Thursday, January 9, 2020

Kerang Hijau; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


Kerang hijau (Perna viridis) termasuk dalam kelas bivalvia ataupelecypoda. BARNES (1974) mengatakan bahwa bentuk kaki pelecypoda merupaka pelebaran dari bagian tubuh yang berbentuk pipih lateral seperti kapak kecil, disebut pelecypoda. Memiliki dua cangkang yang tipis dan simetris yang dapat dibuka tutup; dengan umbo yang melengkung ke depan. Memiliki persendian yang halus dengan beberapa gigi yang sangat kecil. Otot aduktor pada bagian anterior berukuran kecil, bahkan hampir tidak ada (ABBOT, 1974). Menurut BARNES (1974), cangkang Perna viridis berbentuk segitiga lonjong dengan garis-garis pertumbuhan pada cangkang bagian luar yang jelas, dimana pada Perna viridis dewasa memiliki bysus yang kuat untuk menempel. Di Indonesia kerang hijau (P. viridis) memiliki banyak nama daerah (local common name), yaitu di daerah Riau dikenal dengan nama "kemudi kapal; di Banten dengan nama kedaung. Di Malaysia dikenal dengan nama "siput sudu"; di Filipina (tahong); di Thailand (hoimong poo) dan di Singapura dikenal dengan nama "tam cay" atau "chay luan" (KASTORO, 1982). Kerang hijau dapat mencapai panjang maksimum 16,5 cm, tetapi umumnya ditemukan berukuran 8 cm (GOSLING; 2004). Pada bagian tepi luar cangkang berwarna hijau, bagian tengahnya berwarna coklat, dan bagian dalam berwarna putih keperakan seperti mutiara

KLASIFIKASI KERANG HIJAU
Klasifikasi Perna viridis Linnaeus 1758 adalah sebagai berikut, Kerang hijau termasuk kerajaan (Kingdom) Animalia, Filum (Phylum) Moluska, Kelas (Class) Bivalvia, Sub klas (Sub Class), Lamellibranchiata, Bangsa (Ordo) Anisomyria, Induk suku (Superfamily) Mytilacea, Suku (Family) Mytilidae, Anak suku (Sub family) Mytilinae, Marga (Genus) Perna, Jenis (species) Perna viridis (Linnaeus, 1758).
Filum
: Mollusca
Kelas
: Bivalvia
Subkelas
: Lamelibranchiata
Superordo
: Filibrachiata
Ordo
: Anisomaria
Famili
: Mitylidae
Genus
: Perna
Spesies
: Perna viridis L

MORFOLOGI KERANG HIJAU


Secara morfologi kerang hijau (Perna viridis L.) memiliki bentuk cangkang lonjong. Bagian depannya cekung dan bagian belakangnya cembung bagian umbo atau bagian atasnya lancip. Tinggi cangkang dua kali lebarnya Cangkang bagian luar berwarna coklat dan hijau menyala pada bagian pinggiran ventralnya. Semakin tua warna hijaunya semakin terdesak ketepian. Terdapat garis-garis lengkung yang disebut garis pertumbuhan atau garis umur.Cangkang kerang bagian dalam halus dan berwarna putih kepelangian. Pada permukaan bagian dalam cangkang kerang terdapat beberapa otot, yaitu otot adduktor posterior  yang berfungsi sebagai penutup kedua cangkang secara bersamaan, otot retractor anterior dan posterior berfungsi untuk menarik kaki ke dalam cangkang dan otot protactor dan anterior yang berfungsi untuk membantu menjulurkan kaki. Diperkuat menurut Siddal (1980) menyatakan bahwa bentuk cangkang kerang hijau agak meruncing pada bagian belakang, berbentuk pipih pada bagian tepi serta dilapisi periostrakum pada bagian tengah cangkang. Pada fase juvenil, cangkang berwarna hijau cerah dan pada fase dewasa warna mulai memudar dan menjadi coklat dengan tepi cangkang berwarna hijau. Sedangkan pada bagian dalam cangkang berwarna hijau kebiruan. Memiliki garis ventral cangkang yang agak cekung dan keras serta memiliki ligamen yang menghubungkan kedua cangkang kanan dan kiri (Gambar lb). Bagian mulut dilengkapai dengan gigi yang berpautan, yaitu satu pada cangkang sebelah kanan dan 2 pada sebelah kiri. SUWIGNYO et al. (1984) menyatakan bahwa kerang hijau memiliki tiga otot yang berfungsi untuk menempelkan mantel pada cangkang. Pada bagian posterior yang tidak teratur bentuknya, terdapat garis pallial dan otot adduktor yang berbentuk seperti ginjal yang memberi bentuk pada jenis kerang hijau tersebut.

CIRI-CIRI KERANG HIJAU
Kerang hijau (Perna viridis) termasuk binatang lunak (Moluska) yang hidup di laut terutama pada daerah litoral, memiliki sepasang cangkang (bivalvia), berwama hijau egak kebiruan. Insangnya berlapis-lapis (Lamelii branchia) dan berkaki kapak (Pelecypoda) serta memiliki benang byssus. Kerang hijau adalah "suspension feeder", dapat berpindah-pindah tempat dengan menggunakan kaki dan benang "byssus", hidup dengan baik pada perairan dengan kisaran kedalaman 1 m sampai 7 m, memiliki toleransi terhadap perubahan salinitas antara 27-35 per mil (POWER et al., 2004)

HABITAT KERANG HIJAU
Kerang hijau hidup pada perairan estuari, teluk dan daerah mangrove dengan substrat pasir lumpuran serta salinitas yang tidak terlalu tinggi. Umumnya hidup menempel dan bergerombol pada dasar substrat yang keras, yaitu batu karang, kayu, bambu atau lumpur keras dengan bantuan bysus.

Kerang hijau (Perna viridis) atau dikenal sebagai "green mussels" adalah jenis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tersebar luas di perairan Indonesia dan ditemukan melimpah pada perairan pesisir, daerah mangrove dan muara sungai. Di Indonesia jenis ini ditemukan melimpah pada bulan Maret hingga Juli pada areal pasang surut dan subtidal, hidup bergerombol dan menempel kuat dengan menggunakan benang byssusnya pada bendabenda keras seperti kayu, bambu, batu ataupun substrat yang keras.

Kerang hijau memiliki sebaran yang luas yaitu mulai dari laut India bagian barat hingga Pasifik Barat, dari Teluk Persia hingga Filipina, bagian utara dan timur Laut China, Taiwan hingga Indonesia (CARPENTER et al., 1998).

ROMIMOHTARTO & JUWANA (1999) menyatakan bahwa bivalvia mempunyai 3 cara hidup, yaitu; (1) membuat lubang pada substrat seperti cacing kapal "Teredo navalis" (Ship worm); (2) melekat pada substrat dengan segmen seperti tiram (Cassostrea sp); (3) melekat pada substrat dengan benang bysus (bissal threads) seperti kerang kijau (Perna viridis). Kerang hijau hidup pada perairan estuari, teluk dan daerah mangrove dengan substrat pasir lumpuran serta salinitas yang tidak terlalu tinggi. Umumnya hidup menempel dan bergerombol pada dasar substrat yang keras, yaitu batu karang, kayu, bambu atau lumpur keras dengan bantuan bysus. Kerang hijau tergolong dalam organisme/hewan sesil yang hidup bergantung pada ketersediaan zooplankton, fitoplankton dan material yang Gambar lb. Bagian-bagian cangkang kerang hijau (GOSLING, 2004).

kaya akan kandungan organik. Benih kerang hijau akan menempel pada kedalam 1,50-11,70 meter di bawah permukaan air pada saat pasang tertinggi. YANG (dalam TAN, 1975) menyatakan bahwa kedalaman ideal untuk penempelan kerang hijau adalah 2,45-3,96 meter.

Pencemaran lingkungan merupakan faktor utama yang dapat menghambat kelangsungan hidup kerang hijau. RAJAGOPAL et al. (1994) menyatakan suhu yang tinggi / daerah tropis dapat menjadi kontrol bagi kelangsungan hidup jenis tersebut. Hasil penelitian kerang hijau di daerah tropis menunjukkan bahwa jems ini akan mati oleh suhu 43 °C hanya dalam waktu 30 menit, dan pertumbuhan juvenil yang sangat singkat. Ratarata perkembangan bysus akan menurun seiring dengan kenaikan suhu dan byssus berhenti berkembang pada suhu 35-37°C (KASTORO 1982).

REPRODUKSI KERANG HIJAU
Kerang berkembang biak secara kawin. Umumnya berumah dua dan pembuahannya internal. Telur yang dibuahi sperma akan berkembang manjadi larva glosidium yang terlintang oleh dua buah katup. Ada beberapa jenis yang dari katupnya keluar larva panjang dan hidupsebagai parasit pada hewan lain, misalnya pada ikan. Setelah beberapa lama larva akan keluar dan hidup sebagaimana nenek moyangnya. Dalam reproduksinya, Hewan ini memiliki alat kelamin yang terpisah atau diocious, bersifat ovipora yaitu memiliki telur dan sperma yang berjumlah banyak dan mikroskopik

Kerang hijau merupakan salah biota laut yang mampu bertahan hidup dan berkembang biak pada tekanan ekologis yang tinggi tanpa mengalami gangguan yang berarti. Dengan sifat dan kemampuan adaptasi tersebut, maka kerang hijau telah banyak digunakan dalam usaha budidaya. perikanan. Dengan hanya menggunakan atau menancapkan bambu atau kayu ke dalam perairan yang terdapat banyak bibit kerang hijau, maka kerang tersebut dengan mudah menepel dan berkembang tanpa harus memberi makan.

TINGKAH LAKU KERANG HIJAU
Dilihat dari cara makan maka kerang hijau termasuk dalam kelompok suspension feeder, artinya untuk mendapatkan makanan, yaitu fitoplankton, detritus, diatom dan bahan organik lainnya yang tersuspensi dalam air adalah dengan cara menyaring air tersebut. TAN (dalam SUWIGNYO et al., 1984)menyatakan bahwa diatom dan detritus adalah merupakan makanan utama kerang hijau, sedangkan larva bivalvia dan gastropoda yang bukan merupakan makanannya dikeluarkan dalam bentuk pseudofaces yang terbungkus dengan lendir. FOX dalam TAN (1975) juga mengatakan bahwa kerang hijau lebih menyukai diatom dibandingkan dengan dinoflagellata sebagai makananya, dimana secara kwalitatif jenis ini dapat memilih (selektif) makananya. TAN {dalam SUWIGNYO et al., 1984) juga mengatakan bahwa kerang hijau selalu aktif 24 jam menyaring makanannya secara terus menerus. JORGENSEN (dalam GIERSE & PEARSE, 1979) menyatakan bahwa makanan yang tersuspensi dalam perairan dimanfaatkan oleh kerang dengan jalan menyaring air teresebut. Bahkan jenis lain, yaitu Mytilus edulis juga mampu melakukan seleksi antara fitoplankton sebagai makanannya dengan partikel lumpur yang bukan makanannya. JORGENSEN (dalam TAN, 1975) menyatakan bahwa hewan suspension feeder dalam memilih dan atau mengambil makanannya didasarkan pada bentuk, ukuran dan kelimpahan, bukan berdasarkan kualitas atau nilai gizinya.

PERTUMBUHAN KERANG HIJAU
Induk kerang hijau yang telah matang kelamin mengeluarkan sperma dan sel telur kedalam air sehingga bercampur dan kemudian terjadi pembuahan, telur yang telah dibuahi tersebut setelah 24 jam kemudian menetas dan tumbuh berkembang menjadi larva kemudian menjadi spat yang masih bersifat planktonik hingga berumur 15-20 hari kemudian benih/ spat tersebut menempel pada substrat dan akan menjadi kerang hijau dewasa (Induk) setelah 5 – 6 bulan kemudian.

MANFAAT KERANG HIJAU
Manfaat kerang hijau tidak hanya sebagai bahan pangan manusia, tapi juga dapat menjadi bahan baku pakan ternak dan perikanan, seperti untuk induk ikan dan lobster. Kerang dapat pula sebagai biofilter atau organisme penyaring yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan. Hal ini tergambarkan dalam konsep IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture), yaitu metode budidaya yang memafaatkan kerang sebagai organisme perbaikan lingkungan.

PERAN KERANG HIJAU DI PERAIRAN
Kerang hijau telah banyak digunakan ilmuwan untuk memantau pencemaran perairan. Program “Mussel Watch” yang dicanangkan oleh dunia internasional juga menggunakan jaringan lunak dari kerang bivalvia untuk memantau polusi perairan. Alasan lainnya adalah karena jenis ini merupakan biota yang dalam perkembangannya menetap pada suatu tempat, berumur panjang, mudah didapatkan dan diidentifikasi, jumlahnya berlimpah dan mudah diperoleh setiap tahunnya serta tahan terhadap fluktuasi kondisi alami lingkungannya dan polusi. Dengan kata lain, bahwa kerang hijau ini memungkinkan untuk dipakai sebagai indikator pencemaran suatu lokasi perairan.

PENULIS
Nurul Fadillah
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Cappenberg, H. A. W. 2008. Beberapa Aspek Biologi Kerang Hijau. Jurnal Oseana. 33(1): 33-40.
Jailani. 2012.“KERANGHIJAUSEBAGAIBIOINDIKATORPENCEMARAN PERAIRAN”.Online.(http://abdulkadirjailani.blog.com/2012/11/20/kerang-hijausebagai-bioindikator-dalam-pencemaran-perairan/). Diakses pada tanggal 4 November 2015.
Padjali, irman ode dan Nofdi usman. 2013. “BUDIDAYA KERANG HIJAU”.Online.(https://serdaducemara.wordpress.com/2013/02/11/budidaya-kerang-hijau/). Diakses pada tanggal 4 November 2015.
Tim Perikanan WWF-Indonesia dan Silfester Basi Dhoe. 2015. Budidaya Kerang Hijau (Perna viridis). Seri Panduan Perikanan Skala Kecil. Hal 1-24.
Zipdecodezoo. 2015. http://zipcodezoo.com. Diakses pada tanggal 4 November 2015.

No comments:

Post a Comment