Saturday, March 28, 2020

Pengaruh Rumput Laut (Gracilaria Sp) Dalam Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Harta Karun Itu Bernama Rumput Laut, Ada yang Menyebutnya Emas ...

1.      PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia terkenal sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas perairan. Perairan indonesia kaya akan berbagai jenis sumber hayati dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Salah satunya adalah kaya akan sumber daya alam lautnya terutama rumput laut yang melimpah.

Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga. Tanaman ini adalah gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Berbeda dengan tanaman sempurna pada umumnya, rumput laut tidak memiliki akar, batang dan daun. Jenis rumput laut sangat beragam, mulai dari yang berbentuk bulat, pipih, tabung atau seperti ranting dahan bercabang-cabang. Seperti layaknya tanaman darat pada umumnya, rumput laut juga memiliki klorofil atau pigmen warna yang lain. Secara umum, rumput laut yang dapat dimakan adalah jenis ganggang biru (cyanophyceae), ganggang hijau (chlorophyceae), ganggang merah (rodophyceae) atau ganggang coklat (phaeophyceae).

Indonesia memiliki beragam jenis rumput  laut yang tersebar di perairan indonesia. Beberapa diantaranya telah dimanfaatkan sebagai makanan maupun makanan. Dan beberapa jenis  mempunyai nilai ekonomis, seperti rumput laut penghasil agar (gracilaria sp., gilidium sp., dan hypnea sp.),  alginate (sargassum sp., turbinaria sp., dan padina sp.), karaginan (Eucheuma cottonii/ Kappaphycus alvarezii, E. spinosium, E. edule, E. serra), dan Caulerpa yang dapat digunakan sebagai sayuran. Sedangkan rumput laut yang sudah dimanfaatkan secara komersial adalah rumput laut agarofit seperti Gracilaria dan Gilidium, karaginofit seperti Eucheuma cotonii/Kappaphycus alvarezii dan E. spinosium. (Basmal, 2009).

Menurut widyorini (2010), pemanfaatan rumput laut memiliki peranan penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi pangan dan gizi, kebutuhan akan pasar luar negeri untuk proses industri, memperluas lapangan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan petani serta meningkatkan devisa non migas yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia.

Pemanfaatan rumput laut dewasa ini semakin luas dan beragam, karena peningkatan pengetahuan akan komoditas tersebut. Menurut Chen dan Duan (2000) dalam Priono (2013), rumput laut banyak digunakan sebagai bahan makanan bagi manusia, sebagai bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics, antimehmetes, antihypertensive agent, pengurang kolesterol, dilatory agent, dan insektisida). Rumput laut juga banyak digunakan sebagai bahan pakan organisme di laut, sebagai pupuk tanaman dan penyubur tanah, sebagai pengemas transportasi yang sangat baik untuk lobster dan clam hidup (khususnya dari jenis Ascophyllum dan Focus), sebagai stabilizer larutan, dan juga kegunaan lainnya. Perkembangan produk turunan dewasa ini juga sudah banyak diolah menjadi kertas, cat, bahan kosmetik, bahan laboratorium, pasta gigi, es krim, dan lain-lain (Indriani & Suminarsih, 1999 dalam Priono, 2013).

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh Glacilaria sp. untuk kegiatan budidaya
Apakah ada perbedaan hasil dari penambahan Glacilaria sp. pada kegiatan budidaya

TUJUAN
Mengetahui pengaruh Glacilaria sp. untuk kegiatan budidaya
Mengetahui apakah ada perbedaan hasil dari penambahan Glacilaria sp. pada kegiatan budidaya

2.      PEMBAHASAN

KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI GLACILARIA SP
Klasifikasi Gracilaria verrucosa menurut Anggadiredja et al. (2006) dalam Puspasari (2010), adalah:
Divisi
Rhodophyta
Kelas
Rhodophyceae
Bangsa
Gigartinales
Suku
Gracilariaceae
Genus
Gracilaria
Spesies
Gracilaria verrucosa

Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri thalus silindris, halus, licin, pinggir bergerigi, membentuk rumpun radial seperti umbi tanaman jahe, percabangan berseling tidak beraturan dan memusat ke 6 arah pangkal. Ukuran thalus panjang 25 cm dan diameter thalus 0,5 – 1,5 mm (Bold dan Wayne, 1978 dalam Suhardimansyah, 2004 dalam Puspasari 2010).

HABITAT DAN PENYEBARAN GLACILARIA SP
Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-faktor oseanografi (fisika, kimia, dan dinamika air laut), serta jenis substratnya. Rumput laut banyak dijumpai pada daerah perairan yang dangkal (intertidal dan sublitorral) dengan kondisi perairan berpasir, sedikit lumpur, atau campuran keduanya (Priono, 2013).

Gracilaria sp. tumbuh melekat pada substrat batu, umumnya di daerah rataan terumbu karang. Di perairan laut, Gracilaria sp. hidup di daerah litoral dan sublitoral sampai kedalaman tertentu yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Beberapa jenis hidup di perairan keruh, sungai, atau tempat yang sering terjadi pengadukan yang tinggi akibat pencampuran air tawar dan air laut (Bold dan Wayne, 1978 dalam Suhardimansyah, 2004 dalam Puspasari 2010).

Glacilaria sp. adalah salah satu kelas dari alga merah yang tumbuh melekat pada substrat tertentu. Glacilaria sp. Ialah salah satu jenis rumput laut dari kelas Rhodophyceae yng termasuk kelompok penghasil agar. Glacilaria sp meruakan jenis rumput laut yang mempunnyai toleransi tinggi terhadap lingkungannya, dapat hidup di perairan yang tenang pada substrat berlumpur, kisaran salinitas antara 5-43% dan pH berkisarantara 6-9 (Hoyle, 1975 dalam Widyorini, 2010).

Rumput laut jenis Glacilaria sp. dapat hidup pada suhu 27-29 0C sesuai dengan pengamatan Santika (1985) dalam Widyorini (2010), selama percobaannya berlangsung suhu air rata – rata 27-29 0C, hal tersebut tidak memberikan efek negative terhadap pertumbuhan thallus. 

PENGARUH GLACILARIA SP UNTUK KEGIATAN BUDIDAYA
pada umumnya pemanfaatan rumput laut Glacilaria sp. digunakan sebagai bahan pembuat agar-agar. Akan tetapi rumput laut tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk bebrapa hal yang bermanfaat untuk kegiatan budidaya.

RUMPUT LAUT GLACILARIA SP. DAPAT MEMPERBAIKI KUALITAS AIR PADA PERAIRAN
Menurut Widyorini (2010), fungsi penanaman Gracilaria sp. ada manfaatnya sebagai biofilter. Gracilaria sp memiliki thallus yang berfungsi mengabsorbsi dan menyerap bahan-bahan  organic pada perairan seperti nitrogen dan forfor sisa dari limbah organisme pada perairan umum atau budidaya. Sifat inilah yang membuat gracilaria sp. tergolongkan sebagai tanaman biofilter dan juga digunakan sebagai media fitoremediasi. fitoremediasi yaitu suatu teknologi pemanfaatan tumbuhan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kehadiran bahan pencemar didalam tanah dan air (Komarawidjaja, 2005)

Rumput laut Glacilaria sp. dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya tambak untuk memperbaiki kualitas air tambak dari polusi bahan organic yang berasal dari sisa pakan yang terakumulasi di dasar tambak. Dengan sifat fitoekstraksi, dinding thalus pada flora ini memiliki kemampuan mengabsorbsi dan memanfaatkan  nitrogen dan fosfor bahan pencemar bagi pertumbuhannya.

Rumput laut ini termasuk salah satu tanaman alternative yang dapat digunakan dalam perbaikan lingkungan, karena memiliki kemampuan yang signifikan dalam menyerap nutrient dari lingkungan perairan eutrofik. Selain itu Glacilaria sp. mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang sangat menonjol, baik terhadap perbedaan salinitas, cahaya matahari maupun perubahan suhu yang tinggi.  

RUMPUT LAUT DIMANFAATKAN SEBAGAI BAHAN PUPUK ORGANIC
Pupuk organic adalah pupuk yang terbuat dari bahan organic. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organic yaitu pupuk kandang, kompos, gambut, dan rumput laut.

Penggunaan rumput laut sebagai bahan dasar pupuk organic sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan. Padahal pupuk organic sangat berguna bagi kegiatan budidaya untuk meningkatkan unsur hara, memperbaiki unsur tanah, serta dapat menumbuhkan pakan alami pada kolam budidaya.

Rumput laut kaya akan trace mineral Fe, B, Ca, Cu, Cl,Mg, dan Mn, rumput laut juga mengandung ZPT seperti auksin, sitokinin, giberelin, asam abisat, etilen, P, S, Zn, dan Boron (B) yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman (Anon., 2008; Anon., 2009 dalam Basmal, 2009). Hasil analisis menunjukkan bahwa rumput laut mengandung nitrogen 1,00%; fosfor 0,05%; kalium potasium 10,00%; kalsium 1,20%; magnesium 0,80%; sulfur 3,70%; tembaga 5 ppm; besi 1200 ppm; mangan 12 ppm; seng 100 ppm; boron 80 ppm; senyawa organik 50–55% dan kadar abu 45–50% (Anon., 2009b dalam Basmal, 2009). Rumput laut dari jenis Laminaria sp., Sargassum sp., Turbinaria sp., Eucheuma sp., dan Gracilaria sp. dapat secara langsung digunakan sebagai pupuk organik atau dicampur dengan pupuk lainnya seperti pupuk kompos dan kimia. Keistimewaan rumput laut sebagai pupuk organik dikarenakan rumput laut menghasilkan giberelin yang memiliki fungsi sebagai ZPT. ZPT berfungsi meningkatkan produksi buah, sayuran, bunga serta memperpanjang usia tanaman. Selain itu ZPT juga dapat memperbaiki struktur tanah. Dimana hal tersebut dapat menguntungkan untuk proses pemupukan pada kolam budidaya.

Zia (1990) dalam Zahid (1999) dalam Basmal (2009), melaporkan bahwa pupuk organik dari rumput laut sangat berguna untuk peningkatan pertumbuhan dan peningkatan produksi tanaman dikarenakan adanya bahan organik dan anorganik yang dapat meningkatkan penyerapan nutrisi (nutrient uptake) serta membantu proses asimilasi karbohidrat dan protein tanaman.

EKSTRAK RUMPUT LAUT SEBAGAI AGEN IMUNOSTIMULAN SISTEM PERTAHANAN
Selain digunakan sebagai bahan pembuatan agar-agar dan bahan pangan lainnya, rumput laut dapat diekstraksi sebagai agen imunostimulan system pertahanan pada organisme budidaya Rumput laut merupakan alga multiselular yang mengandung substansi yang aktif secara imunologi. Pemanfaatan rumput laut selama ini masih terbatas pada produk karagenan dan agar. Potensi rumput laut di bidang pengendalian penyakit masih belum banyak di eskplorasi dan di eksploitasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rumput laut mempunyai prospek yang masih terbuka pengembangannya untuk bidang pengendalian penyakit. Ekstrak rumput laut telah diketahui mempunyai aktivitas sebagai antitumor, meningkatkan aktivitas kemotaksis macrophage, menstimulasi aktivitas sekresi radikal oksigen dan fagositosis pada peritonial and splenic murine macrophage (Putra, 2014).

Tingginya tingkat mortalitas udang budidaya diduga disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri patogen. Salah satu penanggulangannya dan pencegahannya adalah melalui peningkatan sistem pertahanan tubuh udang dengan menggunakan imunistimulan, vitamin dan hormone (Ridlo dan Pramesti,2009).       

Gracilaria verrucosa merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai imunostimulan karena memiliki kandungan berupa komponen agar yang di dalamnya terdapat senyawa polisakarida (Anggadiredja, 2006 dalam Puspasari, 2010). Selain itu, penggunaan bahan ini dinilai aman dalam penggunaannya karena tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan serta bahan ini mudah diperoleh (Puspasari, 2010).
Polisakarida dari alga merah (karageenan) dapat meningkatkan aktivitas phagocytic macrophage. Polisakarida diketahui merupakan komponen essensial bagi semua organisme dan mempunyai berbagai fungsi vital biologis diantaranya adalah sebagai antitumor, antiinflamasi, antikoagulan, antikomplementer, imunologi dan antivirus (Ridlo dan Pramesti,2009).

imunostimulasi merupakan cara untuk memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan bahan yang merangsang sistem tersebut. Sedangkan imunostimulan adalah suatu bahan yang dapat meningkatkan resistensi (kekebalan) organisme terhadap infeksi patogen dengan meningkatkan mekanisme respon imun non spesifik seperti sistem fagositik. Penggunaan imunostimulan sekarang ini banyak dikembangkan dalam dunia budidaya ikan. Hal ini terkait dengan pengurangan  penggunaan bahan kemoterapi pada ikan yang dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri tertentu (Puspasari, 2010).

Imunostimulan dapat diberikan melalui pakan dalam jangka waktu yang lama, cara ini telah memberikan keuntungan yang nyata melebihi penggunaan vaksin di kegiatan budidaya. Penambahan bahan imunostimulan melalui pakan dapat diberikan dalam jangka waktu 2 – 6 minggu (Treves-Brown, 2000 dalam Puspasari, 2010).

Sistem pertahanan tubuh non spesifik udang L. vannamei terhadap aplikasi imunostimulan dari rumput laut ditunjukkan oleh gambaran hematositnya yaitu jumlah total hemosit dan aktivitas fagositosis. Hemosit merupakan salah satu bentuk pertahanan tubuh secara selular. Hemosit mampu mematikan agen penyebab infeksi melalui sintesis dan eksositosis molekul bioaktif protein mikrobisidal (smith et al., 2003 dalam Ridlo dan Pramesti, 2009). Faktor-faktor immunoreaktif seperti peroxinextin, peptida antibakteri dan clotting components disimpan dalam hemosit, sehingga peningkatan jumlah hemosit merupakan ukuran kemampuan suatu zat untuk menstimulasi system pertahanan tubuh udang (Ridlo dan Pramesti, 2009).

Menurut hasil penelitian Ridlo dan Pramesti  (2009), Suplementasi ekstrak rumput laut Dictyota sp., Gracilaria sp., Padina sp. dan Sargassum sp. pada dosis 10 g/ kg pakan mampu meningkatkan jumlah total hemosit dan aktivitas fagositosis udang L. vannamei. Sedangkan Menurut hasil penelitian Puspasari (2010), menunjukkan bahwa ekstrak Gracilaria verrucosa cukup efektif digunakan sebagai bahan imunostimulan untuk meningkatan sistem imun pada ikan lele dumbo. Dosis yang paling baik dari hasil penelitian ini adalah 1,0 g/kg pakan.
Dari kedua sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa rumput laut glacilaria sp. dapat digunakan untuk peningkatan system pertahanan imunitas pada udang dan pada ikan. Dan tentunya dapat menjadi pilihan terbaik untuk menjaga serta meningkatkan produktivitas budidaya.

PERBEDAAN HASIL DARI PENAMBAHAN GLACILARIA SP PADA KEGIATAN BUDIDAYA
Menurut hasil penelitian Reksono et al. (2012), pertumbuhan bobot mutlak ikan sampel pada system polikultur dengan Gracilaria Sp. dipengaruhi oleh semakin meningkatnya kepadatan  Gracilaria sp. sedangkan pertumbuhan Gracilaria sp. dipengaruhi oleh adanya populasi ikan bandeng.

Rendahnya pertumbuhan bobot ikan pada perlakuan A (tanpa adanya Gracilaria sp.) disebabkan karena ikan bandeng hanya memakan pakan alami berupa plankton dan klekap yang tumbuh karena memanfaatkan unsure hara dari hasil dekomposisi bahan organikpada pemupukan awal di dasar tambak. Sedangkan tingginya pertumbuhan ikan pada polikultur dengan Gracilaria sp., mendapatkan pakan alami berupa plankton dan klekap, serta ikan memanfaatkan organisme epifit pada thallus Gracilaria sp.

ikan – ikan dalam perairan memanfaatkan organism epifit pada thallus Gracilaria sp. sebagai pakan alami. Oksigen terlarut yang bersal dari gerakan air akibat dari aktivitas ikan ikan sangat berpengaruh terhadap kecepatan perubahan suspensi bahan organic menjadi unsure hara yang dibutuhkan oleh Gracilaria sp. untuk pertumbuhannya. (Reksono et al., 2012)

3. PENUTUP

KESIMPULAN
Pada umumnya pemanfaatan rumput laut Gracilaria sp. digunakan sebagai bahan pembuat agar-agar. Akan tetapi rumput laut tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk bebrapa hal yang bermanfaat untuk kegiatan budidaya. Beberapa contohnya yaitu:
Gracilaria sp. dimanfaatkan sebagai biofilter untuk memperbaiki kualitas air pada suatu perairan
Gracilaria sp. digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organic yang nantinya berguna untuk proses pemupukna pada kegiatan budidaya.
Ekstrak rumput laut Gracilaria sp. digunakan sebagai agen imunostimulan system pertahanan pada organisme budidaya yang nantinya akan berpengaruh pada produktivitas budidaya.
         
Dari hasil penelitian beberapa sumber, didapatkan perbedaan dari penambahan glacilaria pada kegiatan budidaya yang rata-rata menunjukkan efek positif bagi kegiatan budidaya.  

SARAN
Diharapkan untuk kedepannya diadakan penelitian yang lebih mendalam mengenai pengaruh rumput laut Gracilaria sp. terhadap perairan umum maupun kegiatan budidaya ikan.

PENULIS
Wahyu Widia Ningrum
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Basmal,J.2009.Prospek Pemanfaatan Rumput Laut Sebagai Bahan Pupuk Imunostimulan Sistem Pertahanan Non Spesifik Pada Udang (Litopennaeus vannamei). 14 (3): 133-137
Komarawidjaja, W. 2005. Rumput laut Glracilaria sp. Sebagai Fitoremedian Bahan Organik Perairan Tambak Budidaya. 6(2): 410-415 
Organik. Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. 4(1): hal 2
Priono, B. 2013. Budidaya Rumput Laut Dalam Upaya Penigkatan Industrialisasi Perikanan. Pusat Penenlitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya. 8(1): hal 2
Puspasari, N. 2010. Efektivitas Ekstrak Rumput Laut Gracilaria Verrucosa Sebagai Imunostimulan Untuk Pencegahan Infeksi Bakteri Aeromonas Hydrophila Pada Ikan Lele Dumbo Clarias Sp. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 89 hlm.
Putra, M., Maulana. 2014. Efektifitas Ekstrak Rumput Laut (Gracilaria Sp) Sebagai Imunostimulan Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Yang Diinfeksi Bakteri Aeromonas Hydrophila. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan. Universitas Muhammadiyah Malang. 44 hlm
Reksono, B. H, Hermani. Yuniarti. 2012. Pengaruh Padat Penebaran  Gracilaria Sp. Terhadap Pertumbuan Dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Pada Budidaya System Polikultur. Jurnal perikanan dan kelautan. 3(3):41-49.
Ridlo, A. dan R, Pramesti. 2009. Aplikasi Ekstrak Rumput Laut Sebagai Agen
Widyorini, N. 2010. Analisis Pertumbuhan Gracilaria sp. Di Tambak Udang Ditinjau Dari Tingkat Sedimentasi. 6(1):30-36

No comments:

Post a Comment