“Mengungkap Fakta: Fillet ‘Ikan Dori’ Adalah Patin, Bukan Ikan Hias Laut!”


Fillet ikan menjadi favorit konsumen modern karena bebas duri, kemasan higienis, dan mudah diolah dalam berbagai resep lezat (Adha Susanto). Di pasaran, banyak orang menyebut produk ini sebagai “ikan dori”, padahal sebenarnya berbeda dari ikan dori yang dikenal dalam dunia laut.

1. “Ikan Dori” Bukan Jenis Ikan Laut, Melainkan Merek Dagang

Secara ilmiah, ikan dori (Paracanthurus hepatus) adalah makhluk laut cantik yang terkenal melalui film Finding Nemo, hidup di terumbu karang dengan warna biru cerah dan corak khas bentuk angka enam (Adha Susanto). Namun dalam konteks kuliner dan perdagangan, “ikan dori” bukanlah ikan tersebut, melainkan nama brand (merek dagang) fillet ikan asal Vietnam (Adha Susanto).

2. Patin: Bahan Sebenarnya Dibalik Fillet “Ikan Dori”

Fillet “ikan dori” yang dijual di pasar modern Indonesia biasanya berasal dari ikan patin—ikan budidaya air tawar yang melimpah, mudah ditemukan, dan lebih ekonomis (Adha Susanto). Dalam 100 gram daging ikan patin terkandung protein 18 g, lemak 2,9 g, dan sekitar 105 kalori (Adha Susanto).

3. Perbedaan Habitat: Laut vs. Air Tawar

  • Ikan dori (Letter Six): tinggal di laut tropis berkarang, mulai dari kedalaman sekitar 1 hingga 48 meter. Sebaran geografisnya meliputi Indo-Barat dan Pasifik Tengah — dari Afrika Timur dan Laut Merah hingga Jepang, Australia, dan Kepulauan Tuamotu (Adha Susanto).

  • Ikan patin: ikan budidaya air tawar yang tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia (Adha Susanto).

4. Tekstur Daging: Halus vs. Lebih Kasar

  • Daging ikan “dori” mentah terasa halus, padat, dan kenyal saat ditekan.

  • Sebaliknya, daging patin mentah cenderung kasar, lebih tebal, dan mudah hancur (Adha Susanto).

5. Harga: Langka vs. Melimpah

Karena langka dan sulit diperoleh, ikan dori (sebagai jenis laut) memiliki harga lebih tinggi dan ketersediaan terbatas (Adha Susanto). Sebaliknya, ikan patin mudah dibudidayakan, selalu tersedia, serta harganya bervariasi namun relatif terjangkau di setiap daerah (Adha Susanto). Produk fillet yang menggunakan label “ikan dori” sering kali dijual dengan harga lebih tinggi karena merek dagang dan nilai tambah kemasan (Adha Susanto). 


Secara status, ikan dori asli adalah ikan laut hias bernama Paracanthurus hepatus, sedangkan fillet “ikan dori” yang banyak dijual sebenarnya hanyalah nama dagang untuk ikan patin. Dari segi habitat, dori hidup di laut tropis berkarang, sementara patin merupakan ikan budidaya air tawar yang bisa ditemukan di sungai atau kolam. Perbedaan juga tampak pada teksturnya: daging ikan dori terasa halus, padat, dan kenyal, sedangkan daging patin cenderung lebih kasar, tebal, dan mudah hancur. Dari ketersediaan, ikan dori asli sangat terbatas dan sulit didapat, berbeda dengan ikan patin yang melimpah di pasaran. Karena itulah, harga dori lebih mahal, sementara patin relatif lebih terjangkau, meski sering dijual lebih tinggi ketika dilabeli sebagai fillet “ikan dori”.


Kesimpulan: Meski sering disebut sebagai “ikan dori”, produk fillet ini bukanlah ikan laut melainkan daging patin yang dibumbui citra merek dari Vietnam. Perbedaan yang mencolok terletak pada habitat, tekstur, serta harga — patin menawarkan nilai praktis dan ekonomis, sedangkan label “ikan dori” menambah daya tarik di pasar modern.



Post a Comment for "“Mengungkap Fakta: Fillet ‘Ikan Dori’ Adalah Patin, Bukan Ikan Hias Laut!”"