Friday, January 10, 2020

Sponge (Haliclona Oculata); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll




Sponge ini ada yang tinggal pada perairan air tawar, laut, maupun tersebar di daerah perairan berpasir halus. Kebanyakan menyukai perairan yang relative rendah. Tinggi dari Haliclona ini bisa mencapai 30 cm dengan cabang – cabang yang agak pipih. Pada dasarnya sponge terdiri dari cabang padat yang tumbuh dari batang pendek melekat pada substratum. Oskulum selalu kecil kira – kira 1 – 3 mm. Umumnya diameter cabang menurun hingga ke ujung buta. Kerangkanya sebagian besar tidak ada, tetapi kadang – kadang beberapa spikula dermal disusun menjadi jaringan isodictyal tangensial. Kebanyakan dari mereka hanya memakan makanan yang berukuran kecil yang dapat masuk ke port – port dermal (species-identification, 2015).

KLASIFIKASI SPONGE
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Porifera
Subphylum
: Cellularia
Class
: Demospongiae
Subclass
: Ceractinomorpha
Order
: Haplosclerida
Suborder
: Haplosclerina
Family
: Chalinidae
Genus
: Haliclona
Species
: Haliclona oculata
Nama Lokal
: Sponge (zipcodezoo, 2015)

MORFOLOGI SPONGE
Haliclona oculata merupakan spesies yang paling primitive dari filum porifera ini. Sebagian spesies ini ada yang hidup di air tawar dan di laut, beberapa ada yang tersebar di daerah berpasir halus. Struktur tubuh hewan ini lunak yang tersusun dari spongia. Ostium tersebar di seluruh permukaan tubuh hewan ini untuk jalan masuknya air. Haliclona berwarna kuning karena memiliki pigmen di ameobosit, oskulum terdapat di ujung dan ada pula di tengah permukaan tubuh, terhubung ke spongocoel.

Bentuk dari hewan ini bercabang-tegak. Percabangannya yaitu dikotomis ( cara percabangannya menjadi dua cabang yang sama besar) dan cabang – cabangnya sederhana dan menyatu, berbentuk silindris di bagian lintas. Dalam kondisi yang ekstrim perpaduan dari cabangnya hampir total, dan meninggalkan bentuk seperti tinju pada ujungnya (habitas, 2015).

REPRODUKSI SPONGE
Beberapa dari kelas Demospongiae adalah hemaprodite. Reproduksi aseksualnya, dimana sel telur berkembang menjadi individu baru tanpa pembuahan. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara bertunas, fragmentasi, atau produksi tahan tubuh bulat disebut gemmulae. Pada hewan ini memiliki jenis kelamin yang terpisah (dioecious ) (Barnes et al., 1993 ).

Perkembbiakan seksual pada hewan ini baik ovum maupun spermatozoid, berkembang dalam sel – sel amebosit khusus yang disebut arkaeosit. Ovum yang telah dibuahi akan tetap tinggal di dalam tubuh induknya. Zigot akan mengalami pembelahan berulangkali, hingga terbentuk larva dan akan keluar melalui oskulum.

FISIOLOGI SPONGE
Sponge memiliki bentuk tubuh berupa pori – pori. Memiliki spikula yang merupakan rangka penyusun tubuh yang tersusun atas kalsium karbonat. Spikula ini ditemukan pada skleroblas. Ostium merupakan kumpulan dari ostia yang tersebar di seluruh permukaan tubuh hewan ini. Ostia ini merupakan pori kecil tempat masuknya air. Selain itu terdapat pori-pori besar tempat keluarnya air yang disebut dengan oskulum.Oskulum terhubung dengan spongeocoel, yaitu rongga dalam porifera tempat untuk menyerap sari – sari makanan (marlin,2015).

PERAN DI PERAIRAN DAN MANFAAT SPONGE
Pada perairan terdapat rantai makanan, begitu pula yang terjadi pada hewan ini. Sponge dapat menjadi sumber makanan bagi jenis – jenis hewan tertentu yang tinggal pada perairan tersebut. Selain itu sponge bias juga dijadikan sebagai tempat untuk berkamuflase oleh beberapa hewan laut. Sponge yang sudah mati bias juga bernilai ekonomis yait dijadikan sebagai alat penggosok atau sebagai hiasan untuk mempercantik aquarium. Tidak hanya terumbu karang, sponge juga mempengaruhi keadaan ekosistem di lautan, sehingga menarik wisatawan untuk mengamatinya.

TINGKAH LAKU SPONGE
Sponge tidak memiliki otot maupun rangka pendukung, sehingga tidak memungkinkan terjadinya suatu pergerakan. Sponge ini menempel pada substrat. Mereka mungkin berkontraksi menggunakan pori – pori yang lebih besar, tetapi ini sangat membatasi dalam bergerak. Sementara untuk air yang membawa makanan masuk ke dalam tubuh melalui pori – pori kecil (ostia), digerakan masuk melalui hentakan flagella sel collar dalam.

Seperti yang kita ketahui suatu organisme yang melekat pada suatu subsurat, harus mempunyai cara untuk menyebar keturunannya ke tempat lain. Untuk tujuan itu sponge menghasilkan larva kecil yang dapat ”berenang” dengan bebas. Larva tersebut memisahkan diri dari induknya dan setelah menemukan tempat hidup yang sesuai larva akan melekat disitu dan berkembang menjadi hewan dewasa.

PENULIS
Ni Putu Tiya Cahyani
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Barnes dalam marlin.2015.http://www.marlin.ac.uk/ diakses pada 4 November 2015 pukul 10.43 WIB
Brotowidjoyo, M. D.1989.Zoologi Dasar.Jakarta:Erlangga
Google image.2015.http://www.googleimage.com/ diakses pada 4 November 2015 pukul 10.10 WIB
Habitas.2015.http://www.habitas.org.uk/ diakses pada 4 November 2015 pukul 10.25 WIB
Marlin.2015.http://www.marlin.ac.uk/ diakses pada 4 November 2015 pukul 10.35 WIB
Species-identification.2015.http://www.species-identification.org/diakses pada 4 November 2015 pukul 10.55 WIB
Zipcodezoo.2015.http://www.zipcodezoo.com/ diakses pada 4 November 2015 pukul 10.15 WIB

No comments:

Post a Comment