Friday, February 26, 2021

Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus); Klasifikasi, Morfologi, Habitat, Etc



Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Klasifikasi ikan lele menurut SNI (2000) dalam Afiesh (2013), yaitu

Fillum : Chordata

Kelas : Pisces

Sub Kelas : Teleostei

Ordo : Ostaniophysi

Sub Ordo : Siluroidae

Famili : Claridae

Genus : Claria

Spesies : Clarias batrachus

 

Morfologi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan konsumsi air tawar. Ikan lele termasuk jenis cat fish atau kata lain ikan yang memiliki kumis. Ciri ikan lele yaitu bentuk tubuh memanjang dan agak bulat, pada sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing atau tajam. Warna tubuh belang dan kepala pipih dan terdapat kumis, tidak memiliki sisik, memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya yaitu aborescent (Afresh, 2013).

 

Habitat Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Habitat atau lingkungan hidup ikan lele adalah semua perairan tawar, meliputi sungai dengan aliran yang tidak terlalu deras atau perairan yang tenang seperti waduk, danau, telaga, rawa dan genangan air seperti kolam. Ikan lele tahan hidup di perairan yang mengandung sedikit oksigen dan relatif tahan terhadap pencemaran bahan- bahan organik. Ikan lele dapat hidup normal dilingkungan yang memiliki kandungan oksigen terlarut 4 ppm dan air yang ideal mempunyai kadar karbondioksida kurang dari 2 ppm, namun pertumbuhan dan perkembangan ikan lele akan cepat dan sehat jika dipelihara dari sumber air yang cukup bersih, seperti sungai, mata air, saluran irigasi ataupun air sumur (Iqbal, 2011).

 

Ikan lele dapat hidup baik di dataran rendah sampai dengan perbukitan yang tidak terlalu tinggi, misalnya di daerah pegunungan dengan ketinggian diatas 700 m. Ikan lele jarang menampakkan aktivitasnya pada siang hari dan lebih menyukai tempat-tempat yang gelap, agak dalam dan teduh. Hal ini bisa dimengerti karena lele adalah binatang nokturnal yang mempunyai kecenderungan beraktivitas dan mencari makan pada malam hari. Pada siang hari lele lebih suka berdiam atau berlindung ditempat-tempat yang gelap. Akan tetapi, pada kolam pemeliharaan, terutama budidaya secara intensif, lele dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap lebih tinggi jika diberikan pada malam hari. Kualitas air yang dianggap baik untuk kehidupan lele adalah suhu yang berkisar antara 20-30oC, akan tetapi suhu optimalnya adalah 27oC, kandungan oksigen terlarut > 3 ppm, pH 6.5-8 dan NH3 sebesar 0,05 ppm. Ikan lele digolongkan kedalam kelompok omnivora (pemakan segala) dan mempunyai sifat scavanger yaitu ikan pemakan bangkai. Selain pakan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pelet. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 3% per hari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam dengan frekuensi 2-3 kali sehari (Iqbal, 2011).

 

Ciri Khusus Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Alat pernafasan tambahan terletak dibagian kepala di dalam rongga yang terletak ditulang kepala. Alat pernapasan ini berwarna merah, bentuknyya seperti tajuk mempunyai empat pasang sungut satu pasang sebagai tentakel dan dua pasang sungut mandibula (Kent,2014).

 

Fisiologi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Ikan lele (C. batrachus) memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm. Ikan lele (C. batrachus) memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut Aborescen organ yang merupakan membran yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak didalam ruangan sebelah atas insang. Dalam sejarah hidupnya lele lele harus mengambil oksigen dari udara langsung, untuk itu ia akan menyembul kepermukaan air.

 

Reproduksi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Pemijahan (perkawinan) lele secara alamiah dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi paling banyak dansering terjadi mulai awal musim hujan, sepanjang musim hujan sampai peralihan musim kemarau. Jika sudah memasuki masa berkembang bia( lelejantan dan betina akan berpasangan. Pasangan itu lalu mencaritempat, yakni lubang pada pematang atau tanggul yang teduh dan aman untuk bersarang. Lubang sarang lele terdapat kira-kira 20-30 cm di bawah permukaan air. Lubang untuk sarang lele tersebut dapat disediakan dan dipasang ditepi kolam. Lele lokal akan perpasangan dengan jodohnya lalu mempersiapkan sarang dan melakukan perkawinan. Seekor induk lele lokal dapat menghasilkan 1.000-1.500 butir telur dalam sekali memijah. Telur yang telah dibuahi diletakkan di dalam rongga lubang sarangnya kemudian dalam tempo 24 jam akan menetas. 

 

Peranan Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus) Bagi Perairan

Ternak lele di dalam lubang pembuangan feses septic tank banyak di daerah-daerah di indonesia seperti di daerah palas Lampung Selatan, Desa Bumi Lampung Selatam, Palembang, Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Riau Kepulauan, dan beberapa daerah lain di indonesia. Untuk membuidaya/beternak ikan lele dengan cara memasukan ke dalam septic tank cukuplah mudah an praktis karena sifat ikan lele yang biasa makan kotoran yang merupakan peran ikan lele di perairan.

 

Tingkah Laku Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

Lele jarang menampakkan aktivitasnya pada siang hari dan lebih menyukai tempat yang gelap, agak dalam, dan teduh. Hal ini bisa dimengerti karena lele adalah binatang nokturnal, yaitu mempunyai kecenderungan beraktivitas dan mencari makan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele memilih berdiam diri atau berlindung di tempat-tempat yang gelap. Akan tetapi, pada kolam pemeliharaan, terutama budidaya secara intensif, lele dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap lebih tinggi jika diberikan pada malam hari.

 

Penulis

Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka 

Iqbal, M. 2011. Kelangsungan Hidup Ikan Lele (Clarias Gariepinus) Pada Budidaya Intensif Sistem Heterotrofik. SKRIPSI. Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 85 hlm.

Kent, GG. 2014. Comperative anatomy of the vertebrate mc graw hill book company ms. New york

No comments:

Post a Comment