Friday, May 8, 2020

Ikan Dewa Atau Kancra; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll




Ikan Kancra atau Dewa (Labeobarbus douronensis) adalah ikan air tawar yang merupakan ikan spesifik lokasi dan merupakan ikan yang sudah langka terutama di perairan umum Jawa Barat. Keberadaan ikan tersebut dari tahun ke tahun semakin berkurang, oleh karena itu saat ini masyarakat tidak diperbolehkan menangkap dan mengkonsumsinya. Di perairan Waduk Dharma yang ada di Kab. Kuningan sudah tidak ditemukan lagi jenis ikan tersebut (Redjeki, 2007).


Untuk itu dilakukan upaya pengembangbiakan yang meliputi pematangan gonad, pemijahan, pemeliharaan larva dan pembesaran di tangki atau kolam tanah. Pematangan gonad dilakukan dengan upaya perbaikan pakan, pemijahan melalui upaya manipulasi lingkungan, pemeliharaan larva dengan upaya pemberian pakan alami dan pembesaran dengan upaya pemberian larva nyamuk dan pelet berprotein 35%. Teknologi tersebut dirakit dan selanjutnya di sebarluaskan ke daerah-daerah yang memiliki ikan langka (Redjeki, 2007).


KLASIFIKASI IKAN DEWA ATAU KANCRA

Kelas : Teleostei

Ordo : Cupriniformes

Sub ordo : Cyprinoidea

Famili : Cyprinidae

Sub famili : Cyprininae

Genus : Labeobarbus (Tor)

Spesies : Labeobarbus douronensis


CIRI-CIRI IKAN DEWA ATAU KANCRA

Karakteristik utama dari genus Labeobarbus adalah keberadaan dan ukuran cuping pada bibir bawah untuk membedakan dengan jenis-jenis Cyrinidae lainnya.


TINGKAH LAKU IKAN DEWA ATAU KANCRA

-Suka bergerombol

-Jumlah ikan yang ada di kolam ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah bertambah atau berkurang. Terkadang ikan-ikan Dewa yang berada dalam kolam tersebut hilang entah kemana, kemudian esok harinya kembali seperti semula.


MORFOLOGI IKAN DEWA ATAU KANCRA

Kottelat (1993) telah merevisi nama genus Labeobardus menjadi Tor yang memiliki ciri-ciri jari-jari sirip punggung yang licin, kepala tidak berkerucut dan antara garis rusuk dan sirip punggung terdapat tiga setengah baris sisik. Menurut Haryono (2006) di seluruh dunia terdapat 20 jenis kerabat ikan Labeobardus. Wilayah penyebaran mulai dari Trans Himalaya (Pakistan, Nepal, India dan Myanmar) dan di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Kalimantan, Sumatra dan Jawa. Jenis Tor di perairan hulu Kalimantan Tengah yaitu tambara.


Duri punggung (total): 4; Punggung punggung lunak (total): 7-9; Duri dubur 3; Sirip dubur lunak: 5. Distinguished dari spesies lain dari genus di Sungai Lancangjiang oleh kombinasi karakter berikut: tubuh dikompresi; lobus median bibir bawah singkat, gratis marjin truncate, tidak memanjang sampai garis yang menghubungkan sudut bagian dalam mulut; mata terlihat dalam pandangan ventral; tanah genting dengan skala yang berbeda kecil, lebih dari 18 skala antara isthmus dan asal sirip perut; tulang saring insang 15-20; supero-posterior margin sirip punggung sangat cekung; ujung sirip anal menunjuk; warna dalam kehidupan keperakan, kembali gelap, sirip abu-abu gelap (Ref 13848).


HABITAT  IKAN DEWA ATAU KANCRA

Tor memilki habitat yang spesifik mulai sungai-sungai di pegunungan hingga sungai-sungai pada dataran tinggi dengan dasar berbatu, memiliki kandungan air yang cukup sejuk dan oksigen yang tinggi (Shrestha, 2005). Berdasarkan karakteristiknya, ikan dewa itu baru hidup di sumber air yang jernih, bersih, dan mengalir secara terus-menerus. Mata air jenis ini hanya bisa timbul jika lingkungan hutannya lestari dan pepohonan lebat.


Kottelat et al (1993) menegaskan bahwa ikan genus labeobarbus pada umumnya merupakan jenis yang terancam punah karena kerusakan hutan dan penangkapan yang berlebihan. Pada jenis ikan Labeobarbus soro sudah termasuk pada ikan terancam punah oleh IUCN. Penebangan hutan yang tidak terkendali sangat mempengaruhi kelangsungan hidup ikan Tor ini karena habitatnya yang spesifik yang hanya hidup di daerah hulu sungai serta memiliki air yang cukup kuat, warna air jernih, memiliki kandungan oksigen yang tinggi serta suhu air sejuk dengan dasar perairan yang berbatu (Kiat, 2004, Nontji, 1992). Adanya penebangan hutan yang tidak terkendali menyebabkan terjadinya penurunan debit mata air sehingga terjadi penurunan ketinggian air yang ada di kolam-kolam alami tempat ikan dewa ini.


MANFAAT IKAN DEWA ATAU KANCRA

Ikan kancra (Labeobarbus douronensis) adalah ikan air tawar yang sudah sangat langka dan bersifat spesifik lokasi. Jumlah ikan kancra yang terdapat di kolam-kolam di Kab. Kuningan semakin lama semakin berkurang akibat belum tersedianya paket teknologi pembenihan walaupun ikan tersebut masih satu famili dengan ikan mas (Cyprinus carpio). Di kabupaten Cianjur, masyarakat sudah banyak yang melirik ikan ini untuk dijadikan ikan hias yang dapat dijinakkan sehingga sudah ada pengusaha yang berani membeli dengan harga antara Rp 350.000 – Rp 1.500.000,/ekor, namun sampai saat ini komoditi tersebut masih sulit ditemukan (Redjeki, 2007).


REPRODUKSI IKAN DEWA ATAU KANCRA

Induk kancra memiliki ukuran antara 41- 77.55 cm (panjang total/TL) dan 0.55-3.25 kg (berat tubuh/BW) (betina) dan 41-58.3 cm (TL) dan 0.6-2.25 kg (BW) (jantan). Induk diberi pakan buatan dengan kandungan protein antara 36-40%, selama kurang lebih 1 bulan induk diadaptasikan ke kolam untuk melihat kandungan telurnya. Induk jantan dan betina ditempatkan pada kolam yang berbeda. Setelah induk berisi gonad, setiap bulannya dimonitoring untuk melihat perkembangan gonad. Selang beberapa lama kemudian pada saat perut induk membesar, induk betina disatukan dengan jantan (perbandingan bobot ikan 1:1). Penyatuan induk tersebut dilakukan pada kolam pemijahan yang sudah didesain sedemikian rupa agar ikan cepat mengalami pemijahan (Gambar 1). Kolam pemijahan dipersiapkan sebelumnya dengan perlakuan- perlakuan khusus, yaitu pada pagi hari, kolam dikeringkan sampai pada kedalaman kurang lebih 0.5 m dimana pada dasar kolam terdapat batu-batu yang berdiamcter antara 1-5 cm sehingga sinar matahari menyinari dasar kolam. Pada sore hari kolam diisi air sehingga air kolam menjadi hangat dan pada keesokan pagi harinya, air kolam dibuang sehingga sinar menyinari dasar kolam lagi, demikian seterusnya selama 3 hari berulang-ulang (Redjeki, 2007).


Sebelum melakukan pemijahan, pakan alami dipersiapkan seminggu sebelumnya pada kolam yang terpisah, sehingga pada saat larva butuh makanan, pakan alami sudah siap. Pembuatan pakan alami menggunakan kotoran ayam dan kacang kedelai yang digantungkan di tengah kolam sampai mengalami pembusukan. Setelah memijah, telur yang dihasilkan dikumpulkan dan ditetaskan pada saluran pemasukan (suhu air 270C) atau pada akuarium yang suhunya tidak jauh berbeda dengan suhu air di kolam. Setelah telur menetas maka pada hari ke-2 larva diberi pakan alami hasil budidaya. Pakan alami diperoleh dengan cara menyerok kolam pakan alami menggunakan serokan dari bahan nilon dengan ukuran 45 mikron lalu dimasukkan ke kolam pemeliharaan larva. Pemberian pakan alam semakin bertambah jumlahnya dengan bertambahnya umur larva sambil diperkenalkan pakan buatan/pelet baik yang berbentuk tepung atau butiran (Redjeki, 2007).


PERAN IKAN DEWA ATAU KANCRA DI PERAIRAN

Di perairan Waduk Dharma yang ada di Kab. Kuningan sudah tidak ditemukan lagi jenis ikan tersebut. Untuk itu dilakukan upaya pengembangbiakan yang meliputi pematangan gonad, pemijahan, pemeliharaan larva dan pembesaran di tangki atau kolam tanah (Redjeki, 2007). Ikan ini menjadi penyeimbang ekosistem di perairan aslinya.


UPAYA PENELITIAN IKAN DEWA ATAU KANCRA

Sampai dengan saat ini Balai TNGC belum melakukan penelitian terhadap Ikan Dewa sehingga populasi, morfologi dst belum diketahui secara pasti. LIPI pernah dikabarkan telah melakukan penelitian terhadap Ikan Dewa. Namun belum ada kabar selanjutnya.

PENULIS

Rizqi Agung

FPIK Universitas Brawijaya


EDITOR

Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya


DAFTAR PUSTAKA

Gambar Ikan Dewa: https://www.youtube.com/watch?v=3Bbiw7KhIrM
http://alamhewandantumbuhan.blogspot.co.id/2015/07/10-binatang-paling-ganas-di-sungai.html

http://memetmulyadi.blogspot.co.id/2013/01/ikan-dewa-labeobarbus-douronensis.html#ixzz3vzfb5PEz

http://memetmulyadi.blogspot.co.id/2013/01/ikan-dewa-labeobarbus-douronensis.html#ixzz3vzfGOmVT

http://travel.kompas.com/read/2014/01/28/1001476/.Ikan.Dewa.dari.Ciremai

http://wiiepratiwi.blogspot.co.id/2011/04/ikan-dewa-kancra-bodas.html

http://www.fishbase.org/summary/Tor-douronensis.html

https://www.academia.edu/8799606/FILUM_CHORDATA

Redjeki, 2007. Perbenihan Ikan Kancra Bodas (Labeobarbus Douronensis) Di Kolam Petani Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, Desember 2007, Jilid 14, Nomor 2: 97-102

No comments:

Post a Comment