Tuesday, August 17, 2021

Penyakit Jamur Ikan; Penyebab, Gejala Klinis, Pencegahan / Pengobatan


1. SAPROLEGNIA

Penyebab :

Jamur saprolegnia.

Organisme yang diserang:

Ikan.

Gejala Klinis :

Pada serangan awal jamur saprolegnia terlihat sebagai infeksi kecil di bagian kulit atau sirip. Gejala awal ditandai benang-benang halus mirip kapas menempel pada tubuh yang terluka. Benang-benang ini juga menyerang ikan yang lemah, daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Pada penyerangan telur yang tidak dibuahi maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Dalam waktu cepat jamur menyebar ke seluruh kolam. Jamur ini tidak menimbulkan kematian, tapi kondisi ikan lemah, nafsu makan kurang, kurus, dan akhirnya mati.

Pencegahan / Pengobatan :

Pencegahan dengan pemantauan kualitas air, terutama kandungan amonia. Apabila terladi peningkatan kandungan amonia, segera lakukan pergantian air. Hindari perlakuan yang dapat menimbulkan luka pada ikan. Jamur sulit diobati. Disarankan menggunakan maracyn 2, atau Rid Fungus. Ikan juga bisa dioleskan kalium permanganat 10 ppm. Pengobatan dengan mencelupkan ke dalam larutab kalium permanganat atau malachyte green. Penanggulangan lainnya dengan garam sebanyak 400 mg/m^3.

 

2. EPIZOOTIC ULCERATIVE SYNDROME (EUS), atau RED SPOT DISEASE (RSD) / BINTIK MERAH

Penyebab :

Jamur Aphanomyces invadans

Organisme yang diserang:

Ikan muda (juvenile) dan dewasa. Nila, Gabus, Gurame, Goldfish (Carassius auratus), Lele, Koi.

Gejala Klinis :

Infeksi jamur ini menyebabkan borok (ulcer) di permukaan tubuh, serangan menyebabkan kematian massal. Infeksi berawal adanya bintik merah pada permukaan tubuh, nafsu makan menurun, warna tubuh menjadi gelap, berenang ke permukaan hiperaktif, selanjutnya bintik merah akan berkembang menjadi luka borok yang berwarna merah cerah atau merah kecoklatan.

Pencegahan / Pengobatan :

Pengendalian dengan menyiapkan media budidaya secara higienis dan steril terhadap spora jamur, menetralkan pH media menggunakan kapur. Ikan yang sakit segera diisolasi, sedangkan yang mati dibuang.

 

3. BRANCHIOMYCOSIS (GILL ROT / BUSUK INSANG)

Penyebab :

Jamur Branchiomyces sanguinis dan Branchiomyces demigrans.

Organisme yang diserang:

Semua jenis ikan air tawar.

Gejala Klinis :

Organ yang banyak diserang insang, dapat menyebabkan kematian massal 1-2 minggu sejak serangan. Tanda-tanda adanya nekrosis pada insang yang berwarna keputihan. Insang memperlihatkan tanda-tanda hemorhagik. Ikan mengalami kesulitan bernapas atau asphyxia, megap-megap di permukaan air. Ikan terlihat berkumpul di daerah pemasuka  air dan tidak mau makan. Branchiomycosis akut dapat dikenali dengan terbentuknya nodul putih pada insang sebagai suatu luka patogenomonik. Insang mengalami nekrosa berat berwarna merah menghitam dan akhirnya membusuk (gill rot)

Pencegahan / Pengobatan :

Perendaman ikan dalam desinfektan seperti Kalium Permanganat (PK) 1g/100 liter air 90 menit, Formalin 100-200 ppm 1-3 jam, Garam dapur 1-10 promil selama 10-60 menit, dan methylene blue 3-5 ppm 24 jam. Apabila ikan mati segera dimusnahkan agar tidak menginfeksi ikan lainnya.

 

4. APHANOMYCES

Penyebab :

Jamur Aphanomyces.

Organisme yang diserang:

Lobster air tawar, Crayfish, sea mullet, yellow fin bream, dan sand whiting, dan ikan air tawar lainnya.

Gejala Klinis :

Ciri khas serangan adalah terlihat warna kekuningan atau kecoklatan dan mengalami nekrosis. Pada tempat penetrasi akan terbentuk zoosporangium. Ikan yang terserang mengalami paralisis sehingga terlihat diam  terlentang di dasar kolam sampai mati, karena kekhasan jamur ini adalah menyerang organ persendian dan pergerakan

Pencegahan / Pengobatan :

Manajemen kolam yang baik.

 

5. ICTHYOPHONUS (SAND PAPER DISEASE)

Penyebab :

Jamur Ichthyophonus hoferi.

Organisme yang diserang:

Salmon, Rainbow trout (Onchorhynchus mykiss), Chinnok salmon (Onchorhynchus tsawytscha), Pasifik herring (Clupea pallasii), dsn yellow tail (Seriola quingerradiata).

Gejala Klinis :

Tanda klinis serangan Ichthyophonus hofferi adalah adanya butiran kasap semacam ampelas di sekitar ekor bagian samping depan berdiameter 1 mm dan berwarna hitam, terjadi kebutaan dan exopthalamus, dan gerakan renang yang tidak terkoordinasi. Terkadang ditemukan gejala kelainan tulang yang terlihat dengan adanya scoliosis dan lordosis. Nekrosis secara lokal juga sering terlihat ditambah abses atau ulcer. Ichthyosporidosis dari Ichthyophonus sp, menyebabkan mengikis jaringan luar bagian kepala, menyebabkan luka hingga bagian tengkorak. Jamur ini ditemukan di bawah jaringan epitel kulit dari organ utama, insang, usus, hati, dan jantung.

Pencegahan / Pengobatan :

Manajemen kualitas air yang baik.

 

6. SERANGAN JAMUR PADA TELUR IKAN

Penyebab :

Telur ikan rentan terhadap serangan jamur. Hampir semua telur rentan terhadap serangan jamur. Secara alamiah jamur ini akan menyerang telur-telur yang tidak dibuahi (mati). Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan jamur pun akan menyerang telur-telur dibuahi (sehat).

Organisme yang diserang:

Telur ikan.

Gejala Klinis :

Telur yang diserang jamur diselimuti hifa jamur berwarna putih. Telur yang tidak tersebar merata akan mudah diserang jamur dan menyebar ke telur lainnya. Telur yang mati karena tidak dibuahi oleh sperma jantan akan berubah putih dalam waktu 24 jam. Telur demikian menjadi substrat bagi jamur.

Pencegahan / Pengobatan :

Pada induk ikan yang merawat telurnya, telur yang mati akan segera dibuang sehingga tidak terserang jamur. Bagi ikan yang tidak menjaga telurnya, keterlibatan petani ikan untuk segera membuang telur yang mati sangat membantu mencegah infeksi jamur. Telur yang mati dapat dibuang menggunakan pipet, jarum, atau pinset kecil. Untuk telur ikan yang diinkubasi secara terpisah, upaya pencegahan serangan jamur dapat dilakukan dengan memberi perlakuan perendaman dalam larutan Methylene Blue dengan konsentrasi 2 ppm. Telur ikan yang memiliki masa inkubasi lebih dari 4 hari, perendaman dalam larutan Methylene Blue sebaiknya diulang setiap 2 atau 3 hari.


7. DERMOCYSTIDIOSIS

(Qosimah et al., 2020)

Penyebab :

Jamur Dermocystidium, Dermocystidium cyprini.

Organisme yang diserang :

Ikan mas (Cyprinus carpio), Mas koki (Carassius auratus), Ikan Lethrinus nebulosus, ikan nila

Gejala klinis :

Dermocystidiosis ringan atau sedang tidak menunjukkan kelainan klinis dan tampak normal. Ikan Lethrinus nebulosus menunjukkan warna kulit kusam dan tubuh kurus. Pada insang ikan nila, pada tahap awal infeksi ditemukan dengan gejala asimtomatis (organisme yang terinfeksi tidak merasa sakit atau mengalami gejala tertentu). Ikan Koi terdapat lesi lentikular, dan warna merah pada sirip ventral dan sirip posterior.

Pencegahan / Pengobatan :

Pencegahan melalui upaya kondisi air bersih dan bebas terhadap agen mikroba lain terbukti dapat mengurangi keparahan kondisi kesehatan tubuh ikan. Kontaminasi spora infektif dapat dihindari dengan tidak memberi makan ikan mentah atau produk ikan mentah ke ikan akuakultur. Malachite green sebagai desinfektan pada ikan fase telur dan dewasa serta pemijahan melalui perendaman untuk mengendalikan bakteri, jamur protozoa, dan trematoda akan tetapi penggunaan dibatasi karena dapat menimbulkan teratogenik dan karsinogenik pada ikan. Perendaman garam, metilen blue, formalin.

 

Penulis :

Gery Purnomo Aji Sutrisno, S.Pi.


Daftar Pustaka :

Afrianto, Eddy., Evi Liviawaty., Zafran Jamaris., Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Penebar Swadaya: Cibubur, Jakarta Timur.

Qosimah, Dahliatul., Maftuch., Herawati, dan Husnul Khotimah. 2020. Pengendalian & Diagnosis Penyakit Ikan Kausa Bakteri dan Jamur. UB Press. 147 Halaman.

No comments:

Post a Comment