Monday, October 28, 2019

Alat Bantu Penangkapan Ikan (Metode Penangkapan Ikan (MPI))



1. PENDAHULUAN

1.1    Pengantar

        Alat bantu penangkapan memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan penangkapan ikan (Subani dan Barus, 1988). Oleh karena itu dengan adanya alat bantu pada setiap operasi penangkapan ikan, maka akan memberikan kemudahan bagi ABK. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini menawarkan sejumlah kemudahan kemudahan baik itu tenaga maupun pikiran. Walaupun memerlukan biaya yang tidak sedikit penggunaan alat bantu pada kapal tetap memberikan keuntungan. Hal ini karena alat bantu dapat mengoptimalkan tenaga kerja serta efisiensi dan efektifitas. Sehubungan dengan hal tersebut, maka makin banyak peralatan yang dipakai pada setiap operasi penangkapan ikan. Tertariknya ikan pada cahaya sering disebutkan karena terjadinya peristiwa fototaxis. Cahaya merangsang ikan dan menarik ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya tersebut atau juga disebutkan karena adanya rangsangan cahaya, ikan kemudian memberikan responnya. Peristiwa ini dimanfaatkan dalam penangkapan ikan yang umumnya disebut light fishing atau dari segi lain dapat juga dikatakan memanfaatkan salah satu tingkah laku ikan untuk menangkap ikan itu sendiri. Dapat juga dikatakan bahwa dalam light fishing, penangkap ikan tidak seluruhnya memaksakan keinginannya secara paksa untuk menangkap ikan tetapi menyalurkan keinginan ikan sesuai dengan nalurinya untuk ditangkap. Fungsi cahaya dalam penangkapan ikan ini ialah untuk mengumpulkan ikan sampai pada suatu catchable area tertentu, lalu penangkapan dilakukan dengan alat jaring ataupun pancing dan alat-alat lainnya (Sudirman dan Mallawa, 2004).


Penggunaan lampu untuk penangkapan ikan di Indonesia dewasa ini telah sangat berkembang, sehingga di tempat-tempat yang terdapat kegiatan perikanan laut, hampir dapat dipastikan terdapat lampu yang digunakan untuk usaha penangkapan ikan.  Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian batas optimum kekuatan intensitas cahaya telah menjadi salah satu pokok bagian dari penelitian para ahli biologi laut kelautan. Ayodhyoa (1981) mengatakan agar light fishing dapat memberikan daya guna yang maksimal, maka diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:

       Mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak jauh, baik secara horisontal maupun vertikal.

       Ikan-ikan tersebut diupayakan berkumpul ke sekitar sumber cahaya.

       Setelah ikan terkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut tetap senang berada dalam area sumber cahaya pada suatu jangka waktu tertentu (minimum sampai saat alat tangkap mulai beroperasi ).

       Pada saat ikan-ikan tersebut berkumpul di sekitar sumber cahaya, diupayakan semaksimal mungkin agar ikan-ikan tersebut tidak melarikan diri ataupun menyebarkan diri.

 

1.2 Tujuan

Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan untuk memahami metode penangkapan ikan, akan dapat

        Menjelaskan pengertian alat bantu dalam menunjang metode penangkapan ikan

        Menjelaskan metode penggunaan alat bantu dalam proses penangkapan ikan

 

1.3 Definisi

Alat bantu penangkapan adalah piranti teknologi yang digunakan untuk membantu kelancaran dan kemudahan dalam melakukan penangkapan Dilihat dari tempat penggunaannya dapat dibedakan antara lain lampu yang dipergunakan di atas permukaan air dan lampu yang dipergunakan di dalam air.  Menurut Ayodhyoa (1976) perbandingan antara lampu yang dipasang di atas permukaan air dengan lampu yang digunakan di bawah permukaan air adalah sebagai berikut :

a. Lampu  yang dinyalakan di atas permukaan air :

1.      Memerlukan waktu yang lebih lama untuk menarik ikan berkumpul.

2.      Kurang efisien dalam penggunaan cahaya, karena sebagian cahaya akan diserap oleh udara, terpantul oleh permukaan gelombang yang berubah-ubah dan diserap oleh air sebelum sampai kesuatu kedalaman yang dimaksud dimana swiming layer ikan tersebut berada.

3.      Diperlukan waktu yang lama supaya ikan dapat naik ke permukaan air dan dalam masa penerangan, ikan-ikan tersebut kemungkinan akan berserak.

4.      Setelah ikan-ikan berkumpul karena tertarik oleh sumber cahaya dan berada di permukaan, sulit untuk menjaga ikan tetap tenang, karena pantulan cahaya pada permukaan air yang terus bergerak.

b. Lampu yang dinyalakan di bawah permukaan air :

1.      Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan ikan lebih sedikit.

2.      Cahaya yang digunakan lebih efisien, cahaya tidak ada yang memantul ataupun diserap oleh udara, dengan kata lain cahaya dapat dipergunakan hampir seluruhnya.

3.      Ikan-ikan yang bergerak menuju sumber cahaya dan berkumpul, lebih tenang dan tidak berserakan, sehingga kemungkinan ikan yang tertangkap lebih banyak.

          Struktur lampu di dalam air sangat berbeda dengan lampu-lampu biasa yang digunakan di atas permukaan air. Penetrasi cahaya pada perairan sangat bergantung sekali terhadap kondisi perairan itu sendiri dan yang paling menentukan adalah warna laut dan tingkat transparansi air. Warna laut dalam hal ini berhubungan dengan jenis warna lampu yang dipancarkan dari lampu itu sendiri. Warna lampu yang sinarnya dapat menembus kedalaman tertinggi tentunya adalah warna lampu yang sejenis dengan warna perairan pada waktu itu dan juga tergantung pada kondisi perairannya. Semakin besar tingkat transparansi perairan semakin besar pula tingkat kedalaman penetrasi sumber cahaya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa warna cahaya yang baik digunakan pada light fishing adalah biru, kuning dan merah (Sudirman dan Mallawa, 2004).

 

2.PERIKANAN LAMPU

          Cahaya yang masuk ke dalam air akan mengalami pereduksian yang jauh lebih besar bila dibandingkan dalam udara. Hal tersebut terutama disebabkan adanya penyerapan dan perubahan cahaya menjadi berbagai bentuk energi, sehingga cahaya tersebut akan cepat sekali tereduksi sejalan dengan semakin dalam suatu perairan. Pembalikan dan pemancaran cahaya yang disebabkan oleh berbagai partikel dalam air, keadaan cuaca dan gelombang banyak memberikan andil pada pereduksian cahaya yang diterima air tersebut. Dengan demikian daya penglihatan ikan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut (Gunarso, 1985).

          Kemampuan mengindera dari mata ikan memungkinkan untuk dapat melihat pada hampir ke seluruh bagian dari lingkungan sekelilingnya. Hanya suatu daerah sempit pada bagian sebelah belakang ikan yang tidak dapat dicakup oleh luasnya area yang dapat dilihat oleh ikan, daerah sempit ini dikenal sebagai “dead zone.”  Sedangkan untuk jarak penglihatan, tidak hanya tergantung pada sifat indera penglihat saja, tetapi juga pada keadaan penglihatan di dalam air.  Pada kejernihan yang baik dan terang maka jarak penglihatan untuk benda-benda yang kecil tergantung pada kemampuan jelasnya penglihatan mata, misalkan pada jarak dimana titik-titik yang letaknya bersekatan, dapat dibedakan sebagai dua titik dan tidak sebagai satu titik ataupun kabur kelihatannya. Dalam keadaan tertentu, beberapa jenis ikan yang berukuran besar mempunyai kemampuan untuk bisa melihat benda-benda yang agak besar dan berwarna kontras dengan latar belakangnya pada jarak beberapa puluh meter.  Anak-anak ikan mempunyai daya penglihatan yang sangat dekat.  Seekor anak ikan atherina berukuran  2 cm dapat membedakan benda-benda pada jarak 20 cm, sedangkan yang berukuran   0,8 cm hanya mampu membedakannya pada jarak 6-8 cm. Dalam keadaan perairan yang keruh, kemampuan daya penglihatan ikan pada suatu objek yang terdapat di dalam air akan sangat jauh berkurang. Namun tidaklah mengherankan beberapa jenis ikan mampu mempertahankan hidupnya ketika mata ikan tersebut menjadi buta (Gunarso, 1985).

          Ikan sebagaimana jenis hewan lainnya mempunyai kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu     Berbagai jenis ikan yang banyak dijumpai pada lapisan air yang relatif dangkal, banyak menerima cahaya matahari pada waktu siang hari dan pada umumnya ikan-ikan yang hidup di daerah tersebut mampu membedakan warna sama halnya dengan manusia sedangkan beberapa jenis ikan yang hidup di laut dalam, dimana tidak semua jenis cahaya dapat menembus, maka banyak diantara ikan-ikan tersebut tidak dapat membedakan warna atau buta warna. Ketajaman warna yang dapat dilihat oleh mata ikan juga merupakan hal penting. Pada kenyataannya, sesuatu yang mampu diindera oleh mata ikan memungkinkan ikan tersebut untuk dapat membedakan benda-benda dengan ukuran tertentu dari suatu jarak yang cukup jauh. Semakin kabur tampaknya suatu benda bagi mata ikan, maka hal tersebut menyatakan bahwa kemampuan mata ikan untuk menangkap kekontrasan benda terhadap latar belakangnya semakin berkurang (Gunarso, 1985).

siang hari yang berkekuatan penerangan beberapa ribu lux hingga pada keadaan yang hampir gelap sekalipun. Struktur retina mata ikan yang berisi reseptor dari indera penglihat sangat bervariasi untuk jenis ikan yang berbeda. Pada ikan teleostei memiliki jenis retina duplek, dengan pengertian bahwa dalam retina ikan tersebut terdapat dua jenis reseptor yang dinamakan rod dan kon. Pada umumnya terjadi distribusi yang berbeda dari kedua jenis reseptor tersebut, yang biasanya erat hubungannya dengan pemanfaatan indera penglihatan ikan dalam lingkungan hidupnya. Untuk berbagai jenis ikan pelagis sebagaimana dijumpai pada berbagai jenis ikan dari keluarga Clupeidae, ikan-ikan tersebut memiliki pengkonsentrasian kon yang sangat padat pada area antara ventro-temporal yang dibatasi oleh “area temporalis”.  Pada Sardinops caerulea dan Alosa sapidissimn, area temporalis tersebut sangat jelas dan bahkan pada jenis ikan ini reseptor hampir seluruhnya hanya terdiri dari kon saja, rod hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali (Gunarso, 1985).

          Jenis ikan yang aktif pada siang hari, umumnya mempunyai kon yang tersusun dalam bentuk barisan ataupun dalam bentuk empat persegi. Pada umumnya ikan-ikan yang memiliki kon dalam bentuk seperti ini adalah jenis ikan yang intensif sekali menggunakan indera penglihatnya, biasanya ikan-ikan tersebut termasuk dalam jenis ikan yang aktif memburu mangsa. Untuk jenis-jenis ikan yang aktif pada malam hari atau jenis ikan yang hidup pada lapisan dalam, banyaknya kon sangat kurang atau tidak ada sama sekali dan kedudukan kon tersebut digantikan oleh rod (Gunarso, 1985).

          Retina dengan seluruh reseptornya terdiri dari rod banyak dijumpai pada jenis-jenis ikan bertulang rawan, walau beberapa diantaranya masih dijumpai adanya kon pada retina mata ikan-ikan tersebut. Retina yang keseluruhannya terdiri dari rod juga banyak dijumpai pada berbagai ikan teleostei yang hidup di laut dalam. Hasil penghitungan banyaknya rod pada beberapa jenis ikan laut dalam, menunjukkan jumlah yang lebih dari 25 juta rod/mm retina.  Hal ini menunjukkan bahwa mata jenis ikan laut demersallah yang mempunyai tingkat sensitifitas tertinggi. Ikan-ikan pelagis yang memangsa makanannya yang berupa plankton, pada umumnya jenis ikan ini mempunyai distribusi kon yang sangat padat pada bagian ventro-temporal yang menunjukkan kemampuan untuk melihat kedepan dan ke arah atas. Sedangkan jenis ikan pelagis yang berasal dari perairan yang cukup dalam biasanya justru mempunyai retina yang seluruhnya dipenuhi oleh rod saja dan bentuk mata ikan-ikan tersebut cukup besar. Diantara jenis ikan demersal yang biasanya memburu mangsa, memiliki retina yang kaya akan kon pada bagian temporal, tapi terjadi perbedaan yang mencolok sehubungan jumlah kon pada bagian-bagian retina yang lain, seperti halnya pada jenis predator pelagis yang mempunyai kemampuan melihat arah lurus ke depan. Contoh untuk jenis ikan ini antara lain adalah Cod, Coalfish dan keluarga Labridae (Gunarso, 1985).

1.1    Respon Ikan Pelagis Terhadap Cahaya

          Cahaya dengan segala aspek yang dikandungnya seperti intensitas, sudut penyebaran, polarisasi, komposisi spektralnya, arah, panjang gelombang dan lama penyinaran, kesemuanya akan mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap tingkah laku dan fisiologi ikan pelagis. Ikan mempunyai respon terhadap rangsangan yang disebabkan oleh cahaya, meskipun besarnya kekuatan cahaya tersebut  berkisar antara 0,01-0,001 lux, dimana hal ini bergantung pada kemampuan suatu jenis ikan untuk beradaptasi (Laevastu dan Hayes, 1991). Hasil pengamatan dengan echosounder dapat diketahui bahwa suatu lampu yang oleh mata manusia hanya mampu diindera oleh manusia sampai kedalaman 15 m saja, ternyata mampu memikat ikan sampai kedalaman 28 m. Ikan juga mempunyai daya penglihatan yang cukup baik dalam hal membedakan warna. Dari sejumlah percobaan yang telah dilakukan, ternyata ikan sangat peka terhadap sinar yang datang dari arah dorsal tubuhnya. Ikan ternyata tidak menyukai cahaya yang datang dari arah bawah tubuhnya (ventral) dan bila keadaannya tidak memungkinkan untuk turun ke lapisan air yang lebih dalam lagi, dalam usaha untuk menghindari posisinya semula, ikan-ikan tersebut akan menyebar ke arah horisontal (Gunarso, 1985).

          Ada jenis ikan yang bersifat fototaxis positif, yaitu bahwa ikan akan bergerak ke arah sumber cahaya karena rasa tertariknya, sebaliknya beberapa jenis ikan bersifat fototaxis negatif yang memberikan respon dan tindakan yang sebaliknya dengan yang  bersifat fototaxis positif. Karena adanya sifat fototaxis positif ini, maka ada beberapa jenis ikan ekonomis penting yang dapat dipikat dengan cahaya buatan pada malam hari. Bagi beberapa ikan bahwa adanya cahaya juga merupakan indikasi adanya makanan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan yang dalam keadaan lapar akan lebih mudah terpikat oleh adanya cahaya daripada ikan yang dalam keadaan tidak lapar. Bahkan adakalanya ikan-ikan tersebut akan muncul ke permukaan, ke arah cahaya dengan tiba-tiba walaupun mungkin setelah selang beberapa menit ikan akan menyebar dan meninggalkan tempat tersebut. Respon ikan muda terhadap rangsangan cahaya adalah lebih besar daripada respon ikan dewasa dan setiap jenis ikan mempunyai intensitas cahaya optimum dalam melakukan aktifitasnya (Gunarso, 1985).

          Daerah penerangan dimana ikan memberikan respon terhadap cahaya disebut daerah phototaxis. Di luar batas daerah phototaxis ini respon ikan terhadap cahaya tidak ada, karena kuat penerangannya sudah lemah. Semakin besar daerah phototaxis ini semakin banyak ikan yang terkumpul dan semakin banyak pula ikan yang tertangkap dekat dengan sumber cahaya (Fridman, 1969).

          Terdapat keseimbangan batas intensitas tertentu untuk suatu jenis ikan terhadap intensitas cahaya yang ada. Jenis ikan teri memiliki variasi yang jelas tentang pergerakan renang ikan di kedalaman tertentu pada waktu siang hari. Jenis ikan ini akan berenang atau berada lebih dekat ke permukaan pada waktu pagi dan sore hari bila dibandingkan pada saat tengah hari. Diantara berbagai jenis ikan yang benar-benar phototaxis positif antara lain adalah jenis sardinella, layang, selar dan ikan herring muda (Gunarso, 1985).

          Richardson (1952) dalam Laevastu dan Hella (1970), menyatakan bahwa salah satu jenis ikan sardin yang dikenal sebagai ikan Pilchard dapat dipikat dengan menggunakan cahaya lampu pada waktu malam hari. Selain itu, kedalaman kelompok ikan herring dapat juga ditentukan berdasarkan intensitas cahaya. Ikan herring dewasa tidak bersifat phototaxis positif karena ikan tersebut lebih menyukai daerah yang berintensitas cahaya rendah. Namun demikian, ikan ini dapat juga tertarik pada cahaya buatan pada waktu malam bila saja cahaya yang dipakai tidak begitu kuat.                

          Pada umumnya ikan pelagis akan muncul ke lapisan permukaan sebelum matahari terbenam dan biasanya ikan-ikan tersebut akan membentuk kelompok. Sesudah matahari terbenam, ikan-ikan tersebut menyebar ke dalam kolom air dan mencari lapisan yang lebih dalam, sedangkan ikan demersal biasanya menyebar ke dalam kolom air selama malam hari. Dengan mengetahui ruaya ikan secara vertikal harian suatu jenis ikan, maka waktu untuk melakukan pengoperasian alat penangkapan dapat ditentukan. Selain itu kemungkinan berhasilnya penangkapan dengan bantuan sinar lampu akan lebih besar. Penangkapan dengan bantuan lampu akan lebih efektif sebelum tengah malam dan hal ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa fototaxis yang maksimal bagi ikan adalah pada waktu-waktu tersebut (Laevastu dan Hella, 1970).

          Cahaya yang masuk ke dalam air laut akan mengalami refraction atau pembiasan, penyerapan (absorption), penyebaran (scattering), pemantulan (reflection) dan lain-lain (Ayodhyoa, 1981).  Cahaya lebih jelas terlihat pada keadaan air yang jernih daripada air yang telah menjadi keruh dan meyebabkan cahaya menjadi melemah atau bahkan hilang sama sekali.  Pengukuran cahaya dapat digambarkan sebagai berikut:

          E  =  F / A ,     E  =  I / R2

          E       =  Kuat penerangan (Lux)

          F       =  Flux cahaya (lumen)

          A       =  Luas sebaran cahaya (m2)

          I         =  Intensitas cahaya (candela)

          R       =  Radius penerangan (meter)

Dimana kuat penerangan E (lux) sebanding dengan Intensitas Cahaya I (candela ) dan berbanding terbalik dengan radius penerangan (meter). Kuat penerangan berkurang dengan bertambahnya kuadrat jarak sumber cahaya dan intensitas cahaya berkurang dengan cepat dari jarak sumber cahaya pada medium yang berbeda.  Kuat penerangan ini erat hubungan dengan tingkat sensitifitas penglihatan ikan, dengan kata lain bahwa berkurangnya derajat penerangan akan menyebabkan berkurangnya jarak penglihatan ikan. Jadi dengan berkurangnya kekuatan penerangan beberapa puluh lux saja, maka jarak penglihatan ikan terhadap objek akan menurun pula. Jarak penglihatan ikan juga tergantung pada ukuran objek itu sendiri (Fridman, 1969).

 

1.2    Karakteristik  Dan  Tingkah  Laku  Ikan  Pelagis Yang Tertangkap Pada Purse Seine

          Purse seine adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis yang membentuk gerombolan dan berada dekat dengan permukaan air. Sasaran penangkapannya adalah ikan-ikan pelagis seperti ikan kembung, selar, tetengkek, tembang.

1.      Ikan kembung    

          Ikan kembung yang tertangkap di perairan Indonesia rata-rata terdiri atas dua spesies, yaitu kembung perempuan (Rastrelliger negletus) dan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta).  Kedua ikan kembung tersebut mempunyai sifat dan ciri-ciri yang berbeda. Kedua ikan kembung tersebut termasuk dalam famili Scombridae, yaitu jenis ikan yang suka hidup bergerombol.  Ikan kembung merupakan ikan pelagis yang memakan plankton halus. Badan tidak begitu langsing, tetapi pendek dan gepeng.  Tubuh bagian atas berwarna kehijauan dan putih perak pada bagian bawah, terdapat totol-totol hitam pada bagian punggung, sirip punggung pertama kuning keabuan dengan pinggiran gelap.  Perut dan sirip dada berwarna kuning maya gelap dan sirip lainnya berwarna kekuningan. Ikan kembung ini memiliki finlet berjumlah 5-7, ukuran tubuhnya mencapai 15-30 cm. Ikan kembung biasanya hidup lebih mendekati pantai dan membentuk gerombolan besar. Daerah penyebarannya di perairan pantai Indonesia dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan, Sumatera Barat, Laut Jawa dan Selat Malaka (Anonymous, 1975).

          Ikan kembung cenderung berenang mendekati permukaan air pada waktu malam hari dan pada siang hari turun ke lapisan yang lebih dalam. Gerakan vertikal ini dipengaruhi oleh gerakan harian plankton dan mengikuti perubahan suhu, faktor hidrografis dan salinitas.  Damanhuri (1980) menyatakan bahwa umumnya sifat dari ikan kembung adalah :

       Termasuk ikan pelagis yang daerahnya penyebarannya luas.

       Selalu hidup bergerombol, dapat berenang dengan cepat yang ditandai dengan bentuk tubuh yang stream line dan menyukai makanan berupa ikan-ikan kecil/plankton hewani.

       Reproduksinya adalah ovoparus yaitu telur dibuahi diluar tubuh ikan dan telurnya bersifat planktonis.

2.      Ikan selar

          Ada dua jenis ikan selar yang dominan tertangkap di perairan Indonesia, yaitu selar kuning (Selaroides leptolepis) dan selar bentong (Selar crumenophthalmus). Mempunyai bentuk badan agak lebar dan memanjang, matanya besar, terdapat 2 duri di muka sirip dubur. Pada bagian ekor terdapat scute, sirip dada berbentuk meruncing ke ujungnya seperti bulan sabit. Berwarna biru kehijau-hijauan pada bagian punggung dan putih keperak-perakan di bagian perut.  Sebagian mempunyai garis sisi yang berwarna kuning yang dimulai dari belakang mata sampai ke ujung ekor.  Daerah penyebaran ikan selar terdapat hampir di seluruh perairan Indonesia (Anonymous, 1975).

3.      Ikan tembang

          Ikan tembang (Sardinella fimbriata) memiliki ciri-ciri morfologi: bentuk badan bulat memanjang, terdapat ventral scute yang dimulai dari bawah pangkal sirip dada sampai dubur. Sirip punggung terletak di tengah-tengah antara moncong dan ekor. Warna punggung hijau sedangkan warna perut keperak-perakkan, terdapat sabuk kuning membujur badan. Panjang badan umumnya kira-kira 14 cm. Habitat ikan tembang adalah di sepanjang perairan pantai dan merupakan spesies permukaan. (Anonymous, 1975).

4.      Ikan tetengkek

          Ikan tetengkek atau dalam bahasa latinnya disebut Megalaspis cordyla merupakan ikan pelagis yang terdapat hampir di seluruh perairan pantai Indonesia. Bentuk badannya seperti torpedo, mempunyai 6-9 sirip tambahan di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Terdapat scute yang panjang di sepanjang gurat sisi (linea lateralis). Ekornya keras berbentuk langsing dan bercabang dalam, mempunyai 2 duri di muka sirip dubur. Pada tutup insang terdapat noda hitam, sedangkan warna tubuh bagian atas hitam kehijauan dan di bagian bawah tubuh berwarna putih keperakan. Alat tangkap yang sering digunakan untuk menangkap ikan tetengkek antara lain gill net, payang, muroami dan purse seine (Anonymous, 1975).

 

Tatap Muka ke 4

3.GPS DAN FISH FINDER

3.1    GPS ( Global Positioning System )

Global Positioning System (GPS) merupakan sistem navigasi ruang angkasa yang dapat menentukan posisi benda dimana saja pada bumi. Teknologi ini dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk semua orang, dengan waktu pemakaian yang tidak terbatas tanpa biaya tambahan untuk data navigasi. Sistem navigasi GPS menggunakan kumpulan dari 24 satelit pada ketinggian orbit sekitar 11.000 mil di atas bumi. Satelit tersebut mengitari bumi secara konstan sebanyak 2 kali dengan waktu kurang dari 24 jam (Haryanto, 2002)

 


Satelit GPS yang pertama diluncurkan pada bulan Februari 1978 mempunyai berat satelit sekitar 2000 pounds dan bentangan elemen surya untuk tenaga baterainya, serta Power Transmitter-nya yang hanya 50 watt. Semua satelit GPS tersebut dikendalikan dari bumi dengan pusat kontrol di Schriever Air Force Base (dahulu Falcon AFB) Colorado dan beberapa tempat untuk stasiun monitor yang tersebar di seluruh muka bumi. Posisi pusat kontrol dan stasiun monitor tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :


 

3.2    Pemanfaatan teknologi GPS ini dapat dibagi menjadi dua bagian:

.    Keperluan Militer dan Pertahanan Keamanan.

Penggunaan GPS untuk keperluan militer antara lain digunakan sebagai alat navigasi bagi tentara saat melakukan operasi militer pada daerah yang sangat sukar untuk mendapatkan patokan arah atau posisi dimana mereka berada, contohnya pada padang pasir. GPS ini juga digunakan pada beberapa kendaraan militer seperti pada tank, mobil perang, helikopter, pesawat tempur, kapal perang dan sebagainya.

.    Keperluan Masyarakat Sipil.

Untuk keperluan sipil GPS digunakan untuk beberapa keperluan seperti :

       Kegiatan alam

Digunakan sebagai alat navigasi untuk menunjukkan posisi dan arah dari suatu titik tempat kita berada pada muka bumi, navigasi darat bagi pecinta alam. Saat ini pada beberapa tempat seperti di Amerika dan Eropa digunakan juga pemakaian GPS pada kendaraan bermotor yang dapat memberi petunjuk arah dan peta jalan yang akan dilalui, sesuai dengan  tujuan, pada olahraga otomotif, seperti reli mobil yang melalui padang pasir seperti reli Paris - Dakkar dan keperluan lainya.

       Avionics

Digunakan juga pada pesawat-pesawat komersial maupun pesawat tempur sebagai bagian alat navigasi udara, para penerjun payung dan juga pada balon udara.

       Pemetaan

Selain hal tersebut di atas GPS dimanfaatkan secara khusus untuk memperoleh data untuk pembuatan peta survey suatu daerah berupa contour dan juga untuk keperluan data (Geographical Information System ) GIS.

       Maritim/Kelautan

Untuk keperluan di bidang kelautan, GPS dipasang pada perahu motor atau kapal yang digunakan sebagai alat navigasi laut yang dapat menunjukkan arah dan posisi kapal maupun rumpon pada muka bumi, dipakai juga untuk keperluan penangkapan ikan dengan tambahan bantuan alat sonar, untuk keperluan budidaya kerang mutiara agar letak dari kerang-kerang tersebut dapat diketahui dengan tepat bila hendak diambil dan sebagainya  (Haryanto, 2002).

Metode yang digunakan GPS dalam menentukan sebuah lokasi maupun posisi, yaitu memberikan bentuk informasi berupa titik yang disebut dengan istilah waypoint. Waypoint ini terdiri dari koordinat lintang (latitude) dan bujur (longitude). Informasi tersebut dapat disimpan pada memory GPS, sehingga apabila dibutuhkan maka informasi berupa titik koordinat tersebut dapat diketahui kembali secara tepat  Hal tersebut sangat diperlukan dalam menentukan lokasi rumpon sehingga nelayan dapat mengetahui lokasi rumpon sebagai area fishing ground secara pasti (Anonymous, 2002).

3.3    Identifikasi GPS

.    Prinsip Kerja

GPS adalah sistim navigasi berdasarkan satelit, yang pada awalnya dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk memperoleh posisi secara akurat. Tingkat keakuratan penentuan posisi mencapai 15 meter.

Prinsip kerja GPS, berdasarkan perbedaan jarak satelit  yang mengorbit bumi dan posisi kapal pada suatu saat. Jumlah satelit yang mengorbit sebanyak 24 unit, yang mengirimkan signal secara terus menerus, sehingga posisi kapal dapat diperoleh setiap waktu.

 


b.      Cara Identifikasi

Adapun cara identifikasi atau pemeriksaan GPS dapat dilakukan seperti yang tersebut dalam tabel berikut  ini.

 

Tabel : Urutan Identifikasi GPS

 


Dari hasil identifikasi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kapal tersebut menggunakan peralatan GPS.

3.4    Identifikasi VMS

a.      Prinsip Kerja

VMS adalah sistim navigasi berdasarkan satelit, yang berfungsi untuk monitor kegiatan kapal ikan. Kapal yang terpasang alat ini akan dapat dimonitor kegiatan operasi penangkapan pada setiap saat. Prinsip kerja VMS, sama dengan prinsip kerja GPS, yaitu berdasarkan perbedaan jarak beberapa satelit yang mengorbit bumi dan posisi kapal pada suatu saat. Bedanya dengan GPS, bahwa VMS memancarkan gelombang radio yang selanjutnya signal pancaran ini diterima pada monitor induk, dan pada pesawat monitor ini akan menampilkan posisi kapal setiap saat dikehendaki.

 


Gambar : Sketsa Antena VMS

 

b.      Cara Identifikasi

Adapun cara identifikasi atau pemeriksaan VMS dapat dilakukan seperti yang tersebut dalam tabel berikut  ini .

 

Tabel : Urutan Identifikasi VMS

 


Hasil identifikasi berdasarkan komponen antenna, akan nampak seperti GPS, sehingga perlu dipastikan dengan mengidentifikasi perangkat utamanya (main unit).

3.5    Identifikasi Fish Finder

Prinsip Kerja

Prinsip kerja Fish Finder, pemancaran gema antara 50-200 MHz kedalam perairan secara vertikal, selanjutnya gema ini terpantul kembali setelah mengenai obyek berupa ikan atau dasar perairan. Gema dipancarkan melalui tranducer, dan alat ini pula yang menerima kembali pancaran gema setelah mengenai obyek tertentu. Fish Finder, model atau tipe yang lama menggunakan kertas sebagai rekaman (recording paper) sebagai penampilan obyek dalam perairan.

 


b.      Cara Identifikasi

Adapun cara identifikasi atau pemeriksaan Fish Finder hanya dapat dilakukan dengan mengenali display unit, karena tranducer terpasang pada dasar kapal.

Tabel : Komponen Fish Finder Yang Bisa Dikenali

No.    IDENTIFIKASI KOMPONEN         INDIKASI

1.      Display Unit        Berupa layar monitor, dengan tampilan berwarna yang menunjukkan obyek terpantul arah vertikal, atau dengan kertas rekaman (recording paper).

 

Dari hasil identifikasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kapal tersebut menggunakan peralatan Fish Finder.

 

3.6    Identifikasi SONAR

a.      Prinsip Kerja

Prinsip kerja SONAR, mirip dengan Fish Finder namun arah pancaran gema secara horizontal, selanjutnya gema ini terpantul kembali setelah mengenai obyek berupa ikan atau obyek lain.

Gema dipancarkan melalui tranducer, dan alat ini pula yang menerima kembali pancaran gema setelah mengenai obyek tertentu, pada SONAR konstruksi tranducer lebih rumit, dan dibuat sedemikian rupa sehingga tranducer bisa naik dan turun dari lambung kapal.

 

 

b.      Cara Identifikasi

SONAR, model atau tipe yang lama menggunakan kertas sebagai rekaman (recording paper) sebagai penampilan obyek dalam perairan. Adapun cara identifikasi atau pemeriksaan Sonar hanya dapat dilakukan dengan mengenali display unit, karena tranducer terpasang pada dasar kapal.

 


Dari hasil identifikasi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kapal tersebut menggunakan peralatan SONAR.

 

3.7    Identifikasi SART

Prinsip Kerja

Singkatan dari Save and Resque Transmiter, alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang radio yang sebagai pemandu arah dan jarak pesawat penerima RADAR. Pancaran gelombang radio dari alat ini akan diterima sangat kuat dibandingkan dengan obyek-obyek lain yang terdeteksi RADAR, sehingga navigator akan lebih mudah mengarahkan kapalnya menuju alat ini. SART ini hanya dipergunakan untuk kepentingan emergency saja.

b.      Cara Identifikasi

Identifikasi terhadap keberadaan alat ini seperti pada gambar berikut  ini

 


3.8    Identifikasi EPIRB

a.      Prinsip Kerja

Singkatan dari Emergency Position Indicating Radio Beacon, alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran posisi, dan identitas kapal pada saat emergency melalui gelombang radio. Pemancaran signal alat ini bersifat digital sehingga tidak ada hambatan untuk pemancaran secara meluas keseluruh dunia dengan harapan Tim SAR terdekat dapat memberikan pertolongan sesegera mungkin.

b.      Cara Identifikasi

Identifikasi terhadap keberadaan alat ini seperti pada gambar berikut  ini.

 


4 LINE HAULER

Menurut Baitur Syarif dan Soewito (2000), penempatan Line Hauler pada kapal sekala besar  ditempatkan pada geladak kerja “hauling” (“hauling working space”). “Line hauler” merupakan mesin bantu penangkapan sebagai penarik tali utama pada saat “hauling”. Sumber tenaga yang digunakan untuk menggerakkan biasanya menggunakan tenaga elektro hidrolik. Alat tersebut dilengkapi dengan komponen pengatur  kecepatan dan rem. Pengatur kecepatan dan rem berguna untuk mengendalikan kecepatan penarikan, agar mudah pengendaliannya terutama pada saat penarikan ikan hasil tangkapan ke atas kapal.

 


“Line hauler” digunakan untuk menarik rangkaian “long line” yang panjangnya mencapai ribuan meter pada saat “hauling”. Cara penarikan rangkain long line, yaitu : mula-mula pelampung pada rangkaian tali utama yang pertama dipasang diangkat ke atas kapal. Kemudian tali pelampung diepas dan tali utama dimasukkan  kedalam “line hauler”. Setelah itu “line hauler” dijalankan untuk menarik tali utama. Tali utama yang keluar dari “line hauler” biasanya ditampung dalam keranjang. Kemudian diatasnya ditumpangi tali cabang lalu ditumpangi lagi tali utama dan seterusnya sampai seluruh basket habis, dan yang terakhir yang ditunjukkan oleh tali pelampung dan diikat menjadi satu (Sadhori, 1985).

a.      Slow Conveyor

“Slow conveyor” merupakan mesin bantu penangkapan ikan yang berupa ban berjalan yang bergerak secara perlahan, berfungsi sebagai pengantar dan penampung sementara tali utama yang ditarik oleh “line hauler”. Hal ini dimaksudkan agar tali utama yang ditarik oleh “line hauler” tidak menumpuk disatu tempat sehingga dapat mengakibatkan kusut.  Tali utama yang berada di “Slow Conveyor” kemudian akan ditarak oleh “Line Arranger” untuk ditata pada tempat penyimpanan tali utama.

b.      Line Arranger

“Line Aranger” merupakan alat bantu penangkapan yang berupa alat yang dapat bergerak ke arah atau lintasan yang telah ditentukan. Alat tersebut akan menarik tali utama yang berada pada “Slow Conveyor” untuk kemudian di tempatkan pada main “line tank”. Penempatannya di atas “main line tank”. Penggunaan alat bantu ini pada saat operasi penangkapan sebagai alat bantu untuk mengatur susunan tali utama rawai tuna agar tertata rapi dan tidak kusut didalam “main line tank”.

c.       Line Thrower

Kapal rawai tuna  sekala industri yang telah dilengkapi dengan “line arranger”, pada umumya juga telah dilengkapi dengan “line thrower” ( mesin bantu penebar tali utama). “Line thrower” bertugas mengatur kecepatan tebar tali utama pada saat seting. Alat tersebut bekerja secara otomatis yang akan berbunyi manakala waktunya memasangkan tali cabang atau tali pelampung. Hal ini dimaksudkan agar jarak penebaran pada setiap pencing dapat sama panjang dan teratur.

d.      Branch Line Ace

Untuk mengimbangi kecepatan penarikan “line hauler” yang tinggi pada saat “hauling” maka kapal rawai tuna skala industri dilengkapi pula dengan “branch line ace” (mesin bantu penangkapan penggulung tali cabang). “Branch line” yang telah tergulung oleh alat bantu tersebut, kemudian ditempatkan dalam “branch line basket” yang setiap keranjang berisi antara 15-20 tas “branch  line”. Setelah “branch line” basket terisi penuh kemudian ditranfer ke ruang penyimpanan alat tangkap, melalui “branch line conveyor”.

e.      Buoy Line Ace

“Buoy line Ace”, ditempatkan pada geladak kerja lambung kapal. Mesin bantu tersebut merupakan mesin bantu penggulungan tali pelampung (“buoyline”) digunakan pada saat pelaksanaan “hauling”. “Bouy line” yang telah tergulung oleh “bouy line ace” ditempatkan pada keranjang penyimpanan “bouy line” (“buoy line basket”). Setiap keranjang berisi antara 20-50 “buoy line”. “Buoy line basket” yang telah berisi penuh kemudian ditransfer ke ruang alat tangkap, melalui “branch line conveyor”.

f.       Branch Line Conveyor

“Branch Line Conveyor” adalah merupakan mesin bantu penangkapan berupa ban berjalan yang digunakan pada saat hauling sebagai penghantar “branch line basket” dan “buoy line basket” untuk ditransfer ke gudang penyimpanan alat tangkap. Walaupun biaya yang harus disiapkan untuk pengadaan peralatan mesin bantu tersebut relatif mahal, namun efektifitas dan efisiensi kerja yang dihasilkan dapat memberikan keuntungan yang memadai.

 

 

Tatap Muka ke 5

 

5.RUMPON

5.1    Definisi Rumpon

Rumpon adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan berbentuk alat, obyek atau struktur yang bersifat permanen atau sementara yang didesain dan dikonstruksi dari jenis material alami dan buatan yang dijangkar menetap atau dapat dipindahkan di laut dalam atau di laut dangkal untuk maksud memikat ikan dengan efek utama memusatkan gerombolan ikan agar mudah dalam menangkapnya (Anonymous, 1996).

Pengertian rumpon (Fish Agregating Device ) menurut Departemen of Land and Natural Resources State of Hawaii ( 1980 ) dalam Sjarif, et. al., ( 1998 ), adalah “Fish Agregating Buoys are man made floating object ( floatsam ) placed (anchored or free floating ) in the ocean to attract and concetrate certain pelagic fishes “, maksudnya adalah alat pemikat ikan adalah benda ( obyek ) buatan manusia yang diletakkan ( tertancap atau bebas mengapung ) di lautan untuk menarik dan mengumpulkan ikan-ikan pelagis.

 Menurut Brandt ( 1984 ) dalam Sjarif, et. al., ( 1998 ), rumpon telah lama dipakai oleh nelayan Indonesia. Nelayan di Malaysia menamakan rumpon dengan istilah “Unjang”, nelayan Mediterania menamakannya “Kannizatti” dan nelayan Marjoca di Spanyol menamakannya dengan istilah “Llampuguera”. Semakin berkembangnya teknologi yang semakin canggih dengan menambahkan radar reflektor, radio transmitter sehingga memudahkan nelayan untuk melacaknya.

Menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1 Tahun 1997 dalam Sjarif, et. al., ( 1998 ), rumpon didefinisikan sebagai berikut : rumpon adalah alat bantu penangkap ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut. Lebih lanjut Keputusan Menteri Pertanian Nomor 51 Tahun 1997 tersebut menjelaskan bahwa berdasarkan penempatannya di perairan, rumpon dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :

a.      rumpon perairan dasar, yaitu rumpon yang dipasang dan ditempatkan di dasar perairan laut.

b.      rumpon perairan dangkal, yaitu rumpon yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut yang kedalamannya sampai dengan 200 meter.

c.       rumpon perairan dalam, yaitu rumpon yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman lebih dari 200 meter.

 

5.2 Klasifikasi Rumpon

Penggolongan rumpon berdasarkan jenis ikan atau menurut kedalaman perairan sesungguhnya tidak memberi ciri khusus pada komponen utama rumpon. Penggolongan rumpon berdasarkan jenis ikan dan kedalaman tersebut hanya membedakan jenis dan ukuran bahan serta penempatan rumpon pada kedalaman perairan. Penggolongan rumpon menurut Anonymous (1996) dapat dibedakan menurut era riwayat penggolongan rumpon, yaitu rumpon tradisional dan rumpon modern.

a.      Rumpon tradisional

Rumpon tradisional yang digunakan nelayan di perairan Utara Jawa dan Madura, pada dasarnya sama dengan rumpon yang digunakan oleh nelayan di perairan pulau Sulawesi ( antara lain Mamuju, Bone, Mandar dan Tomini ).

Rumpon tradisional umumnya terdiri dari empat komponen utama, yaitu :

        Pelampung

        Tali jangkar

        Jangkar dan pemberat

        Pemikat (atraktor ) yang umumnya kesemuanya terbuat dari bahan alami.

Bahan yang digunakan untuk pembuat rumpon tradisional adalah :

        Pelampung yang terbuat dari rakit bambu

        Tali jangkar, terbuat dari bahan ijuk atau rotan. Bahan ijuk banyak digunakan oleh nelayan Jawa dan Madura, sedangkan bahan rotan umumnya digunakan oleh nelayan Sulawesi.

        Pemberat, umumnya terbuat dari batu dan jangkar kayu.

        Nelayan di Utara Jawa dan Madura menggunakan alat tangkap purse seine dan payang dengan ditopang oleh rumpon sebagai alat bantu penangkapan, untuk menangkap ikan jenis pelagis kecil, antara lain ikan Kembung, Layar dan Layang.

b.      Rumpon Modern

Rumpon modern umumnya digunakan oleh perusahaan swasta maupun BUMN, untuk menopang usaha penangkapan dengan alat tangkap huhate dan pancing ulur serta drift vertical line.

Bahan yang digunakan untuk merakit rumpon modern umumnya bahan sintetis, yaitu :

        Pelampung, terbuat dari bahan plat besi atau bahan sintatis lainnya yang dibentuk menjadi ponton, seperti drum yang dilapisi fibre glass atau dapat pula drum yang diisi dengan busa (plastic foamed).

        Tali jangkar, umumnya tersusun dari rangkaian kabel baja (steel wire), rantai besi, tali sintetis (tali polyethilene atau tali poly propylene) dan dilengkapi pula dengan segel dan swivel.

        Pemberat, umumnya terbuat dari semen cor (beton semen) yang dilengkapi jangkar besi

        Pemikat (atraktor ), umumnya masih menggunakan bahan alami, antara lain : daun kelapa, daun nipah, ranting bambu. Sebenarnya atraktor dapat pula dibuat dari bahan sintetis, seperti : ban sepeda, pita plastik, tali (rafia) yang diurai, jaring bekas dan lain-lain ( Sjarif et. all., 1998 ).

Menurut Anonymous ( 1996 ) berdasarkan penempatannya di perairan, rumpon dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

        Rumpon perairan dasar, yaitu rumpon yang dipasang dan ditempatkan di dasar perairan laut.

        Rumpon perairan dangkal, yaitu rumpon yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut yang kedalamannya sampai dengan 200 meter.

        Rumpon perairan dalam, yaitu rumpon yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan kedalaman lebih dari 200 m.

Berdasarkan klasifikasi di atas, rumpon yang dibuat menggunakan rumpon jenis modern yang dipasang pada kedalaman 200 - 750 meter, dan biasa disebut dengan rumpon perairan dalam, sedangkan bahan rumpon terbuat dari bahan sintetis. Bahan sintetis yang digunakan pada rumpon modern yakni, pelampung terbuat dari bahan plat besi; tali jangkar terbuat dari dari rangkaian kabel baja (steel wire), rantai besi, tali sintetis (tali polyethilene atau tali poly propylene) dan dilengkapi pula dengan segel dan swivel; pemberat terbuat dari semen cor (beton semen) yang dilengkapi jangkar besi, dan atraktor terbuat dari pita plastik.

5.3    Bahan Rumpon

Subani dan Barus (1989) menyatakan bahwa dengan menggunakan rumpon, produksi hasil tangkapan menjadi lebih baik bila dibandingkan tanpa menggunakan rumpon. Penempatan rumpon pada perairan yang potensial dapat menghemat pemakaian bahan bakar karena gerombolan ikan yang menjadi tujuan dalam setiap usaha telah terkonsentrasi pada suatu tempat (posisi), maka nelayan tidak lagi mencari daerah penangkapan ikan. Disamping itu, hari operasi per trip dapat diperpendek sehingga dapat menghemat penggunaan bahan bakar dan perbekalan. Rumpon dari ponton plat besi termasuk golongan rumpon laut dalam, yaitu alat pemikat ikan yang besar dan diletakkan di perairan yang lebih dalam (umumnya 200-750 meter di bawah permukaan laut) dan diletakkan di 30 mil laut dari daratan. Meskipun ikan-ikan yang dapat tertangkap termasuk ikan layang dan ikan Tongkol namun Yellowfin tuna merupakan target sasaran penangkapan rumpon.

Secara garis besar konstruksi rumpon modern adalah sebagai berikut:

1).     Tali

Bahan                 :Tali Polyethylene dengan Ø 20 mm dan 22 mm

Panjang              :1050 meter (1,5 kedalaman laut)

Pelengkap          :Wire rope Ø 12 mm dengan panjang 65 meter.

Warna                 :Hijau (PE) dan Putih keperakan (Wire Rope)

2).     Pelampung

Bahan                 :Drum (tebal 4 mm)

Ukuran                :Panjang (240 cm), Ø besar 60 cm, Ø kecil 10 cm

Bentuk                 :Tabung mengkerucut

Warna                 :Kuning

3).     Kerangka

Bahan                  : Betonaser, canal U

Ukuran                : Ø 12 mm, dibuat menyerupai bentuk pelampung total

                                         panjang 12 m

4).     Tanda Pengenal

Bahan                 : Stainlessteel

Ukuran                : Ø 12 mm, panjang 3 m

Perlengkapan Lain

1).     Atraktor

Bahan                 : Pita plastik (rumbai-rumbai)

Ukuran Tali         : PE Ø 16mm, Panjang 20 m

2).     Tali Jangkar

Bahan                 : Wire Rope Galvanis

Panjang PE        : 10 m, Ø 16 mm

3).     Jangkar

Bahan                 : Besi SS Ø 19 mm

Berat          : 25 Kg 

4).     Pemberat Jangkar

Bahan                 : ban, batang besi (Ø 20mm, panjang 8-7 meter)

Komposisi           : Semen, pasir, koral (beton cor, 2:2:1)

Ukuran                : (100x15x15) cm

Jumlah                : 8 buah

Berat          : 75 kg

5).       Pemberat Atraktor

Bahan                 : kaleng bekas, ban dan semen.

Komposisi : semen, pasir, koral

Ukuran                : Ukuran kaleng bekas Ø 16 cm

Jumlah                : 2 biji

Berat          : masing-masing 5 kg

 

5.4    Konstruksi dan Pembuatan Rumpon

Bentuk dan konstruksi rumpon tidak perlu ada standar teknis, karena teknologi rumpon merupakan produk teknologi rekayasa yang akan selalu berubah dan berkembang mengikuti perkembangan teknologi komponennya. Kejelasan rancang bangun rumpon  dari observasi di lapangan serta kajian beberapa pustaka, dapat diuraikan sebagai berikut :

Pelampung (Ponton ) 

Dari keseluruhan komponen, ponton adalah komponen terpenting karena ponton merupakan pelampung beban berat dari semua komponen rumpon, disamping itu juga merupakan tanda (marking buoy) agar dapat terlihat dari kejauhan. Pada prinsipnya bentuk pelampung rumpon, rancang bangunnya menyerupai torpedo (stream line), sehingga tahanannya rendah terhadap angin, arus dan gelombang laut. Menurut KIFTC (1986) dalam Sjarif, et. al. (1998) pelampung yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

       Dindingnya harus kedap air dan tahan terhadap benturan benda keras

       Daya apungnya tinggi yang mampu menahan beban-beban gaya yang timbul dari komponen-komponen yang menggantung di bawahnya

       Daya apungnya tidak mudah berkurang, tahan terhadap arus, angin dan gelombang laut atau faktor lainnya

       Tahan terhadap korosi dan pelapukan

       Dapat dipasangi reflector dan radar dan/ atau tanda pengenal yang mudah dilihat dari jarak sekitar 1 – 1,5 mil laut

       Tidak mudah rusak (busuk, usang) dan tahan lama

       Mudah diperoleh dan relatif murah

          Ponton dari drum besi ini dengan berat 115 kg, panjang 240 cm, diameter besar 60 cm dimana ujung pelampung ini meruncing seperti bentuk torpedo, dibuat oleh bengkel las setempat sesuai pesanan yang memerlukan waktu kurang lebih 2 minggu. Penampang dari ponton drum besi berbentuk tabung atau silinder terbuat dari plat besi tebal 2 mm dengan panjang 200-240 cm dan diameter 60 x 10 cm. bentuk ini disesuaikan kedudukannya terhadap arus, angin dan gelombang laut, supaya dapat memecah gelombang dan arus laut yang menghantam. (Lampiran 24)

Pembuatan ponton ini diawali dengan penyambungan 2 drum. Semua sistem penyambungan pada setiap plat dindingnya di las listrik. Selanjutnya, untuk menghindari penetrasi air laut ke dalam ponton terutama pada setiap sudut dari semua dindingnya ditambahnya besi siku, dilaskan di sepanjang seluruh sistem sambungan dinding ponton.

          Untuk merangkaikannya dengan komponen lainnya maka pada bagian dasar ponton dilaskan (dipasangi) engsel dan sayatan ban bekas (untuk tempat panggantungan tali). Selain itu, pada bagian kiri dan kanan ponton dipasang kawat besi untuk tempat paralon atau bamboo sebagai stabilitator ponton, sedangkan pada bagian atas ponton juga diberi pipa besi untuk tempat bendera. Penggunaan stabilitator dari bambu dapat dilakukan sebagai pengganti paralon apabila bahan tersebut tidak ada atau disesuaikan dengan kemampuan pemesan ponton.

Pada bagian bawah pelampung dibulatkan sebagai tempat mengikat tali jangkar yang berfungsi seperti engsel (dapat bergerak ke kiri / kanan dan ke depan / belakang maupun berputar), sehingga akan dapat menghambat keausan dan meredam hentakan. Hal tersebut mengingat pada bagian tempat pengikat tali jangkar tersebut paling banyak mengalami goyangan (oleng dan angguk) dan goncangan.

Setelah pembuatan ponton dari bengkel, maka selanjutnya ponton dibawa ke pihak pemesan untuk di cat sesuai keinginan pemesan. Pengecatan ponton meliputi 3 tahap, yaitu lapisan resin (cat anti karat), pelapisan fiberglass, dan pemberian pigmen  warna kuning.

Pada proses fiberisasi, bahan terbuat dari resin (157) / Trek BQTN, yang kemudian bahan tersebut kita catkan ke ponton. Setelah itu ponton dilapisi serat met dan dilapisi oleh resin lagi. Untuk mengeraskan hasil fiber resin dicampur katalis dengan perbandingan 1 liter resin : 10 cc katalis. Untuk satu unit ponton menghabiskan 30 Kg resin dan 20 Kg serat met (fiber) lihat lampiran 24

Tali Utama

          Tali utama menghubungkan antara adaptor dengan rangkaian pemberat, tersusun dari tali Polyethylene (PE), engsel (swivel). Tali PE yang digunakan menggunakan berdiameter 20mm (berat tali tiap rolnya 54 kg/150 m) gambar pada lampiran 25. Fungsi dari tali utama inai adalag sebagai penghubung antara pelampung, pemberat dan atraktor. Pada tiap ikatan simpul diberi komponen tambahan berupa sayatan ban dalam sebagai pelapis dan penahan ikatan simpul agar tetap kuat dan tahan terhadap gesekan. Pada beberapa meter tali diberi ban dan swivel, hal ini berguna untuk menahan ketegangan dari tali dan agar tali tidak terbelit-belit bila terjadi perubahan posisi pada pelampung akibat hantaman gelombang dan arus. Adaptor berfungsi untuk meredam hentakan ponton terhadap rangkaian komponen rumpon yang ada di bawahnya, akibat pengaruh angin, gelombang, arus laut dan juga penahan hentakan yang ditimbulkan oleh rangkaian rumpon lainnya terhadap tali utama. Adaptor tersusun dari:

       Engsel, berfungsi sebagai sendi pada rangkaian rumpon yang terbuat dari besi as baja dan diberi bingkai plat besi dengan bentuk sedemikian rupa sehingga engsel dapat mengikuti (menyesuaikan) gerak ponton (berputar 360o horizontal dan dapat mengikuti gerak berayun) yang timbul akibat pengaruh ombak, angin, gelombang dan arus laut.

       Hill ban, terbuat dari lingkaran pinggir ban mobil yang sifatnya elastis dan kuat serta dapat meredam hentakan.

Tali polyethylene di pilih sebagai bahan komponen tali utama rumpon, karena beberapa kelebihannya antara lain:


       Memiliki daya elastisitas tinggi

       Relatif mudah diperoleh di pasaran

       Harganya relatif murah

       Kuat dan tahan terhadap pembusukan

       Mempunyai daya tahan putus yang kuat

       Tidak hidroskopis (tidak menyerap air)

       Serat-seratnya tidak tertupus.

Tabel :  Daya Tahan Putus Beberapa Jenis Tali

 


Sumber : BBPPI Semarang (1996)

Catatan

Mengingat beberapa pabrik tali memiliki standart mutu yang berbeda-beda, maka nilai daya tahan putus pada tabel tersebut diatas sebaiknya (sebagai faktor pengaman) dikurangi 15-20 %.

Disamping memiliki kelebihan, tali polyethylene mempunyai kelemahan, antara lain tidak tahan terhadap gesekan dan pintalannya mudah terurai. Untuk menghindari tali tersebut terurai, maka tali polyethylene dirangkap dua, kemudian untuk menghidari terputusnya tali akibat bergesekan dengan  tubir karang, maka pada kira-kira separuh panjang tali utama diberi batang besi.

Guna menjaga agar tali tidak mudah rusak atau putus (dikaitkan dan dipotong orang, digigit hewan air, putus akibat gesekan dengan jaring ataupun karena hentakan ombak dan angin), maka rancangan tali jangkar yang baik dari rangkaian bahan yang bervariasi menurut posisi dan fungsinya, yaitu (susunan dan pangkal atas ke bawah) :

       Hill ban (sayatan ban di ponton)

       Tali Polyethylene Ø 20 mm, panjang 1050 meter (1.5 kali kedalaman laut) perangkat penyambung dan penghubung antar bagian tali, seperti engsel (swivel) dan pemberat semen cor.

          Sedangkan kabel kawat baja bagian bawah berguna untuk menahan gesekan dengan dasar perairan yang keras terutama untuk perairan yang dasar perairannya tidak rata (terjal dan curam).

Pada beberapa sambungan tali pemberat bagian pangkal atas dilengkapi dengan sayatan lingkaran dalam ban bekas (hill ban) yang berfungsi sebagai pegas guna mereda hentakan pada tali pemberat akibat adanya gelombang dari angin yang kuat. Pada pemberat ban semen cor berfungsi sebagai tempat mengikat / menggantungkan atraktor. Disamping itu, pada beberapa sambungan dilengkapi segel (asckle) dan swivel.

 

Atraktor / Pemikat

Pada prinsipnya atraktor berfungsi sebagai pemikat agar ikan berkumpul di sekitar rumpon dan sebagai tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil. Untuk itu, rancang bangun atraktor sebaiknya dibuat sedemikian rupa agar ikan-ikan kecil mudah berlindung dari serangan ikan pemangsa.

Pada umumnya nelayan menggunakan pelepah daun kelapa yang dibelah dua dan sedikit diperhalus sebagai atraktor. Sebenarnya tidak hanya menggunakan pelepah kelapa, bahkan sebaiknya menggunakan bahan lain yang lebih awet, antara lain: anyaman bamboo, ban sepeda yang dikombinasikan dengan pita plastic dan tali (rafia) serta jaring bekas. Letak pengikatan atraktor adalah pada jarak 3 – 5 meter di bawah permukaan air, panjang rangkaian atraktor berkisar antara 75 m.    

                   Penggantungan / pemasangan atraktor digunakan tali PE Ø 16 mm, panjang 40 meter (dirangkap dua) dibagi 2 bagian. Bahan menggunaka pita plastik warna hijau-kuning yang di rumbai-rumbai menyerupai daun kelapa, pada tali utama ujung bawah tali atraktor diberi 2 pemberat atraktor dari kaleng berdiameter 16 cm dengan berat masing-masing 5 kg (lampiran 26), juga diberi setengah lingkaran ban di atas kaleng cor untuk mengikatkan pada tali. Untuk bagian atas, atraktor tali diikatkan pada engsel yang menempel pada ujung ponton. Gambar atraktor bisa dilihat pada lampiran 26.

Pemberat

Peranan pemberat pada unit rumpon adalah agar menjadikan posisi rumpon tidak berubah / bergeser meskipun mendapatkan dorongan arus ataupun hempasan angin dan gelombang laut maupun vandalisme. Untuk itu pemberat seharusnya mempunyai berat yang cukup serta daya cengkeram yang kuat.

Pembuatan pemberat dilakukan dengan cara sebagai berikut : kawat besi ukuran 8 gim sepanjang 95 cm dibentuk balok sepanjang 3 cm sebanyak 3 buah disusun sejajar, dimana diantaranya dipang sayatan ban bekas. Setelah fondasi selesai, lalu diberi campuran semen cor yang terdiri dari pasir 17 kg, batu kecil / koral 12 kg dan semen 3 sak (bahan campuran ini digunakan untuk membuat 12 balok semen cor). Pencampuran ini dilakukan di dalam balok yang terbuat dari cetakan kayu dibagi tiga lalu dibentuk balok. Setelah itu, dilakukan penjemuran di bawah terik matahari sampai kering.

Sebagai pedoman, berat jangkar pemberat yang digunakan minimal 2 kali gaya-gaya yang diterima pada tali, palampung dan atraktor. Mengingat jumlah pemberat yang digunakan mencapai ratusan bahkan ribuan kilogram, maka guna mempermudah perakitan maupun penerjunan, sebaliknya pemberat rumpon dirancang dari beberapa balok semen (beton cor) yang masing-masing berukuran (panjang x lebar x tinggi) = 100 cm x 15 cm x 15 cm seberat 75 kg per balok, bisa dilihat pada (lampiran 27), ditambah satu unit jangkar (lampiran 28). Jumlah balok pemberat disesuaikan dengan panjang tali pemberat yang digunakan. Pada bagian atas balok cor semen diberi setengah lingkaran ban yang menyatu dengan cor semen yang berfungsi sebagai tempat mengikat tali.

Peranan pemberat pada kontruksi rumpon adalah agar menjadikan posisi rumpon tidak berubah atau bergeser meskipun mendapatkan dorongan arus dan gelombang laut.

Balok semen cor tersebut berjumlah 8 buah tiap rumpon, sehingga kapal membawa 2 unit rumpon dengan 16 pemberat yang mana setiap rumpon terdiri  8 balok disimpulkan tali dan disatukan dengan satu simpul. Penyatuan balok-balok ini dilakukan di atas kapal.

 

5.5    Survey Perairan untuk Penerjunan Rumpon

Sebelum melabuhkan rumpon, terlebih dahulu dilakukan survei perairan untuk memperoleh masukan dan bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi yang sesuai untuk menerjunkan rumpon. Survei perairan di sepanjang landas kontinen Samudera Hindia menggunakan sejumlah peralatan, antara lain:

       Sebelum melabuhkan rumpon, terlebih dahulu dilakukan survey perairan untuk memperoleh masukan dan bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi yang sesuai untuk menerjunkan rumpon. survey perairan di sepanjang landas kontinen Samudera Hindia menggunakan sejumlah peralatan, antara lain:

       Penentuan posisi kapal dan kedudukan rumpon menggunakan GPS (Global Positioning System) (Lampiran 29)

       Arah haluan, baringan kapal terhadap benda-benda daratan dilakukan dengan kompas tangan.

Hasil survei menunjukkan bahwa penempatan rumpon sebaiknya pada perairan landas kontinen berkisar 10 mil hingga 20 mil dari garis pantai, karena kedalaman perairan pada jarak lebih dari 5 mil diluar garis pantai cenderung berubah tajam memasuki lereng kontinen. Penempatan rumpon pada lereng kontinen sangat riskan bagi rumpon karena beberapa hal, antara lain:

       Jangkar rumpon dapat tergelincir (sliding) ke dasar perairan yang lebih dalam.

       Tali utama dapat bergesekan langsung dengan tubir karang

       Hempasan gelombang pada lereng kontinen lebih besar dibandingkan pada landas kontinen

5.6    Tehnik Pemasangan Rumpon

Pelaksanaan pemasangan atau penerjunan rumpon sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari, sebab pada saat itu kondisi laut umumnya dalam keadaan tenang. Setelah lokasi peletakan rumpon  ditentukan, rtumpon yang siap diturunkan siap dilepaskan. Komponen utama rumpon yaitu pelampung, tali utama, atraktor, dan pemberat saling berdekatan. Pertama yang diturunkan adalah pelampung, dan atraktor yang dikaitkan pada ujung ponton, pelampung dibiarkan mengikuti arus setelah terlebih dahulu diikatkan pada tali utama.selanjutnya tali yang telah dirangkai didarat diikat pada pelampung juga pada swivel. Pemberat diikatkan pada rangkaian setelah semua selesai, pemberat utama diikat pada tali utama yang selanjutnya akan diturunkan sampai dasar, sedangkan pemberat atraktor diikatkan pada tali atraktor bersama ponton yang sudah diikat dengan atraktor.

Proses tali-temali dilakukan di darat, sehingga di laut hanya merangkai  komponen rumpon yang siap dilepas di laut. Setelah pelampung diturunkan, tali utama diturunkan secara perlahan yang kemudian diikuti dengan penurunan tali atraktor, panjang tali utama dibuat melebihi kedalaman perairan, yaitu 1,5 kedalaman. Pada Praktek Kerja Lapang ini tali yang digunakan 1050 meter dengan kedalaman perairan 700 meter.

 

5.7    Kerusakan Rumpon

Dalam merancang pembuatan dan pemasangan rumpon yang perlu diperhatikan adalah faktor-faktor yang menyebabkan rumpon tersebut rusak atau hilang. Hasil penelitian Shoimura, R.S. dan Matsomo, W.M. (1982) tentang berbagai faktor penyebab kerusakan terhadap rumpon yang dipasang di lautan Pasifik dan Hindia dapat dilihat pada Tabel  berikut ini:

 

Tabel : Faktor-faktor penyebab kerusakan rumpon



Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Departement of land and Natural Resources State of Hawaii (1980) dalam Sjarif, et. al. (1998) bahwa 60% dari rumpon dalam percobaan yang dilakukan di Hawai hilang, sebagaian besar (37 unit) diantaranya disebabkan karena tali utamanya putus, 2 unit rusak oleh vandalism (dirusak orang). Dari pengamatan tersebut, dikatakan bahwa umur rata-rata rumpon adalah 9 bulan (berkisar antara 2 – 18 bulan).

Menurut Bergstorm (1983) dari hasil pertemuan tentang rumpon di Hawaii pada tahun 1980, dikumpulkan bahwa kerusakan rumpon pada umumnya terjadi karena berbagai sebab, antara lain:

       Segel yang rusak.

       Anyaman sambungan tali (rope splicing) terlepas akibat bahan tali yang licin. Baut pada klem tali baja (cable grip) terlepas atau kendor.

       Terjadi elektrolisa (galvanic action) antara logam komponen rumpon dalam medium air laut.

       Tali terputus terpotong oleh baling-baling kapal yang lewat di sekitar perairan.

       Tali utama menggesek dasar perairan.

       Pelampung (ponton) terbenam di bawah permukaan air laut.

       Pelampung (ponton) tertabrak oleh kapal.

       Vandalisme (dirusak oleh orang-orang tak bertanggung jawab).

Untuk rumpon-rumpon yang dipasang di perairan Indonesia, masih jarang informasi ataupun hasil penelitian tentang faktor-faktor yang menyebabkan rusak atau hilangnya rumpon-rumpon tersebut. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, faktor-faktor berikut ini dapat dijadikan perhatian guna mencegah rusak atau hilangnya rumpon adalah sebagai berikut :


Faktor rusak / bocornya pelampung

Pelampung yang terbuat dari besi plat (tebal minimal 5mm), sewaktu pembuatannya harus betul-betul kedap air (agar tidak bocor), untuk mengetahui dan mencegahnya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: pertama, setelah pelampung selesai dibuat, pasang pentil ban sepeda motor pada dinding bagian atas pelampung, kemudian masukkan udara (dipompa), kemudian periksa kebocoran dengan busa sabun yang dioleskan pada bagian yang dilas pada pelampung tersebut. Kedua, bila sudah yakin tidak ada kebocoran, sebagai pengamanan akan terjadinya retak pada sisi-sisi yang dilas, masukkan aspal panas cair pada pelampung tersebut sebanyak + 10 liter, dengan cara membuat lubang pada bagian atas pelampung lalu ditutup (dilas) lagi.

Baik untuk pelampung yang terbuat dari drum maupun besi plat, pada bagian luarnya dililitkan sayatan ban luar sepeda / mobil. Hal ini berguna untuk meredam / melindungi pelampung dari benturan benda keras.

 

Faktor penyebab putusnya tali jangkar atau bergeser laratnya rumpon

Salah satu penyebab putusnya tali jangkar atau hilangnya rumpon adalah akibat adanya tahanan yang timbul (akibat arus, angin dan gelombang laut) terhadap komponen rumpon yang lebih besar daripada tali jangkar rumpon. Tahanan yang paling besar adalah tahanan arus laut terhadap tali jangkar dan atraktor. Akibat tahanan arus tersebut, bila jangkar tidak mampu menahannya maka rumpon akan hilang terbawa / terseret arus laut. Selain tahanan akibat arus laut, tahanan yang disebabkan adanya hembusan angin terhadap bagian-bagian rumpon yang berbeda diatas permukaan laut. Namun mengingat penampang bagian-bagian tersebut luasnya relatif kecil, maka nilai tahanannya dapat diabaikan.

Sebagai faktor pengaman, sebaiknya daya tahan putus tali jangkar adalah 2 kali nilai tahanan komponen-komponen rumpon yang ada di bawah permukaan air laut. Demikian juga jumlah pemberat (selain jangkar) yang digunakan / dipasang adalah 2 kali besarnya jumlah tahanan yang dimaksud. Hal lain yang mengakibatkan putusnya tali jangkar adalah faktor keausan pada sambungan-sambungan tali jangkar akibat goncangan dari arus, angin dan gelombang laut.

Salah satu rekayasa untuk menghambat proses keausan pada sambungan-sambungan tersebut adalah dengan cara membuat tempat gantungan, tali jangkar yang menempel pada bagian bawah / tunas pelampung (clead / welded) dirancang agar berfungsi seperti engsel pintu yang dapat bergerak kearah manapun yang juga berfungsi sebagai swivel. Selain itu, pada sambungan-sambungan dibawahnya (sambungan antara labrang / sling dengan tali polyethylene) khususnya pada timbel diberi bantalan dan as, sehingga labrang / sling dan tali polyethylene benar-benar terlindungi dari proses keausan.

 

Hasil Perhitungan Konstruksi

Maka perhitungan yang didapatkan :

Diketahui        :    D1 : Ø 10 cm

                   D2 : Ø 60 cm

                   l kerucut : 40 cm

                   h tabung : 210 cm

 

a.      Luas Ponton

Luas kerucut  :    3,14 r1 (r1 + l) + 3,14 r2 (r2 + l)

                             3,14 x 0,05 (0,05 + 0,4) + 3,14 x 0,3 (0,3 + 0,4)

                             0,0706 + 0,6594

                             0,73 m2

 

Luas tabung    :  2 x 3,14x r (r + h)

                             2 x 3,14 x 0,3 (0,3 + 2,1)

                             1,18692 m2

Luas Total       :   0,73 + 1,18692 = 1,916 m2

Kedalaman laut 700 m, tali yang digunakan memiliki panjang 1,5 x 700 m yaitu 1050 m, dengan moncong ponton (pelampung) berbentuk kerucut dengan luas penampang ponton 1,916 m2, bagian pontoon yang terendam air laut 1/3 bagian.

Secara teoritis besarnya pengaru arus laut dapat diketahui melalui pendekatan rumus hidrodinamika, sedangkan pengaruh hembusan angin dapat diketahui dengan pendekatan formula aerodinamika yaitu :

 R = Cd x 0,5 x p x d x l x v2 dimana,

R       = Tahanan arus laut yang menimpa tali jangkar

Cd     = Coefisien of drag tali jangkar (tergantung besarnya sudut yang

   dibentuk oleh tali jangkar dan arah arus laut, untuk tali jangkar yang

   memiliki panjang 1,5 x kedalaman laut, nilai Cd = 0,56 – 0,60)

p       = Densitas air laut (105 Kg det2/m4)

d       = Diameter tali jangkar (m)

l         = Panjang tali jangkar (m)

v        = Kecepatan arus laut (laut bebas 0,75 m/det, selat 1,0 m/det)

 

Sedangkan besarnya tahanan akibat pengaruh hembusan angin dapat diketahui dengan pendekatan :

Rw = Cw x Aw x 0,5 x p x v2 dimana,

Rw    = Tahanan angin terhadap pontoon Kgf)

Cw    = Koefisien tahanan angin terhadap ponton (Cw-2)

Av     = Luas penampang frontal ponton yang terdorong angin (M2)

p       = Densitas massa udara (0,125 Kgf)

v        = Kecepatan angin (Angin kencang = 13,9 – 17,1 m/det)

 

a.      Tahanan arus terhadap tali jangkar rumpon (Rcr)

                   Rcr :  cd x 0,5 x p x v2 x l x d

                             0,6 x 0,5 x 105 x (0,75)2 x 1050 x 0,02

                             372,09 Kgf

b.      Tahanan arus laut terhadap ponton rumpon (Rcp)

                   Nilai cd lihat tabel koefisien

                   Rcp : cd x 1/3 A x 0,5 x p x v2

                             2 x 1/3(1,916) x 0,5 x 105 x (0,75)2

                             37, 720 Kgf

c.       Tahanan angin terhadap ponton rumpon (Rw)

                   Rw :  cd x 2/3 A x 0,5 x p x v2

                             2 x 2/3 (1,916) x 0,5 x 0,125 x (17,1)2

                             46,688 Kgf

Sedangkan atraktor rumpon diasumsikan memiliki penampang yang terkena tahana arus sebesar 1/3 bagian dari tali jangkar, jadi diperkirakan besarnya tahanan arus laut terhadap atraktor rumpon (Rca) = 1/3 x 372,09 Kgf = 124,02 Kgf.

Nilai total tahanan arus laut dan angin terhadap unit rumpon berdasar perhitungan sebesar (R total) = (372,09 + 37,720 + 46,688 + 124,02) = 580,518 Kgf.

Jadi tali jangkar rumpon memiliki daya tahan putus minimal 2 x 580,518 Kgf = 1161,036 Kgf. Bila menggunakan PE maka yang dipilih bukan PE diameter 20 mm, tapi cukup dengan tali PE diameter 12 mm yang memiliki daya tahan putus 1450 – (1450 x 15 %) = 1232,5 Kgf.

Adapun pemberat yang digunakan minimal memiliki berat dalam air 1,5 x 580,518 Kgf = 870,777 Kgf.

Untuk mengetahui berat pemberat dalam air digunakan rumus :

Gw :  Ga (1 – dw / ds) atau Ga = Gw / (1 – dw/ds)

dimana,

Gw    = Berat benda di dalam air (Kgf)

Ga    = Berat benda di udara (Kgf)

dw     = Massa jenis air laut (1,025)

ds     = Massa jenis pemberat (dalam hal ini beton cor 2,5)

Ga = Gw / (1 – dw/ds)

Ga = 870,777 / (1 – 1,025/2,5) =  1475,89 Kgf

Maka pemberat rumpon minimal memiliki berat di udara 1475,89 Kgf

 

Penulis

Dr. Ir. Gatut Bntoro, M.Sc 

Ir. Sukandar MP, dan Fuad, MT

Agrobisnis Perikanan, FPIK 


Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 1975. Standard Statistik Perikanan. Buku I. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Anonymous. 2002. Profil Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia.           Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.    

Ayodhyoa. 1976. Teknik Penangkapan Ikan. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Institut          Pertanian Bogor. Bogor.

Ayodhyoa. 1981. Metode Penangkapan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.

Damanhuri. 1980. Diktat Fishing Ground. Bagian Teknik Penangkapan Ikan. Fakultas           Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.

Effendi, M.I. 1979. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Tama. Yogyakarta.

Fridman, A.L. 1969. Theory And Design Of Commercial Fishing Gear. Israel Program For Scientific Translation. Jerusalem.

Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya Dengan Alat, Metoda Dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Hidayat, S. dan Sedarmayanti. 2002. Metodologi Penelitian. Mandar Maju. Bandung.

Laevastu, T. and I. Hella. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing News (Books) Ltd. London.

Laevastu, T. and M.L. Hayes. 1991. Fisheries Oceanography and Ecology. Fishing News. Farnham.

Muhammad, S. 1991. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.

Mitsugi, S. 1974. Fish Lamps. Japanese Fishing Gear and Methods Textbook for Marine Fisheries Research Course. Japan.

Nedelec, C. 2000. Definisi Dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan. Published by Arrangement with the Food and Agriculture Organization of The United Nation. Diterjemahkan oleh Bagian Proyek Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.

 

PROPAGASI

A.      Latihan dan Diskusi

1.      Mengapa purse seine di Laut Jawa dan Selat Madura dapat menangkap jenis ikan-ikan dasar?

2.      Mengapa penarikan tali kolor harus berlangsung cepat?  

 

 

B.      Pertanyaan (Evaluasi mandiri)

1.      What is the function of fish finder?

2.      Where was purse seine introduced first time in Indonesia?

3.      What does it mean by potential energy?

4.      How important is the purse line?

5.      What kind of fish is ussually caught by purse seine?

 

 

C.      QUIZ -mutiple choice (Evaluasi)

 

D.      PROYEK (menghitung volume area perairan yang dilingkari purse seine)

No comments:

Post a Comment