Monday, November 23, 2020

Rumput Laut: Sargassum Polycystum, Eucheuma cottonii, Gracillaria verrucosa, Padina australis; Morfologi, Habitat, dan Kandungan Bahan Aktif, Imunostimulan


 

Rumput Laut

Rumput laut atau makro algae sudah sejak lama di Indonesia dikenal sebagai bahan makanan tambahan, sayuran dan obat tradisional (Kadi, 2004). Metabolisme yang terkandung dalam rumput laut berpotensi sebagai antimikroba dan diolah menjadi berbagai jenis obat. Fungsi rumput laut antara lain untuk antibakteri, antifungial, antiviral, antitumor, anti-inflammatory, anti-convulsant dan zat sedatif atau zat penenang (Poncomulyo, 2006).

 

Sargassum Polycystum



Gambar Sargassum polycystum (Hemlatha et al., 2017)

 

Di Indonesia terdapat banyak jenis rumput laut, diantaranya bernilai ekonomis cukup tinggi seperti alga coklat Sargassum. Sargassum sp. sangat melimpah serta tersebar luas di perairan Indonesia. Sargassum sp. mengandung bahan alginat dan iodin yang digunakan pada industri makanan, farmasi, kosmetik dan tekstil. Selain itu, Sargassum sp. mengandung senyawa-senyawa aktif fenol dan triterpenoid berfungsi sebagai antivirus dan antibakteri (Pakidi dan Suwoyo, 2016).

 

Morfologi dan Habitat Sargassum Polycystum

Sargassum sp. merupakan alga coklat yang hidup pada habitat karang dengan kedalaman 0,5-10 meter. menjelaskan bahwa Sargassum adalah salah satu genus dari kelompok rumput laut coklat yang merupakan genus terbesar dari famili Sargassaceae (Lutfiawan et al., 2015). Marga Sargassum sp. termasuk dalam kelas Phaeophyceae tumbuh subur pada daerah tropis, suhu perairan 27,25 - 29,30 °C dan salinitas 32 - 33,5 ‰. Kebutuhan intensitas cahaya matahari marga  Sargassum sp. lebih tinggi dari pada marga algae merah. Pertumbuhan Sargassum sp. mebutuhkan intensitas cahaya matahari berkisar 6500-7500 lux. Alga Sargassum sp. tumbuh berumpun dengan untaian cabang-cabang. Panjang thallus utama mencapai 1-3 m dan tiap-tiap percabangan terdapat gelembung udara berbentuk bulat yang disebut "Bladder," berguna untuk menopang cabangcabang thallus agar terapung ke arah permukaan air dan mendapatkan intensitas cahaya matahari (Lutfiawan et al., 2015).

 

Menurut Widyarti et al. (2012), thaluss rumput laut Sargassum mempunyai bentuk dan ukuran beranekaragam, dari talus berbentuk batang yang terkumpul dalam suatu berkas sampai talus besar yang kadang-kadang memperlihatkan bentuk luar seperti tumbuhan tinggi. Menurut Pansing et al. (2017), ciri-ciri dari rumput laut Sargassum polycistum adalah pangkal daun melebar, sedikit meruncing dan terdapat gerigi pada bagian daun. Ujung daun bergerigi tapi tidak terlalu dalam, dan agak sedikit mendatar. Titik kecil hitam pada daun, agak kasar dan memiliki garis-garis putus. Gelembung atau vesicle bulat agak besar (tidak mikro) berwarna coklat, setelah diherbarium akan seperti pipih bentuknya. Tinggi tallus 24 cm berwarna coklat kemerahan saat kering.

 

Kandungan Bahan Aktif Sargassum Polycystum

Sargassum sp. mengandung senyawa-senyawa aktif steroida, alkaloida, fenol, dan triterpenoid berfungsi sebagai antibakteri, antivirus, dan anti jamur (Masduqi et al., 2014). Sargassum sp. mengandung fucoidan dan komponen fenolik Jenis komponen fenolik yang banyak dijumpai pada rumput laut coklat adalah phlorotanin yang berkisar antara 0,74% sampai 5,06% (Septiana dan Asnani, 2012). Alga cokelat Sargassum sp. juga mampu menghambat kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas pada produk seperti minyak ikan (Pakidi dan Suwoyo, 2016).

 

Menurut Alamsyah et al. (2014), menyebutkan manfaat senyawa bioaktif yang terdapat pada Sargassum sp. dibidang kesehatan seperti antikanker, antijamur, antivirus. Menurut Santi et al. (2014), Sargassum sp. jenis Sargassum echinocarpum, Sargassum duplicatum dan Sargassum polycystum perairan Jepara mampu menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan S.aureus. Menurut Hardouin et al. (2013), menyebutkan senyawa bioaktif pada Sargassum sp. di perairan Perancis yang diekstraksi secara hidrolisa enzimatis memiliki aktivitas

bioaktif sebagai antivirus. Menurut Arasaki (1983), bahwa senyawa bioaktif Sargassum sp. sebagai antibakteri memiliki sifat resisten terhadap berbagai antibiotik.

 

Eucheuma cottonii

 


Gambar Eucheumma cottonii (Sunarpi, 2014)

 

Kappaphycus alvarezii adalah nama lain dari Eucheuma cottonii, namun Euheumma cottonii lebih dikenal dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional. Produksi rumput laut ini di seluruh Indonesia berasal dari budidaya yang dikembangkan di Jawa, Bali, NTB, Sulawesi dan Maluku (Nur, 2009). Rumput laut Eucheuma cottonii mengandung protein, lipid, karbohidrat, α tokoferol, mineral, vitamin C, dan vitamin E (Maharany et al., 2017). Kappaphycus alvarezii merupakan spesies pendatang yang berasal dari negara Filiphina. Saat ini Kappaphycus alvarezii adalah spesies penghasil karagenan utama yang dibudidayakan di Indonesia diikuti oleh Kappaphycus striatum dan Eucheuma spinosum. Selain itu, produksi dan pengolahan spesies-spesies ini telah menjadi mata pencaharian yang bernilai tinggi dan menguntungkan di banyak komunitas pelaut di Indonesia termasuk Nusa Tenggara Barat (Akbar et al., 2013).

 

Morfologi dan Habitat Eucheuma cottonii

Menurut Parenrengi dan Sulaeman (2007), rumput laut ini mempunyai nama lain Kappaphycus alvarezii hal tersebut dikarenakan atas dasar kandungan karaginan yang dihasilkannya yaitu kappa karagenan. Ciri-ciri dari rumput laut ini adalah bentuk thallus yang silindris, permukaannya licin, cartilageneus, warna hijau, hijau kekuningan, abu-abu, coklat atau merah. Duri-duri pada thallus terdapat juga seperti halnya dengan Eucheuma denticulatum tetapi tidak bersusun melingkari thalus. Percabangan ke berbagai arah dengan batang utama keluar dan saling berdekatan di daerah basal.

 

Menurut Surni (2014), suhu yang baik bagi pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii adalah 25-270C. salinitas di lautan berkisar antara 33-37ppt cocok untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii. Eucheuma cottonii hidup dan tumbuh dengan nilai pH sebesar 7,3–8,2. Kedalaman yang baik untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii adalah 30 cm di bawah permukaan air laut dengan berat basah rata-rata selama 35 hari atau setara dengan 5 minggu adalah 160 gram.

 

Kandungan Bahan Aktif Eucheuma cottonii

Menurut Yanuarti et al. (2017), rumput laut (Eucheuma cottonii) banyak dimanfaatkan karena mengandung agar-agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin. Pigmen fikobilin terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Rumput laut Eucheuma Cottonii mengandung protein, lipid, karbohidrat, α tokoferol, mineral, vitamin C, dan vitamin E dapat mensintesis senyawa mycosporine (MAAs) yang berperan dalam absorpsi sinar UV (Maharany et al., 2017). Ekstrak rumput laut ini telah diketahui mempunyai aktivitas sebagai antitumor, meningkatkan aktivitas kemotaksis macrophage, menstimulasi aktivitas sekresi radikal oksigen dan fagositosis pada peritonial and splenic murine macrophage (Castro et al., 2004).

 

Ekstrak Eucheuma cottonii banyak mengandung senyawa antioksidan yang didominasi oleh derivat senyawa benzen (Suryaningrum et al., 2006). Rumput laut jenis Eucheuma cottonii juga memiliki senyawa metabolit sekunder yang dapat menghasilkan aktivitas antibakteri (Shanmugan dan Mody, 2000). Ekstrak dari rumput laut ini memiliki senyawa antibakteri terhadap Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Senyawa kimia yang dihasilkan tersebut berupa polyfenol (Maduriana dan Sudira, 2009).

 

Gracillaria verrucosa

 


Gambar Gracillaria verrucosa (Haryatfrehni et al., 2015)

 

Gracilaria verrucosa merupakan jenis alga yang mudah dibudidayakan dan banyak tersebar terutama di daerah tropis (Ariyanti dan Nurchayani, 2012). Rumput laut ini dapat dibudidayakan scara polikultur dengan udang karena keduanya memerlukan kodisi perairan yang sama untuk kelangsungan hidupnya. Gracilaria verrucosa memiliki banyak jenis yang dapat dimanfaatkan sebgai bahan agar-agar, bahan anti gangguan perut, pencegah penyakit kandungan kemih, serta obat cacing (Hendrajat et al., 2010).

 

Morfologi dan Habitat Gracillaria verrucosa

Menurut Sjafrie (1990), Gracilaria memiliki suatu alat cengkeram berbentuk cakram yang dikenal dengan sebutan 'hold fast'. Tumbuhan ini berbentuk rumpun, dengan tipe percabangan tidak teratur, 'dichotomous', 'alternate', 'pinnate', ataupun bentuk-bentuk percabangan yang lain. Thallus pada umumnya berbentuk silindris atau agak memipih. Ujung-ujung thallus umumnya meruncing, permukaan thallus halus atau berbintil-bintil. Panjang thallus sangat bervariasi, mulai dari 3,4-8 cm pada G. eucheumoides sampai mencapai lebih dari 60 cm pada G. Verrucosa.

 

Menurut Hendrajat et al. (2010), Gracilaria verrucosa termasuk rumput laut yang bersifat euryhaline, sifat tersebut dapat terlihat dari kemampuan hidupnya pada perairan bersalinitas 15-30 ppt, dengan begitu Gracilaria verrucosa dapat di budidayakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda dengan kondisi perairan laut. Gracilaria verrucosa dapat mentolerir kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan aslinya, seperti salinitas terendah 15 g/L dan tertinggi 50 g/L.

 

Kandungan Bahan Aktif Gracillaria verrucosa

Gracillaria verrucosa dapat digunakan sebagai imunostimulan karena memiliki kandungan senyawa polisakarida, beberapa polisakarida rumput laut seperti fukoidan juga menunjukkan beberapa aktivitas biologis lain yang sangat penting bagi dunia kesehatan. Aktivitas tersebut seperti antitrombotik, antikoagulan, antikanker, antiproliferatif, antivirus, dan antiinflamatori (Suparmi dan Sahri, 2009). Polisakarida dari rumput laut dapat menstimulasi sistem imun non spesifik dalam hal ini fagositosis dan aktifitas respiratory burst (Zahra, 2017).

 

Selain itu, rumput laut mengandung fenol, asam nukleat, enzim, asam amino, vitamin (A,B,C,D,E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium, serta mikro mineral anatara lain zat besi, magnesium dan natrium (Anggadireja et al., 2006).

 

Padina australis

 


Gambar Padina australis (Win et al., 2017)

 

Indonesia merupakan negara yang memiliki jenis alga coklat potensial yang cukup banyak. Padina australis termasuk salah satu jenis rumput laut coklat yang memiliki potensi sebagai sumber alginat (Kautsari dan Ahdiansyah, 2016). Selain itu dalam berbudidaya rumput laut, pemanenan alga cokelat Padina australis dapat dilakukan sekitar 1 bulan sesudah dibudidayakan (Kepel et al., 2015).

 

Morfologi dan Habitat Padina australis

Talus Padina seperti kipas membentuk segmen-segmen lembaran dengan garis-garis radial dan bagian permukaan berkapur. Warna cokelat kekuningan dan kadang-kadang memutih karena perkapuran, lembaran mudah robek. Alga ini biasanya berbentuk kipas dengan terdapatnya sel meristematik dimana pertumbuhan dimulai (Win et al., 2011). Ukuran lembaran talus 5-10 cm dan alat penempel berupa serabut tebal. Alga ini tidak mengalami perubahan warna dalam keadaan kering. pemeriksaan mikroskopis irisan melintang thallus dalam kloralhidrat menunjukkan bahwa thallus Padina australis terdiri dari epidermis dan sel parenkim (Fitrya, 2010).

 

Secara biologis alga laut termasuk salah satu anggota organisme bentik yang umumnya berukuran besar dan hidup di perairan dangkal yang menempel pada karang mati. Padina australis hidup pada substrat berupa karang mati (Kemenangan et al., 2017). Menurut Kautsari dan Ahdiansyah (2016)., menunjukkan bahwa padina toleran pada salinitas 27 ppt sampai 32 ppt, pada salinitas kurang dari 17,9 ppt dan lebih dari 32 ppt spora tidak dapat berkembang dengan baik. Suhu antara 23°C sampai 28°C dan pH 8,0 sampai 8,5 merupakan kisaran optimal untuk pertumbuhan Padina australis. Biasanya hidup pada zona subtidal dengan kedalaman 5 meter hingga 15 meter (Win et al., 2011).

 

Kandungan Bahan Aktif Padina australis

Menurut Handayani dan Zuhrotun (2017), secara umum kandungan kimia dalam Padina australis yang telah diketahui yaitu kandungan fukosantin sebesar 0,6368 mg/g berat basah dan pigmen karotenoid diantaranya yaitu β-caroten, diadinoxanthin, diatoxanthin, fucoxanthin, chlorophyll a dan chlorophyll c. Potensi aktivitas P. autralis sebagai antikanker dikaitkan dengan adanya fukosantin. Fukosantin memiliki aktivitas dalam mengurangi ukuran sel. Pengurangan jumlah sel oleh agen tertentu.

 

Padina sp. mengandung beberapa senyawa bioaktif yang berperan sebagai antibakteri, antivirus dan antitumor (Lamma, 2011). Menurut Zen et al. (2015), ekstrak etanol Padina australis memiliki bioaktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Nilai MIC ekstrak P. Australis terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis adalah konsentrasi 90%.

 

Rumput Laut sebagai Imunostimulan

 


Mekanisme Kerja Imunostimulan (Smith et al., 2003)

 

Imunostimulan merupakan salah satu alternatif yang aman untuk mengatasi patogen yang disebabkan oleh virus. Imunostimulan dapat berasal dari rumput laut dikarenakan rumput laut mengandung senyawa fucoidan dari polisakarida (Supriatna et al., 2014). Nukleotida polipeptida maupun polisakarida merupakan gugus protein yang dibentuk dari beragam polimer asam amino. Salah satu fungsi asam amino yang merupakan molekul penting dalam tubuh organisme adalah sebagai sistem pertahanan dan resistensi organisme terhadap pathogen (Supriatna et al., 2014).

 

Rumput laut merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai imunostimulan karena merupakan sumber senyawa bioaktif, yang telah terdeteksi dalam alga hijau, alga coklat dan alga merah yang memproduksi berbagai karakteristik metabolit sekunder dengan spektrum aktifitas yang luas. Dinding sel dari alga laut kaya akan polisakarida sulat (SPs) seperti karagenan yang terkandung dalam alga merah, dan memiliki banyak senyawa bioaktif menguntungkan sebagai anti koagulan, anti viral, antioksidan antikanker serta aktivasi moduliasi imun (Febriani et al., 2011).

 

Penulis

Rosita Hasna Budiwardhani

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Akbar, B. A., N. Cokrowati, M. Ghazali, Sunarpi, A. Nikmatullah. 2016. Pertumbuhan Kappaphycus alvarezii dengan Penambahan Ekstrak Sargassum aquifolium. 9(1): 62-72.

Alamsyah, H. K., I. Widowati dan A. Sabdono. 2014. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rumput Laut Sargassum cinereum (J.G Agardh) dari Perairan Pulau Panjang Jepara terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus epidermidis. Jurnal of Marine Research. 3(2): 69-78.

Arasaki S, Arasaki T. 1983. Low Calorie, High Nutrition Vegetables from The Sea.:Japan Publications, Inc. Tokyo.

Ariyanti, D. Dan I. Nurcahyani. 2012. Studi Karakteristik Biopolimer Gracilaria verrucosa Sebagai Bahan Penjerap. Jurnal Ilmu Lingkungan. 10(2): 85-88.

Castro, R. I. Zarrab, & J. Lamas. 2004, Water-soluble Seaweed Extracts Modulate the Pantoea agglomerans lipopolysaccharide (LPS). Fish Shellfish Immunol. 10: 555–558.

Febriani, D., Sukenda, dan S. Nuryati. 2013. Kappa-karagenan sebagai Imunostimulan untuk Pengendalian Penyakit Infectious Myonecrosis (IMN) pada Udang Vaname Litopenaeus vannamei. Jurnal akuakultur Indonesia. 12(1): 77-85.

Fitrya. 2010. Pemeriksaan Karakteristik Simplisan Alga Padina australis Hauck (Dictyotaceae). Jurnal Penelitian Sains. 13(3): 46-49.

Handayani, N. K. dan A. Zuhrotun. 2017. Padina australis dan Potensinya sebagai Obat Herbal Antikanker, Antibakteri dan Antioksidan. Jurnal Farmaka. 15(2): 90-96.

Hardouin K., Burlot A.S., Umami A., Tanniou A., Stiger-Pouvreau V., Widowati I., Bedoux G., and N. Bourgougnon. 2013. Bioactive Antiviral Enzymatic Hydrolysates from Different Invasive French Seaweeds. J. Appl. Phycol.

Haryatfrehni, R., S. C. Dewi, A. Meilianda, S. Rahmawati, I. Z. R. Sari. 2015. Preliminary Study the Potency of Macroalgae in Yogyakarta: Extraction and Analysis of Algal Pigments from Common Gunung Kidul Seaweeds. Procedia Chemistry. 14: 373-380.

Hemlatha, N., P. P. Pee, S. H. Y. Kee, J. T. Ow, S. W. Yan, L. Y. Chew dan K. W. Kong. 2017. Malaysian Brown Seaweed Sargassum siiquosum and Sargassum polycystum: Low Density Lipoprotein (LDL) Oxidation, Angiotensin Converting Enzyme (ACE), α-Amylase, and α- Glucosidase Inhibition Activities. Food Research International Journal. 1-38.

Kadi, A. 2004. Potensi Rumput Laut di Beberapa Perairan Pantai Indonesia. Jurnal Oseana. 29(4): 25-36.

Kautsari, N. Dan Y. Ahdiansyah. 2016. Kepadatan, Biomassa dan Kandungan Alginat Padina australis di Perairan Sumbawa. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 6(1): 13-20.

Kemenangan, F. R., G. D. Manu dan F. B. Manginsela. 2017. Pertumbuhan Alga Coklat Padina australis di Perairan Pesisir Desa Serei, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal ilmiah Platax. 5(2): 243-253.

Kepel, R. C., D. M. H. Mantiri dan G. D. Manu. 2015. Pertumbuhan Alga Cokelat Padina australis Hauch di Perairan Pesisir, Desa Kampung Ambon, Kecaatan Liupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal LPPM Bidang Sains dan Teknologi. 2(2): 79-85.

Lamma, S. 2017. Analisis Kadar Tanin Total dari Alga Coklat (Sargassum sp dan Padina sp) sebagai Obat Antipendarahan (Pilot Study). Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Makassar.

Lutfiawan, M., Karnan, dan L. Japa. 2015. Analisis Pertumbuhan Sargassum sp. dengan Sistem Budidaya yang Berbeda di Teluk Ekas Lombok Timur sebagai Bahan Pengayaan Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan. Jurnal Biologi Tropis. 15(2): 129-138.

Maduriana, I. M. Dan I. W. Sudira. 2009. Skrining dan Uji Aktivitas Antibakteri Beberapa Rumput Laut dari Pantai Batu Bolong Canggu dan Serangan. Buletin Veteriner Udayana. 1(2): 69-76.

Maharany, F., Nurjanah, R. Suwandi, E. Anwar dan T. Hidayat. 2017. Kandungan senyawa bioaktif rumput laut Padina australis dan Eucheuma cottoni sebagai bahan baku krim tabir surya. JPHPI. 20(1): 10-17.

Masduqi, A. F., M. Izzati dan E. Prihastani. 2014. Efek Metode Pengeringan Terhadap Kandungan Bahan Kimia dalam Rumput Laut Sargassum polycistum. Buletin Anatomi dan Fisiologi. 22(1): 1-9.

Nur A. 2009. Karakteristik Nata De Cottonii dengan Penambahan Dimetil Amino Fosfat (Dap) dan Asam Asetat Glasial. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor Pakidi, C. S. dan H. S. Suwoyo. 2016. Potensi dan Pemanfaatan Bahan Aktif Alga Cokelat Sargassum sp. Jurnal octopus. 5(2): 488-498.

Pansing, J., G. S. Gerung. C. F. A. Sondak. B. Th Wagey. M. Ompi dan K. I. F. Kondoy. 2017. Morfologi Sargassum sp di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 1(1): 13-17.

Parenrengi, A. dan Sulaeman. 2007. Mengenal Rumput Laut, Kappaphycus alvarezii. Media akuakultur. 2(1): 142-146.

Poncomulyo, T., H. Maryani dan L. Kristiani. 2006. Budidaya & Pengolahan Rumput Laut. PT Agro Media Pustaka. Jakarta. 136 hlm.

Santi, I. W., O. K. Radjasa dan I. Widowati. 2014. Potensi Rumput Laut Sargassum duplicatum Sebagai Sumber Senyawa Antifouling. Journal of Marine Research. 3(3): 274-284.

Seaweed Picture Pinterest. 2020. https://www.ladylux.com/articles/why-you-should-eat-sea-vegetables/

Septiana, A. T. dan A. Asnani. 2012. Kajian Sifat Fiskokimia Ekstrak Rumput Laut Coklat Sargassum duplicatum Menggunakan Berbagai Pelarut dan Metode Ekstraksi. AGROINTEK. 6(1): 22-29.

Shanmugan, M., dan Mody, K.H. 2000. Heparinoid-active Sulphated Polisacharides from Marine Algae as Potential Blood Anticoagulant Agents. Marine Algae & Marine Environment Discipline. Central Salt & Marine Chemicals Research Institute. Bhavnagar : India.

Smith, V. J., J. H. Brown, and C. Hauton. 2003. Immunostimulation in Crustaceans: Does It Really Protect Against Infection?. Fish and Sellfish Immunology. 15: 17-90.

Suparmi dan A. Sahri. 2009. Menenal Potensi Rumput Laut: Kajian Pemanfaatan Sumberdaya Rumput Laut dari Aspek Industri dan Kesehatan. Sutan Agung. 17(118): 95-116.

Supriatna, I., A. Yustianti dan Iskandar. 2014. Sekuen Asam Amino Anti White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang windu (Penaues monodon). Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik. 16(1): 40-46.

Surni, W. 2014. Pertumbuhan Rumput Laut (Eucheuma cottoni) pada Kedalaman Air Laut yang Berbeda di Dusun Kotania Desa Eti Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat. Biopendix. 1(1): 92-100.

Suryaningrum, T. D., T. Wikanta dan H. Kristiana. 2006. Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dari Rumput Laut Halymenia harveyana dan Eucheuma cottonii. Jurnal Pacapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. 1(1): 51-64.

Widyarti, D. S., A. Ilalqisny dan Sulistyani. 2012. Keanekaragaman Morfologi Rumput Laut sargassum dari Pantai Permisan Cilacap dan Potensi Sumberdaya Alginatnya untuk Industri. Prosiding seminar nasional.

Win, N., T. Hanyuda, S. Arai, M. Uchimura, A. Prathep, S. G. A. Draisma, S. M. Phang, I. A. Abbott, A. J. K. Millar and H. Kawai. 2011. A Taxonomix Study of The Genus Padina (Dictyotales, Phaeophyceae) Including The Descriptions Of Four New Spesies From Japan, Hawaii, and The Andaman Sea. Journal of Phycologhy. 47(5): 1193-1209.

Yanuarti, R., Nurjanah, E. Anwar dan G. Pratama. 2017. Kandungan Senyawa Penangkal Sinar Ultra Violet dari Ekstrak Rumput Laut Eucheumma cottonii dan Turbinaria conoides. Jurnal Biosfera. 34(2): 51-58.

Zahra, A. 2017. Ekstrak Rumput Laut Gracillaria verrucose sebagai Imunostimulan untuk Melawan White Spot Udang Vaname Litopenaeus vannamei. Thesis Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Zen, N. A. M., E. Queljoe, M. Singkoh. 2015. Uji Bioaktivitas Ekstrak Padina australis dari Pesisir Pantai Molas Sulawesi Utara terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 2(1): 34-40.

No comments:

Post a Comment