Friday, January 17, 2020

Ikan Kuniran; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) adalah ikan air laut yang mempunyai ciri fisik berkepala tumpul, bentuk badan memanjang dan pipih dengan penampang melintang bagian depan punggung memiliki beberapa garis bengkok yang dalam, sirip dan ekor ikan berwarna kuning. Ikan Kuniran mempunyai garis berwarna coklat kemerahan memanjang dari moncong melewati mata sampai ke pertengahan dasar pangkal ekor.

KLASIFIKASI IKAN KUNIRAN

Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Kelas
: Actinopterygii
Subkelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Subordo
: Percoidei
Famili
: Mullidae
Genus
Upeneus
Spesies
Upeneus moluccensis
Nama FAO
Goldband goatfish
Nama Lokal    
: Ikan Kuniran (Demak)

MORFOLOGI IKAN KUNIRAN
Deskripsi morfologi ikan kuniran antara lain badannya memanjang, tinggi badan hampir sama dengan panjang kepala, dan lengkung kepala bagian atas agak cembung. Sungut dengan ujung tidak melewati atau mencapai bagian belakang kuping tulang penutup insang bagian depan. Maxilla (rahang atas) mencapai atau hampir mencapai garis tegak bagian depan mata. Panjang sirip perut (ventral) adalah 2/3 dari panjang sirip dada (pectoral). Kepala dan badan bagian atas merah terang sampai kekuningan, bagian bawah kuning agak terang dan agak keputihan dengan strip memanjang mulai dari belakang mata sampai dasar ekor bagian atas. Sungut berwarna putih. Ujung bagian atas sirip ekor mempunyai 6-7 garis melintang. Ujung tepi sirip ekor (caudal) bagian bawah berwarna keputihan (Permana, 2010).

Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) merupakan jenis ikan yang memiliki bentuk badan memanjang sedang, pipih samping dengan penampang melintang bagian depan punggung, serta ukuran maksimum tubuhnya yang dapat mencapai 20-25 cm. Ikan ini banyak ditemukan di perairan pantai. Jenis ini hidup di pantai berpasir sampai kedalaman 100 meter. Kebiasaan makanan ikan kuniran adalah 59,49% jenis udang, 14,51% ikan-ikan kecil, dan 13,51%  moluska (Budi dan Ardhi, 2009)

CIRI-CIRI IKAN KUNIRAN
Ikan kuniran termasuk dalam golongan ikan demersal dengan kandungan lemak rendah yang memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut: panjang rata-rata 20-22 cm, memiliki ekor dan sebuah garis berwarna kuning horizontal sepanjang tubuhnya, serta memiliki sungut dibagian dagu yang digunakan untuk mencari makanan di dalam pasir (Subagio et al., 2004).

Ikan kuniran tersebar hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia. Seperti yang diketahui, kelompok ikan demersal mempunyai ciri-ciri bergerombol tidak terlalu besar, aktifitas relatif rendah dan geraknya juga tidak terlalu jauh. Sehingga dari ciri-ciri yang dimiliki tersebut, kelompok ikan demersal cenderung relatif rendah daya tahannya terhadap tekanan penangkapan (Ariyani, 2012).

Selain tersebar di seluruh wilayah Indonesia, Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis) juga menyebar diseluruh Lautan yang bersuhu sedang sampai hangat. Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis) yang berada di sekitar Laut Mediterania, awalnya bermigrasi dari Laut Merah setelah pada tahun 1869 Terusan Suez dibuka. Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis) yang berada disekitar negara bagian Turki ini mempunyai kurang lebih 11 kandungan mineral yang ditemukan di daging dan siripnya (Abdullah dan Senol, 2011).

REPRODUKSI IKAN KUNIRAN
Fekunditas merupakan ukuran penilaian terhadap potensi reproduksi ikan, yaitu jumlah telur yang terdapat di dalam ovari ikan betina. Fekunditas ikan Kuniran dianalisis dengan data panjang total dan berat tubuh pada TKG III dan TKG IV. Fekunditas ikan Kuniran berkisar antara 19.850-92.713 butir dengan kisaran panjang ikan antara 114 mm –172 mm dan kisaran berat antara 22,01 gram –75,27 gram . Tingkat kematangan gonad ikan Kuniran jantan pada setiap zona didominasi oleh TKG I dan II dan TKG ikan Kuniran betina setiap zona didominasi oleh TKG III dan IV. Hubungan antara TKG dengan IKG jantan dan betina menunjukkan bahwa nilai IKG akan meningkat seiring dengan kenaikan TKG dengan nilai IKG lebih kecil dari 20% merupakan kelompok ikan yang dapat memijah lebih dari satu kali setiap tahunnya, serta ikan Kuniran termasuk berfekunditas besar karena jumlah telurnya lebih dari 10.000 butir yaitu berkisar 19850-92713 butir (Iswara et al., 2014). Beberapa penelitian yang telah  dilakukan oleh Saputra et al.,(2009) fekunditas yang dihasilkan oleh ikan Kuniran di Perairan Demak berkisar 44.320-2.455.286 butir dengan panjang 110 mm –215 mm danberar 20 gram –135 gram. Ukuran pertama kali matang gonad ikan Kuniran adalah 124,65 mm. Penelitian yang telah dilakukan oleh Sjafei dan Susilawati (2001) memperoleh ukuran pertama kali matang gonad ikan Kuniran di Teluk Labuhan Banten sebesar 120 mm untuk ikan jantan dan 125 mm untuk betina; di Perairan Demak ukuran pertama kali matang gonad sebesar 157 mm.

HABITAT IKAN KUNIRAN
Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) termasuk ke dalam jenis ikan demersal. Sebagai ikan konsumsi, ikan ini bernilai kurang ekonomis dibandingkan beberapa jenis ikan demersal lainnya. Ikan ini banyak digunakan sebagai bahan baku pakan dalam budidaya udang dan ikan . Harga dari ikan kuniran relatif murah sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membeli ikan ini. Ikan kuniran hampir tersebar diseluruh perairan Indonesia, salah satunya adalah sepanjang Laut Utara Jawa (Ariyani, 2012).

Menurut Iswara et al (2014), Ikan Kuniran termasuk golongan ikan demersal yang umumnya ditemukan di laut tropis dan subtropis dan biasanya di daerah sekitar terumbu karang. Ada sekitar 50 - 60 spesies ikan Kuniran yang diketahui di dunia. Ikan ini umumnya berwarna merah, kuning, dan silver.

Ikan kuniran hidup di perairan dengan dasar berlumpur, panjang ikan dapat mencapai ukuran 20 cm, serta tersebar luas di Indo-Pasifik Barat. Umumnya ikan-ikan demersal jarang sekali mengadakan migrasi ke daerah yang jauh. Hal ini terjadi karena ikan demersal mencari makan di dasar perairan sehingga kebanyakan dari mereka hidup pada perairan yang dangkal. Ikan Kuniran jarang sekali mengadakan ruaya melewati laut dalam dan cenderung untuk menyusuri tepi pantai. Kedalaman optimum ikan famili Mullidae ialah antara 40 – 60 m. Tipe substrat juga mempengaruhi kondisi kehidupan ikan famili Mullidae untuk dapat berkembang dengan baik. Ikan kuniran hidup di perairan dengan substrat berlumpur atau lumpur bercampur dengan pasir, namun ada juga ikan kuniran yang mencari makanan hingga ke daerah karang (Safitri, 2012).

MANFAAT IKAN KUNIRAN
Salah satu ikan yang dapat digunakan dalam pembuatan kamaboko adalah ikan Kuniran.Ikan Kuniran mudah diperoleh di pasaran sepanjang tahun.Ikan Kuniran merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting dan telah menjadi salah satu ikan yang digemari di dunia. Ikan Kuniran memiliki kandungan lemak rendah, rasa dagingnya khas, enak, lezat dan gurih sehingga digemari oleh masyarakat (Subagio et., al. (2004).

Komposisi daging ikan secara umum nilai gizinya terdiri dari air sebesar 60-80%, protein 18-30%, lemak 0.1-2.2%, karbohidrat 0,0-1,0% dan sisanya adalah vitamin dan mineral. Menurut Lab Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan Cirebon, komposisi nilai gizi utuk fillet ikan kuniran kering terdiri dari protein 60,8%, lemak 2,9%, abu 4,3% dan kadar air 1,4% (Boris, 2008).

TINGKAH LAKU IKAN KUNIRAN
Makanan adalah organisme, bahan, maupun zat yang dimanfaatkan ikan untuk menunjang kehidupan organ tubuhnya. Kebiasaan makan (feeding habit) adalah tingkah laku ikan saat mengambil dan mencari makanan. Tipe-tipe makanan ikan yang umum ditemukan adalah plankton, nekton, bentos dan detritus. Berdasarkan jenis kelompok makanannya ikan dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu herbivora, karnivora, dan omnivora (Safitri, 2012).

Ikan kuniran merupakan ikan karnivora yang memiliki panjang usus lebih pendek daripada ukuran tubuhnya. Ikan kuniran memiliki sungut di rahang bagian bawah (Prabha dan Manjulatha 2008). Ikan karnivora umumnya mempunyai gigi untuk menyergap, menahan, dan merobek mangsa dan jari–jari tapis insangnya menyesuaikan untuk penahan, memegang, memarut dan menggilas mangsa. Selain itu ikan karnivora juga mempunyai lambung, dan usus pendek, tebal dan elastis (Effendie 2002).

PERAN IKAN KUNIRAN DI PERAIRAN
Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) termasuk ke dalam jenis ikan demersal. Sebagai ikan konsumsi, ikan ini bernilai kurang ekonomis dibandingkan beberapa jenis ikan demersal lainnya. Ikan ini banyak digunakan sebagai bahan baku pakan dalam budidaya udang dan ikan . Harga dari ikan kuniran relatif murah sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membeli ikan ini. Ikan kuniran hampir tersebar diseluruh perairan Indonesia, salah satunya adalah sepanjang Laut Utara Jawa(Aryani, 2012).

Ikan Ekor Kuning dikenal pada hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di bagian timur dengan kondisi Terumbu Karang masih baik. Alat tangkap yang sering digunakan adalah perangkap (Bagan), Muro Ami, terkadang Gill Net. Paling sering ikan ini ditangkap dengan menggunakan alat terlarang dan tidak ramah lingkungan, seperti peledak (bom). Tergantung jenisnya, ikan ini bisa mencapai panjang 40 – 60 cm, yang sering tertangkap pada ukuran 25 – 30 cm. Jumlah yang tercatat ditemukan di Indonesia mencapai 16 jenis (Wiadnya dan Setyohadi, 2012)

PENULIS

Ayu Raeshya Aulea

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Affandi R & Tang UM. 2004 . Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru:Unri Press
Awong H, Ibrahim S, Somo K, & Ambak MA. 2011. Observation on Weight-Length Relationship of Priacanthus tayenus (Richardson, 1846) Spesies in Darvel Bay, sabah, Malaysia. World Journal of Fish and Marine Science 3 (3): 239-242.
Budi K, Eko dan F.E Ardi Wiharto. 2009. Ensiklopedia Populer Ikan Air Laut, Yogyakarta: Lily Publisher.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia Tahun 2004. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Effendie MI. 2002. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 163 hal.
FAO. 1999. The Living Marine Resources od Western Central Pasific. FAO Species Identification Guide for Fishery Purpose. Department of Biological Sciences Old Dominion University Norfolk, Virginia, USA.
Golani D, Sonin O, Edelist D. 2011. Second records of the Lessepsian fish migrants Priacanthus sagittarius and Platax teira and distribution extension of Tylerius spinosissimus in the Mediterranean. Aquatic Invasions Journal Compilation. 6 (1) : 1-11.
https://www.dictio.id/t/apa-yang-anda-ketahui-tentang-ikankuniran/45605
Ibrahim S, Muhammad M, Ambak MA, Zakaria MZ, Mamat AS, & Isa MM, & Hajısamae S. 2003. Stomach Contents of Six Commercially Important Demersal Fishes in the South China Sea. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 3: 11-16.
Okada, M. 1992. History of Surimi Technology in Japan. Dalam: Surimi Technology. Lanier TC, Lee CM, editors. New York : Marcel Dekker
Premalatha P. 1997. On the fishery and biology of Priacanthus hamrur Forsskal along the South West Coast of India. India Journal Fish. 44(3) : 265-270.
Sivakami S, Raje SG, Feroz MK, Shobha JK, Vivekananda E, Kumar R. 2001. Fishery and biology of Priacanthus hamrur (Forsskal) along the Indian coast. Indian journal of fisheries. 48(3) : 277-289.
Starnes WC. 1984. Priacanthidae. In FAO species identification sheets formfishery purposes. Western Indian Ocean (Fishing Area 51), edited by W. Fischer and G. Bianchi. Vol. 3. Rome, FAO (unpaginated).
Wiadnya, DGR., dan Setyohadi, D. 2012. Modul Pengantar Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Brawijaya
www.google.com/googleimage.2015.Diakses tanggal 23 Oktober 2015

Ikan Swanggi; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan salah satu jenis ikan demersal yang umumnya mendiami suatu perairan dasar atau daerah berbatu. Ikan swanggi termasuk ke dalam salah satu dari enam ikan demersal ekonomis penting di Laut Cina Selatan (Ibrahim et al. 2003). Secara umum ikan ini mencari makan secara nokturnal tetapi dapat juga mencari makan secara diurnal dengan sama baiknya. Makanan utamanya adalah dari jenis crustacea (dominan udang), cephalopoda kecil, polychaeta, dan ikan kecil (Starnes 1984).

Ikan Swanggi merupakan salah satu jenis ikan yang cukup banyak dikonsumsi karena harganya yang tidak terlalu mahal. Jumlah hasil tangkapan ikan Swanggi di PPP Morodemak tergolong banyak, namun data hasil tangkapannya tidak tercatat. Penangkapan ikan Swanggi dengan menggunakan alat tangkap Cantrang yang memiliki mesh size kecil jika dilakukan terus menerus memungkinkan perkembangan stok dari ikan ini menjadi terhambat dan mengancam potensi dari ikan Swanggi ini (Anindhita et al., 2014).

KLASIFIKASI IKAN SWANGGI
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Kelas
: Pisces
Subkelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Subordo
: Percoidei
Famili
: Priacanthidae
Genus
: Priacanthus
Spesies
: Priacanthus tayenus
Nama Indonesia
: Ikan Swanggi
Nama FAO
:Purple-spotted bigeye, Beauclaire tache pourpre (perancis), Catalufa mota purpúreo (Spanyol)

MORFOLOGI IKAN SWANGGI
Ikan swanggi secara morfologi memiliki badan agak tinggi, agak memanjang, dan pipih secara lateral. Tubuh, kepala, iris mata, dan sirip berwarna merah muda atau kemerah-merahan. Pada sirip perut memiliki bintik-bintik kecil berwarna ungu kehitam-hitaman dengan 1 atau 2 titik lebih besar di dekat perut. Bintik-bintik pada sirip perut ini yang membedakan ikan swanggi dengan ikan famili Priacanthidae yang lain (FAO 1999). Panjang maksimum ikan swanggi yaitu 29,5 cm di Brunei Darussalam (Awong et al. 2011).

Tulang belakang pada preoperkulum berkembang dengan baik. Jumlah tulang tapis insang pada lengkung insang pertama 21 sampai 24. Jari-jari sirip punggung berjumlah X jari-jari keras dan 11 sampai 13 jari-jari lemah. Jari-jari pada sirip dada 17-19. Sisik-sisik pada bagian tengah lateral dengan bagian posterior atas hilang dan memiliki sedikit duri kecil pada ikan yang lebih besar. Sisik-sisik lateral berjumlah 56 sampai 73 dan sisik-sisik linear lateralis berjumlah 51 sampai 67. Sisik pada baris vertikal (dari awal sirip dorsal sampai anus) 40 sampai 50 (FAO 1999).

Ikan swanggi merupakan ikan karang demersal dengan karakteristik khusus berwarna merah muda, memiliki mata besar, dan pada sirip perut terdapat bintik berwarna ungu kehitam-hitaman (FAO 1999). Menurut data statistik perikanan PPP Labuan, produksi tangkapan ikan swanggi dari awal tahun 2011 sampai saat ini menduduki posisi kelima dari total produksi tangkapan ikan demersal di PPP Labuan Banten, yaitu sebesar 4376.70 kg atau sekitar 4.90%.

REPRODUKSI IKAN SWANGGI
Ikan Swanggi pertama kali matang gonad pada ukuran 184 mm. Nilai tersebut jika dibandingkan dengan nilai Lc50% hanya sedikit perbedaannya. Ukuran Lm50% yang lebih besar dari nilai Lc50% menandakan bahwa ikan yang tertangkap masih dalam masa pertumbuhan atau belum matang gonad.Jika dilihat dari nilai L∞, dapat disimpulkan bahwa ikan yang tertangkap sudah merupakan ukuran yang besar dan layak tangkap. Di perairan Demak peluang untuk ikan Swanggi mengalami growth overfishing relatif kecil. Apabila dilihat dari komposisi TKG yang ada dapat dikatakan juga bahwa recruitment dari sumberdaya ikan Swanggi ini terjamin. Hal tersebut dapat dilihat dari peluang terjadinya recruitment overfishing yang juga relatif kecil karena hasil tangkapan dominan tidak berada pada fase yang siap memijah, sehingga pertumbuhan ikan terjamin dan dapat berkembang (Anindhita et al., 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sivakami et al. (2001) selama periode pengambilan contoh yang dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Desember tahun 1996 sampai dengan 1999 diketahui bahwa dominasi Priacanthus hamrur betina melimpah pada setiap bulan pengambilan contoh kecuali April, Juli, dan Desember, sedangkan berdasarkan Premalatha (1997) nisbah kelamin dari ikan Priacanthus hamrur di pantai barat daya India didominasi oleh ikan betina setiap bulannya, kecuali Juli.

Ikan swangi (P. Tayenus) di perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan memiliki 3 kelompok umur dan panjang ikan tersebar antara 100-292 mm. Ikan ini memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b sebesar 3,3525. Nilai parameter pertumbuhan model von Bertalanffy (K, L∞, to) berturut-turut adalah 346,40; 0,17; 052. Berdasarkan analisis mortalitas dan model produksi surplus didapat nilai mortalitas total (Z) 0,39; mortalitas alami (M) 0,32; mortalitas penangkapan (F) 0,16; eksploitasi (E) 0,42. Upya penangkapan optimum (Fmsy) sebesar 487 trip penangkapan per tahun dengan jumlah tangkapan maksimum lestari (MSY) sebesar 17.200,86 kg ikan/tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) sebesar 13.760,69 kg ikan/tahun (Adilaviana, 2012).

CIRI-CIRI IKAN SWANGGI
Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan ikan karang demersal dari famili Priacanthidae. Karakteristik ikan swanggi adalah mata besar dengan lapisan pemantul cahaya (Reflektif layer), memiliki sisik kasar (Powell 2000), dan bersifat diurnal (Gollani et al. 2011), badan agak tinggi, memanjang, dan tipis secara lateral, memiliki gigi kecil, dan panjang total maksimum mencapai 35 cm (FAO 1999).

Tulang saring insang pada lengkung insang pertama berjumlah 21-24. Duri sirip punggung terdiri dari 10 jari-jari keras dan 11-13 jari- jari lemah. Duri sirip ekor terdiri dari 3 jari-jari keras dan 12-14 jari- jari lemah. Jari sirip dada berjumlah 17-19 jari-jari lemah. Sisik-sisik menutupi bagian badan, kepala, dan dasar sirip ekor (FAO 1999).

Warna tubuh, kepala, dan iris mata adalah putih kemerah-merahan atau putih keperak-perakan, sirip berwarna merah muda, sedangkan ciri utama yang menjadi pembeda terhadap jenis Priacanthus lainnya adalah ikan swanggi (Priacanthus tayenus) memiliki sirip perut dengan bintik kecil ungu kehitam-hitaman dalam membran dengan 1 atau 2 titik besar yang berada di dekat perut (FAO 1999).

HABITAT IKAN SWANGGI
Ikan swanggi umumnya hidup di perairan pantai di antara bebatuan karang dan terkadang di area yang lebih terbuka pada kedalaman 20-200 m atau lebih dalam. Distribusi ikan ini meliputi wilayah pesisir utara Samudera Hindia dari Teluk Persia bagian Timur dan wilayah Pasifik Barat dari Australia bagian Utara dan Pulau Solomon bagian utara sampai Provinsi Taiwan di China. Hasil tangkapan ikan swanggi pada tahun 1990 sampai 1995 dalam buku statistik perikanan tahunan FAO melaporkan jumlah tangkapan per tahun sekitar 23.100 sampai 52.000 ton di samudera Pasifik tengah bagian barat (Starnes 1984).

Ikan Swanggi termasuk jenis ikan demersal, sering kali membentuk gerombolan (schooling). Daerah kesukaannya adalah pantai dekat dengan Terumbu Karang. Ikan-ikan yang lebih kecil ditemukan mendekati pantai. Jenis makanan bervariasi, terutama organisme bentik (Wiadnya dan Setyohadi, 2012).

Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan ikan predator epibenthic (Starnes 1988 in Powell 2000) yang hidup di perairan pantai diantara bebatuan karang dan area terbuka pada kedalaman 20-200 m (FAO 1999). Ikan Priacanthidae tidak memiliki wilayah ruaya yang jauh misalnya Priacanthus saggitarius yang memiliki daerah ruaya hanya disekitar perairan Laut Merah. Demikian juga dengan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) yang terdapat di wilayah perairan Selat Sunda hanya memiliki ruaya di sekitar perairan tersebut saja. Ruaya ikan swanggi dapat berupa ruaya pemijahan ke daerah pesisir pantai, maupun ruaya pembesaran dan makanan di wilayah karang (Golani et al. 2011).

MANFAAT IKAN SWANGGI
Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) atau yang dikenal dengan nama bigeye bullseye merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Ikan swanggi pada awalnya bukan merupakan ikan hasil tangkapan utama, namun belakangan banyak didaratkan di pelabuhan perikanan sebagai salah satu hasil tangkapan yang bersifat komersial. Kandungan gizi yang tinggi mengakibatkan permintaan akan ikan swanggi meningkat dan menjadikan ikan ini sebagai ikan komoditas ekspor (Sivakami et al. 2001).

Ikan swangi (Priacanthus tayenus), merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan. Ikan jenis ini merupakan ikan hasil tangkapan samping yang pemanfaatannya oleh nelayan kurang (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006). Menurut data statistik kelautan dan perikanan 2011 volume produksi ikan swangi lebih rendah dibandingkan ikan gulamah dan ikan ekor kuning yaitu sebesar 38.476 ton. Ikan mata goyang memiliki daging yang berwarna putih sehingga dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti surimi. Surimi didefinisikan sebagai lumatan daging ikan yang telah mengalami proses penghilangan tulang, dan sebagian komponen larut air dan lemak melalui pencucian dengan air, sehingga disebut sebagai konsentrat basah protein myofibril dari daging ikan (Okada, 1992)

TINGKAH LAKU IKAN SWANGGI
Ikan-ikan biasanya akan bermigrasi untuk tujuan pemijahan dan akan kembali ke daerah penangkapan setelah memijah. Banyaknya ikan betina yang ditemukan di daerah penangkapan pada waktu pengamatan dapat diduga karena ikan jantan sedang beruaya menuju feeding ground untuk mencari makan. Ikan swanggi betina yang lebih dominan tertangkap mengindikasikan bahwa kelestarian populasi ikan swanggi di perairan Selat Sunda masih dapat dipertahankan. Dengan rasio ikan betina lebih dominan mengakibatkan peluang pembuahan sel telur oleh spermatozoa sampai menjadi individu baru akan semakin besar (Saputra et al., 2009).

Ikan famili Priacanthidae hidup secara soliter atau kelompok kecil tetapi beberapa spesies membentuk kelompok besar. Pada fase telur, larva, dan awal juvenil, ikan swanggi hidup secara pelagis dan berubah sesuai dengan lingkungan yang cocok. Dalam hal makanan, famili Priacanthidae umumnya mencari makan secara nokturnal tetapi dapat juga mencari makan secara diurnal dengan sama baiknya. Makanan utamanya yaitu dari jenis crustacea, cephalopods kecil, polychaetes, dan ikan kecil (Starnes 1984).

Ikan swanggi relatif aktif mencari makanan sehingga mempunyai kesempatan untuk mendapatkan makanan lebih banyak dan besar. Berdasarkan nilai luas relung makanannya, ikan jantan memiliki luas relung makanan yang lebih besar daripada ikan betina dan ikan besar memiliki luas relung makanan yang lebih luas daripada ikan kecil. Hal ini berkaitan dengan semakin besar ukuran ikan tersebut maka kemampuan bergeraknya semakin aktif daripada ikan kecil serta disertai dengan berkembangnya bukaan mulut yang semakin besar (Rifai, 2012).

PERAN  IKAN SWANGGI DI PERAIRAN
Ikan swanggi termasuk ke dalam jenis ikan karnivor. Untuk mengetahui kebiasaan makanannya, maka perlu dilakukan pengamatan organ-organ pencernaannya. Organ yang diamati salah satunya yaitu lambung. Lambung merupakan organ pencernaan yang diameternya lebih besar dibandingkan dengan organ pencernaan yang lainnya. Lambung berfungsi sebagai penampung dan pencerna makanan secara kimiawi. Organ lain yang juga berperan dalam pencernaan makanan yaitu pyloric caeca. Organ ini berupa usus-usus pendek dan buntu yang terletak diantara lambung dan usus berfungsi untuk membantu proses pencernaan makanan dan penyerapan makanan (Affandi et al. 2004).

Berdasarkan data harian PPP Labuan selama tahun 2010, ikan swanggi merupakan hasil tangkapan dominan kelima sebesar (8,25 %) dari seluruh hasil tangkapan ikan demersal kecil yang didaratkan di PPP Labuan, Banten. Hasil tangkapan ikan swanggi merupakan hasil tangkapan terbesar setelah ikan kuwe (24,70%), kurisi (23,43%), kuniran (23,04%) dan kapasan (13,70%) (Rifai, 2012).

PENULIS
Ayu Raeshya Aulea
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Adilaviana T. 2012. Kajian stok ikan swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan, Pandeglang, Banten [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor
Affandi R & Tang UM. 2004 . Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru:Unri Press
Anindhita, GK., Saputra, SW., dan Ghofar, A. 2014. Beberapa Aspek Biologi Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) Berdasarkan Hasil Tangkapan yang Didaratkan di PPP Morodemak. Diponegoro Journal of Maquares. 3(3): 144-152
Awong H, Ibrahim S, Somo K, & Ambak MA. 2011. Observation on Weight-Length Relationship of Priacanthus tayenus (Richardson, 1846) Spesies in Darvel Bay, sabah, Malaysia. World Journal of Fish and Marine Science 3 (3): 239-242.
Budi K, Eko dan F.E Ardi Wiharto. 2009. Ensiklopedia Populer Ikan Air Laut, Yogyakarta: Lily Publisher.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia Tahun 2004. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Effendie MI. 2002. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 163 hal.
FAO. 1999. The Living Marine Resources od Western Central Pasific. FAO Species Identification Guide for Fishery Purpose. Department of Biological Sciences Old Dominion University Norfolk, Virginia, USA.
Golani D, Sonin O, Edelist D. 2011. Second records of the Lessepsian fish migrants Priacanthus sagittarius and Platax teira and distribution extension of Tylerius spinosissimus in the Mediterranean. Aquatic Invasions Journal Compilation. 6 (1) : 1-11.
Ibrahim S, Muhammad M, Ambak MA, Zakaria MZ, Mamat AS, & Isa MM, & Hajısamae S. 2003. Stomach Contents of Six Commercially Important Demersal Fishes in the South China Sea. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 3: 11-16.
Okada, M. 1992. History of Surimi Technology in Japan. Dalam: Surimi Technology. Lanier TC, Lee CM, editors. New York : Marcel Dekker
Premalatha P. 1997. On the fishery and biology of Priacanthus hamrur Forsskal along the South West Coast of India. India Journal Fish. 44(3) : 265-270.
Rifai, R. 2012. Kebiasaan Makanan Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richadson, 1846) yang Didaratkan di PPP Labua, Banten. ITB. Bogor
Sivakami S, Raje SG, Feroz MK, Shobha JK, Vivekananda E, Kumar R. 2001. Fishery and biology of Priacanthus hamrur (Forsskal) along the Indian coast. Indian journal of fisheries. 48(3) : 277-289.
Starnes WC. 1984. Priacanthidae. In FAO species identification sheets formfishery purposes. Western Indian Ocean (Fishing Area 51), edited by W. Fischer and G. Bianchi. Vol. 3. Rome, FAO (unpaginated).
Wiadnya, DGR., dan Setyohadi, D. 2012. Modul Pengantar Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Brawijaya
www.google.com/googleimage.2015.Diakses tanggal 23 Oktober 2015

Thursday, January 16, 2020

Ikan Kerapu Tikus Atau Kerapu Bebek; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Kerapu tikus atau kerapu bebek (Chromileptes altivelis) adalah jenis ikan dari keluarga Serranidae yang ditemukan di Australia, Cina, Guam, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Kenya, Malaysia, Kaledonia Baru, Kepulauan Mariana Utara, Papua Niugini, Filipina, Pulau Pitcairn, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam dan mungkin di Mozambique dan di Vanuatu. Habitat alaminya adalah karang laguna pantai. Jenis ini terancam kehilangan habitatnya.

KLASIFIKASI IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK

Phylum
: Chordata
Subphylum
: Vertebrata
Class
: Osteichtyes
Sub class
: Actinopterigi
Ordo
: Percomorphi
Sub ordo
: Percoidea
Family
: Serranidae
Genus
: Cromileptes
Species
Cromileptes altivelis

MORFOLOGI DAN CIRI-CIRI IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK
Ikan kerapu tikus mempunyai ciri-ciri morfologi sirip punggung dengan 10 duri keras dan 18-19 duri lunak, sirip perut dengan 2 duri keras dan 10 duri lunak, sirip ekor dengan 1 duri keras dan 70 duri lunak. Panjang total 3,3 - 3,8 kali tingginya, panjang kepala satu perempat dari panjang total, leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung, mata satu per enam kepala, sirip punggung semakin melebar ke belakang, warna putih kadang kecokelatan dengan totol hitam pada badan, kepala dan sirip (Evalawati et al., 2001).


Bentuk badan ikan kerapu tikus memanjang gepeng atau agak membulat, luasan antar pusat (kepala) cenderung cekung. Kepala ikan dewasa terdapat lekukan mata yang cekung sampai sirip punggung. Ketebalan tubuh sekitar 6,6-7,6 cm dari panjang spesifik. Panjang maksimal tubuhnya mencapai 70 cm. Ikan ini tidak mempunyai gigi canine (gigi pada geraham ikan). Lubang hidung besar berbentuk bulan sabit vertikal. Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih (terang) hijau keabuan, berbintik bulat hitam dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. Kerapu tikus muda, bintik hitamnya lebih besar dengan jumlah sedikit (Akbar & Sudaryanto, 2002).


HABITAT IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK
Ikan kerapu tikus banyak dijumpai di perairan batu karang, atau didaerah karang berlumpur,  hidup pada kedalaman 40 meter sampai kedalaman 60 meter.  Dalam siklus hidupnya ikan kerapu tikus muda hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5 – 3 meter, selanjutnya menginjak dewasa menuju ke perairan yang lebih dalam, dan biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari. Telur dan larva kerapu tikus bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal. Ikan kerapu termasuk kelompok ikan stenohaline (Breet dan Groves, 1979), oleh karena itu jenis ikan ikan mampu beradaptasi pada lingkungan perairan yang berkadar garam rendah.  Ikan kerapu merupakan organisme yang bersifat nocturnal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang dan pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari makan. Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu, yaitu Temperatur berkisar 24 – 31 °C, salinitas berkisar 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0.  Perairan dengan kondisi tersebut pada umumnya terdapat pada perairan terumbu karang.


REPRODUKSI IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK
Pemijahan dilakukan dengan dua cara, yakni memanipulasi lingkungan dan dengan system rangsangan hormonal. Biasanya berlangsung antara tanggal 25 hingga tanggal 5 bulan berikutnya. Untuk merangsang ikan kerapu memijah secara alami, maka kondisi lingkungan dalam bak pemijahan dimanipulasi pasut dan suhunya (Evalawati et al., 2001). Setiap hari setelah diberi pakan pagi hari, air dalam bak pemijahan diturunkan s/d + 50 cm diatas sirip punggung. Kondisi ini dibiarkan sampai sore sekitar jam 16.00. Setelah 3 – 6 bulan, biasanya ikan kerapu akan memijah secara alami. Ketika musim pemijahan, biasanya ikan kerapu akan berkurang nafsu makannya dan khusus untuk ikan kerapu macan jantan akan berubah warna tubuhnya menjadi lebih terang diperutnya dan lebih aktif bergerak. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari antara jam 19.00 s/d jam 02.00 dini hari.


TINGKAH LAKU IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK
Kerapu tikus adalah hewan karnivora, pemakan ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. Ikan ini juga tanggap terhadap pakan buatan asalkan dilatih terlebih dahulu. Kerapu tikus juga mempunyai kecenderungan bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil (Evalawati et al., 2001).


Sebagaimana jenis – jenis kerapu lainnya, kerapu tikus bersifat karnivora, terutama memangsa larva moluska, rotifer, mikrokrustasea, kopepoda, dan zooplankton untuk larva, sedangkan untuk ikan kerapu tikus dewasa memangsa ikan – ikan kecil, krustasea dan cephalopoda. Sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung memangsa yang aktiv bergerak di dalam kolam air. Kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang dan malam hari dan lebih aktiv pada waktu fajar dan senja hari. Berdasarkan  perilaku makannya, ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan. Sebagai ikan karnivora kerapu memiliki sifat buruk yaitu kanibalisme. Kanibalisme merupakan salah satu penyebab kegagalan pemeliharaan dalam usaha pembenihan.


PERAN IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK DI PERAIRAN

Kerapu tikus hidup di kawasan trumbu karang , lokasi kapal tenggelam juga menjadi rumpon yang nyaman. Mereka berdiam di dalam lubang-lubang karang atau menempel pada dinding karang atau rumpon dengan aktivitas rlatif rendah. Kerapu tikus merupakan sejenis kerapu yang jarang-jarang sekali diperolehi oleh pemancing, dengan kata lain jarang menyambar umpan,seperti yang dilihat di atas berkepala kecil, membongkok tirus dan membesar di bahagian badan. Berat purata kerapu tikus yang direkodkan kurang dari 500 gram sehingga 1 kg dengan saiz purata 20cm atau 0.75 kaki sehingga 40cm atau 1.4 kaki. Kerapu ini juga disifat kan sebagai kerapu ‘pemalu’ dan saiz nya yang kecil yang mudah menjadi mangsa ikan lain. Kerapu tikus ini juga mempunyai isi ikan kerapu yang paling halus (high-fined grouper) dan yang paling sedap dalam keluarganya.sebab itu ikan ini jarang-jarang dijual di kebanyakan pasar ikan kerana jumlah penangkapannya kurang (Akbar & Sudaryanto, 2002).


MANFAAT IKAN KERAPU TIKUS ATAU KERAPU BEBEK

1. Mencerdaskan Otak Anak
Anak sangat membutuhkan banyak asupan gizi, vitamin dan nutrisi. Supaya memiliki tubuh yang sehat, dan dapat berfikir dengan mudah. Mengonsumsi ikan kerapu bebek secara rutin dan teratur akan bisa mencerdaskan otak dari pada tidak pernah memakannya sama sekali.

2. Khasiat Ikan Kerapu Bebek dapat Menurunkan Kadar Kolesterol Tinggi
Lemak memang diperlukan untuk tubuh, tetapi apabila berlebih atau tinggi itu tidak baik atau dapat berbahaya, dan bisa menyebabkan penyakit stroke dan jantung koroner. Untuk itu anda perlu mengonsumsi ikan kerapu bebek untuk menurunkan kolesterol tinggi.

3. Mengandung Asam Amino
Asam amino dalam ikan kerapu bebek dapat bermanfaat untuk meningkatkan energi, serta memperlambat pertumbuhan kanker dan tumor. Unuk anda yang kegiatan sehari-harinya padat sekali ini sangat cocok untuk asupan tubuh supaya sehat selalu.

4. Manfaat Ikan Kerapu Bebek ternyata Mengandung Taurin
Taurin adalah asam amino kondisional, diproduksi oleh tubuh dan sebagian besar ditemukan pada jantung dan otak. Penting dalam membantu pencernaan lemak, dan penyerapan vitamin yang larut dalam lemak. Untuk itu anda perlu mengonsumsi ikan kerapu bebek.

PENULIS

Ayu Mandasari Nasution

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA

Akbar S. & Sudaryanto. 2001. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kerapu Bebek. Jakarta: Penebar Swadaya. hlm. 103.

Brett, J. R. dan T.D.D. Groves. 1979. Physiological energetics dalam W.S. Hoar, D.J. Randall dan J.R. Brett (Eds) : Fish physiology Vol VIII. Academic Press, New York.

Evalawati., M. Meiyana dan T.W. Aditya. 2001. Biologi Kerapu, Pembesaran Kerapu Bebek dan Kerapu Macan di Keramba Jaring Apung. Ditjenkan. BBL Lampung. Hal 3-6.

http://www.freshnjump.com/product/v/kerapu-tikus
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerapu_bebek
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Bina Cipta. Bandung.

Weber, M & de Beaufort, L.F. 1940. The fishes of the Indo-Australian Archipelago. II. Malacoptergii, Myctophoidea, Ostariophysi: I. Siluroidea. Brill Ltd. Leiden. 404 hal.