Thursday, April 2, 2020

Pengaruh Kesadahan Dalam Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Apa yang Dimaksud dengan Kesadahan Air? Ini Penjelasan Lengkapnya

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Budidaya ikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting saat ini dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Dengan mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh karena itu kemampuan sumberdaya manusia untuk memproduksi ikan budidaya sangat dibutuhkan.

Dalam usaha budidaya ikan pembudidaya harus memperhatikan parameter kualitas air yang mempengaruhi kehidupan ikan. Parameter kualitas air ini meliputi parameter fisika (suhu, kecerahan, kedalaman air, substrat, warna perairan), kimia (pH, DO, alkalinitas, kesadahan, TAN, TOM, nitrat, BOD, karbondioksida), dan biologi. Parameter-parameter tersebut dapat mempengaruhi tingkat kesensitifan ikan yang berakibat pada stress.

Ikan sangat sensitif terhadap perubahan apapun baik itu bersifat eksternal maupun internal. Mahkluk ini sangat cepat merespon segala macam bentuk faktor tersebut untuk tetap mempertahankan homeostasis tubuh sehingga ia tetap bisa bertahan hidup. Perubahan eksternal yang dapat menimbulkan respon stres diantaranya bisa terjadi akibat perubahan lingkungan, kualitas air, penanganan, dan lain sebagainya yang berasal dari luar tubuh ikan. Sedangkan yang termasuk faktor internal adalah yang terkait langsung pada proses yang terjadi di dalam tubuh ikan. Misalnya pada ikan yang terserang penyakit dan ketidaksenimbungan nutrien yang berujung pada kematian.

Salah satu parameter kualitas air yang perlu diperhatikan dalam budidaya adalah kesadahan. Kesadahan dapat berperan baik dalam budidaya ikan karena dapat menstabilkan pH air. Tetapi tingkat kesadahan yang terlalu tinggi juga bisa menyebabkan kematian pada ikan. Oleh karena itu pengendalian terhadap tingkat kesadahan perlu diperhatikan.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh kesadahan dalam budidaya ikan?
Bagaimana cara menganalisa kesadahan pada suatu perairan?

TUJUAN
Mengetahui pengaruh kesadahan dalam budidaya ikan.
Mengetahui cara menganalisa kesadahan pada suatu perairan.

MANFAAT PENULISAN MAKALAH
Hasil penulisan makalah ini diharapakna bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang pengaruh kesadahan terhadap budidaya ikan serta menganalisa kesadahan pada suatu perairan.
TINJAUAN PUSTAKA

PENGERTIAN KESADAHAN
Kesadahan adalah istilah yang digunakan pada air yang mengandung kation penyebab kesadahan. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh adanya logam- logam atau kation-kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca dan Mg, tetapi penyebab utama dari kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Kalsium dalam air mempunyai kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat, khlorida dan nitrat, sementara itu magnesium dalam air kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat dan khlorida. Kesadahan dibagi atas dua jenis kesadahan, yaitu kesadahan sementara (temporer) dan kesadahan tetap (permanen). Kesadahan sementara disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO3-2) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium dan magnesium, kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan atau dengan pembubuhan kapur tohor. Kesadahan tetap disebabkan oleh adanya garam-garam khlorida (Cl-) dan sulfat (SO4-2) dari kalsium dan magnesium, kesadahan ini disebut juga kesadahan non karbonat yang tidak dapat dihilangkan dengan cara pemanasan, tetapi dapat dengan cara lain dan salah satunya adalah proses penukar ion. Tingkat kesadahan di berbagai tempat perairan berbeda-beda, pada umumnya air tanah mempunyai tingkat kesadahan yang tinggi, hal ini terjadi, karena air tanah mengalami kontak dengan batuan kapur yang ada pada lapisan tanah yang dilalui air. Air permukaan tingkat kesadahan-nya rendah (air lunak), kesadahan non karbonat dalam air permukaan bersumber dari industri sulfat yang terdapat dalam tanah liat dan endapan lainnya (Said dan Ruliasih, 2012 dalam Sagala, 2014).

Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air, yang keberadaannya biasa disebut dengan kesadahan air. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Bagi air rumah tangga tingkat kesadahan yang tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak karena sabun menjadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun diikat oleh unsur Ca/Mg. Bagi air industri unsur Ca dapat menyebabkan kerak pada dinding peralatan system pemanasan sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan industri, disamping itu dapat menghambat proses pemanasan. Masalah ini dapat mengakibatkan penurunan kinerja alat yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian. Oleh karena itu persyaratan kesasadahan pada air industri sangat diperhatikan. Pada umumnya jumlah kesadahan dalam air industri harus nol, berarti unsur Ca dan Mg harus dihilangkan sama sekali (Marsidi, 2001 dalam Sagala, 2014).

Kesadahan disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul. Kesadahan juga berasal dari kontak air dengan tanah dan bebatuan. Air hujan sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk melarutkan ion-ion penyusun kesadahan yang banyak terikat di dalam tanah dan batuan kapur, meskipun memiliki kadar karbondioksida yang relatif tinggi. Larutnya ion-ion yang dapat meningkatkan nilai kesadahan tersebut lebih banyak disebabkan oleh aktivitas bakteri di dalam tanah, yang banyak mengeluarkan karbondioksida. Pada Tabel 1 berikut dapat dilihat klasifikasi perairan berdasarkan nilai kesadahannya menurut Peavy et al. (1985) dalam Hastuti et al. (2012).

Tabel 1. Klasifikasi Perairan Berdasarkan Nilai Kesadahan
Nilai Kesadahan
(mg/liter CaCO3)
Klasifikasi Perairan

< 50
Lunak (soft)
50 – 100
Menengah (moderately hard)
150 – 300
Sadah (Hard)
> 300
Sangat Sadah (Very Hard)

Air permukaan biasanya memiliki nilai kesadahan yang lebih kecil dari pada air tanah. Perairan dengan nilai kesadahan kurang dari 120 mg/liter CaCO3 dan lebih dari 500 mg/liter CaCO3 dianggap kurang baik bagi peruntukan domestik, pertanian, industri dan budidaya ikan. Namun, air sadah lebih disukai oleh ikan dari pada air lunak (soft).

Nilai kesadahan diperlukan dalam penilaian kelayakan perairan untuk kepentingan domestik dan perikanan. Kesadahan yang tinggi dapat menghambat sifat toksik dari logam berat, karena kation-kation penyusun kesadahan (kalsium dan magnesium) membentuk senyawa kompleks dengan logam berat. Nilai kesadahan air sungai tempat ikan Botia hidup berkisar 24,221-31,674 menunjukkan nilai kesadahan rendah atau lunak. Tingkat kesadahan ini masih dalam toleransi ikan Botia, terbukti masih adanya ikan yang tertangkap saat kondisi air tersebut (Robin, 2007).

PENGARUH KESADAHAN DALAM BUDIDAYA IKAN
Kesadahan dan salinitas yang saling berinteraksi memberikan pengaruh yang berbeda terhadap laju pertumbuhan harian, berbeda dengan pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup ikan. Proses kerja osmoregulasi yang terjadi karena keadaan hipertonik ikan terhadap lingkungan akan berkurang dengan adanya kondisi salinitas 3 ppt dan cenderung menjadi lebih isotonik. Keadaan ini menyebabkan energi untuk osmoregulasi berkurang dan memberikan dampak lain yaitu peningkatan buangan amonia dan nitrit dalam air. Kesadahan yang mengandung ion kalsium, magnesium dan karbonat serta salinitas yang mengandung unsur dominan ion natrium dan klorida mengakibatkan terjadinya pertukaran ion pada epitelium insang sebagai membran pemisah antara darah dan air. Pertukaran Na+/H+ dan Cl-/HCO3- meningkatkan ekskresi amonia sehingga konsentrasinya dalam air meningkat. Selain itu, ion kalsium dan klorida menyebabkan kitrit kalah bersaing dalam penyerapannya oleh epitelium insang karena epitelium insang cenderung mengikat ion kalsium dan klorida daripada nitrit (Wedemeyer, 1996 dalam Nirmala, 2005). Hal itu menyebabkan konsentrasi nitrit dalam air menjadi tinggi. Semakin banyak kapur yang terkandung dalam air yang mempunyai kesadahan lebih tinggi, kurang baik untuk pertumbuhan ikan seperti terjadi pada perlakuan III sehingga pertumbuhan menurun tajam.

Peningkatan kesadahan difungsikan sebagai penjaga kestabilan nilai pH agar tidak mengganggu keseimbangan (homeostasi) di perairan. Sifat pH yang fluktuatif dapat dikendalikan dengan penyangga (buffer), salah satunya melalui metode pengapuran. Pengapuran akan meningkatkan konsentrasi kesadahan dan/atau alkalinitas sebagai penyangga pH di perairan (Boyd, 1982 dalam Nirmala, 2005). Selain itu kapur yang mengandung kalsium dapat mensuplai kebutuhan kalsium ikan untuk keperluan metabolisme dan pertumbuhannya. Nilai kesadahan yang memberikan pengaruh nyata pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan pada benih ikan patin (Pangasius hypophthalmus) adalah 75 mg/L setara CaCO3 (Nurhidayati, 2000 dalam Nirmala, 2005).

Menurut Sutrisno (2004) dalam Irwanto (2011), kalsium yang konsentrasinya lebih rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh pada ikan, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah yang lebih kecil magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk 18 pertumbuhan tulang, akan tetapi konsentrasi yang lebih besar dari 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual pada ikan.

Kadar optimum kesadahan yang baik untuk budidaya adalah berkisar 120-420 mg/l. Pada umumnya kisaran ini cukup tinggi namun masih mampu ditolerir oleh ikan karena selama proses pemeliharaan tidak menimbulkan efek tertentu pada pembesaran ikan budidaya. Kesadahan pada kolam budidaya disebabkan karena perairan kolam mengandung kalsium, magnesium, sulfat, dan karbonat yang tinggi (Nurhidayati, 2000 dalam Rahmawati, 2015).

CARA MENGANALISIS KESADAHAN DALAM PERAIRAN
Untuk menganalisis tingkat kesadahan dalam suatu perairan dilakukan dengan menggunakan metode spektros-kopi serapan atom untuk mengukur serapan kalsium dan magnesium dalam air sampel. Selanjutnya menggunakan metode kurva kalibrasi dengan ditentukan konsentrasi kalsium dan magnesium di dalam air sampel.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain kalsium karbonat, magnesium oksida, lanthanum klorida, asam klorida, asam nitrat, kalium klorida dan akuades.

Menurut Sulistyani et al. (2012), prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis kesadahan suatu perairan dengan menggunakan menggunakan metode spektros-kopi serapan atom dan kurva kalibrasi adalah sebagai berikut :
Larutan sampel dalam kondisi asam (pH ± 3) dihomogenkan, disaring, kemudian dibagi menjadi 2.
Larutan sampel bagian pertama diambil 50 mL dimasukkan ke dalam gelas beker 100  mL dan dipanaskan hingga setengannya. Setelah dingin, larutan disaring dan dituangkan ke dalam gelas ukur 50 mL. Kemudian larutan ditambahkan akuades hingga tanda batas. Setelah itu, larutan diambil menggunakan pipet 10 mL dimasukkan ke dalam gelas ukur 50 mL, kemudian ditambahkan larutan buffer ionisasi 10 mL dan akuades hingga tanda batas. Selanjutnya, larutan sampel tersebut siap dianalisis kandungan Ca dan Mg-nya dengan menggunakan SSA.
Larutan sampel bagian kedua diambil 10 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL. Kemudian, ditambahkan larutan buffer ionisasi 10 mL dan akuades hingga tanda batas labu ukur. Setelah itu, larutan sampel diukur kandungan Ca dan Mg-nya dengan menggunakan SSA. Serapan kalsium diukur pada daerah panjang gelombang 422,7 nm, sedangkan serapan magnesium diukur pada daerah panjang gelombang 285,2 nm.
Selanjutnya konsentrasi analit ditentukan dengan cara memplotkan nilai absorbansi sampel pada masing-masing kurva kalibrasi, kemudian menarik garis lurus ke bawah. Nilai konsentrasi analit juga dapat ditentukan dengan memasukkan nilai absorbansi analit.

Sedangkan analisis kesadahan dengan itrimetri menurut SNI (06-6989.12-2004) dalam Sagala (2014) adalah sebagai berikut :
Diambil 25 ml contoh uji secara duplo, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 mL, encerkan dengan air suling sampai volume 50 mL.
Ditambahkan 1mL sampai dengan 2 ml larutan penyangga pH 10 + 0,1.
Ditambahkan seujung spatula 30 mg sampai dengan 50 mg indikator EBT.
Dilakukan titrasi dengan larutan baku Na2 EDTA 0,01 M secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah keunguan menjadi biru.
Dicatat volume larutan baku Na2 EDTA yang digunakan. Apabila larutan Na2 EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml.
Diulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian rata-ratakan volume Na2 EDTA yang digunakan.

Menurut Hastuti et al. (2012), hasil kesadahan total yang diperoleh dapat dihitung menggunakan rumus :
Kesadahan total (mg/L)=(mL titran x N titran x 100,1 x 1000)/(mL air sampel)
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat disimpulkan bahwa :
Kesadahan adalah keadaan air yang mengandung ion-ion logam terutama kalsium (Ca) dan magnesium (Mg).
Kesadahan dibagi menjadi dua jenis, yaitu kesadahan sementara (temporer) dan kesadahan tetap (permanen).
Tingkat kesadahan dalam budidaya berpengaruh pada ikan, kesadahan tinggi yang disebabkan oleh banyaknya kandungan kapur dapat menyebabkan dampak buruk bagi pertumbuhan ikan. Tetapi kapur yang mengandung kalsium dapat mensuplai kebutuhan kalsium ikan untuk keperluan metabolisme dan pertumbuhannya.
Metode analisis kesadahan bisa dibagi menjadi tiga jenis, yaitu metode spektros-kopi serapan atom, kurva kalibrasi, dan itrimetri.

SARAN
Dalam pengelolaan kolam budidaya ikan perlu diperhatikan parameter fisika dan kimia yang akan mempengaruhi kelangsungan hidup ikan, salah satunya adalah kesadahan. Oleh karena itu metode analisis tingkat kesadahan perlu disosialisasikan kepada para pengelola budidaya.

PENULIS
Taufik Anshar Prayoga
Karahani L. Rahman 
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Hastuti, Yuni Puji, D. Djokosetiyanto dan Ide Permatasari. 2012. Penambahan Kapur CaO pada Media Bersalinitas untuk Pertumbuhan Benih Ikan Patin Pangasius hypothalamus. Jurnal Akuakultur Indonesia. Departemen Budidaya Perairan. FPIK. IPB. 11 (2) : 168-178.
Irwanto, Robert. 2011. Pengaruh Pembuangan Limbah Cair Industri Tahu terhadap Kualitas Air Sumur di Kelurahan Krobokan Kota Semarang. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang.
Nirmala, K., R. Wulandari dan D. Djokosetiyanto. 2005. Pengaruh Kesadahan pada Media Budidaya Bersalinitas 3 ppt terhadap Laju Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Barbir (Barbus conchonius Hamilton-Buchanan). Jurnal Akuakultur Indonesia. Jurusan Budidaya Perairan. FPIK. IPB. 4 (1): 17-24.
Rahmawati, Novia. 2015. Manajemen Kualitas Air pada Pembesaran Ikan Patin Siam (Pangasianodon hypopthalmus) Kolam Dalam di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang. Artikel Ilmiah. Universitas Airlangga: Surabaya.
Robin. 2007. Inventarisasi Parasit pada Ikan Hias Botia (Botia macracanthus) di Sungai Kelekar, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Akuatik-Jurnal Sumberdaya Perairan. Vol. 2 (1) : 1-7.
Sagala, Hendri Trisno. 2014. Uji Penambahan Media Tanah pada Saringan Pasir Lambat Pipa (SPL-P) terhadap Beberapa Parameter Kimia Air Hasil Penyaringan. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu.
Sulistyani, Sunarto dan Annisa Fillaeli. 2012. Uji Kesadahan Air Tanah di Daerah Sekitar Pantai Kecamatan Rembang Propinsi Jawa Tengah. Jurnal Sains Dasar. Jurusan FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Vol. 1 No. 1 hlm 35-37.

No comments:

Post a Comment