Tuesday, June 30, 2020

Nebelia Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Nebelia sp adalah kelompok tanaman vaskular yang termasuk kelas Angiospermae dan termasuk phylum Plantae.

KLASIFIKASI NEBELIA SP
Phylum : Plantae
Class : Angiospermae
Genus : Nebelia
Spesies : Nebelia sp 

MORFOLOGI NEBELIA SP
Angiospermae adalah kelompok  tanaman vaskular. Struktur reproduksi subdivisi angiospermae adalah bunga di mana bakal biji diapit oleh ovarium angiosperma ditemukan di hampir semua habitat dari hutan dan padang rumput sampai pinggiran laut dan gurun.. Angiosperma menampilkan berbagai macam bentuk kehidupan termasuk pohon, tumbuh-tumbuhan, yang suka hidup diair, umbi dan epifit. Famili yang terbesar adalah Anggrek, dan Compositae (aster) dan Kacang-kacangan (biji).

HABITAT NEBELIA SP
Tumbuh pada substrat pasir dengan kedalaman air laut 10-30 cm, salinitas 32-33,5 o/oo dan suhu antara 27,25 0C-29,75 0C. Memiliki iklim yang sedang sampai dingin.

Lingkungan tempat tumbuh Nebelia sp terutama di daerah perairan yang jernih yang mempunyai substrat dasar batu karang, karang mati, batuan vulkanik dan benda-benda yang bersifat massive yang berada di dasar perairan.

Nebelia sp tumbuh dari daerah intertidal, subtidal sampai daerah tubir dengan ombak besar dan arus deras. Kedalaman untuk pertumbuhan dari 10 – 30 cm. tumbuh subur pada daerah tropis, suhu perairan 27,25 - 29,75 0C dan salinitas 32-33,5 %. Pertumbuhan Nebelia sp membutuhkan intensitas cahaya matahari berkisar 6500 – 7500 lux. Terdapat di laut dengan iklim yang sedang dan dingin.

FISIOLOGI NEBELIA SP
Tubuh berwarna dominan hijau, yang telah tua berwarna agak kecoklatan. Selain itu juga Cladophora glomerata memiliki rhizoid yang menyerupai akar pada tumbuhan tinggi yang berfungsi untuk melekatkan dirinya pada substrat, sedangkan assimilator berfungsi untuk menghasilkan Nutrisi.

REPRODUKSI NEBELIA SP

Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual terjadi melalui pembelahan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada alga bersel tunggal. Alga berbentuk koloni tanpa filamen atau yang berbentuk filamen umumnya bereproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasi adalah terpecah-pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.

Selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, alga juga dapat bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospora merupakan sel tunggal yang diselubungi oleh selaput dan dapat bergerak atau berenang bebas dengan menggunakan satu atau lebih flagela. Setiap zoospora merupakan calon individu baru.

MANFAAT NEBELIA SP
Dimanfaatkan sebagai industri  makanan atau farmasi, algin atau asam alginate dari Dictyota digunakan dalam pembentukan es krim, pembentukan pil, salep, pembersih gigi, dan lotion.

Diketahui juga mempunyai aktivitas antibakteri. Memiliki kandungan kimia berupa phenols, vitamins, and folic acids. Berfungsi untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok.

PENULIS
Bonaventura Brama Bagaskara
FPIK Univeristas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Univeristas Brawijaya Angkatan 2014

Monday, June 29, 2020

Histioneis Adalah



Histioneis adalah karakteristik suatu anggota Dinoflagellata . Genus ini ditandai dengan sangat bervariasi bentuk dan terjadinya istimewa dalam lapisan yang lebih dalam dan sedikit yang diketahui individu keragaman spesies, morfologi rinci dan atau distribusi bio-geografis merekaDari sudut pandang biogeografi, total sekitar 40 spesies dari genus ini telah dicatat dari  Oceab Wordl Namun, hanya Sembilan spesies dari samudra hindia 13 spesies dari selatan-barat Samudra Atlantik 13 spesies  dari selatan-barat Samudra Atlantik dan 18 spesies dari Mediterania Genus ini ditandai dengan bentuk yang sangat bervariasi dansebuah anteroposterior diratakan tubuh, oval dari sisimelihat, kira-kira setinggi lebar, tebal, seringkali dengan bentuk Y atau L. Histioneiscells menunjukkan asimetri dansisi kiri tubuh cenderung untuk menampilkan pembesaran relatifsamping kanan. Oleh karena itu, daftar sulcal kiri lebihdikembangkan dari daftar sulcal tepat. Selain itu,daftar korset proyek ke depan apikal lebih (Taylor,1987). Cingulum ini memiliki tepi punggung yang sangat panjang, adalahhampir horisontal dan sangat cekung. Dua daftar korsetadalah cyanobacteria yang kuat dan biasanya terjadi simbiosis .Untuk identifikasi spesies, ukuran sel dan bentuk, tulang rusuk pada daftar sulcal kiri, fitur daftar korset dan struktur dinding hypothecal penting karakteristik. Epitheca telah direduksi menjadi menit disc dalam genus ini. Semua anggota genus ini dikenal sebagai penghuni temperature hangat untuk spesies beriklim sedang. Namun, karena jarang merekan terjadinya, transparansi tubuh dan ukuran sel kecil,  Spesies ini kecil yang memiliki tubuh bulat. Kiri Daftar sulcal menunjukkan struktur diperluas dan tulang rusuk pada daftar yang menonjol. Sel 40-45 m panjang, 18-20 pM lebar. Genus Histioneis migrasi ke Mediterania Red-Sea dan Indo-Pasifik.

PENULIS
Bayu Nadya Risky Iri
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Gambar Histioneis https://eol.org/pages/2492101

Sunday, June 28, 2020

Chroococcus Turgidus Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Chroococcus Turgidus Adalah Ganggang Bersel Tunggal Yang Termasuk Kelas Cyanophyceae.

KLASIFIKASI CHROOCOCCUS TURGIDUS
Kingdom : Plantae
Divisi : Schizophyta
Kelas : Cyanophyceae
Ordo : Chroococcales
Family : Chroococcaceae
Genus : Chroococcus
Spesies : Chroococcus turgidus.

MORFOLOGI CHROOCOCCUS TURGIDUS
Ganggang bersel tunggal, struktur tubuh masih sangat sederhana, ukuran mikroskopis, tubuh ditutupi lendir, merupakan uniselular atau tidak berkoloni tanpa spora,  warna  biru kehijauan.

HABITAT CHROOCOCCUS TURGIDUS
Chroococcus turgidus banyak ditemukan diperairan-perairan air tawar seperti pada kolam. tumbuh pada suhu dan pH optimum yaitu pada rentan suhu 32-35ºC dan pH 6,0. Biasanya hidup dilingkungan yang sedikit asam hingga basa, tumbuhan ini menyebabkan air menjadi berwarna kehijauan.

Habitat anggota Cyanophyta bervariasi, dapat ditemukan di perairan dengan salinitas yang bervariasi, juga di temukan di dalam tanah. Beberapa ditemukan di atmosfer. Ada juga jenis – jenis yang ditemukan di sumber air panas yang suhunya 73 - 74°C. Sejumlah alga hijau biru tumbuh berasosiasi dengan organisme lain, misalnya Anabaena yang hidup pada akar Cycas dan paku air Azolla.

FISIOLOGI CHROOCOCCUS TURGIDUS
Chroococcus, Hidup didasar kolam yang tenang, berkembang biak secara vegetatif dengan membelah diri, mempunyai pengikat sel-sel muda
• Struktur tubuh terdiri atas satu sel, ada pula yang bersel banyak. Yang bersel banyak berupa benang atau koloni.
• Tidak berkloroplas, tetapi berklorofil
• Sel-sel bersifat prokariotik yaitu bahan ini belum terbungkus oleh membran inti atau karioteka
• Mempunyai pigmen fikosianin
• Sebagai vegetasi perintis, yaitu dapat hidup pada daerah yang tumbuhan lain tidak dapat hidup.
• Cara hidupnya sebagai epifit atau sebagai endofit pada hewan atau tumbuhan dan sebagai plankton
• Pada umumnya alga biru berkembang biak secara vegetatif, yaitu dengan membelah diri atau fragmentasi

REPRODUKSI CHROOCOCCUS TURGIDUS
Reproduksi aseksual terjadi melalui pembelahan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada alga bersel tunggal. Alga berbentuk koloni tanpa filamen atau yang berbentuk filamen umumnya bereproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasi adalah terpecah-pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.

Selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, alga juga dapat bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospora merupakan sel tunggal yang diselubungi oleh selaput dan dapat bergerak atau berenang bebas dengan menggunakan satu atau lebih flagela. Setiap zoospora merupakan calon individu baru.

MANFAAT CHROOCOCCUS TURGIDUS
Penemuan baru yang masih terus diuji coba dalam penelitian menunjukkan bahwa Cyanophyceae jenis Chroococcus turgidus dapat digunakan sebagai pestisida hayati yang dapat membunuh laeva nyamuk Aides aigepty.

Tetapi Beberapa spesies cyanobacteria memproduksi neutrotoksin, hepatotoksin, sitotoksin, dan endotoksin, membuat mereka berbahaya bagi hewan dan manusia.

PENULIS
Bonaventura Brama Bagaskara
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Gambarchroococcusturgidushttp://Diatom.Org/Lakes/Taxa/Cyano/Limnococcus/TB-Limnococcus_Limneticus.Htm

Closterium Sp; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Closterium adalah genus dari ganggang dari keluarga Closteriaceae. Closterium juga termasuk ke dalam phytoplankton.

KLASIFIKASI CLOSTERIUM SP
Domain : Eukaryota
Kingdom : Protista
Division : Chlorophyta
Class : Zygnemophyceae
Order : Desmidiales
Family : Closteriaceae
Genus : Closterium

MORFOLOGI CLOSTERIUM SP
Closterium memiliki bentuk tubuh seperti bulan sabit. Sel berbentuk lanset, yaitu berbentuk seperti mata tobak dan tidak berlekuk. Panjang sel 145-260 μm dan lebar 30-32 μm. Bentuk tepi ventral lurus dan tepi dorsal melengkung serta membengkak pada bagian tengah, sedangkan bentuk (apeks) ujung runcing. Pada kloroplasnya terdapat garis longitudinal (ridge) berjumlah 4-5 dan terdapat 6-8 pirenoid.

HABITAT CLOSTERIUM SP
Clostridium hidup di perairan payau dan perairan air tawar. Karena Sebagian besar Closterium hidup di perairan payau dan tawar.

REPRODUKSI CLOSTERIUM SP
Closterium dapat melakukan perkembangbiakan dengan dua cara yaitu seksual dan aseksual. Perkembangbiakan aseksual yaitu dengan cara pembelahan biner dari sel induk dipartisi. Sedangkan yang seksual dengan cara konjugasi untuk membentuk sebuah hypnozygote. Closterium merupakan unisellular. Kelompok yang merupakan uniseluler relatif paling dekat dengan tanaman darat. Ganggang ini mampu membentuk dua jenis aktif diploid zygospores .Beberapa populasi membentuk zygospores dalam satu klon sel (homothallic), sedangkan yang lain membentuk zygospores antara klon sel yang berbeda (heterotolik). Strain heterotolik memiliki dua jenis kawin, mt (-) dan mt (+). Ketika sel-sel dari jenis kawin berlawanan dicampur dalam media kawin nitrogen-kekurangan, mt (-) dan mt (+) sel pasangan satu sama lain dan melepaskan protoplas. Rilis ini kemudian diikuti oleh fusi protoplas (konjugasi) yang mengarah ke pembentukan zygospore diploid. Seks feromon disebut protoplas-release merangsang protein yang diproduksi oleh mt (-). dan mt (+) sel memfasilitasi proses ini. Strain homothallic dari Closterium membentuk zygospores selfing melalui konjugasi dua sel adik gametangial berasal dari satu sel vegetatif. Konjugasi di strain homothallic terjadi terutama pada kepadatan sel rendah dan diatur oleh ortolog dari heterotolik feromon seks spesifik.

TINGKAH LAKU CLOSTERIUM SP
Tingkah laku Closterium seperti plankton pada umumnya yaitu melayang-layang di dalam perairan. Closterium menyukai perairan yang relatif berarus tenang dan memiliki kadar pH yang relatif netral. Spesies dari jenis ini sangat mudah ditemukan di perairan payau ataupun tawar, karena jumlahnya masih banyak di dalam habitatnya.

PERAN CLOSTERIUM SP DI PERAIRAN
Seperti phytoplankton pada umumnya, Closterium memiliki peranan  menjaga ekosistem perairan. Khusunya perairan payau dan perairan air tawar. Termasuk didalamnya ekosistem mangrove. Closterium dimanfaatkan sebagai makan oleh zooplankton yang ada sekitar perairan payau tersebut. Phytoplankton memiliki peranan yang sangat penting bagi perairan.

JENIS-JENIS CLOSTRIDIUM
1.
Clostridium cornu
2.
Clostridium ehrenbergii
3.
Clostridium gracile
4.
Clostridium incurvum
5.
Clostridium littorale
6.
Clostridium lunula
7.
Clostridium moniliferum
8.
Clostridium navicula
9.
Clostridium peracerosum
10.
Clostridium peracerosum-strigosum-littorale complex
11.
Clostridium pleurodermatum
12.
Clostridium pusillum
13.
Clostridium selenastrum
14.
Clostridium spinosporum
15.
Clostridium tumidum
16.
Clostridium venus
17.
Clostridium wallichii

PENULIS
Romi Dwi Nanda
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Saturday, June 27, 2020

Microcytis Adalah: Morfologi atau Ciri-Ciri, Habitat, Peranan



Microcytis adalah alga yang dominan di seitem [perairan baik dalam kondisi terjadi eutrifikasi maupun tidak karena microcytis hidup pada kondisi perairan yang tercemar berat beberapa penelitian selalu menyebutkan bahwa Microcytis mampuu hidup pada kondisi suhu 36

MORFOLOGI ATAU CIRI-CIRI MICROCYSTIS
Ciri-ciri Microcystis adalah terdiri dari sel-sel kecil (diameternya hanya beberapa mikron) yang tidak memiliki selaput individual Sel-sel tersebut biasanya tergabung menjadi koloni besar yang dapat dilihat dengan mata telanjang yang awalnya berbentuk bulat, namun kemudian mulai kehilangan bentuk menjadi tak teratur.

Warna protoplasnya adalah biru-hijau terang, tampak gelap atau coklat karena efek optik vesikel yang terisi oleh gas; karakteristik ini dapat digunakan untuk mengenali genus ini.

HABITAT MICROCYTIS
Microcystis diketahui dapat ditemukan di setiap benua Antartika tapi. Ini tinggal di dekat permukaan badan air karena ketergantungan pada oksigen. Karena harus tinggal di dekat permukaan itu membantu organisme untuk hidup secara lebih masih air menyedot sebagai danau. Organisme mencatat lain di habitat mikroskopis yang meliputi cacing gelang, dinoflagellata, diatom , arthropoda , ganggang hijau, dan cyanobacteria lainnya. Cacing gelang adalah hewan seperti nematoda terkait erat dengan cacing tanah dan cacing pipih , dinoflagellata sering protista fotosintetik, diatom mengacu pada sekelompok organisme yang dikenal untuk struktur silika mereka indah dan tampaknya tidak wajar, arthropoda adalah hewan yang biasanya berhubungan dengan hewan seperti serangga seperti jangkrik , kepiting , atau bahkan daphnia , dan ganggang hijau juga protista photsynthetic. Ada penelitian yang menunjukkan korelasi positif antara tingginya jumlah dinoflagellata dan Microcystis. M. aeruginosa menyebabkan ganggang yang merupakan mencegah beberapa kutu daun mencapai permukaan dan memperoleh oksigen.

PERANAN MICROCYTIS
Alga ini dapat menjadi sangat berbahaya ketika terjadi blooming kearena menyebabkan dampak yang tidak di inginkan di perairan dima tersebut menghasi;kan toksin microsytin yang stabil hepatoksik. Toksin tersebut dapat mengahambat proses metaabolisme juga menyebabkan kematian pada ikan ikan dan organism melalui rantai makanan. Manusia juga kontak dengan perairan yang terjadi blooming Microcytis akan dapat memeyebabkan pernyakit diare iritasi serta penyakit hati.

PENULIS
Bayu Nadya Risky Iri
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014
                                         
EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Thursday, June 25, 2020

Daphnia Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Daphnia sp. adalah komponen utama zooplankton air tawar dengan panjang tubuh antara 0,2 - 3,2 mm (Pennak, 1953). Daphnia sp. mempunyai bentuk tubuh pipih bilateral.Tubuh ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung khitin transparan yang disebut karapaks (Djarijah, 1995). Pembagian segmen tubuh Daphnia sp. hampir tidak terlihat. Daphnia sp. memiliki tubuh transparan sehingga organ tubuh bagian dalam terlihat jelas.Pada bagian kepala terdapat mata majemuk, ocellus, dan dua pasang antena yaitu antena pertama dan antena kedua yang bercabang dengan panjang mencapai setengah atau lebih dari panjang tubuh yang berfungsi untuk berenang, maxilla, dan mandibula (Ebert, 2005).

KLASIFIKASI DAPHNIA
Phylum : Arthropoda
Sub phylum : Crustacea
Kelas : Branchiopoda
Ordo : Cladocera
Family : Daphnidae
Genus : Daphnia
Spesies : Daphnia sp
      
MORFOLOGI DAPHNIA
Secara morfologi pembagian segmen pada tubuh Daphnia sp.hampir tidak terlihat. Pada bagian tubuh menyatu dengan kepala. Bentuk tubuh membungkuk kearahbagian bawah, hal ini terlihat dengan jelas melalui lekukannya. Beberapa spesies Daphnia sebagian besar anggota tubuh tertutup oleh carapace, dengan kaki semu yang berjumlah enam pasang dan berada pada rongga perut. Bagian tubuh yang paling terlihat adalah mata, antena dan sepasang setae.

Pada dinding tubuh Daphnia sp. bagian punggung membentuk suatu lipatan yang menutupi anggota tubuh lain sehingga terlihat seperti cangkang. Bagian ini membentuk kantung sebagai tempat menampung telur. Pada bagian cangkang tersebut terbentuk karena banyak menyerap air, kulit yang lunak kemudian menjadi keras. Kerasnya cangkang terbentuk ketika mineral-mineral pembentuk cangkang tersedia di perairan.

HABITAT DAPHNIA
Habitat Daphnia sp. adalah air tawar yang tergenang (Nasution dan Supranoto, 2004). Daphnia sp. menjadi zooplankton dominan di perairan, Daphnia sp. juga dapat hidup pada bagian atas kolom air di dekat permukaan air yang kaya fitoplankton (Clare, 2002). Daphnia sp. merupakan plankton yang mempunyai ukuran tubuh kecil dan lemah untuk melawan arus yang kuat. Daphnia sp. hanya mampu bergerak migrasi secara vertikal (Waterman, 1960). Pennak (1989) menyatakan bahwa Daphnia sp. dapat tumbuh pada lingkungan dengan kisaran pH antara 6,5 – 8,5, dimana kisaran pH optimumantara 7,2 – 8,5,salinitas umumnya sekitar 1,5 ppt, sedangkan suhu optimum untuk Daphnia sp. adalah 18 – 24oC. Konsentrasi oksigen terlarut optimum yaitu di atas 3,5 mg/l.Pada kandungan amoniak antara 0,35 – 0,61 ppm, Daphnia sp. masih dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik (Mokoginta, 2003).

FISIOLOGI DAPHNIA
Beberapa Daphnia memakan jenis crustacean dan rotifer (Branchionus), namun sebagian besar Daphnia adalah filter feeder dengan memakan alga biru kuran kecil dan berbagai macam detritus organik termasuk bakteri. Partikel makanan yang tersaring kemudian dibentuk menjadi bolus yang akan turun melalui rongga pencernaan sampai penuh dan melalui anus ditempatkan di bagian ujung rongga pencernaan. Sepasang kaki pertama dan kedua digunakan untuk membentuk arus kecil saat mengeluarkan partikel makanan yang tidak mampu terserap.

REPRODUKSI DAPHNIA
Mekanisme reproduksi Daphnia adalah dengan cara parthenogenesis (tanpa kawin),dan sebagian besar telur yang dihasilkan akan menetas menjadi Daphnia betina. Kemudian satu atau lebih individu muda dirawat dengan menempel pada tubuh induk. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas di dalam ruang pengeraman. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5mm, anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Menurut Siregar (1996) jika kondisi lingkungan hidup Daphnia sp. tidak sesuai  dan kondisi pakan tidak memadai, beberapa Daphnia sp. akan memproduksi telur berjenis kelamin jantan. Kehadiran jantan ini dapat membuahi telur Daphnia (ephippium), satu ekor Daphnia sp. jantan dapat membuahi ratusan betina dalam satu periode. Telur dari hasil pembuahan dapat bertahan dan berkembang hingga fase gastrula dan segera memasuki fase dorman. Selain itu telur ini juga terlindungi dengan mekanisme pertahanan terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Selanjutnya Daphnia sp. hidup dan berkembang biak secara aseksual. Perkembangan naupli hingga pada fase dewasa dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pada suhu 220C-310C dan pH 6,5-7,4 dapat berkembang menjadi dewasa dalam waktu 4 hari dan bertahan hidup selama 12 hari.

PARAMETER KUALITAS AIR
Kualitas air merupakan suatu hal yang menentukan optimalisasi kehidupan bagi organisme perairan, termasuk pada Daphnia sp.  Organisme ini dapat hidup dan berkembang biak dengan baik pada kondisi yang stabil. Faktor-faktor yang mempengaaruhi antara lain oksigen terlarut (DO), pH, suhu, amoniak, dan ketersediaan nutrient.  Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup Daphnia sp. Pada umumnya Daphnia sp. dapat hidup pada kondisi oksigen terlarut (DO) diatas 3 mg/l (Ebert, 2005). Kondisi oksigen terlarut tersebut dibutuhkan oleh Daphnia sp. dalam proses metabolisme di dalam tubuhnya. Suhu yang masih dapat ditoleransi oleh Daphnia sp. bervariasi sesuai pada lingkungan tersebut. Daphnia sp. umumnya dapat hidup optimal dengan kisaran suhu 22-31oC (Radini, 2004), sedangkan kisaran derajat keasaman (pH) pada Daphnia sp. yang masih dapat ditolerir adalah 7,2–8,5 (Clare,2002). Dengan meningkatnya suhu dan pH maka akan mempengaruhi peningkatan kadar NH3 di perairan. Menurut Lavens dan Sorgeloos (1996) kadar amoniak untuk Daphnia sp. masih dapat hidup yaitu pada konsentrasi 0,2 ppm. Sedangkan menurut Radini (2004) Daphnia sp. masih bertahan pada kadar ammonia di bawah 0,2ppm dan dapat berkembang biak dengan baik.

PENULIS
Fadilla Septi Kartikasari
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.umg.ac.id/206/2/BAB%20II.pdf

Rhizosolenia Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Rhizosolenia adalah diatom dari family Rhizosoleniaceae De Toni adalah kelompok penting marine fitoplankton, yang diperoleh dari sampel yang bersih dan air dari berbagai habitat. Genera Rhizosolenia Brightwell, Neoca - lyptrella Hernández-Becerril dan Meave, Pseudosolenia Sundström dan Proboscia Sundström adalah spesies laut diatom sangat umum yang sering mendominasi laut diatom assemblages. Laut diatom genus Rhizosolenia didirikan lebih dari satu abad yang lalu dengan R. americana sebagai tipe spesiesnya.

KLASIFIKASI RHIZOSOLENIA
Phylum : Ochrophyta
Class : Bacillariophyceae
Order : Rhizosoleniales
Family : Rhizosoleniaceae
Genus : Rhizosolenia

MORFOLOGI ATAU CIRI-CIRI RHIZOSOLENIA
• Memiliki alur yang memusat (central) pada permukaan cawannya
• Perkembangbiakannya dapat membelah diri
• Cosmopolitan
• Diameter 13-230µm
• Habitatnya di laut

HABITAT RHIZOSOLENIA
Empat Rhizosolenia spesies laut diatom muncul di 30 situs di perairan pantai Korea dari September 2008 sampai Februari 2010. Di perairan pantai Korea, Shim (1994) melaporkan 26 Rhizosolenia spesies dan dua genera yang terkait, dan Lee (1995) terdaftar 19 Rhizosolenia spesies dan empat berkaitan genera dalam pemeriksaan data dari awal 1930 untuk akhir 1995.

TINGKAH LAKU RHIZOSOLENIA
Sebuah deskripsi rinci dan diferensial diagnosis genus disediakan, didasarkan terutama pada ciri-ciri morfologi yang umum untuk empat spesies (R. stylifor - mis, R. imbricata, R. setigera, dan R. alata) yang mencakup karakteristik berikut : berserabut, frustules sub silindris, sangat memanjang, silicious, ditandai dengan garis melintang, calyptriform ekstremitas, menunjuk dengan bulu dan umumnya bersel tunggal.

Di perairan pantai Korea, Shim (1994) melaporkan 26 Rhizosolenia spesies dan dua genera yang terkait, dan Lee (1995) terdaftar 19 Rhizosolenia spesies dan empat berkaitan genera dalam pemeriksaan data dari awal 1930 untuk akhir 1995. Sejak itu, studi Korea telah dilakukan sporadis, dan identifikasi spesies, synonymies dan sistem filogenetik keluarga Rhizosoleniaceae tetap tidak mencukupi.

PERAN RHIZOSOLENIA DI PERAIRAN
Empat Rhizosolenia spesies laut diatom muncul di 30 situs di perairan pantai Korea dari September 2008 sampai Februari 2010. Bentuk sel, diameter, panjang pervalvar axis, proses eksternal, segmen dan areolation karakter dari spesies yang diteliti. Semua empat spesies yang cylindrically dibentuk, tetapi proses yang luar berbeda. Segmen striations adalah secara teratur lurus dan velum menunjukkan heksagonal, melingkar pori-pori dan celah sempit. Rhizosolenia formosa dan R. hyalina adalah hanya terjadi pada bulan September 2008 dari laut kuning, R. bergonii muncul sepanjang tahun dari pantai Selat Korea dan Yangyang, dan R. setigera berlimpah menunjukkan di semua musim dari semua situs. R. formosa adalah spesies baru direkam di perairan pantai Korea.

Rhizosolenia bergonii H. Peragallo 1892 (Fig. 2, A-G) R. bergonii menyerupai R. temperei H. Peragal - lo dan pohon palem R. (H. Peragallo) H. Peragallo umum penampilan, struktur areola dan kurangnya otaria.

Rhizosolenia hyaline Ostenfeld in Ostenfeld and Schmidt 1901 (Fig. 4, A-F) R. hyalina adalah jelas dan ringkas de - scribed oleh Ostenfeld (Ostenfeld dan Schmidt 1901). Spesies ini menunjukkan ciri-ciri yang diuraikan di atas. Ada sangat sedikit variabilitas yang diamati. Hanya beberapa studi floristic termasuk R. hyalina (Hustedt 1920, Gaarder 1951, Sourina 1968). Itu mungkin adalah terkandung dalam Allen dan Cupp's (1935) Deskripsi R. clevei, yang itu re - sembles dangkal.

Rhizosolenia Formosa H. Peragallo 1888 (Fig. 3, A-I) R. formosa adalah sebuah spesies yang sangat besar dan sangat lemah frustules dalam genus Rhizosolenia. Di LM obser - vations, R. formosa dibedakan oleh bentuk segmen ikat pinggang dan ukurannya yang besar. Menurut Sund - str Umlaut m (1986), R. formosa menyerupai R. styliformis dan R. formosa di Thailand. Tapi pola-pola areola dan struktur katup dan segmen dibedakan antara dua spesies. Rhizosolenia setigera Brightwell 1858 (Fig. 5, A-G) R. setigera menyerupai R. antennata f. semi - spina dan R. hebetata f. semispina secara morfologi katup dan proses. Namun, spesies ini dibedakan dari kedua dua spesies oleh kurangnya otaria. Selain itu, R. setigera adalah takson yang kosmopolitan, spesies lain terjadi di daerah air dingin.

REPRODUKSI RHIZOSOLENIA
R. bergonii adalah spesies dari daerah air hangat (Sundstr Umlaut m 1986, Hasle dan Syvertsen 1996, Romero dan Hensen 2002). Selama masa kini studi, tercatat pada bulan Januari dan Oktober 2009 di Selat Korea dan Yangyang.

R. formosa adalah mungkin circumglobal dalam perairan Kelautan dan wilayah air hangat. Itu terlihat di perairan sekitar Ko Phuket, Thailand melalui tahun, tapi jarang berlimpah (Sundstr Umlaut m 1986). Dalam studi ini, R. formosa adalah baru rekaman species pada bulan September 2008 di oceanic perairan laut kuning di Korea. R. hyalina adalah spesies air hangat (Sundstr Umlaut m 1986, Hasle dan Syvertsen 1996). Itu adalah - porting untuk pertama kalinya dari Samudera Atlantik Selatan tahun 1982 dari marine perairan Rio Grande do Sul oleh Rosa (1982) dan kemudian dikutip dalam beberapa tulisan dari perairan pesisir lain Brasil (Moreira Filho et al. 1999). Selama studi ini, R. hyalina diamati pada September 2008 di samudera perairan laut kuning.

R. setigera adalah jenis/takson kosmopolitan, prob - cakap absen dari Kutub perairan Hasle dan Sy - vertsen (1996). Formulir ini sering dilaporkan dari Argentina perairan (Vouilloud 2003) sebagai variasi dalam beberapa kasus. Spesies yang diamati dari September 2008 September 2009 di Selat Korea, di Pulau Jeju, Daecheon, Wolseung, Kanghwa Island, adalah Geoje - tanah, Namhae, Sacheon dan Tongyeang.

FISIOLOGI RHIZOSOLENIA
Rhizosolenia bergonii H. Peragallo 1892 (Fig. 2, A-G) Sel-sel R. bergonii biasanya soliter, cylindri - cal, Co-financing simetris, dan melingkar di penampang. Spesimen ditemukan di Korea perairan pantai 7,5-18.6 μ m dengan diameter, dan sel-sel yang 211.7-313.3 μ m panjang. Katup akut dan kerucut. Bagian ventral Valve lebih lama daripada dorsal. Areolae katup yang memanjang ke arah pervalvar axis. Areolae adalah 20-25 per 10 μ m, ar - berkisar di konvergen striae menuju puncak 15 per 10 μ m trapesium dalam garis besar. prosesnya tebal, lurus, mempersempit clefted di ujung, 3.2-16.1 μ m panjang, internal struktur proses terlihat oleh LM, dengan basal lumen gelendong-berbentuk, tiba-tiba di tubular canal dan ex - panded ke dalam lobang berbentuk saluran di ujung. Con - tiguous daerah ini terlihat oleh SEM, sedikit tertekan, tidak dibatasi oleh pegunungan marjinal. Claspers dan otaria adalah ab - dikirim. Segmen ikat pinggang adalah dalam dua kolom dorsiventral atau beberapa kolom, sangat bervariasi dalam ukuran dan bentuk, rhom - boidal untuk trapesium dalam garis besar. Segmen dengan sumbu horisontal dan tegak lurus sumbu yang saling 7,5-18.6 μ m dan 8.1-12,2 μ m panjang. Segmen areolae, 22 10 μ m, disusun dalam striae sejajar sumbu pervalvar, 20-22 per 10 μ m, dengan pola quincuncial sekunder.

Rhizosolenia Formosa H. Peragallo 1888 (Fig. 3, A-I) Sel-sel R. formosa biasanya soliter atau jarang berpasangan, silindris, Co-financing simetris dan melingkar di penampang. Spesimen yang 93,3-206.3 μ m dengan diameter. Shallowly kerucut katup dan sel adalah 493.3-700 μ m panjang. Bagian ventral Valve lebih lama daripada dorsal, medial diperluas ke lidah menampung kesan adik-sel proses. Areolae katup yang memanjang ke arah pervalvar, 18-25 10 μ m. Pro - cess meruncing dari dasar, menyerupai tabung, 3,8-27,7 μ m panjang, 1,9-3,9 μ m dengan diameter dari proses. Con - tiguous daerah ini terlihat dengan LM, berbeda sepanjang bagian tengah dari permukaan ventral. Claspers dan otaria yang hadir dan cukup menonjol. Ikat pinggang segmen diatur dalam dua kolom dorsiventral, biasanya dari bentuk sayap, rata-rata margin pendek, lateral margin sangat panjang. Segmen hori - zontal axis dan axis tegak lurus yang 93,3-206.3 μ m dan 23,9-28.3 μ m panjang, masing-masing. Segmen areolae, 10-43 per 10 μ m, dengan pola quincuncial sekunder.

Rhizosolenia hyaline Ostenfeld in Ostenfeld and Schmidt 1901 (Fig. 4, A-F) Sel-sel R. hyalina biasanya soliter, rantai formulir - ing, silinder, Co-financing simetris dan melingkar di penampang. Spesimen yang ditemukan di perairan pantai Korea adalah 20-63.3 μ m dengan diameter. Sub kerucut katup dan sel adalah 225.7-300 μ m panjang. Bagian ventral Valve lebih lama daripada dorsal. Katup garis adalah karakter berombak-ombak. Areolae katup yang memanjang ke arah pervalvar, 43-45 per 10 μ m. Proses ini tipis, lurus atau sedikit melengkung, panjang, meruncing berbentuk jarum di puncak, dan 26,7-80 μ m panjang. Berdekatan tempat terlihat jelas hanya dekat margin mana adik-sel proses menjadi - gin, claspers jelas didirikan. Otaria memperpanjang sepanjang proses, sempit, bulat di ujung, paralel untuk sumbu panjang proses. Kolom ikat pinggang segmen di 2n (n 2, 3,... 8), sel-sel dengan hanya dua ikat pinggang segmen kolom tidak ditemukan dalam penelitian ini, bulat subrectangular untuk rhomboidal untuk trapesium, dengan areolae. Segmen hori - zontal axis dan axis tegak lurus adalah 23,8-26,2 μ m dan 10,5-14,3 μ m panjang, masing-masing. Segmen areolae, 24-36 per 10 μ m, dengan pola quincuncial sekunder.

Rhizosolenia setigera Brightwell 1858 (Fig. 5, A-G) Sel-sel soliter atau dalam pasangan, silindris, Co-financing simetris, melingkar di Penampang, 3.3-16,7 μ m dalam di - ameter, dan 125-350 μ m panjang. Katup adalah tajam sub-kerucut, memanjang. Katup areolae adalah poroid. areo - lae dengan celah-seperti pori-pori, 20-50 per 10 μ m, dengan pola orthostic sekunder. Pori-pori yang tersebar melingkar, tidak teratur didistribusikan di antara areolae atau mengambil tempat beberapa areolae, dibedakan dalam tampilan eksternal. Proses yang sangat panjang jarum bentuk, hampir lurus, lebih luas di dasar dan secara bertahap meruncing sepanjang puncak, 33.3-130.7 μ m panjang. Daerah berdekatan ini diamati, berbentuk alur, deep - er di wilayah basal daripada wilayah terminal. Otaria absen, claspers kurang terlihat. Segmen dengan horizontal axis dan axis tegak lurus adalah 23,8-26,2 μ m dan 10,5-14,3 μ m panjang masing-masing. Ikat pinggang segmen yang rhomboidal trapesium dan diatur dalam dua dorsi - ventral kolom. Segmen areolae bulat, 30-50 per 10 m μ, diatur dalam striae berorientasi ke arah pervalvar, dengan pola quincuncial sekunder.

R. setigera adalah jenis/takson kosmopolitan, prob - cakap absen dari Kutub perairan Hasle dan Sy - vertsen (1996). Formulir ini sering dilaporkan dari Argentina perairan (Vouilloud 2003) sebagai variasi dalam beberapa kasus. Spesies yang diamati dari September 2008 September 2009 di Selat Korea, di Pulau Jeju, Daecheon, Wolseung, Kanghwa Island, adalah Geoje - tanah, Namhae, Sacheon dan Tongyeang.


PENULIS

Fadilla Septi Kartikasari
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015