Friday, March 27, 2020

Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) (Limnologi Atau Limnology)


Penyelaman, Udara, Oksigen, Kringel, Cincin Udara

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Limnologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sifat struktur perairan daratan yang meliputi mata air, sungai, danau, kolam, dan rawa-rawa, baik yang berupa air tawar maupun air payau. Limnologi erat kaitannya dengan budidaya, ini karena di budidaya mempelajari parameter-parameter yang berpengaruh ke pada budidaya yang dilakukan. Limnologi juga mengkaji perairan dengan parameter bagaimana yang baik untuk budidaya.

Parameter yang diukur pada limnologi meliputi parameter fisika dan parameter kimia, parameter fisika meliputi Suhu, Kecepatan arus, Kecerahan, Kedalaman, Substrat dan Warna Perairan. Sedangkan parameter kimia meliputi pH, Alkalinitas, TAN, Nitrit, Nitrat, Orthofosfat, BOD, TOM dan DO. Parameter tersebut sangat berpengaruh terhadap budidaya.

Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air.

DO merupakan oksigen terlarut yang digunakan untuk mengukur kualitas kebersihan air. Semakin besar nilai kandungan DO menunjukan bahwa kualitas airtersebut  semakin bagus (Prahutama, 2013).

RUMUSAN MASALAH
Apa itu DO (Dissolved Oxygen)?
Faktor apa saja yang memepengaruhi DO (Dissolved Oxygen)?
Hubungan DO (Dissolved Oxygen) dengan Parameter lain?
Pengaruh DO (Dissolved Oxygen) Terhadap Budidaya?

TUJUAN
Untuk mengetahui apa itu DO (Dissolved Oxygen)
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi DO (Dissolved Oxygen)
Untuk mengetahui hubungan DO (Dissolved Oxygen) dengan parameter lainnya
Untuk mengetahui pengaruh DO (Dissolved Oxygen) terhadap budidaya

BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN DO (DISSOLVED OXYGEN)
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar.

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) merupakan kebutuhan dasar tanaman dan hewan dalam air. Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintetis tanaman air dan udara yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas serta dinyata-kan dalam satuan ppm (part per million). Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau energi untuk pertumbuhan dan pembiakan (Salmin, 2005 dalam Allbab et al,. 2016).

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DO (DISSOLVED OXYGEN)
Suhu lingkungan merupakan pengaruh yang kuat terhadap proses karenaspesies berbeda mempunyai ranah suhu yang sempit untuk kegiatan optimal. Tanpaadanya oksigen, keadaan anoksik atau hipoksik terbentuk dan jasad renik anaerobmengambil alih degradasi dan dekomposisi bahan organik. Pada kenyataan oksigen,oksigen molekuler bersifat racun terhadap aerob.

Kelarutan oksigen molekuler di dalam air di pengaruhi oleh (1) tekanan bagian oksigen ketika kontak dengan air (2) suhu dan (3) kadar garam. Suhu sekeliling mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kelarutan oksigen dalam air."engan demikian, kelarutan oksigen dalam air menurun sesuai meningkatnya suhu.

Tanaman dapat mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadapkandungan oksigen terlarut melalui fotosintesis dan pernapasan. Fotosintesis terjadi pada siang hari tetapi pernapasan oleh tanaman terjadi selama daur ulang harian. Masuknya oksigen fotosintesis pada siang hari tetapi penggunaan terus menerus darioksigen terlarut pada pernapasan. "alam proses ini menyebabkan peningkatan oksigen terlarut maksimum pada sore hari. Produksi dan penggunaan oksigen terlarut di pengaruhi oleh intensitas cahaya, biomassa tanaman, dan suhu air. Pada cuaca mendung, produksi oksigen fotosintesis sangat rendah.

Menurut (Bangsa, 2015),Kotoran yang banyak akan menyebabkan kualitas air disekitarnya menjadi buruk. Sementara kebutuhan oksigen meningkat, tetapi ketersediaan oksigen air buruk sehingga ikan akan kekurangan oksigen dalam darah. Akibatnya ikan menjadi stres dan terganggu keseimbangannya.

Ketika suhu meningkat maka aktivitas penyerapan oksigen oleh eritrosit meningkat. Tubuh ikan mengompensasi perubahan kekurangan oksigen tersebut dengan meningkatkan jumlah eritrosit. (Bozorgnia et al. (2011) dalam Bangsa, 2015)

HUBUNGAN DO (DISSOLVED OXYGEN) DENGAN PARAMETER LAIN

SUHU
Suhu atau temperatur sangat berpengaruh terhadap oksigen terlarut karena suhu juga mempengaruhi terhadap parameter yang mempengaruhi oksigen, apabila suhu meningkat maka oksigen terlarut akan menurun  ini dikarenakan metabolisme organisme yang meningkat mengakibatkan konsumsi oksigen tiggi, kadar oksigen menurun dan karbondioksida meningkat.

Peningkatan temperatur mengakibatkan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatilisasi. Peningkatan temperatur juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya O2, CO2, N2, CH4. (Hamzah, 2003 dalam Tafonao, 2011).

Peningkatan temperatur sebesar 1o C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Boyd, 1988 dalam Tafonao, 2011).

SALINITAS
Salinitas mempengaruhi oksigen terlarut karena salinitas merupakan parameter yang mempengaruhi berbagai parameter yang berhubungan dengan oksigen terlarut, saat salinitas naik oksigen akan menurun ini dikarenakan saat salinitas naik kapasitas perairan yang mengikat oksigen akan berkurang dan mengakibatkan oksigen terlarut menurun.

Semakin tinggi salinitas media makin rendah kapasitas maksimum kelarutan oksigen dalam air (Smith, 1982 dalam Tafanao, 2011).

BAHAN ORGANIK (TOM)
Bahan organik mempengaruhi kadar oksigen terlarut dikarenakan, bahan organic yang tinggi akan mengakibatkan akumulasi yang tinggi oleh sisa pakan yang di rombak oleh bakteri aerob dan menurunkan kadar oksigen terlarut.

Hasil pengamatan terhadap pola perubahan konsentrasi oksigen menunjukkan adanya kecenderungan penurunan konsentasi oksigen terlarut pada semua model ekosistem selama penelitian. Diperkirakan, hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan konsumsi oksigen karena akumulasi bahan organik akibat akumulasi sisa pakan. (Izzati, 2010).

PENGARUH DO (DISSOLVED OXYGEN) TERHADAP BUDIDAYA
Oksigen memegang peranan penting bagi mahluk hidup. Jumlah oksigen yang ada dalam air dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/bagian per sejuta). Besarnya DO optimal untuk budidaya adalah 4 – 7,5  ppm, karena sesuai dengan kebutuhan udang/ikan.

Ikan memerlukan oksigen untuk menghasilkan energi  untuk beraktivitas, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Selain itu, oksigen yang cukup diperlukan karena proses penguraian bahan organik di air dibantu oleh bakteri-bakteri aerob (hanya bisa hidup dengan kadar oksigen yang cukup) yaitu bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter. Jika kadar oksigen sedikit, bakteri tidak dapat hidup sehingga proses dekomposisi tidak dapat berlangsung. Hal ini yang menyebabkan terjadinya peracunan air oleh bahan organik yang tertumpuk di dasar kolam.

Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah juga dapat mematikan ikan atau udang. Gejala kekurangan oksigen di air ditandai dengan naiknya ikan atau udang ke permukaan air. Jika hal itu terjadi, langkah yang segera harus dilakukan adalah penebaran kapur dolomite, karena dolomite dapat mengikat karbon dioksida.

Besar-kecilnya DO ditentukan oleh temperatur air dan udara, tekanan barometrik udara, jumlah tumbuhan air baik yang berupa tumbuhan besar maupun dalam bentuk phytoplankton, kadar mineral dan Biological Oxygen Demand (BOD).

Di kolam, air permukaan seringkali kurang dari 50% saturasinya dengan DO pada waktu subuh dan diatas 200% saturasinya pada siang-sore hari. Supersaturasi DO jarang berbahaya terhadap ikan atau udang. Namun demikian, supersaturasi air dengan udara bisa menjadi masalah utama pada ikan trout atau hatchery lain yang mengakibatkan trauma gas bubble.

DO dalam kolam dengan air statis sangat sulit, karena plankton, benthos, dan organisme lain menggunakan DO lebih banyak daripada yang digunakan oleh species budidaya.

Konsumsi oksigen merupakan pengkuantitatifan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh suatu organisme (ikan). Konsumsi oksigen pada ikan digunakan sebagai parameter laju metabolisme pada ikan dalam satuan mg/g/jam (Julian, 2003 dalam Rukka, 2012).

Oksigen dibutuhkan oleh organisme aquatic untuk membantu proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh. Oksigen yang masuk tersebut mengalami proses respirasi insang. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Wibowo dkk. (1987) dalam Rukka, 2012)

kadar oksigen yang rendah akan mengganggu kehidupan organisme (Lesmana, 2001 dalam Rukka, 2012).

Menurut Hurkat (1976) dalam Rukka, 2012, konsumsi oksigen pada hewan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu aktivitas tubuh, ukuran tubuh, tinggi badan, umur, dan berat badan.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
DO (Dissolved Oxygen) merupakan oksigen terlarut yang ada di perairan yang merupakan salah satu parameter penting di limnology. Oksigen terlarut dipengaruhi oleh bebagai faktor yaitu Fotosintesis, Difusi, Respirasi dan lain-lain. Oksigen terlarut juga berhubungan dengan berbagai parameter lain antara lain Suhu, Salinitas dan TOM atau kandungan bahan organik. Dalam bidang bududaya oksigen terlarut sangatlah penting ini dikarenakan oksigen terlarut diperlukan untuk metabolisme organisme air. Konsumsi oksigen terlarut dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu Jenis, Umur, Aktivitas dan lain-lain.


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Allbab, Ulill., Very Dermawan dan Donny Harisuseno. 2016. Studi Analisis Nilai Sebaran Kadar Oksigen Terlarut Dalam Aliran (Do) Pada Hulu Dan Hilir Bangunan Bendung Di Daerah Irigasi Tumpang Kabupaten Malang. Fakultas Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya. Malang
Bangsa, Puja Cikal., Sugito., Zuhrawati., Daud, Razali., Asmilia, Nuzul dan Azhar. 2015. Pengaruh Peningkatan Suhu Terhadap Jumlah Eritrosit Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Medika Veterinaria. 9(1)
https://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen_terlarut
http://kurakurabelajarberenang.blogspot.co.id/2015/06/pendefinisian-limnologi-pembentukan.html
http://medanlobster.blogspot.co.id/2011/08/managemen-oksigen-dissolved -oxygen-do.html
Izzati, Munifatul. 2010. Perubahan Konsentrasi Oksigen Terlarut dan pH Perairan Tambaksetelah Penambahan Rumput Laut Sargassum plagyophyllum dan Ekstraknya. Jurusan Biologi FMIPA UNDIP
Prahutama, Alan. 2013. Estimasi Kandungan Do (Dissolved Oxygen) Di Kali Surabaya Dengan Metode Kriging. Statistika MIPA UNDIP. 1(2)
Rukka, Dian Pratiwi. 2012. Pengaruh Kepadatan Berbeda Terhadap Konsumsi Oksigen Pada Juvenil Ikan Bandeng (Chanos chanos forsskal). Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Tafonao, Bualazatulo. 2011. Hubungan Temperatur, Oksigen Terlarut Dan Salinitas Dengan Prevalensi Parasit Pada Ikan Kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina). Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa Medan.

No comments:

Post a Comment