alat penangkap 452.845 unit dan dengan jumlah produksi mencapai 75.363 ton. Daerah penyebaranya hampir terdapat di seluruh daerah perikanan laut Indonesia. Hal tersebut dapat menunjukkan perkembangan dari alat tangkap pukat pantai yang cukup baik.

 

Konstruksi Alat Tangkap

Konstruksi Umum Alat Tangkap Pukat Pantai

Pada prinsipnya krakat atau pukat pantai terdiri dari bagian bagian seperti : kantong, sayap atau kaki dan tali panjang (slambar, hauling line). Bagian kantong berbentuk kerucut, bisa dibuat dari bahan waring, katun maupun bahan sintetis seperti waring karuna, nilon, dan bahan dari plastik. Pada mulut di kantong kanan-kirinya dihubungkan dengan kaki atau sayap, sedang pada bagian ujung belakang yang disebut ekor diberi tali yang dapat dengan mudah dibuka dan diikatkan untuk mengeluarkan hasil tangkapn. Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Besar mata bagian kaki bervariasi mulai dari 6,5 cm pada ujung depan dan mengecil pada bagian pangkalnya. Pada bagian ujung depan kaki diberi atau dihubungkan dengan kayu cengkal (brail or preader). Pada tiap ujung kaki, yaitu pada ris atas dan bawah diikatkan tali yang telah diikatkan pada kayu cengkal kemudian disambungkan dengan tali hela (tali slambar, hauling line) yang panjang dan dapat dibuat menurut kebutuhan. Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Ada tiga macam pelampung yang sering digunakan yaitu: pelampung raja, pelampung biasa dan pelampung. Sedangkan pada ris bawah diikatkan dua macam pemberat yaitu dari timah dan pemberat dari rantai besi yang jarak antara satu dengan yang lainnya saling berjauhan.

 

Detail Konstruksi Alat Tangkap Pukat Pantai

Pukat pantai terdiri dari tiga bagian penting yaitu kantong (bag), badan (shoulder) dan sayap (wings). Masing-masing bagian masih terdiri atas beberapa sub bagian lagi.

1. Sayap (Wings)

Sayap merupakan perpanjangan dari bahan jaring, berjumlah sepasang terletak pada masing-masing sisi jaring. Masing-masing sayap terdiri atas:

a.      Ajuk-ajuk, yang berada di ujung depan dan biasanya terbuat dari polyethyline

b.      Gembungan, yang terdapat di tengah dan biasanya juga terbuat dari polyethyline

c.       Clangap, yang berada di dekat badan dan biasanya juga terbuat dari polyethyline atau bahan sintetis lainnya.

2. Kantong (Bag)

Kantong berfungsi sebagai tampat ikan hasil tangkapan, berbentuk kerucut pada ujungnya diikat sebuah tali sehingga ikan-ikan tidak lolos. Biasanya masih dibantu dengan kebo kaos untuk membantu menampung hasil tangkapan. Kantong terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai ukuran mata yang berbeda-beda. Kantong terdiri dari dua bagian, pada umumnya bagian depan berukuran mata sekitar 14 mm, berjumlah sekitar 290 dan panjang sekitar 2,20 m. Bagian belakang kira-kira memiliki ukuran mata 13 mm, dengan jumlah sekitar 770, dan panjang sekitar 4 m.

 

3. Badan (Shoulder)

Bagian badan jaring terletak di tengah-tengah antara kantong dan kedua sayap. Berbentuk bulat panjang berfungsi untuk melingkupi ikan yang sudah terperangkap agar masuk ke kantong. Badan terdiri atas bagian depan yang mempunyai ukuran mata yang lebih kecil daripada bagian belakang dan dengan panjang serta jumlah mata yang lebih banyak daripada bagian belakang.

Kedudukan pukat pantai di perairan sangat ditentukan oleh keberadaan pelampung dan pemberat pukat pantai.

1. Pemberat (Sinker)

Pemasangan pemberat pada umumnya ditempatkan pada bagian bawah alat tangkap. Fungsinya agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap pada posisinya meskipun mendapat pengaruh dari arus serta membantu membuka mulut jaring kearah bawah.

2. Pelampung (Floats)

Sesuai dengan namanya fungsi pelampung digunakan untuk memberi daya apung atau untuk mengapungkan dan merentangkan sayap serta membuka mulut jaring ke atas pada alat tangkap pukat pantai.

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas pukat pantai juga menggunakan tali temali. Tali tamali yang terdapat dalam pukat pantai ada tiga jenis, yaitu:

1. Tali Penarik (Warps) dan Tali Goci (Bridles)

Terletak pada dua ujung sayap, berfungsi untuk menarik jaring pukat pantai pada setiap operasi penangkapan. Tali ini ditarik dari pantai oleh nelayan dengan masing-masing sayap ditarik oleh sekitar 13 nelayan atau tergantung dengan panjang dan besarnya pukat pantai.

2. Tali Ris Atas (Lines)

Berfungsi sebagai tempat untuk melekatnya jaring pada bagian atas dan pelampung. Tali ini terletak pada kedua sayap

3. Tali Ris Bawah (Ground Rope)

Tali ini berfungsi sebagai tempat melekatnya jaring pada bagian bawah dan pemberat. Tali ini terletak pada kedua sayap jaring.

 

 

 

Karakteristik  Alat  Tangkap  Pukat  Pantai

Alat tangkap pukat pantai termasuk jenis pukat yang berukuran besar. Banyak dikenal di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Pelabukan Ratu, Maringge (Sumatra Selatan). Bentuknya seperti payang dan bersayap. Prinsip pengoperasiannya adalah menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai. Dalam pengoperasiannya pukat pantai yang berukuran besar memerlukan tenaga sampai puluhan orang lebih. Kantong pada pukat pantai biasanya berbentuk kerucut dan terbuat dari katun maupun bahan sintetis lain. Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai biasanya jenis-jenis ikan pantai yang hidup di dasar dan termasuk juga jenis udang. Dalam pengoperasiannya kapal atau perahu yang digunakan bervariasi. Sampai sekarang penggunaan alat tangkap pukat pantai ini terus menerus mengalami perkembangan baik dalam hal perubahan model maupun penyebaran atau distribusinya.

 

Bahan dan Spesifikasinya

Seperti yang telah disebutkan pada konstruksi maupun detail konstruksi, pada prinsipnya pukat pantai terdiri dari bagian-bagian kantong yang berbentuk kerucut yang bisa dibuat dari bahan waring, katun maupun bahan sintetis lain seperti waring karuna, nilon bahan dari plastic maupun polyethylene (PE). Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Pelampung ini kebanyakan terbuat dari bahan sintetis yang bersifat mudah mengapung atau tidak tenggelam dan biasanya berbentuk silinder. Sedangkan pada ris bawah diikatkan pemberat yang bisa terbuat dari timah atau dapat pula digunakan rantai besi. Pada masa dahulu masih digunakan pemberat yang terbuat dari bahan liat maupun batu. Namun sekarang sudah jarang digunakan karena daya awetnya rendah.

 

Hasil  Tangkapan

Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai terutama jenis-jenis ikan dasar atau jenis ikan demersal dan udang antara lain yaitu; pari (rays), cucut (shark),teri (Stolepharus spp), bulu ayam (Setipinna spp), beloso (Saurida spp), manyung (Arius spp), sembilang (Plotosus spp), krepa (Epinephelus spp), kerong-kerong (Therapon spp), gerot-gerot (Pristipoma spp), biji nangka (Parupeneus spp), kapas-kapas (Gerres spp), petek (Leiognathus spp), ikan lidah dan sebelah (Psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).

Sedangkan untuk pembagian hasil tangkapan, hal ini sudah diatur sesuai dengan undang-undang no. 16 tahun 1964 tentang pembagian hasil usaha perikanan tangkap untuk operasi penangkapan ikan di laut dengan menggunakan perahu layar, nelayan penggarap minimal mendapat 75% dari hasil usaha bersih.

 

Daerah Penangkapan

Daerah penangkapan ikan adalah suatu daerah perairan yang cocok untuk penangkapan ikan dimana alat tangkap dapat kita operasikan secara maksimum. Syarat-syarat suatu daerah dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan bila :

1.      Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya

2.      Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah

3.      Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi daerah perlu diperhitungkan.

Pada umumnya krakat atau pukat pantai banyak dikenal dan dipergunakan di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Pelabuhan Ratu, Marigge (Sumatra Selatan), dan banyak pula digunakan di daerah Jawa. Sedangkan distribusi pukat pantai ini meliputi daerah Labuhan, Teluk Panganten, Jakarta, Cirebon, Brebes, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Juana, Rembang, Tuban, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Panarukan, Banyuwangi, Muncar, Sepanjang  Pantai Madura, Lampung, Prigi, Pangandaran, Teluk Betung, Maringge, Seputih dan lain-lainnya.

Biasanya daerah penangkapan untuk alat pukat pantai ditentukan berdasarkan tanda-tanda alamiah seperti terlihatnya buih-buih dipermukaan perairan atau adanya burung yang menyambar-nyambar, namun kebanyakan nelayan menggunakan cara dengan mencoba menurunkan jaring pada daerah yang sudah biasa dijadikan daerah penangkapan oleh nelayan pukat pantai di masing-masing daerah.

Dulu ketika jumlah unit pukat pantai masih terbatas, penggunaan daerah penangkapan tidak pernah menjadi permasalahan antara pemilik pukat pantai. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah pemilik pukat pantai maka pada masing-masing daerah atau wilayah penangkapan dikenal adanya sistem pembagian daerah penangkapan pukat pantai dengan membagi daerah penangkapan menjadi beberapa bagian dan pada tiap bagian berlaku adanya pembagian jadwal operasi.

 

Alat Bantu Penangkapan

Selain bagian-bagian dari pukat pantai sendiri, dalam pengoperasiannya pukat pantai masih menggunakan alat bantu penangkapan diantaranya adalah :

1. Perahu

Perahu yang dipergunakan dalam pengoperasian pukat pantai ini bervariasi. Akan tetapi biasanya berukuran panjang 5-6 m, lebar 0.6 m dan dalam atau tinggi 0.7 m. Perahu ini ada yang dilengkapi dengan katir/sema (outriggers) maupun tidak. Ada yang dilengkapi dengan motor dan ada juga yang tanpa motor (perahu dayung). Untuk perahu dayung biasanya terbuat dari bahan kayu. Kelebihan dari material kayu selain harganya lebih murah, tehnologinya sederhana, material mudah didapat, pembentukannya mudah ringan dan perawatanya juga mudah.

2. Pelampung Berbendera

Pelampung berbendera ini berfungsi sebagai tanda posisi kantang pukat pantai di perairan dan sebagai petunjuk bagi mandor tentang keseimbangan posisi jaring antara kiri dan kanan. Sehingga dengan melihat bendera, mandor dapat dengan mudah mengetahui kapan posisi penarik harus bergeser dan seberapa jauhnya jarak pergeseran.

3. Kayu Gardan

Kayu garden ditancapkan dengan kokoh di pantai. Fungsi dari kayu ini adalah sebagai penggulung tali penarik dan sebagai tempat untuk menambatkan tali penarik. Kayu ini terbuat dari kayu pohon yang kuat misalnya kayu kopi, kayu waru dan sebagainya.

 

Teknik Operasi Alat Tangkap Pukat Pantai

Tahap Persiapan

Kira-kira sebanyak 6 orang nelayan naik ke perahu yang ditambat di dekat pantai untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi operasional penangkapan. Jaring dan tali disusun sedemikian rupa dengan dibantu para nelayan penarik untuk mempermudah operasi penangkapan terutama pada waktu penawuran (setting). Urut-urutan susunan alat dalam perahu mulai dari dasar adalah sebagai berikut : gulungan tali penarik I, sayap I, badan, kantong, sayap II dan teratas adalah gulungan tali penarik II. Diatur pula letak pelampung pada bagian sisi kanan menghadap kearah laut dan pemberat di sebelah kiri menghadap kearah pantai. Salah satu ujung tali hela (penarik) diikatkan pada patok kayu di pantai kemudian perahu dikayuh menjauhi pantai.

Tahap Penawuran (Setting)

Perahu dikayuh menjauhi pantai sambil menurunkan tali hela II yang ujungnya telah diikatkan pada patok di daratan pantai. Apabila syarat-syarat fishing ground telah ditemukan dan jarak sudah mencapai sekitar 700 m (sepanjang tali hela) dari pantai, perahu mulai bergerak ke kanan sambil menurunkan jaring. Penurunan jaring diusahakan agar membentuk setengah lingkaran menghadap garis pantai. Urutan penurunan dari perahu sebelah kiri berturut-turut sayap II, badan dan kantong serta sayap I, kemudian tali hela diulur sambil mengayuh perahu mendekati pantai dan pada saat mendekati pantai ujung tali penarik yang lain dilempar ke pantai dan diterima oleh sekelompok nelayan yang lain. Setelah kedua ujung tali penarik berada di pantai, masing-masing ujung ditarik oleh sekelompok nelayan yang berjumlah sekitar 13 orang per kelompok. Pada saat itu perahu kembali kelaut untuk mengambil tali kantong dan mengikuti jaring hingga ke pantai selama penarikan jaring.

Kecapatan perahu dalam menebarkan jaring dapat dihitung dengan mengetahui jarak yang telah ditempuh perahu dan lamanya waktu penebaran. Sedangkan kecepatan penawuran dapat diperoleh dengan menghitung panjang pukat pantai dibagi dengan lama penawuran.

Tahap Penarikan (Hauling)

Ketika ujung tali hela I telah sampai di pantai, penarikan jaring dimulai. Jarak antara ujung tali penarik I dan II kurang lebih 500 m, masing-masing ditarik oleh nelayan berjumlah sekitar 13 orang. Sambil secara bertahap saling mendekat bersamaan dengan mendekatnya jaring ke pantai. Perpindahan dilakukan kira-kira sebanyak 4 kali dengan perpindahan ke 4 pergeseran dilakukan terus menerus hingga akhirnya bersatu. Ketika sayap mulai terangkat di bibir pantai, penarikan di komando oleh seorang mandor untuk mengatur posisi jaring agar ikan tidak banyak yang lepas. Bersamaan dengan itu perahu dikayuh menuju ujung kantong yang diberi tanda dengan bendera yang terpasang pada pelampung. Salah satu dari crew penebar mengikatkan kebo kaos pada bagian ujung kantong. Kebo kantong tersebut dimaksudkan sebagai tempat ikan hasil tangkapan agar jaring tidak rusak akibat terlalu banyak muatan. Sambil memegang kebo kaos tersebut nelayan berenang mengikuti jaring sampai ke pinggir pantai. Kecepatan penarikan dapat dihitung dengan cara membagi panjang keseluruhan dengan lamanya penarikan.

Tahap Pengambilan Hasil Tangkap

Sayap dan badan pukat pantai terus ditarik dan bila kedua bagian ini telah berada di daratan pantai, kantong ditarik dan hasil tangkapan dikeluarkan dari kantong. Selanjutnya ikan yang jenisnya bermacam-macam tersebut disortir dengan memisahkan dan memasukkanya kedalam keranjang tempat yang telah disediakan. Selain itu sebagian nelayan ada yang menaikkan tali penarik dan jating ke daratan untuk dirawat atau mempersiapkan pengoperasian tahap berikutnya.

 

Hal-Hal Yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan

Hal-hal yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan diantaranya adalah :

1.      Penentuan fishing ground yang tepat

2.      Pengaturan posisi pukat pantai yang digunakan

3.      Kecepatan penebaran dan penaikkan jaring

4.      perawatan, daya awet serta efektifitas pukat pantai yang digunakan

5.      Lamanya waktu pengoperasian

6.      Kondisi perahu dan alat bantu lainnya.

 

Penulis

Dr. Ir. Gatut Bintoro, M.Sc dan Ir. Sukandar, MP

Agrobisnis Perikanan, FPIK Universitas Brawijaya

 

Editor

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatam 2015

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,1976, Fisherman’s Manual, World  Fishing, England.

__________,1975, FAO  Catalogue of Smail Scale Fishing Gier, FAO  of  UN.

Ayodyoa, A.U., 1972, Kapal Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

___________, 1975, Fishing Methods Diktat Kuliah Ilmu Tekhnik Penangkapan Ikan, Bagian  Penangkapan Fakultas Perikanan IPB, Bogor.

___________, 1983, Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.

Damanhuri, 1980, Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penangkapan Ikan, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Dickson, 1959, The Use Of Danish Seine, Modern Fishing Gear Of The World, Japan International Cooperation Agency, Tokyo.

Fridman, !988, Perhitungan Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Martosubroto, 1987, Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia, Direktorat Bina Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Muhammad, S. Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan Agus Cahyono, 1997, Studi Pengembangan Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa Timur, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Nedelec W., 2000, Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Schmidt, Peter G.Jr., 1989, Fish Boats 2, Mc hills, London.

Subani, W., 1978, Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, jilid I, LPPL, Jakarta.

Subani, W dan H.R. Barus, 1989, Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta.

Swandaru, 2000, Pengoperasian Alat Tangkap Purse seine dua Kapal di Perairan Selat Bali. Laporan PKl, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang

The Gourack Ropework, Co., ltd., 1961. Deep Sea Trawling and Wing Trawling.

Ward, george, ed., 1964. Stern trawling

Widodo, S., 2002, Identifikasi, Klasifikasi dan Inventarisasi Alat Penangkapan dan Armada Perikanan di Kabupaten Jember, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang.

Www. Fao/Purseseine.Com

Www. Fisheries.Com

Www. Marine Aquarium.Com

Www. Pursenet.Com

 

PROPAGASI

A.      Latihan dan Diskusi

1.      Mengapa purse seine di Laut Jawa dan Selat Madura dapat menangkap jenis ikan-ikan dasar?

2.      Mengapa penarikan tali kolor purse seine harus berlangsung cepat?  

 

B.      Pertanyaan (Evaluasi mandiri)

1.      What is the function of ring?

2.      Where was purse seine first introduced in Indonesia?

3.      What does it mean by potential energy?

4.      How important is the purse line?

5.      What kind of fish is ussually caught by trawl?

 

C.      QUIZ -mutiple choice (Evaluasi)

D.      PROYEK (menghitung volume area perairan yang dilingkari purse seine)

No comments:

Post a Comment