Thursday, April 30, 2020

Ikan Rasbora Galaxy; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Rasbora Galaxy tergolong kedalam ikan hias yang lincah dan bergerak aktif. Rasbora Galaxy akan tumbuh dengan baik pada suhu air 25 derajat celcius dengan tingkat pH sebesar 7 dan dengan pencahayaan yang terang. Rasbora Galaxy hanya dapat mencapai panjang maksimal 5 cm, oleh karena itu ikan hias ini tergolong ikan hias yang memiliki tubuh kecil (Axelrods,1992).

KLASIFIKASI IKAN GALAXY RASBORA
Menurut Action (2011), ikan Galaxy Rasbora mempunyai klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Order : Cypriniformes                              
Family : Cyprinidae
Genus : Danio
Species : Danio margaritatus

HABITAT IKAN GALAXY RASBORA
Galaxy Rasbora hidup pada daerah berarus tetap dengan banyak tanaman air dengan suhu 20C – 26 C dan Ph 6,5 – 7,5. Di habitat aslinya ikan ini menempati kolam-kolam kecil yang dangkal dan bersuhu hangat saat musim panas. Ikan Galaxy Rasbora merupakan ikan cyprinidae kecil yang berasal Myanmar tepatnya di Danau Inle (Action, 2011).

Ikan Galaxy Rasbora atau yang dikenal dengan nama Celestrial Pearl Dnaio merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar berukuran kecil yang berasal dari Danau Inle, Myanmar. Secara klasifikasi, ikan ini termasuk dalam family Cyrpinidae dan genus Danio. Dikenal dengan nama ilmiahnya Danio margaritatus, galaxy rasbora memang tergolong ikan yang sangat mini. Pada umumnya, ikan ini hanya memiliki panjang tubuh 1.5 hingga 2 cm. Bentuk tubuh dan tingkah lakunya sangat menyerupai ikan danio jenis lainnya (Peryuni, 2013).

Ikan kecil ini lebih menyukai tempat yang berarus dan memiliki banyak tumbuhan air. Mereka mampu bertahan hidup pada temperatur sekitar 20-260 Celcius dan kada pH 6.5-7.5. Secara alami, mereka hidup di dalam kolam kecil dangkal yang memiliki temperatur hangat di saat musim panas (Peryuni, 2013).

FISIOLOGI IKAN GALAXY RASBORA
Ikan Galaxy Rasbora jantan memiliki ciri khas biru cerah pada tubuhnya, sedangkan betina lebih ke pucat kebiruan. Ukuran tubuh ikan jantan umumnya lebih besar ketimbang ikan betinanya. Di seluruh tubuhnya, terdapat banyak bintik-bintik berupa titik menyerupai mutiara berukuran kecil, namun siriip ikan ini berwarna strip hitam-merah. Sedangkan pada betina, perutnya berwarna kekuningan, dan sirip berwarna oranye muda atau merah muda (Peryuni, 2013).

MORFOLOGI IKAN GALAXY RASBORA


Jantan menampilkan warna-warna cerah dan bagian terakhir dari livery, biru pada jantan, cenderung hijau zaitun pada wanita. Betina memiliki perut cembung, dengan cara yang paling mencolok daripada jantan. Harapan hidup di penangkaran diperkirakan 2 - 3 tahun, tetapi bisa mencapai 5.

Ikan Galaxy Rasbora merupakan ikan cyprinidae kecil yang berasal Myanmar tepatnya di Danau Inle. Ikan ini sangat mini dengan panjang standar 1,5 – 2 cm, serta mempunyai bentuk fisik dan kebiasaan yang sama dengan spesies danio yang lain. Galaxy rasbora mempunyai warna tubuh yang cerah dengan menunjukkan beberapa sexual dimorphism. Pejantan mempunyai warna baground tubuh biru cerah (betina cenderung biru – hijau pucat) dengan tubuh yang biasanya berukuran lebih besar dibanding betina. Tubuh ikan ini ditaburi dengan banyak titik-titik mutiara kecil dengan warna sirip yang strip hitam – merah. Ikan betina mempunyai warna perut yang kekuningan dengan sirip berwarna merah atau orange lemah (Khoirunnisa, 2013).

Selain ukuran tubuhnya yang mini, ikan ini memiliki tubuh yang berwarna cerah. Antara jantan dan betina bisa dibedakan dari warna tubuhnya karena ikan ini memiliki sexual dimorphism atau dimorfisme seksual, perbedaan sistematik luar diantara individu makhluk hidup secara jenis kelamin berbeda, namun masih dalam satu spesies. Ikan Galaxy Rasbora jantan memiliki ciri khas biru cerah pada tubuhnya, sedangkan betina lebih ke pucat kebiruan. Ukuran tubuh ikan jantan umumnya lebih besar ketimbang ikan betinanya. Di seluruh tubuhnya, terdapat banyak bintik-bintik berupa titik menyerupai mutiara berukuran kecil, namun siriip ikan ini berwarna strip hitam-merah. Sedangkan pada betina, perutnya berwarna kekuningan, dan sirip berwarna oranye muda atau merah muda (Peryuni, 2013).

CIRI-CIRI IKAN GALAXY RASBORA
Galaxy rasbora mempunyai warna tubuh yang cerah dengan menunjukkan beberapa sexual dimorphism. Pejantan mempunyai warna baground tubuh biru cerah (betina cenderung biru – hijau pucat) dengan tubuh yang biasanya berukuran lebih besar dibanding betina. Tubuh ikan ini ditaburi dengan banyak titik-titik mutiara kecil dengan warna sirip yang strip hitam – merah. Ikan betina mempunyai warna perut yang kekuningan dengan sirip berwarna merah atau orange lemah (Indrayana, 2011).

REPRODUKSI IKAN GALAXY RASBORA
Breeding dapat dilakukan di aquarium dengan menyediakan tangki berukuran 30 x 20 x 20 cm dan diisi dengan beberapa tanaman seperti wool mops dan java moss, dan tetap disediakan area yang cukup untuk berenang. Tangki tidak memerlukan adanya pencahayaan dan filtrasi, cukup alat gelembung udara jika ada. Sepasang ikan dewasa ditempatkan ke dalam tiap tangki breeding, hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko jantan agar tidak memakan telur mereka. Setelah proses bertelur selesai, pisahkan ikan dewasa karena mereka akan memakan apapun yang ada dan juga untuk memulihkan kondisi betina. Jika setting breeding dilakukan dengan menempatkan satu jantan dan beberapa betina maka yang dipindahkan adalah telurnya menggunakan pipet. Telur akan menetas setelah 3 – 4 hari dan anakan ikan tersebut dapat memakan paramaecium, artemia naupli dan microworm, atau apapun yang berukuran 5 – 50 micron (Aji, 2015).

Pemijahan dilakukan secara berpasangan. Caranya, masukkan sepasang ikan yang telah dewasa ke dalam akuarium. Dengan cara ini, ikan jantan tidak akan memangsa telur. Setelah kedua ikan selesai melakukan perkawinan, dan telur mereka telah siap menetas, pindahkan segera ikan indukan ke wadah lain karena mereka akan memakan segala yang ada di dalam akuarium sebagai pemulihan setelah fase perkawinan. Telur kemudian menetas 3-4 hari setelah perkawinan. Anakan yang menetas biasanya memakan artema naupli, cacing mini, paramecium ataupun makhluk lainnya yang berukuran sekitar 5-50 micron. Di pasaran, ikan ini dijual di kisaran 6ribu-8ribu rupiah tiap ekor yang berukuran 1.5 cm. Di Indonesia, ikan ini masih jarang ditemukan sehingga seseorang perlu pergi ke toko aquascape hanya untuk mendapatkan ikan Galaxy Rasbora (Peryuni, 2013).

MANFAAT IKAN GALAXY RASBORA
Di pasaran, ikan ini dijual di kisaran 6ribu-8ribu rupiah tiap ekor yang berukuran 1.5 cm. Di Indonesia, ikan ini masih jarang ditemukan sehingga seseorang perlu pergi ke toko aquascape hanya untuk mendapatkan ikan Galaxy Rasbora (Peryuni, 2013).

Sementara dari sisi lain memelihara ikan hias juga dapat di jadikan sebagai bisnis yang menjanjikan dan menguntungkan sekali, karena permintaan pasar lokal dan ekspor terhadap ikan hias air tawar ini sangat tinggi dan bagus sehingga tidak heran banyak orang yang awal nya hanya sebagai hobi, kini beralih untuk mengembangkan hobi nya itu (Rukmana, 2014).

TINGKAH LAKU IKAN GALAXY RASBORA
Galaxy Rasbora berbentuk omnivora dengan mengkonsumsi invertebrata kecil, alga serta zooplankton yang lain. Di aquarium juga direferensikan selalu untuk berikan pakan hidup seperti Daphnia, Artemia serta sebagian Dryfood. Pemberian pakan hidup akan mendorong ikan untuk lakukan breeding/ reproduksi. Breeding bisa dikerjakan di aquarium dengan sediakan tangki memiliki ukuran 30 x 20 x 20 cm serta berisi sebagian tanaman seperti wool mops serta java moss, serta terus disiapkan area yang cukup untuk berenang. Tangki tak membutuhkan ada pencahayaan serta filtrasi, cukup alat gelembung hawa bila ada (Aji, 2015).

PERAN IKAN GALAXY RASBORA DI PERAIRAN
Ikan ini berperan sebagai penyeimbang pada rantai makanan perairan, ikan ini menjadi sumber makanan predator di perairan tempat tinggalnya.

PENULIS
Reni Ekowati P
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Action. 2011. Galaxy Rasbora (Danio Margaritatus), Si Tubuh Bertabur Mutiara Dari Myanmar. http://zafact.blogspot.co.id/2011/07/galaxy-rasbora-danio-margaritatus-si.html. Diakses pada tanggal 1 Desember 2015 pukul 19.07 WIB.
Aji,Rivan.2015.DuniaIkanBersejarah.http://cahserangcity.blogspot.co.id/2015_01_01archive.html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 pukul 09.15 WIB.
Axelrod H.R. and W. Vordenwinkler. 1983. Encyclopaeclia of tropical .fishes. TFH Publications,Inc. New York-USA. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Axelrod H.R., W.E. Burgess, N. Pronek and J.G. Walls. Dr. Axelrod's atlas of freshwater aquarium fishes. 1995.Eight edition. TFH. Publications, Inc. NewYolk-IlSA. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
https://acquariofilia.org/english-articles/danio-rasbora-galaxy/
Indrayana, Yudistira. 2011. Indonesian Freshwater Fish Community – IFFC. http:// fwflovers.blogspot.co.id/2011_02_01_archive.html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 pukul 09.04 WIB.
Khoirunnisa, Afwa. 2013. Ikan Rasbora Galaxy.  http://afwakeey.blogspot.co.id/2013/11/ikanrasboragalaxy.html.Diakses pada tanggal 1 Desember 2015 pukul 18.03 WIB.
Peryuni, Yuli. 2014. Ikan Galaxy Rasbora, Si Ikan “Mini” dari Myanmar. http://www.ikanhias-yuli.org/2014/11/ikan-galaxyrasborasiikanmini-dari.html.Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 pukul 15.05 WIB.
Rukmana. 2014. Manfaat Memelihara Ikan Hias Air Tawar. http://hewan.co/manfaat-memelihara-ikan-hias-air-tawar.html. Diakses pada tanggal 2 Desember 2015 pukul 09.07 WIB.

Wednesday, April 29, 2020

Ikan Rainbow Kuromoi; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan hias Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva) merupakan salah satu jenis ikan hias endemik Danau Kurumoi, Papua. Pada umumnya, ikan rainbow kurumoi hidup pada kondisi perairan dangkal dan mengalir tenang. Ikan rainbow kurumoi banyak ditemukan di Danau Kurumoi dengan kandungan kalsium yang tinggi (Sudarto et al. 2007). Keberadaan ikan ini di habitat aslinya terancam punah karena danau mengalami kekeringan akibat aktivitas penebangan hutan di sekitar danau, pendangkalan oleh erosi tanah dan penyempitan lahan (Kadarusman et al. 2010). Oleh karena itu perlu dilakukan usaha pengembangan budidaya ikan rainbow kurumoi. Kualitas air yang baik penting bagi ikan yang dipelihara, sehingga proses metabolisme meningkat dan menghasilkan energi yang diperlukan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan ikan rainbow kurumoi (Nurhidayat 2009). Menurut Tappin (2010) ikan rainbow kurumoi sebagai salah satu spesies ikan air tawar terbesar yang berada perairan di benua Australia dan Pulau Papua, memiliki karakteristik yaitu hidup pada kondisi air dengan pH yang tinggi. Kualitas air khususnya pH yang optimal merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat penting untuk keberhasilan budidaya ikan ini. Kondisi pH media pemeliharaan ikan rainbow kurumoi yang optimal tentunya akan membuat ikan ini bereproduksi lebih baik. Sementara itu, dalam upaya pengembangan kegiatan budidaya ikan rainbow kurumoi ini sering kali dijumpai kualitas air dengan pH air yang rendah berkisar 4,5-6,0, tentunya kondisi air pada pH tersebut kurang cocok untuk dilakukannya pengembangan budidaya ikan rainbow kurumoi ini. Untuk mendukung pertumbuhan ikan rainbow kurumoi pengaturan pH harus sesuai dengan habitat aslinya minimal mendekati kondisi basa. Mengingat hal tersebut maka diperlukan usaha untuk memperbaiki kualitas air. Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas air adalah melalui penambahan cangkang kerang yang dinyatakan mampu meningkatkan Ph (Yuliana. et al, 2016).

KLASIFIKASI IKAN RAINBOW KUROMOI
Menurut Nasution (2000), ikan Rainbow Kurumoi mempunyai klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Atheriniformes
Family : Melanotaeniidae
Genus : Melanotaenia
Spesies : Melaotaenia parva

HABITAT IKAN RAINBOW KUROMOI
Ikan rainbow tergolong dalam famili melanotaenidae yang terdistribusi di Irian Jaya, Papua New Guinea, dan Australia dengan habitat kebanyakan air bersih pada ketinggian di bawah 1500 meter, baik di sungai, danau,dan rawa (Said dan Tanjung, 2004). Ikan rainbow bersifat endemik di Danau Aitinjo dan Danau Ajamaru, Irian Jaya. Ikan ini aktif pada siang hari (diurnal) untuk mencari makan dan beraktifitas (Allen, 1991).

Melanotaenia parva saat ini dikenal hanya dari Danau Kurumoi, danau kecil dan terisolasi yang terletak di tanah genting yang menghubungkan Semenanjung Vegelkop dengan seluruh Nugini. Danau Kurumoi adalah bagian dari sistem Sungai Yakati. Ikan-ikan ini dikumpulkan sepanjang garis pantai Danau diantara tumbuhan-tumbuhan akuatik yang padat (Tappin, 2010).

Ikan rainbow merupakan salah satu komoditas ekspor dan salah satu ikan endemik yang artinya hanya ditemukan di Papua, Sulawesi dan Australia. Ikan rainbow yang berasal dari papua diantaranya ikan rainbow merah, boesmani dan kurumoi. Ikan rainbow merah dan boesmani telah dibudidaya oleh petani sekitar tahun 2003. Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva) telah dikoleksi oleh Balai penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH), pada tahun 2007 (Kadarusman et al., 2010). Menurut IUCN (2011), bahwa ikan rainbow statusnya masih kekurangan data.

FISIOLOGI IKAN RAINBOW KUROMOI
Menurut Lingga dan Susanto (2003), ikan Rainbow bertubuh panjang dan pipih (Compressed). Ikan ini memiliki sirip punggung ganda dimana sirip punggung kedua lebih besar dibanding sirip punggung pertama.

MORFOLOGI IKAN RAINBOW KUROMOI
Menurut Lingga dan Susanto (2003), ikan Rainbow bertubuh panjang dan pipih (Compressed). Ikan ini memiliki sirip punggung ganda dimana sirip punggung kedua lebih besar dibanding sirip punggung pertama.

Pada umumnya, perbedaan jantan dan betina secara morfologi-visual dapat ditandai dengan penunjuk panjang sirip dorsal kedua masing-masing individu, ujung akhir sirip dorsal kedua induk jantan selalu memanjang hingga mencapai hipural/basal ekor, sedangkan induk betina kebalikannya (Nur et al., 2011).

Setiap jenis ikan rainbow mempunyai warna yang berbeda (Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, 2012). Jenis Ikan Rainbow Kurumoi terutama jantannya mempunyai warna orange di tubuhnya dan warnanya lebih tajam menjelang memijah. Ikan rainbow memijah secara alami dan saat memijah memerlukan subtrat sebagai tempat menempel telur. Induk rainbow mengeluarkan telur secara bertahap sepanjang tahun. Jumlah telur yang dikeluarkan bervariasi. Telur akan menetas menjadi larva 5-7 hari setelah dibuahi (Kadarini et al., 2013).

CIRI-CIRI IKAN RAINBOW KUROMOI
Menurut Tappin (2010), dalam Nurhidayat dan Mochammad (2011), ada 95 jenis ikan Rainbow berasal dari Sulawesi dan Papua. Ikan Pelangi Kurumoi (Melanotaenia parva) jantan memiliki ukuran yang lebih besar dan memiliki warna yang lebih menarik dibandingkan ikan betina.

Menurut Lingga dan Susanto (2003), ikan Rainbow bertubuh panjang dan pipih (Compressed). Ikan ini memiliki sirip punggung ganda dimana sirip punggung kedua lebih besar dibanding sirip punggung pertama.

REPRODUKSI IKAN RAINBOW KUROMOI
Menurut Nur et al. (2011), ikan Rainbow dapat memijah dalam lingkungan yang terkontrol menggunakan wadah akuarium yang dilengkapi dengan substrat artifisial berupa rumbaian tali plastik sebagai tempat meletakkan telur-telurnya. Proses perkembangan embrio telur ikan Rainbow dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu pembelahan inti sel telur (2 sel, 4 sel, 6 sel, 8 sel, 16 sel, 32 sel, dan banyak sel), pembentukan calon embrio (morula, blastula, gastrula, dan neurula), dan perkembangan embrio hingga telur menetas (embrio awal, embrio akhir, dan telur menetas).

Telur ikan pelangi dilengkapi dengan perekat berbentuk filamen atau benang yang berfungsi untuk merekat pada substrat baik berupa kerikil, puing-puing kayu, akar tanaman, tanaman air, dan lain-lain sehingga terlindung dari pemangsaan oleh predator (Tappin, 2010).

Menurut Djadja et al. (1992), bahwa produksi larva dipengaruhi faktor dalam (gen) dan faktor luar (lingkungan dan umur). Kadarini et al. (2013), induk rainbow awal memijah pada umur sekitar 7 bulan berukuran panjang total ± 5 cm. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (2012), ukuran induk jantan di alam dapat mencapai ukuran 15 cm sedangkan dalam budidaya ukurannya kurang dari 15 cm. Dalam umur yang sama ukuran Induk betina lebih kecil dibanding yang jantan.

Menurut Djadja et al. (1992), bahwa produksi larva pada umumnya membentuk kurva sigmoid yaitu bahwa produksi larva pertama-tama meningkat dan kemudian menurun seiring dengan umur atau ukuran ikan. Untuk ikan rainbow kurumoi masih belum diketahui induk ukuran atau umur berapa produksi larva mulai meningkat dan menurun.

Pemijahan ikan Rainbow dilakukan secara alami yaitu dengan cara memasangkan indukan jantan dan betina dalam satu akuarium dengan perbandingan 1:1, selanjutnya diberi substrat berupa tali raffia agar induk dapat menempelkan telurnya pada substrat tersebut. Substrat digunakan untuk menempelkan telur yang dikeluarkan induk Rainbow. Seperti habitat aslinya, ikan Rainbow biasa menempelkan telur pada tanaman air maupun bebatuan. Substrat yang dapat digunakan untuk tempat menempelkan telur dapat berupa tanaman air, seperti enceng gondok, ijuk halus atau tali plastik yang dibuat serabut. Dari ketiga substrat tersebut substrat yang paling baik adalah dari tali plastik (Nasution, 2000).

PERAN IKAN RAINBOW KUROMOI DI PERAIRAN
Memelihara ikan hias juga dapat di jadikan sebagai bisnis yang menjanjikan dan menguntungkan sekali, karena permintaan pasar lokal dan ekspor terhadap ikan hias air tawar ini sangat tinggi dan bagus sehingga tidak heran banyak orang yang awal nya hanya sebagai hobi, kini beralih untuk mengembangkan hobi nya itu (Rukmana, 2014).

TINGKAH LAKU IKAN RAINBOW KUROMOI
Ikan rainbow aktif mencari makan pada siang hari (diurnal) (Allen, 1991). Pada malam hari, ikan rainbow lebih banyak beristirahat. Ikan rainbow juga merupakan ikan pelagis yaitu ikan yang mencari makanan di permukaan air. Umumnya, ikan jenis ini menghabiskan waktunya lebih lama berada di lapisan atas perairan.

MANFAAT IKAN RAINBOW KUROMOI
Usaha ikan hias merupakan bidang usaha agribisnis perikanan yang menghasilkan devisa dan nilai ekspornya tinggi (Satyani, 2006). Ikan rainbow merupakan ikan hias yang berasal dari Sulawesi dan Papua. Ikan rainbow dengan nama lokal ikan pelangi mempunyai warna di tubuh seperti pelangi untuk jenis rainbow bosmani warnanya biru dan kuning, sedangkan rainbow merah warna tubuhnya merah sedang ikan melanotaenia warnanya oranye. Rainbow jantan yang memiliki warna yang bagus atau menarik sehingga harga jualnya lebih mahal dibandingkan rainbow betina. Ada sekitar 95 jenis ikan rainbow.Ikan rainbow yang berasal dari Papua sekitar 35 jenis. Pada umumnya hampir sama tehnik budi dayanya yaitu pembenihan dan pembesaran. Ikan rainbow yang sudah dibudidayakan oleh petani adalah ikan rainbow bosmani dan rainbow merah tetapi secara ilmiah teknologi budi dayanya masih belum dilakukan (Kadarini, et al. -)

PENULIS
Reni Ekowati P
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Allen, G. R., 1991. Field Guide to Freshwater Fishes of New Guinea. Publ. No. 9 of The Christensen Research Institute. Madang-PNG. p.268. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 25 – 30.
Djadja S, Rahardjo, Ridwan E, Murniati B, Sulistiono. 1992. Fisiologi ikan II reproduksi ikan. Bogor: IPB Bogor.
IUCN. 2011. The IUCN red list of threatened species Melanotaenia parva (Lake Kurumoi Rainbowfish). IUCN, UK. Jurnal Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon Volume 1  No. 5: 1227-1232.
Kadarini T, Zamroni M, Pambayuningrum EK. 2013. Perkembangan larva rainbow kurumoi (Melanotaenia parva) dari hasil pemijahan. Jurnal Riset Akuakultur 8 (1): 77-86.
Kadarini, T., W. Kurniawan., L. Sholichah., dan G. SW. -. Produksi Larva Dari Tiga Jenis Ikan Rainbow (Red, Bosemani, Melanotaenia). Prosiding Seminar Nasional Ikan 6: 559-562.
Kadarusman, Sudarto, Paradis E, Pouyaud L. 2010. Description of Melanotaenia fasinensis, a new species of rainbowfish (Melanotaeniidae) from West Papua, Indonesia with comments on the rediscovery of M. ajamaruensis and the endangered status of M. Parva. Cybium 34 (2): 207-215. Jurnal Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon Volume 1 No. 5: 1227-1232.
Klaus Rudloff. 2020. https://www.biolib.cz/en/image/id375698/
Lingga, P dan Heru Susanto. 2003. Ikan Hias Air Tawar Edisi Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Nasution, S. H. 2000. Ikan Hias Air Tawar Rainbow. Jakarta: Penebar Swadaya.
Nur, B., Sudarto, Darti Satyani, dan Gigih Setia Wibawa, 2011. Viabilitas Reproduksi dan Pertumbuhan Ikan Pelangi Ajamaru (Melanotaenia ajamarunensis Allen & Cross). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011.
Nurhidayat dan Mochammad Zamroni. 2011. Pengaruh suhu yang berbeda terhadap pola pemijahan ikan pelangi Kurumoi (Melanotaenia parva) yang dipelihara pada fotoperiod 12 jam terang dan 12 jam gelap. Jurnal peneitian BRBIH Depok.
Rukmana. 2014. Manfaat Memelihara Ikan Hias Air Tawar. http://hewan.co/manfaatmemeliharaikanhiasairtawar.html.Diaksespada tanggal 2 Desember 2015 pukul 09.07 WIB.
Said, D. S dan L. R. Tanjung,2004. Temperature and Photoperiods Effect on the Spawning of Rainbow Fish (Melanotaenia boesemani). Proceeding of l" South East Asia Workshop on Photobiology in the Tropic I. 121 - 125.
Yuliana, D. Mustahal., A. N. Putra., dan T. Kadarini. 2016. Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Rainbow Kurumoi dengan Penambahan Cangkang Kerang Hijau Pada Media Pemeliharaan. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Volume 6, Nomor 2, Halaman: 116-124.

Tuesday, April 28, 2020

Ikan Corydoras Atau Ikan Tikus; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


Corydoras sp. Termasuk dalam familia collichthyidae, kelas siluridae dan sangat dikenal olah para hobiis ikan hias air tawar. Genus Corydoras yang berasal dari amerika selatan ini mempunyai banyak spesies tetapi yang banyak beredar dan sudah dibudidayakan ada 10 spesies yaitu Corydoras aeneus, Corydoras adolfoi, Corydoras barbatus, Corydoras paleatus, Corydoras panda, Corydoras pygmaeus, Corydoras rabauti, Corydoras septentrionalis, Corydoras sterbai, dan Corydoras sychri. Selain ukurannya yang umumnya kecil (maksimum 7,5 cm) dibandingkan dengan jenis catfish lain, jenis ini mempunyai dua baris sisik keras. Bentuk badannya kompak agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah. Hidup merayap di dasar pada suhu 24°c--28°c (tergantung spesiesnya); ph 7,0--7,5; dan hardness sekitar 10° dh. Disebut “tukang bersihbersih” karena senang membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya. Tingkah laku reproduksinya amat unik. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya kearah genital induk jantan yang dikenal dengan “posisi t” dan akan mengisap spermanya. Sperma ini akan dilepas melewati usus bersama dengan lepasnya telur kedalam “kantong” yang dibentuk oleh kedua sirip perutnya. Pembuahan efektif terjadi di sini. Kemudian telur akan dilekatkan ke substrat atau objek (daun, batu datar, dan sebagainya) yang sebelumnya telah dibersihkan oleh induk jantannya. Telur yang ditinggalkan akan menetas di substrat bila kondisi airnya sesuai dan cukup baik (Satyani, 2008).

Genus ini mempunyai banyak spesies. Menurut Sterba (1983), tercatat ada 95 spesies tetapi Matsuzaka (1993) dalam Kohda et al. (1995) telah menemukan ada 120 spesies. Namun demikian, yang banyak beredar di pasar dan sudah dibudidayakan di Indonesia khususnya daerah Jabodetabek adalah sekitar 10 spesies dan hanya 4 (empat) spesies yang banyak dibudidayakan di Jabodetabek, yaitu: Corydoras aeneus, Corydoras adolfoi, corydoras barbatus, corydoras paleatus, corydoras panda, Corydoras pygmaeus, Corydoras rabauti, Corydoras septentrionalis, Corydoras sterbai, dan Corydoras sychri. dari 10 spesies terdapat lagi varietas albino yaitu pada Corydoras aeneus, Corydoras paleatus, dan Corydoras sterbai. Jenis-Jenis Ikan Corydoras Menurut Satyani (2008):

Corydoras aeneus disebut juga sebagai bronze corydoras. warnanya adalah coklat hijau kemerahan seperti perunggu. ukuran maksimalnya 6,0 cm. mempunyai varietas albino dengan badan putih dan mata merah.

Corydoras adolfoi dengan nama umum adolfo’s cory. ukuran maksimalnya 6,0 cm. warnanya putih kebiruan dengan pita hitam vertikal pada daerah mata. pita ini terdapat membujur di punggung mulai dari ujung sirip punggung sampai ke pangkal ekor. ada warna kuning sampai merah terang di antara kedua pita tersebut.

Corydoras barbatus dengan nama umum giant corydoras atau barbatus catfish. merupakan corydoras yang berukuran paling besar yaitu mencapai 8 cm. disebut juga “king of corys”. warnanya coklat dengan bercak hijau kehitaman di seluruh tubuh sampai ke sirip-siripnya.

Corydoras paleatus disebut sebagai peppered corydoras. spesies dengan habitat bersuhu optimum yang lebih rendah dari yang lain (18°c--20°c), terutama saat pemijahan (geis, 2000). warnanya coklat gelap, lebih gelap dari corydoras aeneus. di sekitar kepala warna agak kebiruan. ukuran maksimalnya 7,5 cm. varietas albino berwarna putih dengan mata merah terang.

Corydoras panda atau panda’s cory. warna jenis ini putih agak kemerahan (pink) dengan pita atau garis lebar melintang di daerah kepala dan ekor. sirip punggung juga hitam. ukurannya mencapai 5,0 cm; yang kecil warnanya lebih terang dan bagus dari yang besar, sehingga yang laku di pasaran umumnya yang ukuran kecil di bawah 5,0 cm.

Corydoras pygmaeus atau pygmy cory. ukuran maksimalnya hanya 3,0 cm. warnanya kuning mengkilat agak coklat hijau seperti perunggu terang. ciri khasnya adanya pita hitam di tengah badan membujur mulai dari ujung mulut sampai ke pangkal ekor.

Corydoras rabauti dengan nama umum myer’s catfish. ukuran maksimal 6,0 cm. warnanya hijau kehitaman dengan punggung yang agak lebih gelap. matanya relatif besar dibanding corydoras lainnya.

Corydoras septentrionalis atau biasa disebut southern green cory. ukuran maksimal 6,0 cm. warnanya hijau agak gelap dengan bercak lebar hijau kehitaman di tiga tempat yaitu ujung daerah kepala, tengah, dan badan belakang dekat ekor. bentuk badannya lebih panjang atau langsing dibanding jenis yang lain.

Corydoras sterbai disebut juga Sterba’s Cory. Warnanya coklat dengan lurik (titik-titik halus berjajar) coklat tua. Sirip dada dan perut berwarna jingga terang. Ukuran dapat sampai 7,5 cm. Varietas albino luriknya tidak jelas.

Corydoras sychri yang disebut juga Dotted Cory. Ukuran maksimal adalah 5,0 cm. Warnanya putih dengan bintikbintik coklat hitam di seluruh tubuhnya. Ada pita lebar vertikal memotong daerah mata dari atas ke bawah.

KLASIFIKASI IKAN CORYDORAS
Klasifikasi ikan Corydoras panda menurut Hoedemen (1975) dalam Mudjiutami (2000) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Subordo : Siluroidei
Famili : Callichthydae
Genus : Corydoras
Spesies : Corydoras panda

HABITAT IKAN CORYDORAS
Habitat ikan ini di sungai sungai dan rawa-rawa, Genus Corydoras berasal dari perairan Amerika Selatan yaitu daerah Brazil, Trinidad sampai Argentina (Alderton, 1997; Axelrod et al., 1995; Sakurai et al., 1990). Ikan ini termasuk dalam familia Collichthyidae, Kelas Siluridae.

Ikan corydoras berasal dari kawasan Amerika Selatan, yaitu Brazil, Uruguay, Argentina, Venezuela, Colombia, dan Afrika, yakni Trinidad. Kisaran suhu air yang cocok untuk corydoras bergantung kepada ketinggian tempat ditemukan ikan ini, yaitu sekitar 10 – 12C di daerah subtropis dan hingga 32C di daerah tropis. Suhu pemeliharaan yang optimal untuk ikan corydoras adalah 22 – 27C dengan nilai pH air yang baik antara 6 – 8 dan kesadahan 90 – 180 mg/liter CaCO 3 (Mudjiutami, 2000). 

Corydoras merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang banyak diminati pencinta ikan hias dan mempunyai peluang ekspor. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan, tetapi sejak lama telah berhasil dibudidayakan di Indonesia (Radman, 2008).

FISIOLOGI IKAN CORYDORAS
Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut khas kelompok "Catfish". Sungut ini berjumlah dua pasang di atas dan di bawah mulut, yang berfungsi sebagai sensor atau peraba dalam mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000). Namun tidak seperti kebanyakan catfish yang tidak bersisik, tubuh Corlrloras diliputi oleh dua baris sisik besar yang clisebut plate (Sterba, 1983).

Corydoras bersifat omnivora tetapi senang pakan alami. Pakannya adalah cacing, kutu air, maupun hewan air lain yang kecil. Ikan ini juga menggunakan usus untuk bernafas, mengambil udara melalui mulut dan melewati perut sampai keujung usus (Kohda et al., 1997). Oksigen akan terserap langsung ke peredaran darah melalui usus yang sudah termodifikasi dengan banyak pembuluh darah (Sakurai et al., 1990; Bailey & Sandford, 1999). Kemampuan inilah yang akan memfasilitasi dalam melewatkan sperma secara cepat saat pemijahan (Satyani, 2008).

MORFOLOGI IKAN CORYDORAS
Ciri-ciri morfologi dari genus Corydoras antara lain tubuhnya pendek dan gemuk, punggung lebih melengkung dibanding perut, kedua sisi ikan dilengkapi dengan lempengan seperti tulang yang tersusun dalam dua baris, serta pada rahang atas dan bawah terdapat dua pasang kumis (Mudjiutami, 2000).

Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut khas kelompok "Catfish". Sungut ini berjumlah dua pasang di atas dan di bawah mulut, yang berfungsi sebagai sensor atau peraba dalam mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000).

Namun tidak seperti kebanyakan catfish yang tidak bersisik, tubuh Corydoras diliputi oleh dua baris sisik besar yang disebut plate (Sterba, 1983). Sirip dada dan sirip perut sepasang sementara sirip punggung dan yang lainnya tidak berpasangan. Sirip dada mempunyai tulang lancip dan keras yang digunakan sebagai senjata. Corydoras juga sering mengeluarkan bunyi seperti catfish lain, terutama saat pemijahan atau stress (ditangkap).

Menurut Geis (2000), bunyi terjadi dari gesekan pada sendi sirip dengan gelembung renang sebagai pengeras (sound system). Ikan ini hidup merayap di dasar perairan dengan suhu optimal 24 - 280 C (tergantung spesies), pH antara 7 – 7,5 dan kesadahan 100 dH (Alderton, 1997 ; Axelrod et al., 1995 ; Mills, 1986 ; Sakurai et al., 1990).

Diperkuat menurut Satyani (2008), Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut atau kumis khas kelompok “Catfish”. Sungut berjumlah 2 (dua) pasang di atas dan di bawah mulut berfungsi sebagai sensor atau radar untuk mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000). Tidak seperti kebanyakan catfish yang tidak besisik, Corydoras badannya diliputi oleh dua baris sisik besar yang disebut plate (Sterba, 1983). Sirip dada dan perut sepasang, sementara sirip yang lain tunggal. Sirip dada jari-jari pertamanya terdiri atas tulang yang lancip dan keras digunakan sebagai senjata. Corydoras juga sering mengeluarkan bunyi seperti ikan catfish lain, terutama saat pemijahan atau stres (ditangkap). Menurut Geis (2000), bunyi terjadi dari gesekan pada sendi sirip dengan gelembung renang sebagai pengeras (sound system).

CIRI-CIRI IKAN CORYDORAS
Warna tubuhnya kuning atau coklat muda dengan tanda hitam menyilang di beberapa bagian tubuh, yaitu mata, sirip punggung, dan ekor. Perpaduan warna ditubuhnya tersebut menyebabkan penampilan mirip panda sehingga dinamakan Corydoras panda (Mudjiutami, 2000).

Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut khas kelompok "Catfish". Sungut ini berjumlah dua pasang di atas dan di bawah mulut, yang berfungsi sebagai sensor atau peraba dalam mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000).

REPRODUKSI IKAN CORYDORAS
Menurut Lesmana dan Dermawan (2004), biasanya Corydoras panda akan bertelur atau memijah pada pagi hari sekitar pukul 06.30 – 07.30 waktu setempat. Pemijahan Corydoras panda dapat berlangsung secara massal dengan perbandingan jantan betina 1 : 2 – 4. Setelah didapatkan induk yang siap pijah, induk diukur panjang tubuhnya dan ditimbang berat tubuhnya terlebih dahulu. Setelah semua siap, kemudian induk dimasukkan dalam akuarium pemijahan. Setelah induk dimasukkan dalam akuarium pemijahan, kemudian pengamatan dilakukan 2 minggu yang digunakan induk untuk proses adaptasi pada akuarium yang baru. Ikan Corydoras panda ini suka pada tempat yang gelap. Terlebih lagi pada saat mereka kawin, mereka lebih suka pada tempat yang tenang dan tidak berisik, maka dari itu dibuat akurium yang gelap dengan mendesain akuarium yang telah ditutupi dengan plastik hitam.

Tingkah laku dalam reproduksinya amat unik. Sebelum memijah induk jantan dan betina yang sudah matang gonad akan berenang berendengan mencari tempat untuk meletakkan telur (sarang). Waktu bertelur biasanya jam 5.00 - 7.00 pagi (setelah subuh sampai matahari terbit). Walaupun mereka ikan dasar, tetapi untuk tempat telur biasanya dipilih tempat di kolom air, pada dinding akuarium, potongan paralon, batang dan permukaan dan atau obyek lain. Peternak umumnya memberikan potongan paralon sebagai sarang. Tempat tersebut akan dibersihkan permukaannya dengan mulut. Jantan umumnya lebih aktif daripada betina (Axelrod dan Vordenwinkler, 1983).

Sesudah itu induk akan lebih aktif berenang, sesekali mereka bersinggungan. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya di lubang genital jantannya dan dikenal dengan "posisi T" dan sperma akan diisapnya (Kohda et al., 1995).

Ovulasi akan teljadi setelah itu dan induk akan diam di dasar selama 1 – 1,5 menit, telur yang keluar sebanyak 2 - 5 butir ( Sterba, 1983 ; Geis, 2000). Telur ini akan ditempatkan di "kantong" yang dibentuk oleh pasangan sirip perut yang dibengkokkan (seperti tangan tengadah). Setelah itu baru induk betina membawanya ke tempat yang sudah dibersihkan dan rneletakkan telur disitu. Sementara induk jantan akan selalu menunggu di belakang betina untuk proses ulang. Proses ini diulangi beberapa kali sampai telur semua terevolusi. Biasanya satu induk mengeluarkan 50 – 200 butir telur tergantung dari spesiesnya (Sterba, 1983; Sakurai et al., 1990).

Tingkah laku reproduksinya juga sangat unik. Biasanya dipijahkan secara massal dalam bak atau akuarium dengan perbandingan jantan dan betina 1:3 atau 1:4. Waktu memijah adalah saat musim penghujan. Sebelum memijah induk jantan dan betina yang sudah matang gonad akan berenang berendengan mencari tempat untuk meletakkan telur (sarang). Waktu bertelur biasanya pukul 05.00--07.00 pagi (setelah subuh sampai matahari terbit). Walaupun termasuk ikan dasar tetapi untuk tempat telur biasanya dipilih di kolom air, pada dinding akuarium, potongan paralon yang digantung, batang, dan permukaan daun atau objek lain. Peternak umumnya memberikan potongan paralon sebagai sarang. Tempat tersebut akan dibersihkan permukaannya dengan mulut, jantan akan lebih aktif dari yang betina (Axelrod & Vordenwinkler, 1983) dalam (Satyani, 2008).

Sesudah selesai membersihkan tempat telur, induk akan aktif berenang kesana kemari dan sesekali mereka bersinggungan. Kadang mengeluarkan suara. Sebelum ovulasi terjadi induk betina akan menempatkan mulutnya di lubang genital jantannya dan dikenal dengan “Posisi T” dan sperma akan diisapnya (Kohda et al., 1995; Bailey & Sandford, 1999) dalam (Satyani, 2008).

Ovulasi akan terjadi setelah itu dan induk betina akan diam di dasar selama 1,0--1,5 menit, telur yang keluar sebanyak 2--5 butir (Sterba, 1983; Geis, 2000). Telur ini akan ditempatkan di “kantong” yang dibentuk oleh pasangan sirip perut yang dibengkokkan (seperti tangan ditangkupkan). Setelah itu baru induk betina membawanya ke tempat objek yang sudah dibersihkan dan dilekatkan di situ. Sementara induk jantan akan selalu menunggu di belakang betina untuk proses ulang. Proses ini akan berulang sampai semua telur terovulasi yaitu sebanyak 50--200 butir sekali pemijahan tergantung dari spesiesnya (Sterba, 1983; Sakurai et al., 1990; Bailey & Sandford, 1999). Telur-telur akan ditinggalkan dan tidak dirawat oleh induknya (Satyani, 2008).

Ada banyak teori mengenai bagaimana cara pembuahan pada Corydoras ini. Ada pendapat sperma disemprot dari mulut ke bawah badan betina, pada saat ia diam di dasar wadah, kemudian membuahi telur di “kantong”. Pendapat lain adalah sperma disemprotkan ke tempat telur yang disediakan, lalu dibuahi di tempat itu. Ada lagi pendapat bahwa sperma mengalir sepanjang badan betina sampai ke “kantong” (Axelrod & Vordenwinkler, 1983; Sterba, 1983; Sakurai et al., 1990; Matsuzaka, 1993 dalam Kohda et al., 1995). Tetapi dari penelitian Kohda et al. (1995) yang mengikuti jalan sperma dengan cairan berwarna seperti Metil Biru didapatkan hasil bahwa sperma ini ditelan oleh induk betina melewati usus dan dikeluarkan bersamaan saat ovulasi kedalam “kantong”. Pembuahan efektif terjadi di “kantong” itu pada saat induk berdiam di dasar wadah (Satyani, 2008).

Tingkah laku reproduksi lebih dari 20 spesies Corydoras telah dilaporkan berlangsung seperti di atas dan diduga hampir semua spesies seperti itu (Kohda et al., 1995). Menurut Kohda et al. (1995), ada 3 (tiga) kondisi karakteristik yang dapat memfasilitasi proses pemijahan seperti di atas dapat berlangsung yaitu: (1) usus Corydoras yang amat pendek, (2) letak sirip perut yang amat dekat dengan lubang anus, dan (3) seringnya ikan mengambil udara lewat mulut untuk bernafas melalui usus. Kondisi nomor 3 (tiga) ini memberikan kebiasaan yang baik dalam melewatkan sperma melalui usus (Satyani, 2008).

Telur Corydoras merupakan telur yang melekat (adhessive eggs). Perlekatannya amat erat dan susah untuk diambil atau dipindahkan dari objeknya. Para peternak umumnya memindahkan telur yang akan ditetaskan bersama dengan sarangnya atau induknya yang dipindahkan saat inkubasi. Telur akan menetas 2--3 hari tergantung dari suhu dan akan mulai berenang sesudah 5--6 hari. Sayang bahwa informasi mengenai reproduksi ikan ini di alam atau habitatnya hampir tidak ada. Tetapi dengan adanya proses sperma yang aktif dalam “kantong” kecil diduga merupakan adaptasi terhadap lingkungan dalam memberikan efektivitas pembuahan. Demikian pula telur yang melekat sangat erat pada objek yang tidak mudah hanyut dalam air berarus yang merupakan habitat ikan Corydoras di alam (Burgess, 1992; Matsuzaka, 1993 dalam Kohda et al., 1995) dalam (Satyani, 2008).

Tingkah laku dari ikan Corydoras terutama dalam reproduksinya adalah amat unik. Proses yang unik yaitu menelan sperma untuk pembuahan yang efektif dalam “kantong” di mana telur yang akan ditempatkan diduga merupakan evolusi dari adaptasi ikan kecil dalam lingkungan perairan yang berarus untuk mempertahankan generasinya (Satyani, 2008).

PERAN IKAN CORYDORAS DI PERAIRAN
Genus ini mempunyai banyak spesies. Menurut Sterba (1983), tercatat ada 95 spesies tetapi Matsuzaka (1993 dalam Kohda et al., 1995) telah rnenemukan ada 120 spesies. Namun demikian yang banyak dibudidayakan oleh petani saat ini hanya empat spesies yaitu Corydoras aeneus, Corydoras paleatus, Corydoras panda dan Corydoras sterbai. dari spesies tersebut varietas albino terdapat pada Corydoras aeneus dan Corydoras sterbai. Ikan ini berperan sebagai penyeimbang rantai makanan di lingkungan tempat tinggalnya, yaitu menjadi sumber energi bagi predator.

TINGKAH LAKU IKAN CORYDORAS
Corydoras merupakan ikan dasar dan senang merayap. Pakan yang tenggelam atau di dasar merupakan yang paling baik untuknya seperti cacing sutera (Tubnifex sp.), cacing darch (Chironomus sp.), atau pakan buatan tenggelam. Pada waktu kecil ikan senang berkelompok terutama dekat atau pada substrat. Sesudah dewasa bersifat soliter, walaupun di alam Corydoras yang sejenis atau sewarna akan berenang dalam rombongan (Sakurai et al., 1990).

Tingkah laku dalam reproduksinya amat unik. Sebelum memijah induk jantan dan betina yang sudah matang gonad akan berenang berendengan mencari tempat untuk meletakkan telur (sarang). Waktu bertelur biasanya jam 5.00 - 7.00 pagi (setelah subuh sampai matahari terbit). Walaupun mereka ikan dasar, tetapi untuk tempat telur biasanya dipilih tempat di kolom air, pada dinding akuarium, potongan paralon, batang dan permukaan dan atau obyek lain. Peternak umumnya memberikan potongan paralon sebagai sarang. Tempat tersebut akan dibersihkan permukaannya dengan mulut. Jantan umumnya lebih aktif daripada betina (Axelrod dan Vordenwinkler, 1983).

Sesudah itu induk akan lebih aktif berenang, sesekali mereka bersinggungan. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya di lubang genital jantannya dan dikenal dengan "posisi T" dan sperma akan diisapnya (Kohda et al., 1995).

Tingkah laku ikan ini amat unik selain senang merayap dan membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya, kelakuan saat pemijahannya amat menarik untuk diamati (Axelrod & Vordenwinkler, 1983; Sakurai et al., 1990; Kohda et al., 1995). Pemijahan yang terjadi melalui proses perkawinan yang amat unik yaitu dengan adanya pengisapan sperma oleh induk betina yang dikenal dengan “posisi T” (Kohda et al., 1995). Pembuahan dalam “kantong” yang dibentuk dari pasangan sirip perut untuk kemudian telur yang sudah dibuahi diletakkan di sarang (substrat) atau objek (Satyani, 2008).

Corydoras merupakan ikan dasar dan senang merayap. Pakan yang tenggelam atau di dasar merupakan yang paling baik untuknya seperti cacing sutera (Tubifex sp.), cacing darah (Chironomus sp.), atau pelet. Pada waktu kecil ikan ini senang berkelompok terutama dekat atau pada substrat, tetapi sesudah dewasa agak solitair. Walaupun demikian di alamnya menurut Sakurai et al. (1990) Corydoras yang sejenis atau sewarna akan berenang dalam rombongan (Satyani, 2008).

Ikan Corydoras amat sosial dan damai, tidak agresif baik sesama teman maupun dengan ikan jenis lainnya. Mempunyai kebiasaan menyapu atau membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya, sehingga disebut “tukang bersih-bersih”. Kotoran hasil sapuannya sering teronggok di dasar akuarium (Satyani, 2008).

MANFAAT IKAN CORYDORAS
Ikan hias air tawar akhir-akhir ini sudah amat populer sebagai mata dagangan baik lokal maupun ekspor. Semakin banyaknya penggemar atau hobiis yang memelihara ikan hias komoditas ini semakin berharga secara ekonomis (Satyani, 2008).

Di antara ratusan jenis ikan hias air tawar, Corydoras termasuk yang cukup terkenal dan amat bagus untuk komunitas akuarium. Banyak peternak atau pembudidaya yang membiakkan dan memeliharanya, dan pasarnya pun cukup bagus (Satyani, 2008).

Menurut Satyani (2008), Ikan corydoras berasal dari perairan Amerika Selatan dan telah diperdagangkan ke seluruh dunia dengan banyak spesies. Sterba (1983) mencatat ada 95 spesies sementara yang terakhir Matsuzaka (1993) dalam Kohda et al. (1995) telah menyatakan genus ini mempunyai 120 spesies. Namun demikian yang masuk pasar saat ini terutama yang sudah dibudidayakan di Indonesia khususnya daerah Jabodetabek adalah 10 spesies yaitu Corydoras aeneus, Corydoras adolfoi, Corydoras barbatus, Corydoras paleatus, Corydoras panda, Corydoras pygmaeus, Corydoras rabauti, Corydoras septentrionalis, Corydoras sterbai, dan Corydoras sychri. Ukuran ikan jenis ini cukup kecil maksimal 7,5 cm; sehingga amat cocok untuk akuarium. Dibandingkan dengan ikan catfish lain yang kebanyakan tidak bersisik, Corydoras mempunyai dua baris sisik besar. Sirip dadanya dilengkapi pula dengan tulang keras sebagai senjata (Sterba, 1983; Alderton, 1997).

PENULIS
Reni Ekowati P
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alderton D. 1997. The Hamlin book of tropical freshwater fish. Reed Intewrnational Book Ltd. Singapore and Toronto. 100 – 103. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Axelrod H.R. and W. Vordenwinkler. 1983. Encyclopaeclia of tropical .fishes. TFH Publications,InCorydoras New York-USA. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Axelrod H.R., W.E. Burgess, N. Pronek and J.G. Walls. Dr. Axelrod's atlas of freshwater aquarium fishes. 1995.Eight edition. TFH. Publications, InCorydoras NewYolk-IlSA. Jurnal  Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Dermawan, I. dan Lesmana, D, S. 2004. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer. Jakarta:  Penebar Swadaya.
Geis R. 2000. Caffish keeping & breeding them in captivity. TFH. Publications, InCorydoras NewYork – USA. 31 – 33. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Kohda M., M. Tanimura., M. K. Nakamura & S Yamagishi. 1995. Sperm drinking by female catfishes: a novel mode of Sterba G. 1983. Tlre acluaris't encyclopaedia. insemination. Environmental Biology of fishes 42: l-6. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Mills D. 1986. You and your aquarium. Alfred A.  Knopf,InCorydoras Toronto, Canada. 75p. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Mudjiutami, E. 2000. Ikan Hias Air Tawar: Corydoras. Jakarta: Penebar Swadaya.
          pukul 19.07 WIB.
Radman. 2008. Pembenihan Ikan Corydoras. http://www.radmanblog.com. Diakses pada tanggal 1 Desember 2015 pukul 15.08 WIB.
Satyani, D. 2008. Catfish Kecil Unik, Corydoras sp. Untuk Akuarium, Tingkah Laku Biologi dan Reproduksinya. Media Akuakultur Volume 3 Nomor 2 Tahun, Halaman 93-97.