Saturday, October 26, 2019

Umur Ikan (Biologi Perikanan)



Biologi perikanan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari keadaan ikan sejak individu ikan tersebut menetas (hadir ke alam) kemudian makan, tumbuh, bermain, bereproduksi, dan akhirnya mengalami kematian, baik kematian secara alami ataupun dikarenakan faktor-faktor lain.

Ilmu pengetahuan biologi perikanan ini menguraikan tentang struktur organisme ikan (morfologi), struktur tubuh ikan (anatomi), faktor kimia dan fisika pada ikan (fisiologi), dan proses beserta kebiasaan kehidupannya, sehingga pengetahuan biologi perikanan ini merupakan pengetahuan dasar ketika mendalami pengetahuan dinamika populasi ikan, pengembangan spesies ikan untuk dikelola menjadi ikan budidaya dan upaya pelestarian spesies ikan yang akan mengalami kepunahan di perairan alaminya. 

Mengapa perlu mengukur umur ikan?
Karena dari umur ikan inilah semua dasar dari sumber daya perikanan dibangun (diketahui)

Apa saja yg dpt diketahui ? :
•Growth rate
•Size and age composition
•Stock biomass
•Maturation
•Mortality rates
•Prediction of the future stock (produksi)
Umur + komposisi suatu populasi  prediksi rekruitmen
Ikan  umur pendek dan umur panjang (Effendie, 1997)

Ikan umur panjang  ikan primitif, pergerakan lamban, penghuni dasar atau perairan dangkal, mempunyai alat pernapasan tambahan, luwes terhadap lingkungan.
Contoh : ikan sturgeon dan cucut

Ikan umur pendek  ikan yang tidak memiliki pernapasan tambahan, pergerakannya cepat.
Contoh : ikan salmon

•Pertumbuhan Mamalia dan Aves:
Determinate Growth : mempunyai limit tertentu untuk membatasi pertumbuhan. Pertumbuhan berhenti pada usia dewasa (kematangan sexual)

Pertumbuhan Ikan :
Undeterminate Growth: Ikan tidak mempunyai limit tertentu untuk membatasi pertumbuhan

How we age the fish
•Penentuan umur suatu individu ikan dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu :

•(1) Cara langsung : cara ini hanya dapat dilakukan pada individu spesies ikan budidaya,
•(2) Cara tidak langsung : pada individu spesies ikan yang masih hidup di perairan alami.

Penentuan secara tidak langsung Penentuan umur ikan secara tidak langsung dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu :
(1)Dengan mempelajari tanda-tanda tahunan (Annulus) atau harian (Sirkulus) pada bagian-bagian tubuh yang keras,
(2)Metoda prekuensi panjang (metoda petersen)
(3)Metode marking & tagging

Penentuan Umur ikan pada bagian tubuh
•Sisik
•Tulang Operculum
•Batu Telinga (Otolith)
•Vertebrae (tulang punggung)
•Jari-jari Keras Sirip Punggung

1. Metode Sisik
•Leeuwenhoek  pertama kali mengamati lingkaran-lingkaran pada sisik di bawah mikroskop (yang dianggap sebahgai tanda pertumbuhan)
•Dikembangkan oleh Hoffbauwer (1898)  mempelajari pertumbuhan ikan mas yang dipelihara  diambil dari sisik  diamati dari waktu ke waktu dan diikuti pola perkembangannya  ditemukan beberapa tanda tahunan yg dikenal sebagai annuli (Obyek Lingkar)

Dasar penentuan umur ikan berdasarkan sisik (Metode Sisik)
•Jumlah Sisik ikan tidak berubah dan tetap identitasnya selama hidup
•Pertumbuhan Tahunan pada sisik ikan sebanding dengan pertambahan panjang ikan selama hidupnya
•Satu annulus yang dibentuk setiap tahun

Ada beberapa sisik yang dikenal, yaitu :
1. Sisik Kosmoid (cosmoid)
Sisik kosmoid yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan Crossopterygi yang telah punah. Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang memipih.
2. Sisik Ganoid
Sisik-sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan Lepisosteidae dan Polypteridae. Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid,berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
3. Sisik Plakoid (Placoid)
Sisik-sisik plakoid dimiliki oleh ikan Hiu dan ikan-ikan bertulang rawan lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi
4. Sisik Leptoid
Sisik-sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid) dan ktenoid (ctenoid).
A. Sisik-sisik Sikloid (Cycloid)
memiliki tepi luar yang halus, dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang
memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper

B. Sisik-sisik ktenoid (ctenoid).
bergerigi di tepi luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih ‘  modern’ yang memiliki sirip-sirip berduri.

Metode Sisik
•Sisik yang digunakan untuk menentukan umur ikan adalah sisik cycloid atau ctenoid saja, karena keduanya pipih dan mudah diambil tanpa merusak bagian tubuh.
•Terdapat cirlucus, yakni lingkaran yang tumbuh pada sisik
•Kerapatan letak circulus terjadi satu kali dalam setahun menjadi tanda tahunan pada penentuan umur ikan
Sisik Kunci
•Sisik kunci adalah sisik yang diambil untuk menentukan umur ikan.
•Sisik kunci ikan-ikan yang memiliki sisik cycloid letaknya 3 baris di depan pina dorsalis dan diatas linea lataralis.
•Sisik kunci ikan ctenoid letak sisik kuncinya adalah di daerah tepat ujung sirip dada yang ditujukan ke arah ekor
•Semua sisik dapat digunakan sbg sisik kunci. Hal tsb diatas digunakan agar pengukuran seragam.
Sisik pengganti akan mudah terbentuk dalam waktu relatif singkat. Sisik pengganti tersebut dinamakan sisik palsu.
Sisik palsu mudah dibedakan dengan sisik asli karena pusatnya besar.
Sisik palsu tidak dapat digunakan untuk menentukan umur ikan

2. Operculum
•Pengetrapan metoda ini untuk menghitung pertumbuhan masa lalu yang telah dilakukan oleh beberapa author dengan hasil yang memuaskan.
•Keuntungan dari metode ini adalah tanda-tanda tahunan yang terdapat pada operculum dapat dilihat langsung tanpa alat bantu optik.
•Pengamatan akan lebih berhasil apabila dilakukan di kamar gelap dimana operculum diletakkan diatas kaca yang disorot lampu ber-flourescent

3. Duri sirip
•Metode ini digunakan untuk mengetahui umur ikan-ikan yang tidak bersisik atau sisiknya sangat kecil dan tertanam jauh ke dalam kulitnya.
•Dasar pemikirannya adalah terdapatnya tanda-tanda yang menunjukkan kejadian pertumbuhan yang cepat dan lambat, dimana pertumbuhan ikan itu selalu sebanding dengan tumbuh duri dari siripnya.
•Duri yang diambil adalah duri sirip punggung yang terdepan atau duri sirip dada terluar, terutama pada bagian yang paling lebar yaitu paling dekat dengan dasarnya.
•Usahakan pada saat mematahkan duri tsb tidak jauh dari pangkalnya.
•Pada bagian pangkal yang paling lebar diiris tipis dengan menggunakan pemotong intan.
•Setelah ketipisan duri tercapai, pengamatan dilakukan di bawah mikroskop.
•Pada saat pertumbuhan cepat, irisan duri terlihat putih seperti tulang dan pada saat pertumbuhan lambat kelihatan agak gelap atau lebih pekat.

4. Tulang Punggung
•Sejalan dengan pertumbuhan ikan secara keseluruhan, tulang punggung tumbuh pula seirama dengan pertumbuhan bagian tubuh lainnya.
•Dapat dilihat pada bagian depan atau bagian belakang tiap-tiap ruas tulang.
•Tulang punggung yang lazim digunakan adalah tulang punggung yang terletak di atas rongga perut.
•Bersihkan urat-urat daging, pembuluh darah & syarafnya
•Tanda tahunan : tonjolan sperti cincin yg mengelilingi centrum tulang punggung, berwarna lebih jernih agak hitam

5. Otolith
Otolith adalah batu telinga
•Sering digunakan untuk menentukan umur ikan-ikan yang tidak bersisik.
•Kadang digunakan pula untuk ikan bersisik, jika metoda sisik tidak memungkinkan untuk diinterpretasi dengan baik.

Otolith bersifat spesies spesifik dan terdiri dari 3 pasang yang masing masing mempunyai perbedaan karakteristik tersendiri yang mempengaruhi kegunaan dalam menentukan umur. Pasangan terbesar disebut sagita, diikuti oleh lapilus sedangkan pasangan terkecil disebut asteriskus
•Dari 3 pasang otolith ikan Teleost, hanya sepasang yang ukurannya terbesar, yaitu batu telinga yang terdapat pada sacculus.
•Bentuk otolith oval, merupakan hasil pengendapan bahan kapur yang sejalan dengan pertumbuhannya.
Otolith dibaca dengan menggunakan mikroskop binokuler dengan air sebagai medianya (trisodium phosphat atau larutan campuran alkohol 95% dan glyserin dg perbandingan 9:1)
•Tanda tahunan pada otolith warnanya lebih jernih daripada bagian–bagian lainnya dan mengelilingi pusat.
Kendala dalam menggunakan otolith
•Pada ikan-ikan yang sudah tua.
Tanda tersebut sangat berdempetan dan susah memisahkannya.
•Ikan harus dibunuh.
Hal ini sangat merugikan terlebih apabila populasi yang sedang diteliti sangat kecil.

METODE FREKUENSI PANJANG
•Mempelajari umur ikan dengan metode frekuensi panjang (metode Petersen) bergantung kepada sifat-sifat reproduksi dan pertumbuhan ikan.
•Metode yang dapat diterapkan secara luas di seluruh perairan, termasuk Indonesia. Walaupun ada beberapa persyaratan tertentu yang harus dipenuhi.

Dasar :
•yaitu melalui pengukuran panjang tubuh ikan, metoda ini biasanya diterapkan pada individu-individu spesies ikan yang hidup di daerah tropis
•Umumnya ikan mengadakan pemijahan setahun sekali di dalam jangka waktu yang relatif pendek.
•Semua anak ikan yang dilahirkan (menetas) hasil satu kali pemijahan tahun yang sama, pertumbuhannya hampir seragam sehingga pada akhir tahun panjangnya dalam batas kisaran tertentu tetapi distribusinya normal.
•Puncak dari distribusi normal itu dapat dibedakan dengan puncak distribusi panjang ikan kelahiran hasil pemijahan tahun sebelumnya.
•Biasanya, puncak-puncak tersebut jelas bagi ikan-ikan yang berumur 1-4 tahun, sedangkan bagi ikan–ikan yang berumur lebih dari 4 tahun puncak-puncaknya tidak nyata. Hal ini disebabkan ikan karena ikan-ikan yang umurnya lebih tua lebih lambat pertumbuhannya dibanding ikan-ikan yang lebih muda.

METODE MARKING DAN TAGGING Tagging: pemberian tanda (tanggal, nomer & kode-kode lain)berupa benda asing pada tubuh ikan
Material yang digunakan material yang tidak berkarat (plastik,perak dll)
Tempat: rahang bawah,tulang operculum, di belakang sirip punggung, batang ekor

Hal-hal yang perlu diperhatikan selama perlakuan pemberian tanda pada ikan :
1. Tanda tidak berubah selama ikan itu hidup,
2. Tidak mengganggu tingkah laku ikan sehingga mudah ditangkap oleh pemangsa,
3. Tidak menyebabkan mudah tersangkut pada ganggang atau tanaman,
4. Tanda tsb mudah dan murah dalam perolehannya,
5. Tepat untuk tiap ukuran ikan dengan penyesuaian sesedikit mungkin,
6. Mudah diterapkan pada ikan tanpa menggunakan zat pembius dan gangguan stress diusahakan sesedikit mungkin,
7. Cukup banyak variasi untuk membedakan kelompok ikan yang kecil perbedaannya,
8. Tidak menyebabkan kesehatan ikan terganggu,
9. Tidak berbahaya atau menyebabkan bahaya pada ikan sebagai ikan pangan,
10. Tanda mudah dikenal oleh orang yang tidak mendapat latihan sekalipun

Marking: pemberian tanda pada tubuh ikan bukan berupa benda asing. Tanda yang termasuk ke dalam kategori ini ialah pemotongan sirip, pemberian lubang pada tutup insang dan pemberian tatoo
Pada waktu pemberian tag atau mark pada ikan bersisik, juga dilakukan pengambilan sisik

PENULIS
Nasrullah Bai Arifin, S.Pi., M.Sc
Dosen FPIK Universitas Brawijaya

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya

No comments:

Post a Comment