Monday, October 28, 2019

Alat Tangkap Jaring Insang Atau Gillnet (Metode Penangkapan Ikan (MPI))



1. PENDAHULUAN

1.1 Pengantar

·        Gill net sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, dan lain sebagainya. Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring. Gill net dioperasikan dimana kedudukan jaring pada fishing ground direntangkan pada permukaan maupun dasar laut, yang disesuaikan dengan ikan swimming layer ikan target.

·        Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang  berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya. Tertangkapnya ikan ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.

·        Semakin berkembangnya usaha penangkapan ikan, maka berkembang pula bentuk macam alat penangkap ikan yang makin maju ke arah spesifikasi. Gill Net merupakan salah satu jenis yang banyak digunakan oleh nelayan dan usaha penangkapan ikan karena merupakan alat tangkap yang selektif dibanding alat tangkap lainnya. Setelah dikeluarkannya Keppres No. 39 Tahun 1980 Tentang Pelarangan Penggunaan Alat Tangkap Trawl, maka semakin banyak alat tangkap lain yang digunakan oleh nelayan tradisional, salah satunya alat tangkap jenis Bottom Gill Net.

 


·        Prinsip menangkap ikan dengan gillnet adalah dengan membiarkan ikan secara pasif untuk melewati jaring gillnet yang terbentang. Sehingga dapat dikatakan alat tangkap ini merupakan alat tangkap pasif yang sangat bergantung pada pergerakan ikan target. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai penjerat ikan dinding penghadang, dan bukan sebagai dinding penghadang seperti pada alat tangkap purse seine.

·        Prospektif gill net dasar atau bottom gill net di Indonesia sangat baik, hal ini dikarenakan secara kuantitatif, jumlahnya cukup besar di Indonesia. Hal-hal yang mempengaruhi besarnya bottom gill net secara kuantitatif di Indonesia:

(a) Bahan dasar (material) pembuatan bottom gill net mudah diperoleh;

(b) Proses pembuatan bottom gill net mudah

(c) Harganya relatif murah

(d) Fishing method dari bottom gill net mudah

(e) Biaya relatif murah sehingga dapat dimilliki oleh siapa saja.

·          Jaring insang termasuk alat tangkap potensial. Terutama jika materialnya adalah monofilamen karena benangnya sangat licin sehingga bila ada kotoran yang menempel mudah dibersihkan , maka jaring mudah membuka. Selain itu alat tangkap ini bersifat selektif yaitu besar mata jaring dapat disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap, sehingga alat tangkap ini sering dijadikan standart perhitungan selektivitas alat tangkap yang lainnya. 

·          Sasaran akhir yang dituju dalam studi gillnet adalah pengungkapan dan pemahaman pengoperasian salah satu alat tangkap yang terbuat dari jaring yang akan mengarah pada selektivitas alat tangkap.  Ini adalah landasan dasar dari upaya optimalisasi penguasaan materi tentang efektivitas dan keramahan pengoperasian suatu alat tangkap.

 

1.2 Tujuan

Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan untuk memahami metode penangkapan ikan, akan dapat

·     Menjelaskan pengertian alat tangkap gill net dalam menunjang metode penangkapan ikan

·     Menjelaskan metode pengoperasian alat tangkap gillnet dalam proses penangkapan ikan

 

 

1.3 Definisi

·       Gill Net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat ris atas, ris bawah (kadang tanpa ris bawah). Seluruh mata jaring sama ukurannya,lebar jaringnya lebih pendek dibanding panjangnya. Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas diletakkan pelampung (pelampung) dan pada bagian bawah dilekatkan pemberat (pemberat).  Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, sehingga letak jaring telah tertentu. Posisi jaring dapat diperkirakan pada pelampung berbendera /  bertanda  yang dilekatkan pada kedua bagian ujung jaring, tetapi tidak dapat diketahui baik buruknya rentangan jaring itu sendiri, karena letaknya di dasar laut.

·       Besar mata jaring pada alat tangkap gillnet bervariasi, disesuaikan dengan sasaran yang akan ditangkap (selektif) seperti untuk ikan , udang. Jaring ini terdiri dari satuan–satuan jaring disebut tinting / piece. Dalam operasi penangkapannya terdiri dari beberapa tinting yang digabung menjadi satu unit yang panjangnya (300 – 500 m).  Ikan –ikan yang ditangkap gill net umumnya tersangkut/ terjerat (gilled) pada tutup insangnya, jika ikannya besar maka akan terpuntal / terbelit – belit (entangled) pada tubuh jaring.

·       Menurut FAO (Nedelec & Prado, 1990) gillnet merupakan jaring berdinding tunggal dengan ukuran bukaan mata jaring yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran ikan yang menjadi target spesies. Alat tangkap ini merupakan alat tangkap pasif namun ikan-ikan dapat digiring menujunya. Jaring dapat digunakan secara tunggal atau dalam satuan jumlah besar (fleets).

·       Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 06/MEN/2010, gillnet atau kelompok jaring insang merupakan kelompok jaring yang berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan talu ris bwah untuk menghadang ikan sehingga ikan tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan, pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujuan menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8: 2008)

 

1.4 Klasifikasi

·          Menurut FAO (Nedelec & Prado, 1990), gillnet diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu:

a.     Set gillnets (dioperasikan di dasar laut, kadang dihanyutkan.

b.     Driftnets (dengan atau tanpa kapal motor)

c.     Dragged gillnets

d.     Encircling gillnets (ikan diarahkan menuju jaring, umumnya menggunakan rangsangan bunyi).

·          Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 06/MEN/2010, gillnet atau jaring insang diklasifikasikan menjadi:

a.     Jaring insang tetap (set gillnets (anchored)) atau Jaring Liong Bun

 

b.     Jaring insang tetap (set gillnets (anchored)) atau Jaring Liong Bun

 

 

c.     Jaring insang hanyut (Driftnets) atau jaring gillnet oseanik



d.     Jaring insang lingkar (Encircling gillnets)


Gambar 4. Encircling gillnets (Jaring insang lingkar)


d. Jaring insang berpancang (Fixed gillnets on stakes)



e. Jaring insang berlapis (trammel nets) atau jaring klitik



f. Combined gillnets – trammel nets



· Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan . No. PER.08/MEN/2008 Kegiatan penangkapan ikan di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dapat dilakukan dengan menggunakan 2 jenis jaring insang:

a.          Jaring insang hanyut (drift gillnets)

b.          Jaring insang tetap (set gillnets)

 

1.5 Persyaratan bahan gillnets

v Persyaratan

Bahan dari gill net harus mempunyai daya tampak sekecil mungkin dalam air, terutama sekali untuk penangkapan di siang hari pada air jernih. Serat jaring juga harus sehalus dan selunak mungkin untuk mengurangi daya penginderaan dengan organ side line. Serat jaring yang lebih tipis juga kurang terlihat. Sebaliknya bahan harus cukup kuat untuk menahan rontaan ikan yaang tertangkap dan dalam upayanya untuk membebaskan diri.

Selain itu diperlukan kemuluran dan elastisitas yang tepat untuk menahan ikan yang terjerat atau terpuntal sewaktu alat dalam air atau sewaktu penarikan keatas kapal tetapi tidak menyulitkan sewaktu ikan itu diambil dari jaring. Bahan yang daya mulurnya tinggi untuk beban kecil tidak sesuai untuk gull net karena ukuran ikan yang terjerat pada insang tergantung pada ukuran mata jaring. Jaring perlu memiliki kekuatan simpul yang stabil dan ukuran mata jaring tidak boleh dipengaruhi air. 

v Macam dan Ukuran benang

PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.

Sebab banyaknya macam dari gill net sesuai dengan ukuran, ukuran mata jaring, jenis ikan, pola operasi, kondisi penangkapan, dll tidak mungkin memberi rekomendasi yang menyeluruh untuk seleksi bahan jaring. Semua nilai R tex adalah nominal dan berkenaan dengan netting yarn yang belum diselup dan belum diolah.

v Warna Jaring

Warna jaring yang dimaksudkan disini adalah terutama dari jaring. Warna pelampung, tali, pemberat dan lain-lain diabaikan, mengingat bahwa bagian terbesar dari gill net adalah jaring. Pada synthetic fibres, perawatan jaring dalam bentuk pencelupan telah tidak diperlukan, kemudian pula warna dari pilinan dapat dibuat sekehendak hati, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar kemampuan menangkap akan dapat lebih ditingkatkan. Dengan perkataan lain, warna jaring yang sesuai untuk tujuan menangkap jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan dapat diusahakan.

Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman perairan, transparansi, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain faktor, dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat “terlihat” oleh ikan –ikan yang berbeda-beda. Karena tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ini ialah dengan cara gilled (terjerat) dan entangled (terpuntal), yang kedua-duanya ini barulah akan terjadi jika ikan tersebut menubruk atau menerobos jaring, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang, sekecil mungkin.

 

2. Jaring insang hanyut (Drift gillnets)

Karakteristik

Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan jaring insang (gillnets) di zona ekonomi eksklusif Indonesia, jaring insang hanyut adalah jaring insang yang memiliki daya apung lebih besar daripada daya tenggelamnya, dan dioperasikan dengan cara dihanyutkan di suatu di permukaan dan atau pertengahan perairan.

Bahan dan Spesifikasinya

Berikut adalah gambar teknis Jaring insang hanyut (Drift gillnets) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008:



1.   Komponen utama jaring insang hanyut (drift gillnet) terdiri dari:

a.          Jaring berbentuk empat persegi panjang;

b.  Memiliki tali ris atas  (seutas tali yang dipergunakan untuk menggantungkan badan jaring) dengan dan/atau tanpa tali ris bawah;

c.   Pada tali ris atas dilengkapi pelampung (sesuatu benda yang mempunyai daya apung dan dipasang pada jaring bagian atas dan berfungsi sebagai pengapung jaring);

d.    Pada bagian tali ris bawah (seutas tali yang dipergunakan untuk membatasi gerakan jaring ke bawah) dilengkapi dengan dan/atau tanpa pemberat (benda yang mempunyai daya tenggelam dan dipasang di jaring bagian bawah, berfungsi sebagai penenggelam jaring)

2. Panjang jaring insang hanyut tidak lebih dari 10000 meter

3. Lebar jaring (mesh depth) jaring insang hanyut tidak lebih dari 30 meter

4. Ukuran mata jaring (mesh size) jaring insang hanyut tidak kurang dari 10 cm.


Hasil tangkapan

Alat tangkap ini menangkap ikan-ikan pelagis yang berenang secara bergerombol  maupun satu persatu. Jenis ikan yang tertangkap antara lain kembung, layang, lemuru, tongkol, herring, cod, flat fish, halibut, mackarel, yellow tail, sea bream, udang, lobster, dll.

Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled).

 

Daerah Penangkapan

Jaring insang hanyut dapat dioperasikan pada fishing ground dengan kondisi sebagai berikut:

a.   Permukaan laut yang tenang

b.   Jumlah ikan yang berlimpah dan bergerombol di permukaan/pertengahan perairan

c.   Kondisi cuaca di perairan bagus

 

3. Jaring insang tetap (Set gillnets)

Karakteristik

Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan jaring insang (gillnets) di zona ekonomi eksklusif Indonesia, jaring insang tetap adalah jaring insang yang dilengkapi jangkar, dan dioperasikan secara menetap di suatu perairan.

Bahan dan Spesifikasinya

Berikut adalah gambar teknis Jaring insang tetap (Set gillnets) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008:



1. Komponen utama jaring insang tetap (set gillnet) terdiri dari:

a.   Jaring berbentuk empat persegi panjang;

b.   Memiliki tali ris atas dengan dan/atau tanpa tali ris bawah

c.   Pada tali ris atas dilengkapi dengan pelampung;

d.   Pada bagian tali ris bawah dilengkapi dengan dan/atau tanpa pemberat

2. Panjang jaring insang tetap tidak lebih dari 10000 meter

3. Lebar jaring insang tetap tidak lebih dari 30 meter

4. Ukuran mata jaring insang tetap tidak kurang dari 20 cm.


Hasil tangkapan

Alat tangkap gill net dasar monofilament ini menangkap ikan-ikan dasar / demersal / bottom fish yang berenang secara bergerombol  maupun satu persatu. Jenis ikan yang tertangkap antara lain manyung, herring, cod, flat fish, halibut, mackarel, yellow tail, sea bream, udang, lobster, dll. Pada umumnya sifat dari ikan-ikan dasar antara lain pergerakannnya lamban, biasanya menempati daerah dasar laut, meskipun ada beberapa jenis diantaranya berada di lapisan yang lebih atas.


Daerah Penangkapan

Pada umumnya yang menjadi fishing ground dari gill net dasar ini adalah pantai, teluk, muara sungai. Daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gill net dasar adalah bukan daerah pelayaran umum dan dasar perairan yang tidak berkarang. 

 

4. Alat Bantu Penangkapan

Alat bantu penangkapan merupakan faktor penting untuk mengumpulkan ikan pada suatu tempat yang kemudian dilakukan operasi penangkapan. Alat bantu yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bottom gill net adalah


v  LAMPU / LIGHT FISHING

Kegunaan lampu untuk alat penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian melakukan operasi penangkapan dengan menggunakan gill net. Jenis-jenis lampu yang digunakan bermacam-macam antara lain :

-  Ancor / obor

-   Lampu petromak / starmking

-   Lampu listrk ( penggunaannya masih terbetas )

Faktor yang paling berpengaruh dalam penggunaan lampu adalah kekuatan cahaya lampu yang digunakan, selain itu juga ada beberapa faktor lain :

o   Kecerahan : Jika kecerahan kecil, berarti banyak partikel-partikel dalam air maka pembiasan cahaya terserap dan akhirnya tidak menarik perhatian dari ikan yang ada disekitarnya. Jadi kecerahan menentukan kekuatan lampu.

o   Gelombang, angin, arus : Akan mempengaruhi kedudukan lampu. Adanya faktor-fakttor itu menyebabkan kondisi sinar yang semula lurus menjadi bengkok.

o   Sinar bulan : Pada waktu bulan purnama sukar sekali mengadakan penangkapan menggunakan lampu karena cahaya terbagi rata, sadangkan penangkapan menggunakan lampu diperlukan keadaan gelap  agar cahaya lampu terbias sempurna dalam air.


v PAYAOS atau rumpon laut dalam

Payaos merupakan rumpon laut dalam yang berperan dalam pengumpulan ikan pada tempat tertentu dan dilakukan operasi penangkapan. Payaos pelampungnya terdiri dari 60-100 batang bambu yang disusun dan diikat menjadi satu sehingga membentuk rakit (raft), selain dari bambu pelampung juga terbuat dari alumunium. Tali pemberat (tali yang menghubungkan antara pelampung dan pemberat) mencapai 1000-1500 m, terbuat dari puntalan rotan, bahan syntetik seperti polyethylene, nylon, polyester, polypropylene. Sedangkan pemberat berkisar 1000-3500 kg yang terbuat dari batu dimasukkan dalam keranjang rotan dan cor-coran semen. Dan untuk rumbai-rumbainya digunakan daun nyiur dan bekas tali polyethylene dan ban bekas.

 

5. Teknik Penangkapan (Setting and Hauling)

§  Setting

Pada saat melakukan setting, kapal diarahkan ke tengah kemudian dilakukan pemasangan jaring insang oleh Anak Buah Kapal (ABK). Jaring dipasang tegak lurus terhadap arus sehingga nantinya akan  dapat menghadang gerombolan ikan yang sebelumnya telah dipasangi rumpon,  dan gerombolan ikan tertarik lalu mengumpul di sekitar rumpon maupun light fishing dan akhirnya tertangkap karena terjerat pada bagian operculum  (penutup insang) atau dengan cara terpuntal.

 

§  Hauling

Setelah dilakukan setting dan ikan yang telah terkumpul dirasa sudah cukup banyak, maka dilakukan hauling dengan menarik jaring dari dasar perairan ke permukaan ( jaring ditarik keatas kapal ). Lama penarikan jaring ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan yang diperoleh. Waktu penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap ini umumnya dilakukan pada waktu malam hari terutama pada waktu bulan gelap.  Setelah semua hasil tangkap dan jaring ditarik ke atas kemudian baru dilakukan  kegiatan penyortiran.

 

5. Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan

1.          Bahan Jaring

         Supaya ikan mudah dapat terjerat pada mata jaring, maka bahan jaring harus dibuat sebaik mungkin. Bahan atau pilinan yang paling banyak digunakan adalah yang terbuat dari syntetis. Pilinan yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nylon, kremona, dan lain-lain sebagainya, dimana pilinan ini mempunyai serat yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami dan lain-lain yang serat-nya keras tidak digunakan. Untuk mendapatkan pilinan yang lembut, ditempuh cara yang antara lain dengan memperkecil diameter pilinan ataupun jumlah pilin per-satuan panjang dikurangi, ataupun bahan-bahan celup pemberi warna ditiadakan.

2.          Ketegangan rentangan tubuh jaring

         Yang dimaksud rentangan disini ialah baik rentangan ke arah lebar demikian pula rentangan ke arah panjang. Ketegangan rentangan ini, akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada pelampung line ataupun pada tubuh jaring. Dengan perkataan lain, jika jaring direntang terlalu tegang maka ikan akan sukar terjerat, dan ikan yang telah terjeratpun akan mudah lepas. Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama oleh bouyancy dari pelampung, berat tubuh jaring, tali temali, sinking force dari pemberat dan juga shortening yang digunakan.

3.          Shortening atau shrinkage

         Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring dan juga supaya ikan-ikan tersebut setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup.

4.          Tinggi Jaring

         Yang dimaksud dengan istilah tinggi jaring disini ialah jarak antara pelampung line ke pemberat line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Jenis jaring yang tertangkapnya ikan secara gilled, lebih lebar jika dibandingkan dengan jaring yang tertangkapnya ikan secara entangled. Hal ini tergantung pada swimming layer dari pada jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

5.          Mesh size

         Dari  percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa sesuatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gill net akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground tersebut.

 

Penulis

Ledhyane Ika Harlyan, S.Pi, M.Sc

Agrobisnis Perikanan, FPIK Universitas Brawijaya

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,1976, Fisherman’s Manual, World  Fishing, England.

__________,1975, FAO  Catalogue of Smail Scale Fishing Gier, FAO  of  UN.

Ayodyoa, A.U., 1972, Kapal Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

___________, 1975, Fishing Methods Diktat Kuliah Ilmu Tekhnik Penangkapan Ikan, Bagian  Penangkapan Fakultas Perikanan IPB, Bogor.

___________, 1983, Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.

Damanhuri, 1980, Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penangkapan Ikan, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Fridman, !988, Perhitungan Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Martosubroto, 1987, Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia, Direktorat Bina Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Muhammad, S. Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan Agus Cahyono, 1997, Studi Pengembangan Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa Timur, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Nedelec W., 2000, Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Schmidt, Peter G.Jr., 1989, Fish Boats 2, Mc hills, London.

Subani, W., 1978, Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, jilid I, LPPL, Jakarta.

Subani, W dan H.R. Barus, 1989, Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta.

Ward, george, ed., 1964. Stern trawling

Widodo, S., 2002, Identifikasi, Klasifikasi dan Inventarisasi Alat Penangkapan dan Armada Perikanan di Kabupaten Jember, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang.

http://infohukum.kkp.go.id/files_permen/PER%2008%20MEN%202008.pdf

 

B. Pertanyaan (Evaluasi mandiri)

1.      What is the function of rumpon?

2.      Why should the twine diameter of gillnet be as small as possible?

3.      Which part of gillnet that determine catch size?

4.      What are differences of drift gillnet and set gillnet?

5.      How important to know fish swimming layer?

C. QUIZ -mutiple choice (Evaluasi)

 

D. PROYEK (menggambar konstruksi gillnet menetap)

 

Propagasi

 

A.      Latihan dan Diskusi

1.      Mengapa gillnet dapat dikatakan sebagai alat tangkap pasif?

2.      Mengapa gillnet dijadikan standar selektivitas alat tangkap?  

 

 

 

No comments:

Post a Comment