Sunday, January 12, 2020

Udang Windu; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Udang windu (Penaeus monodon) merupakan asli Indonesia yang harus tetap dikembangkan. Meskipun saat ini, produksinya masih kalah dengan udang vannamei (Litopenaeus vannamei), tetapi pasar untuk udang windu masih terbuka lebar, sehingga tetap perlu didukung dengan ketersediaan induk dan benih yang kontiyu. Udang windu merupakan salah satu komoditas unggulan di Asia (FAO 2008). Hal ini dikarnakan udang windu memiliki beberapa kelebihan, diantaranya memiliki ukuran panen yang lebih besar, rasa yang manis, gurih, dan kandungan gizi yang tinggi. Besarnya potensi budidaya dari udang windu memacu para petambak untuk memaksimalkan produksi (Amri 2003). Dalam dunia perdagangan, udang windu (Penaeus monodon) dikenal dengan sebutan udang pancet, jumbo tiger prawn, giant tiger prawn, black tigerprawn atau black tiger shrimp (Murtidjo, 2003).

Udang Windu (Penaeus monodon) merupakan crustasea, pertumbuhan dan reproduksi crustasea diatur oleh kombinasi hormone neuropeptide, ecdysteroids (hormone moulting) dan metil farnesoeate isoprenoid (MF). Pertumbuhan pada udang merupakan penambahan protoplasma dan pembelahan sel yang terus menerus pada waktu ganti kulit. Secara umum dinyatakan bahwa laju pertumbuhan Crustacea merupakan fungsi dan frekuensi ganti kulit dan pertambahan berat badan setiap proses ganti kulit (Moulting). Ciri udang mengalami pertumbuhan adalah dengan adanya peroses moulting (ganti kulit), biasanya cara untuk mempercepat proses moulting dengan cara ablasi, namun cara ini tidak dapat dilakukan pada benur udang dikarnakan ukurun benur yang masih sangat kecil. Selain ablasi proses moulting pada udang dapat dilakukan melalui penambahan ecdysteron. Dengan diketahui titer ecdysteron pada proses moulting pada udang, maka proses ini dapat diatur melalui pemberian ecdyteron pada udang (Gunamalai 2006).

Keberadaan udang windu (Penaeus monodon) di Indonesia saat ini memang hampir kalah bersaing dengan udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Meskipun harganya sedikit lebih tinggi dari udang vannamei, namun udang windu (Penaeus monodon) dinilai lebih sulit dalam proses budidayanya. Oleh sebab itu udang vannamei (Litopenaeus vannamei) menjadi primadona budidaya di Indonesia. Direktur jenderal perikanan budidaya kementerian kelautan dan perikanan (KKP) Slamet Subiyakto menjelaskan, meski petani banyak yang berminat untuk membudidayakan udang vannamei (Litopenaeus vannamei), namun udang windu justru dinilai memiliki peluang pasar lebih besar

KLASIFIKASI UDANG WINDU
Kingdom
: Animalia
Fillum
: Arthropoda
Subfillum
: Crustacea
Kelas
: Malacostraca
Ordo
: Decapoda
Famili
: Penaeidae
Genus
: Penaeus
Spesies
: Penaeus monodon

MORFOLOGI UDANG WINDU


Secara morfologi, tubuh udang windu terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian kepala hingga dada dan abdomen yang meliputi bagian perut dan ekor. Bagian kepala dada disebut cephalothorax, dibungkus kulit kitin yang tebal yang disebut carapace. Bagian ini terdiri dari kepala dengan 5 segmen dan dada dengan 8 segmen. Bagian abdomen terdiri atas 6 segmen dan 1 telson (Murtidjo 2003).

Bagian kepala, dada terdapat anggota-anggota tubuh lain yang berpasang – pasangan berturut-turut dari muka kebelakang adalah sungut kecil (antennula), sirip kepala (Scophocerit), sungut besar (antenna), rahang (mandibulla), alat-alat pembantu rahang (maxilla) yang terdiri dari dua pasang maxilliped yang terdiri atas tiga pasang, dan kaki jalan (periopoda) yang terdiri atas lima pasang, tiga pasang kaki jalan yang pertama ujung-ujungnya bercapit yang dinamakan chela (Suyanto dkk 2003).

Bagian perut terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda), pada ruas ke enam kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Ujung ruas keenam kearah belakang membentuk ekor (telson) (Suyanto dkk 2003). Udang windu termasuk hewan heterosexual yaitu mempunyai jenis kelamin jantan dan betina yang dapat dibedakan dengan jelas. Jenis udang windu betina dapat diketahui dengan adanya telikum pada kaki jalan ke-4 dan ke-5. Telikum berupa garis tipis dan akan melebar setelah terjadi fertilisasi. Sementara jenis kelamin udang windu jantan dapat diketahui dengan adanya petasma yaitu tonjolan diantara kaki renang pertama (Murtidjo 2003).

Tubuh udang windu terdiri dari dua bagian yaitu kepala dan dada (cephalothorax) dan perut (abdomen). Pada bagian cephalothorax terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas kepala dan 8 ruas dada. Bagian kepala terdiri dari antenna, antenulle, mandibula dan 6 dua pasang maxillae. Kepala dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki jalan (periopoda). Bagian perut atau abdomen terdiri dari 6 ruas yang tersusun seperti genting. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang (Pleopod) dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson yang berfungsi sebagai alat kemudi (Tricahyo, 1995). Tubuh udang windu dibentuk oleh 2 cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Udang windu mempunyai tubuh berbuku-buku dan aktifitas berganti kulit luar atau eksoskleton secara perodik yang biasa disebut dengan istilah moulting (Mujiman dan Suyanto, 1999).

Udang penaeid dapat dibedakan dengan yang lainnya oleh bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Udang windu mempunyai 2-4 gigi pada bagian tepi ventral rostrum dan 6-8 gigi pada tepi dorsal (Mujiman dan Suyanto, 1999). Udang windu betina mempunyai thelicum sebagai alat reproduksinya. Letak thelicum berada diantara pangkal kaki jalan ke-4 dan ke-5 dengan lubang saluran kelaminnyua terletak diantara pangkal kaki ke-3. Sedangkan alat kelamin udang jantan disebut petasma yang terletak pada kaki renang pertama. Udang windu bersifat kanibalisme yaitu suka memangsa jenisnya sendiri. Hal ini terjadi jika udang windu kekurangan pakan.

Morfologi udang windu warna carapace dan bagian tubuh bergaris-garis tebal melintang berwarna merah dan putih. Antena berwarna coklat keabu-abuan. Kaki jalan dan kaki renang berwarna coklat dan pinggirnya merah. Bila berada di tambak terutama yang dangkal, warnanya berubah menjadi coklat tua atau gelap dan sering berwarna kehitam-hitaman (Sudarmini dan Sulistiyono, 1988).

HABITAT UDANG WINDU
Udang windu bersifat bentik, dan menyukai dasar perairan yang lembut, biasanya terdiri dari campuran lumpur dan pasir. Udang windu lebih suka bersembunyi di rumpon dan membenamkan diri dalam lumpur pada saat moulting, hal ini dilakukan udang untuk menghindari pemangsaan. Menurut Mudjiman (2003), udang dewasa bertelur di laut kemudian larva yang menetas bergerak ke daerah muara. Semakin dewasa udang akan bergerak secara berkelomok menuju ke laut untuk melakukan perkawinan.

Udang windu tersebar di sebagian besar daerah Indo-Pasifik Barat, Afrika Selatan, Tanzania, Kenya, Somalia, Madagaskar, Saudi Arabia, Oman, Pakistan, India, Bangladesh, Srilangka, Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Philipina, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang, Australia, dan Papua Nugini (Khairul Amri, 2003).

REPRODUKSI UDANG WINDU
Jenis kelamin jantan dan betina dari udang windu, dapat dilihat dari alat kelamin luarnya dan kaki jalan (periopod). Alat kelamin jantan disebut petasma, yang terdapat pada kaki renang pertama, sedangkan lubang saluran kelaminnya (gonophore) terletak diantara pangkal kaki jalan ke tiga. Alat kelamin betina disebut thelycum, terletak di antara kaki jalan keempat dan kelima (Pratiwi, 2008).

Alat kelamin utama disebut dengan gonad terdapat di dalam bagian cephalotorax. Pada udang jantan dewasa, gonad akan menjadi testis yang berfungsi sebagai penghasil mani (sperma). Pada udang betina, gonad akan menjadi indung telur (ovarium), yang berfungsi menghasilkan telur. Ovarium yang telah matang akan menghasilkan telur yang banyak. Telur akan merekat pada ovarium dan terangkai seperti buah anggur yang meluas sampai ekor. Sperma yang dihasilkan oleh udang jantan, pada waktu kawin akan dikeluarkan dalam kantung seperti lendir yang dinamakan kantung sperma (spermatophora). Spermatophora dilekatkan pada thelicum udang betina dan disimpan terus disana hingga saat peneluran dengan bantuan petasma. Apabila udang betina bertelur, spermatophora akan pecah dan sel-sel sperma akan membuahi telur di luar badan induknya (Pratiwi, 2008)

Pemijahan di alam terjadi sepanjang tahun dengan puncak-puncak tertentu pada awal dan akhir musim penghujan. Penurunan kadar garam pada awal dan kenaikan pada akhir musim penghujan dibarengi dengan perubahan suhu yang mendadak diduga memberi rangsangan pada induk yang matang telur untuk memijah. Pada saat inilah benur dapat ditangkap pada jumlah yang besar. Sedangkan pada pembenihan buatan prinsipnya diperlukan induk betina matang telur yang sudah dikawini oleh udang jantan di dalam bak peneluran atau didalam bak larva. Langkah berikutnya adalah menetaskan telur dan memelihara larva dari hasil tetasan tersebut sampai mencapai tingkat post larva umur 5-10 hari (Prawidihardjo et al. dalam Poernomo, 1976).

FISIOLOGI UDANG WINDU
Daya tahan hidup organisme dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dengan air (media) lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik itu dilakukan melalui mekanisme osmoregulasi. Mekanisme ini dapat dinyatakan sebagai pengaturan keseimbangan total konsentrasi eklektrolit yang terlarut dalarn air media hidup organisme. Osmoregulasi ini erat kaitannya dengan daur hidup udang windu tersebut. Udang Windu memiliki dua lingkungan dalam daur hidupnya yakni laut dan estuary (muara sungai) (Musida, 2015).

Udang windu mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu udang harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis didalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal (Musida, 2015).

TINGKAH LAKU DAN CIRI-CIRI UDANG WINDU
Udang windu (Penaeus monodon) memiliki sifat-sifat dan ciri khas yang membedakannya dengan udang-udang yang lain. Udang windu (Penaeus monodon) bersifat Euryhaline, yakni secara alami bisa hidup di perairan yang berkadar garam dengan rentang yang luas, yakni 5-45%. Kadar garam ideal untuk pertumbuhan udang windu (Penaeus monodon) adalah 19-35%. Sifat lain yang juga menguntungkan adalah ketahanannya terhadap perubahan temperature yang dikenal dengan eurythemal (Suryanto dkk 2004).

Boyd (1998), menyatakan bahwa selama proses moulting udang menyerap Kalsium dan Magnesium. Kandungan zat tersebut sangat dibutuhkan dalam jumlah yang tinggi. Pergantian kulit ini merupakan indikator terjadinya pertumbuhan. Selama udang berganti kulit biasanya udang tidak bernafsu makan, udang tidak banyak bergerak dan dalam kondisi yang lemah. Ada 3 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada Udang Windu, yaitu faktor fisika, faktor kimia dan faktor biologi.

Udang windu bersifat omnivora dan seringkali bersifat kanibal karena memakan udang yang sedang moulting. Udang windu tergolong hewan nocturnal karena sebagian besaraktifitasnya seperti makan dilakukan malam hari. Kulit udang windu tidak elastis dan akan berganti kulit selama pertumbuhan. Frekuensi pergantian kulit ditentukan oleh jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, usia dan kondisi lingkungan. Setelah kulit lama terlepas udang windu dalam kondisi lemah karena udang baru belum mengeras. Pada saat ini udang mengalami pertumbuhan sangat pesat diikuti dengan penyerapan sejumlah air, semakin cepat udang berganti kulit maka pertumbuhan semakin cepat (Murtidjo 2003).

MANFAAT UDANG WINDU
Udang windu merupakan komoditi ekspor perikanan utama yang mempunyai potensi cukup tinggi dan dagingnya gurih serta bergizi. Disamping itu udang tersebut sangat disukai karena seluruh tubuhnya dapat dimanfaatkan sebagai penunjang kebutuhan ekonomi masyarakat, seperti kulitnya dapat dijadikan campuran pembuatan pelet, dagingnya dapat diolah sebagai bahan makanan seperti file udang, kerupuk, abon dan terasi (Pratiwi, 2008).

PERAN UDANG WINDU DI PERAIRAN
Udang di ekosistem aslinya bersifat pemakan segala (omnivora), detritus dan sisa-sisa organik lainnya baik hewani maupun nabati. Dalam mencari makan udang mempunyai pergerakan yang terbatas, tetapi udang selalu didapatkan di alam oleh manusia, karena udang mempunyai sifat dapat menyesuaikan diri dengan makanan yang tersedia di lingkungannya dan tidak bersifat memilih (Pratiwi, 2008).

PENULIS
Sabrina Maysarah
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Boyd, C. E. 1998. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Alabama, USA : Agricultural Experiment Station, Auburn University.
Google image. 2015. www.google.com diakses pada 10 november 2015 pukul 18:00 wib
http://aquaculture04.blogspot.com/2017/12/tiger-shrimp-penaeus-monodon.html
Khairul, Amri. 2003. Budidaya Udang Vaname.
Musida. 2015. http://www.musida.web.id/?q=indo/mengapa-ikan-perlu-melakukan-osmoregulasi
Poernomo, A.1976. Usaha Mini Hatchery dan Pertokolan Udang Windu, FaktorPendukung Strategis bagi Keberhasilan Budidaya Udang Pola Sederhana. Puslitbangkan. Jakarta.34 hal.
Pratiwi, R. 2008. Aspek Biologi Udang Ekonomis Penting. Jurnal Oseana. 33(2): 1-24.
Sudarmini, E dan B. Sulistiyono, 1988. Biologi Udang Windu dan Perkembangannya. Balai Budidaya Air Payau Jepara.
Zipcodezoo. 2015 www.zipcodezoo.com diakses pada 10 november 2015 pukul 19:00 wib

2 comments: