Monday, November 9, 2020

Ikan Kerapu Cantang; Klasifikasi, Morfologi, Habitat, Reproduksi, Kebiasaan Makan, Sistem Pertahanan Tubuh

 


Ikan kerapu cantang (Mathew, 2009)

 

Klasifikasi Ikan Kerapu Cantang

Peningkatan produksi dan kualitas benih melalui hibridisasi dapat membantu kebutuhan benih pada perikanan budidaya dan pembenihannya dapat diterapkan di masyarakat sebagai usaha yang menguntungkan. Salah satu kerapu hasil hibridisasi adalah kerapu cantang hasil persilangan antara ikan kerapu macan dan ikan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus) (Ismi et al., 2013).

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Chondrichthyes

Subkelas : Ellasmobranchii

Ordo : Percomorphi

Subordo : Percoidea

Famili : Serranidae

Genus : Epinephelus

Spesies : Epinephelus sp.

 

Morfologi Ikan Kerapu Cantang

Ciri-ciri morfologi ikan kerapu cantang antara bentuk tubuh pipih dan relatif membulat dengan ukuran lebar kepala hampir sama dengan lebar badannya, warna kulit coklat kehitaman dengan 5 garis hitam melintang di bagian tubuhnya, semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal) bercorak seperti kertang dengan dasar berwarna kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam, Bintik hitam juga banyak tersebar di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap individu, sirip punggung semakin melebar kearah belakang, sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 17 jari-jari lunak,  sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak (Mariskha dan Abdulgani, 2012). Bentuk ekor kerapu cantang cenderung rounded, bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas), tipe sisik stenoid (bergerigi) dan bentuk gigi runcing (Peristiwaldi, 2006).

 

Habitat Ikan Kerapu Cantang

Ikan kerapu macan hidup di daerah karang sehingga biasa disebut kerapu karang. Sedangkan kerapu macan adalah ikan yang hidup di dasar dengan daerah penyebaran mulai dari daerah pantai (coastal area) dan perairan karang (coral reef). Kerapu macan tergolong ikan euryhaline, yang toleran pada salinitas 12 - 35 ppt. namun demikian untuk pemeliharaannya dibutuhkan salinitas 22 - 32 ppt (Mariskha dan Abdulgani, 2012).

 

Ikan kerapu Kertang di Indonesia, tersebar di perairan Padang, Bengkulu, Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Bawean, Flores, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Kerapu macan hidup di habitat berkarang sehingga popular juga dengan sebutan kerapu karang. Parameter kualitas air yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 - 31 °C, salinitas antara 30 - 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 - 8,0. (Mayunar, 1999).

 

Reproduksi Ikan kerapu cantang

Ikan kerapu (grouper) bersifat "protogynous hermaprodit" dimana betina dewasa akan mengalami perubahan kelamin (sex change) menjadi jantan, sehingga secara umum berat tubuh (BW) induk jantan lebih besar dari betina. Perubahan kelamin pada kerapu betina tergantung ukuran, umur dan spesies. Pada ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.), berat minimum  betina matang gonad adalah 2,5 kg  dan induk jantan 5,4 kg (Rayes et al., 2013).

 

Kematangan gonad dan musim pemijahan ikan kerapu tergantung pada jenis dan kondisi atau lokasi perairannya. Pada sebagian besar ikan kerapu di perairan Jamaika, terjadi pemijahan antara bulan desember hingga april (puncaknya pada bulan januari dan februari), sedangkan pada perairan Bermuda terjadi pemijahan antara mei hingga juni (puncaknya pada bulan juni). Musim pemijahan ikan kerapu di Indonesia terjadi pada bulan juni hingga november  (Guiguen, 1994).

 

Kebiasaan Makan Ikan kerapu cantang

Larva ikan kerapu cantang mulai diberi makan pada hari ke 3 setelah menetas berupa rotifer dengan kepadatan awal 5-6 ind/ml. Saat larva sampai pada hari ke 2 sampai hari ke 25 pada tangki pemeliharaan ditambahhkan Nannochloropsis sp. Sebagai green water disamping sebagai pakan rotifer. Pellet diberikan pada larva umur 6 hari berupa mikro pellet dengan kadar protein 25 % (Ismi, 2014). Ikan kerapu cantang adalah salah satu ikan karnivora yang memiliki kebiasaan makan di malam hari berupa udang, ikan-ikan pelagis kecil dan cacing. Makanan favorit ikan kerapu cantang adalah udang dengan persentase 72,37-90%, ikan-ikan pelagis kecil 11,33 sampai 27,63% dan cacing 12,49% (Ridho dan Enggar, 2016). Larva ikan kerapu cantang memakan polycahets sebesar 15% dan alga Bacillarophyceae 9,3%. Penambahan mikroalga sebagai pakan tambahan memiliki dampak positif pada berat tubuh ikan, meningkatkan triglyceride dan protein di dalam sel otot, meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, mengurangi pengeluaran nitrogen ke lingkungan dan meningkatkan pencernaan ikan (Hemaiswarya et al., 2011). Ikan kerapu cantang berukuran 10-12 cm dengan berat 15-20 gram menyukai pakan hidup yang memiliki kandungan protein sebesar 45-50% dan lemak 4-13% (Khrisna et al., 2016).

 

Kebiasaan makan ikan kerapu cantang akan meningkat pada periode premonsoon dan monsoon yaitu bulan Juni sampai Agustus. Kemudian kebiasaan makan akan menurun pada bulan Desember-Januari (Udayosaundari et al., 2016). Kebiasaan makan akan meningkat pada musim panas, karena pertumbuhan dan metabilosme ikan kerapu cantang juga meningkat seiring dengan meningkatnya suhu. Aktivitas mencari makan dimulai pada pukul 16.00-17.00. Kebutuhan nutrisi ikan kerapu cantang hampir sama dengan kebutuhan nutrisi ikan laut karnivora lainnya, meliputi protein (asam amino), lemak (asam lemak), karbohidrat, vitamin dan mineral (Kamruzzaman et al., 2013).

 

Sistem Pertahanan Tubuh Ikan Kerapu Cantang

Sistem kekebalan tubuh ikan terdiri dari komponen sistem imun non spesifik. Sistem imun non spesifik ikan antara lain terdiri dari penghalang fisik terhadap infeksi, pertahanan humoral dan seluler berupa sel-sel fagositik (leukosit granulosit dan agranulosit). Ikan teleostei memiliki sejumlah penghalang fisik terhadap infeksi antara lain kulit dan mukus. Mukus memiliki kemampuan menghambat kolonisasi mikroorganisme pada kulit, insang dan mukosa. Mukus ikan mengandung immunoglobulin alami yang dapat menghancurkan patogen yang menginvasi dan bertugas sebagai pertahanan humoral (Irianto, 2005). Pertahanan non-spesifik utama lainnya yaitu berupa sel-sel fagositik, yang utamanya terdiri dari monosit, makrofag dan granulosit (leukosit granular: neutropil, basofil dan eosinofil). Monosit mengalami sirkulasi, adapun makrofag terikat pada jaringan (Robersen,1999). Aktifitas fagositosis adalah suatu kegiatan sel-sel fagositik untuk melakukan fagositosis dalam suatu system kekebalan non spesifik dengan melibatkan sel mononukleus (makrofag) dan polimorfonukleus (neutrofil). Proses fagositosis meliputi beberapa tahap yaitu kemotaksis, menangkap, memakan, memusnahkan dan mencerna. Kemotaksis merupakan gerakan dimana sel-sel fagosit mendekati bakteri atau virus (Hernawati et al., 2013).

 

Pada ikan terdapat populasi sel B dan sel T yang sangat berperan dalam respon imunitas baik seluler maupun humoral (Alifudin, 2002). Respon imun humoral diperantarai oleh antibodi yang diproduksi oleh sel-sel limfosit B akan mengenali antigen-antigen mikrobia, menetralisirnya, dan mengeliminasi mikroba tersebut dan antibodi bersifat khusus Adapun imunitas yang adaptif seluler (cell-mediated immunity) diperantarai oleh sel T (limfosit T) yang berperan dalam melakukan destruksi sel-sel yang terinfeksi mikroba secara intraseluler (Shoemaker et al, 2001).

 

Penulis

Iddo Intheo Charistio

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Ridho, M. R dan E. Patriono. 2016. Aspek reproduksi ikan kerapu cantang (Lates calcarifer Block) di Perairan Terusan Dalam Kawasan Taman Nasional Sembilang Pesisir Kabupaten Banyuasin. Jurnal Penelitian Sains. 18(1): 1-7.

No comments:

Post a Comment